Advertorial

Daerah

Calon Kepala Daerah di Sumbar Sebaiknya Dites Baca Quran, Khatib dan Imam Salat
Senin, Januari 20, 2020

On Senin, Januari 20, 2020

Calon Kepala Daerah di Sumbar Sebaiknya Dites Baca Quran, Khatib dan Imam Salat
MENJADI pemimpin di Samatera Barat tidaklah mudah. Pasalnya, baik secara adat budaya maupun geografis, daerah yang dihuni etnis Minangkabau ini memiliki karakter tersendiri.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020, banyak yang berminat menjadi Kepala Daerah di Sumbar, baik itu untuk poisisi Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Bupati dan Wakil Buputi.

Beberapa nama kandidat sudah mengapung untuk bertarung di pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Provinsi Sumatra Barat, pemilihan Bupati-Wakil Bupati Solok Dharmasraya, Solok Selatan, Pasaman Barat, Pasaman,  Pesisir Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, dan Lima Puluh Kota. Selain itu, mereka juga akan bertarung di Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solok, dan Bukittinggi.

Lantas kenapa muncul ide agar calon Kepala Daerah itu dites baca Al Quran, Khatib, dan Imam Salat? Apakah tidak melanggar konstitusi?

Ide itu muncul mengingat Sumatera Barat atau Minangkabau memiliki falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai." Artinya, calon pemimpin di Sumatera Barat harus memiliki kriteria yang mengacu kepada falsafah adat tersebut, karena Kepala Daerah di Minangkabau atau Suamatera Barat adalah pucuk undang.

Jika kita berpedoman kepada syarak, sebagaimana digariskan oleh pakar siyasah Islamiyah, maka tugas pokok pemimpin dalam Islam adalah "Iqamatuddin dan Siyasatu ad-Dunya bi ad-Dien".

Menurut Ibnu Tamiyah, iqamatuddin, yaitu menegakkan syari’at-syari’at Islam sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Seperti: mengihlaskan semua aktifitas ketaatan untuk Allah SWT, menghidupkan berbagai sunnah, dan mengikis kebid’ahan. Sehingga manusia menaati Allah dengan sempurna.

Sedangkan Siyasatu ad-Dunya bi ad-Dien dimaksudkan sebagai mengatur tata pemerintahan atau sistem perpolitikan atau sistem bernegara dengan aturan Islam.

Imam al Mawardi dalam kitab al Ahkam al Sulthaniyah menjabarkan 10 tugas pemimpin. Salah satunya memelihara agama sesuai dengan prinsip prinsip yang kokoh dalam artian benar benar terwujud kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat. Agama bukan dijadikan sarana untuk melakukan rekayasa, manipulasi dan intimidasi. Bukan pula agama dijadikan sebagai legitimasi kekuasaan yang hanya untuk kepentingan sesaat (pragmatis).

Bukankah Indonesia bukan negara Islam? Apakah tidak bertentangan dengan konstitusi? Persoalan ini selalu menjadi perdebatan di Indonesia. Namun, yang pasti Indonesia merupakan anggota dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Bagi penulis, Indonesia adalah negara Islam yang memiliki sistem kekhalifahan yang mengakui kemajemukan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, etnis Minangkabau memiliki hak untuk menerapkan ciri khas daerah mereka sepanjang tidak bertentangan dengan konstitusi. Apalagi, jaminan kekhasan itu diatur pula dalam konstitusi.

Pasal 18B ayat (2) menegaskan, "Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang."

Apatah lagi, Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 dan diundangkan di Jakarta pad 29 Mei 2017 dalam lembaran negara tahun 2017 nomor 104.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada waktu itu, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa kebudayaan tidak hanya pada tarian atau tradisi saja, tetapi juga nilai karakter luhur yang diwariskan turun-temurun hingga membentuk karakter bangsa.

Maka tidak salah rasanya dan mengacu kepada kontitusi yang berdasarkan karakteristik adat dan budaya Minangkanau yang berfalsafahkan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah"itu, calon Kepala Daerah di Sumatera Barat atau Minangkabau harus pandai baca tulis al Quran, pandai dan mampu menjadi imam salat, pandai dan mampu menjadi Khatib Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha.

Tes baca tulis al Quran, Imam Salat dan Khatib bagi calon Kepala Daerah di Sumatera Barat merupakan salah satu bentuk penghormatan bagi kearifan lokal bagi orang Minangkabau sebagaimana dijamin oleh konstitusi.

Jangan hanya pasangan calon pengantin saja yang dites baca tulis al Quran dan kemampuan salatnya, tapi calon pemimpin di daerah ini yang akan memimpin rakyat Sumatera Barat juga harus dites kemampuan baca tulis al Quran, kemampuan dia menjadi Imam Salat dan Khatib.

Maka, sudah saatnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat dan kabupaten/kota merumuskannya dalam bentuk peraturan KPU yang disusun bersama-sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Ormas Islam dan lembaga ada, seperti LKAAM dan KAN.

Wallahu'alam bishawab.

Ditulis oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Curah Hujan Tinggi, Jangan Jadi Pelakor
Rabu, Desember 25, 2019

On Rabu, Desember 25, 2019

Curah Hujan Tinggi, Jangan Jadi Pelakor
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitas curah hujan di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan hingga Maret 2020.

Curah hujan tersebut masih berpotensi hingga sampai akhir tahun 2019.

Bahkan hingga Januari curah hujan mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam satu bulan, artinya curah hujan masih tinggi.

Peningkatan intensitas curah hujan tersebut tentu menimbulkan resiko terjadinya ancaman bencana alam. Misalnya saja longsir dan banjir.

Semalam saja misalnya, hujan yang turun di Kota Padang menyebabkan genangan yang cukup tinggi di beberapa titik lokasi di daerah ini.

Di Bungus, pohon tumbang terjadi. Pohon tumbang pada Rabu, 25 Desember 2019 dinihari sekira pukul 05.00 Wib terjadi tepat di bawah mercusuar (Bukik Lampu), Bungus. 

Pohon tumbang menghalangi jalan penghubung Padang - Pesisir Selatan, sehingga mengakibatkan macet panjang.

Untuk itu, warga kota harus terus waspada akan potensi bencana hidrometeorologi yakni dengan cara menghindar apa bila terdapat tanda-tandanya

Longsor, banjir dan banjir bandang diperkirakan masih berpotensi terjadi, oleh karena itu perlu ditingkatkan kewaspadaan bagi masyarakat.

Jika terlihat hujan di atas gunung maka yang berada di bawah atau di pinggir sungai harus waspada dan menjauh dari sungai.

Jika terlihat air sungai tiba-tiba keruh maka segera menjauhi sungai karena biasanya air tersebut menghanyutkan kayu dan benda lainnya yang membahayakan.

Dan yang terpenting jangan jadi Pelakor alias Pelaku Lingkungan Kotor. Sebab, bencana datang akibat ulah tangan manusia. 

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” [asy Syuura/42 : 30].

Bencana yang terjadi pasti karena perbuatan tangan jahil manusia. Itu pasti.

“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.” [an Nisaa/4 : 79].

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [an Rum: 79].

Maka, segeralah bertobat, jangan lagi jadi Pelakor. Paliharalah lingkungan masing-masing. Mencintai dan merawat lingkungan merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah. 

Wallahu'alam.

Padang, 25 Desember 2019
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji

"Saya Khilaf"
Minggu, Desember 15, 2019

On Minggu, Desember 15, 2019

"Saya Khilaf"
KATA khilaf sering kita dengar disekitar kita. Kata khilaf merupakan kata sakti untuk berkelit dari kesalahan.

Sering kali seseorang mengaku khilaf saat berbuat salah. Sering kali pula kita mengatakan khilaf saat kita menyakiti orang lain atau berbuat yang kurang baik kepada saudara ataupun kepada orang-orang disekitar kita.

Padahal,  perbuatan yang dilakukan penuh dengan kesadaran dan berulang-ulang.  Perbuatan itu lahir dari pemikiran yang direncanakan.

Contohnya, seorang laki-laki bilang khilaf saat pacarnya ternyata hamil. Padahal,  dia sadar telah melakukan hubungan suami istri dengan pacarnya tersebut di luar ikatan pernikahan.

Bahkan, setelah mengetahui pacarnya hamil,  dengan sadar pula dia memaksa pacarnya untuk menggugurkan kandungan.

Padahal, hubungan suami istri yang mereka lakukan adalah jenis kegiatan yang melibatkan alam sadar sepenuhnya, bukan tindakan impulsif seperti saat kita membantah tuduhan yang tidak kita lakukan.

Kalau yang seperti ini masih berani dikategorikan sebagai khilaf, lambat laun definisi khilaf akan absurd dengan sendirinya. Tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan merupakan dosa besar bagi orang mukmin, bahkan pelakunya dicap munafik.

Kalau demikian,  apa arti khilaf itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khilaf diartikan sebagai keliru atau salah yang tidak disengaja. Maka, kekhilafan berarti kekeliruan atau kesalahan yang tidak disengaja.

Artinya,  khilaf bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bahkan ada yang dilakukan berulang-ulang.

Sebalikntya, jika perbuatan itu melalui proses pemikiran, apalagi direncanakan sebelumnya,  bahkan dilakukan secara berulang-ulang,  sudah dipastikan perbuatan itu bukan khilaf lagi,  tapi sengaja dengan sadar dilakukan.

Maka perkataan, "Saya khilaf," hanya menjadi pembenaran terhadap perbuatan yang salah atau keliru. Sebab,  dia dengan sadar melakukannya secara berulang-ulang dengan perencanaan sebelumnya.

Masih berani bilang khilaf?

Dalam suatu riwayat,  Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara, ia berbohong. Jika berjanji, ia ingkar. Jika diberi amanat, ia berkhianat.”

Ditulis Oleh: Zamri Yahya
Anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji.

Sulit Mengingat Prestasi Mahyeldi Selama Memimpin Kota Padang
Minggu, Desember 08, 2019

On Minggu, Desember 08, 2019

Sulit Mengingat Prestasi Mahyeldi Selama Memimpin Kota Padang
KEBERHASILAN seorang kepala daerah dalam memimpin daerahnya selalu diukur dengan penghargaan yang dia raih selama menjanat kepala daerah.

Penghargaan tersebut tentu berbanding lurus dengan kinerja berujung prestasi yang diraihnya dalam pelaksanaan program pembangunan di daerah tetsebut.

Banyak faktor penilaian yang diberikan oleh tim penilai, sebelum menjatuhkan pilihan seorang pejabat atau kepala daerah berhak mendapat piagam penghargaan.

Penilaian yang ketat pun diterapkan dengan membentuk tim penilai untuk memantau dan melihat ke lapangan apa yang akan dinilai tersebut.

Barulah,  setelah melewati berbagai proses,  pilihan dijatuhkan kepada pejabat atau kepala daerah itu atau kepada orang yang berhak mendapat penghargaan terbaik di bidang yang dinilai itu.

Sosok yang kita bicarakan ini adalah seorang Wali Kota Padang,  yaitu Buya Mahyeldi Ansharullah,  SP.  Seorang sosok pemimpin yang dicintai warganya.

Sosok pemimpin yang dikenal luas dekat dengan warganya.  Bagi warga kota,  Buya Mahyeldi adalah sosok pemimpin yang dekat dan melayani.

Bahkan tak sekedar pemimpin atau umara, bagi warga kota yang merasakan dakwahnya, disandangkanlah sosok ulama dipundaknya.  Umara dan Ulama,  dua predikat itu disandangkan kepada Mahyeldi.

Lantas,  apa prestasi Mahyeldi selama menjabat Wali Kota Padang?  Sesuai judil artikel ini,  maka sulit untuk mengingat prestasi Mahyeldi selaku Wali Kota,  karena begitu banyaknya penghargaan yang diraih oleh politisi PKS ini.

Baik itu penghargaan atas prestasinya membangun Kota Padang yang diberikan pemerintah pusat atau lembaga negara maupun penghargaan yang diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat atau swasta.

Banyak piagam penghargaan yang diraih,  jika disebut satu persatu di luar kepala,  maka sulit untuk mengingatnya karena jumlahnya ratusan.  Mungkin,  Mahyeldi sendiri tidak hafal di luar kepala nama penghargaan itu, di bidang apa penghargaan itu diberikan, siapa saja lembaga yang memberikan penghargaan kepadanya selaku Wali Kota dan penghargaan yang diberikan atas nama Pemerintah Kota Padang.

Terlepas dari seabrek piagam penghargaan itu,  yang jelas kenyataannya selama menjadi Wali Kota Padang,  Mahyeldi memang melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Jika Anda sudah lama tidak berkunjung ke Kota Padang,  maka cobalah lihat kota ini sekarang.  Mengalami perubahan di luar perkiraan Anda sepuluh tahun silam.

Kota ini tertata dengan apik.  Taman-taman kota dibenahi.  Trotoar jalan diperindah, ada bangku untuk bersantai bagi warga kota di sepanjang jalan pusat kota. Bahkan sudah mulai merambah ke pinggir kota.

Itu baru satu contoh kecil perubahan yang dilakukan.  Masih banyak yang lain,  jika mau dikupas satu persatu.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya,  SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Rakyat Galau,  Wakil Rakyat Doyan Kunker
Rabu, Desember 04, 2019

On Rabu, Desember 04, 2019

Rakyat Galau,  Wakil Rakyat Doyan Kunker
KETIKA kampanye,  para calon wakil rakyat berusaha mendapatkan hati rakyat.  Berbagai jurus dilancarkan agar rakyat mau memilih mereka.

Namun,  setelah rakyat memilih mereka dan amanah itu mereka dapatkan,  rakyat justru banyak yang kecewa.

Rakyat kecewa,  setelah dilantik sebagai wakil rakyat,  mereka tidak sesuai harapan.

Rakyat mengharapkan,  setelah mereka dilantik dan mulai bekerja,  yang mereka urus betul-betul kepentingan rakyat yang mereka wakili.

Tapi kenyataannya,  wakil rakyat atau anggota dewan malah disibukkan dengan kunjungan kerja dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah atau Perda.

Padahal,  Presiden Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forkopimda se Indonesia beberapa waktu lalu meminta anggota dewan dan pejabat daerah jangan terlalu sering melakukan kunjungan kerja.

Akhirnya,  karena harapan tak sesuai kenyataan,  rakyat pun galau dan antipati terhadap wakil rakyat.  Bahkan, tak sedikit yang menyatakan penilaian yang kurang baik yang kadang menjurus kepada sumpah serapah.

Hal ini dapat kita lihat dari postingan rakyat di media sosial terkait kinerja wakil rakyat. 

Maka, sudah sepatutnya wakil rakyat untuk menyikapi imbauan Presiden Joko Widodo.  Kurangi kunker,  fokus mengurus rakyat di daerah masing-masing,  sehingga rakyat mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan.

Anggaran yang dianggarkan sampai miliaran rupiah untuk kunker tersebut,  dapat dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat. Seperti untuk membangun sekolah, jalan,  drainase,  jembatan,  bantuan untuk orang miskin,  dan lain sebagainya.

Sesuai imbauan Presiden Joko Widodo,  daerah jangan terlalu banyak bikin aturan,  apakah itu Perda atau Pergub,  Perwako dan Perbub yang justru membuat rakyat susah karena dibebani terlalu banyak peraturan.

Jika pembuatan Perda dikurangi,  maka alasan wakil rakyat untuk melakukan kunker ke luar daerah akan berkurang.  Paling banter mereka akan memanfaatkan perjalanan perseorangan atau perjalanan pimpinan.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya
Anggota Biasa PWI Sumbar dan Wartawan Utama di Media Online BentengSumbar. com

Berawal dari Acara Alumni,  Kegadisan Ku Direnggut, Hutang Dia Tinggalkan di Pundak Ku
Selasa, Desember 03, 2019

On Selasa, Desember 03, 2019

Berawal dari Acara Alumni,  Kegadisan Ku Direnggut, Hutang Dia Tinggalkan di Pundak Ku
SEBUT saja nama saya Lani,  waktu itu saya masih gadis perawan,  sebelum saya mengenal Bram pada acara reuni sekolahan di tahun 2016.

Diacara alumnian itu,  Bram berpidato selaku ketua alumni sekolah.  Namun karena pidatonya tidak jelas maksudnya,  saya pun tidak respek dengan dia.

Namun, pengurus alumni yang lain meminta kami untuk meng-add akun facebook para senior,  maka terpaksa saya meng-add akun facebook Bram.

Dari sanalah petaka itu dimulai,  hubungan terlarang dua orang anak cucu Adam. Bram pun melancarkan jurus mautnya.

Mengeluarkan jurus rayuannya melalui chating di facebook.  Ia bercerita hal-hal buruk soal istrinya.  Soal rumah tangganya yang tidak harmonis, bahkan ia berniat akan menceraikan istrinya.

Bram mengaku kepada saya sebagai pengusaha sukses.  Namun, rumah tangganya tidak bahagia,  tidak sebanding dengan kesuksesannya sebagai pengusaha.

Bram pun mengungkapkan keinginannya untuk mengenal saya lebih dekat.  Karena waktu itu saya baru putus dengan pacar,  kondisi sedang galau,  akhirnya saya pun terayu.

Sejak itulah kami sering bertemu.  Kami jalan bersama,  keluar bersama,  tanpa sepengetahuan istri Bram.

Karena sering bertemu dan jalan bersama,  tumbuhlah rasa saling suka di antara kami.  Sampai akhirnya Bram mengajak saya melakukan hubungan di luar nikah.

Kami pun menginap di sebuah hotel.  Kami melakukan hubungan suami istri di luar ikatan suci pernikahan. Bram berhasil merenggut kegadisan ku.

Hubungan itu berkali-kali kami lakukan. Sampai akhirnya saya hamil.  Saya pun cemas, saya pun meminta Bram menikahi saya.

Tapi,  jangankan menikahi saya,  Bram malah memaksa saya menggugurkan janin dalam kandungan saya,  buah cinta Bram dengan saya.

Bram memaksa saya minum obat untuk menggugurkan kandungan saya.  Berkali-kali dia memaksa saya meminum obat itu, tapi janin yang berumur 1,5 bulan itu tidak juga mau keluar.

Akhirnya Bram membawa saya ke sebuah klinik.  Namun,  karena klinik mensyaratkan harus ada surat nikah,  Bram pun membuat surat nikah palsu untuk memuluskan niatnya.

Janin dalam kandungan saya dikorek.  Darah berbungkah keluar dari rahim saya. Saya menangis,  meratapi nasib janin yang tidak dikehendaki Bram itu.

Setelah kejadian itu,  Bram tetap mengajak saya jalan dan melakukan hubungan terlarang itu. Bahkan sampai empat tahun lamanya,  kami melakukannya.

(Bersambung)

Nasrul Abit, Si Bujang Selamat... ....
Senin, Desember 02, 2019

On Senin, Desember 02, 2019

Nasrul Abit, Si Bujang Selamat... ....
SOSOK Nasrul Abit tidaklah asing bagi masyarakat Sumatera Barat. Mantan Bupati Pesisir Selatan 2 periode ini merupakan Wakil Gubernur Sumatera Barat yang selalu setia mendampingi Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno.

Boleh dikata, sejak mulai mendampingi Gubernur Irwan Prayitno sampai saat ini, tidak pernah terdengar keretakan diantara mereka sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Harmonis selalu, seiya sekata dalam membangun Sumatera Barat.

Penulis mengenal langsung sosok ini pada saat mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur, mendampingi Irwan Prayitno sebagai calon Gubernur di Pilkada Sumbar 2015. Waktu itu, pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit diusung PKS dan Gerindra. 

Sebelumnya, penulis tidak mengenal langsung Nasrul Abit ini. Hanya mengetahui dari berita yang ada di media massa, baik cetak harian maupun mingguan. Sesekali di televisi.

Berbicara langsung dengan Nasrul Abit, untuk pertama kalinya ketika penulis menjadi Redaktur Investigasi di SKM Garda Minang. Waktu itu, Pemimpin Redaksi SKM Garda Minang, Sidi Aidul Gaspur Tanjung meminta penulis mengkonfirmasi soal pemberitaan pupuk bersubsidi kepada Bupati Pessel, Nasrul Abit. Karena jarak Pessel-Padang cukup jauh, konfirmasi penulis lakukan via telepon selular. 

Tapi ada kesan tersendiri, walau konfirmasi hanya lewat telepon selular. Kesan yang penulis dapat adalah ternyata Nasrul Abit sebagai seorang Bupati Pessel waktu itu, sangat mudah dihubungi via telepon selular. Bahkan tersambung langsung tanpa melalui ajudan. 

Itu dulu, waktu jadi Bupati Pessel. Setelah menjadi Wakil Gubernur, penulis tidak pernah lagi berkomunikasi via telepon selular dengan Nasrul Abit. Bertemu beberapa kali pernah, di Jakarta, tepatnya di toilet Bandara Halim Perdana Kusuma pernah saling tegur. Kebetulan kami usai turun dari pesawat sama-sama kebelet.  

Pernah ketemu langsung pada acara Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kuranji. Nasrul Abit sebagai pembuka acara mewakili Gubernur Irwan, penulis menyambut sebagai pengurus FKAN. Nasrul Abit beryanyi di acara FKAN, penulis mengiringinya berjoget ria. Ya, itu doang. 

Dari cerita teman-teman jurnalis, Nasrul Abit ini merupakan sosok Bujang Selamat. Karir politiknya tidak pernah kandas sekali pun. Maju sebagai calon Wakil Bupati Pessel, terpilih. Maju sebagai calon Bupati Pessel, terpilih juga. Malah dipercaya 2 kali periode. Maju sebagai calon Wakil Gubernur Sumbar, terpilih juga. 

Kenapa Nasrul Abit penulis sebut si Bujang Selamat? Cerita Bujang Selamat dalam tradisi Melayu adalah anak kampung yang selalu diganggu oleh orang-orang jahat. Pada suatu hari, telah diumumkan bahwa satu pertandingan silat akan diadakan di kampung itu. 

Bujang mendaftarkan dirinya untuk bertanding tetapi dia dijahili oleh orang-orang di kampung itu. Bujang merasa kecil hati kerena selalu dihina, lalu dia pergi berjumpa seorang guru silat. Pada mulanya guru silat itu tidak mau menerima Bujang tetapi setelah dipujuk, guru silat itu mulai mengajari Bujang cara-cara belajar silat yang begitu luarbiasa.

Kisah Nasrul Abit di dunia politik, mirip-miriplah dengan kisah Bujang Selamat ini. Walau banyak rintangan yang dihadapi, namun dengan keyakinan diri yang kuat, Nasrul Abit mampu melewatinya.

Nah, apakah di Pilgub 2020, keberuntungan itu masih bersama Nasrul Abit dengan terpilih sebagai Gubernur Sumbar? Wallahu'alam


Nasrul Abit, Si Bujang Selamat... ....
Penulis: Zamri Yahya, S. H. I.
Anggota PWI Sumatera Barat, Wartawan Utama di Media Online BentengSumbar.com dan Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Mahyeldi Menuju Kursi Gubernur Sumbar, Pai Kalam Pulang Kalam
Minggu, Desember 01, 2019

On Minggu, Desember 01, 2019

Mahyeldi Menuju Kursi Gubernur Sumbar, Pai Kalam Pulang Kalam
PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) mempersiapkan dua orang kader tangguhnya untuk berlaga di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat, yaitu Mahyeldi Ansharullah yang saat ini menjabat Wali Kota Padang dan Reza Pahlevi, Wali Kota Payakumbuh.

Namun pada kesempatan ini, penulis hanya akan membahas sosok Mahyeldi Ansharullah. Bukan karena ada apa-apanya, tapi bagi penulis sosok Reza Pahlevi kurang familiar. Sebab, penulis tidak pernah mengenal dia secara pribadi, dan tidak pula bersinggungan dengannya saat menjadi pejabat, baik itu anggota DPR/DPD RI maupun saat ini memangku jabatan Wali Kota Payakumbuh 2 periode.

Mahyeldi Ansharullah disebut-sebut calon kuat Gubernur Sumatera Barat yang bakal menggantikan Irwan Prayitno. Dari segi popularitas, Mahyeldi bahkan meninggalkan kandidat lain yang digadang-gadang bakal maju di Pilgub Sumbar, apatah lagi popularitas Reza Pahlevi, tentu jauh di bawah Mahyeldi.

Kenapa Mahyeldi begitu popular? Tentu saja karena dia Wali Kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat. Keberhasilannya membenahi Kota Padang merupakan modal dasar bagi Mahyeldi. Ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang dia raih.

Disamping kekuatan Humas Setdako Padang yang senantiasa mengemas berita kegiatan Mahyeldi dengan semenarik mungkin dan dimuat oleh seluruh media, baik itu cetak harian, cetak mingguan, televisi, radio, dan media online. Bahkan kemampuan Humas Setdako Padang menjalin kerjasama dengan berbagai media dengan anggaran minimalis, layak diacungkan jempol.

Tapi penulis melihat kekuatan lain Mahyeldi dalam menghadapi pesaingnya di Pilgub Sumbar. Ya, kemampuan Mahyeldi dalam berdakwah terbukti mumpuni meraih simpati rakyat, apatah lagi masyarakat Sumatera Barat dikenal sebagai masyarakat yang agamis, yang taat terhadap ajaran agama Islam yang dianutnya.

Di sinilah kekuatan Mahyeldi sebagai aktivis dakwah kelihatan. Dia mampu memaksimalkan potensi itu, mungkin dengan penuh keikhlasan dalam berdakwah berujung simpati masyarakat. 

Jika pada periode pertama menjabat Wali Kota Padang, Mahyeldi lebih banyak melakukan blusukan ala Jokowi. Namun, pada periode kedua ini intensitas blusukan tersebut sedikit berkurang. Yang kelihatan adalah intensitas dia melakukan dakwah dari kampung ke kampung, dari nagari ke nagari, dari daerah lain ke daerah lain, bahkan ke luar Sumatera Barat. 

Bahkan, ada yang menyebut intensitas Mahyeldi melakukan dakwah tersebut dengan istilah "Pai Kalam Pulang Kalam". Entah apa maksudnya, tetapi yang jelas intensitas dakwah itu memang sangat meningkat dari biasanya. 

"Pai Kalam Pulang Kalam" tersebut mungkin agak sulit diterjemahkan. Namun, bisa diartikan dengan bebas, Mahyeldi sebagai sosok pemimpin yang mampu melakukan gerakan bawah tanah yang sulit terbaca oleh lawan-lawan politiknya yang bakal bersaing di Pilgub Sumbar. 

Atau bisa juga diartikan "Pai Kalam Pulang Kalam" itu sebagai berangkat malam, pulangnya subuh, berangkat saat matahari terbenam, kembali ke Kota Padang tempat dia bertugas sebagai Wali Kota disaat matahari belum muncul dan menyinari bumi. Banyak tafsiran untuk istilah "Pai Kalam Pulang Kalam" tersebut. Wallahu'alam.

Tapi yang jelas, di sini penulis ingin menekankan, kekuatan Mahyeldi terletak pada kemampuan dia berdakwah di tengah-tengah masyarakat Sumatera Barat. Kemampuan yang mengundang simpati, atau mungkin kecintaan pada sosoknya sebagai pemimpin yang menyandang stastus "Ulama wa Umara".

Beda dengan kandidat lainnya yang mengandalkan kekuatan baliho yang terpampang tak hanya di pusat kota, tapi di seluruh titik nagari dan kampung yang ada di Sumatera Barat. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.


Ditulis Oleh: Zamri Yahya, S.H.I
Anggota PWI Sumatera Barat dan Wartawan Utama di Media Online BentengSumbar.com

Ingin Rezeki Mengalir, Beri Ketenangan Kepada Istrimu
Sabtu, November 23, 2019

On Sabtu, November 23, 2019

Ingin Rezeki Mengalir, Beri Ketenangan Kepada Istrimu
TERKADANG kita melupakan hal-hal kecil dalam membangun rumah tangga. Padahal, hal-hal kecil itu justru berdampak besar dalam kehidupan kita. 

Ketika kita memenuhi undangan pesta perkawinan, salah satu doa yang kita sampaikan kepada pasangan pengantin adalah, "Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah."

Ungkapan yang memiliki makna yang sangat dalam. Doa dari setiap orang yang datang pada pesta pernikahan.

Sakinah memiliki arti memberikan ketenangan, mawaddah berarti cinta dan kesetiaan, sedangkan rahmah adalah kasih sayang Allah kepada kedua mempelai. 

Sakinah hanya dimiliki suami, untuk itu seorang suami harus mampu memberikan ketenangan pada istri dan anak-anaknya. 

Sedangkan mawaddah hanya dimiliki oleh seorang istri, bukan suami.

Jika ada suami yang mencari ketenangan pada istri, itu salah besar. Sebab ketenangan itu milik dia, bukan istri. Dia yang seharusnya memberikan ketenangan kepada istri dan anak-anaknya. 

Kalau ada seorang suami yang mengatakan kata cinta dan kesetiaan kepada istri, berarti istri telah dibohongi orang yang terdekat dengannya, sebab mawaddah atau cinta dan kesetian itu hanya milik istri.

Jika sakinah telah dimiliki seorang suami, maka mawaddah akan diberikan istri kepadanya. Saat sakinah dan mawaddah itu muncul dalam sebuah rumah tangga, maka rahmah atau kasih sayang Allah SWT akan muncul di tengah-tengah keluarga tersebut. Apa yang mereka minta akan diberikan Allah SWT, sebab kasih sayang Allah SWT telah tercurah kepada keluarga tersebut.

Contohlah Imam Ali yang mampu memberikan ketenangan yang sempurna kepada istrinya, Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah SAW dan kepada Hasan dan Husein, cucu Rasulullah SAW. Contoh keluarga yang ideal, yang patut kita teladani. 

Imam Ali memberikan sakinah, sedangkan Fatimah Az Zahra memberikan mawaddah. Rahmah Allah SWT selalu turun di tengah-tengah keluarga penghuni surga ini.

Jika rahmah atau kasih sayang Allah SWT telah turun, maka rezeki pun akan mengalir kepadamu. Apa yang kamu minta, akan diberikan Allah SWT. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang, Sumatera Barat.

Jangan Ragukan Keadilan Tuhan
Kamis, November 21, 2019

On Kamis, November 21, 2019

Jangan Ragukan Keadilan Tuhan
TERKADANG kita sering meragukan keadilan Tuhan. Terutama disaat kita sedang galau karena menghadapi kesusahan dalam hidup. 

Kita sering bertanya di dalam hati, "Apakah Tuhan adil kepada saya?"

Pertanyaan itu muncul ketika kita membandingkan nasib kita dengan orang lain. 

"Kenapa orang lain beruntung, saya tidak? Kenapa orang lain diberi rezeki yang banyak, bahkan harta yang mengejar mereka, saya tidak? Padahal saya juga bekerja keras siang dan malam, banting tulang."

Pertannyaan-pertanyaan semacam itu sering muncul dibenak kita, seakan kita meragukan keadilan Tuhan.

Padahal, Tuhan sebagai pencipta manusia tentu Maha Mengetahui apa yang terbaik buat manusia itu. 

Tuhan disebut dalam Alquran dengan sebutan Al-Ahkam atau Al-Hakim yang artinya Hakim Yang Paling Adil (QS.95,8).

Tuhan juga tidak pernah membebankan suatu taklif yang tidak sesuai dengan kemampuan manusia (ahliah). 

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya," demikian bunyi firman Tuhan dalam Al Quran surah 2 ayat 286.

Keadilan Tuhan teramat luas, banyak yang tak terkira oleh manusia. 

Ada suatu hal yang dipandang buruk oleh manusia, tetapi justru di dalamnya tersimpan keadilan. 

Sebaliknya, ada pula sesuatu hal yang dipandang baik dan adil oleh manusia, tetapi justru di dalamnya terdapat ketidakadilan.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," kutipan firman Tuhan dalam surah 2 ayat 216.

Dalam hidup ini, manusia terbaik adalah manusia yang lulus ujian. 

Manusia tidak bisa lepas dari ujian dalam kehidupannya sehari-hari. 

Setiap diri pasti mengalami ujian, ringan maupun berat. Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, ujian yang Allah berikan pasti semakin berat.

Semakin lemah keimanan seseorang, ujian pun semakin ringan, maka tak heran jika para anbiya adalah mereka yang paling berat ujiannya.

Ujian tidak hanya dialamatkan kepada individu, tetapi juga kepada keluarga, masyarakat, golongan, bahkan kepada umat. 

Namun sayang, tak sedikit orang yang gagal dalam menghadapi "hujan" ujian yang datang bertubi-tubi.

Bermacam- macam bentuk ujian yang Tuhan berikan, bisa berupa dipecat dari pekerjaan, anak meninggal, sakit yang berkepanjangan, dan lain-lain.

Bahkan, ujian kadang datang pada kesempatan yang genting, seperti saat dipecat dari pekerjaan bersamaan mendadak anak sakit keras dan harus segera dirawat di rumah sakit.

Akibat ujiann dalam menempuh hidup ini, tidak sedikit pula manusia yang mengalami krisis kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan. 

Mereka menggangap semua ujian itu wujud dari ketidakadilan Tuhan terhadap diri mereka.

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman, dan mereka tidak diuji'," demikian bunyi firman Tuhan dalam surah 29 ayat 2. 

Ujian bagi orang yang beriman sudah dikemas "satu paket". 

Namun, Tuhan juga menegaskan, dibalik kesulitan dalam menjalani hidup ini, pasti ada kemudahan.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," firman Tuhan dalam surah 94 ayat 5-6.

Firman Tuhan ini menjadi motivasi bagi kita agar selalu meyakini bahwa kesulitan atau ujian hidup dan bentuknya selalu dibarengi dan diakhiri dengan kemudahan dan keindahan. 

Tuhan tidak menyia-nyiakan kesabaran hambanya dalam menerima ujian. Sekecil apa pun ujian tersebut, Tuhan pasti membalasnya dengan kebaikan.

Kata pepatah, "Ombak yang besar akan melahirkan nakhoda yang cakap." 

Makna ujian hidup menjadikan kita lebih bijak dan tegar, menjadikan kita lebih memahami arti sebuah kehidupan, dan semakin mendekatkan kita kepada Tuhan. 

Dengan ujian, kita semakin paham betapa di balik ujian itu bertabur hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya
Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang

Rakyat Sudah Susah, Anggota Dewan Jangan Lagi Kebanyakan Kunker!
Sabtu, November 16, 2019

On Sabtu, November 16, 2019

Rakyat Sudah Susah, Anggota Dewan Jangan Lagi Kebanyakan Kunker!
SALAH satu agenda rutin anggota dewan adalah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke luar daerah. Kunker tersebut dilaksanakan dalam rangka membahas rancangan peraturan daerah (Ranperda).

Namun, banyak pihak menilai kunker tersebut tidak efektif. Kunker dianggap hanya menghambur-hamburkan uang rakyat, tanpa hasil yang nyata untuk kesejahteraan rakyat.

Ratusan juta uang rakyat digunakan untuk satu kali kunjungan panitia khusus (Pansus) atau komisi terkait yang membahas Ranperda di lembaga DPRD.

Selain kunker, anggota dewan juga melakukan perjalanan perorangan atau pimpinan. Jika dihitung, untuk beberapa kali perjalanan kunker, misalnya tiga kali dalam sebulan, maka bisa menghabiskan miliaran anggaran. 

Alangkah baiknya, jika anggaran sebanyak itu digunakan untuk kebutuhan pembangunan yang langsung menyentuh hajat kepentingan rakyat. Misalnya, merehabilitasi sekolah yang tidak layak, atau menambal jalan yang berlobang atau memperbaiki irigasi untuk sawah para petani.

Apatah lagi, ratusan juta bahkan miliaran angggaran untuk kunker itu dibawa ke luar daerah atau daerah tujuan kunker. Karena tentu saja, uang itu dipakai atau dibelanjakan di daerah tujuan kunker. Paling banter, uang itu dibelanjakan di daerah sendiri hanya sisa-sisa uang saku pejabat atau anggota dewan yang tidak habis mereka gunakan di daerah tujuan. 

Maka sangat bijak rasanya, imbauan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar para pejabat daerah, termasuk di dalamnya anggota dewan, untuk tidak sering-sering kunker atau studi banding.

Imbauan itu disampaikan Presiden Jokowi dalam rapat koordinasi nasional Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Sentul Interrnational Convention Center (SICC), Bogor, Rabu, 13 November 2019. 

"Saya tahu buat perda pasti ada kunker, ada studi banding, saya ngerti. Saya ngerti tapi setop! Dan di kunker ada apanya saya ngerti dan di studi banding ada apanya saya ngerti. Saya orang lapangan, saya ngerti, setop!" imbuh Jokowi dalam rakornas tersebut.

Awalnya Jokowi meminta para kepala daerah dan ketua DPRD se-Indonesia tidak banyak membuat aturan yang mempersulit fleksibilitas birokrasi. Sebab, Jokowi ingin pemerintah daerah (pemda) bekerja dengan cepat, tak terhambat banyaknya aturan.

"Saya sudah pesan ke ketua pimpinan DPR, saya pesan ke ketua DPRD. Jangan banyak-banyak membuat perda (peraturan daerah). Jangan membuat banyak-banyak pergub (peraturan gubernur), perbup (peraturan bupati), perwali (peraturan wali kota). Negara ini sudah kebanyakan peraturan dan negara kita bukan negara peraturan," kata Jokowi.

Sekarang, tentu terpulang ke hati nurani kepala daerah dan anggota dewan. Apakah betul-betul memiliki hati nurani memikirkan kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat, atau malah sebaliknya memikirkan kesejahteraan mereka dengan banyak-banyak melakukan kunker dan studi banding.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq, semoga kita diberi petunjuk oleh Allah ke jalan yang lurus. Amin.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Buya Mahyeldi, Calon Kuat Gubernur Sumbar
Minggu, Juni 23, 2019

On Minggu, Juni 23, 2019

Buya Mahyeldi, Calon Kuat Gubernur Sumbar
PIMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) Serentak sudah diambang mata. Pada Pilkada Serentak 2020, ada 270 daerah yang akan mengikuti Pilkada Serentak ini. 

Dari sembilan provinsi yang bakal menggelar pemilihan gubernur pada Pilkada Serentak 2020, salah satunya adalah Provinsi Sumatera Barat. Sejumlah nama sudah mulai digadang-gadang akan maju di Pilgub Sumbar tersebut. 

Sebut saja nama Irjen Pol Fakhrizal yang saat ini masih menjabat Kapolda Sumbar. Nama putra Agama ini di beberapa polling media oline bertengger di posisi teratas. Dia dikabarkan bakal maju melalui jalur independen.

Berdasarkan polling tersebut, nama Buya Mahyeldi masih bertengger di posisi kedua setelah Fakhrizal. Wali Kota Padang ini disebut-sebut memiliki peluang besar maju di Pilgub Sumbar dari Partai Keadilan Sejahtera. 

Bahkan, banyak pihak yang memprediksi, Buya Mahyeldi merupakan calon kuat Gubernur Sumbar pengganti Irwan Prayitno dari partai dakwah tersebut. 

Tingkat kepopuleran Buya Mahyeldi jauh meninggalkan beberapa nama yang mengapung diinternal PKS, seperti Tifatul Sembiring, Hermanto, dan Riza Falepi.

Sosok Buya Mahyeldi yang agamis dan penuh inovatif, sudah tertanam kuat di segenap warga Kota Padang. Bahkan, sosoknya dikenal luas di Sumatera Barat dan Indonesia, karena dalam beberapa kesempatan memiliki keberanian melakukan 'kritik' terhadap beberapa kebijakan pemerintah pusat. 

Di Kota Padang, Buya Mahyeldi dikenal sebagai Wali Kota yang berhasil membangun kota ini dengan sederet penghargaan dan prestasi. Penghargaan yang diraih, tentu saja menunjukkan keberhasilan dalam membenahi Kota Padang, baik dari segi fisik maupun non fisik, terlepas dari beberapa kritik yang dilayangkan sebagian pihak. 

Keberhasilan yang mencolok adalah pembenahan objek wisata di Ranah Bingkuang, terutama Pantai Padang. Buya Mahyeldi juga dianggap berhasil menjadikan Kota Padang lebih religi dari segi kehidupan keagamaan. 

Sehingga diyakini, jika PKS memberikan tugas dan mandat kepada Buya Mahyeldi maju di Pilgub Sumatera Barat, maka tidak terlalu sulit menjual sosok Buya Mahyeldi ke tengah-tengah masyarakat. Maka, tak salah anggapan jika Buya Mahyeldi adalah calon kuat pengganti Irwan Prayitno sebagai Gubernur Sumbar.

Disamping nama Irjen Pol Fakhrizal dan Buya Mahyeldi, nama Nasrul Abit, Ketua DPW Partai Gerindra juga disebut-sebut calon kuat. Apatah lagi, pada Piemilu 17 April 2019 lalu, Partai Gerindra berhasil keluar sebagai pemenang di Sumatera Barat. 

Posisi Nasrul Abit sebagai petahana dimana saat ini ia menjabat Wakil Gubernur Sumatera Barat juga tak dapat disepelekan. Maka, tak salah kiranya, kader Gerindra menjagokan Nasrul Abit sebagai calon kuat, disamping nama Andre Rosiade.

Beberapa nama lainnya yang disebut-sebut bakal maju di Pilgub Sumbar adalah Mulyadi, anggota DPR RI dari Partai Demokrat dan Ketua DPW Partai Demokrat. Ada juga nama Emma Yohana, anggota DPD RI yang kembali terpilih pada Pemilu 17 April 2019.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq
Semoga kita mendapat petunjuk ke jalan yang lurus

Padang, 23 Juni 2019
BY

Abang Pilih Jokowi atau Prabowo?
Kamis, April 11, 2019

On Kamis, April 11, 2019

Abang Pilih Jokowi atau Prabowo?
Ujang: Bang, siapa pilihan abang di Pilpres, Jokowi?

BY: Gak ah. Kalau ane pilih Jokowi, kampret bakalan marah, dan teman-teman ane banyak dari golongan kampret.

Ujang: Alhamdulillah, akhirnya abang sadar dan menjatuhkan pilihan ke Prabowo.

BY: Hmmmm.... Senang ya kalau ane pilih Prabowo. Kalau ane pilih Jokowi, pasti ente marah ke ane. Menjaga jarak dari ane. Tapi ane juga gak pilih Prabowo. Sebab, kalau ane pilih Prabowo, cebong bakal marah dan teman ane banyak dari golongan mereka.

Ujang: Abang golput?

BY: Gak juga. Sebagai warga negara yang baik, haram bagi ane golput. Ane akan gunakan hak pilih ane untuk kemajuan bangsa ini.

Ujang: Jokowi gak, Prabowo gak? Lantas siapa abang pilih? Abang coblos keduanya?

BY: Kalau ane coblos keduanya, suara ane hangus donk. Membuang suara cuma-cuma itu kan perilaku mubazir. Ingat hadis Rasulullah:

 إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Ujang: Bingung ane, maksud abang gimana?

BY: Ane pilih ulama. Ulama yang paham kitab, bukan ulama karbitan, yang jadi ulama karena politik doank.

Ujang: Ingat ijmak ulama donk bang?

BY: Karena Ane ikut hasil ijmak yang pertama yang merekomendasikan ulama sebagai pendamping capres, makanya pada 17 April ane mau coblos cawapres yang berasal dari kalangan ulama. Ulama benaran lagi. Yang ilmunya diakui tak hanya di Indonesia, tapi dunia. Tak ada yang meragukan keilmuannya.

Udah ah, daripada ujang bingung, monggo, minum teh Pauh dulu. 

Padang, 11 April 2019
BY

Kenapa di Kota Ku Banyak LGBT?
Minggu, November 11, 2018

On Minggu, November 11, 2018

Kenapa di Kota Ku Banyak LGBT?
AKHIR-akhir ini, kota ku lagi ramai membicarakan soal lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT. Satuan Polisi Pamong Praja di kota ku juga sukses menangkap puluhan remaja yang berperilaku menyimpang ini di tempat kos-kosannya.

Bagi warga kota ini, perilaku LGBT adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Tak hanya dilarang agama, perilaku LGBT juga bertentangan dengan adat di kota ku yang menganut falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah".

Warga kota ku dikenal sangat relegius, masjid dan surau sangat ramai jamaah, terutama sejak digulirkan program subuh mubarakkah. Apatah lagi kota ku dipimpin seorang Buya yang hafidz al Quran. Program keagamaan, terutama mendorong generasi muda untuk hafal al Quran sangat menggema di media massa.

Makanya, aku heran, kenapa LGBT itu sampai meruyak di kota ku. Mestinya, semakin relegius warga kota, maka perilaku menyimpang, tak hanya LGBT, tapi tingkat kenakalan dan kriminalitas mestinya menurun. 

Bahkan survei yang diungkap Wakil Gubernur Nasrul Abit, LGBT terbanyak di Indonesia itu di Sumatera Barat. Dari 19 kabupaten/kota, maka yang terbanyak di Kota Padang. 

Nasrul Abit memang telah menyatakan perang terhadap LGBT. Ia pun tak bosan-bosannya mengajak semua pihak, apakah itu Ninik Mamak, Alim Ulama, Bundo Kandung, Tokoh Muda, dan lain sebagainya secara bersama-sama memerangi LGBT. 

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat terus menggaungkan perlawanan terhadap perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar penelitian komprehensif untuk mengetahui secara rinci penyebab penyimpangan seksual dan karakteristik pelaku LGBT.

Dikutip dari Republika.co.id, Senin, 23 April 2018, penelitian ini menggandeng Perhimpunan Konselor VCT HIV sebagai pihak yang memahami kondisi di lapangan. Sejumlah temuan pun diungkapkan dalam rapat koordinasi yang dilakukan Senin, 23 April 2018 di Istana Gubernur. Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia Wilayah Sumatra Barat Katherina Welong mengungkapkan penelitian diambil di 4 titik di Sumbar. Yakni Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Solok, dan Kabupaten Solok.

Responden penelitian ini berjumlah 147 orang yang memang diambil dari kelompok berisiko dan memang seluruhnya berperilaku LGBT. Penelitian yang berlangsung sejak Februari-April 2018 ini menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini bukan mewakili kondisi aktual di lapangan, namun memberikan gambaran mengenai perilaku LGBT yang ada.

Katherina lantas membacakan hasil penilitiannya. Pertama tentang estimasi jumlah pelaku LGBT di Sumatra Barat. Riset ini menyebutkan, diperkirakan terdapat 14.469 orang pelaku hubungan Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) atau gay di Sumbar.

Sementara itu, riset juga mengungkap terdapat kurang lebih 2.501 orang waria di Sumatra Barat. Dari angka tersebut, waria di Sumbar bisa menggaet 9.024 orang pelanggan, yang tentunya berjenis kelamin laki-laki. Kalau digabungkan semuanya bisa total 20 ribu pelaku LSL di Sumbar, estimasi di Sumbar.

Salah satu peneliti, Akfikri, kemudian melanjutkan pembacaan hasil riset. Dilihat dari distribusi usia, pelaku LGBT paling banyak di Sumbar berusia 15-25 tahun, porsinya bahkan 75 persen dari 147 responden yang diteliti. Soal pendapatan, pendapatan tertinggi yang diperoleh responden berkisar antara Rp 1-3 juta per bulan.

Riset juga menunjukkan, separuh responden pernah merantau ke luar Sumbar, sementara separuh lagi belum pernah merantau alias menetap di Sumbar. Dari 147 responden, hanya 15 orang yang mengaku pernah mengonsumsi narkoba. Kemudian bila dari agama responden, yang diyakini menggambarkan kondisi secara umum kasus LGBT di Sumbar, sebanyak 95,9 persen pelaku beragama Islam.

Fakta angka selanjutnya, 43 persen pelaku LGBT masih tinggal dengan orang tuanya. Di peringkat kedua, pelaku LGBT mengaku tinggal di indekos. Dari riset ini juga terungkap bahwa 51,7 persen responden mengaku menyesali penyimpangan seksual yang dialami, sementara 46,9 persen tidak menyesal. Mayoritas pelaku LGBT juga memilih berkelompok dalam melakukan sosialisasi antarpelaku LGBT.

Kondisinya berbeda dengan beberapa tahun lalu. Kalau dulu tinggal datang ke pantai padang dan pub-pub tertentu. Sekarang tidak. Mereka lebih berkelompok dan lebih silent. Kalau dulu, program HIV/AIDS disalurkan melalui komunitas ini. Saat ini sebaliknya, mereka takut diketahui statusnya.

Riset ini juga mencoba menggali sebaran profesi pelaku LGBT. Sebanyak 26,3 persen dari responden bekerja sebagai wiraswasta, 3,8 persen sebagai PNS, 16,9 persen sebagai karyawan BUMN dan swasta,dam 18,1 persen mahasiswa dari berbagai kampus dan jurusan, termasuk jurusan yang berkaitan dengan agama.

Sementara aktivitas seksual, paling banyak dilakukan di indekos yakni 51,8 persen responden, 20,1 persen dilakukan di hotel, dan 15,6 persen dilakukan di rumah orang tua.

Lantas bagaimana perilaku LGBT bisa muncul pertama kali? Sebanyak 14 persen responden mengaku memiliki riwayat disakiti dan dikecewakan oleh lawan jenis. Sementara 13,8 persen pelaku mengaku terpengaruh lingkungan komunitas LGBT, 12,9 persen dirayu oleh pelaku LGBT, dan 8,2 persen pernah disodomi waktu kecil.

Artinya menjaga anak laki-laki sekarang sama sulitnya dengan menjaga anak perempuan. Ada juga 5,5 persen responden yang mengaku dididik tidak sesuai dengan gender, misalnya memberi boneka pada laki-laku.

Dalam bergaul, sebanyak 58,7 persen responden mendapat pasangannya dari media sosial dan 21,7 persen menemukan pasangan dari komunitas. Bila dirinci lagi, Facebook merupakan media sosial paling banyak digunakan bagi pelaku LGBT untuk 'bergaul' yang sebesar 41,8 persen.

Menyusul Whatsapp 18,9 persen, Twitter 6,6 persen, Wechat 18,9 persen, dan media sosial lainnya 13,8 persen. "Harus ada antisipasi terkait hal ini karena menyangkut pengawasan orang tua," katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan bahwa kunci dari perlawanan terhadap perilaku LGBT adalah pendidikan di lingkungan keluarga yang mencukupi. Apalagi kasus LGBT di Sumbar justru terjadi di daerah yang kental dengan budaya dan agama Islam, dan keras menolak perilaku LGBT.

Kalau dilihat, persoalan pertama yang harus dibenahi adalah masalah keluarga. Intinya adalah soal pembinaan, pendidikan di rumah.Peran keluarga terbesar sebagai sumber utama kemunculan perilaku LGBT ini.

Irwan sendiri berancana menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang secara khusus bisa mendorong para orang tua untuk meningkatkan pendidikan agama di lingkungan rumah, dan memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak-anaknya. Irwan juga meminta keterlibatan alim ulama dalam menggencarkan pendidikan agama, termasuk juga guru untuk memastikan pergaulan anak didiknya di sekolah tetap terjaga.

Akankah perilaku LGBT ini dapat diberantas di kota ku? Wallahu'alam bishawab.

Padang, 11 November 2018
BY

Memodifikasi Widget Featured Post Bawaan Blogger Menjadi Keren
Senin, Oktober 29, 2018

On Senin, Oktober 29, 2018

Memodifikasi Widget Featured Post Bawaan Blogger Menjadi Keren
BENTENGSUMBAR. COM - Sejak Blogger meluncurkan fitur baru berupa Featured Post, banyak modifikasi yang dilakukan oleh para tutor di berbagai blog yang khusus membahas dunia blogging. Tujuanmya, agar fitur ini menambah kecantikan blog.

Fitur ini sendiri termasuk fitur yang bagus dan bermanfaat, agar pengunjung bisa melihat posting unggulan sebuah blog, atau tulisan yang ingin dibuka pembaca.

Masalahnya, tampilan Featured Post bawaan blogger ini menyesuaikan dengan CSS atau desain template yang ada. Jika kebetulan pas, cocok, dan bagus, maka bagus pula tampilan Featured Post ini.

Jika tidak pas, dan kebanyakan memang tidak pas, sehingga jadinya kurang bagus, maka perlu dilakukan memodifikasi setelah memasang widget Featured Post bawaan blogger itu.

Berikut adalah salah satu cara memodifikasinya dan bisa Anda pasang di template blog Anda:

<b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>
<style>
.FeaturedPost .post-summary {width:100%;background:#fff;position:relative;padding:0px 20px 60px 0px;min-height:200px;max-height:330px;margin:0;border-bottom:20px solid #fff;}
.FeaturedPost .post-summary h3{font:normal bold 20px Georgia,Utopia,&#39;Palatino Linotype&#39;,Palatino,serif;position:absolute;bottom:0;z-index:1;font-size:25px;text-align: center;margin:0px 50px 0px 30px;padding:10px;text-shadow: 1px 1px 0 #000;line-height: normal;background: #fff;box-shadow: 0 0 1em #000;-webkit-border-radius:10px;-moz-border-radius:10px;}
.FeaturedPost .post-summary h3:after{content:&quot;&quot;;position:absolute;top:-0.25em;right:100%;bottom:-0.25em;width:0.25em;}
.FeaturedPost .post-summary h3 a{color:#1b3682;padding:2px 8px;-webkit-box-decoration-break:clone;-o-box-decoration-break:clone;box-decoration-break:clone;padding: 20px 15px;}
.FeaturedPost .post-summary h3 a:hover{color:#fed019;}
.FeaturedPost .post-summary p{position:absolute;background:#ffffff;color:#5a5a5a;padding:3px 8px;bottom:15px;margin:0 15px;overflow:hidden;text-overflow:ellipsis;white-space:nowrap;width:90%;-webkit-box-sizing:border-box;-moz-box-sizing:border-box;box-sizing:border-box;display:none}
.FeaturedPost .image{display:block;}
.FeaturedPost h2.title {display:none}
@media only screen and (max-width:480px){
.FeaturedPost .post-summary h3{font-size:16px;bottom:0;margin:0px 30px 0px 10px;padding-bottom:20px;padding-right:20px;}
.FeaturedPost .post-summary p{margin:0 10px;}
}
</style>
</b:if> 

Caranya pemasangan:

1. Pasang dulu Widget Featured Post Bawaan Blogger: Layour > Add a Gadget > pilih Featured Post
2. Template > Edit HTML dan letakan kode di atas </head>. 

Penampakan dari modifikasi ini, bisa Anda lihat di sini

Demikian modifikasi Featured Post Bawaan Blogger kali ini, jika bermanfaat, silahkan bagikan.

(by)