Opini

PARLEMEN

Sports

HUKRIM

IKLAN DI ATAS FEED
Habib Bahar Kembali Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
Rabu, Oktober 28, 2020

On Rabu, Oktober 28, 2020

Habib Bahar Kembali Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
BENTENGSUMBAR.COM - Habib Bahar bin Smith kembali terjerat kasus dugaan penganiayaan. 


Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jabar berkaitan perkara tersebut.


Informasi dihimpun, kasus dugaan penganiayaan itu dilaporkan seseorang bernama Andriansyah pada 2018 ke Polda Jabar. 


Belakangan, Direktorat Reserse Kriminal Umum, menaikkan status terlapor Bahar menjadi tersangka.


Dalam laporannya, Bahar diduga melakukan penganiayaan sesuai Pasal 170 dan atau Pasal 351 KUHPidana. 


"Betul, hasil gelar telah ditetapkan tersangka," ucap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes CH Patoppoi saat dikonfirmasi, Selasa, 27 Oktober 2020.


Usai ditetapkan sebagai tersangka, penyidik akan melakukan pemeriksaan terhadap Bahar. 


Polisi tengah meminta izin ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk memeriksa Bahar yang kini ditahan di Lapas Gunung Sindur.


"Saat ini penyidik sedang minta izin ke Ditjen PAS Kementerian Hukum dan HAM untuk periksa yang bersangkutan di Lapas Gunung Sindur," kata Patoppoi.


Habib Bahar saat ini tengah mendekam di Lapas Gunung Sindur. Dia masuk bui akibat menganiaya dua remaja. Bahar divonis hukuman tiga tahun penjara.


Sumber: detikcom

Bareskrim Bakal Periksa Refly Harun untuk Kasus ITE Gus Nur
Selasa, Oktober 27, 2020

On Selasa, Oktober 27, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Badan Reserse Kriminal Polri bakal memanggil Refly Harun untuk diperiksa terkait kasus yang menjerat Sugi Nur Raharja atau Gus Nur.

"Siapa yang merekam, mengedit, mengundang, mewawancarai, menggunggah, semua akan dipanggil dan diperiksa oleh penyidik," ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono di kantornya, Jakarta Selatan pada Selasa, 27 Oktober 2020.

Kepolisian menangkap dan menetapkan Gus Nur sebagai tersangka lantaran diduga menyebarkan ujaran kebencian soal Nahdlatul Ulama (NU). 

Pernyataan Gus Nur itu terlontar dalam wawancara bersama Refly Harun. 

Hasil wawancara tersebut pun kemudian diunggah Refly Harun di akun YouTube pribadinya.

Sejauh ini, polisi sudah memeriksa tiga orang. Mereka adalah Gus Nur, satu saksi ahli hukum pidana, dan satu saksi ahli bahasa. 

Sementara video Gus Nur yang diperkarakan, masih diperiksa di Laboratorium Forensik. 

"Tunggu, nanti kalau sudah selesai, akan periksa saksi ahli ITE," kata Awi.

Dalam perkara ini, Sugi Nur sebelumnya dilaporkan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cirebon Aziz Hakim pada 21 Oktober 2020.

Buntutnya, kepolisian menangkap Sugi Nur di rumahnya, di Malang, Jawa Timur, pada 24 Oktober 2020. 

Ia pun langsung dibawa ke Gedung Bareskrim Mabes Polri dan kini telah ditahan selama 20 hari di rutan.

Sumber: Tempo

Bareskrim Tunda Pemeriksaan Petinggi KAMI Ahmad Yani
Selasa, Oktober 27, 2020

On Selasa, Oktober 27, 2020

Bareskrim Tunda Pemeriksaan Petinggi KAMI Ahmad Yani
BENTENGSUMBAR.COM - Penyidik Bareskrim Polri menunda pemeriksaan terhadap Ketua Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia ( KAMI) Ahmad Yani. 


“Penyidik kemarin konsentrasi terkait dengan konstruksi hukumnya sehingga masih ditunda dulu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin, 26 Oktober 2020. 


Awi sebelumnya mengungkapkan, penyidik sudah menyiapkan surat panggilan untuk memeriksa Yani pada Jumat, 23 Oktober 2020.


Namun, dari keterangan terbarunya, Awi menuturkan surat panggilan itu belum dikirim. 


Yani sedianya diperiksa sebagai saksi dalam rangka pengembangan kasus tersangka Anton Permana. 


Anton Permana merupakan salah satu aktivis KAMI yang terjerat kasus dugaan penyebaran ujaran kebencian hingga membuat aksi menolak UU Cipta Kerja berujung ricuh. 


Untuk ke depannya, Awi mengungkapkan, pemeriksaan terhadap Yani tergantung keputusan penyidik. 


“Tentunya kembali lagi nanti peluangnya tergantung penyidik, dibutuhkan atau tidak sebagai saksi,” tutur dia. 


Ahmad Yani sebelumnya mengungkapkan upaya percobaan penangkapan terhadap dirinya oleh anggota Bareskrim Polri pada Senin, 19 Oktober 2020. 


Terdapat sekitar 20-an personel Bareskrim yang mendatangi kantornya. 


Ketua tim dari anggota Bareskrim yang datang kemudian mengungkapkan adanya surat perintah penangkapan terhadap Yani.


Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono membenarkan ada anggota Bareskrim yang menyambangi Ahmad Yani. 


Namun, Argo membantah adanya upaya penangkapan terhadap Yani. 


Menurutnya, kedatangan aparat Bareskrim hanya dalam rangka komunikasi. 


"Enggak ada (penangkapan), kita baru datang dengan komunikasi ngobrol-ngobrol saja," kata Argo di Polda Metro Jaya, Selasa, 20 Oktober 2020.


Sumber: Kompas

Polri Bantah Semena-mena terhadap Masyarakat yang Beda Pendapat dengan Pemerintah
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

Polri Bantah Semena-mena terhadap Masyarakat yang Beda Pendapat dengan Pemerintah
BENTENGSUMBAR.COM - Polri membantah telah bertindak semena-mena terhadap masyarakat yang berbeda pendapat dengan penguasa. 


Hal itu menanggapi survei Indikator Politik Indonesia (IPI) yang menunjukkan mayoritas responden setuju aparat semakin semena-mena terhadap masyarakat yang berbeda pandangan. 


“Jadi kita tidak semena-mena terhadap misalnya orang berbeda pendapat. Tentunya, semua ada unsurnya di UU karena memang polisi pelaksana UU,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin, 26 Oktober 2020.


Ia mengungkapkan, semua penangkapan atau penindakan yang dilakukan pihaknya berdasarkan laporan, baik tipe A maupun tipe B.  


Kemudian, untuk menjerat seseorang, polisi bertindak berdasarkan konstruksi hukum. 


“Seseorang itu bisa dijerat dalam suatu perkara pidana, tentunya terkait dengan peristiwa pidana itu sendiri, kemudian unsur-unsur apa yang telah dilanggar, dari situlah kontruksi hukumnya,” ucap dia. 


Lebih lanjut, Polri mempersilakan masyarakat yang merasa tidak puas dengan tindakan kepolisian untuk mengajukan gugatan praperadilan ke pengadilan. 


Awi mengungkapkan, mekanisme tersebut dapat ditempuh untuk menguji keabsahan tindakan penyidik.


“Jadi itu sebagai kontrol bahwasanya polisi sudah betul atau tidak, silakan dites di sana, silakan diuji,” tuturnya. 


Diberitakan, Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, berdasarkan survei yang digelar 24 hingga 30 September 2020, sebanyak 19,8 persen responden menyatakan setuju bahwa aparat semakin semena-mena. 


Kemudian, 37,9 persen responden menyatakan agak setuju. 


"Jadi, kalau saya gabung (jawaban) yang setuju dan agak setuju, itu mayoritas," ujar Burhanuddin dalam pemaparan hasil survei secara virtual, Minggu, 25 Oktober 2020. 


Sebab, jumlah responden yang menjawab kurang setuju sebesar 31,8 persen dan 4 persen menyatakan tidak setuju sama sekali. 


Dengan demikian, apabila diakumulasikan, responden yang masuk kategori tak setuju bahwa aparat semakin semena-mena terhadap masyarakat yang berbeda pandangan politik dengan penguasa, yakni sebesar 35,8 persen.


Adapun responden yang tidak menjawab atau mengaku tak tahu yakni sebesar 5,8 persen. 


Survei ini dilakukan terhadap 1.200 responden yang dipilih secara acak dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. 


Metode survei dilaksanakan melalui wawancara telepon dengan margin of error lebih kurang 2,9 persen dan tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen.


Sumber: Kompas

Perwira TNI AL Kena Begal di Kawasan Monas
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

Perwira TNI AL Kena Begal di Kawasan Monas
BENTENGSUMBAR.COM - Aksi begal di jalanan kembali marak. Kali ini seorang perwira TNI-AL berinisial PW yang sedang gowes sepeda kena begal di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin, 26 Oktober 2020 pagi. 


Aksi perampokan itu terjadi persis di bawah jembatan penyeberangan pejalan kaki, tepatnya di seberang Gedung Kementerian Dan Hak Asasi Kemanusiaan (Kemenham).


Pelaku begal berjumlah dua orang itu dikabarkan berboncengan sepeda motor kemudian memepet sepeda korban. Saat ingin menggasak tas berisi handphone tersebut, mendapat perlawanan dari korban.


Bahkan, saat itu sempat terjadi tarik-tarikan, pelaku dengan korban dari atas sepedanya. Namun usaha korban tidak dia-sia tas yang digantungkan di sepedanya berhasil diselamatkan.


Namun, korban harus membayar mahal lantaran saat mempertahankan tas tersebut, ia terjatuh ke bahu jalan hingga mengalami luka robek dibagian pelipis kiri dan memar di kepala belakang.


Melihat korban jatuh para pelaku kemudian kabur tancap gas ke arah Jalan Sudirman. Anggota Polda Metro Jaya yang sedang bertugas tak jauh dari lokasi langsung menyelamatkan korban.


Korban yang bertugas di Satuan Marinir itu kemudian dibawa petugas menggunakan ambulans menuju UGD Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) untuk mendapat pertolongan.


"Ia benar (anggota Marinir) menjadi korban percobaan perampokan. Hingga kini korban belum membuat laporan. Namun kami tetap melakukan pengecekan di TKP," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Burhanudin, kepada pos kota, Senin (26/10/2020)


Burhanudin, menjelaskan pihaknya saat ini sedang memintai keterangan saksi-saksi dilokasi kejadian. Dan meminta korban untuk segera membuat laporan di Polres Metro Jakarta Pusat. 


Sumber: Poskota.co.id

Emak-emak Dipiting dan Dijotos Lantas Dirampok Bandit
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

Emak-emak Dipiting dan Dijotos Lantas Dirampok Bandit
BENTENGSUMBAR.COM - Bandit jalanan di Jakarta kian bengis. Seorang Emak-emak pedagang kantin di Kementrian Pertanian dirampok duitnya, setelah sebelumnya dipiting dan dijotos tiga kali oleh bandit  di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) Gang Kramat, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin, 26 Oktober 2020.


Emak-emak itu tidak tingal diam, begitu pelaku lari membawa tasnya, ia mengejar sambil teriak-teriak, dan didenga warga serta petugas. Satu pelaku dikepung massa dan digelandang ke Mapolsek Pasar Minggu, yakni  Setiyo (30), asal Lahat, Sumatera Selatan.


Ia ditangkap warga setelah merampok emak-emak pedagang kantin Heni Indrawati (41), warga Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jaksel.


Kapolsek Pasar Minggu Kompol Effi Zulkfili mengatakan, kejadian tersebut terjadi sekira pukul 08.00 pagi, saat korban ingin berangkat ke kantin area kantor Kementan tempat korban berjualan.


Emak Heni saat ini melewati jembatan penyebrangan orang (atas tol) Gg. Kramat Kelurfahan Cilandak Timur, KecamatanPasar Minggu, Jaksel, disergap dari belakang dengan cara dipiting lehernya, juga dijotos.


“Tiba-tiba ada satu orang laki-laki yang saat itu dari arah belakang korban menghampiri korban dan langsung memiting leher korban dari belakang sambil melakukan pemukulan ke arah mulut korban sebanyak 3 kali,” ucap Kapolsek Kompol Effi Zulkfili  dikonfirmasi.


Menurutnya, kemudian tas korban bewarna biru berisi dompet uang ratusan ribu rupiah dan HP  digasak. Pelaku langsung berlari ke arah bawah jembatan. Melihat pelaku yang berlari sambil membawa tas milik korban.


Saat itu korban spontan mengejar pelaku sambil berteriak.  “Jambert- Jambret.. Jambret!”  Teriakan itu didengar oleh warga sekitar dan petugas yang sedang berpatroli.


Petugas PPSU Kelurahan Cilandak Timur, yang melihat pun langsung mengepung pelaku seorang diri dan sempat diamuk massa, Petugas Polsek Pasar Minggu pun langsung menggiringnya ke Mapolsek.


“Pelaku melakukan pencurian dengan kekerasan maka kami jerat Pasal 365 KUHP dengan ancaman sembilan tahun penjara,” kata Kapolsek Kompol Effi Zulkfili.


Sumber: Poskota.co.id

Polisi Persilahkan Sugi Nur Gugat Penangkapannya
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mempersilahkan Sugi Nur Raharja alias Gus Nur untuk menempuh jalur prapreadilan jika tidak setuju dengan penangkapan yang dilakukan oleh tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

"Apabila tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Kepolisian di Pasal 77 KUHAP telah diatur di sana bahwasanya ada ruang praperadilan jika tidak setuju dengan penangkapan," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigje Awi Setiyono di Mabes Polri, Senin, 26 Oktober 2020.

Awi mempersilahkan baik Gus Nur yang telah ditetapkan sebagai tersangka maupun pihak keluarga dan kuasa hukumnya untuk mempraperadilankan pihak Kepolisian. 

Karena menurut Awi, selama pihak Kepolisian profesional dalam mengambil langkah penegakan hukum, termasuk melakukan penangkapan terhadap Gus Nur.

Kemudian, Awi menegaskan, permohonan penangguhan penahanan merupakan hak prerogatif dan objektifitas dari penyidik dengan mempertimbangkan beberapa aspek.

Sampai saat ini, Awi mengatakan, sampai saat ini tim penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi, dua diantaranya merupakan saksi ahli dan satu ahli hukum.

"Termasuk tersangka menjadi 4 orang (saksi yang telah diperiksa)," tandas Awi.

Sugi Nur Raharja alias Gus Nur ditangkap oleh tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, di kawasan Malang, Jawa Timur, Sabtu dinihari, 24 Oktober 2020.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi menyampaikan, jajaranya menangkap Gus Nur di kediamanya di Jalan Pakis, Malang. 

Slamet mengatakan, Gus Nur telah ditetapkan sebagai tersangka terhadap kasus dugaan ujaran kebencian. 

Sebelumnya, Gus Nur dilaporkan ke Bareskrim oleh PCNU Cirebon, Rabu, 21 Oktober 2020. Ketua PCNU Cirebon, Aziz Hakim mengatakan, pihaknya terpaksa melaporkan Gus Nur lantaran perbuatannya menghina NU telah dilakukan berkali-kali.

Aziz menjelaskan, pernyataan Gus Nus yang menyinggung itu lantaran mengibaratkan NU sebagai bus umum, dimana sopir dan kondekturnya mabuk sehingga berjalan ugal-ugalan.

Kemudian isi bus alias penumpangnya adalah PKI, liberal dan sekuler.

Hal itu disampaikan oleh Gus Nur dalam sebuah wawancara dengan Refly Harun di chanel youtube Refly. Laporan Aziz diterima oleh Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri dengan nomor laporan LP/b/02596/X/2020/Bareskrim tertanggal 21 Oktober 2020.

Adapun Gus Nur disangkakan dengan pasal 27 ayat 3 UU ITE pasal 28 ayat 2 UU ITE Jo 310 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun.

Sumber: RMOL

5 Perusuh dalam Demo Tolak Omnibus Law di Jember Ditangkap
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

5 Perusuh dalam Demo Tolak Omnibus Law di Jember Ditangkap
BENTENGSUMBAR.COM - Polisi mengamankan 5 perusuh dalam demo menolak Omnibus Law yang digelar Aliansi Jember Menggugat (AJM) di DPRD Jember. Mereka terdiri dari 2 pelajar, 2 pekerja swasta dan seorang mahasiswa.


"Dari tindakan anarkis saat aksi demo dari AJM itu, kami menangkap 5 orang pelaku. Yakni 2 pelajar, 2 pekerja swasta dan 1 orang mahasiswa," kata Wakapolres Jember Kompol Windy Syafuta saat rilis di mapolres, Minggu, 25 Oktober 2020.


Lima pelaku itu diamankan polisi, setelah diyakini melalui rekaman video dan dari proses identifikasi selama pengawasan kegiatan unjuk rasa (unras), mereka melakukan aksi anarkis. Mereka melempar batu dan diduga petasan, melakukan perusakan fasilitas umum dan pelemparan ke arah polisi.


"Yakni pelaku ini melakukan pelemparan ke arah gedung, melempar kaca, melempar petasan ke arah petugas, juga mengancam rekan-rekan media," jelasnya.


Terkait proses lanjutan setelah penangkapan lima pelaku ini, akan dilakukan tahap penyelidikan dengan memanggil korlap aksi. 


"Yang nantinya akan kami lakukan saat jam kerja, selama tiga hari ke depan ini. Yang nantinya sebagai saksi karena yang ada dalam aksi (unras tersebut) yang menyampaikan bahwa aksi itu (unras AJM) adalah aksi damai," katanya.


Untuk menyelidiki aksi anarkis saat unras itu, kata Windy, nantinya akan didalami apakah ada niat awal dari para pelaku untuk berbuat ricuh.


"Karena saat ini masih kesimpulan awal. Terkait kesimpulan mendalam masih dalam proses. Karena dari awal aksi Unras itu adalah aksi damai dan upaya kami (kepolisian) sudah melakukan pencegahan-pencegahan," ucapnya.


"Tidak menutup kemungkinan akan ada pelaku lainnya yang kami amankan. Karena saat ini masih proses penyelidikan mendalam, dan belum kami ambil kesimpulan. Aktor lain masih kami dalami, termasuk juga peran dari masing-masing pelaku," sambung Windy.


Terkait identitas pelaku yang sudah ditangkap, di antaranya AFM (17) warga Rambipuji, THS warga Kaliwates, AS warga kebonsari, MRE dan MAS. Lima pelaku terancam dengan Pasal 170, Pasal 214 dan Pasal 160 KUHP.


"Dengan ancaman hukuman antara 7 tahun dan maksimal 8 tahun penjara, karena terkait tentang perusakan terhadap barang," pungkasnya.


Sumber: detikcom

Emak Perakit 'Bom' Bola Karet Penggagalan Pelantikan Jokowi Dibui 8,5 Bulan
Minggu, Oktober 25, 2020

On Minggu, Oktober 25, 2020

Emak Perakit 'Bom' Bola Karet Penggagalan Pelantikan Jokowi Dibui 8,5 Bulan
BENTENGSUMBAR.COM - Emak-emak Firdaus Ahmad Bawazier (58) dihukum 8 bulan 15 hari oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim). Vonis itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta karena Firdaus terbukti ikut merakit 'bom' bola karet guna melakukan penggagalan pelantikan Jokowi.


Hal itu tertuang dalam website Mahkamah Agung (MA), Minggu, 25 Oktober 2020. Kasus bermula saat Firdaus ikut membantu Samsul Huda merakit 'bom' bola karet. 'Bom' bola karet itu dipersiapkan untuk menyerang polisi dalam upaya menggagalkan pelantikan presiden pada 20 Oktober 2019.


"Setelah saya foto itu, saya buat guyonan 'ini loh aku di tempat 'Taliban'. Taliban itu maksudnya tali-ban, talinya ban, he-he-he...," kata Firdaus saat diwawancarai detikcom pada 22 Oktober 2019.


'Bom' bola karet itu dirakit di kontrakan Samsul di Depok. Firdaus mengaku tidak terlalu banyak membantu membuat bola karet tersebut. Sebab, ban dalam yang tebal membuatnya kesusahan untuk mengguntingnya.


"Saya datang ke situ ada karet, ada satu plastik kelereng, ada bola-bola dari karet gelang ada 3 kecil, 2 besar itu ada. Terus dia (Samsul) bilang ini (ban dalam) nanti digunting-gunting terus nanti dibuntel gini, udah," papar Firdaus.


"Dia (Samsul) menargetkan sampai tanggal 19 Oktober itu karena 17 Oktober ada (demo) besar-besaran. Ternyata 17 Oktober nggak ada ya, 18-19 Oktober juga nggak ada apa-apa," ungkapnya.


Firdaus ditangkap bersama Edawati dan Samsul di rumahnya di kawasan Jakarta Timur pada 19 Oktober 2019. Di rumah itu, polisi menyita mobil milik Edawati yang di dalamnya berisi sejumlah peluru bola karet. Atas perbuatannya, Firdaus harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum.


Pada 7 Juli 2020, PN Jaktim menyatakan Firdaus terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana permufakatan Jahat untuk melakukan salah satu kejahatan membuat, menerima, berusaha memperoleh denda dari perkakas-perkakas yang diketahui atau selayaknya harus diduga bahwa diperuntukkan atau kalau ada kesempatan akan diperuntukkan untuk menimbulkan ledakan yang membahayakan bagi nyawa orang atau menimbulkan bahaya bahaya umum bagi barang.


Majelis PN Jaktim menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 8 bulan dan 15 hari. Atas vonis itu, jaksa mengajukan banding. Apa kata majelis tinggi?


"Menerima permintaan banding yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum tersebut. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Tanggal 02 Juli 2020 Nomor 255/Pid.B/2020/PN.Jkt.Tim," ujar majelis pada 29 September 2020.


Duduk sebagai ketua majelis Gunawan dengan anggota James Butar Butar dan Iersyaf. Selain Firdaus, ikut diadili 5 terdakwa lainnya.


Sumber: detikcom

Gus Nur Ajukan Penangguhan Penahanan Kasus Hina NU
Minggu, Oktober 25, 2020

On Minggu, Oktober 25, 2020

Gus Nur Ajukan Penangguhan Penahanan Kasus Hina NU
BENTENGSUMBAR.COM - Tim kuasa hukum Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur akan mengajukan penangguhan penahanan kepada polisi. Pengajuan itu dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan dan memutuskan menahan Gus Nur, hingga 20 hari ke depan di Rutan Bareskrim Polri.


"Upaya hukum yang kami lakukan saat ini adalah penangguhan penahanan kepada Bareskrim Polri atas penahanan Gus Nur," kata Andry Ermawan, koordinator kuasa hukum Gus Nur kepada detikcom, Minggu, 25 Oktober 2020.


"Tim PH (penasihat hukum) Gus Nur di Jakarta sedang proses terkait hal itu hari ini," imbuh Andry.


Menurut Andry, alasan permintaan penangguhan penahanan karena Gus Nur merupakan tulang punggung keluarga. Tak hanya itu, Gus Nur juga merupakan pengasuh pondok pesantren yang bertanggung jawab atas kelangsungan para santrinya.


"Yang jelas sebagai tulang punggung keluarga dan juga untuk kelangsungan pondok pesantren milik Gus Nur, yang banyak santrinya. Masih ada program pembangunan 1.000 masjid, yang sekarang baru selesai hampir 100 masjid sudah dibangun Gus Nur, di beberapa tempat oleh Gus Nur dan juga bedah rumah untuk para kaum dhuafa," terangnya.


Andry juga meyakinkan, Gus Nur tidak akan melarikan diri saat ditangguhkan penahanannya. Sebab, Gus Nur selama ini juga dikenal kooperatif dalam menghadapi proses hukumnya.


"Gus nur tidak akan melarikan diri dan akan kooperatif menghadapi proses hukum ini," imbuh Andry.


Sebelumnya diberitakan, Gus Nur ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dugaan ujaran kebencian terkait perkataan yang diduga menghina Nahdlatul Ulama (NU). Setelah menjalani pemeriksaan, penyidik memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap Gus Nur.


"Terhadap tersangka dilakukan penahanan," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi saat dihubungi detikcom.


Penahanan terhadap Gus Nur dilakukan sampai 20 hari ke depan di Rutan Bareskrim Polri. Dia sebelumnya sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana ujaran kebencian.


Sumber: detikcom

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *