Opini

PARLEMEN

Sports

Catatan BY

IKLAN DI ATAS FEED
Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah Saja
Kamis, September 24, 2020

On Kamis, September 24, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah.
HARUS diakui, praktek rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) masih marak di Sumatera Barat sebagai daerah yang Pancasilais dengan falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai."

Apatah lagi disaat pandemi corona ini, orang pada kesusahan, kesulitan keuangan, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan resmi susah pula, terpaksa mengambil jalan pintas, meminjam ke rentenir.

Padahal, rentenir memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi. Pinjaman ini tidak diberikan melalui badan resmi, misalnya bank, dan bila tidak dibayar akan dipermalukan atau dipukuli.

Praktek renten ini sangat sulit diberantas. Untuk itu, Sumatera Barat memerlukan pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk memberantas praktek riba yang diharamkan adat dan agama ini.

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah [2] : 275).

" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ' semuanya sama dalam dosa'." (HR Muslim no. 1598).

Pemimpin yang tak hanya pandai berceramah soal bahaya renten atau riba, tetapi pemimpin yang mampu membunuh praktek ribllllla tersebut dengan kekuasaan yang ada di tangannya.

Soal memberi pemahaman bahaya renten atau riba itu, serahkan saja lah kepada ahlinya, yaitu ulama yang paham dengan kitabullah, tak sekedar hafal, tapi tahu makna dan tafsir ayat, karena sedari kecil berkutat dengan itu.

Tugas pemimpin adalah membuat kebijakan atau regulasi, menyelamatkan rakyat dari bahaya renten, tengkulak penghisap darah rakyat, yang memiliki pertahanan yang kuat dari sentuhan hukum.

Rentenir atau tengkulak itu harus dibasmi, kalau memang bertekad mensejahterakan rakyat Sumatera Barat. Jangan malah maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ikut pula didanai rentenir, meminjam uang pula kepada mereka. Parah...!!!

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua SMSI Sumatera Barat.

Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah
Selasa, September 22, 2020

On Selasa, September 22, 2020

Ilustrasi. Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah.
PILKADA kerap dijadikan ajang merayu rakyat haabis-habisan agar memperoleh simpati. Timses pun menjual calon yang dia jagokan dengan mengekspolitasi segala kelebihan yang dimilikinya.

Mulai dari kesolehan pribadi sampai kepada kesolehan sosial. Segala macam kebaikan jagoannya dibaca.

Padahal, timses itu sendiri juga bingung dengan apa yang dia sampaikan. Karena dia sendiri baru mengenal calon itu, sudah sok mengenal luar dalam pula. Rugi pula katanya rakyat tak memilih jagoan yang digalehkannya.

Tapi sudah lah. Itu kan timses, memang sudah ditraining menjual calon dengan mengeksploitasi kelebihan dan menutupi segala kekurangan dengan serapi-rapinya.

Tapi sebagai rakyat, kita punya akal dan budi dalam menilai dan menimbang dalam menentukan pilihan. 

"Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah : 284).

Secara logika saja, selama ini calon kepala daerah itu tak pernah berbuat untuk daerah ini. Sudah dicari kian kemari rekam jejaknya, tak terbaca barang setitik pun.

Lantas, Anda akan menggantungkan nasib daerah ini kepadanya? Apakah Anda ingin calon kepala daerah yang mengaku dekat dengan rakyat  menjelang Pilkada doank karena tertarik dengan uang?

Kemana akal budi Anda? Atau sudah Anda simpan di dalam kotak yang dikunci erat susah dikupak? Apa tak takut disindir ayat Tuhan ini?

"Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" (Al A'raf ayat 169).

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS: Al-A'raf: 176).

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs. Al 'araf ayat 179).

Walllahu'alam bishawab.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
RAYUAN maut bakal calon kepala daerah mulai dilancarkan kepada masyarakat pemilih. Masing-masing bakal calon kepala daerah bersama tim sukses mereka sudah pula memetakan para pemilih berdasarkan indikator-indikator lembaga survei yang mereka pakai. 

Nah, rakyat sebagai penentu duduk atau taduduknya mereka di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ini, harus pintar-pintar dalam menentukan pilihan, kepada siapa hak suara itu akan dilabuhkan?

Sebab pertanggungjawabannya bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Apatah lagi, suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat adalah wakil Tuhan dalam menentukan pilihan. Rakyat yang membait mereka sebagai pemimpin. Bait yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat." (An Nisa ayat:58).

Banyak indikator yang dapat digunakan dalam menentukan pilihan di Pilkada ini. Salah satunya rekam jejaknya menjadi imam di dalam rumah tangganya. Sebab, kesuksesan jadi imam dalam keluarga, bisa menjadi tolak ukur dalam kemampuannya memimpin daerah. 

Mustahil seseorang yang gagal menjadi imam di ruang lingkup yang kecil seperti keluarga, akan berhasil menjadi imam bagi seluruh masyarakat di suatu daerah. Masa nasib daerah ini mau dipertaruhkan kepada orang yang gagal menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya.

Sebab, ditangan dia sebagai imam nasib keluarganya dipertaruhkan dunia wal akhirat. "Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya." (Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

Tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang akan melindungi nasib anak istrinya, apakah akan dijilat api neraka atau hidup bahagia di dalam surga. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (At-Tahrim: 6).

Lantas, Anda akan mempertaruhkan nasib Anda dan daerah ini kepada seorang calon pemimpin yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda masih memakai logika sehat dalam menentukan pilihan, memberikan tampuk kekuasaan di daerah ini kepada orang yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda akan membiarkan rakyat di daerah ini bernasib sama dengan anak istrinya? 

Apatah lagi, seorang calon kepala daerah itu doyan menggantung hak istri. Berbini dengan wanita muda, tapi nasib istri tua tak jelas juntrungannya. Digantung indak batali, nanti rakyat bisa-bisa digantung indak batali pula. Anda mau?

Camkan lah, "Tak ada pemimpin yang sukses sendirian. Keberhasilan sekecil apa pun yang dicapainya pasti berkat bantuan atau dukungan anak istri dan orang-orang di sekelilingnya."

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Amanah
SUMBAR butuh pemimpin yang amah, dan saya rasa kita semua sepakat itu. Pemimpin yang menunaikan dengan baik amanah yang diberikan Tuhan kepadanya melalui tangan-tangan rakyat dalam suatu pemilihan yang dilakukan secara demokratis. 

Orang Sumbar dikenal sebagai masyarakat yang bersendikan syarak dalam setiap tarikan nafasnya, tentu sangat paham dengan firman Tuhan dalam Kitabullah, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.." (QS An-Nisa:58).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, bukan yang rakus dan tamak. Sebab, pemimpin yang rakus dan tamak adalah pemimpin yang ingkar dengan amanah yang diberikan Tuhan. Bahasa agamanya kufur nikmat. Pemimpin yang tak menunaikan manah itu sesuai janjinya kepada rakyat dan menyia-nyiakan ketika amanah itu dipegangnya untuk mengejar ambisinya yang gila dan diluar akal sehat yang diajarkan syarak. 

"Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya." (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); Ad-Darimi (II/304); Ibnu Hibban (no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân) ; Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr (XIX/96, no. 189) dan lainnya).

Sumbar butuh pemimpin yang amanah, tidak suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat. Akal sehat kita tentu akan menolak pemimpin yang suka berdusta, berbohong dan membodohi rakyat, kecuali akal tak lagi sehat dan membenarkan tindakannya. 

Tapi, banyak juga pemimpin yang dituding pembohong, pendusta, dan membodohi rakyat, padahal dia sudah berusaha memenuhi janjinya kepada rakyat dengan indikator yang jelas, tentu tidak termasuk yang ini. Tapi pemimpin yang berdusta, berbohong dan membodohi rakyat dengan sengaja karena ambisi pribadinya.

Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, ''Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami dua hadis dan aku telah melihat yang satu dan sedang menanti yang kedua. Rasulullah SAW menceritakan bahwa amanat (iman) pada mulanya turun dalam lubuk hati manusia, lalu mereka mengerti Alquran dan mengetahui sunah Rasul.'' 

''Kemudian, Rasulullah SAW menceritakan tercabutnya amanat (iman). Ketika orang sedang tidur, tercabutlah amanat dari hatinya, sehingga tinggal bekasnya, seperti bintik yang hampir hilang, kemudian tidur pulas, tercabut pula, sehingga tinggal bekasnya bagaikan ''kapalan'' (kulit yang mengeras bekas bekerja). Bagaikan bara api yang engkau injak di bawah telapak kaki, sehingga membengkak maka tampaknya membesar, tetapi tidak ada apa-apanya.

Maka, esok harinya orang-orang berjual beli dan sudah tidak terdapat orang yang amanat/dapat dipercaya. Sehingga, mungkin disebut-sebut ada dari suku Bani Fulan seorang yang amanat (dapat dipercaya), sehingga dipuji-puji: Alangkah pandainya, alangkah ramahnya, alangkah baiknya, padahal di dalam hatinya tidak ada seberat zarah dari iman.'' (Bukhari, Muslim). 

Untuk itu, orang Sumbar, baik itu di Pilkada Bupati atau Wali Kota atau Gubernur, hati-hati lah dalam menentukan pilihan, selidiki rekam jejak pemimpin yang akan dipilih itu dengan baik dan penuh kehati-hatian, baru tentukan pilihan, dari yang terburuk, minimal ke yang buruk, jika tak ada lagi yang baik, apatah lagi yang terbaik. 

Jangan memberikan amanah kepada orang yang suka menyia-nyiakannya karena ketamakan, kerakusan, ambisi pribadi, kelompok dan golongan. Itu pemimpin yang dilaknat Tuhan, bahkan dijamin tak masuk surga-Nya. "Tidaklah mati seorang hamba yang Allah minta untuk mengurus rakyat, sementara dia dalam keadaan menipu (mengkhianati) rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a'lam bishawab, semoga kita diberi petunjuk oleh Tuhan dalam memilih pemimpin untuk daerah ini.

*Ditulis Oleh: Zamri YahyaWakil Ketua SMSI Sumatera Barat dan Anggota PWI Sumatera Barat.

Ketika Tungkek Mambao Rabah, Ranah Minang Menangis
Rabu, April 08, 2020

On Rabu, April 08, 2020

PUBLIK Ranah Minang heboh. Anggota dewan terhormat yang mestinya memberi contoh dan ketaledanan, malah kedapatan ugal-ugalan di jalanan bersama satu orang teman prianya dan tiga wanita cantik pemadu karaoke.

Kejadiannya Senin, 6 April 2020 malam. Dari berita yang beredar, anggota dewan itu berinisial JM dari partai Mercy. Usianya masih teramat muda dan ketika membawa mobil dalam pengaruh minunan keras 

"JM mengendarai mobil Brio putih dalam kondisi dibawah pengaruh minuman keras (miras) dengan kecepatan tinggi di jl. Sudirman Padang yang nyaris menabrak petugas piket KOREM 032/WRB," demikian isi berita berbagai media online terbitan Padang, hari ini.

Saat dihentikan petugas piket, dengan gagah berani, membusungkan dada tanpa busana menutupi dada, ia berteriak kepada petugas piket KOREM 032/WRB, "Saya ini anggota dewan."

Mungkin dia tak sadar, saat berteriak dengan penuh bangga, "Saya ini anggota dewan," dirinya sejatinya telah mencoreng nama lembaga terhormat, DPRD Sumbar yang diisi oleh orang-orang pilihan rakyat pada pemilu tahun kemaren.

Sebagai anggota dewan terhormat, dirinya bak "Tungkek mabao rabah". Tak pandai menjaga kehormatan diri dan lembaga tempat dia bekerja. Mungkin karena dibawah pengaruh minuman keras, dirinya menjadi lupa diri.

"Yang jelas mereka minum. Dalam keadaan mabuk. Tapi, kayaknya mereka masih sadar juga. Mereka minum anggur tua itu dua botol," jelas Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Padang Kompol Rico Fernanda, dikutip dari Covesia.com, Rabu, 8 April 2020.

Ironisnya, mobil yang dikendarai anggota dewan terhormat itu menggunakan knalpot racing. Parahnya, mobil itu menggunakan nomor plat buatan BA 171 KA. Nomor plat Itu tidak sesuai dengan nomor asli di STNK yang ditahan polisi, yaitu BA 1127 Q.

Tentu kita sebagai rakyat badarai ini, hanya bisa geleng-geleng kepala sembari menunggu sikap tegas pimpinan partainya dan Badan Kehormatan (BK) DPRD Sumbar.

Kelakuan anggota dewan terhormat tersebut di tengah semua orang sibuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tentu tidak bisa dibenarkan secara moral yang berlaku di Ranah Minang yang berfalsafahkan, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."

Apalagi Syarak dengan tegas melarang meminum-minuman keras dan bersama wanita yang bukan muhrim, "Wala taqrabuzzina," jangan dekati zina, itu perintah Syarak nan dipakai di Ranah Minang dan dipakukan pula sepanjang adat.

Sejatinya anggota dewan terhormat memberikan keteladanan, sebab dia adalah "ulil amri minkum," pemimpin diantara kamu. Pemimpin yang mesti diikuti, bukan pemimpin yang dilaknat karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya serta tak pandai menjaga marwah wa martabatnya sendiri.

Kelakuannya nyata telah mencoreng lembaga dewan dan partainya. Apatah lagi, Ketua DPD partai yang bersangkutan akan berlaga pula di Pilgub Sumbar, tentu kasus ini akan menjadi bumerang.

Kalau tak ada sikap tegas, maka sejatinya Ranah Minang menangis melihat ulah anggota dewan terhormat yang digaji dengan uang rakyat.

Padang, 8 April 2020
BY

Soal Wajib Pakai Masker, Buya Selangkah Lebih Maju
Selasa, April 07, 2020

On Selasa, April 07, 2020

INI masih soal kesungguhan Buya Mahyeldi, Wali Kota Padang dalam melindungi warganya dari serangan virus mematikan asal Kota Wuhan China, yang kita kenal dengan virus corona atau Covid-19.

Harus diakui, Wali Kota Padang ini selangkah lebih maju dari daerah lainnya. Misalnya saja soal kewajiban pemakaian masker bagi warga kota yang keluar rumah.

Pada Minggu, 5 April 2020, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah telah memberikan instruksi agar orang yang masuk Kota Padang dan warga kota yang keluar rumah wajib memakai masker. 

Instruksi lisan pada hari Minggu, 5 April 2020 itu ditindaklanjuti melalui Instruksi Wali Kota Padang bernomor 870.176/BPBD-Pdg/IV/2020.

Kenapa penulis katakan lebih maju selangkah? Karena kenyataannya, daerah lain belum mengeluarkan instruksi wajib pamai masker tersebut.

Bahkan, Presiden Jokowi sendiri baru mengumumkan kewajiban memakai masker pada Senin, 6 April 2020.

"Karena di awal saya sampaikan yang sakit saja yang pakai masker, sekarang ndak. Semua orang yang keluar rumah wajib pakai masker," ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas lewat teleconference dari Istana Kepresidenan Bogor pada Senin, 6 April 2020, dikutip dari Tempo.co.

Keputusan tepat Buya Mahyeldi dalam melindungi warganya dari bahaya Covid-19 dengan mewajibkan pemakaian masker pun bukan tanpa pro kontra.

Banyak pihak, terutama lawan-lawan politiknya yang nyinyir dan berujung bulying di media sosial.

Mereka mempertanyakan kelangkaan masker di Kota Padang. Padahal, soal kelangkaan masker ini tak hanya di Kota Padang, tetapi hampir di seluruh daerah di Indonesia.

