Opini

PARLEMEN

Sports

Opini

Catatan Haji Ali Akbar: Meraih Asa Melalui Setiap Musibah yang Menimpa Diri
Kamis, April 15, 2021

On Kamis, April 15, 2021

Catatan Haji Ali Akbar: Meraih Asa Melalui Setiap Musibah yang Menimpa Diri
INDONESIA berduka.. Ibu pertiwi berduka..


Negeri ini sedang berduka, mendengar dan melihat musibah demi musibah yang terjadi akhir-akhir ini seakan Tuhan sedang memberikan sinyal kepada penghuninya akan sebuah kesadaran yang harus dipertimbangkan untuk difikirkan dan difahami. Banjir bandang, tanah longsor, kilang minyak meledak, gunung meletus, gempa bumi dan lain sebagainya.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” – (QS. Ar-Rum (30): ayat 41).


Cuplikan ayat Al Qur’an di atas mengingatkan kepada seluruh umat bahwa semua musibah yang terjadi adalah sebagai akibat dari perbuatan dan ulah manusia itu sendiri, senang dan bahagia mengerjakan maksiat – larangan Tuhan, dan tidak mau mengindahkan suruhan Tuhan bahkan membelakanginya.


Buya Hamka melalui Tafsir Al-Azharnya yang masyhur menuliskan, “.. nampaklah dengan jelas bahwa bilamana hati manusia telah rusak, karena niyat mereka telah jahat, kerusakan pasti timbul di muka bumi. Hati manusia membekas kepada perbuatannya.” – (1979: Hamka, Tafsir Al-Azhar, juz XXI, edisi lux, Penerbit Pustaka Islam, Surabaya, hal. 120).


“Di daratan memang telah maju pengangkutan, jarak dunia bertambah dekat. Namun hati bertambah jauh. Heran!  Banyak orang membunuh diri karena bosan dengan hidup yang serba mewah dan serba mudah ini. Banyak orang yang dapat sakit jiwa!”, demikian Buya Hamka. (hal.121).


Dalam Tafsir as-Sa'di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H mengungkapkan: Maka Mahasuci Allah yang mengaruniakan nikmat dengan musibah dan memberikan sebagian hukuman agar manusia kembali sadar, sekiranya Allah menimpakan hukuman kepada mereka terhadap semua perbuatan buruk mereka, niscaya tidak ada satu pun makhluk yang tinggal di bumi.


Pertanyaannya adalah, “Apakah kita bisa melihat cahaya Tuhan diantara musibah yang datang?”, “Mampukah kita mengubah musibah menjadi nikmat atau rahmah?”, “Bagaimana caranya agar kita tetap tenang dan senang menerima musibah yang terjadi?”. Dibutuhkan hati dan jiwa yang pasrah pada Kehendak Tuhan untuk bisa menjawab semua pertanyaan di atas.


Solusi penulis dalam menghadapi musibah yang terjadi baik terhadap diri sendiri, keluarga dan lingkungan bahkan negeri yang tercinta ini adalah seberapa kuat kita punya kemauan untuk datang dan kembali menghadap kepada Kekuasaan dan Kebesaran Tuhan? Dia-lah Maha Segala-galanya, tempat kita meminta, Yang kita sembah. Ingat dan kembali kepada-Nya karena kita telah lalai dan lupa selama ini. Dunia ini membuat kita terlena akan keindahan dan kemegahannya.


Terakhir, "Dalam musibah itu terdapat empat seni, yaitu mencari pahala dari Allah, berkawan dengan kesabaran, berdzikir dengan baik, dan menunggu kelembutan dari Allah SWT." 


*Penulis H. Ali Akbar, Tinggal di Karan Guguak Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Padang Pariaman. 

Catatan Haji Ali Akbar: Gaya Kepemimpinan Berkorelasi Positif Terhadap Maju atau Mundurnya Sebuah Entitas
Rabu, April 14, 2021

On Rabu, April 14, 2021

Catatan Haji Ali Akbar: Gaya Kepemimpinan Berkorelasi Positif Terhadap Maju atau Mundurnya Sebuah Entitas
DALAM pemilihan ketua kelas, yang sering menjadi bahan perbincangan adalah siapa dan bagaimana ia akan mempimpin kelas nantinya. Apakah ia (calon ketua kelas) akan mampu membawa kemajuan bagi kelasnya atau bahkan akan membuat kelas tersebut mundur atau bahkan menjadi kacau?


Demikian juga dengan digelarnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang baru-baru ini telah dilaksanakan oleh KPU – Komisi Pemilihan Umum, bulan Desember tahun 2020 yang lalu. Tujuannya adalah untuk memunculkan seorang pemimpin yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam membangun daerahnya dibanding rivalnya.


Pertanyaannya adalah gaya kepemimpinan yang bagaimanakah yang sesuai dengan dimana entitasnya berada? Mari kita simak pendapat para tokoh yang berbicara tentang seorang Pemimpin.


Pemimpin yang terbaik adalah yang paling memiliki penguasaan diri untuk dipimpin. Maka seorang Pendito Ratu haruslah a man of nothing to loose. Tak khawatir kehilangan apa-apa. Jangankan harta benda, simpanan uang, seribu perusahaan, tanah, gunung dan tambang. Sedangkan dirinya sendiripun sudah tak dimiliknya, sebab telah diberikan kepada Tuhan dan rakyatnya. (Emha Ainun Najib)


Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator. (Hadji Oemar Said Tjokroaminoto)


Banyak teori yang membahas tentang Kepemimpinan. Salah satunya adalah buku yang diberi judul “Intisari Teori Kepemimpinan”, karangan Prof.Dr.H. Siswoyo Haryono, MM,MPd., penerbit PT. Intermedia Personalia Utama, tahun 2015.


Menurut Afdhal (2004:25) topik kepemimpinan telah dibahas sejak zaman dahulu, sejak Plato masih hidup. Permasalahan utama dalam organisasi bisnis selalu sama, yaitu : kekurangan pemimpin. Sebagai bukti begitu pentingnya peran kepemimpinan dalam mencapai tujuan organisasi, sampai tahun 2002 telah diterbitkan sekitar 2000 judul buku yang membahas secara khusus mengenai kepemimpinan. Dua pakar kepemimpinan Robert Coffe dan Garret Jones yang dikutip oleh Afdhal melihat bahwa hal penting yang diperlukan oleh para pemimpin adalah : visi, energi, kekuatan dan arah strategis. (hal.1)


Pemimpin (leader) adalah tokoh atau orang yang memimpin, sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain (pengikut atau anak buah) untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasinya.


Menurut Siswoyo Haryono, ada 1). Teori kehadiran orang besar, 2). Teori kepemimpinan alamiah, 3). Teori perilaku kepemimpinan, 4). Teori kepemimpinan perilaku khusus, 5). Teori kepemimpinan partisipatif, 6). Teori kepemimpinan situasional, 7). Teori kepemimpinan kontinjensi, 8). Kepemimpinan transaksional, dan 9). Teori kepemimpinan transformasional.


Dalam Teori Kepemimpinan Transformasional misalnya, kunci utama bagi keberhasilan kepemimpinan: 1). Membuat contoh, 2). Mengispirasi kesamaan visi, 3). Proses yang menantang, 4). Berdayakan orang lain untuk bertindak dan 5). Mendorong dengan sepenuh perasaan.


Orang melakukan pekerjaan terbaik ketika mereka bergairah terhadap apa yang mereka lakukan. Pemimpin melepaskan antusiasme kepada pengikut mereka ini dengan kondisi yang sesuai dengan semangat mereka. (hal. 126). 


*Penulis adalah Haji Ali Akbar, tinggal di Karan Guguk Kuranji Hilir, Sungai Limau Padang Pariaman.

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Ajaran Islam
Selasa, April 13, 2021

On Selasa, April 13, 2021

PERIHAL bersuci (thaharah) dalam Islam merupakan hal yang tak bisa ditawar apalagi mengganggapnya sepele. Ada mandi wajib dan mandi biasa, perbedaan keduanya terletak pada niatnya. Yang akan kita uraikan kali ini adalah mandi wajib dan tata caranya sesuai tuntunan ajaran Islam.

1. Membaca niat

a). Setelah berhubungan suami isteri (junub) atau keluarnya mani (mimpi basah).

Nawaitul Ghusla Lirof'il Hadatsil Akbari Minal Janabati Fardhan Lillaahi Ta'aalaa.

Artinya:

"Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dari jinabah, fardhu karena Allah Taala"

b). Setelah berhenti darah nifas.

Nawaitul Ghusla Lirof'il Hadatsil Akbari Minan Nifasi Fardhan Lillaahi Ta'aalaa.

"Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dari nifas, fardhu karena Allah Taala"

c). Setelah masa haid.

Nawaitul Ghusla Lirof'il Hadatsil Akbari Minal Haidi Fardhan Lillaahi Ta'aalaa.

"Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dari haid, fardhu karena Allah Taala"

2. Membasuh telapak tangan sebanyak tiga kali

Dari Aisyah r.a, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat mandi karena junub, maka beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali. (Hadits riwayat Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317).

3. Mencuci area kemaluan

Hal ini untuk membersihkan sisa-sisa kotoran dan air mani yang masih tersisa di area kemaluan dan dubur menggunakan tangan kiri. Cuci dan bilas dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.)

4. Berwudhu’

Wudhu adalah cara Islam untuk mensucikan diri sebelum menghadap Yang Maha Esa. Lakukan Wudhu’ sebagaimana saat hendak melaksanakan shalat.

5. Membasuh rambut

Ambil air di telapak tangan, Siramkan ke kepala sambil digosok ringan. Kemudian basuh kepala 3 kali. (Hadits riwayat Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316).

6. Mandi dan bersihkan seluruh anggota tubuh

Langkah terakhir dalam mandi wajib adalah membersihkan seluruh anggota tubuh mulai dari ujung rambut sampai pangkal kaki.

Ditulis Oleh: H. Ali Akbar, tinggal di Karan Guguk Kuranji Hilir, Sungai Limau Padang Pariaman.

Menteri Berdatangan, Padang Ketiban Untung
Selasa, April 13, 2021

On Selasa, April 13, 2021

SUMATERA BARAT atau Padang khususnya, ibarat magnet dalam sepekan kemarin. Betapa tidak, wakil presiden dan empat menteri berdatangan ke Sumbar. Kok bisa?

Ya, sepanjang hidung ditempuh nafas, agaknya baru kali ini Sumatera Barat dikunjungi wapres dan empat menteri secara bersamaan. Ada yang menyebut, kedatangan pejabat pusat itu karena Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharulah baru saja dilantik. Ada pula yang beranggapan, kedatangan empat menteri itu karena selama ini Sumbar kurang terperhatikan, sehingga kinilah saatnya perhatian diberikan.

Apapun itu, kedatangan Wapres dan empat menteri membuat Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat ketiban untung. Kunjungan empat menteri membuat kesulitan yang selama ini dirasakan Kota Padang menjadi mudah. Pembangunan yang diharapkan langsung dijawab pejabat pusat.

Seperti saat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengunjungi Sumbar pada Kamis (8/4/2021). Mata menteri ini langsung tertuju kepada Sitinjau Lauik. Jalur Padang - Solok yang dikenal berbahaya itu menjadi perhatiannya.

Gayung bersambut, keinginan ‘’memangkas” tanjakan di Sitinjau Lauik yang sudah lama diidamkan warga Sumbar akhirnya terjawab sudah. Suharso akan membangun jembatan layang atau fly over di Panorama I. Pembangunan itu dimulai pada 2022 dan diestimasi rampung pada 2024. Tak tanggung-tanggung, Rp1,28 triliun digelontorkan untuk menuntaskan proyek raksasa nasional itu.

Usai melihat kondisi jalur Sitinjau Lauik, Suharso kemudian berkunjung ke Danau Maninjau, Kabupaten Agam untuk melakukan pemeriksaan agar warga sekitar mengalihkan pakan ikan menjadi pakan organik. Serta mengunjungi Stadion Utama Sumbar di Padang Pariaman dqn mendatangi Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas, Kabupaten Limapuluh Kota. Termasuk berkunjung ke Bukittinggi untuk melihat Ngarai Sianok dan Lobang Japang. Dirinya mengusulkan kepada Unesco agar Ngarai Sianok naik status dari Geopark Nasional menjadi Geopark Dunia.      

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang duluan datang ke Padang pada Selasa (6/4/2021). Setelah mendatangi Pasar Bukittinggi, Mendag mengunjungi Pasar Raya Padang.  

Saat melihat Pasar Raya Padang, Mendag menyampaikan komitmen Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk melakukan revitalisasi terhadap 119 pasar rakyat yang ada di seluruh Indonesia, termasuk Pasar Bawah Bukittinggi dan Pasar Raya Padang Fase VII. Dulunya, Pasar Raya Padang Fase VII merupakan pusat perdagangan yang sempat penuh sesak. Namun, sejak gempa melanda Padang pada 2009 silam, kondisi Fase VII cukup memprihatinkan.

Sebenarnya, pada masa kepemimpinan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Wali Kota Hendri Septa beberapa waktu lalu, Fase VII sempat akan direvitalisasi dan dibangun bertingkat. Fase VII dibangun dengan konsep modern, dimana di lantai bawah digunakan untuk berdagang, sedangkan lantai atas dibangun hotel berbintang. Namun pembangunan itu terganjal, padahal ketika itu amdal untuk pembangunan sudah ada.

Beruntung, dengan kedatangan Mendag pada pekan lalu itu melegakan para pedagang. Tempat mereka berjualan menjadi perhatian. Bahkan Wali Kota Padang Hendri Septa waktu itu menyerahkan proposal pembangunan Fase VII senilai Rp 200 miliar kepada Muhammad Lutfi.

“Mudah-mudahan setelah Fase VII ini dibenahi akan memperbaiki kegiatan ekonomi Kota Padang,” harap Mendag ketika itu.

Mendag tidak saja melihat Fase VII. Tetapi Mendag juga melihat langsung aktifitas jual beli di Pasar Raya Padang. Mendag mendengar sendiri harga kebutuhan pokok di pasar. Serta melihat aktifitas vaksinasi Covid-19 bagi pedagang.

Menteri lain yang datang ke Padang yakni Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Jumat (9/4/2021). Kedatangannya ke Padang untuk melihat pelaksanaan vaksinasi untuk lansia yang berlangsung di halaman RSUP M. Djamil. Menkes juga mengapresiasi pelaksanaan vaksinasi yang berjalan aman dan tertib di rumah sakit tersebut.

Selain mendatangi RSUP M. Djamil, Menkes juga bertolak ke Bukittinggi untuk meresmikan Rumah Sakit (RS) Otak Mohammad Hatta Bukittinggi yang sebelumnya adalah Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN).  

Kemudian, menteri lain yang datang ke Sumbar dan singgah ke Padang yakni Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Sebelum bertolak ke Balai Buah Tropika (Balitbu), Kabupaten Solok pada Jumat (9/4/2021), Mentan memilih mampir di Taman Hutan Raya Bung Hatta. Sebab di sini akan diajdikan sebagai lokasi pengelolaan peternakan sapi perah untuk pemenuhan kebutuhan susu sapi segar di Kota Padang. Termasuk kebutuhan daging, sekaligus menjadikan Tahura sebagai tempat agro wisata dan pendidikan.

Agaknya, Pemerintah Kota Padang patut berterimakasih kepada Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah. Berkat Mahyeldi, Kota Padang mendapat untung. Empat menteri singgah ke Padang dan akan membangun Padang sesuai dengan kebutuhan. Termasuk kepada Wali Kota Padang Hendri Septa, mampu menyampaikan kebutuhan Kota Padang kepada empat menteri yang datang. Terimakasih pak Mahyeldi, terimakasih juga pak Hendri Septa!

Ditulis Oleh: Charlie Ch. Legi, ASN Pemko Padang.

Puisi-Puisi Abdul Jamil Al Rasyid
Sabtu, April 10, 2021

On Sabtu, April 10, 2021

Puisi-Puisi Abdul Jamil Al Rasyid

Terbuang

Katakan padaku apa maumu?

Apa kau begitu bijaksana?

Apa kau begitu bergelora dengan cinta?

Apakah sehitam ini?

Bimbang bagai embun tanpa pagi

Aku tidak ingin kau seperti pelangi

Aku tidak mau kau berwarna...

Aku hanya ingin putih

Bersih melambangkan kesucian

Aku yang kau buang laksana binatang

Tidak tahu dimana rimbanya

Dibuang disebuah palung lautan yang dalam

Semoga angin malam berpihak padaku

Engkau yang terpatri dalam doaku


Tandikat, 21 September 2020


Sajak tidur


Lentera mentari suah tampak

Kokok ayam suah bising

Tapi Sajak masih menceracau

Menceracau di alam mimpi

Lalu melelai lemas tak berkutik

Air membangunkan sajak

Diguyurnya,lalu lahirlah sajak anyar

Barangkali sajak masih merem


Tandikat,12 Oktober2020


Sabtu malam


Dalam senyap malam itu

Dingin merasuk hingga tulang

Seperti biasa

Kalbu bersorak di lengang malam

Meneriaki namamu di sepanjang pengaharapan


Tak disangka

Berkokok itik serupa ayam

Mentari pagi datang

Menyinari kalbu yang lenyah sunyi

Barangkali itu sabtu keberuntungan


Tandikat, 02 November 2020


Mila


Entah kau batu?

Entah kau pasir?

Aku mengada-ada

Seraya senyap di gubukku


Mungkin kau Sungai

Mengalir begitu laju ke mataku

Berhulu dari jabal rasaku

Hingga bemuara di pesisir kalbuku


Mungkin kau cuaca

Dingin jadi beku darahku

Panas jadi didih kulitku

Barangkali kau asmara baruku


Tandikat, 15 Maret 2021


Diam


Neraka sudah tampak di pelupuk mata

Api membakar tulang-tulang

Didih dan hancur jadi abu

Abu terbang ke angkasa

Daging hanya bisa terpaku

Melihat sekawanan tulang jadi abu

Barangkali abu tulang masih ada harapan


Tandikat, 01 April 2021


Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid, Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek

Pada Suatu Waktu Aku Masih Ingat Dalam Secangkir Matamu
Sabtu, April 10, 2021

On Sabtu, April 10, 2021

Pada Suatu Waktu Aku Masih Ingat Dalam Secangkir Matamu
Pada suatu waktu


Aku melihatmu didalam diriku

Melihatmu begitu mencemaskanku

Aku mendengar suara langkahmu di antara angin

Mendengarmu meributi diriku di antara malam malamku

Pada suatu waktu

Kamu adalah api yang memasak rasaku

Pada suatu waktu

Kamulah yang terpatri di sepertiga malamku


Tandikat, 30 September 2020


Aku masih ingat


Kutulis dedaunan hijau

Kubaca lalu kusisihkan

Kutulis rindu  yang risau

Kubaca lalu kuselipkan


Aku masih ingat


Matamu membuat candu

Aku masih ingat

Tanganmu begitu layu


Setiap langkahku

Itulah doaku

Setiap hariku

Sepi tanpamu


Tandikat, 19 Oktober2020


Dalam secangkir matamu


Dimatamu tergenang merah yang menua

Larut dalam pandanganmu yang begitu menggoda

Aku dipaksakan candu

Hingga menikmati kesengsaraan dalam tubuhku


Tandikat,, 30 September 2020


Doaku malam ini


Rinai hujan di paruh malam ini

Megenangkanku binar lentera  bola matamu

Suaramu yang sarau memicu candu bagiku

Dibilikku,tercecer secarik kertas rinduku

Aku tulis, "semoga kau dijaga oleh biadab jalang itu"


Tandikat, 9 Oktober2020


Buku usang


Goresan kecil di kalbuku

Mengusik lengang malamku

Kubaca hingga larut asmaraku

Membuat sungai di pipiku

Lalu kutulis di lembaran sepiku

"Rindu beta sepanjang 201 m"

Barangkali itu buku usang


Tandikat, 12 Oktober 2020


Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid,  mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek

Catatan H Ali Akbar: Hidup Sejahtera dengan Bertani
Minggu, April 04, 2021

On Minggu, April 04, 2021

Hidup Sejahtera dengan Bertani
MASIH ingat lagu Koes Plus begini, “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..”


Lagu ini mengingatkan kembali kepada kita betapa tanah dan alam negeri tercinta ini membawa keberkahan bagi masyarakatnya. Hal ini pula yang membuat para penjajah datang ke Indonesia, mengeruk hasil bumi dan alamnya. 


Namun, dengan adanya perubahan zaman, nilai dan harga hasil bumi serta alam negeri ini membuat masyarakatnya termarjinalkan dan miskin, sehingga muncullah ungkapan, “Nak, kelak kamu besar nanti jangan bertani seperti bapak, ya? Kamu pergi merantau dan bekerja di perkantoran.”  Maka para pemuda enggan bertani karena dianggap tidak bisa merubah nasib alias miskin.


Nah, melihat situasi dan keadaan akhir-akhir ini, apalagi sejak adanya pandemi COVID-19 pada tahun 2020 yang lalu, secara perlahan namun pasti muncullah paradigma baru, dimana kaum millenial (kelahiran tahun 1990-an) mulai melirik desa dengan pekerjaan bertani. Ada yang menjadi jutawan bahkan milyuner dengan hidup bertani.


Berikut ini tips dan trik cara bertani untuk mencapai hidup sejahtera:


1. Tingkatkan produktifitas pertanian dengan teknologi ramah lingkungan dan Food Safety.


Mengolah tanah agar tetap subur dengan menggunakan teknologi pupuk mikroba atau konsep agro-forestry.


Teknologi pupuk mikroba ini merupakan salah satu solusi atas masalah menurunnya kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan. Pemanfaatan mikroba, yang merupakan salah satu kekayaan hayati, menjadi alternatif yang terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan.


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan teknologi Beyonic yang berbasis mikroba untuk pembuatan pupuk organik. Peluncuran teknologi tersebut dilakukan Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/1/2010).


Konsep Agro-forestry atau Wanatani adalah suatu bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.


Food safety atau keamanan pangan merupakan suatu ilmu yang membahas tentang persiapan, penanganan serta persiapan makanan atau minuman agar tidak terkontaminasi oleh bahan kimia, fisik maupun biologis. Artinya bahan makanan atau minuman yang kita makan itu sehat.


2. Peningkatan nilai tambah & divesifikasi produk.


Produk pertanian diolah sedemikian rupa dengan menambahkan unsur teknologi terapan atau Teknologi Tepat Guna agar menambah hasil jual dari produk pertanian tersebut.


Misal: (a). Singkong diolah menjadi tepung terigu, gorengan, tepung mocaf (modified cassava flavour, dimana teksturnya lebih kasar dari tepung terigu), bio-ethanol dlsb. (b). Padi yang bisa diolah berupa sekam, bekatul dan jeraminya menjadi makanan, pupuk organik, dlsb.


 3. Menaikkan awareness dengan branding.


Membuat branding atau merek terhadap hasil olahan produk pertanian, sehingga bisa dikenal dan dapat meningkatkan nilai jual.


 4. Memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan penjualan menggunakan digital marketing. 


Ditulis Oleh:  H. Ali Akbar, Tinggal di Pariaman.

Catatan Joko Yuliyanto: Lika-Liku Kentut
Rabu, Maret 31, 2021

On Rabu, Maret 31, 2021

Catatan Joko Yuliyanto: Lika-Liku Kentut
DI pagi buta, mobil berkapasitas 15 orang itu mejeng di depan ruko. Dari persimpangan jalan, aku lihat teman-teman kantor sedang nyaman ngobrol seputar tempat wisata. Minggu ini, kami berencana menghabiskan akhir pekan dengan liburan ke Pacitan, Jawa Timur.


Pantai Srau dan Klayar adalah primadona bagi buruh-buruh pabrik seperti kami. Selain pemandangannya enak di mata, jarak dari rumah ke pantai juga tidak terlampau jauh alias ngirit biaya. Kami pun mufakat untuk menggunakan mobil tanggung untuk mengangkut ke Pacitan.


Selintas perjalanan, beberapa teman sibuk memainkan gadgetnya. Aku menyandarkan kepala di kaca jendela mobil, melihat lalu lalang kendaraan di jalan raya. Adaptasi berkumpul dalam satu mobil yang lumayan berdesakan membuat suasana tidak semanarik ketika di ruangan kantor atau di cafe pas buka bersama.


Sampai kemudian ada yang nyletuk, “Siapa yang kentut?” diikuti dengan arah gerakan tangan menutup mulut dan hidungnya. Serasa membangkitkan gairah untuk meramaikan suasana di dalam mobil, semua orang refleks menutup mulut dan hidungnya masing-masing.


Tidak ada pelaku, karena belum ada yang mengaku. Selanjutnya adalah sikap saling menuduh satu sama lain. “Baunya sih, arahnya dari depan.” ujar penghuni jok belakang. Sedangkan penghuni jok depan mengelak, “Enggak. Baunya dari samping kiri.” Aku masih diam menyandarkan kepala di kaca jendela mobil dengan menutup hidung. Merenung, “Masak kentut bisa dideteksi dari arahnya? Emang kelihatan?”


Saking baunya dan tak kunjung ditemukan tersangka kentut ilegal tersebut, pak sopir menghentikan mobil di pom bensin. Segera semuanya membuka fentilasi udara di dalam mobil. Bahkan ada yang muntah karena menyengatkan bau yang bersumber dari dubur salah seorang tersebut.


15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan tetap mencari tahu pelaku kentut yang sudah memakan banyak korban. Bahkan sekonyong-konyong ada yang menyumpah bagi yang tidak mengaku pantatnya akan dobolen. Entah itu istilah dari mana, dobolen merupakan sumpah serapah yang memasyarakat di Jawa untuk dijadikan momok pelaku kentut. Meskipun setelah disurvei, banyak yang tidak paham apa itu dobolen.


***


“Yang jelas bukan aku”


Pulang dari liburan sehari di Pacitan. Aku dan temanku satunya mampir di rumah menunggu jemputan. Cerita kebahagiaan berwisata seolah lenyap digantikan dengan gibah pelaku kentut pagi tadi. “Menurutku sih pelakunya Mawar, toh dari raut mukanya terlihat seperti orang yang mau menahan eek!” 


“Kok kalau aku sebaliknya ya?! Menurutku yang kentut itu mas Anto.”


“Lha bukannya dia yang pertama kali menuduh kentut berasal dari depan? Dari nada bicaranya sih, sepertinya dia bukan pelakunya”


“Justru yang paling pertama itu. Dia berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan menuduh orang lain. Logikanya, kalau dia yang pertama mengetahui bau kentut, berarti kentut itu berasal dari dia dong?!”


Lama perbincangan kami, akhirnya jemputan datang. Ia berpamitan meninggalkan teka-teki siapa pelaku kentut yang sesungguhnya. Sedemikian rapat untuk tidak mengakuinya meskipun disumpah aneh-aneh oleh seluruh penumpang mobil. Rela pantatnya rusak berantakan daripada menanggung malu karena bau kentutnya yang sungguh membuat mata pedas.


Aku masuk rumah dan mandi. Setelahnya rebahan di depan TV. Aku kentut berulang kali. Katanya semakin jahr suara kentut baunya lebih soft daripada suara kentut yang sirr. Mendesis tapi bikin menangis. Sedangkan analisis secara medis tergantung yang dikonsumsi. Kalau makannya singkong, ketela, telur busuk ya kentutnya akan menyengat. 


Aroma kentut sendiri juga terasa lebih akrab di indera penciuman kita. Tidak kaget. Kebebasan berkentut ria saat sendiri adalah kebiasaan yang tidak semencekam ketika berada di dalam mobil. Kentut bukan sedekah yang ketika dibagi bakal membuat bahagia penerima. Kentut adalah instrumen biologis manusia yang ketika dibuang melegakan bagi si pemilik dan menyengsarakan bagi si penerima.


***


Menyangga kepala dengan tangan kanan, aku bersila memperhatikan khotbah salat Jumat dengan setengah sadar. Selain lama, nada bicara khatib juga mendayu-dayu mengajak jamaah lainnya untuk tidur berjamaah.


Aku mencoba menyegarkan pandangan mata agar lebih fokus memperhatikan isi ceramah. “Jadi kita harus bersyukur, karena Allah telah menyembunyikan aib kita. Bayangkan jika seluruh aib kita dibukakan oleh Allah......” Khatib menjelaskan dengan disertai dalil-dalil untuk melegitimasi kelayakannya berdiri di mimbar khotbah Jumat.


Seketika pikiranku melayang untuk mengorelasikan antara aib dan kentut. Ketika sendiri, kita sering berperilaku tanpa malu karena merasa aib kita sedang tidak diketahui banyak orang. Namun ketika di tengah masyarakat, kita berusaha menyembunyikan erat aib agar tetap terlihat sebagai manusia yang sempurna.


Ketika aib kita terbongkar, maka akan dengan cepat tersebar disertai gunjingan, gibah, dan sumpah serapah. Demikian yang menjadikan orang-orang mempunyai etos untuk menyembunyikan aib, sekalipun disumpah celaka. Aib adalah sesuatu yang pasti dimiliki manusia. Intensitas banyak dan sedikit tergantung seberapa sering aib kita terbongkar di depan publik.


Kadang aib menjadi hal biasa untuk dipamerkan kepada sahabat karib. “Ya beginilah aku, apa adanya.” Tapi menjadi tabu ketika terlihat oleh mereka yang baru dikenal atau masyarakat luas yang bisa mengubah persepsi tentang karakter seseorang. Kentut adalah fenomena naluriah manusia yang menyiratkan pesan tentang seberapa penting aib kita tertutupi.


“Aib orang lain baunya jauh lebih menyengat dari pada aib diri sendiri”, tutup khatib Jumat saat itu. 


“Mungkin kentut kita lebih bau dari yang lain, tapi mem-bully kentut orang lain punya cita rasa dan kepuasan tersendiri.”


*Penulis adalah Joko Yuliyanto, Penggagas Komunitas Seniman NU. Penulis buku dan naskah drama. Aktif menulis opini di media daring dan luring. 

Catatan Sausan Afra: Kesalahan Penggunaan Tanda Petik Pada Pamflet Bedah Buku
Rabu, Maret 31, 2021

On Rabu, Maret 31, 2021

Catatan Sausan Afra: Kesalahan Penggunaan Tanda Petik Pada Pamflet Bedah Buku
SAAT melihat sorotan utama dalam sebuah pamflet atau papan informasi, mata dan pikiran kita seakan sedang melihat orang yang kita cintai. Mengapa demikian? Karena kita seperti buta, tidak menyadari kesalahan besar yang sebenarnya telah terpampang jelas. Entah memang tidak mengetahui atau memang tidak peduli akan kesalahan tersebut. Mungkin sekilas kita hanya melihat sebatas pamflet kegiatan bedah buku. Akan tetapi, sadarkah bahwa tulisan yang menjadi sorotan utama pada beberapa pamflet bedah buku mengalami kesalahan tanda baca?


Catatan Sausan Afra: Kesalahan Penggunaan Tanda Petik Pada Pamflet Bedah Buku

Tanda petik yang mengapit judul buku pada banyak pamflet kegiatan bedah buku terlihat lazim dan sah-sah saja. Hal tersebut dapat dibuktikan jika kita berkunjung ke tagar #bedahbuku di Instagram. Terdapat banyak pamflet yang menggunakan tanda petik untuk mengapit judul buku. Bahkan, tulisan judul buku tersebut disajikan dengan ukuran yang lebih besar daripada tulisan-tulisan lain. Tanpa sadar judul yang merupakan sorotan utama pada pamflet tersebut telah melanggar kaidah tata bahasa Indonesia.


Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoneis (PUEBI), salah satu fungsi tanda petik (“...”) memang digunakan untuk mengapit judul. Namun, tidak berlaku untuk semua judul karya. Ketentuan yang diatur pada PUEBI terhadap penggunaan tanda petik tercantum dengan jelas dan dapat dipahami dengan mudah. Judul yang boleh diapit oleh tanda petik ialah judul sajak, judul lagu, judul film, judul sinetron, judul artikel, judul naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Lantas, mengapa judul buku tidak dapat diapit oleh tanda petik sedangkan bab buku dan judul-judul lainnya boleh?


Perlu diketahui bahwa judul memang dapat ditulis dengan huruf miring atau diapit tanda petik. Begitu juga halnya dengan judul buku. Akan tetapi, untuk menulis judul karya yang cakupannya lebih besar seperti judul buku harus ditulis menggunakan huruf miring, bukan diapit dengan tanda petik dua. Tanda petik dalam penulisan judul hanya digunakan untuk menulis bagian (yang lebih kecil) dari karya yang lebih besar. Misalnya judul bab atau subbab dalam buku dan judul lagu-lagu yang merupakan bagian (lebih kecil) dalam sebuah album.


Contoh:


➤ Pada buku dan bab: 

Bab “Isim Nakirah” dapat dilihat pada buku Ilmu Nahwu halaman 108.

➤ Pada album dan judul lagu:

Lagu "Cintanya Aku" merupakan lagu pertama dari album Arti Untuk Cinta yang dinyanyikan oleh Tiara Andini dan Arsy Widianto.


Dapat dilihat bab merupakan bagian-bagian kecil yang ada buku. Begitu juga dengan judul lagu yang merupakan bagian dari karya besar, yakni album. Dari contoh di atas kita dapat mengetahui bahwa fungsi tanda petik hanya untuk membedakan judul yang menjadi bagian lain dari karya yang besar. Perbedaan penulisan tersebut ditujukan untuk membedakan judul dengan bagian lain dari kalimat.


Pada ketiga pamflet yang saya temukan pada tagar #bedahbuku di Instagram yang lalu saya gunakan sebagai data, ditulis judul kegiatan dengan judul buku yang akan dibahas seperti yang di bawah ini:


➤ Bedah Buku “Feminisme dalam Islam Sudut Pandang Aceh”

➤ Bedah Buku “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa”

➤ Webinar Bedah Buku “Koki Otonomi Kisah Anak Sekolah Pamong”


Maka seharusnya judul-judul buku tersebut tidak diapit oleh tanda petik melaikan ditulis dengan huruf miring. Berikut penulisan yang benar:


➤ Bedah Buku Feminisme dalam Islam Sudut Pandang Aceh

➤ Bedah Buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa

➤ Webinar Bedah Buku Koki Otonomi Kisah Anak Sekolah Pamong


Selanjutnya, fungsi tanda petik atau yang kerap kita kenal dengan tanda petik dua tidak hanya diatur pada penulisan judul. Tanda petik (“...”) juga digunakan dalam penulisan petikan langsung dan istilah ilmiah atau kata yang mempunyai arti khusus. Hal ini telah tertulis pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015. 


Tanda petik (“...”) digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Contoh:


➤ "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”, ucap Ir. Soekarno dalam pidatonya pada Hari Pahlawan 10 November 1961.


➤ Menurut UU Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular dan UU Nomor 6 tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, dan  Peraturan Gubernur DKI No. 33 tahun 2020 “Pelaku usaha yang telah dilarang untuk beroperasi di kantor, namun tetap melakukan kegiatan seperti biasa, maka dapat sanksi dikenakan sanksi pencabutan izin usaha, bahkan ancaman pidana.”


➤ “Kumpulkan video tersebut satu hari sebelum jadwal perkuliahan!” perintah dosen mata kuliah bahasa Inggris.


Selain itu, tanda petik juga digunakan untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus, contoh:


➤ Ocan lulus satu tahun lebih cepat daripada kami karena dia mengikuti program “akselerasi”. (Akselerasi pada kalimat tersebut merupakan istilah ilmiah yang memiliki makna percepatan)


Selama ini penggunaan tanda petik yang diketahui secara umum mungkin hanya pada penulisan petikan langsung dari pembicaraan atau kutipan dari bahan tertulis. Untuk kaidah istilah ilmiah ataupun penulisan judul masih kurang diketahui meskipun kaidah tersebut bukan kaidah yang baru diatur. Kita tidak seharusnya terus berada pada zona nyaman yang abai pada kesalahan, apalagi kesalahan tersebut terjadi berulang-ulang hanya karena alasan tidak tahu. Terlebih lagi di zaman yang serba digital ini, kita pasti akan sering menggunakan ragam bahasa tulis, misalnya menulis status dan menyebarkan informasi di media sosial. Oleh karena itu, sebagai generasi yang kesehariannya menggunakan ragam bahasa tulis, mari meminimalisir kesalahan penulisan (tanda baca) dengan mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesalahan tanda baca bukan kesalahan orang yang kita cintai, dapat diabaikan begitu saja karena bertahan dalam kenyamanan.


*Sausan Afra, berusia 19 tahun, lahir di Kota Pangkalpinang pada 19 Februari 2002. Saat ini aktif sebagai mahasiswi di program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Selain itu, juga bergiat pada Protokol Humas FIB Unand dan berbagai organisasi eksternal lainnya. Hobi travelling, tata rias, menulis, dan wicara publik.

Catatan Joko Yuliyanto: Dunia Ketersinggungan
Rabu, Maret 31, 2021

On Rabu, Maret 31, 2021

Catatan Joko Yuliyanto: Dunia Ketersinggungan
REALITA kehidupan serasa dipenuhi dengan perasaan-perasaan ketersinggungan. Akses media semakin memudahkan seseorang menjadi labil dengan perasaannya sendiri. Gampang tersinggung melihat fenomena yang tidak sejalan dengan keinginannya. Melampiaskan dengan kemarahan hingga kekerasaan.


Bonus demografi Indonesia yang mayoritas berpenduduk milenial menjadikan rentan tingkat ketersinggungan karena ucapan atau perilaku yang dianggap tidak cocok. Manusia modern yang dimanjakan teknologi terdegradasi terhadap kepekaan sosial. Menjadi manusia egois yang mementingkan dirinya sendiri, kebenarannya sendiri.


Memuncaknya ketersinggungan yang diaktualisasikan dalam kemarahan dan kekerasan disebabkan karena sikap fanatisme yang berlebihan. Pembahasan sensitif seputar agama, suku, dan ras kerap dihindari demi mengurangi risiko ketersinggungan sosial. Manusia membungkam dirinya sendiri untuk mencari tempat yang relatif aman dari dunia ketersinggungan.


Media sosial yang difungsikan untuk bersuara apapun (kebebasan berpendapat), tidak lagi nyaring terdengar karena ketakutan sanksi sosial dan hukum. Undang-Undang Informasi dan Teknologi Elektronik (UU ITE) semakin menjelasakan pembungkaman pendapat untuk meminimalisir ketersinggungan. Kehadiran polisi virtual menambah tebal tembok penjara orang-orang untuk bersuara.


Komedian pun merasa terbatasi ketika harus bercanda menyesuaikan selera konsumsi publik. Menghindari dari narasi ketersinggungan dan pembahasan sensitif yang berpotensi menyebabkan kemarahan kelompok tertentu. Apalagi jejak digital memudahkan siapapun untuk menghukum siapapun jika merasa dirugikan.


Penghinaan dan pelecehan yang akrab di kalangan komunitas komedi menjadi kaku karena diatur batas-batas ketersinggungan. Roasting tidak lagi menarik ketika masyarakat belum siap dengan komedi jenis dark jokes yang dikemas dalam balutan komedi cerdas. Komedian memilih diam, daripada berakhir di hotel prodeo.


Penegak hukum disibukkan dengan laporan-laporan pencemaran nama baik, penghinaan terhadap kelompok atau instansi, isu sara/ rasis, dan sebagainya. Penjara seolah lebih dipenuhi dengan tersangka atau terdakwa sebab ada korban yang tersinggung daripada tindakan kriminalitas pembunuhan, korupsi, dan pemerkosaan.


Solusi


Burney (2001) berpendapat bahwa ekspresi emosional yang sehat (kontrol kemarahan) menunjukkan strategi manajemen kemarahan yang baik dan belajar untuk mencari solusi positif untuk menghadapi suatu masalah.


Kelabilan emosi remaja patut dimaklumi sebagai naluri alamiah proses menuju kedewasaan seseorang. Keingintahuan yang berlebih disertai dengan konsep idealisme artifisial, membuat remaja gampang dipengaruhi oleh narasi persetujuan dalam prinsip hidupnya. Inkonsistensi terhadap idealisme personal ketika melihat banyak sudut pandang pembenaran yang merumitkan prinsip tentang kebenaran absolut. 


Ekspresi kebimbangan menemukan jati diri dengan cara melampiaskan kemarahan dan kekerasan. Emosional remaja milenial dibenturkan dengan berbagai realita paradoks tentang kebenaran prinsip dan ideologi. Beberapa yang sudah menemukan garis kebijaksanaan tidak gampang tersinggung sebagai sikap toleransi menghargai keberagaman sudut pandang.


Solusi mendasar dari konflik ketersinggungan adalah dengan sikap maaf-memaafkan. Menurut Darby & Schlenker (1982), menemukan bahwa meminta maaf sangat efektif dalam mengatasi konflik interpersonal, karena permintaan maaf merupakan sebuah pernyataan tanggung jawab tidak bersyarat atas kesalahan dan sebuah komitmen untuk memperbaikinya. 


Ketersinggungan tetap akan menciptakan konflik lanjutan jika tidak ada kebesaran hati untuk meminta maaf atas “kesalahan” yang telah diperbuat. Meskipun dalam laporannya tidak menemukan materi kesalahan yang dijadikan rujukan atas ketersinggungan secara personal maupun sosial. Di lain pihak, korban ketersinggungan juga harus legowo memaafkan tersangka yang dianggap menciptakan konflik akibat pernyataan atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang disepakati secara komunal.


Menyamakan moralitas seseorang untuk tidak berkata dan berperilaku yang berpotensi menyebabkan ketersinggungan terhadap yang lain adalah sikap intoleransi berlebihan. Ada situasi dan kondisi yang secara kontekstual menyepakati adanya penghinaan/ pelecehan sebagai bahan komedi, baik di panggung kesenian maupun di mimbar pengajian.


Kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu kadang mengaburkan konsep komedi dengan narasi ketersinggungan. Hukum tidak melihat konteks dan substansi pelaporan berita acara pemeriksaan. Hukum hanya membutuhkan saksi dan bukti untuk menjerat seseorang menjadi tersangka/ terdakwa/ terpidana. Ketersinggungan tidak bisa dialasi motif komedi di hadapan hukum. UU ITE pun mengamininya.


Dunia digital adalah dunia ketersinggungan. Setiap konten, setiap ucapan, setiap tulisan berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Politik identitas menebalkan rasa ketersinggungan seseorang yang dilandasi labelitas keagamaan, kelompok, dan harga diri. Ketersinggungan juga mewakilkan kepentingan tertentu untuk “menghabisi” lawan politiknya dengan sarana UU ITE. 


Dalam dunia ketersinggungan, tidak ada lagi komedi, musik sarkastik, dan celotehan satire. Semua diam. Introspeksi. Mati!


Ditulis Oleh: Joko Yuliyanto, Penggagas Komunitas Seniman NU, Penulis Buku dan Naskah Drama. Aktif Menulis Opini di Media Daring.

Perbandingan Lirik Lagu Chrisye "Ketika Tangan Dan Kaki Berkata" Dengan Surat Yasin Ayat 65
Selasa, Maret 30, 2021

On Selasa, Maret 30, 2021

Perbandingan Lirik Lagu Chrisye "Ketika Tangan Dan Kaki Berkata" Dengan Surat Yasin Ayat 65
PADA kenyataanya karya sastra, tidak hadir atau diciptakan dalam kekosongan budaya, namun karya sastra hadir atau diciptakan karena adanya seorang pengarang yang menuliskannya. Karya sastra diciptakan pengarangnya untuk menanggapi gejala-gejala yang terjadi pada masyarakat sekelilingnya, bahkan seorang pengarang tidak terlepas dari paham-paham, pikiran-pikiran atau pandangan dunia pada zamannya atau sebelumnya. Semua itu tercantum dalam karyanya.


Dengan demikian, karya sastra tidak terlepas dari kondisi sosial budayanya dan tidak terlepas dari hubungan kesejarahan sastranya.


Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa, mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan atau pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum atau sesudahnya.


Lirik Lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata sebagai berikut:


Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

 Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Ke mana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba

Rabbana

Tangan kami

Kaki kami…


Lagu hampir sama dengan puisi, maka lagu lahir tentu memiliki interpertasi dari hal sebelum nya misalnya saja lirik lagu diatas sama dengan surah yasin ayat 65 yang berbunyi:


الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Artinya:


Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”


Isi yang terkandung dalam terjemahan surat Yasin di atas tidak lain menjelaskan tentang penggambaran situasi di Hari Kiamat. Menurut Imam al Qusyairi dalam kitabnya, Lathaif al-Isyarat pada Hari Kiamat, Allah akan amembiarkan seluruh tubuh bersaksi satu sama lain dengan mulut yang dibungkam.


Kedua tangan dan kaki merekalah yang akan bersaksi dan berbicara atas apa yang selama ini telah mereka perbuat di dunia.Tidak hanya kedua tangan dan kaki, namun seluruh anggota tubuh mereka akan bersaksi atas apa yang telah dilakukan selama ini di dunia. Kesaksian tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebaikan, tapi juga tentang kemaksiatan yang telah diperbuat. Bagi orang-orang kafir, tubuhnya akan bersaksi dengan penuh kesedihan dan penyesalan.


Sama seprti hal nya diatas misalnya lirik lagu tentang mulut dan kaki dikunci maka sama halnya dengan lirik lagu Chrysie ini. Surah yasin ini maknanya hampir sama dengan lirik lagu yang dibawakan oleh chrysie ini, hal ini menyebabkan keterkaitan lirik lagu ini dengan Al Quran. Kita harus mengetahui bahwa lagu ini dijadikan sebuah pembelajaran. Mari kita bahas satu persatu lirik lagu tersebut dan dibandingkan dengan terjemahan surat yasin ayat 65


- Akan datang hari mulut dikunci


Kata tak ada lagi


Dapat dibandingkan dengan terjemahan Al Quran berikut "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" 


-Berkata kaki kita


Ke mana saja dia melangkahnya dapat dibandingkan dengan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang  dahulu mereka kerjaakan


Hal ini sudah bisa kita jadikan landasan bahwa teori sastra itu tidak hanya dibandingkan dengan karya Sastra Saja, bisa juga dibandingkan dengan terjemahan Al Quran dan juga datangnya hari akhir. Lirik dan terjemahan ayat itu hampir sama, tentu makna dari lirik tersebut sesuai juga dengan. Inti dari lirik dan bandingan tersebut adalah ayat Al quran, penulis bisa mengatakan bahwa lirik lagu ini merupakan inspirasi, interpetasi yang dilakukan oleh pencipta lagu Taufik ismail dan Chrysie yang menyanyikannya. Penulis baca bahwa Chrysie ini menangis, alasan dia menangis tentu terbayang hari Akhir yang tak tau bagaimana. Begitu sulit kita membayangkan bahwa surat yasin Ayat 65 ini begitu dalam maknanya.


*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid, Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek

TP3 Menjawab Menko Polhukam Mahfud MD
Jumat, Maret 26, 2021

On Jumat, Maret 26, 2021

TP3 Menjawab Menko Polhukam Mahfud MD
AUDIENSI Presiden Jokowi dengan Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan Enam Laskar FPI (TP3) telah berlangsung Selasa, 9 Maret 2021, di Istana Negara.


Presiden Jokowi didampingi Menko Polhukam Mahfud MD dan Mensekneg Pratikno. Sementara TP3 yang dipimpin oleh Amien Rais datang bersama Abdullah Hehamahua, Muhyiddin Junaidi, Marwan Batubara, Firdaus Syam, Wirawan Adnan, dan Ansufri Sambo.


Setelah audiensi, pada hari yang sama, Mahfud MD menggelar konferensi pers (konpres), menyebar link YouTube dan wawancara eksklusif (TVOne), secara sepihak.


Selain itu, ada kalangan yang coba menggiring opini ke arah isu bernuansa politik pencitraan. Hasil pemilu 2019 yang sangat patut diduga mengandung banyak masalah dan memakan korban ratusan orang tewas, perlu di-endorse semua pihak.


Karena itu, perlu ada yang bersuara. Pesannya, karena Amien datang ke istana, telah terjadi rekonsiliasi antara Jokowi dengan Amien Rais.


Kedatangan Amien Rais bersama anggota TP3 lain tidak ada urusan dengan rekonsiliasi. Pemilu 2019 yang diduga sarat kecurangan dan “pengorbanan” petugas KPPS biarlah jadi catatan sejarah kelam, yang kelak harus dipertanggungjawabkan para pelakunya di hari kemudian.


Bagi TP3, kejahatan kemanusiaan yang menewaskan enam anak bangsa secara brutal dan sarat penyiksaan oleh aparat negara adalah masalah sangat besar untuk ditumpangi isu rekonsiliasi. TP3 paham, siapa saja sebetulnya pihak yang mendambakan pengakuan dan endorsement!


Terlepas pemerintah berhak dan berkuasa melakukan konpres secara sepihak, sesuai kebiasaan dan etika moral, pihak-pihak yang terlibat dalam satu momen atau pertemuan sangat wajar mengadakan konpres bersama.


Hal ini terutama untuk menunjukkan kebersamaan, mencegah misinformasi, menghilangkan disinformasi, dan menghidari penggiringan opini sesuai kepentingan sepihak. Konpres bersama juga layak dilakukan untuk mencegah agar tidak ada pihak yang merasa lebih unggul atau mendominasi kebenaran.


Terkait konpres Mahfud di atas, TP3 perlu memberi catatan.


Bagi TP3, sepanjang yang diungkap objektif, faktual, dan fair, tentu tidak ada masalah. Namun faktanya ada hal-hal yang TP3 anggap tidak lengkap, distortif, tidak objektif, tendensius atau spekulatif, untuk tidak mengatakan manipulatif, yang karenanya perlu diklarifikasi atau dijawab!


Hal-hal tersebut akan diuraikan berikut ini.


Kata Mahfud: “TP3 datang tanpa bukti, karena pada dasarnya memang tidak punya bukti. Sejak awal kami tahu mereka tidak punya data gitu. Dan betul tadi tidak ada data yang disampaikan, bukti yang disampaikan tidak ada. Cuma pernyataan”.


Padahal, sebagaimana dimuat dalam Surat TP3 4 Februari 2021, tujuan TP3 beraudiensi adalah guna membuka jalan bagi penyampaian masukan dan temuan-temuan sejujur-jujurnya.


TP3 menyatakan ingin ikut berperan mengawal penuntasan kasus pembunuhan enam laskar FPI, setelah melihat adanya beberapa versi temuan yang tidak objektif. TP3 menuntut agar kasus tersebut diselesaikan melalui proses pengadilan objektif, transparan, dan adil.


Dengan terwujudnya audiensi 9 Maret 2021, TP3 berhasil mendapatkan dua komitmen penting dari Presiden Jokowi yang perlu dicatat.


Pertama, pemerintah siap menerima masukan dan bukti-bukti yang akan diserahkan TP3. Kedua, pemerintah akan terlibat aktif, sesuai wewenang, menuntaskan kasus pembunuhan enam laskar secara transparan dan berkeadilan.


Karena itu, mari kita catat dua janji Presiden Jokowi tersebut.


Selanjutnya, mari kita tunggu realisasi janji tersebut dalam proses hukum yang kelak berlangsung: bahwa komitmen tersebut bukan cuma omong-kosong atau basa-basi! Selain itu, publik diharap tidak tergiring dengan penjelasan Mahfud yang distortif dan misleading.


Kata Mahfud: "Namun jika ada yang mengungkapkan hal tersebut mengalami kejadian HAM berat, maka mana buktinya. Mana bukti pelanggaran HAM berat, mana bukti ya, bukan keyakinan. Jika ada, Pemerintah menunggu, secuil apapun buktinya."


Terkait bukti, TP3 menyatakan akan menyampaikan pada waktunya. Bukti-bukti milik TP3 kelak berupa data dan informasi yang telah beredar di publik, sudah dipublikasi Komnas HAM, maupun sama sekali baru (karena selama ini tersembunyi, disembunyikan atau dimanipulasi).


Bukti-bukti TP3 bisa sama dengan publikasi Komnas HAM. Namun diyakini sebagian bukti tersebut telah direkayasa atau tidak dimanfaatkan seutuhnya oleh Komnas HAM, sehingga diperoleh laporan dan rekomendasi yang tidak kredibel dan manipulatif.


TP3 paham yang berfungsi mencari alat-alat bukti adalah negara, bukan perorangan, keluarga korban, atau kelompok masyarakat seperti TP3. Tapi karena sudah committed untuk mengawal kasus pembunuhan dan berjanji akan menyampaikan, TP3 akan menyerahkan bukti-bukti dan hasil analisisnya segera.


Esensi jawaban TP3 atas komentar Mahfud: Tujuan TP3 beraudiensi adalah untuk menyatakan sikap dan meminta komitmen Presiden Jokowi.


TP3 datang beraudiensi sesuai surat 4 Februari 2021 bukan untuk menyerahkan dan membahas bukti-bukti, karena sadar itu bukan forum yang tepat. Namun bukan berarti TP3 tidak punya bukti seperti diklaim Mahfud.


TP3 telah membuat pernyataan, pada waktunya bukti-bukti tersebut akan diserahkan. Karena itu sepanjang bukti-bukti yang akan diserahkan tersebut objektif, faktual, dan valid, TP3 meminta agar tidak dicarikan alasan-alasan untuk mengabaikan atau menolak. Kita minta Mahfud dan pemerintah bersikap konsisten, fair dan ksatria.


Kata Mahfud: “Kalau bicara pengadilan HAM itu, satu tidak bisa Presiden. Pak Amien Rais dulu yang buat undang undang itu tahun 2000 ketika beliau Ketua MPR. Yang menentukan pengadilan HAM atau bukan, itu Komnas HAM. Di situ disebutkan Komnas HAM yang menyelidiki, Komnas HAM yang menentukan sesuatu itu melewati pengadilan HAM atau tidak”.


Persepsi TP3, intinya Mahfud membangun opini dan menggiring pemahaman masyarakat ke arah yang sesat dan meyesatkan. Penjelasannya sebagai berikut.


Komnas HAM dibentuk sesuai UU. UU tersebut dibuat tahun 2000 oleh Amien Rais dkk, era Amien jadi anggota DPR. Lalu Presiden memerintahkan Komnas HAM mengusut kasus sesuai UU tersebut. Kalau TP3 mempermasalahkan sikap pemerintah yang percaya hasil Komnas HAM dan menjalankan pula rekomendasinya, maka salahkanlah siapa pembuat UU, dan itu salah satunya Amien Rais.


Jawaban TP3 sebagai berikut:


Pertama, ada dua UU terkait HAM yang dibentuk periode Amien Rais jadi anggota DPR/MPR, yaitu UU HAM No 39/1999 dan UU Pengadilan HAM No 26/2000.


Untuk kasus pembunuhan enam laskar berkategori kejahatan kemanusiaan tersebut, Komnas HAM yang menerima “PERINTAH” Presiden, mestinya menggunakan UU No 26/2000. Tapi justru Komnas HAM dengan sengaja memilih menggunakan UU No 39/1999.


Maka jelas kesimpulan dan rekomendasi tidak valid, bermasalah, dan tidak berlaku untuk penuntasan kasus sesuai proses hukum selanjutnya.


Kedua, secara umum penyimpangan atas penerapan berbagai ketentuan UU sudah kerap terjadi, meskipun ketentuan dalam UU tersebut sudah sesuai UUD 1945, kepentingan publik dan berbagai azas pembentukan UU. Hal terjadi pula dalam pengusutan kasus pembunuhan enam laskar.


UU yang disebutkankan Mahfud sudah berisi berbagai ketentuan yang sesuai konstitusi dan azas-azas yang dipersyaratkan. Masalahnya, pengguna UU, terutama pemerintah dan Komnas HAM menyimpangkan implementasinya. Lalu penyimpangan ini ditutupi dengan menyalahkan para pembuat UU.


Maka sesuai keinginan dan rekayasa Mahfud, terjerat dan terseretlah Amien Rais yang saat itu menjadi anggota DPR/MPR.


Ketiga, kegiatan yang telah dilakukan Komnas dalam mengusut kasus dan membuat rekomendasi adalah Pemantauan, bukan Penyelidikan. Jika demikian, bagaimana bisa proses hukum lanjutannya berstatus penyidikan atau penuntututan? Selain itu, sudahlah menggunakan UU yang salah, Komnas HAM pun membuat rekomendasi yang melampaui kewenangan.


Bagaimana bisa rakyat mempercayai penyelenggara negara dan Komnas HAM, jika proses hukum yang dijalankan bermasalah sejak awal, in the first place?


Keempat, ada hal-hal lain mengapa TP3 menganggap Laporan dan Rekomendasi Komnas HAM bermasalah dan tidak kredibel. Salah satunya tentang perlunya persetujuan Pengadilan sebelum Komnas HAM melakukan fungsi pemantauan, seperti diatur dalam Pasal 89 Ayat 3 UU No.39/2009.


Kalau belum memperoleh persetujuan Pengadilan, maka Komnas HAM sangat Nyata telah melanggar ketentuan UU. Jika proses “Pemantauan” Komnas HAM saja sudah bermasalah, bagaimana publik akan percaya dengan hasil dan rekomendasinya?


Karena itu, agar konsisten dengan Pembukaan UUD 1945, di mana negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pemerintah dituntut untuk konsisten menegakkan hukum dan keadilan sesuai dengan Pancasila, konstitusi dan UU yang berlaku.


Rakyat harus diberi informasi dan penjelasan yang objektif, transparan dan mencerdaskan, serta jauh dari konten yang distortif, spekulati, tendesius dan sarat rekayasa. UU yang digunakan harus sesuai dengan konteks dan azas penegakan hukum terhadap kasus yang sedang diusut, serta jauh dari direkayasa guna memenuhi kepentingan sempit oknum-oknum penguasa!


TP3 menuntut agar rekayasa dan manipulasi proses hukum, termasuk “memanfaatkan” Komnas HAM secara melanggar hukum dalam penuntasan kasus pembunuhan ini harus dicegah.


Sebaliknya, Komnas HAM sebagai lembaga independen yang dibentuk sesuai perintah UU dan amanat konstitusi, mestinya berfungsi melindungi dan menjalankan kepentingan rakyat, bukan justru terlibat atau tunduk pada kepentingan oknum-oknum kekuasaan.


Kepada Mahfud, TP3 berharap bisa membuat pernyataan yang akurat, objektif, fair, serta tidak distortif dan tendensius. Langkah ini minimal bisa dimulai dengan konpres yang tidak sepihak.


Oleh: Marwan Batubara, Badan Pekerja TP3

Merah Putih Memanggil, TNI Wujudkan Asa dan Impian Masyarakat
Jumat, Maret 26, 2021

On Jumat, Maret 26, 2021

Merah Putih Memanggil, TNI Wujudkan Asa dan Impian Masyarakat
PENGABDIAN seorang prajurit TNI tentu tidak terbatas pada satu masa tertentu. Pengabdian prajurit TNI kepada bangsa dan negara akan diberikan sepanjang masa. "THE SOLDIER NEVER DIES ",prajurit tidak pernah mati. Setelah prajurit pensiun dari dinas kemiliteran, jiwa raganya tetap diberikan demi kejayaan bangsa dan negaranya dan tetap menyatu dengan Rakyat,itulah TNI.Dimanapun berada selalu tetap dihati rakyat.


Prajurit TNI yang profesional, tentu bukan hanya diukur dari kemampuannya mengucapkan Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan Delapan Wajib TNI secara lancar dan mantap. Ukurannya lebih pada kemampuan mengaplikasikannya dalam keteraturan hidup sehari-hari berbaur bersama masyarakat.

   

Terik matahari yang menyengat terus membakar semangat para lelaki tegap berpakaian loreng ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang berdomisili dikawasan terisolir.


Mereka sejak pagi hingga petang bekerja dan terus bekerja demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 110 Tahun 2021.


Mereka itu adalah prajurit TNI AD,AL,AU dan personel Kepolisian yang tergabung dalam Satgas TMMD 110 .


Sekilas dari wajah mereka terlihat sangar dan kejam,namun mereka itulah manusia-manusia yang sangat peduli dengan Rakyat,selalu mengatasi kesulitan Rakyat,dimanapun berada selalu hadir untuk Rakyat dan Negara ,tanpa pamrih,Multi Talenta dan pantas disebut Pengabdian Tanpa Batas


Para prajurit TNI yang membantu kesulitan Rakyat  tersebut kini sedang Membangun Negeri Ditengah Pandemi Covid-19 lewat Program TMMD 110 berthemakan ",Sinergi Membangun Negeri"


Sejak dibukanya TMMD 110,terlihat para Prajurit Sejati yang selalu mengawal keutuhan NKRI mengaduk adonan dari semen, pasir dan air untuk membangun infrastruktur yang di programkan dalam TMMD 110.


Seperti diwilayah Kodam I Bukit Barisan,6 Kodim melaksanakan kegiatan TMMD 110 diantaranya Kodim 0209/ Labuhanbatu,Kodim 0308/ Pariaman,Kodim Kampar,Kodim Mentawai dan Kodim Nias  serta Kodim Natuna.


Seluruh Kodim yang mengikuti TMMD 110 Tahun 2021 di wilayah Bukit Barisan mengerahkan Satgasnya dibantu masyarakat untuk membangun infrastruktur dikawasan terisolir lewat program fisik dan juga membangun mental masyarakat dan ketahanan wilayah melalui program non fisik.


Dengan berbekal pengalaman yang dilakoni para personel Satgas tidak sulit menyelesaikan satu persatu pembangunan infrastruktur program TMMD.


Program TMMD 110 Sinergi Membangun Negeri merupakan kegiatan Lintas Sektoral mewujudkan pembangunan tertinggal demi mensejahterakan masyarakat.


Program TMMD 110 yang dikerjakan Satgas selama sebulan sebenarnya "Menguak Impian dan Asa Masyarakat yang Selama Ini Terkubur"


Buktinya,kehadiran TMMD diwilayah terisolir membuat masyarakat semakin Mencintai TNI dan Menganggungkan Pasukan Multi Talenta tersebut .


Diwilayah Kodam I Bukit Barisan,dimana dilaksanakan kegiatan TMMD,tak tanggung-tanggung, tua, muda, anak-anak hingga mama-mama yang biasanya hanya bekerja di dapur pun ikut membantu mengangkat semen,batubata dan material bangunan lainnya untuk pembangunan infrastruktur program TMMD 110.


Selain mewujudkan pembangunan,TNI  selalu memberi dorongan dan motivasi kepada masyarakat,memberi bimbingan dan arahan kepada para anak-anak pelajar dilokasi TMMD,membangkitkan semangat bela negara,menanamkan rasa cinta tanah air dan mewujudkan Ketahanan Wilayah melalui Program Non Fisik.


Sinergi membangun negeri ditengah Pandemi Covid-19,merupakan rantangan berat bagi TNI,dimana harus meninggalkan anak dan istri selama sebulan,nyawa taruhannya akibat Covid-19 masih ada,namun bagi TNI tidak jadi masalah demi mengatasi kesulitan Rakyat,TNI selalu siap diperintahkan kapan saja dan dimana saja,walaupun Nyawa Taruhannya.


Dimasa perang TNI siap dipanggil untuk menjaga dan mengawal keutuhan NKRI dan dimasa damai sekarang ini TNI terpaksa silangkan senjatanya diganti Pacul,Sekop untuk mengatasi kesulitan Rakyat dengan membangun infrastruktur wilayah pedalaman selama sebulan demi membangun dan mensukseskan Program TNI-AD.


"Pengabdian TNI kepada negeri tidak akan ada habisnya dan tanpa batas dan selama waktu Pelaksanaan Program TMMD 110 sudah terbentuk kekeluargaan dan Kedekatan TNI dan masyarakat, nampak saat makan siang dan makan malam bahkan saat tinggal bersama di rumah-rumah penduduk, terlebih saat proses pekerjaan berlangsung.Selamat Bertugas TNI,Jiwaragamu Bukan Hanya Untuk Negara,Untuk Rakyat Selalu Terdepan."Merah Putih Memanggil ,TNI Wujudkan Asa dan Impian Masyarakat Lewat TMMD.


By: Pgs Kapendam I/BB (Letkol Inf Robinson Tallupadang)

Catatan Tika Amelya Yofa: "Sang Pisang" dari Kata Sandang Sang atau Kaesang?
Rabu, Maret 24, 2021

On Rabu, Maret 24, 2021

Catatan Tika Amelya Yofa: "Sang Pisang" dari Kata Sandang Sang atau Kaesang?
TERJUN dalam dunia bisnis tidak hanya pilihan milenial pada umumnya saja. Ternyata putra Presiden Indonesia Bapak Jokowi, juga memilih berbisnis diusia mudanya. Kaesang Pangarep, putra bungsu dari orang nomor satu di Indonesia. Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 25 Desember 1994 itu mempunya banyak usaha di berbagai bidang. Bisnis kuliner milik kaesang yang diberi nama “Sang Pisang” adalah salah satu bisnisnya paling terkenal miliknya. 


Melejitnya usaha Kaesang “Sang Pisang” tentu menarik perhatian dari pemburu kuliner. Akan tetapi, tidak hanya pemburu kuliner yang tertarik pada makanan yang dijual, pengamat bahasa juga memperlihatkan ketertarikanya pada nama merek yang digunakan. Penggunaan nama merek usaha “Sang Pisang” menimbulkan banyak pandangan dan pertanyaan: Apakah kata sang dari kata sandang sang atau Kaesang? Namun, Kaesang tidak pernah memberikan pernyataan tentang alasan dan makna pemberian nama tersebut. Jika mengunakan kata sandang mengapa memilih sang, kenapa tidak si? Terlalu banyak pertanyaan untuk nama merek dari putra bungsu penjabat negeri ini, sehingga menimbulkan banyak spekulasi. 


Kita kesampingkan dulu tentang dari mana kata sang dari nama merek “Sang Pisang” berasal. Mari melihat lebih jauh kata sandang yang  menjadi tersangka opini pembuatan nama merek tersebut. Menurut KBBI Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Kata sandang juga dipakai dengan  aturan tertantu.


Kata sandang sang


Pertama, kata sandang sang adalah kata sandang bermakna tunggal merujuk pada sosok atau tokoh yang memiliki martabat lebih tinggi. kata sandang yang dipakai di depan nama orang, binatang, atau benda yang dianggap hidup atau dimuliakan. 


❗  Anak bungsu keluarga itu memberikan pelukan hangat untuk sang ayah.


✊ Srigala di hutan belantara itu marah besar kepada sang kancil.


Kedua, kata sandang juga dipakai di depan nama benda untuk berolok-olok. 


Ketiga, kata sandang dipakai di depan nama benda abstrak sebagai personifikasi hormat:


sang waktu, sang fajar. 


Keempat, kata sandang sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan


💯 Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.


💯 Mari memuja Sang Hyang Widhi Wasa.


Kata sandang si


Kata sandang si bersifat netral. kata si lebih bersifat seimbang dan sama rata terhadap kata yang mengikutinya. 


- Barang itu dikebaliakan lagi oleh si penerima


- Dalam dongen itu si bisu berhasil keluar dari  goa hantu.


Setelah melihat penjelasan tentang kata sandang berdasarkan PUEBI, merek dagang Kaesang jika dikaji secara ilmiah jelas itu penulisan yang salah. Kata pisang pada kata dasar yang mengikutinya tidak sesuai. Kata sandang biasanya digunakan di depan nama orang atau benda yang hidup. Contohnya penggunaan kata sandang sang: Anak itu baru saja dikunjungi sang ayah. Sebenarnya tidak hanya benda hidup, ada juga benda mati yang bisa digunakan kata sandang sang. Contoh, Ani mengibarkan sang merah putih. Kata sandang sang bisa saja digunakan untuk pisang, namun penggunaanya tentu diikuti kalimat yang sesuai. Contohnya, karena suka makan pisang ia dinobatkan sang raja pisang. Tetapi contoh tersebut tidak bisa dipakai dalam menamai merek usaha. Jika mengambil nama sang raja pisang, tidak menarik, karena sudah banyak yang memakai. 


Presepsi kedua, apakah nama “Sang Pisang” berasal dari akhir nama depan Kaesang. Dilansir dari Tribunkaltim.com  Kaeasang mengaku mendapat nama itu saat berada di Jalan Tol Jagorawi KM 31. "Saya namain Sang Pisang di tol Jagorawi KM31," lanjut Kaesang Pangarep. Belum ada kejelasan tentang nama merek usaha tersebut. 


Kaesang tidak hanya memiliki satu nama merak mengunakan kata sang Kaesang memiliki usaha pakaian “Sang Java” juga menimbulkan tanda tanya. Seharusnya sebagai anak muda yang berpengaruh di negeri ini, Kaesang dapat bijak dalam menggunakan bahasa. Memang nama merek yang menarik dapat memikat pengunjung ditambah pula menu andalan nuger pisang, membuat pembeli penasaran. Pengunaan bahasa tersebut menyebabkan ambiguitas


*Tika Amelya Yofa, lahir di Pulau Batam 17 April 2001. Mahasiswa aktif  jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Indonesia, Universitas Andalas. Aktif berkegiatan di Humas FIB sebagai protokoler dan anggota organisasi Kopma Unand. Hobi menonton drama, film, editing video, mambaca, dan menulis. 

Catatan Abdul Jamil Al Rasyid: Jokowi Tiga Periode, Mungkinkah?
Rabu, Maret 24, 2021

On Rabu, Maret 24, 2021

Catatan Abdul Jamil Al Rasyid: Jokowi Tiga Periode, Mungkinkah?
PETA politik sekarang dihebohkan oleh rencaan amandenmen UUD 1945. Sosok yang mungkin menjadi sorotan publik tentu Amin Rais, karena dia pernah berkata bahwa Undang-Undang Dasar 1945 akan diamandemen. Benarkah demikian?


Mungkin Amin Rais yang notabnene adalah  berada di Pihak oposisi sah-sah saja memberikan hal tersebut yang sontak membuat seluruh elemen masyarakat khawatir akan hal ini karena bangsa ini pernah trauma dengan jabatan presiden yang berkepanjangan ini.


Otoriter sudah menjadi makanan sehari-hari bangsa ini di zaman terdahuu. Amin Rais juga tidak salah dalam beropini seperti ini tetapi hal ini tentu menjadi sorotan karena dia pernah berajaya menumbangkan presiden ke 2 kita bersama para mahasiswa untuk menegakkan reformasi di kala itu. Dia tahu bahwa ia akan didengar karena ini menjadi langkah penting untuk bangsa kita kedepannya.


Mungkin dia bisa juga khawatir. Ia mengatakan di akun Youtube nya bahwa "Jadi sekarang ada semacam publik opini, yang mula-mula samar-samar tapi sekarang makin jelas ke arah mana rezim Jokowi. Jadi mereka akan mengambil langkah pertama meminta sidang istimewa MPR, yang mungkin satu, dua pasal yang katanya perlu diperbaiki yang mana saya juga tidak tahu, tapi kemudian nanti akan ditawarkan baru yang kemudian memberikan hak presidennya itu bisa dipilih tiga kali, nah kalau ini betul-betul keinginan mereka, maka saya kira kita bisa segera mengatakan ya innalillahi wa inna ilaihi rajiun,"kata Amien Rais melalui YouTube Channel Amien Rais Official.


Ada pandangan lain dari Yusril Ihza Mahendra Ahli hukum tata negara.  Dilansir warta ekonomi co id. Yusril Ihza Mahendra juga merupakan pakar hukum tata negara juga memberikan pandangan tersendiri terkait hal ini. Yusril mengatakan bahwa Jokowi tidak mungkin menjadi presiden selama 3 periode. Menurut dia, ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 7 UUD 45 sebelum amandemen yang mengatakan “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali” memang bersifat multi tafsir. Ia mengatakan, pada masa Presiden Sukarno, jabatan tersebut dipegang lebih dari sepuluh tahun, Pada masa Presiden Suharto bahkan lebih dari 30 tahun, setelah dipilih kembali setiap 5 tahun tanpa ada batasnya.Menurutnya, di era reformasi seperti ini, norma Pasal 5 UUD 45 itu diamandemen sehingga berbunyi. 


“Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”“Dengan amandemen pertama UUD 45 (1999) yang mengubah ketentuan Pasal 7 UUD 45, maka sifat multi tafsir itu menjadi hilang. Presiden dan Wakil Presiden hanya menjabat maksimum dua kali peiode jabatan, yakni selama 10 tahun. Tidak ada tafsir lain lagi,” tulisnya, dalam akun Instagramnya @yusrilihzamhd, Senin (15/3).


Hal ini menjadi buah bibir di kalangan politikus nasional maupun pengamat hukum.   Penulis bukan ahli hukum tetapi menilik pernyataan Yusril bahwa itu tidak mungkin saya juga berpendapat demikian karena tidak mudah mengubah UUD 1945 tersebut menjadi seenaknya saja, melainkan perlu juga persetujuan semua belah pihak.


Pada  Senin 15  Maret 2021 Jokowi langsung merespon didalam akun media sosialnya "Sebagai presiden yang dipilih langsung oleh rakyat berdasarkan konstitusi, maka sikap saya terhadap konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden paling lama dua periode, tidak berubah," tulis Jokowi dalam unggahan Twitternya, Senin, 15 Maret 2021. "Saya sama sekali tidak ada niat, juga tidak berminat, menjadi presiden tiga periode," tambahnya lagi. Tegas Jokowi kembali.


Apakah mungkin seorang Jokowi 3 periode, mungkin-mungkin saja mengubah amandemen UUD 1945 tetapi hal ini menjadi pro dan kontra dalam jagat politik nasional. Di masa pandemi ini mungkin isu-isu politik juga tidak luput dari pemberitan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, dan pengalaman pemimpin terdahulu juga bisa dijadikan cambuk. Tetapi hal ini tentu tidak mudah terjadi. Dimulai ketika Amin Rais berpendapat seperti ini itu, kemudian datang juga opini dari  berbagai kalangan.


Menurut hemat penulis hal ini tidak mungkin terjadi karena mengubah UUD 1945 membuat gaduh semua orang. Karena kegaduhan ini, Jokowi sudah menjelaskan didalam akun media sosialnya bahwa ia akan patuh terhadap amandemen. Belum lagi peran mahasiswa juga, mahasiswa punya sejarah tersendiri pernah melengserkan presiden.


Tentu hal ini sangat dipertimbangkan oleh Jokowi, apalagi di tengah pandemi seperti ini , maka  hal ini sudah menjadi isu yang hangat tidak di tahun ini saja pada 2019 juga ada isu seperti ini. Kita hidup di negara demokrasi, maka dari itu kita sebagai masyarakat juga bisa menyeimbangkan pendapat para politikus kita. Di negara demokrasi ini tentu sudah lumrah terjadi, pro dan kontra seakan-akan sudah menjadi makanan kita sehari-hari.


Menurut penulis kita nikmati saja hal ini, hal ini menjadi pemersatu kita bukan membuat kita terpecah-belah. Tidak ada yang salah disini. Kita sebagai warga negara yang baik tentu tidak boleh berat sebelah dan berusaha untuk menyeimbangkan hal-hal yang dianggap berbahaya bagi negara kita. Tentu hal ini sudah menjadi isu yang lumrah dan tentu kembali hangat di kalangan telinga kita. Amin Rais punya pendapat, Yusril juga begitu Jokowi juga maka nikmati saja hal ini.


*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid,  Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek