Headline

Opini

SOROT

Sports

Dunia

Ogah Bertemu Biden, Presiden Baru Iran Tolak Rundingkan Rudal
Rabu, Juni 23, 2021

On Rabu, Juni 23, 2021

Ogah Bertemu Biden, Presiden Baru Iran Tolak Rundingkan Rudal
BENTENGSUMBAR.COM -  Presiden terpilih Iran, Ebrahim Raisi, menunjukkan posisi garis keras dengan menolak untuk merundingkan program rudal balistik maupun dukungan Iran untuk milisi regional. 


Raisi juga secara tegas menolak untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.


Seperti dilansir Arab News dan Associated Press, Selasa, 22 Juni 2021, Raisi dalam konferensi pers pertama sejak memenangkan pemilu Iran pekan lalu, menjanjikan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran demi mengamankan pelonggaran sanksi-sanksi AS yang menghancurkan perekonomian Iran.


Namun dia mengesampingkan adanya pembatasan apapun terhadap kemampuan rudal Iran dan dukungan Iran untuk milisi regional -- di antara masalah lain yang dipandang oleh AS sebagai kekurangan dari kesepakatan nuklir yang ingin dibahas pemerintahan Biden.


"Itu tidak bisa dinegosiasikan," tegas Raisi merujuk pada program rudal balistik Iran.


Dia menambahkan bahwa AS 'wajib mencabut semua sanksi-sanksi yang menindas terhadap Iran'.


Lebih lanjut, Raisi menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Iran tidak akan terbatas pada kesepakatan nuklir. "Semua sanksi-sanksi AS harus dicabut dan diverifikasi oleh Teheran," tegas Raisi dalam pernyataannya.


Sebelumnya, negara-negara Teluk menyatakan akan berbahaya untuk memisahkan pakta nuklir dari program rudal Iran dan perilaku 'mendestabilisasi' Iran di kawasan Timur Tengah.


Irans new President-elect Ebrahim Raisi speaks during his press conference in Tehran, Iran, Monday, June 21, 2021. Raisi said Monday he wouldnt meet with President Joe Biden nor negotiate over Tehrans ballistic missile program and its support of regional militias, sticking to a hard-line position following his landslide victory in last weeks election. 


Armada pesawat tempur Iran sebagian besar berasal dari sebelum Revolusi Islam tahun 1979, yang memaksa Iran untuk berinvestasi dalam rudal sebagai pelindung melawan negara-negara tetangga di kawasan Arab yang diketahui memiliki perlengkapan militer buatan AS senilai miliaran dolar selama bertahun-tahun.


Rudal-rudal milik Iran, dengan batas jangkauan hingga 2.000 kilometer, disebut bisa menjangkau kawasan Timur Tengah dan pangkalan militer AS di kawasan itu.


Iran juga diketahui mendukung kelompok-kelompok militan seperti pemberontak Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon untuk mendongkrak pengaruhnya dan melawan musuh-musuh regionalnya.


Saat ditanya lebih lanjut soal kemungkinan pertemuan dengan Biden, Raisi dengan singkat menjawab: "Tidak."


Pada Senin, 21 Juni 2021, waktu setempat, Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, menyatakan AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran atau 'rencana apapun untuk bertemu di level pemimpin, jadi tidak jelas apakah ada yang berubah soal itu'.


Psaki menambahkan bahwa Biden memandang 'pemimpin keputusan adalah pemimpin tertinggi' di Iran. "Itulah perkaranya sebelum pemilu; itulah perkaranya saat ini; itu akan menjadi perkaranya ke depan," sebutnya.


Diketahui bahwa perundingan tengah berlangsung di Wina, Austria, sejak April lalu, agar Iran dan AS bisa kembali pada kepatuhan yang menjadi komitmen kesepakatan nuklir tahun 2015. AS di bawah mantan Presiden Donald Trump meninggalkan kesepakatan itu dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi ke Iran. Iran kemudian melanggar batasan pengayaan uranium yang disepakati sebelumnya demi meminimalisir risiko pengembangan senjata nuklir.


Para pejabat Iran dan negara-negara Barat sama-sama menyebut Raisi tidak mungkin mengubah sikap negosiasi Iran dalam perundingan di Wina, karena Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang memiliki keputusan akhiri untuk semua kebijakan besar.


Sumber: detikcom

Bukan Warisan, Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu Sampai ke Pengadilan
Minggu, Juni 13, 2021

On Minggu, Juni 13, 2021

Bukan Warisan, Kakak Beradik Ini Rebutan Hak Asuh Ibu Sampai ke Pengadilan
BENTENGSUMBAR.COM - Kakak beradik ini tak seperti kebanyakan saudara sedarah lainnya yang terkadang berebut warisan. Kedua kakak beradik di Arab Saudi ini justru bertikai memperebutkan hak asuh ibu.


Sebagaimana dikutip dari The Reporter, dua orang bersaudara ini berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Di mana jika salah satu orang tuanya sudah renta, mereka bertikai memperebutkan harta warisan, baik itu warisan uang maupun tanah dan rumah.


Namun, kakak-adik ini malah sampai membawa kasus hak asuh ibu sampai ke pengadilan. Semua berawal ketika Hizan al-Fuhaidi selama ini telah merawat dan menjaga ibunya yang sudah renta. Seumur hidup ibunya, dia tinggal di rumah Hizan.


Ketika ibunya semakin tua, datang adiknya dari kota lain. Kedatangannya untuk membawa sang ibu dan tinggal bersamanya dengan alasan kota tempat tinggalnya punya banyak fasilitas yang lebih memadai.


Namun, Hizan menolak dengan alasan selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Sementara sang adik bersikeras ibunya akan lebih baik kalau dirawat olehnya.


Perseteruan ini tidak berhenti sampai di situ. Keduanya sepakat membawa kasus ini ke pengadilan.


Sidang pun dimulai, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di persidangan. Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya tidak sampai 40 kilogram.


Sang hakim pengadilan bertanya kepadanya, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab, sambil menunjuk ke Hizan, "Ini mata kananku" kemudian menunjuk ke adik Hizan sambil berkata, "Ini mata kiriku."


Sang Hakim berpikir sejenak kemudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasar pertimbangan kemaslahatan bagi si ibu. Putusan ini membuat Hizan menangis. Dia kalah di pengadilan karena harus merelakan hak asuh ibunya jatuh ke sang adik.


Kisah rebutan hak asuh ini mendapat respons positif dari warganet setelah diunggah di media sosial, salah satunya @unikupdate.id di Instagram. Mereka banyak mengapresiasi kedua bersaudara tersebut dan pastinya membuat sang ibu bangga bukan main.


"Alangkah bahagia dan bangganya ibu itu memiliki anak-anak yang sangat berbakti dan mencintainya," ujar @natalinaprimawati.


"Ibu ladang pahala, don't waste your chance," timpal @bagasadiwijayanto.

"Berebut surga ya Allah," tambah @dian_stuty.


(*)

Dubes Saudi Tepis Isu RI Batalkan Haji karena Kegagalan Diplomasi
Kamis, Juni 10, 2021

On Kamis, Juni 10, 2021

Dubes Saudi Tepis Isu RI Batalkan Haji karena Kegagalan Diplomasi
BENTENGSUMBAR.COM - Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi mengunjungi kantor MUI. Essam mengklarifikasi sejumlah isu terkait pembatalan jemaah haji Indonesia.


Essam bersama rombongan mengunjungi kantor MUI Pusat, Selasa, 8 Juni 2021. Ini merupakan kunjungan pertama Essam ke MUI sejak pertama kali dilantik.


Essam menegaskan pembatalan haji tak terkait dengan hubungan Indonesia dan Saudi yang kurang baik. Sebab selama ini sejumlah kalangan menilai pembatalan haji karena masalah diplomasi.


"Masalah pembatalan keberangkatan jemaah haji Indonesia tidak ada kaitannya dengan hubungan baik yang sudah terjalin antara Saudi dan Indonesia. Tidak ada pula hubungannya dengan penggunaan merek vaksin tertentu dan produsen tertentu seperti yang selama ini berkembang di media," kata Essam seperti dalam keterangan tertulis di situs MUI, Rabu, 9 Juni 2021.


Tak Terkait Merek Vaksin


Selain itu, kata Essam, pembatalan haji juga tak terkait penggunaan merek vaksin tertentu.


"Saya juga tegaskan, bahwa ini tidak terkait dengan jenis vaksin dan negara produsen vaksin yang digunakan Arab Saudi, dan saya tegaskan, saya tegaskan kembali hingga saat ini belum ada pengumuman apapun terkait dengan penyelenggaraan haji," papar dia.


Belum Umumkan soal Penyelenggaraan Haji


Essam menjelaskan Saudi saat ini belum mengirimkan undangan haji ke negara lain termasuk Indonesia. Ini juga sekaligus membantah kabar bahwa Saudi melarang jemaah haji Indonesia.


"Beredar kabar bahwa Arab Saudi melarang jemaah haji Indonesia, kabar itu tidak benar. Saya tegaskan sampai hari ini, Arab Saudi belum mengumumkan bagaimana prosedur haji dan apapun terkait dengan penyelenggaraan haji tahun ini, termasuk belum ada satupun negara yang mendapat persentase kuota dan izin haji tahun ini," kata Essam.


Essam menghargai keputusan pemerintah Indonesia yang menangguhkan pemberangkatan jemaah haji. Menurut dia, langkah ini sebagai upaya pemerintah Indonesia untuk melindungi keselamatan masyarakat dan jemaah haji.


Essam pun berdoa agar pandemi covid-19 segera berakhir. Dengan begitu, jemaah umrah dan haji dari seluruh negara bisa kembali mengunjungi tanah suci.


"Kita berdoa, pandemi covid-19 cepat berlalu, jemaah umrah dan haji bisa kembali seperti sedia kala," tutur dia. 


Source: detikcom

Asian Productivity Organization: Tokyo Statement on the Centrality of Productivity
Rabu, Juni 09, 2021

On Rabu, Juni 09, 2021

Asian Productivity Organization: Tokyo Statement on the Centrality of Productivity
BENTENGSUMBAR.COM - As the economic and humanitarian crises in the second year of the COVID-19 pandemic escalate to epic proportions and the world reels at the grim prospects of viral variants described as "far more deadly" by the WHO, the 21 countries that make up the Asian Productivity Organization (APO) offer a sliver of hope by declaring their resolve to continue the productivity movement, leveraging it to guide the region through new, harsh challenges in the years ahead.  

 

Survival is paramount. Enterprises and SMEs must be resilient and the workforce adaptable to new workstyles and new types of business. Productivity is the foundation of this survival, not only for becoming more competitive but also in the broader, philosophical sense of "making tomorrow better than today."  

 

Drawing upon its 60 years of engagement in Asia and the Pacific, the APO crystallizes the key lessons of its six decades of journey in a joint statement, "The Tokyo Statement on the Centrality of Productivity." Issued at the conclusion of its 63rd Governing Body Meeting on 9 June 2021, the statement serves as a beacon to traverse a turbulent future.

 

The statement outlines key priority targets of the APO for 2021–2025. Those targets support the APO Vision 2025 in striving for "inclusive, innovation-led productivity growth in Asia and the Pacific."  

 

The priority targets cover four broad areas. The first is leveraging new drivers of productivity. In today's extraordinary circumstances, productivity improvement efforts must yield extraordinary results. New drivers that include innovation, advanced technologies, and digitalization are expected to lead to exponential productivity gains. 

 

The second involves enhancing productivity tools, techniques, and methodologies. Upgrading and upskilling are imperative given ongoing rapid, dynamic changes. New business styles, new work styles, and new business platforms have become the norms. Productivity tools, techniques, and methodologies must therefore be continuously updated to support the latest trends.

 

Third is making productivity more inclusive. This means broadening the outreach and applications of productivity to embrace persons with different abilities, in addition to women, youth, and socially vulnerable groups.

 

The fourth priority is strengthening National Productivity Organizations as the premiere productivity-promoting institutions, equipping them to be policy partners for their governments.

 

The Tokyo Statement underlines a renewed commitment to the mutual cooperation that has been the hallmark of the APO. The full text is available at: www.apo-tokyo.org.


#AsianProductivityOrganization #APO


Source: Asian Productivity Organization (APO)

Dubes Saudi: Kami Sangat Menghargai Keputusan RI Tak Selenggarakan Haji
Jumat, Juni 04, 2021

On Jumat, Juni 04, 2021

Dubes Saudi: Kami Sangat Menghargai Keputusan RI Tak Selenggarakan Haji
BENTENGSUMBAR.COM - Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan memberangkatkan warga untuk Ibadah Haji 2021. Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid Altaghafi, menyebut pihaknya sangat menghargai keputusan itu.


"Ketika pemerintah Indonesia atau Menteri Agama Indonesia memutuskan untuk tidak menyelenggarakan haji, kami sangat menghargai keputusan Indonesia," ujar Esam saat ditemui di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta Selatan, Kamis, 3 Juni 2021.


Hanya, Esam berdoa supaya urusan ibadah haji bisa dipermudah. Dia berharap haji dapat berlangsung seperti sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia.


"Kami berharap Allah SWT agar segala urusan haji dan umroh dapat dipermudah. Terutama bagi jemaah Indonesia ke depan. Kami sangat berharap dapat menjalankan ibadah haji seperti tahun-tahun sebelumnya," terangnya.


Esam pun mengapresiasi antusiasme warga Indonesia yang ingin berangkat haji ke Arab Saudi. Menurutnya, setiap tahunnya Indonesia biasa mengirim jemaah sampai 200 ribu orang.


"Seperti yang anda ketahui Indonesia merupakan jemaah dengan jumlah terbanyak, lebih dari 200 ribu jemaah per tahun," kata Esam.


Meski demikian, Esam menjelaskan pihak Arab Saudi juga enggan gegabah. Jika terlalu memaksakan keberangkatan haji dari luar negeri, kata Esam, jemaah justru berpotensi membawa penyakit.


"Hingga saat ini otoritas Arab Saudi mengedepankan keselamatan jemaah. Jangan sampai karena menunaikan ibadah haji menjadi membawa penyakit dan kembali ke negaranya justru membawa penyakit," tutupnya.


Sebelumnya, pemerintah Indonesia mengumumkan nasib pemberangkatan Haji 2021. Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas memastikan Indonesia tidak memberangkatkan haji 2021.


"Pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan keputusan Menag RI Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H 2021 M," kata Menag Yaqut dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di akun Instagram Kementerian Agama, Kamis, 3 Juni 2021. 


(*)

PM Israel Benjamin Netanyahu Terancam Lengser Berkat Kecerdikan Politisi Partai Islam
Jumat, Juni 04, 2021

On Jumat, Juni 04, 2021

PM Israel Benjamin Netanyahu Terancam Lengser Berkat Kecerdikan Politisi Partai Islam
BENTENGSUMBAR.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu terancam dilengserkan dari jabatannya. Partainya, Likud memang menang Pemilu 2021, namun dia gagal membentuk koalisi pemerintahan.


Mayoritas parlemen Israel kini dikuasai kelompok Sayap Kanan Yahudi, Knesset. Koalisi tersebut dipimpin oleh eks Menhan, Naftali Bennet.


Peran politikus Muslim Israel, Mansour Abbas tak bisa dilepaskan dari penguasaan parlemen itu. Abbas memutuskan membawa partainya yang berlandaskan Islam, United Arab List, untuk bergabung dengan Bennet yang berhaluan kanan.


United Arab List adalah sebuah partai politik yang mewakili 21% minoritas Arab Israel


Abbas butuh waktu lama sebelum memutuskan bergabung dengan Bennet. Bennet dikenal sebagai tokoh anti-Palestina dan Arab dan memimpin pembangunan pemukiman Yahudi di Palestina.


Bennet bahkan berniat mencaplok seluruh wilayah Tepi Barat. Abbas akhirnya bersedia bergabung dengan koalisi Bennet agar warga Arab Israel tidak lagi mengalami diskriminasi di Israel. Dia juga ingin memperbaiki kehidupan Muslim Arab.


"Kami memutuskan bergabung bersama pemerintah agar ada keseimbangan kekuatan politik di negara ini," kata Abbas, dikutip dari Reuters.


Dalam perjanjian, Bennet setuju memberi dana Rp233 triliun kepada Abbas untuk membangun infrastruktur dan mengatasi kriminalitas di kota berpenduduk etnis Arab.


Perjanjian juga meliputi penghentian pembangunan rumah tanpa izin di daerah Arab dan mendukung kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam.


"Kami dapat mempengaruhi mereka untuk mencapai hal-hal luar biasa bagi kehidupan masyarakat Arab," kata Abbas.


Namun, Netanyahu diperkirakan akan melakukan segala manuver untuk melanggengkan kekuasaannya selama 12 tahun, termasuk membenturkan parpol yang tidak senang berkoalisi dengan partai Islam.


(*)

Sosok Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Sebut Tak Ada Negara Palestina
Rabu, Juni 02, 2021

On Rabu, Juni 02, 2021

Sosok Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Sebut Tak Ada Negara Palestina
BENTENGSUMBAR.COM - Naftali Bennett telah lama memendam ambisi menjadi perdana menteri Israel. 


Namun tak disangka kesempatan itu akhirnya datang walau partai bentukannya, Yamina, hanya memenangi tujuh kursi dalam pemilihan umum lalu.


Bennet muncul sebagai calon kuat perdana menteri setelah menerima tawaran berkoalisi dengan tokoh oposisi, Yair Lapid, sekaligus mendepak Benjamin Netanyahu dari kekuasaan selama 12 tahun.


Padahal, pria berusia 49 tahun itu dulu sempat digadang-gadang sebagai murid didikan Netanyahu. Bahkan, Bennett pernah menjadi kepala staf Netanyahu pada 2006 sampai 2008 sampai hubungan keduanya retak.


Bennett meninggalkan Partai Likud pimpinan Netanyahu dan bergabung dengan partai sayap kanan Rumah Yahudi. Bersama partai keagamaan itu, dia menjadi anggota parlemen setelah sukses dalam pemilu 2013.


Bennet lantas menjabat sebagai menteri ekonomi dan menteri pendidikan dalam setiap pemerintahan koalisi sampai 2019, ketika aliansi Kanan Baru bentukannya gagal meraih kursi dalam pemilihan tahun itu.


Namun, selang 11 bulan kemudian, Bennett mampu kembali ke parlemen sebagai ketua Partai Yamina. Dalam bahasa Ibrani, Yamina berarti 'arah kanan'.


Karier politik Bennet dimulai setelah namanya terangkat melalui dinas kemiliteran dan dunia usaha. Pensiun sebagai anggota pasukan khusus Angkatan Darat Israel, Bennet berbisnis dengan menciptakan dan menjual perusahaan hi-tech. Usaha ini membuat dirinya berstatus miliarder.


Di dunia politik, Bennett kerap dicap ultra-nasionalis. Bahkan, dia menyebut dirinya lebih berhaluan kanan ketimbang Netanyahu.


"Tidak pernah ada negara Palestina"


Pandangannya tercermin pada suaranya yang gencar membela Israel sebagai negara bangsa Yahudi serta klaim sejarah dan keagamaan Yahudi terhadap Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan Suriahwilayah-wilayah yang diduduki Israel sejak Perang Timur Tengah 1967.


Dia pernah menyebut Tepi Barat tidak berada dalam pendudukan Israel karena "tidak pernah ada negara Palestina di sini".


Adapun konflik Israel-Palestina, menurutnya, tidak bisa diselesaikan tapi harus dilanggengkan.


Bagaimana rasanya hidup di Jalur Gaza? Siapa Hamas dan bagaimana kiprahnya?


Sejak lama Bennett mengadvokasi hak permukiman Yahudi di Tepi Barat (dia pernah menjadi ketua Dewan Yesha, kelompok perwakilan politik untuk pemukim Yahudi), meskipun dia mengatakan Israel tidak punya klaim atas Gaza (ketika Israel menarik pasukan dan pemukim pada 2005).


Lebih dari 600.000 orang Yahudi menetap di 140 permukiman di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, yang dianggap ilegal oleh hampir seluruh komunitas internasional, namun dibantah Israel.


Keberadaan permukiman-permukiman ini adalah topik paling panas antara Israel dan Palestina. Israel berkeras membelanya, sedangkan Palestina ingin agar semua permukiman ditiadakan serta negara yang merdeka di Tepi Barat dan Gaza dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota.


Mencampuri urusan permukiman, apalagi menghentikan aktivitas permukiman, dianggap Bennett mencari ribut. Bahkan, oleh Bennet, Netanyahu tidak bisa dipercaya dalam menangani urusan ini.


Karena dia lancar berbahasa Inggris (mengingat orang tuanya lahir di Amerika Serikat) serta piawai dalam urusan media, Bennett kerap tampil di jaringan televisi asing guna membela aksi-aksi Israel.


Pernah suatu kali dia berdebat dengan seorang anggota parlemen Israel keturunan Arab yang menentang permukiman Israel di Tepi Barat. Saat itu dia mengatakan: "Ketika Anda masih berayun di pohon-pohon, kami sudah punya negara Israel di sini."


Bennett menolak gagasan pendirian negara Palestina yang berdampingan dengan Israel atau kerap disebut 'solusi dua negara' untuk mengatasi konflik Israel-Palestina yang diadvokasi komunitas internasional, termasuk Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.


"Selama saya punya kekuasaan dan kendali, saya tidak akan menyerahkan tanah Israel satu sentimeter pun. Titik," cetusnya dalam wawancara pada Februari 2021.


Bersamaan dengan sikap itu, Bennett ingin menguatkan kekuasaan Israel di Tepi Barat, wilayah yang dia rujuk dengan nama Yudea dan Samaria dengan menganeksasi sebagian besar kawasan tersebut.


Bennett juga berpandangan keras saat berurusan dengan ancaman dari kelompok Palestina.


Pada 2013 dia mengatakan orang Palestina "teroris seharusnya dibunuh, bukan dibebaskan".


Padahal hukuman mati tidak diterapkan di Israel, kecuali saat mengeksekusi Adolf Eichmann, perancang Holokos yang divonis bersalah pada 1961 dan digantung setahun berikutnya.


Dia menolak gencatan senjata dengan para pemimpin Hamas di Gaza, yang justru membuat pertikaian bereskalasi pada 2018. Dia juga menuding kelompok Hamas membunuh puluhan warga Palestina sendiri, yang tewas akibat serangan udara Israel guna merespons tembakan roket dari Gaza saat pertikaian pada Mei 2021.


Slogan-slogan mengenai rasa bangga sebagai orang Yahudi dan kemandirian bangsa adalah jargon yang kerap disuarakan Bennet.


Pria yang memakai kippah, atribut agama Yahudi di bagian kepala kaum pria ini memarodikan surat kabar New York Times dan harian sayap kiri Israel, Haaretz, karena kedua media itu mengkritik tindakan-tindakan Israel.


Dalam sebuah video di media sosial, dia menyamar sebagai seorang hipster dan berulang kali mengucapkan "maaf". Adegan selanjutnya, dia mengungkap penyamarannya dan berkata: "Mulai hari ini kita berhenti meminta maaf".


Source: detikcom

Baca Al-Quran Sampai Selesai, Wanita Inggris Terpikat Jadi Mualaf
Rabu, Juni 02, 2021

On Rabu, Juni 02, 2021

Baca Al-Quran Sampai Selesai, Wanita Inggris Terpikat Jadi Mualaf
BENTENGSUMBAR.COM - Kisah perjalanan spiritual seseorang menemukan pilihan agama yang akan dianut, seringkali menjadi kisah inspiratif bagi banyak orang. Seperti kisah Aisha Rosalie, wanita asal Inggris ini menceritakan kisahnya, mengapa ia kahirnya tertarik untuk menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.


"Nama saya Aisha Rosalie, dan ini kisah saya masuk Islam, saya terlahir di Inggris, orang tua saya tidak mengimani Tuhan, saya tidak dibesarkan sebagai Kristen, kami juga tidak pergi ke gereja dan semacamnya," ujarnya memulai perkenalan menceritakan perjalanan spiritualnya lewat Channel YouTube, Ayatuna Ambassador yang diupload sejak 23 Januari 2021.


Aisha menceritakan, tidak ada pemahaman tentang Tuhan dan konsep Pencipta dalam keluarganya. Hingga akhirnya, Aisha melakukan perjalanan ke Istanbul, Turki. Di sana, dia pun mengaku menemukan agama dan Tuhan untuk pertama kalinya. 


"Saya pergi ke Turki sendiri, saya travelling dan tinggal di sebuah hostel. Saya melakukan hal-hal yang biasa dilakukan Turis dan mungkin Anda sudah tahu," katanya.


Saat melakukan aktivitas layaknya turis, Aisha pun tertarik singgah di Masjid Biru, masjid yang terkenal di Turki. Namun uniknya, sebelum memutuskan masuk ke dalam masjid, Aisha merasa malu lantaran tak berhijab hingga akhirnya ia pergi ke toko kecil untuk membeli hijab. 


"Di Turki ada namanya Masjid Biru, saya ingin ke sana. Jadi saya pergi ke toko kecil, saya ceritakan pada pedagannya tentang keadaan saya dan dia memberi saya hijab yang mudah dipakai." 


Ia pun menunjukkan pada penonton, bahwa hijab yang dia kenakan sama persis seperti yang dia kenakan ketika menceritakan kisah spiritualnya ini. "Yang sedang saya pakai sekarang ini sangat spesial bagi saya. Karena ini yang saya pakai ketika saya masuk Islam."


Melanjutkan ceritanya, Aisha setelah ke toko kecil mendapatkan hijab, ia peri ke Kafe Nero untuk menutupi rambut pirangnya dengan hijab. Awalnya merasa kesulitan menggunakan hijab, tetapi merasa nyaman saat sudah digunakan. 


"Saya pakai dan lihat di cermin, saya pikir yah saya memakainnya bukan untuk fesyen jadi saya pakai dan keluar kafe. Saya mulai perjalanan saya ke Masjid Biru itu sekitar satu setengah jam jalan kaki dari hostel saya."


Di tengah jalan, Aisha putuskan berhenti dan membeli tasbih karena ketika di Istanbul ia sering lihat orang memegang dan memakai tasbih. "Sangat murah sekitar 10 ribuan dan saya cari tahu cara menggunakannya. O baik, 'subhanallah' dan tentu saya tidak tahu cara pengucapannya jadi seperti 'sub ba ha nallah' lalu Alhamdulillah dan Allahuakbar, saya latihan sepanjang jalan di dalam kantong saya melakukannya 33 kali masing masing kalimat tersebut, tasbih itu ada sekitar 33 biji saya bawa dalam perjlananan ke Masjid," kenangnya.


Saat masuk ke dalam masjid Aisha merasa gugup karena khawatir melakukan kesalahan. Namun ia sadar diri, tidak masuk ke dalam tempat sholat karena dia tak tahu bagaimana caranya sholat.  Aisha hanya duduk di lantai dan  terus menggunakan tasbih sekitar satu jam. 


"Saya menikmati berada di sana begitu damai. Saya akhirnya bangun hendak pulang. Adzan mulai terdengar dan saya ingat suaranya nyaring."


Tepat di seberang Masjid Biru ada masjid juga. Sehingga Aisha berada di tengah-tengah masjid besar dengan suara adzan nyaring. 


"Suaranya begitu luar biasa, saya berhenti di jalan dan mendengarkan. Saya tidak bilang Alhamdulillah karena saya belum jadi muslimah saat itu." 


Setelah adzan berhenti, Aisha memutuskan untuk pulang. Namun baterei ponselnya habis. Ia mengaku sempat kesulitan mencari jalan pulang dan sedikit panik. Lalu ia berhenti dan mengeluarkan tasbih sambil membaca Subhanallah, Alhamdulilah, Allahuakbar.


"Dan kemudian saya temukan kembali jalan ke hostel Alhamdulillah. Sampai di hostel saya ambil terejmahan Al-Quran dan mulai membacanya. Sejak saat itu saya lepas hijab sekali dua kali karena saya bukan muslimah."


Namun, katanya, kemanapun ia pergi setelah kembali ke London, hijab tak pernah dibuka saat keluar rumah. "Tidak tahu saya menikmati pakai hijab."


Bukan hanya nyaman mengenakan hijab, Aisha juga mulai memperbaiki penampilannya. Ia juga lebih sering mengenakan busana tertutup.


"Astagfirullah, sebelum jadi muslimah pakaian saya sungguh....ajaran berpakaian sederhana tampak baik bagi saya itu seperti kerendahan hati. Tidak memamerkan, karena saya kira dulu saya suka pamer. Saya menikmati sisi itu dalam diri saya, jadi sederhana dan sopan. Jadi ya saya tetap pakai hijab dan terus belajar agama nonton banyak video di YouTube," kisahnya.


Lewat channel YouTube ia menemukan ada banyak penceramah luar biasa yang membuat Aisha berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan bersyahadat sampai  dia selesai baca Al-Quran.


"Karena saya pikir, bagaimana mungkin saya masuk suatu agama tanpa membaca kitabnya. Jadi saya terus nonton ceramah, belajar, baca buku-buku lain dan juga AL-Quran. Alhamdulillah ketika selesai baca Al-Quran, saya mengucap syahadat sendiri di ruang tamu di malam hari dan Allah sebagai saksinya," katanya.


Aisha mengucap Alhamdulilah, itu terjadi begitu saja dan tidak direncanakan. "Kuasa-Nya untuk memilih perempuan seperti saya dan menjadikannya Muslimah. Alhamdulillah. Begitulah kisah saya mungkin menarik mungkin juga tidak," katanya.


Source: Viva

Partai Islam dan Ultra Kanan Yahudi Bersatu Lengserkan Benjamin Netanyahu
Rabu, Juni 02, 2021

On Rabu, Juni 02, 2021

Partai Islam dan Ultra Kanan Yahudi Bersatu Lengserkan Benjamin Netanyahu
BENTENGSUMBAR.COM - Partai ultra kanan Yahudi dan partai berbasis Islam, Ra'am, membentuk koalisi politik untuk menggulingkan Perdana Menteri benjamin Netanyahu.


Kedua partai oposan tersebut berkoalisi agar bisa membangun pemerintahan sesuai mandat yang diberikan Presiden Reuven Rivlin pada 5 Mei 2021.


Yair Lapid, tokoh oposan, harus mengumumkan koalisi mayoritas selambat-lambatnya Rabu, 2 Juni 2021, agar Benjamin Netanyahu tergeser.


Kalau tidak, maka Benjamin akan kembali berpeluang membentuk pemerintahan sesuai tradisi politik di Knesset.


Harapan bagi Netanyahu menyusut sejak bekas sekutu politiknya, Naftali Bennett, menyatakan dukungan terhadap koalisi Yair Lapid, Minggu, 30 Mei 2021. 


Bennett adalah bekas komandan pasukan khusus, Sayeret Matkal, yang dituduh bertanggungjawab atas pembantaian warga sipil Qana dalam perang di Lebanon.


Seusai lama mengabdi di pemerintahan Netanyahu, Bennett akhirnya membelot dan membentuk Partai Yamina.


Dalam pemilu Maret silam, Yamina mendapat 6,2 persen suara. Adapun Partai Likud mendapat 24,19 persen.


Sementara Yesh Atid pimpinan Yair Lapid mendapat 14 persen suara. Posisi itu menempatkan Bennett sebagai juru penentu dalam proses pembentukan koalisi.


Menurut laporan media-media lokal, Bennett dan Lapid sepakat menggilir jabatan perdana menteri dalam "Kabinet Perubahan" selama masing-masing dua tahun.


Bennett akan didahulukan, sementara Lapid menyusul memerintah Israel pada tahun ketiga. Koalisi anti-Netanyahu yang sedang digodok di Yerusalem dikhawatirkan rapuh, karena menggabungkan hampir semua spektrum politik, yakni partai kiri, tengah dan kanan jauh.


Sudah begitu, koalisi Lapid juga dibangun di atas dukungan partai Arab, Ra'am, yang menolak program politik pro-pemukim Yahudi milik Bennett.


Koalisi lintas ideologi melawan Netanyahu


Menurut laporan Times of Israel, Partai Ra'am akan mendukung pemerintahan Bennett dan Lapid secara aktif di parlemen, dan tidak menjadi bagian dari kabinet pemerintah.


Sebagai gantinya, kedua pemimpin setuju menghormati tuntutan Ra'am terkait nasib warga Arab. Tuntutan itu antara lain jaminan anggaran dana untuk memerangi tingkat kriminalitas yang tinggi di komunitas Arab, dan mengakui hak Suku Arab Badui yang selama ini dianggap ilegal.


Ketua Umum Ra'am, MK Mansour Abbas, juga menuntut pemerintahan baru agar memperhatikan kepentingan minoritas Arab. Abbas dan Bennett bertemu akhir April silam.


Bennett dikabarkan sepakat untuk tidak menganeksasi wilayah atau mengizinkan pembangunan pemukiman Yahudi baru di Tepi Barat, selama dia berkuasa.


Dia juga ingin menghentikan konstruksi pemukiman yang masih berlangsung, menurut laporan Channel 12.


Netanyahu juga sempat berusaha mendekati Partai Ra'am saat diberi kesempatan membentuk pemerintahan usai pemilu lalu.


