PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Opini

Pesona Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo Kabupaten Pasaman
Kamis, Oktober 21, 2021

On Kamis, Oktober 21, 2021

RAO Utara merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman. Kecamatan ini memiliki tiga nagari di dalamnya, yaitu Nagari Langung, Nagari Koto Rajo, dan Nagari Kotonopan. Kecamatan ini dihuni oleh beberapa jenis suku seperti minang yang merupakan suku asli dan beberapa suku pendatang seperti mandailing, batak, dan jawa. 

Selain memiliki keberagaman penduduk, kecamatan ini juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Baik itu destinasi alam seperti sungai, air terjun ataupun bangunan yang sangat cocok sebagai latar belakang untuk mengabadikan momen bersama keluarga ataupun orang yang spesial.

Salah satu bangunan yang cocok dijadikan tempat untuk mengabadikan momen bersama keluarga ialah salah satu masjid yang ada di Nagari Koto Rajo. Masjid ini bernama "Al-Ikhwan".

Masjid ini terletak kurang lebih 12 KM dari jalan besar yaitu Jalan Lintas Sumatera yang terletak di Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman. Pemberian nama masjid didasari pada harapan masyarakat setempat. Al-Ikhwan berarti persaudaraan. Dengan begitu masjid ini diharapkan mampu menjalin atau mempererat persaudaraan sesama masyarakat Koto Rajo. 

Selain itu masjid ini juga diharapkan bisa menjadi tempat bersilaturrahmi antara masyarakat dengan para pengunjung yang berasal dari luar daerah. Tentunya fungsi diatas adalah fungsi lain selain menjadi tempat beribadah atau zikrullah yang merupakan fungsi utama masjid.

Masjid ini dibangun oleh seorang pengusaha keturunan Koto Rajo yang tinggal di Jakarta. Masjid ini dibangun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. 

Selain itu pengusaha tersebut juga berharap agar Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo bisa menjadi tempat memupuk Ukhwah Islamiyah sesama masyarakat sehingga tujuan dibuatnya nama Al-Ikhwan bisa tercapai dengan baik.

Masjid ini dibangun pada tahun 2016. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan oleh pihak Kementarian Agama Kabupaten Pasaman. Acara peletakan batu pertama diiringi dengan penentuan arah kiblat. Ukuran masjid sendiri termasuk teras masjid yaitu 20 x 21 m, sedangkan untuk luas bagian dalam masjid yaitu 14 x 14 m.

Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo memiliki satu kubah dengan biaya sekitar 700 Juta Rupiah dan empat menara yang menghabiskan dana sekitar 200 Juta Rupiah. Biaya pembuatan masjid ini sendiri ditaksir mencapai 6,5 M. Biaya seperti itu tentunya sepadan dengan bentuk masjid yang sangat indah dan megah.

Bentuk yang indah menjadikan Masjid Al Ikhwan Koto Rajo menjadi salah satu masjid terindah yang berada di Kabupaten Pasaman. Arsitektur masjid sendiri dibuat oleh seorang pemuda yang berasal dari Padang Sidimpuan yang merupakan lulusan dari salah satu universitas di Amerika.

Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo diresmikan pada tanggal 16 Maret 2018 (28 Jumadil Akhir 1439 H). Peresmian masjid ini begitu meriah karena dihadiri langsung oleh tokoh-tokoh penting Kabupaten Pasaman. 

Peresmian masjid ini juga terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat ketika itu yaitu Bapak Prof. Dr. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc. Gubernur berpesan agar masyarakat bekerjasama untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo.

Saat ini sudah banyak pengunjung yang datang untuk beribadah dan tidak lupa pula mengambil beberapa foto sebagai cara untuk mengabadikan momen bersama keluarga. 

Selain itu arsitektur masjid yang indah juga sering dijadikan latar untuk foto prewedding. Calon pengantin yang prewedding tidak hanya berasal dari Nagari Koto Rajo. Ada yang berasal dari luar Nagari Koto Rajo, bahkan tidak jarang pula calon pengantin tersebut berasal dari luar Kecamatan Rao Utara seperti dari Kecamatan Rao dan lain sebagainya. 

Dengan banyaknya pengunjung yang mengunjungi Masjid Al-Ikhwan Koto Rajo tentunya menunjukkan jika masjid tersebut memang cocok dijadikan tempat berfoto. Untuk itu sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk menjaga kebersihan dari masjid ini.

Baik itu pengurus masjid, niniak mamak, dan seluruh aspek masyarakat harus bekerjasama menjaga kebersihan masjid agar masyarakat dan pengunjung merasa nyaman baik itu ketika beribadah maupun mengambil foto.

*Penulis: Oleh Muhammad Arjun, Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas.

Awas, Kanker Payudara Bisa Menyerang Siapa Saja, Kenali Tanda-Tandanya!
Senin, Oktober 18, 2021

On Senin, Oktober 18, 2021

BELUM lama ini, tepatnya pada tanggal 13 Oktober merupakan perayaan No Bra Day atau Hari Tanpa Bra. Sayangnya peringatan ini kerap disalahartikan. Padahal, no bra day diperingati di tengah Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Peduli Kanker Payudara yang jatuh pada bulan Oktober.

Jadi apa kaitan kanker payudara dan Hari Tanpa Bra? Wanita yang telah berjuang melawan kanker payudara sering kali harus memakai prostesis untuk menggantikan payudara yang telah diangkat, dan akibatnya tidak dapat pergi tanpa bra.

Nah, tujuan peringatan no bra day adalah untuk mengingatkan masyarakat bahwa kanker payudara merupakan penyakit yang berpotensi fatal. Namun, penyakit ini juga dapat dicegah jika kita mengenali tanda-tanda peringatan dininya.

No Bra Day dibuat untuk meningkatkan kesadaran perempuan dan bahkan laki-laki akan kanker payudara, mengampanyekan pemeriksaan diri, dan deteksi dini kanker payudara. Oleh karenanya, edukasi sangat penting agar masyarakat bisa memahami penyakit ini dengan cara yang benar.

Bahaya kanker payudara

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, hingga akhir tahun 2020 terdapat 7,8 juta perempuan yang didiagnosis mengidap kanker payudara dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Catatan ini juga mengungkapkan, 685.000 meninggal akibat penyakit ini.

Sementara di Indonesia sendiri, WHO mencatat ada 65.858 perempuan Indonesia yang terdiagnosis kanker payudara pada tahun 2020. Sedangkan angka kematian mencapai 22.430 orang.

Menurut Aryanthi Baramuli Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC), selama ini data-data yang mereka dapatkan terkait kasus kanker payudara hanya berasal dari rumah sakit yang memiliki pelayanan kanker.

Sedangkan rumah sakit dengan pelayanan untuk kanker secara umum dan terbanyak hanya tersebar di Jawa, sehingga penambahan angka pasien kanker ataupun bergejala masih mungkin terjadi seiring fakta kurangnya data terutama dari wilayah-wilayah Indonesia Timur.

Ketua Umum CISC itu juga menyebutkan usia yang rentan terkena kanker payudara di Indonesia paling banyak di usia 40-45 tahun. Oleh karenanya, Aryanthi mengingatkan kepada generasi muda untuk mewaspadai gejala-gejala kanker payudara. Jika menemukan benjolan, segera memeriksakan diri ke dokter.

Deteksi dini

Memeriksakan payudara juga salah satu upaya deteksi dini. Menurut Johns Hopkins Medical Center, sekitar 40% kanker payudara yang terdiagnosis terdeteksi oleh perempuan yang merasakan adanya benjolan.

Sementara itu, dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk, spesialis bedah onkologi menjelaskan bahwa salah satu elemen penting dalam kanker payudara adalah biopsi. Ketika ditemukan benjolan yang berpotensi, biopsi menjadi opsi untuk meneliti lebih lanjut.

Sayangnya, dr. Farida menyebut fakta di lapangan sebagian besar pasien masih takut untuk menjalani biopsi karena mereka kurang memahami. Padahal biopsi tidak membuat sifat keganasan kanker berubah dan menyebabkan kanker menyebar. 

Dia menekankan, biopsi justru sangat penting dilakukan untuk memperoleh diagnosis yang jelas. Diagnosis yang jelas ini sangat penting agar dokter bersama pasien bisa membuat skema treatment atau pengobatan yang tepat.

Dengan hasil biopsi yang lengkap, misalnya dengan biopsi jarum inti atau core biopsy, memungkinkan dokter bersama-sama dengan pasien membuat rencana pengobatan yang tepat untuk pasien sebelum terapi dilakukan.

Pemeriksaan biopsi disebutkan lebih lanjut, dianjurkan pada pasien dengan klinis yang mengarah pada kecurigaan kanker payudara tetapi hasil pencitraannya kurang konklusif (massa indeterminate).

Beberapa mitos yang keliru lekat dengan imej biopsi selama ini, misalnya biopsi bisa menyebabkan kanker menyebar atau pecah. Sering juga terdengar mitos jika biopsi justru membuat tumor yang tadinya jinak malah menjadi ganas.

Dalam paparannya, dr. Farida menjelaskan bahwasanya mitos-mitos yang beredar di masyarakat seperti di atas itu adalah hal yang salah. Sebab faktanya, biopsi tidak membuat tumor menjadi ganas, menyebar, atau pecah.

Dia menjelaskan, ada dua sifat tumor, yaitu jinak dan ganas (kanker), dan biopsi tidak akan mengubah sifat tumor tersebut. Sangat kecil kemungkinan kanker menyebar akibat jarum biopsi (kurang dari 1%) dan resiko itu bisa diturunkan dengan teknik biopsi yang dipandu radiologi USG atau ultrasonografi. (Amanda – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Eksistensi Silek Sabar Menanti Di Pasaman
Senin, Oktober 18, 2021

On Senin, Oktober 18, 2021

MINANGKABAU merupakan suatu etnis yang tersebar di seluruh Indonesia. Etnis yang sebagian besar mendiami wilayah Sumatera Barat ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.

Wilayah Minangkabau lebih luas dari wilayah Sumatera Barat secara administrative, hal itu menjadi salah satu faktor yang menjadikan Minangkabau memiliki berbagai keunikan termasuk dalam hal kebudayaan.

Kebudayaan dalam suatu daerah merupakan suatu kearifan lokal yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Sama halnya dengan Minangkabau. 

Di Minangkabau begitu banyak kebudayaan yang menjadikan masyarakat Minangkabau berbeda dengan masyarakat lainnya.

Kebudayaan tersebut tentunya membuat Minangkabau dikenal oleh masyarakat luas dan menjadi destinasi wisata bagi para pelancong.

Kebudayaan Minangkabau menyimpan berbagai potensi untuk dikembangkan karena memang keunikannya telah diketahui oleh banyak orang. Salah satu contoh kebudayaan yang unik di Minangkabau adalah silek (silat). 

Silek merupakan sebuah olahraga ataupun permainan yang menampilkan gerakan yang cepat untuk membela diri ketika berhadapan dengan musuh. Silek di Minangkabau memiliki keunikan tersendiri di tiap-tiap daerah. 

Baik dari segi gerakan ataupun filosofi yang dipakai. Silek digunakan ketika terdesak ataupun ketika berhadapan dengan musuh. Silek di Minangkabau bukanlah sesuatu yang harus diperlihatkan kepada orang lain. 

Kita tidak boleh menyombongkan kemahiran kita dalam bersilat kepada orang lain karena silat digunakan untuk membela diri ketika sedang terdesak oleh musuh. 

Pepatah minang mengatakan musuah ndak dicari, basobok pantang lari (Musuh tidak dicari, tapi ketika musuh itu ada, maka harus dilawan dan pantang melarikan diri). Pepatah tersebutlah yang menjadi pedoman penggunaan silek di Minangkabau. 

Silek berkembang di seluruh wilayah Minangkabau, baik itu wilayah perkotaan ataupun pedesaan. 

Di seluruh daerah Minangkabau memiliki silek dengan keunikannya tersendiri, termasuk di Nagari Koto Rajo. 

Nagari Koto Rajo adalah sebuah nagari di Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman. Nagari ini memiliki berbagai keunikan dalam tradisi maupun kebudayaan. Salah satu kebudayaan yang di miliki dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat Koto Rajo ialah silek.

Silek di Nagari Koto Rajo bernama Silek Sabar Menanti. Nama silek yang terbilang cukup unik ini bukan berarti tanpa makna. 

Nama silek ini memiliki makna yang cukup bagus yaitu tidak melakukan serangan terlebih dahulu dan menunggu lawan menyerang lalu memberikan balasan. 

Makna tersebut tentunya sama halnya dengan prinsip yang dipakai silek Minangkabau yaitu tidak mencari musuh.

Silek Sabar Menanti berasal dari Binjai, Sumatera Utara yang dibawa oleh para perantau Koto Rajo. Perantau tersebut belajar silek dari orang Binjai yang dulunya merantau ke negara tetangga yaitu Malaysia. 

Perantau tersebutlah yang membawa dan mengajarkan silek kepada masyarakat Koto Rajo pada masa itu atau sekiar tahun 1970-an. 

Silek Sabar Menanti berkembang dalam masyarakat dan dipelajari pemuda dengan penuh semangat. 

Banyak pemuda mempelajari silek sebagai bekal ketika ingin pergi merantau. Tiap tahunnya pasti ada pertunjukan silek di depan rumah gadang yang ada di Koto Rajo. 

Namun saat ini silek ini tidak lagi dipelajari, tentunya hal ini sangat memprihatinkan mengingat sejarah silek ini yang seharusnya dijaga dan dilestarikan dengan sangat baik oleh masyarakat. 

Meskipun masih banyak masyarakat yang mahir basilek, namun bagi generasi muda silek sudah tidak menarik lagi untuk dipelajari. 

Lalu apa yang menyebabkan Silek Sabar Menanti ini mengalami sedikit kemunduran dan tidak berkembang lagi di tengah masyarakat?

Saat ini silek mengalamai kemunduran karena beberapa faktor. Pertama tentunya faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri yaitu kesadaran pribadi masing-masing. 

Kesadaran masyarakat adalah hal mendasar yang harus dimiliki oleh masyarakat dalam melestarikan suatu tradisi ataupun kebudayaan. 

Kesadaran masyarakat adalah pondasi utama untuk mengembangkan kebudayaan. 

Apabila pondasi ini bermasalah, maka semua upaya pelestarian budaya akan terkena imbasnya. 

Sebetulnya dltidak dalam dunia silek saja yang memerlukan kesadaran masyarakat. 

Semua yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat harus bersumber dari hati nurani masyarakat itu sendiri. 

Kesadaran tersebut adalah pokok utama yang mendasari lahirnya upaya-upaya penjagaan ataupun pelestarian kebudayaan. 

Kita bisa melihat bagaimana kesadaran masyarakat pada saat ini. Tingkat kesadaran ataupun kepedulian masyarakat itu sudah berkurang bahkan cenderung sangat rendah.

Banyak masyarakat yang bersikap acuh atas perkembangan ataupub eksistensi sebuah seni bela diri seperti silek. 

Hal ini tentunya akan membuat silek akan tergerus dan perlahan akan membuat silek tersebut punah. 

Bisa jadi beberapa tahun yang akan datang para pemuda tidak mengenal lagi apa itu silek. 

Saat ini masyarakat menganggap sebuah traidisi itu tidaklah begitu penting dan tidak masalah jika hal tersebut hilang. 

Tentunya hal tersebut merupakan suatu keadaan yang sangat darurat mengingat silek yang merupakan warisan leluhur yang terkandung di dalamnya kearifan lokal sudah diambang kepunahan. 

Kita semestinya harus berupaya menjaganya karena biar bagaimanapun kehidupan kita tidak akan bisa lepas dari apa-apa yang telah kita alami atau lalui sebelumnya.

Kemudian, faktor penyebab kemunduran silek yaitu ekonomi. Bagaimana ekonomi membuat silek mengalami kemunduran? 

Ekonomi adalah faktor terpenting dalam kehidupan bermasyarakat, orientasi masyarakat yang mengedepankan ekonomi akan membuat bidang lainnya akan terpinggirkan. 

Kenapa demikian? Tidak lain dan tidak bukan karena silek diyakini tidak akan mencukupi kebutuhan ekonomi. 

Jadi, daripada menghabiskan waktu untuk belajar atau mengenali silek, masyarakat tentunya lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang berdampak pada tercukupinya kebutuhan ekonomi demi kelangsungan hidupnya. 

Silek juga bisa memberikan penghasilan, namun penghasilan yang diterima tentunya tidak akan besar dan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin banyak.

Kemudian faktor ketiga penyebab eksistensi silek mulai terpinggirkan ialah teknologi. 

Tidak bisa dipungkiri teknologi memang memiliki peranan penting dalam kehidupan. 

Tidak ada satupun bidang kehidupan yang tidak terkena imbas dari perkembangan teknologi yang semakin canggih. Sama halnya dengan silek.

Teknologi yang berkembang pesat membuat masyarakat terutama generasi muda memiliki hobi baru yaitu bermain game, sosial media, dan lain sebagainya. 

Hal ini memang membantu manusia, namun jika dilakukan secara berlebihan maka akan menyebabkan kecanduan dan timbul rasa malas sehingga tidak mau melakukan apapun selain online atau menatap layar komputer ataupun ponsel. 

Hal ini tentunya semakin memperburuk keadaan silek yang sudah mulai terpinggirkan.

Sebetulnya hal-hal diatas dapat dicegah. Namun tentunya dibutuhkan sinergi yang kuat seluruh aspek masyarakat, mulai dari pemerintah, pelaku seni, ataupun masyarakat biasa.

Demi menambah pengetahuan akan silek, pemerintah bisa mengadakan festival silek atau mengemasnya dengan sangat menarik, seperti dalam bentuk video, ataupun tulisan yang menarik minat masyarakat untuk mempelajarinya. 

Selain itu pemerintah juga harus lebih intens memperhatikan pelaku seni, tidak hanya silek, namun seluruh budaya yang ada harus dikelola sebaik mungkin karena budaya apabila dikelola dengan baik, maka akan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat. 

Kemudian hal terpenting yaitu sama-sama menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar sehingga kita mengetahui bagaimana kondisi budaya sekitar dan tentunya secara perlahan akan menumbuhkan kepedulian terhadap kebudayaan yang sudah berlangsung lama.
 
*Penulis: Muhammad Arjun, Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Gangguan Mata Bisa Sebabkan Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri
Sabtu, Oktober 16, 2021

On Sabtu, Oktober 16, 2021

MATA merupakan jendela hati, pepatah satu ini kini rasanya kurang tepat. Pasalnya, gangguan pada mata dapat mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan para penderitanya. Jadi boleh dikatakan, mata merupakan “jantungnya” kehidupan setiap orang.

Dokter spesialis mata Aldiana Halim, M.Sc berkata, gangguan mata tidak hanya dapat mempengaruhi aspek penglihatannya. Gangguan penglihatan juga berpengaruh pada kualitas hidup orang yang menderitanya.

Hilangnya penglihatan, lanjutnya, dapat berpengaruh pada fisik, mental, kepuasan hidup, mobilitas, ketergantungan, dan pendidikan. Dengan gangguan penglihatan ini bisa memperberat penyakit kronis yang sedang diderita serta kesulitan mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

Tak hanya itu, orang dengan gangguan penglihatan juga cenderung tidak berbicara terkait hal-hal yang dirasakannya. Mereka juga mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan untuk memeriksakan kondisinya.

Potensi depresi

Lebih dari itu, Aldiana mengungkapkan bahwa gangguan penglihatan pun berpotensi membuat seseorang mengalami depresi yang memicu terjadinya bunuh diri. Kasus semacam ini pun sudah beberapa kali terjadi, termasuk di Indonesia.

Dia mengisahkan kasus yang menimpa seorang model perempuan. Sebelumnya, model ini memiliki kepercayaan tinggi. Namun setelah kesalahan dalam menggunakan lensa kontak, matanya mengalami infeksi yang menyebabkan sikatrik.

Model tersebut pun akhirnya tidak bisa melihat dan buta. Kehilangan penglihatan tersebut membuatnya depresi sampai-sampai mencoba bunuh diri hingga empat kali. 

Tak hanya itu, kejadian bunuh diri akibat gangguan penglihatan juga sudah pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2018 lalu. Kejadian ini terjadi di daerah Warungkiara, Sukabumi.

Sang ibu depresi karena menderita katarak. Aspek kualitas hidupnya begitu menurun hingga ibu ini memutuskan untuk bunuh diri. Padahal, menurut Aldiana, kalau ibu ini bisa mengakses fasilitas kesehatan dan dilakukan operasi, ada kemungkinan untuk ibu ini dapat melihat kembali.

Dengan membantu menyelesaikan masalah penglihatan, maka sebenarnya masalah mental yang dialami oleh para penderita gangguan mata juga dinilai dapat teratasi. Gangguan lainnya seperti gangguan kemiskinan juga dapat perlahan bisa diatasi.

Katarak penyebab kebutaan

Menurut Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, katarak telah menjadi masalah gangguan mata tertinggi di Indonesia yang angkanya mencapai 81%.

Fakta tersebut diungkapkan terkait dengan Hari Penglihatan Sedunia 2021 yang selalu diperingati pada minggu kedua di bulan Oktober. Tahun ini, peringatannya jatuh pada tanggal 14 Oktober mendatang dan membawa tema Love Your Eyes atau Sayangi Mata Kita.

Dalam kesempatan tersebut, Maxi menjelaskan bahwa 2,2 milyar penduduk di dunia mengalami gangguan penglihatan, termasuk didalamnya mencakup masalah kebutaan. Padahal, seharusnya 1 milyar di antaranya bisa dicegah.

Maxi menjelaskan, majunya teknologi menyebabkan anak-anak pada saat ini menjadi lebih mudah terpapar oleh gadget. Hal tersebut dianggap dapat memicu munculnya permasalahan pada mata.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang efek radiasi dari gadget. Dengan demikian, deteksi pada anak harus lebih dini dilakukan.

Kesehatan mata ketika pandemi

Yang menjadi masalah, sejak pandemi Covid-19, kebanyakan aktivitas dilakukan secara virtual. Menggunakan gadget dalam waktu yang lama menjadi kebiasaan yang tak terhindarkan.

Dokter spesialis mata Rumah Sakit Umum Hermina Arcamanik, dr. Bella Pratiwi Sudjana, Sp.M, menyebutkan, menjaga kesehatan mata jutru sangat diperlukan pada masa pandemi seperti ini.

Sebab, lanjutnya, banyak pasien mengalami kelelahan mata, mata kering, maupun kelainan refraksi (kabur pada penglihatan). Penderita mengalami kabur penglihatan atau mata lela. Setelah diperiksa, ternyata terdiagnosa terkena miopi atau astigmatisma (kelainan refraksi).

Penyebab mata lelah di era daring adalah durasi kerja jarak dekat yang cukup lama. Ketika melihat dengan jarak dekat, mata akan mengalami penyesuaian untuk menerima bayangan yang jelas dari objek yang dilihat, maka otot pada mata akan mengalami kontraksi sehingga menyebabkan kelelahan pada mata. 

Jika melihat dengan jarak dekat, maka otot mata akan lebih berkontraksi. Ibarat mengangkat benda berat, mungkin dapat bertahan selama beberapa menit. Akan tetapi, semakin lama mengangkat benda berat, tentu akan membuat lelah.

Oleh karena itu, dr. Bella menekankan pentingnya mengatur jarak saat menggunakan layar. Postur tubuh berpengaruh pada jarak ideal penggunaan layar komputer atau gawai. Umumnya jarak mata dengan gawai adalah satu lengan atau sekitar 30-40 cm.

Selain itu, dia juga menyarankan untuk menggunakan 20-20-20 yang efektif untuk mencegah kelelahan pada mata. Aturan ini mengatur waktu mata beraktivitas.

Jadi, setiap dua puluh menit melihat layar harus dilanjutkan istirahat selama dua puluh detik, dengan melihat sejauh dua puluh kaki atau sekitar 6 meter. Dengan melihat jarak jauh, otot-otot mata akan berelaksasi sehingga membuat mata lebih rileks. (Amalia – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Waspada, Pelaku Penyiksaan Hewan Berpotensi Lakukan Kekerasan yang Menargetkan Balita dan Manula!
Sabtu, Oktober 16, 2021

On Sabtu, Oktober 16, 2021

PEMAHAMAN tentang cara menyayangi hewan dengan memahami bahwa mereka juga memiliki hak hidup yang sama, berdampingan dengan manusia perlu ditanamkan sejak dini.

Tak banyak orang tau, ternyata pembiasaan kekejaman terhadap hewan dapat memicu tindakan yang mengarah pada kejahatan, seperti tindak kekerasan pada manusia hingga berujung pembunuhan.

Berdasarkan catatan Asia For Animal Coalition, Indonesia berada di urutan nomor satu dunia yang paling banyak mengunggah konten kekejaman terhadap hewan di media sosial.

Dari 5.480 konten yang dikumpulkan, sebanyak 1.626 konten penyiksaan hewan berasal dari wilayah Indonesia. Data ini dikumpulkan sejak Juli 2020-Agustus 2021 dari YouTube, Facebook dan TikTok. Namun, angka ini masih kasar karena terdapat ribuan konten serupa yang lokasinya tidak diketahui. 

Total konten tersebut tercatat telah ditonton sebanyak 5,3 miliar kali saat penelitian tersebut ditulis. Laporan organisasi perlindungan hewan tersebut menyebutkan bahwa konten kekejaman terhadap hewan di dunia maya sebenarnya adalah masalah global yang berskala luas. 

Minim dukungan hukum

Belum lama ini, masih tahun 2021, kasus penjagalan kucing bernama Tayo di Medan, Sumatera Utara sempat menarik perhatian. Setelah perjalanan panjang, akhirnya pelaku divonis 2,5 tahun penjara karena terbukti melakukan pencurian dan pembunuhan hewan.

Sayangnya, tidak semua kasus kekejaman terhadap hewan berhasil dibawa ke ranah hukum, lebih-lebih mendapat hukuman yang membuat jera. Banyak kasus kekerasan bahkan pembunuhan hewan yang mandek di laporan kepolisian.

Kasus Tayo seperti menjadi titik tolak yang memberikan harapan, bahwa hukum masih memihak hak-hak hewan yang seringkali terabaikan. 

Doni Herdaru Tona adalah pendiri Animal Defender Indonesia (ADI) yang terlibat advokasi kucing Tayo, berharap kasus ini bisa menjadi patokan hukum bagi pelaku kekerasan terhadap hewan di Indonesia. Menurutnya, kasus ini bisa menjadi acuan yurisprudensi, bahwa tindakan kekejaman terhadap hewan adalah salah di mata hukum.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki aturan tentang hukuman bagi pelaku penyiksa hewan yang di antaranya termuat dalam Pasal 302 dan 406 ayat (2) KUHP. Dalam aturan ini, pelaku penganiayaan ringan terhadap hewan terancam hukuman penjara tiga bulan penjara.

Permasalahannya, pelaporan kasus penganiayaan hewan kerap dianggap remeh oleh pihak kepolisian sehingga sulit memproses pelaku secara hukum. Ketidaktahuan terkait payung hukum ini membuat aparat hukum meremehkan laporan yang masuk

Animal Defender Indonesia sendiri, misalnya, mengaku telah menangani tujuh kasus terkait penyiksaan hewan. Namun, sebagian besar kasusnya terhenti. 

Kejahatan lebih sadis

Tindakan kekejaman pada hewan ternyata tak bisa dianggap remeh. Dalam beberapa kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap manusia, pelakunya kerap ketahuan memiliki riwayat melakukan penyiksaan terhadap hewan.

Organisasi nirlaba Humane Society yang berbasis di Amerika Serikat menyebut 88% kasus penyiksaan hewan terjadi di dalam rumah tangga yang memiliki riwayat kekerasan terhadap anak. 

Sementara itu, sebanyak 71% korban kekerasan dalam rumah tangga juga menyebutkan pelaku kekerasan di rumah melakukan hal yang sama terhadap hewan. 

Yang mengerikan, sejumlah pelaku pembunuhan berantai dan brutal pun nyatanya memiliki riwayat penyiksaan hewan. Misalnya, kasus Gary Leon Ridgway yang tercatat pernah membunuh 49 orang di AS. Saat masih kecil, dia mengaku pernah mencekik kucing. 

Contoh nyata lain adalah kasus Eric Harris dan Dylan Klebold. Dua remaja yang bertanggung jawab atas penembakan di SMA Columbine, dan menewaskan 13 orang ini keduanya kerap membanggakan cerita tentang memutilasi hewan kepada teman-temannya. 

Maka tak berlebihan jika Biro Penyelidikan Federal AS (FBI) belakangan ini menjadikan kasus-kasus penyiksaan hewan untuk memprediksi kasus-kasus pembunuhan. 

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Masih ingat dengan pelaku pembunuhan balita yang mayatnya disimpan dalam lemari 2020 lalu? Ternyata pelaku juga memiliki riwayat sebagai penyiksa hewan, selain dia juga memang menjadi korban kekerasan seksual. Remaja berinisial NS ini pernah melempar kucing dari lantai dua, membakar kodok, dan kepala cicak.

Doni dari Animal Defender Indonesia juga menyebutkan bahwa penyiksa hewan umumnya mengalami gangguan jiwa. Nantinya, lanjutnya, mereka akan meningkatkan targetnya dari hewan sampai manusia, yang sekiranya tidak melawan. Balita dan manula masuk kalangan yang rentan menjadi korban.

Sementara itu, pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Karin Franken, mengatakan, pembiaran atas penyiksaan terhadap hewan sejak kecil bisa menjadi cikal bakal tindakan sadistis di kemudian hari.

Perlu diketahui, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sejak tahun 1978 merilis Universal Declaration of Animal Rights atau Deklarasi Universal Hak-Hak Hewan. Deklarasi ini didukung oleh 46 negara dan 330 kelompok pendukung hewan.

Bahkan, setiap tanggal 15 Oktober diperingati sebagai Hari Hak Asasi Hewan. Tak berlebihan, sebagai salah satu makhluk yang hidup di Bumi berdampingan dengan manusia, hewan juga memiliki hak untuk hidup tanpa rasa sakit dan menderita. (Berliana – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Dari Cegah Diare Hingga Covid-19, Ini Alasan Kita Wajib Rajin Cuci Tangan
Sabtu, Oktober 16, 2021

On Sabtu, Oktober 16, 2021

MENCUCI tangan memang terdengar sepele, tetapi kebiasaan baik ini ternyata efektif mencegah penularan penyakit. Maka tak salah ketika salah satu dari tindakan pencegahan penularan Covid-19 adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun.

Pasalnya, kuman, virus, dan bakteri penyebab penyakit di tangan tak bisa dengan mudah dihilangkan kecuali dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air. Oleh karena itu, kebiasaan mencuci tangan sangat penting, terutama ketika menyiapkan makanan, sebelum makan, atau setelah batuk maupun bersin.

Lebih baik daripada hand sanitizer

Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan bahwa sabun lebih efektif menghilangkan bakteri dan virus yang ada di permukaan kulit  daripada cairan pembersih tangan atau hand sanitizer.

Profesor kimia dari University of New South Wales, Sydney, Pall Thordarson memaparkan, alasan mengapa sabun ampuh untuk menghentikan persebaran virus, saat belum ada satupun obat yang berhasil menyembuhkan infeksinya. 

Virus, lanjutnya, merupakan partikel nano dengan bagian terlemah berupa lemak yang disebut lipid bilayer. Sedangkan sabun mampu melarutkan membran lemak virus sehingga bisa menghancurkan virus atau mematikannya.

Mencuci tangan menggunakan air yang mengalir memang bisa saja dilakukan, namun air saja tidak cukup untuk menghilangkan virus yang menempel. Hal ini karena air tidak cukup kuat untuk memisahkan virus yang lengket dengan permukaan kulit. 

Sementara itu, sabun mengandung sejenis lemak yang disebut sebagai amphiphiles. Amphiphiles ini secara struktur sangat mirip dengan lemak yang ada di membran virus. Molekul-molekul sabun pun dapat menghancurkan dengan lemak yang ada di membran virus. Kira-kira seperti ini cara sabun bekerja untuk menghapus kotoran dari kulit. 

Lebih jauh, sabun tidak hanya melepaskan virus yang melekat dengan kulit, namun juga memisahkan ketiga komponen pembentuk virus, yakni protein, RNA, dan lemak yang menyatu.

Cegah berbagai penyakit

Tak hanya mencegah penyebaran virus Covid-19, mencuci tangan menggunakan sabun juga mampu menangkal dari penyakit lainnya, terutama yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan kuman.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat, mencuci tangan dengan sabun dan air bisa mencegah 1 dari 3 penyakit diare dan 1 dari 5 infeksi saluran pernapasan, seperti pilek atau flu.

Menurut CDC, mencuci tangan berperan mengurangi jumlah orang yang sakit diare sekitar 23%-40% serta mengurangi ketidakhadiran karena penyakit gastrointestinal pada anak sekolah sebesar 29%-57%.

Penyakit diare juga tak bisa disepelekan, UNICEF mencatat bahwa penyakit seperti diare dan pneumonia telah merenggut nyawa jutaan anak di seluruh dunia. 

Selain itu, kebiasaan mencuci tangan juga bisa mengurangi penyakit diare pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah sekitar 58% dan mengurangi penyakit pernapasan, seperti pilek, pada populasi umum sekitar 16%-21%.

Meski demikian, UNICEF memaparkan hasil evaluasi tahun 2020 yang masih menunjukkan bahwa meski mencuci tangan jadi protokol penting, akses terhadap air bersih dan sanitasi masih belum merata.

Padahal, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun merupakan cara paling ampuh memutus rantai penyakit.

Jika ada kalangan masyarakat yang tidak dapat sering mencuci tangan dengan sabun atau membersihkan tangan selama pandemi Covid-19, wabah atau penyakit lain berpotensi menyebar, bahkan memperburuk dampak pandemi.

Cuci tangan dengan benar

Perlu disadari, sepanjang hari tangan menyentuh banyak permukaan benda yang membuat risiko terpapar banyak kuman dan virus, termasuk virus corona. Begitu jari menyentuh kuman yang tidak terlihat, kuman itu dapat berpindah ke tubuh melalui hidung, mulut, dan bahkan dengan menggosok di dekat mata kita. 

Oleh karena itu, mencuci tangan pun tak boleh asal menggunakan sabun saja. Masalahnya, kesalahan saat mencuci tangan menjadi salah satu penyebab utama risiko tertular penyakit. 

Setelah mengoleskan sabun, penting untuk menggosok tangan agar kuman tidak pergi. Melewati langkah terakhir dengan tidak membilas tangan dengan benar juga harus dihindari. Tangan basah adalah cara termudah untuk menangkap kuman, jadi tunggu beberapa detik agar tangan mengering.

Adapun cara mencuci tangan dengan benar, yakni membasahi tangan dengan air bersih yang mengalir, lalu matikan keran dan gunakan sabun. Jangan lupa untuk menggosok tangan dengan sabun hingga mencapai bagian punggung tangan, sela-sela jari, dan di ujung kuku. Lakukan ini selama 20 detik.

Setelah itu, bilas tangan dengan baik di bawah air bersih yang mengalir. Keringkan tangan menggunakan handuk bersih atau dengan udara. (Meliana – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Stop Buang Makanan, Ingat 1 Miliar Orang di Dunia Menderita Kelaparan!
Sabtu, Oktober 16, 2021

On Sabtu, Oktober 16, 2021

MAKANAN yang enak dan bergizi masih menjadi barang mahal bagi sebagian besar orang di dunia. Ironisnya, banyak orang justru mengalami kelebihan porsi makanan setiap hari hingga terbuang sia-sia. Belum lagi, rantai pasok pengolahan makanan pun kerap mengakibatkan pemborosan sampah.

Membuang-buang makanan tak hanya menunjukkan kurangnya empati bagi sesama, tetapi juga berdampak buruk lingkungan. Sampah organik menjadi salah satu penyumbang emisi karbon yang menggerogoti bumi.

Digitalisasi rantai pasok

Menurut Roberto Rossi, Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, makanan terbuang sia-sia di sepanjang rantai pasok sangat lah meresahkan. Sejumlah makanan terbuang, tapi di sisi lain lebih dari 1 miliar orang kelaparan.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan mengingat ke depannya, permintaan makanan akan tumbuh lebih tinggi, selaras dengan pertumbuhan populasi dunia. Populasi dunia yang kini mencapai 7 miliar orang diperkirakan naik menjadi 9 miliar pada tahun 2050.

Mengatasi problematika tersebut tak bisa berhenti pada meningkatkan produksi pangan semata. Rantai pasokan industri makanan dan minuman harus lebih efisien dan andal agar makanan dapat diproses, disimpan, dan didistribusikan dengan aman, sesuai dengan standard operating procedure (SOP).

Roberto menjelaskan, digitalisasi rantai pasok pangan dengan pemanfaatan internet of things, artificial intelligence, machine learning dan digital twin merupakan solusi terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

Apalagi, penggunaan teknologi digital di industri pangan, terutama di pabrik pengolahan bukan hal baru. Namun begitu, pemanfaatan teknologi digital ini belum menyeluruh dan terintegrasi di seluruh rantai pasok mulai dari sistem pertanian, sistem produksi pangan, sistem logistik, hingga sistem distribusi retail.

Dengan digitalisasi dan integrasi rantai pasokan, lanjut dia, industri pangan akan memperoleh transparansi dan visibilitas yang dapat membantu pengambilan keputusan yang tepat berbasis data untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. 

Selain itu, pemanfaatan teknologi yang tepat guna juga bisa mengoptimalkan setiap lini rantai pasok, mengurangi jejak karbon, meminimalkan kerugian dan pemborosan sampah makanan akibat gagal produksi.

Zero waste cooking

Mengelola konsumsi makanan dan minuman di level rumah tangga juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pemborosan sampah, mendorong distribusi pangan yang lebih adil, serta menurunkan jejak karbon.

Meskipun terlihat sedikit, sampah rumah tangga yang dihasilkan dari membuang makanan sisa dapat menggunung ketika dihitung bersama populasi dunia. The Economist Intelligence Unit mengungkapkan, setiap satu orang Indonesia setidaknya menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahun.

Tak hanya itu, Kementerian PPN/Bappenas dalam laporan baru-baru ini menemukan sekitar 49,74% di Jawa Barat adalah sampah makanan. Jumlah ini tak jauh berbeda dengan Jawa Tengah sebesar 45,79%.

Bayangkan berapa banyak orang kelaparan di dunia yang seharusnya bisa menikmati makanan tersebut?

Oleh karena itu, beberapa tahun belakangan banyak orang menginisiasi gerakan zero waste cooking. Gerakan ini dimaksudkan untuk menerapkan  teknik memasak dengan meminimalisir bahan makanan yang dibuang serta menggunakan alat makan yang ramah lingkungan.

Penerapannya pun sebenarnya cukup sederhana, yakni dengan merencanakan makanan yang dikonsumsi. Ketika menentukan hidangan yang akan disantap untuk jangka waktu tertentu, tentu kita akan memikirkan juga bahan dan cara pengolahannya, termasuk jumlah porsi yang disediakan.

Selain itu, zero waste cooking juga mendorong untuk memanfaatkan bahan makanan secara maksimal. Misalnya, dengan mengonsumsi buah dan sayuran yang semula sering dibuang bahkan sebelum dikonsumsi, seperti kulit apel.

Padahal, banyak penelitian membuktikan bahwa kulit apel juga bermanfaat bagi tubuh karena mengandung banyak vitamin dan mineral. Selain menambah gizi bagi tubuh, cara ini juga bisa mengurangi limbah makanan yang artinya mengurangi jejak karbon.

Merayakan Hari Pangan Sedunia

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran bahwa masih banyak orang yang tidak bisa menikmati keistimewaan makanan dan minuman layak, bergizi, dan sedap.

Hari Pangan Sedunia ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1945. Perayaan Hari Pangan Sedunia ini juga bertepatan dengan peluncuran Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Prinsip utama yang diperingati Hari Pangan Sedunia adalah memajukan ketahanan pangan di seluruh dunia, terutama di saat krisis. Peluncuran FAO PBB telah memainkan peran besar dalam memajukan tujuan yang berharga ini. 

Perayaan tahunannya berfungsi sebagai penanda pentingnya organisasi ini dan membantu meningkatkan kesadaran akan kebutuhan penting agar kebijakan pertanian yang berhasil diterapkan oleh pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan ada cukup makanan yang tersedia untuk semua orang. (Khusnul D – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Era Pandemi  Covid-19 Dan Dampaknya Bagi Pariwisata di Tanndikek Asli Kabupaten Padang Pariaman
Sabtu, Oktober 16, 2021

On Sabtu, Oktober 16, 2021

PADANG Pariaman merupakan salah satu daerah yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Daerah ini terkenal dengan sebutannya yaitu Piaman Laweh, Dahulu daerah ini adalah sebuah kabupaten yang ibukotanya yaitu Kecamatan Pariaman. Kecamatan Pariaman sendiri sekarang sudah menjadi Kota Madya Pariaman. Pariaman ini sendiri sekarang sudah mekar. Hal ini membuat Kabupaten Padang Pariaman mencari Ibukota terbaru yaitunya kecamatan Parit Malintang.

Daerah Padang Pariaman ini terkenal juga dengan pariwisata yang mumpung. Bentangan alam yang beragam, mulai dari pegununungan hingga lautan ada di Padang Pariaman ini. Di Padang Pariaman ini tentu banyak tempat-tempat wisata misalnya Pemandian Tirta Alami, Air Terjun Nyarai, Pantai Tiram, Pantai Arta, dan lain-lain.

Hal ini tidak dilupakan tentunya suatu daerah yang berada di kaki gunung Tandikek yang bernama Tandikek  Asli.

Tandikek Asli Sendiri adalah sebuah wilayah yang ada di kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman. Wilayah ini barang tentunya sudah akrab dengan kuburan keramat yaitu kuburan Kalikjantan. Di Tandikek Asli  ini banyak potensi wisata-wisata yang ada misalnya Air Terjun Buburai Sipisang, Air terjun Sapan, Pemandian Air Tanang, dan Pemandian Lubuak Batu Palimauan.

Kita berbicara tentunya dengan pemandian dan air. Tandikek Asli sendiri adalah sebuah wilayah yang berada di kaki gunung Tandikek, Karena berada di kaki Gunung inilah sumber air(mata air) disini begitu banyak. Daerah ini menjadi sumber air PDAM juga karena PDAM di daerah Padang Sago berasal dari sini. Hal ini tentu tidak mengejutkan karena banyaknya tempat pemandian yang ada di Tandikek Asli ini.

Pemandian yang diperhatikan disini adalah pemandian Aie Tanang, pemandian ini juga adalah pemandian bersejarah yang dahulunya merupakan tempat pemandian Inyiak Kalikjantan Menurut ceritanya inyiak ini adalah seorang yang pandai alias sakti di daerah tandikek asli. Kalikjantan merupakan orang yang pandai dalam segala hal. Menurut cerita dia adalah orang yang menemukan kampung tandikek asli. Dia memiliki suku Piliang dan mempunyai istri yang bernama sangko memiliki suku sikumbang. Kalikjantan merupakan seseorang yang sejak kecil dididik dengan pengetahuan silek. Konon ceritanya ia adalah orang yang berasal dari Darek kemudian turun ke daerah Rantau.

Setelah dewasa ia kemudian hijrah ke tandikek asli dan menetap disana. KalikjTan menurut cerita memiliki agama hindu karena islam masuk ke tandikek maka ia tidak disukai oleh Katik sangko,katik sangko merupakan penyebar islam di tandikek dan kalikjatan merupakan datuak di Tandikek asli maka keduanya bertengkar karena Hal ini kalikjantan berperang dengan katiksangko peperangan begitu a lot maka akhirnya dimenangkan oleh katik sangko.

Peperangan ini dimenangkan oleh katik sangko dengan membunuh kalikjatan dengan memisahkan tubuhnya yaitu kepala,cincin nya. Konon menurut cerita Sicincin dinamakan sicicincin karena cincin kikjatan dikubukurkan disana. Sedangkan kepala hilalang disanalah kepala kalikjantan Hilang. Di tandkkek asli badannya yang dikuburkan sampai saat ini dinamakan Koto Nan Alah. Ditemukan banyak peralatan yang menurut cerita itu adalah miliknya yaitu Lasuang.

Banyak Kepercayaan Masyarakat misalnya aie tanang yaitu sebuah sungai yang mengalir sampai saat ini air disana. Tenang. Menurut cerita air itu tenang karena pertumpahan darah tentara katik sangko yang dibunuh dan dihanyutkan Disana. Sampai saat ini kuburannya masih sering dikunjungi orang untuk bertapa dan kuburannya smpai saat ini disekitarny tidak ada semak dan penduduk tidak ada yang Membersihkan karena jauh di kaki gunung Tandikek.

Begitu melegenda cerita Inyiak Kalikjantan ini dan juga tempat pemandiannya. Pemandian ini menurut masyarakat bisa juga menyembuhkan penyakit yang kulit. Banyak kepercayaan masyarakat terhadap pemandian-pemandian di Tandikek Utara bisa menyembuhkan penyakit karena daerahnya berada di dekat gunung Tandikat.

Era Pandemi tentunya membuat masyarakat tidak boleh keluar dari rumah, hal ini membuat masyarakat yang notabnene Dirumah Saja tidak boleh bepergian. Hal ini cukup berdampak kepada salah satu wisata yang ada di Tandikek Asli. Wisata ini sebelumnya masih eksis tetapi sekarang sejak pandemi sudah tidak eksis lagi misalnya Pemandian Aie Tanang. Pemandian ini barang tentu sudah bisa dikatakan sudah ramai dikunjungi pengunjung medio awal tahun 2020 an. Pengunjung tempat wisata ini sekitar 100-200 orang setiap hari. Karena pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia pada awal maret. Maka pemandian ini sudah tidak ada lagi(vakum) karena waktu itu masyarakat tentu takut akan Covid-19.

Covid-19 menyebabkan segala aspek mati, pariwisata pada saat Covid-19 juga bisa dikatakan sudah tidak ada lagi khususnya di daerah Tandikek Asli ini. Pada awalnya Pemandian ini ramai dikunjungi wisata-wisata lokal misalnya di daerah Kecamatan Patamuan saja. Akan tetapi sejak era Pandemi hal ini seakan-akan hilang dalam sekejap. Pariwisata ini bagi masyarakat sekitar pemandian sudah menjadi lahan ekonomi. Secara tidak langsung hal ini menyebabkan matinya ekonomi akibat dari Covid-19 itu sendiri.

Pariwisata yang mati akibat Covid-19 sudah payah dihidupkan lagi, maksudnya karena era Pandemi belum berakhir, sulit bagi wisatawan untuk datang ke tempat pemandian ini. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat Tanndikek Asli. Covid-19 sudah menjadi hantu bagi masyarakat agar segera berakhir. Penulis mempresiksi kalau tidak ada Pandemi pemanadia Aie Tanang ini akan ramai dikunjungi seperti tahun 2017 eksisnya Lubuak Batu Paliamauan kala itu. Tapi hal ini seakan sekarang sudah tidak ada.

Kita sebagai masyarakat sudah barang tentunya untuk memajukan kampung kita dengan pariwisata baik itu wisata alam, religi dan lain-lain. Kita tidak boleh menyalahkan keadaan pandemi ini.  Sebelum pandemi seperti ini, sesudah pandemi seperti ini, hal ini tentu berdampak pada masyarakat itu sendiri. Tugas kita sekarang yaitu kita sebagai masyarakat bagaimana kita menghidupkan kembali pariwisata kita yanh mati ini agar tetap eksis dimata wisatawan dan menunggu pandemi berakhir dan menata kembali wisatawan yang memiliki potensi ini agar tidak mati.

*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid  Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek.

Jadi Penggiat Desa? Teruslah Bergerak dan Jangan Pernah Menyerah
Kamis, Oktober 14, 2021

On Kamis, Oktober 14, 2021

SEKITAR medio Agustus 2021 lalu, saya mulai bergerak membersihkan lahan pekarangan samping dan depan rumah. Hampir satu tahun belakangan terabaikan dan sudah menyemak hingga rumputpun sudah meninggi.

Impian saya sebagai penggiat desa adalah untuk menumbuhkan sebuah Desa Wisata di Desa. Namanya Desa Wisata Guguak Kuranji Hilir yang terletak di Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat. Disingkat menjadi DEWI GURANJHIL.

Bukan ikut-ikutan atau latah membuat Desa Wisata, namun hasrat ini telah terpendam sejak tahun 2013 lalu. Hanya saja karena sesuatu dan lain hal, hingga akhirnya saya pun hijrah ke Pontianak, Kalimantan Barat pada tahun 2014. Sejak itu, lahan milik keluarga ini terbengkalai.

Untuk dapat menjadi tujuan wisata dan dikunjungi orang dari lokal maupun dari luar desa, selayaknya memiliki konsep yang kuat. Konsep yang saya usung adalah Wisata Keluarga dan Edukasi.

Menjadi Penggiat Desa tidaklah selalu berjalan mulus dan baik. Rintangan, onak dan duri selalu mengiringi dalam setiap perjalanan kegiatan yang dilakukan. Penggiat Desa itu adalah Pejuang. Dan sebagai Pejuang, ia terus bergerak menuju tujuannya dan tidak ada kata menyerah.

“Untuk apa kamu buat Desa Wisata?” demikian celoteh seorang warga.

“Nanti hanya akan membuat nagari (desa - pen) ini penuh dengan mesum dan hanya akan merusak nagari,” lanjutnya pula.

Pernyataan warga tersebut saya konfirmasikan dengan tokoh masyarakat, niniak mamak, bundo kanduang, pemuda dan warga masyarakat lainnya. Hanya untuk sebuah kepastian bahwa Desa Wisata juga meruapakan keinginan warga dan bukan keinginan saya pribadi. Dan ternyata, mereka sangat mendukung adanya Desa Wisata ini.

Ungkapan Desa Wisata dan Desa Digital menjadi sering diperbincangkan orang bahkan dari Presiden Jokowi, Kementerian/ Lembaga, perusahaan bahkan komunitas-komunitas lainnya yang masif didirikan dengan berbagai macam programnya.

Jadi, jika Anda termasuk salah satu Penggiat Desa yang peduli dengan kemajuan Desa, maka teruslah bergerak dan jangan pernah menyerah.

“Indonesia Tidak Akan Besar Karena Obor di Jakarta, Tapi Akan Bercahaya karena Lilin di Desa,” demikian ungkapan ini pernah diucapkan oleh Bung Hatta. 

Salam dari Desa

*Penulis: H. Ali Akbar, Perwakilan Media Online BentengSumbar.com Wilayah Pariaman dan Padangpariaman

Pro Kontra Hukuman Mati, Apakah Mampu Membuat Efek Jera?
Selasa, Oktober 12, 2021

On Selasa, Oktober 12, 2021

BANYAK negara di dunia masih menerapkan hukuman mati bagi pelanggar hukum, dengan ketentuan yang berbeda-beda di masing-masing negara, termasuk di Indonesia. Di Tanah Air sendiri, beberapa kali menjatuhkan hukuman mati, misalnya pada 2020 kepada dua terpidana penyelundup narkoba.

Meski demikian, hukuman mati masih menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat dunia tidak setuju dengan hukuman ini karena dianggap melanggar nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Oleh karenanya, sejak tahun 2003, tanggal 10 Oktober diperingati sebagai World Day Against the Death Penalty atau Hari Internasional Menentang Hukuman Mati. 

Peringatan ini diluncurkan oleh World Coalition Against the Death Penalty, yang merupakan perkumpulan dari organisasi non pemerintah (NGO) serta pemerintahan lokal dari seluruh dunia.

Awalnya, organisasi tersebut berpartisipasi dalam kongres internasional menentang hukuman mati di Strasbourg pada tahun 2001. Organisasi ini membangun koalisi untuk melobi para negara yang masih menggunakan hukuman mati.

Dikutip dari laman Amnesty.id, pada 1977 baru ada sekitar 16 negara yang menghapuskan hukuman mati baik dalam sistem hukum mereka (de jure) dan secara praktik (de facto).

Jumlah ini bertambah pada 2017 yang tercatat sudah mencapai 105 negara di dunia yang menghapuskan hukuman mati untuk segala macam kejahatan. Namun Indonesia sendiri hingga saat ini belum mempunya wacana untuk penghapusan hukuman mati.

Jumlah negara yang menyetujui penghapusan hukuman mati kembali meningkat pada tahun 2020. Menurut laporan hukuman mati tahun 2020 Amnesty International, lebih dari dua pertiga dunia kini telah menghapus hukuman mati dalam undang-undang ataupun praktik.

Sebanyak 108 negara telah sepenuhnya menghapus hukuman mati untuk semua kejahatan, 28 negara telah efektif menghapus hukuman mati dengan tidak mengeksekusi siapapun selama 10 tahun terakhir dan 55 negara masih mempertahankan hukuman mati untuk kejahatan biasa.

Praktik hukuman mati

Pada tahun 2020, setidaknya 483 orang diketahui telah dieksekusi. Angka ini termasuk terendah yang tercatat Amnesty International selama dekade terakhir.

Eksekusi pada tahun 2020 turun 26% dibandingkan dengan 2019 dengan angka 657; dan sebesar 70% dari puncak 1.634 eksekusi yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia internasional pada tahun 2015.

Empat negara – Iran (setidaknya 246), Mesir (setidaknya 107), Irak (setidaknya 45) dan Arab Saudi (27), menyumbang 88% dari semua eksekusi yang diketahui pada tahun 2020.

Total global yang tercatat di atas tidak termasuk ribuan eksekusi yang diyakini Amnesty International dilakukan di China, di mana data tentang hukuman mati diklasifikasikan sebagai rahasia negara.

Amnesty International mencatat bahwa 16 wanita termasuk di antara 483 orang yang diketahui telah dieksekusi pada tahun 2020. Cornell Center on the Death Penalty Worldwide memperkirakan bahwa setidaknya 800 wanita telah dijatuhi hukuman mati di seluruh dunia.

Setiap negara pun mempunyai metode berbeda dalam pelaksanaan hukuman mati. Ada yang menggunakan kursi listrik, suntikan beracun, digantung, dipancung dan ditembak mati oleh regu penembak.

Lima metode eksekusi yang berbeda juga digunakan pada tahun 2020. Metode yang paling umum adalah menggantung dan menembak, yang digunakan di 15 negara berbeda.

Injeksi mematikan adalah metode eksekusi yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat, tetapi beberapa negara bagian mengizinkan metode lain, termasuk penyetruman, kamar gas, gantung dan regu tembak.

Pemenggalan kepala dengan pedang adalah bentuk eksekusi utama di Arab Saudi.

Efek jera

Amnesty International menyatakan, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa hukuman mati memiliki efek jera yang unik dibanding penghukuman lainnya.

Statistik dari negara-negara yang telah menghapus hukuman mati menunjukan bahwa ketiadaan hukuman mati tidak menghasilkan peningkatan angka kejahatan di mana sebelumnya dikenai hukuman mati, termasuk kejahatan-kejahatan terkait narkotika.

Amnesty International dalam pernyataanya menentang penerapan hukuman mati bagi semua kasus di segala kondisi dan menganggap merupakan pelanggaran hak atas hidup, yang diakui oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan merupakan penghukuman yang paling kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia. 

Lebih dari itu, hukuman mati juga memberikan dampak negatif bagi keluarga yang ditinggalkan. Oleh karenanya beberapa kali peringatan tersebut menyoroti kondisi para keluarga dari terpidana mati. 

Pada peringatan ke-17 tahun 2019, misalnya, Hari Internasional Menentang Hukuman Mati, menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak dari orang tua yang dihukum mati.

Sedangkan setahun sebelumnya, Hari Internasional Menentang Hukuman Mati mengangkat soal meningkatkan kesadaran tentang kondisi yang tidak manusiawi dari orang yang akan dijatuhi hukuman mati.

Koalisi Anti-Hukuman Mati Sedunia menyatakan, hukuman mati tidak hanya mempengaruhi orang yang dihukum mati tetapi juga keluarga, tim hukum, dan akhirnya masyarakat. 

Menurut Koalisi, penjara saat ini sudah tidak manusiawi, terlebih bagi mereka yang sudah diputuskan mendapat hukuman mati. Hak-hak mereka seolah diabaikan, bahkan sebelum dieksekusi. Mereka tidak lagi dianggap sebagai manusia. (Hanifa B – Anggota Perempuan Indonesia Satu)