Lagi-lagi, kita hanya bisa berkata, teruslah bekerja buya, abaikan orang-orang nyinyir itu. Karena sebagian besar warga kota mendukung kebijakan dan langkah Buya dalam menangani Covid-19 ini.

Padang, 7 April 2020
Zamri Yahya, Warga Piai Tangah Kecamatan Pauh.

Tak Kenal Lelah, Bekerja, Bekerja dan Bekerja Demi Rakyatnya
Selasa, April 07, 2020

On Selasa, April 07, 2020

BANYAK yang membully-nya di media sosial dan WhatsApp Group. Namun ia tak peduli. Baginya, bekerja, bekerja dan bekerja untuk menjaga rakyatnya agar terhindar dari serangan virus corona, virus mematikan asal Kota Wuhan China.

Banyak yang menganggap, apa yang dia lakukan hanya sekedar pencitraan semata untuk meraih simpati rakyat. Apatah lagi, dia merupakan bakal calon Gubernur Sumatera Barat yang dijagokan partai dakwah, PKS.

Dia dianggap calon kuat yang sulit dikalahkan karena begitu mudahnya rakyat bersimpati dengannya. Untuk menjatuhkan wibawanya di mata rakyat, berbagai cara dilakukan lawan-lawan politiknya, kadang sudah menjurus ke pembunuhan karakter.

Tapi apa itu dia ambil pusing? Tidak. Nyatanya dia tetap bekerja siang malam, tak kenal lelah, menjaga rakyatnya agar tak terserang wabah corona.

"Buya itu bekerja siang dan malam. Tak kenal lelah. Dia pastikan semua mekanisme penangan Covid-19 jalan dan rakyat terhindar dari wabah virud corona," begitu kata Amrizal Rengganis, Kepala Bagian Protokoler dan Komunikasi Pimpinan ketika berbincang ringan di suatu sore dengan penulis.

Pada dini hari, umara dan sekaligus ulama itu, menyidak Posko Covid-19 dan pintu perbatasan Kota Padang. Ia pastikan, setiap orang yang masuk Kota Padang bebas dari virus corona dan harus diisolasi selama 14 hari sesuai prosedur penanganan Covid-19.

Langkah yang dia ambil pun juga melibatkan semua pihak. Ia gelar rapat bersama Forkopimda yang didalamnya terdiri dari Ketua DPRD Kota Padang, Kapolres, Kejaksaan, dan Dandim. Ia juga melibatkan ulama, ninik mamak, tokoh masyarakat dan elemen lainnya dalam penanganan Covid-19.

Pokoknya, penanganan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua stakeholder yang ada agar mata rantai virus corona dapat diputus.

Sudah seperti itu dia bekerja, namun masih saja ada yang genit mengatakan dia hanya pandai beretorika, hanya pencitraan, hanya bermodus politik jelang Pilkada.

Ia pun mengambil langkah tak mengurus orang-orang genit dan nakal itu. Ia pun hanya tetap bekerja, bekerja, dan bekerja. Karena ia tak perlu pula memberikan penjelasan kepada orang-orang yang membencinya.

"Tak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, Karena yang mencintaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu," demikian kata Imam Ali Karamallahu Wajhah dalam kitab Najhul Balaghah.

Tetaplah bekerja Buya Mahyeldi, Wali Kota Padang yang dicintai sebagian besar warga kota. Bravo.

Padang, 7 April 2020.
Zamri Yahya, Warga Piai Tangah Kecamatan Pauh.

Ternyata Ubek Mande Memang Mujarab
Selasa, Maret 31, 2020

On Selasa, Maret 31, 2020

SUDAH hampir tiga minggu lamanya saya berjuang melawan bisul yang tumbuh di area strategis saya. Selama tiga minggu itu, otomatis saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, bekerja sambil berbaring.

Soalnya, jika dibawa duduk seperti biasa, sakitnya mendenyut sampai ke kepala. Tak tahan, bahkan pernah saya meninju kursi tamu rumah sekeras-kerasnya. Tapi sakitnya pun tak hilang. Begitulah sakitnya bisul itu. 