Namun rekan koalisinya dari partai agamis menolak bekerja sama. Meski tidak punya mandat, Netanyahu akhir pekan lalu berusaha menarik Bennett dan musuh bebuyutannya, Gideon Saar, untuk berkoalisi.


Keduanya ditawari kursi perdana menteri yang diputar bergilir di antara ketiga politisi. Di dalam sebuah video di Twitter, Netanyahu mendesak Bennett dan Saar untuk "mencegah terbentuknya pemerintahan kiri yang berbahaya," di Israel.


Dia menyebutnya sebagai "momentum yang krusial bagi keamanan, identitas dan masa depan negara." Saar yang seharusnya mendapat giliran pertama mengisi jabatan perdana menteri, menolak tawaran tersebut.


Seusai tenggat pengumuman koalisi mayoritas hasil pemilu pada 3 Juni, oposisi Israel diberi waktu selama 21 hari untuk meyusun kabinet dan menominasikan perdana menteri.


Jika gagal, pemilihan umum legislatif kelima akan digelar, kemungkinan di musim gugur, antara Oktober-November.


(*)

Jadi Target Upaya Pembunuhan, Menteri Uganda Terluka Dan Kehilangan Sang Putri
Selasa, Juni 01, 2021

On Selasa, Juni 01, 2021

Jadi Target Upaya Pembunuhan, Menteri Uganda Terluka Dan Kehilangan Sang Putri
BENTENGSUMBAR.COM - Menteri Pekerjaan dan Transportasi Uganda, Jenderal Katumba Wamala dan putrinya menjadi target upaya pembunuhan sekelompok orang bersenjata.


Diberitakan NBS TV pada Selasa, 1 Juni 2021, serangan tersebut membuat putri Wamala dan supirnya tewas, sementara sang mantan kepala Angkatan Pertahanan Uganda terluka.


Jurubicara militer menyebut, Wamala diserang ketika sedang melakukan perjalanan dari rumahnya. 


Kemudian sekelompok orang bersenjata melayangkan tembakan ke Toyota Land Cruiser miliknya.


Menurut saksi mata, empat penyerang yang mengendarai sepeda motor menembak mobil Wamala di Jalan Kisota, Kisaasi tepat setelah pukul 09.00 waktu setempat.


Wamala kemudian langsung dilarikan ke Klinik Malcolm di Kisaasi.


Katumba Wamala adalah seorang jenderal Uganda yang menjabat sebagai Menteri Pekerjaan dan Transportasi sejak 14 Desember 2019.


Sebelumnya, sejak 17 Januari 2017 hingga 14 Desember 2019, ia menjabat sebagai Menteri Negara Bidang Konstruksi. 


Ia juga sempat menjabat sebagai Kepala Pasukan Pertahanan Uganda.


Source: RMOL

Israel Ngadu ke Mesir soal Keterlibatan Iran dalam Pertempuran Jalur Gaza
Selasa, Juni 01, 2021

On Selasa, Juni 01, 2021

Israel Ngadu ke Mesir soal Keterlibatan Iran dalam Pertempuran Jalur Gaza
BENTENGSUMBAR.COM - Menurut laporan Al-Arabiya, Mesir telah menawarkan kepada Israel rancangan perjanjian pertukaran tahanan dengan Hamas. 


Namun, Kairo tidak tertarik untuk menghubungkan rekonstruksi Gaza dengan pertukaran tahanan, meskipun Israel bersikeras melakukannya.


Menurut laporan tersebut, Israel memberikan informasi kepada kepala intelijen Mesir, Abbas Kamel, bukti keterlibatan Iran dalam apa yang terjadi di Gaza.


Pada hari Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kepala Dewan Keamanan Nasional Meir Ben-Shabbat, dan Menteri Intelijen Eli Cohen (Likud) bertemu dengan Kamel dan berbicara tentang peningkatan kerja sama antara Israel dan Mesir.


Tak ketinggalan mereka juga membahas masalah regional dan kebutuhan akan Hamas untuk mengembalikan tawanan Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dan sebagai cara untuk mendistribusikan bantuan internasional hanya kepada penduduk sipil di Gaza.


Mereka juga memuji hubungan antara Israel dan Mesir dan upaya bersama mereka dalam masalah keamanan dan diplomasi.


Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi bertemu dengan mitranya dari Mesir, Menteri Luar Negeri Sameh Shoukry. Pada pertemuan tersebut, kedua menteri berbicara tentang masalah keamanan kawasan, dan membahas penguatan hubungan bilateral kedua negara serta perluasan kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi dan pariwisata.


Ashkenazi juga menekankan bahwa Israel dan Mesir "memiliki kewajiban untuk bertindak menghalangi setiap upaya organisasi teroris dan elemen ekstremis, seperti Iran dan proksi-proksinya, untuk merusak keamanan regional."


"Kami tidak akan membiarkan situasi di mana rehabilitasi Jalur Gaza akan memungkinkan Hamas untuk membangun kembali kemampuan terorisnya, atau tanpa resolusi tentang masalah pemulangan orang Israel yang hilang dan tawanan yang ditahan oleh organisasi teroris Hamas," janjinya.


(*)

Eks Jenderal Zionis Sebut Hamas Menang Banyak dan Israel Kalah Telak
Minggu, Mei 30, 2021

On Minggu, Mei 30, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Seorang mantan jenderal Zionis Israel mengeklaim kelompok Hamas di Gaza, Palestina , menang lebih banyak dalam perang 11 hari lalu.

Alasannya bukan pada jumlah korban jiwa lebih banyak di Gaza, melainkan kejutan yang diberikan kelompok perlawanan Palestina tersebut yang tak pernah dibayangkan Zionis sebelumnya.

Selama perang 11 hari, Hamas dan sekutunya; Jihad Islam Palestina (PIJ) menembakkan lebih dari 4.300 roket dan rudal dengan lebih dari 3.000 di antaranya berhasil menyeberang ke negara Yahudi.

IDF menanggapi dengan serangan udara besar-besaran terhadap apa yang mereka klaim sebagai posisi Hamas di Gaza. Beberapa komandan kelompok tersebut tewas. Namun, fakta bahwa banyak warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan juga menjadi korban jiwa.

Pensiunan Jenderal Asaf Agmon, mantan komandan Angkatan Udara militer Zionis, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Ha'aretz, 26 Mei 2021, mengatakan Tel Aviv membanggakan keberhasilan besar dalam menghancurkan Hamas dalam operasi militer terbarunya. Menurutnya, Hamaslah yang harus merayakannya.

Dia mengatakan meskipun Gaza digempur selama berhari-hari oleh Angkatan Udara Israel, kelompok Hamas yang bermarkas di Gaza sebenarnya memenangkan lebih banyak dalam konflik ini daripada Tel Aviv.

Menurut Agmon, berani menyerang Israel dengan ribuan roket membawa Hamas ke "agenda utama" pada saat Tel Aviv dan negara-negara lain mulai percaya bahwa kelompok itu telah ditangani.

“Sekarang, Hamas dipandang sebagai pemimpin sentral di antara rakyat Palestina, bahkan di Tepi Barat dan negara-negara di Timur Tengah. Kami menjadikannya sebagai faktor utama dalam konflik di wilayah Otoritas Palestina, pertama dan terpenting di Yerusalem," katanya.

Serangan besar-besaran Hamas terhadap Israel juga terjadi menjelang pemilihan umum di wilayah Otoritas Palestina yang diumumkan oleh Mahmoud Abbas. Meski tanggal pemilihan umum masih belum jelas, Hamas, yang juga terlibat dalam kegiatan politik, kemungkinan akan berupaya memperkuat posisinya tidak hanya di Gaza tetapi juga di Tepi Barat.

Agmon mengatakan kelompok itu mendapatkan kembali keunggulannya bahkan di benak orang Israel setelah putaran terakhir serangan, yang dimulai pada 10 Mei dan berakhir 11 hari kemudian dengan gencatan senjata.

Dia menambahkan bahwa sebelumnya warga Israel percaya bahwa Hamas telah dipukuli, tetapi kenyataannya telah tumbuh dalam kekuasaan.

Mantan brigadir jenderal percaya bahwa penting bagi Tel Aviv untuk memahami bagaimana penilaiannya sendiri terhadap kelompok itu salah, alih-alih memberikan tepuk tangan meriah yang hanya akan mendorong Israel maju ke jalan yang salah.

“Yang terjadi bukanlah hasil imbang, tapi kerugian yang mereka coba jual kepada kami sebagai sebuah prestasi. Yang terburuk adalah hal itu membuat kami mengabaikan kemunduran dan tidak belajar hikmah. Hal ini membawa kami pada kekalahan telak dalam perang multi-perang medan perang," papar Agmon.

Komentar mantan jenderal Zionis itu muncul setelah Israel menyetujui gencatan senjata dengan Hamas setelah 11 saling serang yang merenggut nyawa 12 orang di Israel dan lebih dari 200 warga Palestina.

Tel Aviv mengeklaim telah menargetkan kepemimpinan Hamas dan sistem terowongan bawah tanah.

Namun, serangan udara Israel mengakibatkan korban sipil yang signifikan, termasuk 60 anak. IDF menyalahkan Hamas atas tingginya jumlah warga sipil yang mengutip dugaan praktik menggunakan orang tak berdosa sebagai tameng manusia.

(*)

Teori Kebocoran Virus Corona Dihidupkan Lagi, Pengamat: Biden Sama Saja Dengan Trump, Bedanya Lebih Munafik
Sabtu, Mei 29, 2021

On Sabtu, Mei 29, 2021

Teori Kebocoran Virus Corona Dihidupkan Lagi, Pengamat: Biden Sama Saja Dengan Trump, Bedanya Lebih Munafik
BENTENGSUMBAR.COM - Sejumlah ilmuwan dan pakar urusan luar negeri dari AS dan China buka suara soal tekad terbaru Presiden Joe Biden yang masih ingin mencari tahu asal usul virus corona.


Joe Biden dalam pernyataannya mengatakan perlu penyelidikan lagi tentang apakah virus corona muncul dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi atau dari kecelakaan laboratorium di Wuhan, dalam upaya terbaru untuk mempromosikan teori konspirasi kebocoran virus.


Para ahli mengatakan bahwa mereka tidak mengharapkan laporan yang kredibel dari komunitas intelijen AS yang tidak dapat dipercaya hanya dalam waktu 90 hari, karena orang-orang di komunitas sama sekali bukan lembaga ilmiah.


“Mengarahkan komunitas intelijen daripada profesional ilmiah menunjukkan bahwa AS secara murni mempolitisasi pelacakan asal-usul virus, mengingat tekanan politik domestik yang dihadapi Biden di tengah hubungan China-AS yang paling intens,” kata mereka, seperti dikutip dari Global Times, Jumat, 28 Mei 2021.


“Dan apa pun jenis laporan yang akhirnya dikirim oleh badan intelijen, itu hanya akan menjadi senjata bagi beberapa politisi AS untuk mengkambinghitamkan China,” mereka menekankan, seraya menyerukan AS untuk merenungkan masalahnya sendiri dan membuka biolab misteriusnya di seluruh dunia untuk diinvestigasi.


Biden merilis pernyataan pada Rabu, 26 Mei 2021, dia meminta komunitas intelijen untuk melaporkan kembali kepadanya dalam 90 hari tentang apakah virus itu muncul dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi atau dari kecelakaan laboratorium.


AS telah mencatat kasus dan kematian akibat Covid-19 terbanyak di dunia, masing-masing melebihi 33 juta dan 600.000.


“Mereka tidak merefleksikan diri mereka sendiri, tetapi mencoba mengkambinghitamkan China sebagai gantinya,” Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian pada konferensi pers rutin pada hari Kamis, 27 Mei 2021.


“Saya ingin bertanya kepada mereka, apa yang sebenarnya Anda lakukan? Di mana hati nurani Anda?,” tanyanya.


Seorang peneliti di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, bahkan mengatakan apa yang dilakukan Biden sebagai sesuatu yang konyol.


“Arahnya konyol. Bagaimana badan intelijen bisa menemukan pertanyaan ilmiah yang begitu besar dalam 90 hari?,” kata Lu.


“Menelusuri asal-usul virus hanyalah senjata lain bagi AS untuk melancarkan serangan ganas terhadap China, selain urusan yang terkait dengan Xinjiang dan Hong Kong,” ujarnya.


Lu juga mencatat bahwa komunitas intelijen AS selalu menjadi alat politik dan hasilnya dalam 90 hari bergantung pada permintaan politik AS saat itu.


Pengamat China mengatakan laporan intelijen AS ditakdirkan menjadi alat politik bagi pemerintahan Amerika saat ini, karena mereka menilai Biden tidak berbeda dengan Trump yang mengkambinghitamkan dan mencoreng China atas asal-usul virus untuk sepenuhnya membendung China. Bedanya, Biden lebih munafik.


Biden mengatakan bahwa dia telah membuat keputusan setelah meninjau laporan komunitas intelijen awal bulan ini. Satu hari setelah pernyataan Biden, CNN melaporkan bahwa musim semi ini Biden telah menghentikan penyelidikan yang dipimpin oleh Pompeo untuk membuktikan virus corona berasal dari laboratorium China.   


“Menutup proyek administrasi sebelumnya dan meluncurkan yang baru membutuhkan upaya berlipat ganda. Biden hanya ingin membuktikan bahwa dia melakukan lebih baik dari pendahulunya dalam mengalahkan China,” kata pengamat.


Li Haidong, seorang profesor di Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri China, memperingatkan bahwa untuk langkah selanjutnya, AS mungkin akan mencoba membawa lebih banyak mitra untuk mengajukan gugatan terhadap China dan menuntut kompensasi.

Sementara  Zhu Wei, seorang profesor di Universitas Ilmu Politik dan Hukum China, mengatakan, gugatan seperti itu tidak lain adalah lelucon.


“Gugatan tersebut tidak valid dalam hal prosedur peradilan AS karena tidak memiliki yurisdiksi atas China, belum lagi tidak ada bukti sama sekali yang mendukung gugatan tersebut,” kata Zhu.


Menanggapi apa yang disebut penyelidikan dari komunitas intelijen, Yuan Zhiming, direktur Laboratorium Keamanan Hayati Nasional Wuhan dari Institut Virologi Wuhan, mengatakan  bahwa "kami memiliki keyakinan dan kami akan terus berpegang pada penelitian ilmiah kami.”


AS sendiri dinilai telah menutup telinga terhadap panggilan dari pakar internasional dan publik, tidak hanya dari China, tetapi juga negara lain termasuk Rusia, Korea Selatan, dan Ukraina, untuk menyelidiki biolab misterius mereka.


“Berapa banyak rahasia yang tersembunyi di lab Fort Detrick AS dan biolab lain di luar negeri dari seluruh dunia? Apa kebenaran wabah penyakit pernapasan di Virginia utara pada Juli 2019 dan wabah EVALI di Wisconsin? AS berutang penjelasan kepada dunia,” kata Zhao Lijian.


Source: RMOL

Beralih Iman, Pendeta Hindu di India Sembah Dewi Virus Corona
Sabtu, Mei 29, 2021

On Sabtu, Mei 29, 2021

Beralih Iman, Pendeta Hindu di India Sembah Dewi Virus Corona
BENTENGSUMBAR.COM - Para pendeta Hindu di sebuah kuil India berdoa setiap hari kepada dua dewi virus corona dalam upaya menjinakkan pandemi saat negara itu berjuang melawan gelombang infeksi baru.


Dilansir dari Al-Jazeera, dua berhala "Corona Devi" telah dipasang di kota selatan Coimbatore di negara bagian Tamil Nadu, yang terkena dampak parah dalam wabah yang telah menewaskan 100.000 orang di seluruh negeri dalam empat minggu terakhir.


Beban kasus keseluruhan negara Asia Selatan sekarang mencapai 27,37 juta, sementara total kematian mencapai 315.235, menurut data kementerian kesehatan.


Kuil Kamatchipuri Adhinam ditutup untuk jamaah karena tingkat infeksi Coimbatore yang tinggi, tetapi para pendeta membayar upeti di depan dewi corona.


Dua patung Corona Devi tersebut yang pertama terbuat dari kayu cendana dan yang lainnya dari batu.


Mereka meninggalkan makanan dan persembahan lainnya, mengucapkan doa yang mendesak diakhirinya pandemi dan memandikan berhala dengan air kunyit dan susu.


“Kami pernah memiliki kuil serupa untuk penyakit cacar, cacar, dan wabah di masa lalu,” kata manajer kuil Anandbharathi K.


“Kami menyembah virus berupa dewi dan mendoakannya setiap hari untuk mengurangi dampak penyakit ini,” tambahnya.


Sementara jumlah kasus Covid-19 berkurang di sebagian besar India, negara berpenduduk 1,3 miliar itu dikejutkan oleh parahnya gelombang pandemi terbaru, yang membanjiri rumah sakit dan menyebabkan kekurangan oksigen dan obat-obatan.


“Bahkan dokter tidak dapat menangani besarnya situasi. Jadi kami beralih ke iman dan Tuhan sebagai pilihan terakhir, ”kata Anandbharathi.


Para pendeta berencana untuk melanjutkan doa mereka kepada berhala "Corona Devi" selama tujuh minggu lagi. 


(*)

Assad Terpilih Jadi Presiden 4 Periode, Rakyat Suriah Gembira
Jumat, Mei 28, 2021

On Jumat, Mei 28, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Presiden Suriah Bashar al-Assad kembali memenangi pemilihan presiden (pilpres) di negara itu. Dengan kemenangannya ini, Assad terpilih kembali untuk menjadi presiden empat periode. 

Rakyat Suriah menyambut gembira kemenangan Assad.

Ketua parlemen Suriah mengumumkan pada Kamis (27/5) waktu setempat bahwa Assad meraih 95,1 persen suara, mengalahkan dua penantangnya yang nyaris tak dikenal.

Sebelumnya dalam pilpres yang digelar tahun 2014, Assad menang dengan meraih 88 persen suara. 

Poster-poster pemilu besar yang mengagungkan Assad telah menjamur di dua pertiga wilayah negara yang berada di bawah kendalinya menjelang pemungutan suara yang digelar hari Rabu (26/5) waktu setempat.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (28/5/2021), media pemerintah Suriah melaporkan, sebelum hasil pemilu diumumkan, puluhan ribu warga Suriah berkumpul pada Kamis (27/5) di berbagai kota untuk merayakan, sembari mengibarkan bendera Suriah dan membawa foto Assad.

Kemeriahan pun terjadi setelah panitia pemilihan umum, yang dikutip oleh TV lokal, mengatakan bahwa "proses penghitungan suara telah selesai di sebagian besar provinsi Suriah".

Kantor berita Suriah, SANA melaporkan, puluhan ribu orang di provinsi Tartus berkumpul di pinggir laut kota itu untuk merayakan kemenangan Assad yang telah diperkirakan banyak orang.

Dalam tayangan yang disiarkan televisi Suriah tampak sejumlah orang menari dan menabuh genderang.

Ribuan warga Suriah lainnya berkumpul di kota pesisir Latakia dan di Lapangan Umayyah di ibu kota Damaskus, yang bersama dengan kota Tartus dan Latakia menjadi benteng rezim.

Perayaan juga berlangsung di Aleppo dan di Sweida, di selatan Suriah, tempat warga berkumpul di depan balai kota.

Pemilu diadakan pada Rabu (26/5) di daerah-daerah yang dikuasai pemerintah, dan media pemerintah menunjukkan antrean panjang terbentuk di luar tempat-tempat pemungutan suara (TPS), yang tetap buka lima jam setelah waktu penutupan yang direncanakan.

Ketua parlemen Suriah menyatakan, di negara yang dilanda perang sejak 2011 tersebut, sebanyak 14,2 juta orang pergi ke TPS di hari pemilu berlangsung. Ini merupakan tingkat partisipasi 76,64 persen. Ini merupakan pilpres kedua di negara itu sejak pecahnya perang yang telah menelan korban lebih dari 388.000 jiwa.

Source: detikcom