PILIHAN REDAKSI

Ekspor CPO kembali Dibuka, Andre Rosiade: Solusi Menyelamatkan Petani

BENTENGSUMBAR.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membuka kembali ekspor sawit mentah (CPO) dan minyak goreng mulai Senin ...

Advertorial

Masjid Agung, Salah Satu Destinasi Wisata Religi di Dharmasraya
Selasa, Mei 10, 2022

On Selasa, Mei 10, 2022

DHARMASRAYA adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Pada kawasan ini dahulunya pernah menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan kerajaan Melayu. Ibu kota Kabupaten Dharmasraya adalah Pulau Punjung. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 38 Tahun 2003, dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Sijunjung. Kabupaten Dharmasraya dikenal juga dengan sebutan Ranah Cati Nan Tigo.

Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu dari 3 kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 38 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di provinsi Sumatra Barat, dan diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004.

Secara topografi, daerah Kabupaten Dharmasraya bervariasi antara berbukit, bergelombang, dan datar dengan variasi ketinggian dari 100 m - 1.500 m di atas permukaan laut. Kabupaten Dharmasraya berkembang sebagai salah satu penghasil kelapa sawit atau buah pasir menurut istilah setempat. Di samping itu, kabupaten ini juga merupakan produsen berbagai jenis tanaman keras lainnya, seperti kulit manis, karet, kelapa, gambir, kopi, cokelat, cengkih, dan pinang. Lahan perkebunan di sana lebih didominasi karet dan sawit. Penghasil kelapa sawit paling banyak di kabupaten ini adalah Kecamatan Sungai Rumbai.

Selain itu terdapat potensi tambang yang hingga detik ini belum tergarap, yakni batu bara, batu kapur, pasir kuarsa, emas, lempung kuarsit, dan sebagainya. Kabupaten ini masih baru dan masih dalam tahap mengembangkan diri dengan membuka peluang investasi seluas-luasnya. Ditunjang dengan posisi strategisnya di Sumatra (dilintasi Jalur Lintas Tengah Sumatra sepanjang 100 km), maka Dharmasraya cepat menjadi kawasan yang maju dan tumbuh sebagai wilayah perdagangan dan jasa.

Tidak hanya dalam segi Ekonomi,Dharmasraya juga memiliki destinasi wisata seperti peninggalam di masa Hindu Budha yang berbaur sejarah serta wisata-wisata alam yang bahkan belum banyak orang tau dan belum ter-ekpost seperti air terjun di sungai rumbai dan pulau punjung.
Berikut beberapa objek wisata di Dharmasraya namun lebih ke sejarah nya seperti Objek Situs/Benda Cagar Budaya

Sunting
Prasasti Padang Roco
Situs Candi Pulau Sawah
Rumah Gadang Siguntur
Rumah Gadang Pulau Punjung
Rumah Gadang Padang Laweh
Rumah Gadang Koto Salak
Kerajaan Batu Kangkung

Namun,sekarang ini Dharmasraya memiliki satu tempat wisata bahkan banyak di kunjungi oleh masyarakat apa lagi kaum milenial yaitu masjid Agung Dharmasraya. Kabupaten Dharmasraya memiliki Masjid Agung,Masjid yang dibangun di atas lahan 67.193 meter itu dirancang untuk menjadi pusat peradaban agama Islam di daerah itu. 

Masjid dengan dua lantai kemudian berdiri di Lintas Sumatera, tepatnya di Nagari Gunung Medan, Kecamatan Sitiung diperkirakan dapat menampung 13 ribu jemaah. 

Masjid Agung memiliki arsitektur yang begitu elok dimana memiliki empat kubah dan empat menara. Jumlah itu melambangkan filosofi adat Minangkabau yaitu 'Tau Jo Nan Ampek'. Tau Jo Nan Ampek itu sendiri adalah, kato mandaki, kato mandata, kato manurun, dan kato malareng. Makna kata itu ialah seseorang harus pandai menjaga sikap kepada yang lebih tua, sebaya, dan yang lebih kecil. Dengan arsitektur seperti itu banyak menarik pengunjung untuk singgah,dengan lahan luas dan taman-taman di depan masjid menjadi tempat peristirahatan orang-orang,masjid ini sangat memberikan kenyaman bagi pengunjung,dengan ala-ala taman yang di beground kan oleh masjid.

Banyak wisatawan sengaja ke sana untuk melihat masjid agung ini,layak nya masjid raya Padang yang sudah mendunia yang sudah menjadi ikon nya Sumatera Barat. Namun tidak kalah dengan masjid agung ini dengan gaya kalau di lihat seperti orang sujud di tambah tempat luas dan di beri tempat duduk untuk pengunjung yang datang. Pasca lebaran saat ini banyak masyarakat mengunjungi masjid ini dengan ala-ala arabian atau habibi seperti trand saat ini,dan tidak hanya pengunjung untuk berwisata namun masyarakat Dharmasraya banyak menggunakan Masjid Agung ini untuk beground foto prewedding nya bahkan setelah akad mereka akan berombongan untuk foto bersama di Masjid Agung ini. 

Dengan lokasi yang cukup strategis di lintas Sumatera menjadikan salah satu objek wisata religi baru di Kabupaten Dharmasraya ini.

Masjid Agung juga menjadi penopang utama seluruh masjid dan surau yang berada di Dharmasraya. Menjadi tempat untuk menyiapkan generasi Dharmasraya yang religi.

Bahkan, untuk mempertahankan nilai  setiap proyek infrastruktur yang sedang dan akan dikerjakan di daerah itu, pemerintah setempat terus memantau perkembangan pembangunannya. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Jika dilihat dari atas, bangunannya berbentuk orang sujud. Terdapat empat kubah yang menghiasi atap bangunan dan empat menara di sekelilingnya. Jumlah itu melambangkan filosofi adat Minangkabau, yaitu “Tau Jo Nan Ampek“.

Upaya itu dilakukan, selain menarik jemaah dari wilayah setempat, juga dapat menjadi perhatian dan daya tarik bagi umat Muslim dari luar Dharmasraya.

Program yang dibuat nantinya memperhatikan kecenderungan generasi milenial sehingga mereka lebih antusias mengikuti kegiatan keagamaan.

Dibangunnya Masjid Agung Dharmasraya merupakan langkah strategis yang multi efek. Pembangunan kompleks Islamic Center tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Dharmasraya.

Setelah Masjid Agung Dharmasraya rampung, area sekitar masjid akan dilengkapi SPBU, mini market, dan rest area. Hal itu mengingat lokasinya yang berada persis di pinggir jalan Lintas Sumatra.Masjid Agung Dharmasraya.

Ke depan diharapkan asjid agung akan menjadi ikon baru Dharmasraya. Menjadi Islamic Center untuk pemberdayaan umat dan menjadi penopang utama seluruh masjid dan surau di Dharmasraya serta peningkatan perekonomian. Kabupaten Dharmasraya secara terus menerus memberdayakan usaha kecil dan menengah, mempersiapkan pengolahan produk siap saji dalam bentuk kemasan dan akan dijadikan sebagai andalan dalam rangka memanfaatkan peluang ekonomi di seputar Islamic Center. 

*Penulis: Audia Nesty, Mahasiswi Universitas Andalas Fakultas Ilmu Budaya.

Mengenal Menhir Belubus di Nagari Sungai Talang Kabupaten Lima Puluh Kota
Minggu, April 24, 2022

On Minggu, April 24, 2022

KEBUDAYAAM megalitik merupakan istilah untuk menyebutkan kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar.

Mega berarti besar dan lithos berarti batu, kebudayaan megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang telah meninggal dan mempunyai pengaruh kuat terhadap kesejahteraan dan kesuburan. 

Objek-objek batu yang berukuran kecil, dan bahan-bahan seperti kayu harus dimasukkan ke dalam klasifikasi megalitik bila benda-benda itu dipergunakan untuk tujuan sakral tertentu, yakni pemujaan kepada arwah nenek moyang (Soejono, 1990: 205).

Berdasarkan pembagian zamannya masa megalitik diperkirakan berada pada kisaran masa neolitik akhir dan berkembang ke masa perundagian, megalitik terbagi dua yaitu, masa megalitik tua yang diperkirakan dari 2500-1500 sebelum masehi bangunan yang identiknya berupa menhir, undak batu serta simbolis monumental pada era neolitik dan megalitik muda (Soejono, 1981).

Persebaran kebudayaan megalitik masuk ke Indonesia dibawa oleh Ras Kaukasia yang datang dari daerah Mediterania melalui Benua Asia bagian selatan (Prasetyo, 2015). Persebaran megalitik memberikan gambaran yang sangat luas dari Sumatera sampai Papua. 

Sumatera menjadi salah satu pulau yang memiliki situs megalitik paling banyak diantara semua pulau, mulai dari Sumatera bagian Utara, Nias, Sumatera bagian Barat, sumatera bagian Tengah, Sumatera bagian Selatan. Semua situs yang tersebar memiliki berbagai bentuk yang memiliki kesamaan dan mempunyai perbedaan sebagai tinggalan arkeologi (Budisantosa, 2012). 

Beberapa dari tinggalan megalitik beberapa ditemukan memiliki motif hias baik dalam posisi tegak maupun dalam posisi rebah. 

Masing-masing posisi megalit memiliki keunikan masing-masing yang dapat ditemukan di berbagai wilayah. Dominik Bonatz dkk mengelompokkan dalam dua tipe, yaitu tipe kerucut dan tipe silinder (Bonatz al, 2006).

Tinggalan arkeologi di dataran Tinggi Sumatera Barat, Khusunya Kabupaten Lima Puluh Kota yang masih terletak dalam gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera.

Kabupaten Lima puluh Kota sangat kaya akan tinggalan budaya masa prasejarah khususnya tinggalan megalit yang berupa menhir atau biasa disebut dengan batu tegak. 

Menhir berasal dari kata Breton yaitu ‘men’ yang berarti batu dan ‘hir’ yang berarti berdiri dan secara keseluruhan berarti batu berdiri (Soejono, 1981c).

Jadi, menhir berarti batu tegak, yaitu sebuah batu panjang yang didirikan tegak, berfungsi sebagai batu peringatan dalam hubungan dengan pemujaan arwah leluhur. 

Dalam pengertian vademekum, menhir adalah batu tegak berlatar tradisi megalitik yang merupakan objek pemujaan. Umumnya ditancapkan dalam posisi tegak, namun demikian ada pula yang terlentang (Junus Satrio Atmojo, 1999: 25).

Situs-situs yang terdapat dari Kabupaten Lima Puluh Kota, contohnya situs menhir di Mahat, situs Menhir Guguak, situs Menhir Sungai Talang, situs Menhir Belubus, situs Menhir Talago, situs Menhir Kubang. 

Menhir dalam budaya megalitik disimpulkan memiliki fungsi utama berkaitan pemujaan arwah leluhur, beberapa diantaranya dengan bentuk yang sudah diolah lebih lanjut berkaitan dengan kegiatan kubur atau penguburan (Sukendar, 2013). 

Dari banyaknya situ-situs menhir di Sumatera Barat tersebut, salah satunya adalah Situs Menhir Belubus yang berada di Nagari Sungai Talang, Kabupaten Lima Puluh Kota. 

Nagari Sungai Talang merupakan satu dari lima nagari yang ada di Kecamatan guguak yang memiliki luas wilayah 13 km² yang merupakan nagari dengan luas wilayah nomor empat terbesar setelah Nagari Guguak VIII Koto, Nagari VII Koto Talago dan Nagari Kubang. Nagari Sungai Talang terdiri dari lima jorong. 

Jorong Belubus merupakan jorong yang paling luas di wilayah Nagari Sungai Talang.

Dari yang kita ketahui bahwa menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditata seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah.

Pada situs ini terdapat kurang lebih 16 menhir yang masih berdiri dengan berbagai bentuk dan ukuran. Menhir daerah ini mempunyai bentuk khas yang menjadi menhir-menhir di Sumatera Barat pada umumnya.

Peninggalan megalitik ini merupakan data historis dan arkeologis untuk mengungkapkan kehidupan nenek moyang karena memiliki corak dan gaya tersendiri, terutama lengkungnya yang berbentuk tanduk kerbau. 

Namun, bukan tidak pernah terjadi pemugaran di situs ini, pemugaran dilakukan oleh proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala Sumatera Barat pada tahun anggaran 1983/1984 dengan kegiatan pembersihan dan penertiban situs, pengokohan menhir, pembuatan jalan setapak serta pertamanan (Suparyanti, 2016).

Menhir atau batu tegak secara umum mempunyai tiga fungsi, yaitu batu tegak yang berfungsi dalam upacara penguburan, batu tega yang berfungsi dalam upacara pemujaan dan batu tegak yang tidak mempunyai fungsi religius (Sukendar, 1983: 100, Bidi Wiyana, 2008: 311). 

Menhir Belubus ini memiliki fungsi yang tidak hanya untuk pemujaan arwah nenek moyang, atau untuk upacara penguburan dan tanda kubur (makam) prasejarah, tetapi juga pada masa sekarang dimanfaatkan sebagai lokasi wisata budaya dan objek penelitian sejarah bagi pelajar, mahasiswa dan Lembaga riset sejarah dan arkeologi.

Menhir Belubus mengarah ke arah Gunung Sago itu dikarenakan ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat. 

Seperti yang telah diketahui nenek moyang dahulu sebelum mengenal agama baik itu islam, hindu, budha menganut yang namanya kepercayaan animisme dan dinamisme. 

Nenek moyang dahulu percaya bahwa arwah mereka setelah meninggal akan berada dan menetap di dalam menhir (Suprayanti, 2016). 

Adanya kecenderungan keletakan menhir di atas bukit merefleksikan adanya penghargaan tertentu dari masyarakat untuk menghormati tempat-tempat yang tinggi, dan arah hadap menhir yang cenderung ke Gunung Sago merefleksikan gunung tersebut merupakan tempat yang dianggap suci.

*Ditulis Oleh: Sintia Hermayulita, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Catatan Novri Hendri: Irwan Basir Dirimu Bagaikan Malaikat Turun Ke Bumi
Sabtu, April 23, 2022

On Sabtu, April 23, 2022

IRWAN Basir dirimu bagaikan malaikat turun kebumi. Pengorbanan sungguh berarti kepedulianmu sangat tinggi, walau letih mendera diri

Dirimu rela berkorban demi warga, bhatin menjerit ada yang berduka. Rela berkorban waktu dan harta menghapus luka dan derita

Dirimu tak kenal lelah, tak tega melihat warga susah. Saat mendengar keluh kesah, kau membantu turun kebawah

Dirimu hadir saat warga kesusahan, menjenguk saat kemalangan. Tak perduli panas dan hujan, demi warga rela berkorban

Dirimu inspirasi anak nagari, tulus dan ikhlas berbagi. Membangun negeri dengan hati tak berharap balasan dan dipuji.

Puisi yang dipersembahkan kepada Irwan Basir, SH, MH, Datuk Rajo Alam, tak akan mampu mengganti kepeduliannya selama ini. Tak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan kepada warga. Tak kan bisa membayar jasanya berkorban waktu dan harta. Hanya, sebagai balas jasa atas kepeduliannya, saat hadir ditengah warga mengalami kesusahaan.

Ketua LPM Kota Padang ini, sangat menginspirasi anak nagari. Agar selalu peduli sesama agar mewakafkan sebagian harta yang dilimpahkan yang kuasa. Karena sebagian reseki kita ada hak mereka jangan takut miskin dan jangan takut susah. Karena, reseki yang kita terima diberkahi Allah SWT. Prinsip Irwan Basir semoga menjadi pedoman bagi pemimpin negeri ini mendapat berkah dan jabatan karena rakyat.

Karena pemimpin ada karena rakyat. Duduk dikursi karena suara rakyat mereka tak akan ada apa apanya tanpa rakyat. Lalu, kenapa saat memegang jabatan melupakan rakyat. Jangan jadikan rakyat sekedar batu loncatan untuk meraih jabatan dan kekuasaan. Janganlah bersenang diatas penderitaan rakyat, jabatan dan kekuasaan itu hanya sementara. Tak akan kekal selamanya.

Beda dengan apa yang dilakukan Irwan Basir. Dan, wajar apa yang dilakukannya menjadi inspirasi warga. Warga tak pernah menolong Irwan Basir, warga tak pernah memberikan suara kepadanya untuk mendapat jabatan ataupun kekuasaan. Tapi, Irwan Basir peduli warga hadir saat warga kesusahaan dan datang saat warga kemalangan.

Sementara mereka diperjuangan untuk meraih kursi empuk, seakan tak perduli. Suara mereka seakan terbuang percuma. Karena setelah duduk dikursi empuk lupa sama warga. Kalaupun datang, itupun saat tertentu saja dan menarik perhatian warga. Sembari berharap suara mereka kalaupun berbagi, itupun dan pokir dan aspirasi. Bahkan, dana Baznas dibagi seakan dari mereka sendiri.

Lain dilakukan Irwan Basir. Datang saat warga berduka. Saat Covid19 melanda, Irwan Basir terdepan dalam memberikan bantuan. Puluhan ton beras dibagikan. Ratusan juga uang disalurkan itu bukan dana pokir, aspirasi ataupun Baznas. Uang pribadi dan hasil keringat sendiri. Bahkan, siang malam berbagi. Tiada lelah tanpa henti dan, dilakukan dengan tulus, ikhlas tanpa balasan.

Bagaikan air mengalir, apa yang dilakukan Irwan Basir sangat menginspirasi. Semoga menjadi tauladan bagi anak negeri. Termasuk pemimpin di negeri ini. Kalaupun ada niat warga membalas kebaikan Irwan Basir, itu soal nanti. Lama menabur benih waktu yang panjang menyemai bibit. Tentu akan ada waktu untuk menuai hanya waktu yang bisa menjawab. Bersambung

*Ditulis Oleh: Novri Hendri, S. Sos, Owner Media Investigasi, Pengurus PWI Sumbar, Wartawan Utama, dan Seniman Pencipta Lagu.

Wow!! Mitos Orang Minang Ternyata Faktanya Diluar Dugaan
Sabtu, April 23, 2022

On Sabtu, April 23, 2022

MINANGKABAU adalah salah satu suku yang terkenal di seluruh penjuru tanah air karena orang Minang biasanya ada dari Sabang sampai Merauke, dari kota kecil sampai kota besar. 

Eits, tapi jangan salah, loh! Minangkabau ini gak cuma orang Padang, biasanya kalian hanya menyebutkan “orang Padang ya? Padangnya dimana?” 

Padahal, Padang itu hanya ibu kota provinsi Sumatera Barat, sedangkan Minangkabau ini gak cuma dari Padang saja, ada dari Dharmasraya, Pesisir Selatan, Sawahlunto, Padang Panjang, Solok, Padang Pariaman, Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, dan lain-lain sebagainya. 

Nah, kehadiran suku minang di berbagai penjuru tanah air ini sebenarnya menghadirkan cukup banyak pandangan negatif tentang Suku Minang. Inilah beberapa mitos orang Minang yang dilansir dari beberapa sumber:

1. Pelit

Pandangan negatif ini berkembang turun temurun dan entah dari kapan hal negatif ini tumbuh di masyarakat Indonesia. Padahal urusan pelit atau enggak ini tergantung individunya, mau orang Minang, orang Jawa, Sunda, Batak, Ambon dan lain-lain kalau pelit ya pelit. Gak memandang sukunya.

Faktanya, orang Minang adalah orang yang selektif apalagi dalam menggunakan uang. Kebanyakan orang minang adalah pedagang, maka kalau mereka menghitung skala prioritasnya dalam penggunaan uang itu adalah sesuatu yang wajar ya. 

Bahkan ternyata, banyak perantau minang ini ikut membantu dalam pembangunan di kampung halamannya. 

Orang Minang ini punya rasa sosial yang sangat tinggi, loh! Mereka yang sukses gak akan ragu memberi modal usaha untuk keluarga yang masih kekurangan atau menganggur. Jadi, kalau yang kalian temui adalah orang pelit, ya itu apesnya kalian saja.

2. Menikah dengan satu suku

Keadaan menikah dengan suku yang sama sebenarnya bukan persoalan Suku Minang saja, bahkan Suku Jawa lebih konsen dalam hal ini, loh! Banyak hubungan yang kandas di tengah jalan karena persamaan suku dan yang lebih parahnya karena gak direstui orang tua. Sedih banget ya. 

Nah, banyak orang berprasangka kalau orang Minang ini melarang anaknya menikah dengan orang yang bersuku lain. Padahal yang sebenarnya dianjurkan memang harus menikah dengan orang yang bersuku lain.

Tetapi faktanya, Memang semua orang Minang melarang anaknya menikah dengan orang dari suku yang sama, kalian bisa lihat kalau banyak orang Minang menikah dengan orang bersuku Sunda, Jawa bahkan dari luar negeri seperti Amerika. 

Kandasnya hubungan dari perbedaan suku ini bisa jadi karena beberapa orang tua tidak mau jauh dengan anaknya melalui pernikahan ini, itu semua karena orang tua memang tidak ingin jauh-jauh dari anaknya yang tersayang. 

3. Dijodohkan

Perjodohan ini bukan masalah satu suku, ya. Dari banyak suku pun sudah jelas banyak orang yang dijodohkan oleh keluarganya dengan pilihan mereka yang sesuai secara finansial, pendidikan, agama dan perilakunya. 

Hal ini bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari bagaimana hubungan orang tua dengan kawannya pun bisa menjadi salah satu faktor adanya perjodohan, atau perjanjian bisnis semisal yang bisa kita lihat di Drama Korea Selatan. Bukan hanya urusan suku kalau hanya masalah perjodohan ya.

Faktanya, perjodohan ini gak begitu ramai ditemui dari orang Minang, apalagi melihat perkembangan zaman yang mana perjodohan dianggap cara kuno untuk mendapatkan pasangan hidup. 

Orang tua di Minang nyatanya banyak yang memberi kebebasan untuk anaknya mencari pasangan hidup sendiri meskipun masih memberi kriteria yang cocok dengan kultur keluarga.

Jadi, buang jauh-jauh pikiran negatif itu, ya.

4. Cerewet

Watak orang Sumatera biasa dikenal keras dan tegas, dimana kalau ada sesuatu yang harus diucapkan, mereka memilih gak bertele-tele, bicara apa adanya adalah prinsip yang ada disana. Kalau urusan cerewet sih bisa ada di suku mana pun.

Faktanya, kerasnya kehidupan yang dilalui orang Minang ini membentuk pribadi yang tegas dan gak perlu bertele-tele. Jadi jangan sampai salah kaprah menangkap ketegasan sebagai suatu sikap yang kasar dan cerewet ya.

5. Perantau

Orang Minang memang sebagian besar merantau karena faktor ekonomi yang seenggaknya bisa memberi lapangan pekerjaan untuk mereka yang ada di kampung halaman. Cukup berat memang keputusan mencari nafkah di luar kota bahkan luar pulau Sumatera.

Kalian pasti sudah tahu kalau sebagian besar orang Minang ini memilih berdagang sebagai profesi utamanya.

Faktanya memang sebagian orang Minang yang kalian jumpai memiliki usaha, seperti rumah makan masakan Minang atau lebih populer Rumah Makan Padang dan berjualan pakaian atau produk fashion lainnya. 

Sering banget, kan, kita menjumpai mereka berjualan di pusat grosir seperti Tanah Abang. Bahkan, 70% penjual pakaian disana adalah orang Minang.

6. Pria Minang Dibeli

Nah, ini yang paling ramai sampai kadang membuat orang tua melarang anaknya menikah dengan pria Minang karena mitos yang satu ini. Katanya, untuk menikahi pria Minang maka harus dibeli dengan harga yang cukup mahal bahkan sampai ratusan juta, loh!

Faktanya, gak semua pria Minang ini dibeli, apalagi di zaman modern ini. Hanya pria di Pariaman yang masih dibeli sampai saat ini. Eitsss, tapi jangan salah paham dulu, ya!

Sebenarnya ini adalah proses adat istiadat yang berlaku pada masyarakat Pariaman, dimana mempelai wanita memberikan sejumlah uang yang jumlahnya sudah dimusyawarahkan dulu oleh kedua belah pihak. 

Uang pemberian ini disebut uang jemputan yang tujuan sebagai bekal mempelai pria dalam membangun rumah tangga dan sebagiannya lagi untuk biaya resepsi pernikahan atau biasa disebut Baralek. 

Nah, uang jemputan ini biasanya dilihat dari profesi dan penghasilan jumlahnya, pria denan profesi populer seperti polisi, tentara atau dokter bisa mendapat uang jemputan dikisaran Rp50 juta sampai Rp150 juta. 

Setiap orang berbeda gak peduli suku, agama ataupun ras. Semua hal di atas bisa terjadi pada setiap orang, bahkan adat membeli mempelai untuk prosesi adat. Yuk, pelan-pelan hilangan sinisme pada Suku Minangkabau ini!

*Ditulis Oleh: Racheal Rahayu Hendriyani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand

Irwan Basir, Tampek Balinduang Kapanehan, Tampek Bataduah Kahujanan
Jumat, April 22, 2022

On Jumat, April 22, 2022

MUNGKIN Irwan Basir, SH, MM Datuk Rajo Alam, tak berkehendak. Apa yang dilakukan selama ini membantu warga tulus tanpa berharap balasan. Tapi, jika warga berkehendak, karena sudah tahu 'lecut tangannya' selama ini.

Apakah  Irwan Basir, bakal memenuhi keinginan warga untuk ikut bertarung pada Pilwako 2024 nanti. Bagi warga, Irwan Basir, tampek balinduang kapanehan, tampek bataduah kahujanan

Harapan warga, bukan tanpa alasan. Pembina FKAN Pauh IX Kuranji ini, dikenal sosok yang peduli dan mengayomi anak, kemenakan dan warga. Ibaratnya, Irwan Basir, Hari paneh tampek balinduang. Hari hujan tampek bataduah. 

Tempat mengadu anak kemenakan. Tempat seiya sekata oleh semua warga. Padahal, Irwan Basir tak pernah berharap dari warga. Ia bukan anggota dewan dipilih warga. Bukan kepala daerah duduk disingana berkat suara warga.

Dalam membantu warga, Ketua LPM Kota Padang ini,  tak menggunakan dana APBN atau APBD melalui dana Porkir layaknya anggota dewan. Tak memakai Bansos mengurangi penderitaan warga, layaknya kepala daerah menurunkan bantuan. 

Tak menggunakan Baznas dengan memanfaatkan jabatan. Ia menggunakan uang pribadi membantu warga.  Datang saat warga sedang kesusahan. Muncul ketika warga ditimpa kemalangan. 

Ketua MPA KAN Pauh IX Kuranji ini,  figur yang tepat menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Mencari solusi ditengah beragamnya persoalan. Ketenangan dan kesabaran menuntaskan terjadinya kekisruhan.

Bak kata pepatah,  gunuang timbunan kabuik, lurah timbunan aia, lauik timbunan ombak, gunuang timbunan angin. Sosok pemimpin yang berbesar hati dan berlapang dada. Dan, tetap sabar meski semua permasalahan ditimpakan  kepadanya.

Gelar Datuk yang diamanahkan ke pundak Kabid Linjamsos Dinas Sosial Sumatera Barat ini, menjadi harapan warga. Tak kenal lelah dan letih membantu warga. Sapantun dengan fungsi ninikmamak di Minangkabau

Bapucuak sabana bulek, baurek sabana tunggang,  batang gadang tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang, ureknyo tampek baselo, daun rimbun tampek balinduang, tampek balinduang kapanehan, tampek bataduah kahujanan.

Artinya Irwan Basir,  tempat berkeluh kesah bagi warga diterpa masalah. Tempat bertanya, saat tak bisa mencari jalan keluar, ketika diimpit persoalan. Tempat mengadu, saat didera penderitaan. Dan, semuanya itu dilayani Irwan dengan keihlasan tanpa berharap balasan.

Lama sudah menabur benih. Bertahun tahun menyemai bibit. Sejak Covid19 melanda, tak henti membantu warga. Ratusan juta disumbangkan. Puluhan ton beras diturunkan. Pantas sudah, warga memberikan dukungan. Andai Irwan Basir maju pada Pilwako 2024 nanti.

Diakui, untuk maju pada Pilwako, harus ada kendaraan dan partai yang melirik. Tapi, itu bukan harga mati. Masih terbuka jalan dan kesempatan. Calon perseorangan dan jalur indenpenden menjadi solusi. Tak begitu susah bagi Irwan Basir,  tinggal menuai benih yang disemai. Pasti, warga mau membantu.

Karena, mereka tak akan mudah melupakan kepedulian Irwan Basir. Datang saat dibutuhkan, membantu saat diterpa penderitaan. Memberikan setetes air saat kehausan. Saatnya, mereka berbalas budi. Meski mereka sadari, itu tak diharapkan Irwan Basir. Ikhlas memberikan bantuan, tak berharap ada imbalan. Bersambung

*Penulis: Novri Investigasi, Wartawan Utama.

Anak Aia, Awas "Kutukan" Terminal
Kamis, April 21, 2022

On Kamis, April 21, 2022

PEMBANGUNAN Terminal Tipe A Anak Aia, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, di lahan seluas 4,5 hektar yang menelan dana Rp72 miliar sudah rampung, dan katanya Agustus 2021 ini diresmikan, setelah beberapa kali diundur-undur.

Dalam catatannya, pembangunan terminal di Sumbar banyak yang gagal maning. Entah bagaimana, seperti ada "kutukan" saja.

Sebutlah Terminal Regional Bengkuang (TRB) Aia Pacah di Kota Padang, yang sekarang sudah dilipat menjadi kantor Balaikota Padang. Betapa megahnya bangunan terminal tersebut waktu itu.

Kemudian Terminal Jati di Kota Pariaman, Terminal Bukik Surungan di Kota Padang Panjang dan Terminal Bareh Solok di Kota Solok. Semuanya berujung "kutukan", yakni gagal termanfaatkan sebagai terminal yang benar-benar bisa disebut terminal.

Mencermati ini, jangan sampai Terminal Anak Aia terkena "kutukan" pula. Maksudnya, terminal yang sudah dibangun megah-megah tersebut, gagal difungsikan. Akhirnya menjadi bangunan yang terbengkalai (lagi).

Dengan beragamnya masalah yang akan dihadapi ke depan, hal ini perlu menjadi perhatian pengelola dan stakeholder yang terkait, agar benar-benar masak dalam perhitungannya.

*Ditulis Oleh: Isa Kurniawan, Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)

Kerja Nyata Irwan Basir Datuk Rajo Alam: Bantuan Prabadi ke Warga Tanpa Mengharap Pujian dan Imbalan
Rabu, April 20, 2022

On Rabu, April 20, 2022

KERJA nyata, Irwan Basir, SH, MM, Datuk Rajo Alam, tak diragukan. Kerja nyata dan peduli warga, bukan dari dana Pokok Pikiran (Pokir), layaknya anggota dewan kelapangan memberikan bantuan. Bantuan pribadi kepada warga dijalani dengan tulus tanpa berharap pujian dan imbalan.

Layak disematkan kepada Irwan Basir, malaikat turun ke bumi. Memberikan bantuan tiada henti. Selama ini, Irwan Basir berbuat tanpa pamrih, memberi tanpa berharap balasan. Ikhlas membantu sesama, tulus berbagi. Malah, ini sudah dijalani Irwan Basir, saat wabah covid19, melanda negeri ini. Bertahun sudah dijalani. Tak pernah kering membantu warga.

Suri tauladan yang patut diteladani dari sosok Irwan Basir Datuk Rajo Alam. Tak pernah merasa lebih, tapi tak pernah berhenti mewakafkan  sebagian hartanya kepada warga yang membutuhkan. Sikap kepedulian yang tinggi dari Irwan Basir yang patut dicontoh oleh seorang pemimpin.

Tak perlu malu mengakui, jika kejujuran masih ada pada diri kita. Biasanya, setiap Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Legislatif (Pileg), Calon Kepala Daerah dan Calon Legislatif, rame rame turun kelapangan. Sosialisasi sembari memberikan bantuan kepada, berharap suara rakyat untuk meraih kursi dan kekuasaan. Seakan warga dibutuhkan dan dibantu sekali lima tahun demi sebuah kursi dan kekuasaan.

Tapi, setelah ambisi diraih, warga terlupakan. Sibuk menikmati kekuasaan dan kursi, mereka jadi lupa diri. Wabah Covid19 menjadi saksi, mereka yang sukses karena suara warga, menghilang entah kemana. Kalaupun ada yang memberikan bantuan, hanya sekedar pencitraan saja. Bantuan yang diberikan tak seimbang dengan berita mengiringi bantuan yang diberikan.

Dan, mendekati Pileg, Pilpres, Pilgub dan Pilwako, semua turun kelapangan. Baliho bertebaran memulai percitraan. Saat warga butuh bantuan, seperti covid 19 melanda negeri ini. Mereka bungkam dan diam seribu bahasa. Lalu, apa yang dilakukan Irwan Basir, Kabid Linjamsos Dinsos Sumatera Barat.

Tiada hari tanpa bantuan. Tiada hari tanpa mendatangi warga yang tengah dilanda covid19 maupun pasca wabah ini. Dulu puluhan ton beras, sembako dan bantuan uang tunai diberikan kepada warga untuk mengurangi derita akibat dirumahkan saja. Bedah rumah, memberikan bantuan untuk fasilitas umum, juga bagian dari pengabdian kepada kampung halaman. 

Sekarang, saat situasi aman dari Covid19, Irwan Basir terus bergerak. Tak kenal letih dan lelah. Lalu, apa yang diharapkan Irwan Basir. Ketua MPA KAN Pauh IX Kuranji itu, bukanlah anggota dewan yang mendapatkan kursi karena suara rakyat. 

Ketua DPD LPM Padang itu, bukanlah kepala daerah yang mendapatkan kekuasaan karena bantuan rakyat. Ketua Penasehat BPMN Pauh IX Kuranji, itu bukan pengusaha besar, tumbuh dan sukses karena rakyat. Tentu timbul pertanyaan, apa melatar belakangi Pembina FKAN Pauh IX Kuranji, habis habis membantu warga?

Penulis menilai, ada pesan moral yang tersampaikan oleh Irwan Basir. Ada suri tauladan yang perlu dicontoh atas kepedulian Irwan Basir. Ketulusan dan keihklasan diutamakan dalam membantu warga tanpa embel apa apa.

"Hanya memberi, tak harap kembali. Bagaikan surya menyinari dunia." Sepotong bait lagu itu, gambaran kepedulian Irwan Basir kepada warga yang membutuhkan. Tapi, bukan sindiran kepada mereka yang membantu warga karena ada yang diharapkan.

Pantas saja, pujian mengalirkan deras kepada putra terbaik Kuranji itu. Datang saat dibutuhkan, tiba saat warga berharap. Irwan Basir menjadi buah bibir warga.

Apalagi, saat membantu warga tak ada atribut yang ditinggalkan, tak ada kartu nama dititipkan. Tak ada kalender berbalut bantuan. Tak ada spanduk sosialisasi diri mengiringi setiap bantuan. Bantuan diberikan dengan niat yang tulus dan ikhlas.

Kalaupun warga berharap Irwan Basir  menjadi pemimpin di kota ini. Menyambung suara mereka di legislatif, itu buah dari keihklasan dan ketulusannya membantu warga.

Mereka juga ikhlas dan tulusan membantu Irwan Basir untuk mewujudkan impiannya. Namun, itu belum terpikirkan oleh Irwan Basir. Baginya, membantu warga dalam kesusahaan dilakukan dengan tulus tanpa imbalan.

*Ditulis Oleh: Novri Investigasi, Wartawan Utama, Pengurus PWI Sumbar, Seniman, dan Pemilik Media Investigasi

Catatan Ruchman Basori: Ber-PMII dari Ngaliyan Sebuh Refleksi
Senin, April 18, 2022

On Senin, April 18, 2022

BALAI Kelurahan Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang 1993 menjadi saksi sejarah. Penulis bersama dua ratusan sahabat menjadi bagian dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Organisasi kemahasiswaan berhaluan ahlussunnah wal jamaah, dengan menjadikan anggotanya komitmen pada nilai-nilai keagamaan dan ke-Indonesiaan. 

Di Masjid Tugurejo di area Pondok Pesantren, kami berbai'at menjadi anggota baru dalam ritus Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) yang dipandu oleh sahabat-sahabat senior Rayon PMII Tarbiyah dan Komisariat PMII Walisongo. Basisnya ada di IAIN Walisongo, sekarang telah menjadi UIN.

Khudmah pertama di PMII didaulat menjadi Ketua Alumni Mapaba 1993, lalu menjadi Pengurus Rayon PMII Tarbiyah dan puncaknya didaulat menjadi Ketua Rayon PMII terbesar waktu itu. Membanggakan karena Rayon ini memiliki jumlah anggota baru sekitar 200-an per tahun bahkan lebih. semangat, dedikasi dan berjuang adalah doktrin dari para senior yang selalu ditancapkan. 

Berproses Menjadi

Berdialektika secara intens dari meja rapat satu ke meja rapat lainnya. Aktif di meja diskusi ke diskusi lainnya, forum seminar sampai berbagai pengkaderan. Kadang di forum-forum lesehan di bawah pohon rindang, di emperan masjid atau di pojok-pojok kampus di sela mengikuti perkuliahan.

Di medan kaderisasi setelah Mapaba, penulis mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Bojo Kendal dan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) yang merupakan kaderisasi tertinggi di PMII bertempat di PP. Edi Mancoro Salatiga asuhan KH. Mahfudz Ridwan teman dekat almarhum Gus Dur. 

PKL dipandu oleh instruktur Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah, yang waktu itu dipimpin oleh Sahabat Muzammil. Sayang khidmahku hanya sampai Sekretaris Umum Cabang PMII Kota Semarang, karena waktu itu PKC PMII nyaris dibekukan diganti dengan Presidium Cabang-Cabang. Situasinya memang begitu hamper di seluruh Indonesia yang mempertanyakan perlunya PKC.

Dapat dikatakan penulis adalah satu dari sekian ribu kader yang memulai Ber-PMII dari Ngaliyan, untuk menyebut letak geografis kampus IAIN Walisongo. Ngaliyan menjadi penting dalam rentang 1993-2004 bagi penulis dan para kader pergerakan. Kami dikenalkan pemahaman keagamaan Islam ala Aswaja, pelbagai dinamika social-politik, dan wacana-wacana aktual lainnya. Ngaliyan menjadi ruh yang membangkitkan denyut nadi intelektual masa pencarian. 

Ngaliyan bagaikan madzhab baru bagi mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru wilayah Jawa Tengah, bahkan secara nasional. Waktu itu baru beberapa gelintir mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang studi di IAIN Walisongo, umumnya dari Thailan dan Malaysia.

Hampir tak pernah absen dalam gerak Langkah kaderisasi mulai Mapaba hingga PKD baik yang diselenggarakan oleh Komisariat PMII Walisongo sendiri maupun Komisariat di lingkungan Kota Semarang, Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Sultan Agung (UNISULA), IKIP PGRI dan Universitas Tujuhbelas Agustus (UNTAG). Penulis lalui dengan riang gembira menjadi pilihan, karena semata-mata ingin menjadi mahasiswa yang tidak hanya di Menara gading tetapi harus turun di akar rumput (gress root). Belakangan Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Walisembilan (SETIA WS) ketika saya mulai belajar menjadi dosen.

Jrakah-Tugu-Ngaliyan adalah tiga poros wilayah yang membentuk gugus penting aras Gerakan Mahasiswa IAIN Walisongo. Tidak semata-mata tempat tinggal, tetapi tempat belajar, menempa diri dan ladang khidmah bagi para generasi masa depan. Para dosen mengajarkan keilmuan keislaman dengan sangat cukup dipadukan dengan teori-teori sosial, sementara di pergerakan mematangkan paradigma keislaman Aswaja yang moderat. Sementara masyarakat mengajarkan arti pentingnya kepekaan. Belum lagi Kota Metropolis Semarang yang sangat hidup dengan ruang bisnis hampir 24 jam.   

Lapis Emas Kepribadian

Penulis adalah anak kampung yang beruntung. Mempunyai sahabat-sahabat pejuang yang baik dan para senior mentor yang hebat. Menempa dengan gigih dari pola pikir, sikap dan laku ala PMII, ala NU dan ala Aswaja. Islam rahmatan lil √°lamin menjadi paradigma dan manhaj dalam beragama, berbangsa dan bermasyarakat. 

Idealisme menjadi api yang tak pernah padam, menjadi lapisan emas kepribadian. Kadang mengalami benturan bahkan kerap menjadi korban atas upaya mempertahankan dan memperjuangkan idealisme ini. Penulis dan juga sahabat-sahabat, hidup dengan sederhana, namun kuat mempertahankan diri dari serangan-serangan maut pragmatisme, hedonisme, oportunisme bahkan laku yang kurang terpuji sebagai aktivis gerakan.

PMII telah mengajarkan arti pentingnya hidup bersama (living togerher), kesederhanaan, kejujuran, keuletan, disiplin, kerja keras, tanggungjawab dan menjadi aktivis yang mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Pergerakan ini membonsei kesombongan, keegoisan, individualisme dan segala bentuk yang menjauhkan diri dari komunitas.

Dzikir, fikir dan amal sholeh menjadi trilogy yang menjadikan anggota dan kader PMII manusia yang cerdas sekaligus terampil menjalankan peran-peran sosial. Sebagaimana rumusan Tujuan PMII dalam Anggaran Dasar (AD PMII) BAB IV pasal 4: "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia".

Terimakasih pergerakanku, ilmu dan bhakti kuberikan, adil dan makmur kuperjuangkan. Untukmu satu tanah airku untukmu satu keyakinanku. Demikian lirik lagu yang senantiasa terngiang dari Mapaba hingga sekarang saat menjadi alumni. Di medan kehidupan PMII telah memberikan bekal terbaik untuk menjadi manusia Indonesia yang paripurna yaitu sebagai √°bdun dan khalifatullh fil ard dengan pijakan Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Dari Ngaliyan untuk Indonesia dan dunia. Idealisme telah menjadi lapisan emas kepribadian yang tak ternilai harganya dalam setiap denyut nadi anggota dan kader PMII. Selamat Harlah PMII ke 62, semoga pergerakanku semakin jaya, semakin bermanfaat dan bermartabat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Penulis Sekretaris Cabang PMII Kota Semarang 1997-1998 dan kini Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Bidang Kaderisasi.

Indonesia Masih Butuh Jokowi Lebih Lama Lagi
Sabtu, April 09, 2022

On Sabtu, April 09, 2022

SUATU hari di bulan Februari tahun 2014, beberapa hari sebelum pak Joko Widodo (Jokowi) ditetapkan sebagai calon presiden oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri, saya yang saat itu menjabat sebagai Sekjen DPP Bara JP 2014 dan Sihol Manullang (Ketua Umum DPP BaraJP 2014) atas dorongan Alm Cornelis Lay diundang oleh bung Muradi (Guru Besar Unpad) dan menjadi salah seorang anggota tim 11 bentukan Megawati.

Kemudian tim ini ditugaskan membantu pak Jokowi mempersiapkan diri menghadapi Pilpres 2014, untuk ngopi santai di suatu tempat di Episentrum Kuningan.

Dalam acara santai itu, bung Muradi bertanya pada kami berdua; “Abang-abang ini kalau pak Jokowi jadi Presiden, mau dijadikan apa?”.

Mendengar itu, kami kaget dan tak menduga. Sejenak kemudian kami berdua menjawab: “Kami BaraJP akan bubar setelah pak Jokowi terpilih menjadi Presiden. Sihol mau mengurus media online Baranews dan saya mau mendirikan Lembaga Khusus untuk mengurus air di NTT,” jawab saya, kala itu.

Keinginan mengusung pak Jokowi menjadi Presiden jelas bukan tentang periuk nasi, tapi tentang membangun negeri.

Setelah pak Jokowi terpilih menjadi Presiden, di bulan Agustus 2014 dalam Kongres Nasional I BaraJP, pak Jokowi meminta BaraJP tidak bubar, dan berharap BaraJP bersama sekian banyak elemen relawan lain bisa menjadi mata dan telinga beliau di tengah masyarakat.

Dan dalam suatu pertemuan lain, beliau berjanji akan memberi perhatian lebih pada Kawasan Timur Indonesia, termasuk NTT.

Entah sudah seberapa jauh pak Jokowi membantu pembangunan di NTT dan Kawasan Timur Indonesia lainnya, tapi sampai saat ini kami BaraJP sangat bersyukur dan mendukung pemimpin seperti beliau.

Dan yang paling membanggakan bagi kami, bahwa pada tanggal 8 Januari 2018 beliau datang untuk menutup Rapat Koordinasi Nasional BaraJP di Pulau Rote, pulau yang secara simbolik menjadi bagian terselatan di Indonesia dan bahkan di Asia.

Rute yang sejak Kemerdekaan RI tak pernah didatangi oleh Presiden Indonesia, akhirnya setelah menunggu 73 tahun Presiden RI menjejakkan kakinya di pulau itu.

Presiden Jokowi memberi kepastian bahwa pembangunan Republik ini berorientasi pada “Indonesia Sentris” yang menjamin pembangunan dan merata dan berkesinambungan di seluruh pelosok Nusantara, dan Kawasan Timur Indonesia terbangun dengan masif tanpa beliau lupa membangun Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Tengah Indonesia. Semua wilayah NKRI adalah anak kandung Ibu Pertiwi.

Untuk itu, kami BaraJP berpendapat bahwa Indonesia masih membutuhkan beliau lebih lama menjadi presiden agar Kawasan Timur Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya.

Ini merupakan tanggung jawab kami sebagai anak bangsa terlebih bagi yang lahir dan berdarah Indonesia Timur, bentuk tanggung jawab kami sebagai generasi penerus pada para tetua dan nenek moyang kami yang memilih menjadi bagian dari NKRI — bahwa seluruh bagian NKRI ikut menikmati hasil pembangunan negeri.

BaraJP berpendapat pak Jokowi pantas diberi kesempatan menjalani Periode Presiden ketiga melalui Pemilu 2024. Kita Negara demokrasi, tentu bebas memberi pendapat. Toh harapan itu hanya dapat terwujud jika para Wakil Rakyat di MPR berhendak untuk mengamandemen UUD’45.

Mengamandemen UUD’45 jelas bukan ranah kami, dan jika kami dianggap hanya bagian kecil dari masyarakat, maka BaraJP akan tetap menyuarakan tekad dan sikap Jokowi 3 Periode yang akan kami lakukan dengan cara-cara bermartabat, yang jauh dari cara anarkis dan ini jelas bukan tentang periuk nasi.

Jikapun pak Jokowi menolak, minimal kami sudah menyuarakan aspirasi kami, keluarga kami, teman-teman kami, lingkungan kami dan kelompok kami — yang berkehendak Jokowi 3 Periode. 

*Penulis adalah: Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi Presiden atau Barisan Relawan Jalan Perubahan – BARA JP

Sumber: Eljabar

Catatan Resi Susanti: Adat Salingka Nagari
Jumat, April 08, 2022

On Jumat, April 08, 2022

ADAT adalah peraturan hidup sehari hari yang mengikat orang perorang dan masyarakat untuk tunduk dan mematuhinya. Segala perbuatan manusia yang baik maupun buruk itu ada aturannya,ada adat contoh: bajalan beradat,tagak beradat,berpakaian beradat,makan beradat,minum beradat,berbicara beradat. Contoh tersebut adalah adat sopan santun dalam kehidupan sehari hari di minangkabau. Kalau kebiasaanyang kita lakukan sehari hari tidak sesuai dengan norma norma  dalam masyarakat maka kita di sebut kurang beradat.

Sebelum islam masuk ke ranah minangkabau yang menjadi patokan adat adalah patuik jo mungkin,alam takambang jadi guru.

Di mianag kabau ada yang di namakan dengan sebutan Adat Nan Ampek. Dilihatt dari atauran dan kebiasaan dalam masyarakat banyak sekali macam ragamnya,ada yang ada sudah baku maupun tetap,tidak dapat di rubah sudah ketentuan dari allah swt ataupun ketentuan dari aturan nabi mihammad saw, serta aturan hukum yang berlaku secara umum dalam masyarakat minangkabau seperti,sistem matriakat,gelar sako itu harus laki laki.

Berdasarkan ketrangan di atas maka pengertian adat dikelompokkan menjadi empat yang di sebut dengan adat nan ampek.

A. Adat Nan Subana Adat

Adat nan sabana adat yaitu poko dan falsafah yang mendasari kehidupan kita di minangkabau yang berlaku secara turun temurun tampa adanya pengaruh dari tempat,waktu maupun keadaan yang biasa di sebut dengan “ indak lakang dek paneh,indak lapuak dek hujan”

Contohnya adalah:  silsilah keturunan yang menurut garis keturunan ibu yang di sebut dengan garis keturunan  matrilineal, serta yang dapat di sebut panghulu atau datuak itu adalah laki laki tidak bisa seorang perempuan. Termasuk juga sifat alam yang tidak dapat berubah seperti : sifat api panas dan sifat air dingin.

Sesudah masuknya islam di minangkabau, amal ibadah  yang di wajibkan oleh agama islam adalah shalat yg tidak bisa di rubah ubah sehingga timbullah istilah adat basandi syarak,syarak basandi khitabullah yang termasuk dalam adat nan sabana adat.

B. Adat Nan Diadatkan

Adat na diadatkan adalah hukum-hukum adat yang di terima dari ninil moyang atau niniak mamak Datuk Kotomangguangan dan Datuk Parpatiah nan sabatang seperti: cupak nan duo,kato nan ampek,undang nan ampek dan nagari  nan ampek. Apa apa yang di perintah oleh agama dan dijalankan oleh adat maka di kenal dengan syarak mangato adat mamakai.

Sistem pemerintahan yang ada dalam minangkabau  dikenal dengan peninggalan datuk katumanggungan dan datuk parpatiah nan sabatang yang di sebut dengan  sistem koto piliang dan bodi caniago, yang berlaku di nagari dan bersifat tetap.

C. Adat Nan Taradat

Adat nan teradat adalah adat yang dipakai seluhak ,selaras atau sanagari.kebiasaan boleh di tambah maupun di kurangi bahkan boleh juga di tinggal kan selama tidak menyalahi landasan berpikir orang minang yaitu  alua jo patuik,raso jo pareso, anggo tango dan musyawarah mufakat.

Adat nan taradat ini menyangkut tingkah laku dan kebiasaan pribadi orang perorang seperti cara berpakaian,makan dan minum.

Kebiasaan ini di kenal dengan cupak capanjang batuang adat sapanjang jalan, diamno sumua digali di situ rantiang dipatah,di mano bumi di pijak disinan langik di junjuang,dimano nagari di huni di sinan adat di pakai.

D. Adat Istiadat

Yang dimaksut dengan adat istiadat adalah adat yang dibiasakan dalam suatu nagari yang mengikuti pasang naik dan pasang suruik, kelaziman ini biasanya menyangkut tentang seni budaya masyarakat seperti acara keramaian anak nagari,pertunjukan seni randai,saluang,rabab,tari tarian serta ragam kesenian lainnya. Adat istiadat sperti ini sangat tergantung pada kondisi situasi sosial ekonomi masyarakat.

Sakali aia gadang sakali tapian baranjak,sakalin musim batuka sakali cari baganti.

Selain empat tingkat yang di atas masih ada peraturan adat lainnya yang bersifat khusus dan berupa ketentuan ketentuan yang berlaku umum. Peraturan itu di kenal dengan istilah limbago nan sapuluah.

Apa saja limbago nan sapuluah itu
1.Cupak nan duo
- Cupak usali
- Cupak buatan

2.Undang nan ampek
- Undang undang luhak rantau
- Undang undang pembentukan nagari
- Undang undang dalam nagari
- Undang umdang nan 20

3.Kato nan ampek
- Kato pusako
- Kato daulu 
- Kato buatan
-Kato kamudian

Cupak usali meliputi: uu luhak rantau,uu pembentukan nagari,kato pusako,kato daulu.

Cupak buatan meliputi: uu dalam nagari,uu nan duo puluah,kato butan,kato kamudian.

Kato pusako yaitu pituah niniak mamak yang di sampaikan secara turun temurun untuk memjadi pedoman hidup bagi anak dan kemenakannya atau cucu dalam bentuk petatah petitih

Hiduik dikanduang adat
Mati di kanduang tanah
Hiduik baraka mati bariman

Kato dahulu yaitu ucapan yang disampaikan dan merupakan ikrar atau janji yang harus di tepati.

Undang nan ampek:

1.Undang luhak rantau, menetapkan pemangku dan penguasa adat di luhak nan tigo dan di rantau. Pepatah adat mengatakan “luhak bapangulu,rantau barajo”

2.Undang undang pembentukan nagari,menetapkan susunan pasukan dalam nagari,persyaratan nagari,dan perlengkapan nagari.

Nagarilah ba kaampek suku
Dalam suku ba buah paruik
Kampuang bana nan tuo
Rumah ba tungganai

3.Undang undang dalam nagari,peraturan tentang hubungan antara ssesama anggota masyarakat baik yang menyangkut tindak pidana.

Peraturan dalam peradatan seperti
Adat pinjam maminjam di lunasi
Utang dibayia piutang di tarimo
Salah di timbang kusuik disalasaikan

4.Undang undang nan 20
1.8 buah uu yang menyangkut kejahatan
2.6 buah uu yang menyangkut pembuktian kesalahan
3.6 buah uu yang menyangkut pendakwaan atau tuduhan

*Ditulis Oleh: Resi Susanti, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Satra Mjnangkabau.