Obat bisul entah berapa merk saleb yang habis. Begitu pula, ahli obat herbal, entah lah sudah banyak pula dicoba. Mulai dari rebusan kunyit putih plus madu, dan rebusan lainnya. Malah tambah berdenyut, kaki kebas pula.

Tak tahan sakit, saya dan si neng pun sepakat berobat ke Puskesmas. Tempat yang selalu saya hindari, karena memang saya tak suka obat-obatan kimiawi.

Bermacam pula diagnosanya. Diperiksa pula tengsi dan gula. Sekambut obat yang harus saya makan. Tapi tak apalah, demi bisul ini cepat meletus, saya makan jugalah, walau bathin menjerit memakan obat kimiawi tersebut.

Tapi tetap juga, tak tahan rasa sakitnya. Kalau duduk, terpaksa mereng ke kiri atau ke kanan. Kalau sudah penat, lari ke kamar berbaring.

Tugas sebagai kuli tinta tetap harus dijalani. Berita yang masuk ke e-mail dan WA harus tetap diedit dan dinaikan. Tak bisa didiamkan, harus dinaikan, jam berapa pun berita itu masuk. Itu kebiasaan saya selama ini.

Si neng yang sabar merawat lakinya ini, sebenarnya sudah tak tahan juga melihat saya kesakitan gara-gara bisul ini.

Entah bisikan dari siapa, si neng ingat dengan mande saya yang tinggal satu-satunya. Dia pun menelpon adik sepupu saya, menanyakan kebaradaan mande saya itu.

Setelah disambungkan dengan mande saya itu, si neng menceritakan sakit bisul yang saya derita. Termasuk dianogsa dokter segala macam.

Esok paginya, karena sudah ada janji dengan One Salisma, saya mengajak si neng ke rumah One Salisma. Usai urusan dengan One Salisma, kami pun menemui Haji Edmon di Indarung.

Di tempat Haji Edmon, sakit bisul itu tak saya pusingkan. Karena kami, bercerita soal politik Kota Padang dan Sumbar. Kalau sudah bercerita soal politik, habis hari saya. Sakit bisul pun tak terasa. 

Di warung, tempat Haji Edmon dan kawan-kawannya nongkrong itu, saya dapat tertawa ngakak, tak merasakan sakit bisul itu lagi. Alhamdulillah.

Kalau tidak ada telpon dari rumah bahwa mande saya datang ke rumah, bisa tak mengenal waktu bercerita soal politik itu.

Apalagi yang kami bahas adalah calon gubernur di tengah wabah Covid-19. Bagaimana sikap mereka menghadapi wabah itu.

Yang menarik adalah kesaksian Editiawarman, tokoh masyarakat di Perumnas Indarung. Dia mengaku pialang politik. Siapa caleg pada pemilu yang lalu masuk komplek, dia janang yang melayani.

Awalnya dia bertanya soal video yang beredar di sosial media. Di video itu, Buya Mahyeldi berjanji akan menjabat sampai 2024 sebagai Wali Kota Padang. Dia meminta komentar saya soal video itu.

Saya tegaskan kepadanya, pada Pilkada Kota Padang yang lalu, saya tidak mendukung Mahyeldi, tapi Emzalmi. Video itu merupakan potongan video debat kandidat di Inna Muara.

Waktu itu, posisi Mahyeldi adalah calon Wali Kota Padang yang didesak menjawab pertanyaan, apakah jika dia terpilih sebagai Wali Kota, dia akan tetap menjabat sebagai sampai akhir masa jabatan.

Waktu itu, Mahyeldi menjawab dengan tegas, dia akan tetap berada di Kota Padang sampai 2024. Saya katakan ke Pak Editiawarman yang akrab disapa Om Tia itu, video itu adalah rekaman ketika debat kandidat, bukan di bawah sumpah sebagai Wali Kota. Dan secara politik, itu sah-sah saja.

Saat ini, kata saya ke Om Tia, PKS hanya menjagokan Reza Pahlevi dan Mahyeldi. Dari dua nama itu, kita harus akui, pelung terbesar berada di pihak Mahyeldi. Jika PKS ingin memenangi Pilgub, ya harus mencalonkan Mahyeldi.

Ibarat kata, jelas saya, Mahyeldi sudah sampai di Solok, calon lain baru mau isi bensin di SPBU Indarung. Alias tertinggal jauh dari Mahyeldi.

Om Tia mengakui pendapat saya itu. Ia pun menyebut satu persatu prestasi Mahyeldi selama memimpin Kota Padang. Memberantas Payung Ceper sampai ke penataan kota, sehingga indah dipandang mata.

Saat sedang asyik berdiskusi di warung kecil itu, masuk WA dari si neng. "Etek di rumah, mambaok an ubek untuk uda. Capek lah, jaan baabih hari carito di kadai," isi WA si neng. Padahal, telp dari rumah memberi tahu mande saya sudah di rumah, saya abaikan.

Saya pun minta pamit ke Om Tia dan Haji Edmon serta se isi kadai. "Maaf, saya harus pulang, mande saya ke rumah. Sudah lama dia menunggu saya. Bawa obat untuk penyakit saya."

Peserta diskusi di lapau itu pun mengizinkan saya pulang. Haji Edmon mengantar saya sampai ke mobil. Di dalam mobil si neng sudah menunggu. "Lamo bana uda ko, etek lah lamo manunggu," keluh si neng.

Saya pun menstater mobil, dan melarikannya dengan kecepatan cukup tinggi agar segera sampai di rumah. Benar saja, mande dan adik sepupu saya sudah menunggu di rumah.

Dia bawa obat bisul, yang dia cari sendiri. Untuk mendapatkan lumut basah, kata mande saya bercerita, dia dan adik sepupu saya harus menelusuri kali. Rupanya, lumut basah ini sulit pula sekarang tumbuh di tepi-tepi kali.

Mande saya mengajarkan ke si neng cara meracik obat bisul tersebut plus cara pemakaiannya. Melihat bahan yang dibawa mande saya, saya sempat pesimis. Gak mungkin lah mujarab.

Tapi dugaan saya salah. Obat itu dioleskan si neng sore, dan malamnya, induk bisul itu pun pecah. Rasa sakit yang saya derita karena bisul itu pun hilang, saya bisa duduk normal kembali. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Betul kata orang tua-tua dulu, "Obat mande itu mujarab. Karena dia mencarinya dengan hati yang gelisah karena sakit yang diderita anaknya."

Maka teringatlah saya kepada mande kanduang saya almarhum, yang ketika saya sakit semasa bujang dulu, dia merawat saya dengan sabar. Apa pun obat dia carikan.

Mande kandung saya sudah lama wafat, dia bersaudara perempuan lima orang. One dan empat saudara perempuanya yang lain sudah sudah wafat, tingga si bungsu, si neng memanggilnya Etek Juli. Itu lah mande kami sekarang. Semua kami, dia perlakukan sama, baik anaknya maupun anak dari saudara perempuannya yang lain. Tak ada dia bedakan.

Mamak saya pernah berpesan kepada saya, "Mande kalian tingga surang lai, jaan sampai kalian buek aia mato e kalua." 

Pesan itu kami jaga terus, tapi ketika ada diantara kami yang sakit, tetap saja air matanya keluar. Ya, kami memang sering menyusahkan dia, ketimbang menyenangkan. 

Tak hanya saya, adik sepupu saya yang bekerja di Jakarta juga sering membuat air matanya keluar, karena ketika sakit selalu dimintakan obat ke mande kami itu. Dikirimnya lah obat itu ke Jakarta, tak lama setelah itu, sembuh pula adik sepupu saya itu.

"Obat mande memang mujarab, mungkin karena dia mencari dan meramunya dengan hati plus doa."

Padang, 31 Maret 2020 dini hari.
BY

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *