PILIHAN REDAKSI

Laporan Ditolak Polda Banten, LQ Indonesia Lawfirm Ragukan Komitmen Kepolisian Tindak Oknum Polisi Smackdown Mahasiswa

BENTENGSUMBAR.COM - LQ Indonesia Lawfirm yang sejak 3 minggu lalu menjadi pelopor adanya modus Oknum POLRI terutama di Fismonde...

Iklan Bank Nagari

Gubernur Ganjar Sindir Orang Terkaya di Indonesia Adalah Pemilik Pabrik Rokok, Tapi Jutaan Petani Tembakaunya Masih Hidup Miskin

          Gubernur Ganjar Sindir Orang Terkaya di Indonesia Adalah Pemilik Pabrik Rokok, Tapi Jutaan Petani Tembakaunya Masih Hidup Miskin
BENTENGSUMBAR.COM - Indonesia ini memang negara unik. Ya, bagaimana tidak, orang terkaya di Indonesia bahkan dunia, adalah pemilik industri rokok yang berasal dari tembakau. Tapi petani tembakau di Indonesia miskin-miskin.

Ya, betul. Masih ingat Robert Budi Hartono dan saudaranya Michael Hartono, alias Hartono bersaudara yang dikenal pemilik pabrik rokok Djarum di Kudus, Jawa Tengah. Keduanya adalah orang terkaya se-Indonesia, bahkan dunia. 

Kekayaan Robert mencapai 20,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 287 triliun (kurs Rp 14.000). Jumlah tersebut meningkat 6,9 miliar dollar AS Di tingkat dunia, Budi Hartono menduduki posisi ke-86.

Sementara itu, Michael Hartono menduduki posisi ke-89 dengan nilai kekayaan 19,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp275,8 triliun. Nilai kekayaannya meningkat 6,7 miliar dollar AS bila dibandingkan dengan tahun lalu.

Dibandingkan dengan nasib petani tembakau bak bumi dan langit. Di mana, jutaan petani tembakau hidup dalam garis kemiskinan. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbaik di dunia, tapi nasib petaninya masih belum sejahtera.

Dia menyebut, ada sekitar 7 Juta petani dan keluarganya yang menggantungkan nasib hidupnya dari industri rokok. Secara pendapatan untuk pekerja di pabrik nasibnya sudah terjamin, sudah aman, karena jadi tanggung jawab perusahaan. 

“Tapi petani tembakau yang memegang kendali hulu industri rokok ini malah belum sejahtera. Bahkan beberapa menyatakan menderita. Sebagian besar dari mereka hidup segan mati tak mau,” kata Ganjar dikutip dari Instagram pribadinya Bicara soal Tembakau, Minggu, 3 Oktober 2021.

Ganjar menjelaskan, mungkin banyak orang berpikir kenapa petani tembakau tidak beralih ke komoditas lain, seperti kopi umpamanya, jagung, kedelai, atau lainnya.m“Pemikiran seperti itu ada benarnya, tapi persoalannya tidak sesederhana itu ferguso,” imbuhnya.

Menurutnya, bicara tembakau berarti bicara soal peluang dan keberpihakan. Jika bicara peluang karena di negara Indonesia ini mampu menghasilkan tembakau terbaik di dunia.

Misalnya, ada tembakau Srintil yang ada di Temanggung, tembakau rancak di Madura, dan tembakau virginia yang ada di NTB, bahkan di Jember tembakaunya diproduksi dan diekspor untuk cerutu kelas dunia.

“Semua ini hebatnya bukan main. Untuk tembakau lain bagaimana? Ada 17 provinsi penghasil tembakau di negara kita, tapi yang tertinggi ada 4 provinsi, Jatim, Jateng, NTB, serta Jawa Barat, masing-masing punya grade-nya sendiri, dari grade A sampai grade G yang paling bagus dan paling mahal harganya,” jelasnya.

Sebagai gambaran, untuk grade G yang biasanya dari tembakau Temanggung itu harganya bisa sampai Rp 1 juta per kilonya. Sedangkan grade A sampai C paling sekitar Rp40-Rp90 ribu. 

“Kalau melihat itu, harusnya para petani tembakau Makmur bin sejahtera kan, tapi nyatanya tidak!,” tegasnya.

Kurangnya keberpihakan dari Pemerintah dan semua pihak, mungkin tidak terlalu banyak yang memikirkan nasib petani tembakau. Sehingga daya tawar petani menjadi sangat lemah, jadi kalau pabrik sudah memutuskan harga petani tak bisa tawar-menawar.

Di sisi lain, ada saja hal-hal yang membuat petani bertanya-tanya, contoh kenaikan cukai misalnya itu dampak terbesarnya ternyata ke petani.

“Begitu kata mereka kepada saya. Cukai naik, pabrik mengurangi serapan, lalu harga ditingkat petani ya langsung ambles. Untuk Grade A sampai D yang harusnya sekitar Rp 90 ribuan harganya anjlok bisa sampai Rp 10 ribuan,” pungkasnya, demikian dilansir dari Bizlaw. (*)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...