Opini

PARLEMEN

Sports

Catatan BY

Iklan KPU Sumbar
Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, Pejabat Pemko Padang Pengayom Wartawan Itu Telah Tiada
Jumat, November 13, 2020

On Jumat, November 13, 2020

INNA Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Setiap yang bernyawa adalah kepunyaan Allah dan kembali jua kepada Allah, Sang Pencita.

Pemerintah Kota Padang kembali kehilangan pejabat terbaiknya yang dekat dengan semua kalangan.

"Da Taf lah dulu ya," ujar SR Piliang, salah seorang wartawan senior di Sumbar memberitahu kabar duka tersebut, Jumat malam, 13 November 2020.

Da Taf yang dimaksud SR Piliang tersebut adalah Tafrizal Chaniago, putra Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang, Kasubag Publikasi Bagian Protokoler dan Komunikasi Pimpinan Pemerintah Kota Padang.

Menurut SR Piliang, Tafrizal Chaniago wafat pada Jumat, 13 November 2020 sekira menjelang Magrib di Rumah Sakit BMC Padang.

Duka mendalam tentunya tak hanya dirasakan jajaran Pemko Padang, tetapi juga insan pers di Kota Padang dan Sumatera Barat. 

Sebab, semasa hidup, almarhum dikenal dekat dengan para jurnalis. Bahkan kedekatan yang dibangun bukan sekedar hubungan kerja saja, tapi sudah seperti kakak adik.

Apatah lagi, Tafrizal Chaniago dikenal sebagai pejabat "palapeh sasak" kuli tinta yang sehari-hari berpeluh mengejar berita di Kota Padang. 

Ya, dia tipe pejabat yang dermawan, tak tahan mendengar keluh kesah wartawan. Setiap wartawan yang mengadu, pastilah dia bantu, minimal makan siang selamat olehnya.

Selain mengabdikan diri bertahun-tahun di Humas Kota Padang, Tafrizal Chaniago menyalurkan hobi menulisnya di media.

Dia tercatat pernah menjadi wartawan di SKM Garda Minang, dan terakhir dia mendirikan media sendiri, media daring, Impiannews.com. Katanya persiapan menjelang untuk pensiun nanti.

Selain itu, Tafrizal Chaniago juga aktif di organisasi kewartawanan, baik lokal maupun pengurus daerah organisasi media nasional. 

Dia pernah dipercaya sebagai Bendahara SMSI Sumbar, dan terakhir masuk ke dalam kepengurusan JMSI masih dalam posisi Bendahara.

Selamat jalan da Taf, semoga ditempatkan di surga-Nya. Da Taf orang baik, dan Insya Allah mendapat tempat terbaik. Amin.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, SHI, Pemimpin Redaksi BentengSumbar.com.

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah Saja
Kamis, September 24, 2020

On Kamis, September 24, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah.
HARUS diakui, praktek rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) masih marak di Sumatera Barat sebagai daerah yang Pancasilais dengan falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai."

Apatah lagi disaat pandemi corona ini, orang pada kesusahan, kesulitan keuangan, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan resmi susah pula, terpaksa mengambil jalan pintas, meminjam ke rentenir.

Padahal, rentenir memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi. Pinjaman ini tidak diberikan melalui badan resmi, misalnya bank, dan bila tidak dibayar akan dipermalukan atau dipukuli.

Praktek renten ini sangat sulit diberantas. Untuk itu, Sumatera Barat memerlukan pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk memberantas praktek riba yang diharamkan adat dan agama ini.

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah [2] : 275).

" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ' semuanya sama dalam dosa'." (HR Muslim no. 1598).

Pemimpin yang tak hanya pandai berceramah soal bahaya renten atau riba, tetapi pemimpin yang mampu membunuh praktek ribllllla tersebut dengan kekuasaan yang ada di tangannya.

Soal memberi pemahaman bahaya renten atau riba itu, serahkan saja lah kepada ahlinya, yaitu ulama yang paham dengan kitabullah, tak sekedar hafal, tapi tahu makna dan tafsir ayat, karena sedari kecil berkutat dengan itu.

Tugas pemimpin adalah membuat kebijakan atau regulasi, menyelamatkan rakyat dari bahaya renten, tengkulak penghisap darah rakyat, yang memiliki pertahanan yang kuat dari sentuhan hukum.

Rentenir atau tengkulak itu harus dibasmi, kalau memang bertekad mensejahterakan rakyat Sumatera Barat. Jangan malah maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ikut pula didanai rentenir, meminjam uang pula kepada mereka. Parah...!!!

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua SMSI Sumatera Barat.

Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah
Selasa, September 22, 2020

On Selasa, September 22, 2020

Ilustrasi. Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah.
PILKADA kerap dijadikan ajang merayu rakyat haabis-habisan agar memperoleh simpati. Timses pun menjual calon yang dia jagokan dengan mengekspolitasi segala kelebihan yang dimilikinya.

Mulai dari kesolehan pribadi sampai kepada kesolehan sosial. Segala macam kebaikan jagoannya dibaca.

Padahal, timses itu sendiri juga bingung dengan apa yang dia sampaikan. Karena dia sendiri baru mengenal calon itu, sudah sok mengenal luar dalam pula. Rugi pula katanya rakyat tak memilih jagoan yang digalehkannya.

Tapi sudah lah. Itu kan timses, memang sudah ditraining menjual calon dengan mengeksploitasi kelebihan dan menutupi segala kekurangan dengan serapi-rapinya.

Tapi sebagai rakyat, kita punya akal dan budi dalam menilai dan menimbang dalam menentukan pilihan. 

"Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah : 284).

Secara logika saja, selama ini calon kepala daerah itu tak pernah berbuat untuk daerah ini. Sudah dicari kian kemari rekam jejaknya, tak terbaca barang setitik pun.

Lantas, Anda akan menggantungkan nasib daerah ini kepadanya? Apakah Anda ingin calon kepala daerah yang mengaku dekat dengan rakyat  menjelang Pilkada doank karena tertarik dengan uang?

Kemana akal budi Anda? Atau sudah Anda simpan di dalam kotak yang dikunci erat susah dikupak? Apa tak takut disindir ayat Tuhan ini?

"Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" (Al A'raf ayat 169).

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS: Al-A'raf: 176).

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs. Al 'araf ayat 179).

Walllahu'alam bishawab.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
RAYUAN maut bakal calon kepala daerah mulai dilancarkan kepada masyarakat pemilih. Masing-masing bakal calon kepala daerah bersama tim sukses mereka sudah pula memetakan para pemilih berdasarkan indikator-indikator lembaga survei yang mereka pakai. 

Nah, rakyat sebagai penentu duduk atau taduduknya mereka di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ini, harus pintar-pintar dalam menentukan pilihan, kepada siapa hak suara itu akan dilabuhkan?

Sebab pertanggungjawabannya bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Apatah lagi, suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat adalah wakil Tuhan dalam menentukan pilihan. Rakyat yang membait mereka sebagai pemimpin. Bait yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat." (An Nisa ayat:58).

Banyak indikator yang dapat digunakan dalam menentukan pilihan di Pilkada ini. Salah satunya rekam jejaknya menjadi imam di dalam rumah tangganya. Sebab, kesuksesan jadi imam dalam keluarga, bisa menjadi tolak ukur dalam kemampuannya memimpin daerah. 

Mustahil seseorang yang gagal menjadi imam di ruang lingkup yang kecil seperti keluarga, akan berhasil menjadi imam bagi seluruh masyarakat di suatu daerah. Masa nasib daerah ini mau dipertaruhkan kepada orang yang gagal menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya.

Sebab, ditangan dia sebagai imam nasib keluarganya dipertaruhkan dunia wal akhirat. "Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya." (Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

Tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang akan melindungi nasib anak istrinya, apakah akan dijilat api neraka atau hidup bahagia di dalam surga. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (At-Tahrim: 6).

Lantas, Anda akan mempertaruhkan nasib Anda dan daerah ini kepada seorang calon pemimpin yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda masih memakai logika sehat dalam menentukan pilihan, memberikan tampuk kekuasaan di daerah ini kepada orang yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda akan membiarkan rakyat di daerah ini bernasib sama dengan anak istrinya? 

Apatah lagi, seorang calon kepala daerah itu doyan menggantung hak istri. Berbini dengan wanita muda, tapi nasib istri tua tak jelas juntrungannya. Digantung indak batali, nanti rakyat bisa-bisa digantung indak batali pula. Anda mau?

Camkan lah, "Tak ada pemimpin yang sukses sendirian. Keberhasilan sekecil apa pun yang dicapainya pasti berkat bantuan atau dukungan anak istri dan orang-orang di sekelilingnya."

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
SUMBAR butuh pemimpin yang amah, dan saya rasa kita semua sepakat itu. Pemimpin yang menunaikan dengan baik amanah yang diberikan Tuhan kepadanya melalui tangan-tangan rakyat dalam suatu pemilihan yang dilakukan secara demokratis. 

Orang Sumbar dikenal sebagai masyarakat yang bersendikan syarak dalam setiap tarikan nafasnya, tentu sangat paham dengan firman Tuhan dalam Kitabullah, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.." (QS An-Nisa:58).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, bukan yang rakus dan tamak. Sebab, pemimpin yang rakus dan tamak adalah pemimpin yang ingkar dengan amanah yang diberikan Tuhan. Bahasa agamanya kufur nikmat. Pemimpin yang tak menunaikan manah itu sesuai janjinya kepada rakyat dan menyia-nyiakan ketika amanah itu dipegangnya untuk mengejar ambisinya yang gila dan diluar akal sehat yang diajarkan syarak. 

"Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); Ad-Darimi (II/304); Ibnu Hibban (no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân) ; Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr (XIX/96, no. 189) dan lainnya).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, tidak suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat. Akal sehat kita tentu akan menolak pemimpin yang suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat, kecuali akal tak lagi sehat dan membenarkan tindakannya. 

Tapi, banyak juga pemimpin yang dituding pembohong, pendusta, dan membodohi rakyat, padahal dia sudah berusaha memenuhi janjinya kepada rakyat dengan indikator yang jelas, tentu tidak termasuk yang ini. Tapi pemimpin yang berdusta, berbohong dan membodohi rakyat dengan sengaja karena ambisi pribadinya.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, ''Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami dua hadis dan aku telah melihat yang satu dan sedang menanti yang kedua. Rasulullah SAW menceritakan bahwa amanat (iman) pada mulanya turun dalam lubuk hati manusia, lalu mereka mengerti Alquran dan mengetahui sunah Rasul.'' 

''Kemudian, Rasulullah SAW menceritakan tercabutnya amanat (iman). Ketika orang sedang tidur, tercabutlah amanat dari hatinya, sehingga tinggal bekasnya, seperti bintik yang hampir hilang, kemudian tidur pulas, tercabut pula, sehingga tinggal bekasnya bagaikan ''kapalan'' (kulit yang mengeras bekas bekerja). Bagaikan bara api yang engkau injak di bawah telapak kaki, sehingga membengkak maka tampaknya membesar, tetapi tidak ada apa-apanya.

Maka, esok harinya orang-orang berjual beli dan sudah tidak terdapat orang yang amanat/dapat dipercaya. Sehingga, mungkin disebut-sebut ada dari suku Bani Fulan seorang yang amanat (dapat dipercaya), sehingga dipuji-puji: Alangkah pandainya, alangkah ramahnya, alangkah baiknya, padahal di dalam hatinya tidak ada seberat zarah dari iman.'' (Bukhari, Muslim). 

Untuk itu, orang Sumbar, baik itu di Pilkada Bupati atau Wali Kota atau Gubernur, hati-hati lah dalam menentukan pilihan, selidiki rekam jejak pemimpin yang akan dipilih itu dengan baik dan penuh kehati-hatian, baru tentukan pilihan, dari yang terburuk, minimal ke yang buruk, jika tak ada lagi yang baik, apatah lagi yang terbaik. 

Jangan memberikan amanah kepada orang yang suka menyia-nyiakannya karena ketamakan, kerakusan, ambisi pribadi, kelompok dan golongan. Itu pemimpin yang dilaknat Tuhan, bahkan dijamin tak masuk surga-Nya. "Tidaklah mati seorang hamba yang Allah minta untuk mengurus rakyat, sementara dia dalam keadaan menipu (mengkhianati) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a'lam bishawab, semoga kita diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memilih pemimpin untuk daerah ini.

*Ditulis Oleh: Zamri YahyaWakil Ketua SMSI Sumatera Barat dan Anggota PWI Sumatera Barat.

Ketika Tungkek Mambao Rabah, Ranah Minang Menangis
Rabu, April 08, 2020

On Rabu, April 08, 2020

PUBLIK Ranah Minang heboh. Anggota dewan terhormat yang mestinya memberi contoh dan ketaledanan, malah kedapatan ugal-ugalan di jalanan bersama satu orang teman prianya dan tiga wanita cantik pemadu karaoke.

Kejadiannya Senin, 6 April 2020 malam. Dari berita yang beredar, anggota dewan itu berinisial JM dari partai Mercy. Usianya masih teramat muda dan ketika membawa mobil dalam pengaruh minunan keras 

"JM mengendarai mobil Brio putih dalam kondisi dibawah pengaruh minuman keras (miras) dengan kecepatan tinggi di jl. Sudirman Padang yang nyaris menabrak petugas piket KOREM 032/WRB," demikian isi berita berbagai media online terbitan Padang, hari ini.

Saat dihentikan petugas piket, dengan gagah berani, membusungkan dada tanpa busana menutupi dada, ia berteriak kepada petugas piket KOREM 032/WRB, "Saya ini anggota dewan."

Mungkin dia tak sadar, saat berteriak dengan penuh bangga, "Saya ini anggota dewan," dirinya sejatinya telah mencoreng nama lembaga terhormat, DPRD Sumbar yang diisi oleh orang-orang pilihan rakyat pada pemilu tahun kemaren.

Sebagai anggota dewan terhormat, dirinya bak "Tungkek mabao rabah". Tak pandai menjaga kehormatan diri dan lembaga tempat dia bekerja. Mungkin karena dibawah pengaruh minuman keras, dirinya menjadi lupa diri.

"Yang jelas mereka minum. Dalam keadaan mabuk. Tapi, kayaknya mereka masih sadar juga. Mereka minum anggur tua itu dua botol," jelas Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Padang Kompol Rico Fernanda, dikutip dari Covesia.com, Rabu, 8 April 2020.

Ironisnya, mobil yang dikendarai anggota dewan terhormat itu menggunakan knalpot racing. Parahnya, mobil itu menggunakan nomor plat buatan BA 171 KA. Nomor plat Itu tidak sesuai dengan nomor asli di STNK yang ditahan polisi, yaitu BA 1127 Q.

Tentu kita sebagai rakyat badarai ini, hanya bisa geleng-geleng kepala sembari menunggu sikap tegas pimpinan partainya dan Badan Kehormatan (BK) DPRD Sumbar.

Kelakuan anggota dewan terhormat tersebut di tengah semua orang sibuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tentu tidak bisa dibenarkan secara moral yang berlaku di Ranah Minang yang berfalsafahkan, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."

Apalagi Syarak dengan tegas melarang meminum-minuman keras dan bersama wanita yang bukan muhrim, "Wala taqrabuzzina," jangan dekati zina, itu perintah Syarak nan dipakai di Ranah Minang dan dipakukan pula sepanjang adat.

Sejatinya anggota dewan terhormat memberikan keteladanan, sebab dia adalah "ulil amri minkum," pemimpin diantara kamu. Pemimpin yang mesti diikuti, bukan pemimpin yang dilaknat karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya serta tak pandai menjaga marwah wa martabatnya sendiri.

Kelakuannya nyata telah mencoreng lembaga dewan dan partainya. Apatah lagi, Ketua DPD partai yang bersangkutan akan berlaga pula di Pilgub Sumbar, tentu kasus ini akan menjadi bumerang.

Kalau tak ada sikap tegas, maka sejatinya Ranah Minang menangis melihat ulah anggota dewan terhormat yang digaji dengan uang rakyat.

Padang, 8 April 2020
BY

Soal Wajib Pakai Masker, Buya Selangkah Lebih Maju
Selasa, April 07, 2020

On Selasa, April 07, 2020

INI masih soal kesungguhan Buya Mahyeldi, Wali Kota Padang dalam melindungi warganya dari serangan virus mematikan asal Kota Wuhan China, yang kita kenal dengan virus corona atau Covid-19.

Harus diakui, Wali Kota Padang ini selangkah lebih maju dari daerah lainnya. Misalnya saja soal kewajiban pemakaian masker bagi warga kota yang keluar rumah.

Pada Minggu, 5 April 2020, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah telah memberikan instruksi agar orang yang masuk Kota Padang dan warga kota yang keluar rumah wajib memakai masker. 

Instruksi lisan pada hari Minggu, 5 April 2020 itu ditindaklanjuti melalui Instruksi Wali Kota Padang bernomor 870.176/BPBD-Pdg/IV/2020.

Kenapa penulis katakan lebih maju selangkah? Karena kenyataannya, daerah lain belum mengeluarkan instruksi wajib pamai masker tersebut.

Bahkan, Presiden Jokowi sendiri baru mengumumkan kewajiban memakai masker pada Senin, 6 April 2020.

"Karena di awal saya sampaikan yang sakit saja yang pakai masker, sekarang ndak. Semua orang yang keluar rumah wajib pakai masker," ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas lewat teleconference dari Istana Kepresidenan Bogor pada Senin, 6 April 2020, dikutip dari Tempo.co.

Keputusan tepat Buya Mahyeldi dalam melindungi warganya dari bahaya Covid-19 dengan mewajibkan pemakaian masker pun bukan tanpa pro kontra.

Banyak pihak, terutama lawan-lawan politiknya yang nyinyir dan berujung bulying di media sosial.

Mereka mempertanyakan kelangkaan masker di Kota Padang. Padahal, soal kelangkaan masker ini tak hanya di Kota Padang, tetapi hampir di seluruh daerah di Indonesia.

Lagi-lagi, kita hanya bisa berkata, teruslah bekerja buya, abaikan orang-orang nyinyir itu. Karena sebagian besar warga kota mendukung kebijakan dan langkah Buya dalam menangani Covid-19 ini.

Padang, 7 April 2020
Zamri Yahya, Warga Piai Tangah Kecamatan Pauh.

Tak Kenal Lelah, Bekerja, Bekerja dan Bekerja Demi Rakyatnya
Selasa, April 07, 2020

On Selasa, April 07, 2020

BANYAK yang membully-nya di media sosial dan WhatsApp Group. Namun ia tak peduli. Baginya, bekerja, bekerja dan bekerja untuk menjaga rakyatnya agar terhindar dari serangan virus corona, virus mematikan asal Kota Wuhan China.

Banyak yang menganggap, apa yang dia lakukan hanya sekedar pencitraan semata untuk meraih simpati rakyat. Apatah lagi, dia merupakan bakal calon Gubernur Sumatera Barat yang dijagokan partai dakwah, PKS.

Dia dianggap calon kuat yang sulit dikalahkan karena begitu mudahnya rakyat bersimpati dengannya. Untuk menjatuhkan wibawanya di mata rakyat, berbagai cara dilakukan lawan-lawan politiknya, kadang sudah menjurus ke pembunuhan karakter.

Tapi apa itu dia ambil pusing? Tidak. Nyatanya dia tetap bekerja siang malam, tak kenal lelah, menjaga rakyatnya agar tak terserang wabah corona.

"Buya itu bekerja siang dan malam. Tak kenal lelah. Dia pastikan semua mekanisme penangan Covid-19 jalan dan rakyat terhindar dari wabah virud corona," begitu kata Amrizal Rengganis, Kepala Bagian Protokoler dan Komunikasi Pimpinan ketika berbincang ringan di suatu sore dengan penulis.

Pada dini hari, umara dan sekaligus ulama itu, menyidak Posko Covid-19 dan pintu perbatasan Kota Padang. Ia pastikan, setiap orang yang masuk Kota Padang bebas dari virus corona dan harus diisolasi selama 14 hari sesuai prosedur penanganan Covid-19.

Langkah yang dia ambil pun juga melibatkan semua pihak. Ia gelar rapat bersama Forkopimda yang didalamnya terdiri dari Ketua DPRD Kota Padang, Kapolres, Kejaksaan, dan Dandim. Ia juga melibatkan ulama, ninik mamak, tokoh masyarakat dan elemen lainnya dalam penanganan Covid-19.

Pokoknya, penanganan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua stakeholder yang ada agar mata rantai virus corona dapat diputus.

Sudah seperti itu dia bekerja, namun masih saja ada yang genit mengatakan dia hanya pandai beretorika, hanya pencitraan, hanya bermodus politik jelang Pilkada.

Ia pun mengambil langkah tak mengurus orang-orang genit dan nakal itu. Ia pun hanya tetap bekerja, bekerja, dan bekerja. Karena ia tak perlu pula memberikan penjelasan kepada orang-orang yang membencinya.

"Tak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, Karena yang mencintaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu," demikian kata Imam Ali Karamallahu Wajhah dalam kitab Najhul Balaghah.

Tetaplah bekerja Buya Mahyeldi, Wali Kota Padang yang dicintai sebagian besar warga kota. Bravo.

Padang, 7 April 2020.
Zamri Yahya, Warga Piai Tangah Kecamatan Pauh.

Ternyata Ubek Mande Memang Mujarab
Selasa, Maret 31, 2020

On Selasa, Maret 31, 2020

SUDAH hampir tiga minggu lamanya saya berjuang melawan bisul yang tumbuh di area strategis saya. Selama tiga minggu itu, otomatis saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, bekerja sambil berbaring.

Soalnya, jika dibawa duduk seperti biasa, sakitnya mendenyut sampai ke kepala. Tak tahan, bahkan pernah saya meninju kursi tamu rumah sekeras-kerasnya. Tapi sakitnya pun tak hilang. Begitulah sakitnya bisul itu. 

Obat bisul entah berapa merk saleb yang habis. Begitu pula, ahli obat herbal, entah lah sudah banyak pula dicoba. Mulai dari rebusan kunyit putih plus madu, dan rebusan lainnya. Malah tambah berdenyut, kaki kebas pula.

Tak tahan sakit, saya dan si neng pun sepakat berobat ke Puskesmas. Tempat yang selalu saya hindari, karena memang saya tak suka obat-obatan kimiawi.

Bermacam pula diagnosanya. Diperiksa pula tengsi dan gula. Sekambut obat yang harus saya makan. Tapi tak apalah, demi bisul ini cepat meletus, saya makan jugalah, walau bathin menjerit memakan obat kimiawi tersebut.

Tapi tetap juga, tak tahan rasa sakitnya. Kalau duduk, terpaksa mereng ke kiri atau ke kanan. Kalau sudah penat, lari ke kamar berbaring.

Tugas sebagai kuli tinta tetap harus dijalani. Berita yang masuk ke e-mail dan WA harus tetap diedit dan dinaikan. Tak bisa didiamkan, harus dinaikan, jam berapa pun berita itu masuk. Itu kebiasaan saya selama ini.

Si neng yang sabar merawat lakinya ini, sebenarnya sudah tak tahan juga melihat saya kesakitan gara-gara bisul ini.

Entah bisikan dari siapa, si neng ingat dengan mande saya yang tinggal satu-satunya. Dia pun menelpon adik sepupu saya, menanyakan kebaradaan mande saya itu.

Setelah disambungkan dengan mande saya itu, si neng menceritakan sakit bisul yang saya derita. Termasuk dianogsa dokter segala macam.

Esok paginya, karena sudah ada janji dengan One Salisma, saya mengajak si neng ke rumah One Salisma. Usai urusan dengan One Salisma, kami pun menemui Haji Edmon di Indarung.

Di tempat Haji Edmon, sakit bisul itu tak saya pusingkan. Karena kami, bercerita soal politik Kota Padang dan Sumbar. Kalau sudah bercerita soal politik, habis hari saya. Sakit bisul pun tak terasa. 

Di warung, tempat Haji Edmon dan kawan-kawannya nongkrong itu, saya dapat tertawa ngakak, tak merasakan sakit bisul itu lagi. Alhamdulillah.

Kalau tidak ada telpon dari rumah bahwa mande saya datang ke rumah, bisa tak mengenal waktu bercerita soal politik itu.

Apalagi yang kami bahas adalah calon gubernur di tengah wabah Covid-19. Bagaimana sikap mereka menghadapi wabah itu.

Yang menarik adalah kesaksian Editiawarman, tokoh masyarakat di Perumnas Indarung. Dia mengaku pialang politik. Siapa caleg pada pemilu yang lalu masuk komplek, dia janang yang melayani.

Awalnya dia bertanya soal video yang beredar di sosial media. Di video itu, Buya Mahyeldi berjanji akan menjabat sampai 2024 sebagai Wali Kota Padang. Dia meminta komentar saya soal video itu.

Saya tegaskan kepadanya, pada Pilkada Kota Padang yang lalu, saya tidak mendukung Mahyeldi, tapi Emzalmi. Video itu merupakan potongan video debat kandidat di Inna Muara.

Waktu itu, posisi Mahyeldi adalah calon Wali Kota Padang yang didesak menjawab pertanyaan, apakah jika dia terpilih sebagai Wali Kota, dia akan tetap menjabat sebagai sampai akhir masa jabatan.

Waktu itu, Mahyeldi menjawab dengan tegas, dia akan tetap berada di Kota Padang sampai 2024. Saya katakan ke Pak Editiawarman yang akrab disapa Om Tia itu, video itu adalah rekaman ketika debat kandidat, bukan di bawah sumpah sebagai Wali Kota. Dan secara politik, itu sah-sah saja.

Saat ini, kata saya ke Om Tia, PKS hanya menjagokan Reza Pahlevi dan Mahyeldi. Dari dua nama itu, kita harus akui, pelung terbesar berada di pihak Mahyeldi. Jika PKS ingin memenangi Pilgub, ya harus mencalonkan Mahyeldi.

Ibarat kata, jelas saya, Mahyeldi sudah sampai di Solok, calon lain baru mau isi bensin di SPBU Indarung. Alias tertinggal jauh dari Mahyeldi.

Om Tia mengakui pendapat saya itu. Ia pun menyebut satu persatu prestasi Mahyeldi selama memimpin Kota Padang. Memberantas Payung Ceper sampai ke penataan kota, sehingga indah dipandang mata.

Saat sedang asyik berdiskusi di warung kecil itu, masuk WA dari si neng. "Etek di rumah, mambaok an ubek untuk uda. Capek lah, jaan baabih hari carito di kadai," isi WA si neng. Padahal, telp dari rumah memberi tahu mande saya sudah di rumah, saya abaikan.

Saya pun minta pamit ke Om Tia dan Haji Edmon serta se isi kadai. "Maaf, saya harus pulang, mande saya ke rumah. Sudah lama dia menunggu saya. Bawa obat untuk penyakit saya."

Peserta diskusi di lapau itu pun mengizinkan saya pulang. Haji Edmon mengantar saya sampai ke mobil. Di dalam mobil si neng sudah menunggu. "Lamo bana uda ko, etek lah lamo manunggu," keluh si neng.

Saya pun menstater mobil, dan melarikannya dengan kecepatan cukup tinggi agar segera sampai di rumah. Benar saja, mande dan adik sepupu saya sudah menunggu di rumah.

Dia bawa obat bisul, yang dia cari sendiri. Untuk mendapatkan lumut basah, kata mande saya bercerita, dia dan adik sepupu saya harus menelusuri kali. Rupanya, lumut basah ini sulit pula sekarang tumbuh di tepi-tepi kali.

Mande saya mengajarkan ke si neng cara meracik obat bisul tersebut plus cara pemakaiannya. Melihat bahan yang dibawa mande saya, saya sempat pesimis. Gak mungkin lah mujarab.

Tapi dugaan saya salah. Obat itu dioleskan si neng sore, dan malamnya, induk bisul itu pun pecah. Rasa sakit yang saya derita karena bisul itu pun hilang, saya bisa duduk normal kembali. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Betul kata orang tua-tua dulu, "Obat mande itu mujarab. Karena dia mencarinya dengan hati yang gelisah karena sakit yang diderita anaknya."

Maka teringatlah saya kepada mande kanduang saya almarhum, yang ketika saya sakit semasa bujang dulu, dia merawat saya dengan sabar. Apa pun obat dia carikan.

Mande kandung saya sudah lama wafat, dia bersaudara perempuan lima orang. One dan empat saudara perempuanya yang lain sudah sudah wafat, tingga si bungsu, si neng memanggilnya Etek Juli. Itu lah mande kami sekarang. Semua kami, dia perlakukan sama, baik anaknya maupun anak dari saudara perempuannya yang lain. Tak ada dia bedakan.

Mamak saya pernah berpesan kepada saya, "Mande kalian tingga surang lai, jaan sampai kalian buek aia mato e kalua." 

Pesan itu kami jaga terus, tapi ketika ada diantara kami yang sakit, tetap saja air matanya keluar. Ya, kami memang sering menyusahkan dia, ketimbang menyenangkan. 

Tak hanya saya, adik sepupu saya yang bekerja di Jakarta juga sering membuat air matanya keluar, karena ketika sakit selalu dimintakan obat ke mande kami itu. Dikirimnya lah obat itu ke Jakarta, tak lama setelah itu, sembuh pula adik sepupu saya itu.

"Obat mande memang mujarab, mungkin karena dia mencari dan meramunya dengan hati plus doa."

Padang, 31 Maret 2020 dini hari.
BY

Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah
Rabu, Februari 19, 2020

On Rabu, Februari 19, 2020

Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah
BENTENGSUMBAR.COM - Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Bahkan, setiap ibadah dalam Islam mengandung aspek sosial dan kemanusiaan, disamping sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Tentu anda sebagai umat muslim sudah tau mengenai riwayat dari seorang Rasulullah Saw sendiri, beliau juga memutuskan untuk menikah dengan seorang janda. Apabila pilihan seperti ini dinilai sebagai tindakan yang baik, maka Insya Allah menikahi seorang janda bagi umat seperti kita pun bisa dinilai sebagai suatu kebaikan.

Pilihan menikahi seorang janda bisa dikategorikan ke dalam tindakan yang akan membawa berkah dan juga anugerah bagi kita. Apalagi jika niatnya karena Allah untuk melindungi janda tersebut dari fitnah atau pun hal – hal buruk lainnya yang mungkin bisa terjadi.

Salah satu bentuk kepedulian yang dianjurkan dalam Islam adalah memperhatikan para janda. Bahkan Islam mengajarkan, orang yang menghidupi para janda laksana orang yang berjuang di jalan Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari." (HR. Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982). 

Termasuk dalam menolong para janda adalah dengan menikahi mereka. Namun janda manakah yang dimaksud?

Disebutkan dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim (18: 93-94), ada ulama yang mengatakan bahwa armalah yang disebut dalam hadits adalah wanita yang tidak memiliki suami, baik ia sudah menikah ataukah belum. Ada ulama pula yang menyatakan bahwa armalah adalah wanita yang diceraikan oleh suaminya.

Ada pendapat lain dari Ibnu Qutaibah bahwa disebut armalah karena kemiskinan, yaitu tidak ada lagi bekal nafkah yang ia miliki karena ketiadaan suami. Armalah bisa disebut untuk seseorang yang bekalnya tidak ada lagi. Demikian nukilan dari Imam Nawawi.

Dari pendapat terakhir tersebut, janda yang punya keutamaan untuk disantuni adalah janda yang ditinggal mati suami atau janda yang diceraikan dan sulit untuk menanggung nafkah untuk keluarga. Adapun janda kaya, tidak termasuk di dalamnya.

Walau memang menikahi perawan ada keutamaannya. Namun menikahi janda tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan ada pria yang membutuhkan janda dibanding gadis perawan. Semisal seorang pria ingin mencari wanita yang lebih dewasa darinya sehingga bisa mengurus adik-adiknya. 

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia pernah berkata, “Aku pernah menikahi seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bertanya, “Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Ia menjawab, “Iya sudah.” “Yang kau nikahi gadis ataukah janda?”, tanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun menjawab, “Janda.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja, bukankah engkau bisa bersenang-senang dengannya?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Aku khawatir jika menikahi perawan malah nanti ia sibuk bermain dengan saudara-saudara perempuanku. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu berarti alasanmu. Ingatlah, wanita itu dinikahi karena seseorang memandang agama, harta, dan kecantikannya. Pilihlah yang baik agamanya, engkau pasti menuai keberuntungan.” (HR. Muslim no. 715).

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, SHI., Mantan Penyuluh Agama di Kantor KUA Kuranji

Calon Kepala Daerah di Sumbar Sebaiknya Dites Baca Quran, Khatib dan Imam Salat
Senin, Januari 20, 2020

On Senin, Januari 20, 2020

Calon Kepala Daerah di Sumbar Sebaiknya Dites Baca Quran, Khatib dan Imam Salat
MENJADI pemimpin di Samatera Barat tidaklah mudah. Pasalnya, baik secara adat budaya maupun geografis, daerah yang dihuni etnis Minangkabau ini memiliki karakter tersendiri.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020, banyak yang berminat menjadi Kepala Daerah di Sumbar, baik itu untuk poisisi Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Bupati dan Wakil Buputi.

Beberapa nama kandidat sudah mengapung untuk bertarung di pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Provinsi Sumatra Barat, pemilihan Bupati-Wakil Bupati Solok Dharmasraya, Solok Selatan, Pasaman Barat, Pasaman,  Pesisir Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, dan Lima Puluh Kota. Selain itu, mereka juga akan bertarung di Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solok, dan Bukittinggi.

Lantas kenapa muncul ide agar calon Kepala Daerah itu dites baca Al Quran, Khatib, dan Imam Salat? Apakah tidak melanggar konstitusi?

Ide itu muncul mengingat Sumatera Barat atau Minangkabau memiliki falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai." Artinya, calon pemimpin di Sumatera Barat harus memiliki kriteria yang mengacu kepada falsafah adat tersebut, karena Kepala Daerah di Minangkabau atau Suamatera Barat adalah pucuk undang.

Jika kita berpedoman kepada syarak, sebagaimana digariskan oleh pakar siyasah Islamiyah, maka tugas pokok pemimpin dalam Islam adalah "Iqamatuddin dan Siyasatu ad-Dunya bi ad-Dien".

Menurut Ibnu Tamiyah, iqamatuddin, yaitu menegakkan syari’at-syari’at Islam sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Seperti: mengihlaskan semua aktifitas ketaatan untuk Allah SWT, menghidupkan berbagai sunnah, dan mengikis kebid’ahan. Sehingga manusia menaati Allah dengan sempurna.

Sedangkan Siyasatu ad-Dunya bi ad-Dien dimaksudkan sebagai mengatur tata pemerintahan atau sistem perpolitikan atau sistem bernegara dengan aturan Islam.

Imam al Mawardi dalam kitab al Ahkam al Sulthaniyah menjabarkan 10 tugas pemimpin. Salah satunya memelihara agama sesuai dengan prinsip prinsip yang kokoh dalam artian benar benar terwujud kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat. Agama bukan dijadikan sarana untuk melakukan rekayasa, manipulasi dan intimidasi. Bukan pula agama dijadikan sebagai legitimasi kekuasaan yang hanya untuk kepentingan sesaat (pragmatis).

Bukankah Indonesia bukan negara Islam? Apakah tidak bertentangan dengan konstitusi? Persoalan ini selalu menjadi perdebatan di Indonesia. Namun, yang pasti Indonesia merupakan anggota dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Bagi penulis, Indonesia adalah negara Islam yang memiliki sistem kekhalifahan yang mengakui kemajemukan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, etnis Minangkabau memiliki hak untuk menerapkan ciri khas daerah mereka sepanjang tidak bertentangan dengan konstitusi. Apalagi, jaminan kekhasan itu diatur pula dalam konstitusi.

Pasal 18B ayat (2) menegaskan, "Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang."

Apatah lagi, Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 dan diundangkan di Jakarta pad 29 Mei 2017 dalam lembaran negara tahun 2017 nomor 104.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada waktu itu, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa kebudayaan tidak hanya pada tarian atau tradisi saja, tetapi juga nilai karakter luhur yang diwariskan turun-temurun hingga membentuk karakter bangsa.

Maka tidak salah rasanya dan mengacu kepada kontitusi yang berdasarkan karakteristik adat dan budaya Minangkanau yang berfalsafahkan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah"itu, calon Kepala Daerah di Sumatera Barat atau Minangkabau harus pandai baca tulis al Quran, pandai dan mampu menjadi imam salat, pandai dan mampu menjadi Khatib Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha.

Tes baca tulis al Quran, Imam Salat dan Khatib bagi calon Kepala Daerah di Sumatera Barat merupakan salah satu bentuk penghormatan bagi kearifan lokal bagi orang Minangkabau sebagaimana dijamin oleh konstitusi.

Jangan hanya pasangan calon pengantin saja yang dites baca tulis al Quran dan kemampuan salatnya, tapi calon pemimpin di daerah ini yang akan memimpin rakyat Sumatera Barat juga harus dites kemampuan baca tulis al Quran, kemampuan dia menjadi Imam Salat dan Khatib.

Maka, sudah saatnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat dan kabupaten/kota merumuskannya dalam bentuk peraturan KPU yang disusun bersama-sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Ormas Islam dan lembaga ada, seperti LKAAM dan KAN.

Wallahu'alam bishawab.

Ditulis oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Curah Hujan Tinggi, Jangan Jadi Pelakor
Rabu, Desember 25, 2019

On Rabu, Desember 25, 2019

Curah Hujan Tinggi, Jangan Jadi Pelakor
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitas curah hujan di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan hingga Maret 2020.

Curah hujan tersebut masih berpotensi hingga sampai akhir tahun 2019.

Bahkan hingga Januari curah hujan mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam satu bulan, artinya curah hujan masih tinggi.

Peningkatan intensitas curah hujan tersebut tentu menimbulkan resiko terjadinya ancaman bencana alam. Misalnya saja longsir dan banjir.

Semalam saja misalnya, hujan yang turun di Kota Padang menyebabkan genangan yang cukup tinggi di beberapa titik lokasi di daerah ini.

Di Bungus, pohon tumbang terjadi. Pohon tumbang pada Rabu, 25 Desember 2019 dinihari sekira pukul 05.00 Wib terjadi tepat di bawah mercusuar (Bukik Lampu), Bungus. 

Pohon tumbang menghalangi jalan penghubung Padang - Pesisir Selatan, sehingga mengakibatkan macet panjang.

Untuk itu, warga kota harus terus waspada akan potensi bencana hidrometeorologi yakni dengan cara menghindar apa bila terdapat tanda-tandanya

Longsor, banjir dan banjir bandang diperkirakan masih berpotensi terjadi, oleh karena itu perlu ditingkatkan kewaspadaan bagi masyarakat.

Jika terlihat hujan di atas gunung maka yang berada di bawah atau di pinggir sungai harus waspada dan menjauh dari sungai.

Jika terlihat air sungai tiba-tiba keruh maka segera menjauhi sungai karena biasanya air tersebut menghanyutkan kayu dan benda lainnya yang membahayakan.

Dan yang terpenting jangan jadi Pelakor alias Pelaku Lingkungan Kotor. Sebab, bencana datang akibat ulah tangan manusia. 

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” [asy Syuura/42 : 30].

Bencana yang terjadi pasti karena perbuatan tangan jahil manusia. Itu pasti.

“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.” [an Nisaa/4 : 79].

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [an Rum: 79].

Maka, segeralah bertobat, jangan lagi jadi Pelakor. Paliharalah lingkungan masing-masing. Mencintai dan merawat lingkungan merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah. 

Wallahu'alam.

Padang, 25 Desember 2019
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji

"Saya Khilaf"
Minggu, Desember 15, 2019

On Minggu, Desember 15, 2019

"Saya Khilaf"
KATA khilaf sering kita dengar disekitar kita. Kata khilaf merupakan kata sakti untuk berkelit dari kesalahan.

Sering kali seseorang mengaku khilaf saat berbuat salah. Sering kali pula kita mengatakan khilaf saat kita menyakiti orang lain atau berbuat yang kurang baik kepada saudara ataupun kepada orang-orang disekitar kita.

Padahal,  perbuatan yang dilakukan penuh dengan kesadaran dan berulang-ulang.  Perbuatan itu lahir dari pemikiran yang direncanakan.

Contohnya, seorang laki-laki bilang khilaf saat pacarnya ternyata hamil. Padahal,  dia sadar telah melakukan hubungan suami istri dengan pacarnya tersebut di luar ikatan pernikahan.

Bahkan, setelah mengetahui pacarnya hamil,  dengan sadar pula dia memaksa pacarnya untuk menggugurkan kandungan.

Padahal, hubungan suami istri yang mereka lakukan adalah jenis kegiatan yang melibatkan alam sadar sepenuhnya, bukan tindakan impulsif seperti saat kita membantah tuduhan yang tidak kita lakukan.

Kalau yang seperti ini masih berani dikategorikan sebagai khilaf, lambat laun definisi khilaf akan absurd dengan sendirinya. Tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan merupakan dosa besar bagi orang mukmin, bahkan pelakunya dicap munafik.

Kalau demikian,  apa arti khilaf itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khilaf diartikan sebagai keliru atau salah yang tidak disengaja. Maka, kekhilafan berarti kekeliruan atau kesalahan yang tidak disengaja.

Artinya,  khilaf bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bahkan ada yang dilakukan berulang-ulang.

Sebalikntya, jika perbuatan itu melalui proses pemikiran, apalagi direncanakan sebelumnya,  bahkan dilakukan secara berulang-ulang,  sudah dipastikan perbuatan itu bukan khilaf lagi,  tapi sengaja dengan sadar dilakukan.

Maka perkataan, "Saya khilaf," hanya menjadi pembenaran terhadap perbuatan yang salah atau keliru. Sebab,  dia dengan sadar melakukannya secara berulang-ulang dengan perencanaan sebelumnya.

Masih berani bilang khilaf?

Dalam suatu riwayat,  Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara, ia berbohong. Jika berjanji, ia ingkar. Jika diberi amanat, ia berkhianat.”

Ditulis Oleh: Zamri Yahya
Anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji.

Sulit Mengingat Prestasi Mahyeldi Selama Memimpin Kota Padang
Minggu, Desember 08, 2019

On Minggu, Desember 08, 2019

Sulit Mengingat Prestasi Mahyeldi Selama Memimpin Kota Padang
KEBERHASILAN seorang kepala daerah dalam memimpin daerahnya selalu diukur dengan penghargaan yang dia raih selama menjanat kepala daerah.

Penghargaan tersebut tentu berbanding lurus dengan kinerja berujung prestasi yang diraihnya dalam pelaksanaan program pembangunan di daerah tetsebut.

Banyak faktor penilaian yang diberikan oleh tim penilai, sebelum menjatuhkan pilihan seorang pejabat atau kepala daerah berhak mendapat piagam penghargaan.

Penilaian yang ketat pun diterapkan dengan membentuk tim penilai untuk memantau dan melihat ke lapangan apa yang akan dinilai tersebut.

Barulah,  setelah melewati berbagai proses,  pilihan dijatuhkan kepada pejabat atau kepala daerah itu atau kepada orang yang berhak mendapat penghargaan terbaik di bidang yang dinilai itu.

Sosok yang kita bicarakan ini adalah seorang Wali Kota Padang,  yaitu Buya Mahyeldi Ansharullah,  SP.  Seorang sosok pemimpin yang dicintai warganya.

Sosok pemimpin yang dikenal luas dekat dengan warganya.  Bagi warga kota,  Buya Mahyeldi adalah sosok pemimpin yang dekat dan melayani.

Bahkan tak sekedar pemimpin atau umara, bagi warga kota yang merasakan dakwahnya, disandangkanlah sosok ulama dipundaknya.  Umara dan Ulama,  dua predikat itu disandangkan kepada Mahyeldi.

Lantas,  apa prestasi Mahyeldi selama menjabat Wali Kota Padang?  Sesuai judil artikel ini,  maka sulit untuk mengingat prestasi Mahyeldi selaku Wali Kota,  karena begitu banyaknya penghargaan yang diraih oleh politisi PKS ini.

Baik itu penghargaan atas prestasinya membangun Kota Padang yang diberikan pemerintah pusat atau lembaga negara maupun penghargaan yang diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat atau swasta.

Banyak piagam penghargaan yang diraih,  jika disebut satu persatu di luar kepala,  maka sulit untuk mengingatnya karena jumlahnya ratusan.  Mungkin,  Mahyeldi sendiri tidak hafal di luar kepala nama penghargaan itu, di bidang apa penghargaan itu diberikan, siapa saja lembaga yang memberikan penghargaan kepadanya selaku Wali Kota dan penghargaan yang diberikan atas nama Pemerintah Kota Padang.

Terlepas dari seabrek piagam penghargaan itu,  yang jelas kenyataannya selama menjadi Wali Kota Padang,  Mahyeldi memang melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Jika Anda sudah lama tidak berkunjung ke Kota Padang,  maka cobalah lihat kota ini sekarang.  Mengalami perubahan di luar perkiraan Anda sepuluh tahun silam.

Kota ini tertata dengan apik.  Taman-taman kota dibenahi.  Trotoar jalan diperindah, ada bangku untuk bersantai bagi warga kota di sepanjang jalan pusat kota. Bahkan sudah mulai merambah ke pinggir kota.

Itu baru satu contoh kecil perubahan yang dilakukan.  Masih banyak yang lain,  jika mau dikupas satu persatu.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya,  SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Rakyat Galau,  Wakil Rakyat Doyan Kunker
Rabu, Desember 04, 2019

On Rabu, Desember 04, 2019

Rakyat Galau,  Wakil Rakyat Doyan Kunker
KETIKA kampanye,  para calon wakil rakyat berusaha mendapatkan hati rakyat.  Berbagai jurus dilancarkan agar rakyat mau memilih mereka.

Namun,  setelah rakyat memilih mereka dan amanah itu mereka dapatkan,  rakyat justru banyak yang kecewa.

Rakyat kecewa,  setelah dilantik sebagai wakil rakyat,  mereka tidak sesuai harapan.

Rakyat mengharapkan,  setelah mereka dilantik dan mulai bekerja,  yang mereka urus betul-betul kepentingan rakyat yang mereka wakili.

Tapi kenyataannya,  wakil rakyat atau anggota dewan malah disibukkan dengan kunjungan kerja dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah atau Perda.

Padahal,  Presiden Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forkopimda se Indonesia beberapa waktu lalu meminta anggota dewan dan pejabat daerah jangan terlalu sering melakukan kunjungan kerja.

Akhirnya,  karena harapan tak sesuai kenyataan,  rakyat pun galau dan antipati terhadap wakil rakyat.  Bahkan, tak sedikit yang menyatakan penilaian yang kurang baik yang kadang menjurus kepada sumpah serapah.

Hal ini dapat kita lihat dari postingan rakyat di media sosial terkait kinerja wakil rakyat. 

Maka, sudah sepatutnya wakil rakyat untuk menyikapi imbauan Presiden Joko Widodo.  Kurangi kunker,  fokus mengurus rakyat di daerah masing-masing,  sehingga rakyat mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan.

Anggaran yang dianggarkan sampai miliaran rupiah untuk kunker tersebut,  dapat dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat. Seperti untuk membangun sekolah, jalan,  drainase,  jembatan,  bantuan untuk orang miskin,  dan lain sebagainya.

Sesuai imbauan Presiden Joko Widodo,  daerah jangan terlalu banyak bikin aturan,  apakah itu Perda atau Pergub,  Perwako dan Perbub yang justru membuat rakyat susah karena dibebani terlalu banyak peraturan.

Jika pembuatan Perda dikurangi,  maka alasan wakil rakyat untuk melakukan kunker ke luar daerah akan berkurang.  Paling banter mereka akan memanfaatkan perjalanan perseorangan atau perjalanan pimpinan.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya
Anggota Biasa PWI Sumbar dan Wartawan Utama di Media Online BentengSumbar. com

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *