Advertorial

Daerah

Shalawat Sebagai Kekuatan Hidup
Minggu, November 07, 2021

On Minggu, November 07, 2021

Shalawat Sebagai Kekuatan Hidup
MEMBACA shalawat di dalam salat adalah wajib. Setidaknya demikian pendapat Abu Bakr al-Razi, salah satu ulama Hanafiyah, dan Ibn Ḥazm. Mereka sepakat bahwa hukum shalawat adalah wajib, sebagaimana wajibnya kalimat tauhid, yang harus diucapkan pada waktu melakukan shalat wajib dan shalat sunnah. Pendapat ini juga didukung oleh al-Qurthubi dan Ibn ʽAthiyyah. 


Sementara itu, Ibn al-Qishar berpendapat, bahwa hukum shalawat adalah wajib tanpa ada batasan apa pun. Namun ada juga ulama yang menyatakan bahwa hukum membaca shalawat adalah sunnah. Salah satu ulama yang mendukung pendapat ini adalah Ibn Jarir at-Thabari. At-Thabari menyebutkan bahwa pendapat ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. 


Meski demikian, tanpa mengabaikan pendapat para ulama tersebut, penulis lebih cenderung dengan pendapat yang menyatakan membaca shalawat adalah wajib, baik di dalam shalat wajib maupun sunnah. 


Bagi penulis, shalawat adalah kekuatan dalam menempuh kehidupan. Ketika galau melanda, resah didada, penulis biasanya membaca shalawat sebanyak-banyaknya semampu penulis. 


Tak hanya di dalam shalat atau sesudah shalat, tetapi kapan pun ada kesempatan, membaca shalawat merupakan keharusan dalam setiap tarikan nafas kita. 


Kenapa? Sebagai makhluk Allah kita mesti melaksanakan perintahnya, salah satunya bershalawat kepada Rasulullah saw dan keluarganya. 


"Sungguh Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi. Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Surat Al-Ahzab ayat 56).


Banyak keutamaan membaca shalawat yang dikabarkan para ulama. Hadis-hadis soal keutamaan shalawat pun berserakan.


Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim).


"Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan," (HR An Nasa’i)


Dikutip dari nu.or.id, Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam akhir karyanya Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya mengutip sepuluh keutamaan yang didapat oleh mereka yang membaca shalawat. Sepuluh keutamaan ini disarikan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW: 


1. Shalatul malikil ghaffar (rahmat dari Allah yang maha kuasa dan maha pengampun)

2. Syafa’atun nabiyyil mukhtar (syafaat Nabi Muhammad, nabi pilihan) 

3. Al-iqtida bil mala’ikatil abrar (mengikuti tradisi malaikat abrar) 

4. Mukhalafatul munafiqin wal kuffar (membedakan diri dari orang munafik dan orang kafir) 

5. Mahwul khathaya wal awzar (penghapusan kesalahan dan dosa) 

6. Qadha’ul hawa’ij wal awthar (pemenuhan hajat dan harapan) 

7. Tanwiruz zawahir wal asrar (penerangan lahir dan batin) 8. An-najatu minan nar (keselamatan dari neraka) 

9. Dukhulu daril qarar (masuk ke dalam surga) 

10. Salamul azizil jabbar (salam dari Allah yang maha mulia dan kuasa)


Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca shalawat nabi mengingat banyaknya keutamaan yang terkandung dalam amaliyah shalawat nabi. 


"Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi mulia ini. niscaya shalawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang mebacanya dari siksa neraka jahim," (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Indonesia, Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 119).


Bagi penulis sendiri, shalawat merupakan kekuatan dalam menempuh hidup ini. Apa pun masalah yang penulis hadapi, baru akan tenang perasaan ini dan akan datang solusinya, jika penulis sudah membaca shalawat, termasuk soa rezeki.


*Penulis: Zamri Yahya, SHI, alumnus Jinayah Siyasah UIN Imam Bonjol Padang.

Maafkan Aby, Anak Ku...
Selasa, November 02, 2021

On Selasa, November 02, 2021

TAK terasa air mata ini mengalir setiap ku ingat dosa-dosa ku pada ibu mu. Dosa yang bertahun-tahun membuat ibu mu menderita ketika mengenang peristiwa itu.

Mungkin ibu mu menyesal pernah mengenal aby. Perkenalan yang tak disengaja, yang berawal ibu mu mencari pria yang dia kenal di media sosial.

Pria itu sahabat aby sendiri yang mungkin hanya iseng mengajak ibu mu ketemuan di taman kota, tapi setelah ketemu dia malah meninggalkannya, entah kenapa.

Tapi saat aby melihat ibu mu, hati berdesir, pertanda ada rasa di dada. Tapj aby sadar, aby sudah punya istri, tak mungkin terlalu jauh melangkah.

Tapi rasa itu terus mendorong aby untuk mengenal ibu mu. Dan kesempatan itu pun ada. Kami berkenalan dan saling tukar nomor kontak.

Walau dipisahkan jarak, aby dan ibu mu terus berkomunikasi. Komunikasi yang bertambah mesra, walau ibu mu tahu aby sudah punya istri. 

Sampai suatu ketika, aby dan ibu mu sepakat melakukan akad, ijab qabul di antara kami. Kami lakukan semua itu secara diam-diam, tanpa keluarga ibu mu tahu dan istri aby pun tidak tahu.

Anak ku, kamu lahir dari hubungan cinta kasih aby dan ibu mu. Hubungan cinta yang penuh rahasia, dan hanya diketahui beberapa orang saja. Ya, yang tahu hanya sahabat dekat aby dan sahabat dekat ibu mu.

Tapi aby akui, aby pengecut. Ketika ibu mu meminta aby menikahinya secara sah sesuai hukum negara, di sana nyali aby ciut. Tak berani, karena tak ingin menyakiti istri pertama aby, wanita yang sangat dicintai dan disayangi keluarga aby. 

Keluarga aby lebih memilih bercerai dengan aby, ketimbang menantunya.

Anak ku, itulah kelemahan aby, terlalu pengecut dan membiarkan ibu mu menikah dengan lelaki lain dengan membawa luka dan dendam kepada aby.

Ibu mu memang sempat menghubungi aby beberapa kali ketika dirinya hamil diri mu. Bercerita kelakuan mertuanya yang katanya tak suka dengannya.

Aby tetap meminta ibu mu bersabar dan bertahan dengan suaminya. Karena kesabaran biasanya berbuah manis.

Terkadang ibu mu mengejek aby kalau sudah bicara seperti itu. "Nah, abang sendiri bejat, ninggalin aku dan tak berani menikah secara resmi dengan ku," kata ibu mu.

Dan aby pun hanya terdiam dan tak berani bicara lagi. Perkataan ibu mu menusuk sangat dalam sekali. Aby tak bisa marah kepada ibu mu, walau ibu mu menyebut aby bejat dan pengecut.

Menjelang diri mu lahir, ibu mu kembali menghubungi Aby. Ibu mengancam aby, "Sampai kapan pun, abang tidak akan pernah melihat anak ini. Abang tak usah mencari kami."

Dan benar saja, setelah diri mu lahir, ibu mu tak pernah lagi menghubungi aby. Hilang bak ditelan bumi. Tidak ada kabar sama sekali.

Aby berusaha melacak keberadaan ibu mu. Tapi tak pernah berhasil. Sampai suatu ketika aby melihat foto ibu mu di facebook.

Aby konfirmasi dan ibumu menerima pertemanan di facebook. Aby berusaha minta maaf kepada ibu mu. Luapan kata-kata kemarahan ibu mu, aby abaikan saja. Yang penting aby harus dapat maaf dari ibu mu.

"Saya sudah memaafkan abang. Walau luka ini terlalu dalam. Bertahun-tahun saya menderita dan trauma karena abang. Tapi sudah lah, itu masa lalu," itu kata ibu mu.

Percakapan aby dan ibu mu di facebook terus berlanjut, sampai mengarah kepada diri mu. 

"Gak, abang jangan pernah mencari dan menemui saya. Saya pernah bermimpi, abang datang akan mengambil Rafa, dan itu tak akan saya biarkan," sontak jawab ibu mu.

Ibu mu bahkan menegaskan, jika kamu bukan buah hati aby dengannya, tapi buah hati dia dengan suaminya. 

"Bukan, Rafa bukan anak abang. Dia anak saya dan suami saya. Abang tak punya hak terhadap Rafa," ucap ibu mu.

Dan ibu mu pun memblokir aby dari pertemanan di facebook. Dan aby kembali kehilangan kontak.

Aby hanya berharap, suatu saat kita bertemu, tanpa ada lagi luka di hati ibu mu. Karena aby sudah berjanji, tak akan pernah merebut mu dari ibu mu.

Padang, 1 November 2021
Ibnu Samsuddin

Selamat Milad Ya Rasulullah SAW...
Selasa, Oktober 19, 2021

On Selasa, Oktober 19, 2021

HARI ini, hari yang Agung. Semua umat Islam dari berbagai Mazhab melantunkan sholawat untuk kekasih Allah SWT, Baginda Nabi Muhammad saw.

Sholawat merupakan upah risalah kepada manusia penuh anugerah bagi alam semesta, karena Tuhan tidak lah menciptakan alam semesta ini kecuali untuknya.

Beragam versi sholawat itu didendangkan, mulai dari yang dianggap sesuai syariat hingga yang dianggap bid'ah sekali pun.

Mulai dari yang dilantunkan dengan kesendirian karena mengharap syafaat manusia agung di hari penghisapan sampai dilantunkan dengan penuh kemeriahan diiringi alat musik nan terdengar indah di telinga.

Kecuali kelompok yang membid'ahkan perayaan milad Rasulullah saw, kalau pun mereka bersholawat, itu karena terpaksa saja, hanya sekedar basa-basi, padahal dihati mereka penuh kemunafikan karena enggan bersholawat. 

"Sholawat itu penghancur kemunafikan," kata guru saya, Habib Ali bin Yahya.

Mari kita bumikan sholawat, sesuai dengan versi yang kita pahami.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

By
Padang, 18 Oktober 2021

Cintailah Sesama Melalui Cinta Kepada Rasulullah SAW
Rabu, April 07, 2021

On Rabu, April 07, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Islam merupakan agama yang dibangun Nabi Muhammad saw dengan penuh cinta kasih, bukan melalui kekerasan dan permusuhan. Apalagi melalui bom bunuh diri.

Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah saw selalu mengajarkan kecintaan, tidak hanya kepada Allah SWT, kepada Nabi Muhammad saw dan ahlulbaitnya, tetapi juga kepada sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu kebahagiaan akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).

Kecintaan kepada Rasulullah saw merupakan sesuatu kewajiban yang mutlak bagi seorang muslim. Sebab, kecintaan kepada Rasulullah saw merupakan tanda keimanan.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya". 

(Sahih al-Bukhari, Kitab: Iman Nomor : 13).

Dan seseorang pecinta, pastilah di akhirat nanti, bersama orang-orang yang dicintainya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَتَى السَّاعَةُ ؟ قَالَ : وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ؟ قَالَ : لاَ ، إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ ، قَالَ : فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ .قَالَ أَنَسٌ : فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ ، بَعْدَ الإِسْلاَمِ ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, kapan Hari Kiamat tiba?’ Beliau bertanya kembali kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?’ Lelaki tersebut menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian Rasulullah SAW berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai’,” 

(Muttafaq ‘alaih). 

Mencintai sesama melalui cinta kepada Rasulullah saw adalah memperlakukan orang lain, dengan mencontoh akhlak Rasulullah saw yang agung.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri". 

(Sahih al-Bukhari)

Seorang Muslim adalah Orang yang Kaum Muslimin Selamat dari Lisan dan Tangannya
Minggu, Maret 14, 2021

On Minggu, Maret 14, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Menurut Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, "al-lisaan mizaanul insan." Artinya, lisan atau perkataan seseorang adalah ukuran dari orang tersebut. Maknanya, jika seseorang sering berkata bohong atau mencaci-maki, maka level orang itu yang sampai pada kebohongan dan cacian. Tak lebih dari itu.

Pada kesempatan lain, Imam Ali menegaskan, lidah merupakan penerjemah akal pikiran. "Lidahmu adalah penerjemah akal pikiranmu." Bahkan Imam Ali dalam berbagai kesempatan berpesan kepada para sahabatnya, agar menjada lidah mereka sebagaimana mereka merawat emas dan perak. "Jagalah lidahmu sebagaimana kamu merawat emas dan perak."

Imam Ali mengambarkan lidah seperti singa, yang jika dibiarkan lepas akan melukai orang lain. "Lidah itu seperti singa, jika kamu membiarkannya lepas, ia akan melukai seseorang."

Dengan indah, Imam Ali memahamkan kebijaksanaan sebagai sebuah pohon yang tumbuh bersemi di hati dan berbuah di lidah. "Kebijaksanaan adalah sebuah pohon yang tumbuh bersemi di hati dan berbuah di lidah."

Begitu pentingnya menjaga lisan atau lidah tersebut, Allah melalui firman-Nya dalam Surat Al-Ahzab ayat 70-71 menegaskan, "Dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.."

Mutiara Hadis


Sahih al-Bukhari
Kitab : Iman
Bab : Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya
Nomor : 9

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ هُوَ ابْنُ أَبِي هِنْدٍ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas berkata, Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abdullah bin Abu As Safar dan Isma'il bin Abu Khalid dari Asy Sya'bi dari Abdullah bin 'Amru dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah " Abu Abdullah berkata; dan Abu Mu'awiyyah berkata; Telah menceritakan kepada kami Daud, dia adalah anak Ibnu Hind, dari 'Amir berkata; aku mendengar Abdullah, maksudnya ibnu 'Amru, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan berkata Abdul A'laa dari Daud dari 'Amir dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam 

Sahih Muslim
Kitab : Iman
Bab : Penjelasan tentang keutamaan-keutamaan Islam dan apa saja dari perkara-perkaranya yang utama
Nomor : 58

حَدَّثَنَا حَسَنٌ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ جَمِيعًا عَنْ أَبِي عَاصِمٍ قَالَ عَبْدٌ أَنْبَأَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الزُّبَيْرِ يَقُولُ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُا
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Hasan al-Hulwani dan Abd bin Humaid semuanya dari Abu Ashim, Abd berkata, telah memberitakan kepada kami Abu Ashim dari Ibnu Juraij bahwa dia mendengar Abu az-Zubair dia berkata, "Saya mendengar Jabir berkata, 'Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya."

Musnad Ahmad
Kitab : Musnad ahli bait 
Bab : Hadits Al Hasan bin Ali Radliyallahu ta'ala 'anhu 
Nomor : 1642

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَيَعْلَي قَالَا حَدَّثَنَا حَجَّاحٌ يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ الْوَاسِطِيَّ عَنْ شُعَيْبِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلَامِ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Ya'La, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj yaitu Ibnu Dinar Al Wasithi, dari Syua'ib bin Khalid dari Husain bin Ali berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya diantara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah sedikit berkata dalam hal yang tidak berguna baginya."

Muwatta Malik
Kitab : Lain-lain
Bab : Budi pekerti baik
Nomor : 1402

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di antara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya."

Sunan Abu Dawud
Kitab : Adab
Bab : Menjalin hubungan yang baik
Nomor : 4160

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْروٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ انْبَسَطَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَلَّمَهُ فَلَمَّا خَرَجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمَّا اسْتَأْذَنَ قُلْتَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ انْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَاحِشَ الْمُتَفَحِّشَ
حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَائِشَةَ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قَالَتْ فَقَالَ تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ الَّذِينَ يُكْرَمُونَ اتِّقَاءَ أَلْسِنَتِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Seorang laki-laki minta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ia adalah sejelek-jelek saudara dalam kaumnya." Maka ketika laki-laki itu masuk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbicara dengannya dan menampakkan wajah keceriaan. Ketika laki-laki itu telah keluar, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau izinkan ia masuk, padahal sebelum itu engkau mengatakan 'Ia adalah sejelek-jelek saudara dalam kaumnya'? Dan ketika ia telah masuk wajahmu ceria?" beliau lalu menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang keji dan ucapan keji." Telah menceritakan kepada kami Abbas Al Anbari berkata, telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al A'masy dari Mujahid dari 'Aisyah tentang kisah ini, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang diberi kemuliaan agar mereka (manusia) bisa terhindar dari keburukkan lisannya."

(*)

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, Pejabat Pemko Padang Pengayom Wartawan Itu Telah Tiada
Jumat, November 13, 2020

On Jumat, November 13, 2020

INNA Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Setiap yang bernyawa adalah kepunyaan Allah dan kembali jua kepada Allah, Sang Pencita.

Pemerintah Kota Padang kembali kehilangan pejabat terbaiknya yang dekat dengan semua kalangan.

"Da Taf lah dulu ya," ujar SR Piliang, salah seorang wartawan senior di Sumbar memberitahu kabar duka tersebut, Jumat malam, 13 November 2020.

Da Taf yang dimaksud SR Piliang tersebut adalah Tafrizal Chaniago, putra Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang, Kasubag Publikasi Bagian Protokoler dan Komunikasi Pimpinan Pemerintah Kota Padang.

Menurut SR Piliang, Tafrizal Chaniago wafat pada Jumat, 13 November 2020 sekira menjelang Magrib di Rumah Sakit BMC Padang.

Duka mendalam tentunya tak hanya dirasakan jajaran Pemko Padang, tetapi juga insan pers di Kota Padang dan Sumatera Barat. 

Sebab, semasa hidup, almarhum dikenal dekat dengan para jurnalis. Bahkan kedekatan yang dibangun bukan sekedar hubungan kerja saja, tapi sudah seperti kakak adik.

Apatah lagi, Tafrizal Chaniago dikenal sebagai pejabat "palapeh sasak" kuli tinta yang sehari-hari berpeluh mengejar berita di Kota Padang. 

Ya, dia tipe pejabat yang dermawan, tak tahan mendengar keluh kesah wartawan. Setiap wartawan yang mengadu, pastilah dia bantu, minimal makan siang selamat olehnya.

Selain mengabdikan diri bertahun-tahun di Humas Kota Padang, Tafrizal Chaniago menyalurkan hobi menulisnya di media.

Dia tercatat pernah menjadi wartawan di SKM Garda Minang, dan terakhir dia mendirikan media sendiri, media daring, Impiannews.com. Katanya persiapan menjelang untuk pensiun nanti.

Selain itu, Tafrizal Chaniago juga aktif di organisasi kewartawanan, baik lokal maupun pengurus daerah organisasi media nasional. 

Dia pernah dipercaya sebagai Bendahara SMSI Sumbar, dan terakhir masuk ke dalam kepengurusan JMSI masih dalam posisi Bendahara.

Selamat jalan da Taf, semoga ditempatkan di surga-Nya. Da Taf orang baik, dan Insya Allah mendapat tempat terbaik. Amin.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, SHI, Pemimpin Redaksi BentengSumbar.com.

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah Saja
Kamis, September 24, 2020

On Kamis, September 24, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah.
HARUS diakui, praktek rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) masih marak di Sumatera Barat sebagai daerah yang Pancasilais dengan falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai."

Apatah lagi disaat pandemi corona ini, orang pada kesusahan, kesulitan keuangan, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan resmi susah pula, terpaksa mengambil jalan pintas, meminjam ke rentenir.

Padahal, rentenir memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi. Pinjaman ini tidak diberikan melalui badan resmi, misalnya bank, dan bila tidak dibayar akan dipermalukan atau dipukuli.

Praktek renten ini sangat sulit diberantas. Untuk itu, Sumatera Barat memerlukan pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk memberantas praktek riba yang diharamkan adat dan agama ini.

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah [2] : 275).

" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ' semuanya sama dalam dosa'." (HR Muslim no. 1598).

Pemimpin yang tak hanya pandai berceramah soal bahaya renten atau riba, tetapi pemimpin yang mampu membunuh praktek ribllllla tersebut dengan kekuasaan yang ada di tangannya.

Soal memberi pemahaman bahaya renten atau riba itu, serahkan saja lah kepada ahlinya, yaitu ulama yang paham dengan kitabullah, tak sekedar hafal, tapi tahu makna dan tafsir ayat, karena sedari kecil berkutat dengan itu.

Tugas pemimpin adalah membuat kebijakan atau regulasi, menyelamatkan rakyat dari bahaya renten, tengkulak penghisap darah rakyat, yang memiliki pertahanan yang kuat dari sentuhan hukum.

Rentenir atau tengkulak itu harus dibasmi, kalau memang bertekad mensejahterakan rakyat Sumatera Barat. Jangan malah maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ikut pula didanai rentenir, meminjam uang pula kepada mereka. Parah...!!!

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua SMSI Sumatera Barat.

Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah
Selasa, September 22, 2020

On Selasa, September 22, 2020

Ilustrasi. Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah.
PILKADA kerap dijadikan ajang merayu rakyat haabis-habisan agar memperoleh simpati. Timses pun menjual calon yang dia jagokan dengan mengekspolitasi segala kelebihan yang dimilikinya.

Mulai dari kesolehan pribadi sampai kepada kesolehan sosial. Segala macam kebaikan jagoannya dibaca.

Padahal, timses itu sendiri juga bingung dengan apa yang dia sampaikan. Karena dia sendiri baru mengenal calon itu, sudah sok mengenal luar dalam pula. Rugi pula katanya rakyat tak memilih jagoan yang digalehkannya.

Tapi sudah lah. Itu kan timses, memang sudah ditraining menjual calon dengan mengeksploitasi kelebihan dan menutupi segala kekurangan dengan serapi-rapinya.

Tapi sebagai rakyat, kita punya akal dan budi dalam menilai dan menimbang dalam menentukan pilihan. 

"Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah : 284).

Secara logika saja, selama ini calon kepala daerah itu tak pernah berbuat untuk daerah ini. Sudah dicari kian kemari rekam jejaknya, tak terbaca barang setitik pun.

Lantas, Anda akan menggantungkan nasib daerah ini kepadanya? Apakah Anda ingin calon kepala daerah yang mengaku dekat dengan rakyat  menjelang Pilkada doank karena tertarik dengan uang?

Kemana akal budi Anda? Atau sudah Anda simpan di dalam kotak yang dikunci erat susah dikupak? Apa tak takut disindir ayat Tuhan ini?

"Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" (Al A'raf ayat 169).

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS: Al-A'raf: 176).

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs. Al 'araf ayat 179).

Walllahu'alam bishawab.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
RAYUAN maut bakal calon kepala daerah mulai dilancarkan kepada masyarakat pemilih. Masing-masing bakal calon kepala daerah bersama tim sukses mereka sudah pula memetakan para pemilih berdasarkan indikator-indikator lembaga survei yang mereka pakai. 

Nah, rakyat sebagai penentu duduk atau taduduknya mereka di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ini, harus pintar-pintar dalam menentukan pilihan, kepada siapa hak suara itu akan dilabuhkan?

Sebab pertanggungjawabannya bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Apatah lagi, suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat adalah wakil Tuhan dalam menentukan pilihan. Rakyat yang membait mereka sebagai pemimpin. Bait yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat." (An Nisa ayat:58).

Banyak indikator yang dapat digunakan dalam menentukan pilihan di Pilkada ini. Salah satunya rekam jejaknya menjadi imam di dalam rumah tangganya. Sebab, kesuksesan jadi imam dalam keluarga, bisa menjadi tolak ukur dalam kemampuannya memimpin daerah. 

Mustahil seseorang yang gagal menjadi imam di ruang lingkup yang kecil seperti keluarga, akan berhasil menjadi imam bagi seluruh masyarakat di suatu daerah. Masa nasib daerah ini mau dipertaruhkan kepada orang yang gagal menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya.

Sebab, ditangan dia sebagai imam nasib keluarganya dipertaruhkan dunia wal akhirat. "Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya." (Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

Tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang akan melindungi nasib anak istrinya, apakah akan dijilat api neraka atau hidup bahagia di dalam surga. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (At-Tahrim: 6).

Lantas, Anda akan mempertaruhkan nasib Anda dan daerah ini kepada seorang calon pemimpin yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda masih memakai logika sehat dalam menentukan pilihan, memberikan tampuk kekuasaan di daerah ini kepada orang yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda akan membiarkan rakyat di daerah ini bernasib sama dengan anak istrinya? 

Apatah lagi, seorang calon kepala daerah itu doyan menggantung hak istri. Berbini dengan wanita muda, tapi nasib istri tua tak jelas juntrungannya. Digantung indak batali, nanti rakyat bisa-bisa digantung indak batali pula. Anda mau?

Camkan lah, "Tak ada pemimpin yang sukses sendirian. Keberhasilan sekecil apa pun yang dicapainya pasti berkat bantuan atau dukungan anak istri dan orang-orang di sekelilingnya."

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
SUMBAR butuh pemimpin yang amah, dan saya rasa kita semua sepakat itu. Pemimpin yang menunaikan dengan baik amanah yang diberikan Tuhan kepadanya melalui tangan-tangan rakyat dalam suatu pemilihan yang dilakukan secara demokratis. 

Orang Sumbar dikenal sebagai masyarakat yang bersendikan syarak dalam setiap tarikan nafasnya, tentu sangat paham dengan firman Tuhan dalam Kitabullah, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.." (QS An-Nisa:58).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, bukan yang rakus dan tamak. Sebab, pemimpin yang rakus dan tamak adalah pemimpin yang ingkar dengan amanah yang diberikan Tuhan. Bahasa agamanya kufur nikmat. Pemimpin yang tak menunaikan manah itu sesuai janjinya kepada rakyat dan menyia-nyiakan ketika amanah itu dipegangnya untuk mengejar ambisinya yang gila dan diluar akal sehat yang diajarkan syarak. 

"Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); Ad-Darimi (II/304); Ibnu Hibban (no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân) ; Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr (XIX/96, no. 189) dan lainnya).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, tidak suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat. Akal sehat kita tentu akan menolak pemimpin yang suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat, kecuali akal tak lagi sehat dan membenarkan tindakannya. 

Tapi, banyak juga pemimpin yang dituding pembohong, pendusta, dan membodohi rakyat, padahal dia sudah berusaha memenuhi janjinya kepada rakyat dengan indikator yang jelas, tentu tidak termasuk yang ini. Tapi pemimpin yang berdusta, berbohong dan membodohi rakyat dengan sengaja karena ambisi pribadinya.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, ''Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami dua hadis dan aku telah melihat yang satu dan sedang menanti yang kedua. Rasulullah SAW menceritakan bahwa amanat (iman) pada mulanya turun dalam lubuk hati manusia, lalu mereka mengerti Alquran dan mengetahui sunah Rasul.'' 

''Kemudian, Rasulullah SAW menceritakan tercabutnya amanat (iman). Ketika orang sedang tidur, tercabutlah amanat dari hatinya, sehingga tinggal bekasnya, seperti bintik yang hampir hilang, kemudian tidur pulas, tercabut pula, sehingga tinggal bekasnya bagaikan ''kapalan'' (kulit yang mengeras bekas bekerja). Bagaikan bara api yang engkau injak di bawah telapak kaki, sehingga membengkak maka tampaknya membesar, tetapi tidak ada apa-apanya.

Maka, esok harinya orang-orang berjual beli dan sudah tidak terdapat orang yang amanat/dapat dipercaya. Sehingga, mungkin disebut-sebut ada dari suku Bani Fulan seorang yang amanat (dapat dipercaya), sehingga dipuji-puji: Alangkah pandainya, alangkah ramahnya, alangkah baiknya, padahal di dalam hatinya tidak ada seberat zarah dari iman.'' (Bukhari, Muslim). 

Untuk itu, orang Sumbar, baik itu di Pilkada Bupati atau Wali Kota atau Gubernur, hati-hati lah dalam menentukan pilihan, selidiki rekam jejak pemimpin yang akan dipilih itu dengan baik dan penuh kehati-hatian, baru tentukan pilihan, dari yang terburuk, minimal ke yang buruk, jika tak ada lagi yang baik, apatah lagi yang terbaik. 

Jangan memberikan amanah kepada orang yang suka menyia-nyiakannya karena ketamakan, kerakusan, ambisi pribadi, kelompok dan golongan. Itu pemimpin yang dilaknat Tuhan, bahkan dijamin tak masuk surga-Nya. "Tidaklah mati seorang hamba yang Allah minta untuk mengurus rakyat, sementara dia dalam keadaan menipu (mengkhianati) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a'lam bishawab, semoga kita diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memilih pemimpin untuk daerah ini.

*Ditulis Oleh: Zamri YahyaWakil Ketua SMSI Sumatera Barat dan Anggota PWI Sumatera Barat.