Headline

Opini

SOROT

Sports

Dunia

Terawangannya Kerap Akurat, Remaja India Ini Bawa Kabar ‘Bahagia’ Soal Kapan Covid-19 Berakhir
Kamis, Juli 08, 2021

On Kamis, Juli 08, 2021

Terawangannya Kerap Akurat, Remaja India Ini Bawa Kabar ‘Bahagia’ Soal Kapan Covid-19 Berakhir
BENTENGSUMBAR.COM - Covid-19 sudah setahun lebih melanda Indonesia maupun masyarakat di belahan dunia lainnya.


Bahkan di Tanah Air, kasus Covid-19 belakangan ini justru semakin melonjak dan merenggut cukup banyak nyawa.


Namun, terbaru, seorang remaja asal India membagikan kabar bahagia mengenai terawangannya soal kapan Covid-19 akan berakhir alias lenyap dari muka bumi.


Remaja India indigo itu bernama Abhigya Anand yang disebut-sebut mampu menerawang kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.


Menurut prediksi Abhigya Anand, Covid-19 akan mereda pada bulan Mei 2022 mendatang, sebagaimana ia sampaikan dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Conscience, dilansir terkini.id dari poskota.co.id pada Rabu, 7 Juli 2021.


Sebelumnya, disebut beberapa tahun lalu, Abhigya pernah mengatakan perihal dunia akan menghadapi penyakit yang meluas dan krisis global.


Bahkan ia memaparkan bahwa dunia akan dihadapkan pada krisis yang parah hingga perang dalam periode waktu dari November 2019 hingga April 2020.


Meskipun Abhigya tidak secara langsung mengacu pada virus, tetapi ia mengatakan bahwa Tiongkok akan memiliki peran di baliknya.


Nah, jika disimak baik-baik, maka ramalan Abhigya Anand mengarah pada kasus pandemi Covid-19 yang sedang dialami oleh penduduk dunia saat ini.


Sejalan dengan terawangan Abhigya Anand, peramal Denny Darko rupanya juga sempat menerawang kondisi pandemi Covid-19 yang akan mereda di Indonesia.


Menurutnya, Indonesia akan menciptakan herd immunity atau kekebalan komunitas beberapa waktu mendatang.


Source: terkini.id

Iran Mulai Produksi Logam Uranium yang Bisa untuk Senjata Nuklir, Negara Barat Ketar-Ketir
Rabu, Juli 07, 2021

On Rabu, Juli 07, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengungkapkan pada Selasa, 6 Juli 2021, bahwa Iran telah memulai proses produksi logam uranium. Langkah ini dapat mendukung pengembangan senjata nuklir, sehingga 3 kekuatan Eropa mendesak perundingan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015.

Dilansir dari Reuters, Teheran berdalih tujuannya untuk mengembangkan bahan bakar untuk reaktor riset. Meski begitu, tindakan ini menuai kritik dari Amerika Serikat (AS) yang menyebutnya sebagai langkah mundur yang disayangkan.

Otoritas AS dan Eropa menegaskan kalau keputusan Iran akan memperumit perundingan tak langsung  AS-Iran yang berusaha membawa kedua negara untuk mematuhi kembali kesepakatan tahun 2015. Kesepakatan ini membatasi program nuklir Iran dan mempersulit Teheran mengembangkan bahan fisil untuk senjata nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Namun, mantan Presiden Donald Trump menarik AS mundur dari kesepakatan ini, sehingga Iran mulai melanggar banyak pembatasan. Teheran telah menghasilkan sejumlah kecil logam uranium yang tidak diperkaya tahun ini. Tindakan ini melanggar kesepakatan yang melarang seluruh proyek logam uranium lantaran dapat digunakan untuk membuat inti bom nuklir.

"Hari ini, Iran memberi tahu IAEA bahwa UO2 (uranium oksida) yang diperkaya hingga 20 persen U-235 akan dikirim ke laboratorium riset dan pengembangan (R&D) di Pabrik Pembuatan Bahan Bakar di Esfahan. Di sana, materi tersebut akan diubah menjadi UF4 (uranium tetrafluorida), kemudian ke logam uranium diperkaya hingga 20 persen U-235, sebelum digunakan untuk memproduksi bahan bakar," bunyi pernyataan IAEA.

Menurut laporan rahasia IAEA yang dilihat REUTERS, pengawas atom PBB tersebut telah mengonfirmasi kalau Iran sudah memulai proses produksi logam uranium yang diperkaya.

Inggris, Prancis, dan Jerman pun pada Selasa, 6 Juli 2021, mengaku sangat prihatin terhadap keputusan Iran yang melanggar kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

"Iran tak punya kebutuhan sipil yang kredibel untuk R&D dan untuk produksi logam uranium yang jadi langkah kunci dalam pengembangan senjata nuklir. Dengan demikian, Iran mengancam kesuksesan hasil perundingan Wina yang kemajuannya dicapai melalui 6 putaran negosiasi," kritik mereka.

Iran pun didesak untuk kembali berunding di ibu kota Austria. Perundingan itu dimulai pada bulan April dan ditunda pada 20 Juni. Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran berikutnya.

Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, Washington memang tidak menetapkan tenggat waktu untuk perundingan tersebut.

"Seiring berjalannya waktu, kemajuan nuklir Iran akan mempengaruhi pandangan kami untuk kembali ke JCPOA," ungkapnya.

Price mengaku kalau AS khawatir Iran terus melanggar perjanjian, terutama soal eksperimen yang bernilai untuk penelitian senjata nuklir.

Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk IAEA menyoroti kalau tak hanya Iran yang melanggar kesepakatan 2015. Keputusan pemerintahan Joe Biden untuk mempertahankan sanksi Iran yang dijatuhkan kembali oleh Trump juga melanggar perjanjian tersebut.

"Satu-satunya jalan keluar dari lingkaran setan ini adalah dengan dimulainya kembali perundingan Wina tanpa ditunda-tunda dan pemulihan total JCPOA," usulnya melalui Twitter.

(*)

Dubes Arab Saudi Siap akan Resmikan Mushola Journalist Boarding School
Kamis, Juli 01, 2021

On Kamis, Juli 01, 2021

Dubes Arab Saudi Siap akan Resmikan Mushola Journalist Boarding School
BENTENGSUMBAR.COM - Duta Besar Kerajaan Arab Saudi  untuk Indonesia Esam A Abid Althagafi siap untuk mengunjungi Journalist Boarding School (JBS) di Cilegon, Banten. 


Kesiapan itu disampaikan Esam dalam bincang dengan para pengurus dan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang digelar Rabu, 30 Juni 2021.


Dalam  kegiatan yang digelar secara virtual ini,  banyak hal yang dibahas, bahkan Ketua Umum SMSI Firdaus mengundang Duta Besar Arab Saudi untuk mengunjungi JBS, sekalian  

meresmikan mushola yang saat ini pembangunannya sedang berjalan di di lingkan JBS.


"Kita memiliki JBS atau Pusdiklat SMSI yang letaknya di Kota Cilegon, Banten, ini merupakan pertama di Indonesia bahkan di Asia dan merupakan pusat pelatihan yang nantinya akan melahirkan generasi jurnalis yang profesional," jelas Firdaus.


Menanggapi hal tersebut,  Dubes Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia 

Esam A Abid Essam bin Abid Altagafi mengatakan  bahwa dirinya siap menghadiri acara peresmian mushola di JBS tersebut.


"Insya allah kami hadir, sampaikan undangan jauh - jauh hari agar nanti bisa mengatur jadwalnya," ucap Essam.


Perlu diketahui JBSmerupakan lembaga pendidikan "Jurnalistik Plus” pertama di Indonesia, bahkan di Asia karena juga mengajarkan siswanya untuk bisa membaca dan menghafal Al-Qur’an.


Di JBS peserta  didik disediakan penginapan di bangunan berlantai dua dengan luas 300 meter persegi. Dengan begitu setiap peserta dapat diasuh dan diawasi secara langsung oleh para mentor handal.


“Journalist Boarding School” yang dilaunching pada akhir April 2019 lalu ini  siap menampung 30 peserta setiap tahun. Setiap peserta akan mengikuti pendidikan selama satu tahun, dengan peningkatan materi secara berjenjang.


Sekolah jurnalistik itu dibangun, bukan semata berorientasi bisnis, tetapi lebih kepada ihktiar bersama dalam rangka mempersiapkan wartawan profetik yang kian diperlukan kehadirannya di era konvergensi media saat ini. 


Laporan: Akbar

COVID-19 Gelombang Kedua! WHO Temukan Virus COVID-19 Varian Terbaru, Lambda
Selasa, Juni 29, 2021

On Selasa, Juni 29, 2021

COVID-19 Gelombang Kedua! WHO Temukan Virus COVID-19 Varian Terbaru, Lambda
BENTENGSUMBAR.COM -  WHO temukan virus COVID-19 varian baru bernama Lambda. Virus COVID-19 Lambda ditemukan Juni 2021 di Amerika Selatan.


Varian ini jenis variant of interest (VOI). Menurut data Public Health England (PHE), Inggris telah menemukan 6 kasus virus corona varian Lambda pada 25 Juni 2021.


Keenam kasus virus corona varian Lambda ini diperkirakan terkait dengan perjalanan ke luar negeri.


Kini, PHE telah menetapkan virus corona varian Lambda (C.37) sebagai varian dalam penyelidikan (VUI) untuk mengidentifikasi tingkat bahaya dan penularannya.


Sebelumnya, virus corona varian Lambda ini telah terdeteksi di Amerika Serikat, termasuk Chili, Perut, Ekuador dan Argentina.


Para ahli berpikir bahwa varian Lambda ini memiliki banyak mutasi pada protein lonjakan.


Mutasi ini bisa berdampak pada transmisibilitas varian. Tapi dilansir dari Express, penyelidikan lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mutasi tersebut.


PHE melakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui lebih banyak tentang virus corona varian Lambda tersebut. Bahkan, mereka juga akan melakukan pelacakan kontak tambahan demi menjaga kesehatan masyarakat.


"PHE sedang melakukan pengujian laboratorium untuk lebih memahami dampak mutasi pada perilaku virus corona varian baru ini," kata PHE dinukil dari Himedik.com.


PHE mengatakan hasil pengujian yang sedang berlangsung sekarang ini belum ada bukti varian Lambda bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah dan membuat vaksin Covid-19 kurang efektif.


Tapi, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai, antara lain suhu tinggi, batuk terus-menerus, hilangnya indra penciuman dan rasa.


Menurut PHE, orang yang terinfeksi virus corona varian Lambda setidaknya mengalami satu gejala tersebut.


Saat ini, sudah ada 4 varian virus corona yang telah menjadi perhatian dan dipantau oleh WHO. Varian virus corona yang masuk daftar pantauan WHO, termasuk varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Inggris.


Ada pula varian virus corona yang menjadi perhatian adalah varian Beta yang terdeteksi di Afrika Selatan, varian Gamma yang pertama kali terdeteksi di Brasil dan varian Delta yang terdeteksi di India.


Source: Suara.com

Ogah Bertemu Biden, Presiden Baru Iran Tolak Rundingkan Rudal
Rabu, Juni 23, 2021

On Rabu, Juni 23, 2021

Ogah Bertemu Biden, Presiden Baru Iran Tolak Rundingkan Rudal
BENTENGSUMBAR.COM -  Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi, menunjukkan posisi garis keras dengan menolak untuk merundingkan program rudal balistik maupun dukungan Iran untuk milisi regional. 


Raisi juga secara tegas menolak untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.


Seperti dilansir Arab News dan Associated Press, Selasa, 22 Juni 2021, Raisi dalam konferensi pers pertama sejak memenangkan pemilu Iran pekan lalu, menjanjikan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran demi mengamankan pelonggaran sanksi-sanksi AS yang menghancurkan perekonomian Iran.


Namun dia mengesampingkan adanya pembatasan apapun terhadap kemampuan rudal Iran dan dukungan Iran untuk milisi regional -- di antara masalah lain yang dipandang oleh AS sebagai kekurangan dari kesepakatan nuklir yang ingin dibahas pemerintahan Biden.


"Itu tidak bisa dinegosiasikan," tegas Raisi merujuk pada program rudal balistik Iran.


Dia menambahkan bahwa AS 'wajib mencabut semua sanksi-sanksi yang menindas terhadap Iran'.


Lebih lanjut, Raisi menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Iran tidak akan terbatas pada kesepakatan nuklir. "Semua sanksi-sanksi AS harus dicabut dan diverifikasi oleh Teheran," tegas Raisi dalam pernyataannya.


Sebelumnya, negara-negara Teluk menyatakan akan berbahaya untuk memisahkan pakta nuklir dari program rudal Iran dan perilaku 'mendestabilisasi' Iran di kawasan Timur Tengah.


Irans new President-elect Ebrahim Raisi speaks during his press conference in Tehran, Iran, Monday, June 21, 2021. Raisi said Monday he wouldnt meet with President Joe Biden nor negotiate over Tehrans ballistic missile program and its support of regional militias, sticking to a hard-line position following his landslide victory in last weeks election. 


Armada pesawat tempur Iran sebagian besar berasal dari sebelum Revolusi Islam tahun 1979, yang memaksa Iran untuk berinvestasi dalam rudal sebagai pelindung melawan negara-negara tetangga di kawasan Arab yang diketahui memiliki perlengkapan militer buatan AS senilai miliaran dolar selama bertahun-tahun.


Rudal-rudal milik Iran, dengan batas jangkauan hingga 2.000 kilometer, disebut bisa menjangkau kawasan Timur Tengah dan pangkalan militer AS di kawasan itu.


Iran juga diketahui mendukung kelompok-kelompok militan seperti pemberontak Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon untuk mendongkrak pengaruhnya dan melawan musuh-musuh regionalnya.


Saat ditanya lebih lanjut soal kemungkinan pertemuan dengan Biden, Raisi dengan singkat menjawab: "Tidak."


Pada Senin, 21 Juni 2021, waktu setempat, Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, menyatakan AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran atau 'rencana apapun untuk bertemu di level pemimpin, jadi tidak jelas apakah ada yang berubah soal itu'.


Psaki menambahkan bahwa Biden memandang 'pemimpin keputusan adalah pemimpin tertinggi' di Iran. "Itulah perkaranya sebelum pemilu; itulah perkaranya saat ini; itu akan menjadi perkaranya ke depan," sebutnya.


Diketahui bahwa perundingan tengah berlangsung di Wina, Austria, sejak April lalu, agar Iran dan AS bisa kembali pada kepatuhan yang menjadi komitmen kesepakatan nuklir tahun 2015. AS di bawah mantan Presiden Donald Trump meninggalkan kesepakatan itu dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi ke Iran. Iran kemudian melanggar batasan pengayaan uranium yang disepakati sebelumnya demi meminimalisir risiko pengembangan senjata nuklir.


Para pejabat Iran dan negara-negara Barat sama-sama menyebut Raisi tidak mungkin mengubah sikap negosiasi Iran dalam perundingan di Wina, karena Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang memiliki keputusan akhiri untuk semua kebijakan besar.


Sumber: detikcom

Bukan Warisan, Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu Sampai ke Pengadilan
Minggu, Juni 13, 2021

On Minggu, Juni 13, 2021

Bukan Warisan, Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu Sampai ke Pengadilan
BENTENGSUMBAR.COM - Kakak beradik ini tak seperti kebanyakan saudara sedarah lainnya yang terkadang berebut warisan. Kedua kakak beradik di Arab Saudi ini justru bertikai memperebutkan hak asuh ibu.


Sebagaimana dikutip dari The Reporter, dua orang bersaudara ini berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Di mana jika salah satu orang tuanya sudah renta, mereka bertikai memperebutkan harta warisan, baik itu warisan uang maupun tanah dan rumah.


Namun, kakak-adik ini malah sampai membawa kasus hak asuh ibu sampai ke pengadilan. Semua berawal ketika Hizan al-Fuhaidi selama ini telah merawat dan menjaga ibunya yang sudah renta. Seumur hidup ibunya, dia tinggal di rumah Hizan.


Ketika ibunya semakin tua, datang adiknya dari kota lain. Kedatangannya untuk membawa sang ibu dan tinggal bersamanya dengan alasan kota tempat tinggalnya punya banyak fasilitas yang lebih memadai.


Namun, Hizan menolak dengan alasan selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Sementara sang adik bersikeras ibunya akan lebih baik kalau dirawat olehnya.


Perseteruan ini tidak berhenti sampai di situ. Keduanya sepakat membawa kasus ini ke pengadilan.


Sidang pun dimulai, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di persidangan. Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya tidak sampai 40 kilogram.


Sang hakim pengadilan bertanya kepadanya, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab, sambil menunjuk ke Hizan, "Ini mata kananku" kemudian menunjuk ke adik Hizan sambil berkata, "Ini mata kiriku."


Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasar pertimbangan kemaslahatan bagi si ibu. Putusan ini membuat Hizan menangis. Dia kalah di pengadilan karena harus merelakan hak asuh ibunya jatuh ke sang adik.


Kisah rebutan hak asuh ini mendapat respons positif dari warganet setelah diunggah di media sosial, salah satunya @unikupdate.id di Instagram. Mereka banyak mengapresiasi kedua bersaudara tersebut dan pastinya membuat sang ibu bangga bukan main.


"Alangkah bahagia dan bangganya ibu itu memiliki anak-anak yang sangat berbakti dan mencintainya," ujar @natalinaprimawati.


"Ibu ladang pahala, don't waste your chance," timpal @bagasadiwijayanto.

"Berebut surga ya Allah," tambah @dian_stuty.


(*)

Dubes Saudi Tepis Isu RI Batalkan Haji karena Kegagalan Diplomasi
Kamis, Juni 10, 2021

On Kamis, Juni 10, 2021

Dubes Saudi Tepis Isu RI Batalkan Haji karena Kegagalan Diplomasi
BENTENGSUMBAR.COM - Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi mengunjungi kantor MUI. Essam mengklarifikasi sejumlah isu terkait pembatalan jemaah haji Indonesia.


Essam bersama rombongan mengunjungi kantor MUI Pusat, Selasa, 8 Juni 2021. Ini merupakan kunjungan pertama Essam ke MUI sejak pertama kali dilantik.


Essam menegaskan pembatalan haji tak terkait dengan hubungan Indonesia dan Saudi yang kurang baik. Sebab selama ini sejumlah kalangan menilai pembatalan haji karena masalah diplomasi.


"Masalah pembatalan keberangkatan jemaah haji Indonesia tidak ada kaitannya dengan hubungan baik yang sudah terjalin antara Saudi dan Indonesia. Tidak ada pula hubungannya dengan penggunaan merek vaksin tertentu dan produsen tertentu seperti yang selama ini berkembang di media," kata Essam seperti dalam keterangan tertulis di situs MUI, Rabu, 9 Juni 2021.


Tak Terkait Merek Vaksin


Selain itu, kata Essam, pembatalan haji juga tak terkait penggunaan merek vaksin tertentu.


"Saya juga tegaskan, bahwa ini tidak terkait dengan jenis vaksin dan negara produsen vaksin yang digunakan Arab Saudi, dan saya tegaskan, saya tegaskan kembali hingga saat ini belum ada pengumuman apapun terkait dengan penyelenggaraan haji," papar dia.


Belum Umumkan soal Penyelenggaraan Haji


Essam menjelaskan Saudi saat ini belum mengirimkan undangan haji ke negara lain termasuk Indonesia. Ini juga sekaligus membantah kabar bahwa Saudi melarang jemaah haji Indonesia.


"Beredar kabar bahwa Arab Saudi melarang jemaah haji Indonesia, kabar itu tidak benar. Saya tegaskan sampai hari ini, Arab Saudi belum mengumumkan bagaimana prosedur haji dan apapun terkait dengan penyelenggaraan haji tahun ini, termasuk belum ada satupun negara yang mendapat persentase kuota dan izin haji tahun ini," kata Essam.


Essam menghargai keputusan pemerintah Indonesia yang menangguhkan pemberangkatan jemaah haji. Menurut dia, langkah ini sebagai upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi keselamatan masyarakat dan jemaah haji.


Essam pun berdoa agar pandemi covid-19 segera berakhir. Dengan begitu, jemaah umrah dan haji dari seluruh negara bisa kembali mengunjungi tanah suci.


"Kita berdoa, pandemi covid-19 cepat berlalu, jemaah umrah dan haji bisa kembali seperti sedia kala," tutur dia. 


Source: detikcom

Asian Productivity Organization: Tokyo Statement on the Centrality of Productivity
Rabu, Juni 09, 2021

On Rabu, Juni 09, 2021

Asian Productivity Organization: Tokyo Statement on the Centrality of Productivity
BENTENGSUMBAR.COM - As the economic and humanitarian crises in the second year of the COVID-19 pandemic escalate to epic proportions and the world reels at the grim prospects of viral variants described as "far more deadly" by the WHO, the 21 countries that make up the Asian Productivity Organization (APO) offer a sliver of hope by declaring their resolve to continue the productivity movement, leveraging it to guide the region through new, harsh challenges in the years ahead.  

 

Survival is paramount. Enterprises and SMEs must be resilient and the workforce adaptable to new workstyles and new types of business. Productivity is the foundation of this survival, not only for becoming more competitive but also in the broader, philosophical sense of "making tomorrow better than today."  

 

Drawing upon its 60 years of engagement in Asia and the Pacific, the APO crystallizes the key lessons of its six decades of journey in a joint statement, "The Tokyo Statement on the Centrality of Productivity." Issued at the conclusion of its 63rd Governing Body Meeting on 9 June 2021, the statement serves as a beacon to traverse a turbulent future.

 

The statement outlines key priority targets of the APO for 2021–2025. Those targets support the APO Vision 2025 in striving for "inclusive, innovation-led productivity growth in Asia and the Pacific."  

 

The priority targets cover four broad areas. The first is leveraging new drivers of productivity. In today's extraordinary circumstances, productivity improvement efforts must yield extraordinary results. New drivers that include innovation, advanced technologies, and digitalization are expected to lead to exponential productivity gains. 

 

The second involves enhancing productivity tools, techniques, and methodologies. Upgrading and upskilling are imperative given ongoing rapid, dynamic changes. New business styles, new work styles, and new business platforms have become the norms. Productivity tools, techniques, and methodologies must therefore be continuously updated to support the latest trends.

 

Third is making productivity more inclusive. This means broadening the outreach and applications of productivity to embrace persons with different abilities, in addition to women, youth, and socially vulnerable groups.

 

The fourth priority is strengthening National Productivity Organizations as the premiere productivity-promoting institutions, equipping them to be policy partners for their governments.

 

The Tokyo Statement underlines a renewed commitment to the mutual cooperation that has been the hallmark of the APO. The full text is available at: www.apo-tokyo.org.


#AsianProductivityOrganization #APO


Source: Asian Productivity Organization (APO)

Dubes Saudi: Kami Sangat Menghargai Keputusan RI Tak Selenggarakan Haji
Jumat, Juni 04, 2021

On Jumat, Juni 04, 2021

Dubes Saudi: Kami Sangat Menghargai Keputusan RI Tak Selenggarakan Haji
BENTENGSUMBAR.COM - Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan memberangkatkan warga untuk Ibadah Haji 2021. Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid Altaghafi, menyebut pihaknya sangat menghargai keputusan itu.


"Ketika pemerintah Indonesia atau Menteri Agama Indonesia memutuskan untuk tidak menyelenggarakan haji, kami sangat menghargai keputusan Indonesia," ujar Esam saat ditemui di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Juni 2021.


Hanya, Esam berdoa supaya urusan ibadah haji bisa dipermudah. Dia berharap haji dapat berlangsung seperti sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia.


"Kami berharap Allah SWT agar segala urusan haji dan umroh dapat dipermudah. Terutama bagi jemaah Indonesia ke depan. Kami sangat berharap dapat menjalankan ibadah haji seperti tahun-tahun sebelumnya," terangnya.


Esam pun mengapresiasi antusiasme warga Indonesia yang ingin berangkat haji ke Arab Saudi. Menurutnya, setiap tahunnya Indonesia biasa mengirim jemaah sampai 200 ribu orang.


"Seperti yang anda ketahui Indonesia merupakan jemaah dengan jumlah terbanyak, lebih dari 200 ribu jemaah per tahun," kata Esam.


Meski demikian, Esam menjelaskan pihak Arab Saudi juga enggan gegabah. Jika terlalu memaksakan keberangkatan haji dari luar negeri, kata Esam, jemaah justru berpotensi membawa penyakit.


"Hingga saat ini otoritas Arab Saudi mengedepankan keselamatan jemaah. Jangan sampai karena menunaikan ibadah haji menjadi membawa penyakit dan kembali ke negaranya justru membawa penyakit," tutupnya.


Sebelumnya, pemerintah Indonesia mengumumkan nasib pemberangkatan Haji 2021. Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas memastikan Indonesia tidak memberangkatkan haji 2021.


"Pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan keputusan Menag RI Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H 2021 M," kata Menag Yaqut dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di akun Instagram Kementerian Agama, Kamis, 3 Juni 2021. 


(*)

PM Israel Benjamin Netanyahu Terancam Lengser Berkat Kecerdikan Politisi Partai Islam
Jumat, Juni 04, 2021

On Jumat, Juni 04, 2021

PM Israel Benjamin Netanyahu Terancam Lengser Berkat Kecerdikan Politisi Partai Islam
BENTENGSUMBAR.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu terancam dilengserkan dari jabatannya. Partainya, Likud memang menang Pemilu 2021, namun dia gagal membentuk koalisi pemerintahan.


Mayoritas parlemen Israel kini dikuasai kelompok Sayap Kanan Yahudi, Knesset. Koalisi tersebut dipimpin oleh eks Menhan, Naftali Bennet.


Peran politikus Muslim Israel, Mansour Abbas tak bisa dilepaskan dari penguasaan parlemen itu. Abbas memutuskan membawa partainya yang berlandaskan Islam, United Arab List, untuk bergabung dengan Bennet yang berhaluan kanan.


United Arab List adalah sebuah partai politik yang mewakili 21% minoritas Arab Israel


Abbas butuh waktu lama sebelum memutuskan bergabung dengan Bennet. Bennet dikenal sebagai tokoh anti-Palestina dan Arab dan memimpin pembangunan pemukiman Yahudi di Palestina.


Bennet bahkan berniat mencaplok seluruh wilayah Tepi Barat. Abbas akhirnya bersedia bergabung dengan koalisi Bennet agar warga Arab Israel tidak lagi mengalami diskriminasi di Israel. Dia juga ingin memperbaiki kehidupan Muslim Arab.


"Kami memutuskan bergabung bersama pemerintah agar ada keseimbangan kekuatan politik di negara ini," kata Abbas, dikutip dari Reuters.


Dalam perjanjian, Bennet setuju memberi dana Rp233 triliun kepada Abbas untuk membangun infrastruktur dan mengatasi kriminalitas di kota berpenduduk etnis Arab.


Perjanjian juga meliputi penghentian pembangunan rumah tanpa izin di daerah Arab dan mendukung kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam.


"Kami dapat mempengaruhi mereka untuk mencapai hal-hal luar biasa bagi kehidupan masyarakat Arab," kata Abbas.


Namun, Netanyahu diperkirakan akan melakukan segala manuver untuk melanggengkan kekuasaannya selama 12 tahun, termasuk membenturkan parpol yang tidak senang berkoalisi dengan partai Islam.


(*)