Headline

Opini

SOROT

Sports

Opini

Catatan JR Dt. Bandaro Bendang: Beliau Memang Prajurit Tangguh
Jumat, Juni 11, 2021

On Jumat, Juni 11, 2021

BEGITU mendapat khabar bahwa Dr. Andani Eka Putra, M.Sc positif terinfeksi covid-19 Kamis pagi (10 Juni 2021), saya langsung telpon beliau. 

Dengan tenang Andani bercerita, bahwa soal terinfeksi covid-19 hanya menunggu giliran. Sebab, dia sehari-hari bergelumuk-tumuk dengan virus itu sendiri. Semua anggota beliau di Lab telah terpapar covid-19 semuanya.

Menurut Andani, ya wajar saja. Main air pasti kecipratan air, main api pasti sesekali terbakar api. Nah, berurusan dengan virus covid-19 tiap hari, lambat laun akan terpapar juga.

Sejak dari awal, komitmen Andani, perjuangannya, keberaniannya melakukan pemeriksaan sample spesimen covid-19 dengan pola pool test, adalah sesuatu pekerjaan yang menurut banyak orang adalah pekerjaan "gila".

Ya, benar. Andani adalah orang gila, gila dengan pekerjaannya, gila dengan tanggungjawabnya.

Saya tak mau cerita panjang lagi tentang sosok seorang Andani yang telah banyak berbuat untuk negeri. Semua kita telah mengetahui sepak terjangnya dalam perang menghadapi covid-19.

Setiap pagi saya selalu dipasok data hasil lab oleh Andani. Tiada hari buat kami tanpa diskusi. 

Lalu, pagi ini saya kaget karena beliau tetap mengirimkan data hasil lab. Padahal saya tau, bahwa data lab itu sebelum dipublish, harus beliau periksa. Artinya, dia dalam keadaan demam akibat terpapar covid-19, masih tetap menjalankan tugas dan tanggungjawabnya memeriksa hasil lab seperti biasa tanpa tidur.

Saya tahu persis, selama ini beliau tidur selalu subuh karena memeriksa hasil pemeriksaan sample. Praktis dia tidur hanya 2 atau 3 jam sehari. 

Dengan sedikit agak marah, saya WA beliau "Sakit kok masih juga bekerja, istirahat ajalah dulu".

Dengan enteng dia jawab "insyaa Allah aman".

Padahal saya tahu persis kondisinya saat ini di rawat di ICU Covid-19 M Jamil. 

Ah... Andani... 

Entah apa lagi kata-kata yang mau saya ucapkan. Speechless....

Hanya doa yang mampu saya ungkapkan. Semoga cepat sembuh prajurit tangguh....

JR Dt. Bandaro Bendang
Padang, 11 Juni 2021

Catatan Wisnu Anggara: Mengenal Tradisi Makan Bajamba
Kamis, Juni 10, 2021

On Kamis, Juni 10, 2021

Catatan Wisnu Anggara: Mengenal Tradisi Makan Bajamba
TRADISI yang ada di wilayah Minangkabau sangat beragam jenisnya. Keberagaman jenis tradisi yang ada pada masyarakat Minangkabau dapat dilihat dengan adanya perbedaan serta kekhasan pelaksanan tradisi tersebut di masing-masing daerah minangkabau. Terdapat berbagai jenis tradisi yang ada pada masyarakat, salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini ialah tradisi makan bajamba 


Makan bajamba adalah tradisi makan bersama yang sering dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. tradisi ini biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu seperti acara adat dan acara keagamaan, ataupun sering dilakukan pada acara keluarga untuk sebagai ajang menjalin tali silaturahmi dan bentuk kebersamaan dalam hidup bermasyarakat dan kekeluargaan, makan bajamba juga menjadi ajang meyetarakan derajat dalam hidup bermasyarakat. 


Makan bajamba ini biasanya dilakukan ditempat yang terbuka dan di alas Lapiak atau tikar, piring dan semua makanan disusun dari ujung lapiak sampai ke ujung lapiak yang lainya. Semua masyarakat yang ikut serta dalam makan bajamba akan duduk berjejer sambil menikmati sajian yang sudah ada di depan mereka. Pada saat makan meski semua orang sama-sama duduk di lapiak tetapi ada sedikit perbedaan antara cara duduk Laki-laki dan duduk perempuan, Laki-laki biasanya duduk baselo (bersila) sedangkan perempuan biasanya duduk bersimpuh. 


Jamba atau yang lebih dikenal dengan dulang yang didalamnya di susun piring-piring dengan lauk pauk di dalam piring itu masing-masing. Setelah dulang disusun dengan bentuk yang mengerucut ke atas, maka setelah itu dulang akan ditutup dengan kain khas Minangkabau. Setelah ditutup dengan kain inilah maka ia disebut dengan jamba. Jamba biasanya dibawa oleh ibuk-ibuk yang berpakaian khas Minangkabau.


Dalam makan bajamba banyak aturan-aturan yang harus dipatuhi agar tidak ada yang merasa terganggu dengan tindakan kita. Selain itu, kita juga harus mendahulukan orang yang lebih tua untuk menyuap nasi. Setiap orang yang makan hanya boleh mengambil nasi yang berada di depannya saja, tidak boleh mengambil punya orang lain. Dalam makan bajamba kita juga tidak boleh mengeluarkan suara, atau yang biasa disebut oleh orang Minang makan mancapak. 


Dalam makan bajamba kepala tidak boleh menunduk, karena nantinya bisa menghalangi yang lainnya untuk bisa leluasa dalam menyuap nasi. Setelah itu dalam makan bajamba kita harus menghabiskan semua nasi yang ada di hadapan kita, tidak boleh ada yang tersisa. Jika kita selesai lebih dahulu dari yang lain, belum dibolehkan mencuci tangan dan harus menunggu yang lainnya selesai makan.


Tradisi makan bajamba mempunyai beberapa manfaat seperti melatih diri untuk selalu terbiasa berbagi dalam kebersamaan. Dan ketika proses makan bajamba diharapkan semua kalangan masyarakat baik yang muda atau orang tua dapat berbaur dalam kebersamaan tanpa memandang status masing-masing. 


Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari makan bajamba seperti nilai-nilai kebersamaan, di mana saat makan bajamba tidak ada perbedaan status sosial yang terlihat. Semuanya makan bersama-sama dan secara tidak langsung akan mempererat tali silaturrahmi antara sesama, menanamkan nilai sopan santun, saling menghargai dan menghormati orang lain.


*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Catatan Wisnu Anggara: Tradisi Balimau di Daerah Minangkabau
Rabu, Juni 09, 2021

On Rabu, Juni 09, 2021

MASYARAKAT Minangkabau, dikenal kaya dengan khasanah budaya yang ditandai dengan banyaknya tradisi atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi berarti segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya yang turun temurun dari nenek moyang.
 
Apapun yang dilakukan oleh manusia secara turun temurun dari setiap aspek kehidupannya yang merupakan upaya untuk meringankan hidup manusia dapat dikatakan sebagai “tradisi” yang berarti bahwa hal tersebut adalah menjadi bagian dari kebudayaan.
 
Salah satu tradisi yang ada diminangkabau yaitu tradisi balimau. Tradisi balimau merupakan tradisi mandi yang menggunakan limau (jeruk nipis) yang berkembang di kalangan masyarakat minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian diwariskan secara turun temurun. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan diri secara lahir dan bathin.
 
Proses pelaksanaan Tradisi Balimau diawali dengan tahapan persiapan, yaitu mempersiapkan perlengkapan dan alat yang akan digunakan dalam Tradisi Balimau. Peralatan dan perlengkapan juga mempunyai aturan-aturannya tersendiri yang telah ada sejak dahulu. Dalam persiapan ini dapat terlihat rasa kekeluargaannya yang saling membantu dan bekerja sama dalam mempersipkan peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan.
 
Dalam melakukan tradisi ini, kita hanya mandi layaknya mandi biasa, namun di penghujung mandi diakhiri dengan siraman air dari rendaman bunga tujuh rupa bercampur limau (jeruk nipis). Tradisi ini biasanya dilakukan masyarakat minangkabau sebelum memasuki bulan ramadhan yang berlangsung dari matahari terbit hingga terbenam. Tradisi ini juga disebut sebagai bakasai (mandi dengan bunga rampai).
 
Zaman dulu, tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih karena tidak ada sabun, banyak juga wilayah yang kekurangan air, sibuk bekerja dan lain-lain. Saat itu, pengganti sabun dibeberapa wilayah minangkabau yaitu limau (jeruk nipis) karna limau bisa melarutkan minyak dan keringat dibadan. 
 
Tradisi balimau sangat digemari oleh masyarakat minangkabau mulai dari anak-anak hingga orang tua. Dalam pelaksanaan tradisi ini pun masyarakat juga sekaligus mempererat tali persaudaraan sesama muslim. Tradisi balimau ini terus berlangsung setiap tahunnya. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa tradisi balimau ini merupakan ritual wajib yang harus dilakukan.
 
Namun seiring berjalannya waktu, banyak perubahan yang terjadi pada tradisi ini. Jika dahulu Balimau dijadikan sebagai tradisi atau adat untuk menyambut bulan suci Ramadhan sebagai simbol untuk mensucikan diri sehari sebelum puasa namun sekarang hal tersebut sudah berbeda lagi. Saat ini, Balimau lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian. Bahkan, para muda-mudi menjadikan momen ini sebagai ajang hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja-remaja, Balimau hanya tinggal sebagai simbol.
 
Perubahan yang terjadi dalam Balimau ini merupakan perubahan yang disebabkan berubahnya perilaku masyarakat Minangkabau dalam merayakannya. Namun, kita sebagai masyarakat minangkabau, harus pandai dalam menyikapi perubahan yang terjadi agar tradisi ini tetap mengandung nilai positif.
 
*Penulis Wisnu Anggara, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Catatan Wisnu Anggara: Mengenal Tradisi Tolak Bala yang Berada di Daerah Minangkabau
Rabu, Juni 09, 2021

On Rabu, Juni 09, 2021

Catatan Wisnu Anggara: Mengenal Tradisi Tolak Bala yang Berada di Daerah Minangkabau
BENTENGSUMBAR.COM - Dalam hidup ini manusia menghadapi berbagai persoalan dan tantangan, seperti bencana alam, penyakit, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam menghadapi dan mencari solusi atau penyelesaian untuk mengatasi persoalan tersebut harus dilakukan. 


Ada banyak cara yang dilakukan oleh manusia, salah satunya berdamai dengan alam melalui pelaksanaan serangkaian ritual atau upacara. Meskipun manusia berada dalam zaman yang serba maju dan canggih, namun cara seperti ini tidaklah ditinggalkan sepenuhnya oleh sebagian kelompok masyarakat. 


Bagi mereka melaksanakan ritual untuk berdamai dengan alam adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang damai, aman, tenteram, dan sejahtera. Ritual tersebut secara umum bagi masyarakat Minangkabau dikenal dengan istilah “tolak bala”.


Ritual tolak bala merupakan suatu tradisi yang sudah berlangsung sejak lama di masyarakat dan tetap dipertahankan hingga saat sekarang. Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk menolak bala atau bencana, baik secara pribadi maupun kampung. 


Ritual tolak bala mengandung kepercayaan terhadap adanya kekuatan alam yang harus didukung dan dipertahankan untuk mencari jalan terbaik dalam meneruskan kehidupan sehari-hari masyarakat agar dijauhkan atau terhindar dari marabahaya. 


Masyarakat minangkabau melakukan tolak bala ini sebagai penangkal bencana alam, wabah penyakit dan terhindar dari gangguan makhluk gaib.


Pada ritual tolak bala yang dilakukan pun juga mengandung nilai budaya, yang befungsi bahwa dalam hidup manusia senantiasa diikat dengan adat dan budaya yang dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku dan juga bisa menimbulkan rasa kebersamaan oleh masyarakat minangkabau tersebut.


Pelaksanaan ritual tolak bala melalui  beberapa tahapan, yaitu


(1) Memotong limau


Sebelum limau dipotong terlebih dahulu dimantrai oleh dukun, memasukan basmalah pada permulaan mantra dan di akhiri dengan sebutan " La Ilaha illallah Muhammadar Rasulullah". Sebelum limau dipotong terlebih dahulu disediakan mangkuk yang berisi air sebagai tempat untuk menjatuhkan limau yang telah dipotong. Pemotongan limau merupakan tanda dimulainya pelaksanaan ritual tolak bala. 


(2) kenduri atau makan bersama


Dalam acara kenduri tolak bala masyarakat membaca surat Yasin bersama-sama dan ditutup dengan membaca doa tolak bala. Terlebih dahulu disiapkan hidangan persembahan seperti (kepala kerbau/sapi/kambing) dan air limau. Barang-barang persembahan tersebut diletakan telat di tengah-tengah rumah dan di kelilingi masyarakat yang melaksanakan kenduri. Maksud dilaksanakan kenduri adalah untuk memohon kepada Allah agar melindungi masyarakat dan kampung mereka agar terhindar dari berbagai penyakit dan bahaya.


(3) Pemakaian tangkal tolak bala


Setelah acara kenduri tolak bala selesai masyarakat membawa pulang air limau dan tangkal. Air limau yang dibawa pulang oleh warga digunakan dengan cara diusap-usap ke bagian muka,tangan,dan kaki. Hal ini dilakukan oleh seluruh anggota keluarga yang dilaksanakan pada malam hari. Sedangkan air limau yang diperlukan ke dinding rumah dan pemasangan tangkal bertujuan untuk melindungi penghuni rumah dari kejahatan makhluk halus. Sedangkan tangkal yang dipasang di perbatasan kampung dibuat khusus untuk melindungi kampung.


* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Catatan M Akbar: Aturan dan Norma perempuan di Minangkabau
Senin, Juni 07, 2021

On Senin, Juni 07, 2021

DI zaman modern ini, nilai-nilai luhur negeri di Negara Indonesia sudah mulai memudar dan terkikis oleh derasnya pengaruh globalisasi. Generasi muda sudah mulai asing dengan nilai-nilai yang dianut dalam budayanya sendiri. 
 
Salah satu kebudayaan daerah yang ada di Indonesia adalah budaya Minangkabau yang dianut dan dikembangkan oleh masyarakat Minangkabau sejak dahulu sampai sekarang (Piliang, 2014). Minangkabau merupakan salah satu budaya yang berasal dari Indonesia yang menganut sistem Matrilinial. 

Segala sesuatunya mengenai hukum adat, sistem kekerabatan di Minangkabau menggunakan sistem matrilinial. Hal ini menuntut wanita Minangkabau untuk dapat menempatkan perannya sebagai wanita yang istimewa. Ketika perempuan Minangkabau tidak mampu menempatkan perannya sebagai wanita Minangkabau, ia dikatakan melanggar norma atau aturan yang ada dalam budaya Minangkabau.

Sumbang duduak adalah sumbang bagi seseorang apabila dia duduk tidak sesuai dengan etika duduk menurut adat. Adapun nilai dari sumbang duduak adalah nilai estetika, menjaga aurat, menjaga sikap untuk menghormati orang lain serta nilai kesopanan, duduk tidak boleh sembarangan, seperti mengangkat kaki sebelah, duduk ditepi jalan, duduk bersama laki-laki, duduk dengan membuka lebar kedua paha, idealnya perempuan Minangkabau duduknya adalah dengan cara bersimpuh.

Sumbang tagak, yaitu sumbang bagi seorang perempuan jika berdiri tidak sesuai dengan etika berdiri menurut adat. Nilai dari sumbang tagak adalah menjaga etika, lebih memperhatikan penempatan diri, untuk menghormati orang lain, serta mempertahankan keanggunan dan bentuk perilaku berdiri yang sumbang bagi perempuan Minangkabau diantaranya itu berdiri di tempat jalan yang gelap-gelap serta di tempat yang banyak laki-laki, berdiri diatas kursi, berdiri di atas meja, berdiri ditangga masuk rumah.

Sumbang diam yaitu sumbang bagi seorang perempuan jika berdiam/menginap tidak sesuai dengan etika menginap menurut adat. Nilai dari sumbang diam adalah nilai etika, susila, nilai keamanan, kenyamanan dengan cara memperhitungkan penempatan tempat tinggal, baik itu tinggal dengan saudara kandung ataupun orang lain. Bentuk perilaku menginap yang sumbang bagi perempuan Minangkabau diantaranya serumah dengan orang lain yaitu laki-laki yang bukan muhrim, tinggal di tempat yang tidak bermoral dan berdampak buruk bagi keamanan perempuan yang menginap tersebut.

Sumbang bajalan adalah sumbang bagi seorang perempuan jika berjalan tidak sesuai dengan etika berjalan menurut adat. Adapun nilai dari sumbang bajalan adalah nilai etika dalam berjalan, menjaga keamanan diri dan keanggunan dengan cara tidak boleh berjalan dengan laki-laki yang sembarangan, berjalan terburu-buru, serta tertawa sambil berjalan.
 
Sumbang kato adalah sumbang bagi seorang perempuan jika berkata tidak sesuai dengan etika berkata menurut adat. Adapun nilai-nilai yang terkandung didalam sumbang kato adalah berfikir terlebih dahulu sebelum berbicara, menggunakan perasaan serta akal fikiran supaya perempuan Minangkabau tidak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan dan melakukan tenggang rasa untuk mengontrol perkataan dan menjaga perasaan orang lain agar tidak menimbulkan konflik antar sesama.
 
Sumbang caliak ialah sumbang bagi seseorang perempuan dalam melihat sesuatu, baik caranya maupun tujuannya yang tidak sesuai dengan etika adat Minangkabau. Nilai dari sumbang caliak adalah nilai etika untuk menghargai orang lain, dengan cara tidak melihat berlebihan, baik itu dengan cara menatap lama, menatap menantang serta menatap dengan cara berulang ulang, sebaiknya melihat perempuan Minangkabau itu sekilas saja.

Sumbang bapakaian adalah sumbang bagi seseorang perempuan dalam berpakaian, baik caranya maupun tujuannya yang tidak sesuai dengan etika adat Minangkabau. Nilai dari sumbang bapakaian adalah menutup aurat dengan cara tidak memperlihatkan lekuk tubuh serta mempertahankan nilai-nilai etika, nilai estetika, yang menyangkut akan keanggunan, keindahan dan kenyamanan bagi perempuan Minangkabau. 

Bentuk berpakaian yang sumbang bagi perempuan Minangkabau diantaranya adalah berpakaian dengan memperlihatkan bentuk tubuh seperti berpakaian ketat/sempit, berpakaian transparan. Pakaian perempuan yang baik menurut adat Minangkabau adalah berpakaian tertutup, longgar dan tidak menampakkan lekuk tubuh perempuan tersebut.

Sumbang bagaua adalah sumbang bagi seseorang perempuan dalam cara dan memilih pergaulannya. Nilai dari sumbang bagaua adalah untuk memilah pergaulan, pergaulan yang baik dan pergaulan yang berdampak buruk bagi dirinya. Adapun bentuk bergaul yang sumbang bagi perempuan Minangkabau adalah bergaul melampaui batas dengan laki-laki sehingga melanggar norma adat dan agama.

Sumbang karajo adalah sumbang bagi seseorang perempuan dalam cara dan memilih pekerjaannya. Nilai dari sumbang karajo adalah untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan yaitu bekerja yang halus seperti bekerja rumah tangga, bekerja di kantoran dan tidak melakukan pekerjaan kasar seperti pekerjaan laki-laki dikarenakan keterbatasan fisik dari perempuan tersebut.
 
Sumbang tanyo adalah sumbang bagi seorang perempuan jika bertanya dan menjawab tidak sesuai dengan etika adat. Nilai-nilai yang terdapat dalam sumbang tanyo dan sumbang jawab adalah berfikir sebelum berbicara dengan memilih tata cara bertanya dan menjawab pertanyaan yang baik tanpa menyinggung perasaan orang lain dan mengacu kepada keterampilan komunikasi. Keterampilan komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dari suatu pihak kepada pihak lain baik lisan maupun verbal dengan tujuan tidak menyakiti perasaan
orang lain.

Sumbang kurenah, secara bahasa kurenah itu artinya perilaku atau gelagat. Jadi sumbang kurenah adalah tingkah laku atau penampilan seseorang yang dianggap janggal dipandang oleh orang lain, atau menyebabkan ada orang yang tersinggung. Nilai yang terkandung dari sumbang kurenah adalah sebagai penuntun dan penata perilaku perempuan Minangkabau supaya sesuai dengan yang digariskan oleh norma adat. Adapun bentuk kurenah atau perilaku yang sumbang bagi perempuan Minangkabau adalah berbisik-bisik didepan orang ramai, mengkedip-kedipkan mata kepada lawan jenis atau orang yang lebih tua, batuk yang dibuat-buat.
 
Peren perempuan minangkabau sangat penting dan strategis sebagai menjaga kesinambungan generasi, menanamkan nilai-nilai moral ke anak dan cucu, serta menjaga pusaka dan batas-batas adat, selanjutnya perempuan Minangkabau itu harus memiliki sifat, perilaku dan kepribadian yang didasarkan kepada aturan norma etika dan moral yang baik, sesuai dengan ajaran agama, maupun menurut aturan adat, serta mampu menjaga integritas dan kepribadiannya sebagai perempuan.

*Penilis: M. Akbar, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Catatan Abdul Jamil Al Rasyid: Eksistensi Perempuan Di Minangkabau
Senin, Juni 07, 2021

On Senin, Juni 07, 2021

DI Minangkabau ibu sendiri dipanggil dengan sebutan mandeh, akan tetapi hal ini sekarang sudah jarang orang yang memanggil ibunya dengan sebutan mandeh tersebut. Hal ini terjadi karena pergesaran nilai budaya, seakan-akan masyarakat tentu tidak tahu dahulu mandeh ini sekarang  sudah tidak ada lagi. Masyarakat sekarang sudah jarang melakukan panggilan ini. Tetapi hal ini tentu tidak mengurangi peran ibu di Minangkabau ada beberapa peran ibu di Minangkabau 

Perempuan adalah ibu kita, kitalahir dari rahim perempuan maka tentu kita harus menghormati hak-hak perempuan. Tindakan kelemahan terhadap perempuan tidak perlu dilakukan karena itu adalah tindakan yang salah, didalam karya sastra dan kenyataan sering terlihat penganiayaan terhadap kaum perempuan. Perempuan sekarang sudah bergeser karena tidak setiap perempuan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga adanya kepentingan serta arogamsi pihak yang kuat membuat perempuan seakan berada di bawah menjadi penghambat tersendiri bagi perempuan itu untuk berkembang. Tentu hal ini tidak jarang terlihat dari sebuah karya sastra yang mana perempuan itu berada satu level di bawah laki-laki, hal ini tentu tidak baik karena di Indonesia perempuan sudah dihormati karena ada hari kartini dam sebagainya. Di Minangkabau sendiri perempuan begitu dihormati karena Minangkabau menggunakan sistem matrilineal hak perempuan lebih  dihargai dan dihormati oleh khalayak. Begitu beda di Minangkabau karena menggunakan daerah lain. Hak perempuan ketika direndahkan seperti skenario ini perlu diperhatikan agar tetap bisa menjadi perempuan yang lebih seutuhnya. Hak perempuan tentu perlu diperhatikan dan tidak boleh menghilangkan hak-hak perempuan agar sama seperti laki-laki. Perempuan juga dijunjung tinggi karena kita dilahirkan dari rahim perempuan. Perempuan tentu ibu kita seperti sabda Nabi Muhammad Saw tentang ibu kita.

Agama Islam juga menempatkan Ibu di posisi yang paling mulia. Bahkan anak diwajibkan lebih dulu hormat kepada ibu sebelum kepada ayahnya. Hal ini tertulis dalam Alquran di Surat Luqman ayat ke 14.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya  kepada-Ku lah kamu kembali”

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah Radiyallahu’annhu, Rasulullah menyuruh kita untuk berbuat baik tiga kali lebih besar kepada ibu dibanding bapak.

“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakan aku harus berbakti pertama kali?’. Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu’. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi SAW menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’, beliau menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘ Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab ‘Kemudian ayahmu’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal, yaitu garis keturunan ibu. Perempuan diminangkabau juga sering di sebut bundo kanduang yaitu perempuan yang diberi kehormatan dan keutamaan menurut adat.

Laki-laki  sering kali menganggap perempuan tidak bisa menjadi pemimpin hanya bisa untuk menguris rumah dan anak, padahal bisa kita lihat dari RA kartini dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. pada zaman sekarang tidak hanya laki-laki yang bisa menjadi pemimpin tapi perempuan sidah banyak menjadi pemimpin. Dan kenapa perempuan harus disuruh memilih bukannya kita bisa mendapatkan kedua-duanya seolah-olah perempuan tidak bisa melakukan apa-apa.  perempuan senantiasa ada di barisan paling depan untuk memastikan urusan hidup keluarga. Perempuan juga tidak hanya mengurusi diri mereka sendiri tapi juga rumah tangga. jujunglah tinggi perempuan lindungilah dan hormati karena kalau tidak ada perempuan kita pasti tidak ada didunia ini. Hak-hak perempuan haris ditegakan karna perempuan bukan benda mati.

Sistem kekerabatan ini menarik garis keturunan dari pihak ibu saja. Anak akan terhubung dengan ibunya, termasuk terhubung dengan kerabat ibu, berdasarkan garis keturunan perempuan secara unlateral.

Konsekuensi sistem kekerabatan ini yaitu keturunan dari garis ibu dipandang sangat penting. Dalam urusan warisan, misalnya, orang dari garis keturunan ibu mendapatkan jatah lebih banyak dari garis bapak. Sistem kekerabatan ini bisa dijumpai pada masyarakat Minangkabau dan Semando.

Sebuah gurindam indah Minangkabau menggambarkan posisi, peran dan fungsi perempuan secara elok dan holistik.

"Limpapeh rumah nan gadang. Amban puruak pegangan kunci. Amban puruak aluang bunian. Pusek Jalo kumpulan tali. Hiasan dalam nagari”

Bundo Kanduang adalah limpapeh rumah gadang atau penyangga rumah gadang. Rumah gadang, rumah keluarga. Perempuan adalah tiang penyangga suatu rumah.

Maka, perempuan memegang posisi sentral dan strategis dalam keluarga dan masyarakat. Ia adalah kunci penyelesaian semua masalah keluarga, manajer, problem shooter (amban puruak; pegangan kunci, amban puruak aluang bunian).

Perempuan adalah pemersatu dan penyelaras segala perbedaan (pusek jalo kumpulan tali). Perempuan adalah penjaga adat, nilai dan peradaban (hiasan dalam nagari ). 

Mayoritas pemimpin adalah mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Pemimpin perempuan hanya ditemukan di sebagian kecil masyarakat. Sebenarnya, terkait kepemimpinan, Islam tidak melarang perempuan untuk menjadi pemimpin.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 berbunyi :

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat tersebut menjelaskan semua manusia itu sama, yaitu menjadi khalifah dan menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya,”

Masalah perempuan yang di pandang lemah dan tidak bisa punya cita-cita, mungkin ini di karenakan oleh adat terdahulu yang mengharuskan perempuan itu tidak boleh berkeliaran, mereka hanya boleh keluar jika memang perlu kalau tidak ada perlu mereka cukup di rumah menjaga rumah. Dan menurut saya penyenbab adanya karya-karya satra yang berisi tentang perempuan itu lemah itupun dilandasi masa lalu itu tadi, jadi sang pencita karya terinspirasi atau memiliki ide untuk karyanya memalui pengalaman dia yang menemukan sebuah cerita bahwa dahulu kedudukan perempuan itu terbatas.

Namun berbeda dengan sekarang, sekarang perempuan sadar akan kemampuan mereka yang juga bisa setara dengan laki-laki sehinga banyak perubahan yang terjadi dalam kedudukan perempuan pada zaman sekarang. Menurut kami jika masih ada yang mengatakan perempuan itu lemah dan tidak akan bisa mempunyai cita-cita itu salah, karna di lihat dan telah banyak terbukti bahwa perempuan juga bisa bersaing dengan laki-laki. 

*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid,  Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek

Program CSR Sangat Membantu Masyarakat Pedesaan Dalam Menumbuhkembangkan Perekonomiannya
Minggu, Juni 06, 2021

On Minggu, Juni 06, 2021

Apa itu CSR? 

CSR – Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep atau tindakan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap sosial – masyarakat maupun lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.

Jenis kegiatannya seperti melakukan ‘sesuatu’ yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan menjaga lingkungan, memberikan beasiswa untuk anak tidak mampu di daerah tersebut, dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk membangun desa/ fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak.

Sebagai amanat dari ISO 26000 yang diterbitkan pada tanggal 01 Nopember 2010, CSR hingga kini mencakup kepada 7 subyek sampai adanya perubahan di masa mendatang sesuai keadaan masa itu, yakni: 1) Tata Kelola Organisasi, 2. Hak Asasi Manusia, 3. Praktik Tenaga Kerja, 4. Tanggung Jawab terhadap Lingkungan, 5. Praktik Operasional yang Adil, 6. Isu Konsumen dan 7. 

Keterlibatan dan Pengembangan Komunitas 

Ini merupakan hal terpenting bagi seluruh ’organisasi’ untuk berkontribusi dalam pengembangan masyarakat yang berkelanjutan. Organisasi yang dimaksud menurut pedoman ISO 26000 diperuntukan bukan hanya bagi korporasi tetapi bagi semua bentuk organisasi, baik swasta maupun publik.
Kontribusi dapat berupa keterlibatan dalam komunitas sipil, promosi kebudayaan, memudahkan akses pendidikan dan teknologi, serta investasi sosial.

Bagaimana Penerapan CSR di Masyarakat?

Mari kita ambil contoh CSR yang dilakukan BNI berbentuk PKBL – Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang memberikan bantuan di berbagai macam bidang yang sudah ditentukan.

PT. Freeport Indonesia, dengan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan PTFI terus berusaha dan mendukung lembaga-lembaga yang menjadi representatif masyarakat lokal dalam meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas pengelolaan dana program pengembangan masyarakat dari PTFI yang diterima oleh LPMAK, Yayasan Tuarek Natkime, Yayasan Waartsing, Yayasan Yu-Amako, Yayasan Hak Asasi Manusia dan Anti Kekerasan (YAHAMAK) dan Forum MoU 2000.

PT Olahkarsa Inovasi Indonesia – www.olahkarsa.com, berfokus pada membantu bisnis untuk merencanakan, menerapkan & mengevaluasi program tanggung jawab sosial dan menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi bisnis dan masyarakat melalui ‘Workshop’ gratis yang dilakukan secara virtual dengan tema yang berbeda pada setiap webinarnya.

Bagaimana Cara Mendapatkan Program CSR itu?

Khususnya bagi masyarakat ‘Peduli Desa’, ‘Pendamping Desa’ maupun ‘Relawan Desa’ dan sebutan lainnya, tentulah punya semangat juang ’45 untuk membuat desanya makin tumbuh, berkembang dan maju.

Jika yang dituju adalah pemerintah, maka silakan kunjungi situs resmi Kementerian Koperasi dan UKM - https://kemenkopukm.go.id/
Jika yang dituju adalah perusahaan swasta, maka silakan datangi kantor dimana perusahaan berada serta tanyakan langsung tentang apa dan bagaimana cara memperoleh Program CSR-nya. Beda perusahaan beda pula caranya.

Selamat berkarya!  

*Penulis  H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman

Catatan M Akbar: Tradisi Babako di Kanagarian Kapujan Koto Berapak Bayang Pesisir Selatan
Sabtu, Juni 05, 2021

On Sabtu, Juni 05, 2021

TRADISI merupakan salah satu alat untuk mempersatukan antar masyarakat, dan dapat menimbulkan rasa solidoritas terhadap lingkungan sekitar. Tradisi babako dalam etnis tertentu juga bisa menjadi sarana interaksi social. Dalam sebuah tradisi mengandung symbol-simbol komunikasi.

Tradisi merupakan bagian dari budaya. Menurut Deert Hofstede (1984:21 dalam Nasrullah, 2012: 16) budaya diartikan tidak sekedar sebagai respons dari pemikiran manusia atau “programing of the mind” melainkan juga sebagai jawaban atau respons dari interksi antar manusia yang melibatkan pola-pola tertentu sebagai anggota kelompok dalam merespons lingkungan tempat manusia itu berada.
Sebelum membahas tradisi Babako, terlebih dahulu kita uraikan kondisi daerah yang menjadi latar belakang pelaksanaan tradisi Babako. 

Hal ini penting, karena dapat menggambarkan keadaan daerah maupun masyarakat tempat tradisi ini hidup. Tanpa mengetahui latar belakang tersebut, tulisan ini akan terasa kering sebab tradisi Babako tidak dapat lepas dari keadaan yang melingkupinya.

Nagari Kapujan terletak di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan terletak di kaki gunung serta di kelilingi sungai-sungai yang jernih, dan juga Kapujan, dahulu merupakan pusat pendidikan agama Islam di Bayang khususnya dan Pesisir Selatan umumnya dan disini tanah kelahiran Syaikh Muhammad Jamil, seorang ulama Pesisir Selatan pada abad 18. Dikapujan terdapat SDN 33 KAPUJAN, SDN 11 KAPUJAN, PUKESMAS KAPUJAN. Mayoritas penduduk nagari Kapujan bermata pencarian sebagai petani jagung, padi, semangka dan serta sayur-sayuran.

Tradisi Babako merupakan tradisi yang ada di nagari Kapujan dan dilaksanakan oleh penduduk atau masyarakatnya namun, sebenarnya Tradisi Babako hanya dilaksanakan ketika acara pernikahan yang dilakukan oleh Bako kepada Anak Pisang. Tradisi ini masih di lakukan pada saat acara pernikahan.

Kondisi ekonomi dapat memberikan gambaran mengenai budaya yang berkembang di masyarakat, karena kondisi ekonomi merupakan salah satu unsur kebudayaan universal. 

Kondisi yang dimaksud adalah keadaan yang menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat nagari Kapujan di dominasi oleh Pertanian, hal ini di karenakan letak yang strategis di bawah kaki gunung atau bukit yang tanahnya subur. 

Masyarakat Nagari Kapujan dapat bercocok tanam baik itu padi, kacang tanah, jagung, semangka maupun sayur-sayuran seperti brokoli, bayam, kangkung, cabe dan jenis sayur mayur lainnya dengan dukungan air yang memadai dengn sangat baik. 

Selain bermata pencaharian sebagai petani, masyarakat nagari Kapujan ada sebagian kecil sebagai PNS dan juga berwiraswasta.

Dengan melihat kondisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kondisi perekonomian masyarakat nagari Kapujan berjalan dengan baik  dan lancar. 

Lancarnya kegiatan perekonomian berpengaruh positif bagi daerah tersebut dan menunjang kegiatan dalam bidang kebudayaan yaitu menyelegarakan Tradisi Babako tersebut.

Setiap masyarakat memiliki kehidupan sosial yang berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. 

Hal ini dapat dilihat dari adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Adat istiadat merupakan bagian dari kebudayaan yang bisasanya berfungsi sebagai pengatur, pengendali, pemberi arah kepada pelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat (Koenjaraningrat, 1982:2).

Perkembangan kesenian dan tradisi masyarakat nagari Kapujan didukung oleh keinginan masyarakat yang masih tetap melestarikan dan mengembangkan bidang budaya.

Selain itu tersedianya generasi muda penerus yang juga masih bersemangat untuk mengikuti dan mengembangkan tradisi serta keinginan membuat nagari Kapujan tetap dapat mempertahankan tradisi dan kesenian di tengah-tengah perkembangan zaman.

Tradisi Babako merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang sudah berusia kurang lebih ratusan silam. Yang dilakukan oleh sianak pisang kepada bako dan di indahkan oleh masyarakat setempat, ketika akan adanya acara babako itu masyarakat setempat akan datang kerumah orang yang akan melakukan acara babako tersebut, untuk menolong membuat makanan yang akan di antar kerumah bako, yang orangnya itu adalah orang-orang yang tinggalnya dekat dengan rumah orang yang akan melakukan acara bako tadi atau orang yang memeliki hubungan kekeluargaan, acara babako ini tidak dilakukan oleh semuah orang kampung atau orang nagari akan tetapi yang akan melakukannya adalah bako terhadap anak pisang dalam acara atau ketika acara melakukan baralek (pernikahan).

Masyarakat setempat akan melakukan acara Babako itu juga ketika anak pisangnya juga akan menikah nantinya dan itu akan selalu seperti itu seterusnya, yang akan diteruskan oleh masyarakat itu sendiri dengan catatan yang akan melakukan acara itu hanya anak pisang dengan bako tidak dengan masyarakat nagari akan tetapi hanya orang yang memiliki hubungan kekerabatan, yaitu anak pisang dengan bako, yang disebut Babako. 

Dalam acara tradisi Babako ada beberapa makanan yang akan di bawa nantinya ketika  pelaksanaan yang akan dilaksanakan, adapun makanan itu adalah sebagai berikut.

Nasi kunik (nasi kuning)

Yaitu beras ketan yang dikasih buah kunyit sehingga warna dari beras ketan itu berwarna kuning dan di bentuk seperti kerucut dan di hiasi pakai bunga.

Apik ayam 

Yaitu ayam yang di rebus dan di bumbui seperti gulai berbentuk seperti ayam panggang tapi bahan-bahan pembuatannya berbeda.

Dalam pelaksanaan tradisi Babako dilakukan secara beramai ramai atau ber arak arakakan ke rumah anak pisang dengan membawa makanan tadi dan makanan tadi orang yang akan membawanya sudah di tentukan oleh orang yang tertua dikalangan keluarga tersebut.

Setibanya di sana, nanti akan di sambut ramah oleh keluarga anak pisang yang akan di suruh masuk terlebih dahulu meletakkan makanan-makanan tadi, dan nantinya baru di makan, dan terlebih dahulu yang memakan makanan itu yang pertama kali adalah marapulai atau pengantin laki-laki.

Etika masyarakat pribumi nagari Kapujan Kabupaten Pesisir Selatan terhadap keberlangsungan mata air. Pelaksanaan Tradisi Babako juga mengandung nilai gontong royong. 

Hal ini terlihat pada saat persiapan perlengkapan untuk Tradisi Babako dimana seluruh kerabat yang bersangkutan bersama- sama mempersiapkan. Masyarakat tentu menyadari bahwa kegiatan tradisi ini tidak dapat dilakukan secara individu.

Tingginya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kegiatan ini secara gontong royong tidak terlepas dari tujuan gontong royong yaitu untuk mencapai tujuan bersama. Nilai gontong royong ini sebagai modal adanya persatuan dan kesatuan antar masyarakat yang memandang status sosial. 

Tradisi Babako ini dipandang baik oleh masyarakat tidak ada unsur lain atau yang menyimpang di dalam Tradisi ini bahkan tradisi ini sudah ada sejak para-para pemuka adat dan ulama-ulama yang menyepakati tradisi ini dan masih di lestarikan atau masih di budayakan sampai saat sekarang ini.

Tradisi-tradisi sangat sulit di rubah karena merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang sudah berakar kuat dan harus dijaga kelestariannya. 

Tradisi yang sudah berakar mengandnung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat dengan agama dianut oleh masyarakat karena kalau di Minangkabau adat basandi syara’, syara’ basandi kitabbullah yaitu adat memakai syara’ mangato.

Masyarakat Nagari Kapujan mayoritas beragama Islam dan tidak serta merta akan menghilangkan tradisi yang sudah ada, tetapi Tradisi ini tetap terlaksana dengan baik secara Islam, acara ini juga bisa mempersatukan yang goyah untuk mempererat lagi antar berkerabat dan memiliki rasa berkelurga dan saling melindungi satu sama lain.

Masyarakat nagari Kapujan atau kampung Kapujan di gelar atau di panggil dahulunya yaitu tuo di syara’ (tua akan agama) jadi kalau bercerita agama tidak kita ragui lagi karena sudah sejak dahulunya memiliki pakar-pakar agama dan banyak juga dahulunya ulama-ulama kita yang berlajar agama di kampung tersebut.

Tradisi Babako di Nagari Kapujan memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi sehingga masyarakat perlu untuk melestarikan tradisi tersebut. Pelaksanaan tradisi tersebut dilaksanakan dengan cara berkerja sama baik antar kerabat maupun aparat setempat. 

Hal ini adanya partisipan dari semua pihak saat acara tersebut berlangsung dan acara atau tradisi ini wajib dijaga atau tetap dilestarikan.

Tradisi Babako akan tetap terlaksana selama orang atau masyarakat melaksanakan acara perkawinan atau pernikahan, karena tradisi Babako ini dilaksanakan ketika acara pernikahan atau perkawinan tersebut dilaksanakan, dan oleh sebab itu selama masih ada yang melakukan acara pernikahan dan Tradisi Babako akan tetap terlaksana bagaimana tradisi ini adanya dahulunya.


*Penulis M Akbar adalah mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Catatan Muhammad Ilham: Keindahan Kebudayaan Sumatera Barat
Sabtu, Juni 05, 2021

On Sabtu, Juni 05, 2021

Catatan Muhammad Ilham: Keindahan Kebudayaan Sumatera Barat
BENTENGSUMBAR.COM - Sumatera barat merupakan wilayah indonesia pada bagian ujung barat yang banyak memiliki kebudayaan dan keanekaragaman yang ada di dalam wilayah tersebut. Pada zaman dahulu Sumatra Barat ini dikenal sebagai wilayah bagian dari kerajaan para ruyung yang ada di wilayah Sumbar. 


Namun wilayah dari kerajaan Pagaruyung ini tidak semua menyangkut Sumatera Barat namun juga ada Sumatera Utara yang mana Masih menyesuaikan history dan kebudayaan dari kerajaan lama. Dari semua hal tersebut tetap terikat oleh adanya penjajahan kolonial pada zaman dahulu yang mana memberikan efek hingga saat ini. 


Diawali dari penjajahan Inggris yang datang kepada kerajaan para ruyung tepatnya di Sumatera Barat yang mana selama penjajahan tersebut membawa kebudayaan dan adat Baru Bagi Sumatera Barat namun sebelum penjajah datang ini sudah memiliki kebudayaan yang melekat sebagai bentuk ciri khas dari wilayah Sumatera Barat pada zaman dahulu. 


Sumatera Barat merupakan wilayah yang ada di pesisir barat tengah tepatnya pada pulau Sumatera dengan memiliki banyak Dataran rendah yang menjadi incaran para kolonial pada zaman dahulu dan memiliki dataran tinggi vulkanik dari Bukit Barisan yang paling terkenal. 


Di mana dalam Sumatera Barat ini merupakan laut lepas di sepanjang Samudra Hindia hingga 375 KM dengan beberapa puluh kilometer adalah jarak dengan pulau lainnya.


Selain memiliki banyak kebudayaan Sumatera Barat juga memiliki banyak wilayah daerah berair seperti danau contohnya seperti Singkarak ,Danau Maninjau. 


Danau yang ada tersebut membentang dari bagian utara hingga selatan provinsi Sumatera Barat dengan memiliki luas 130,1 km² dan ada pada Danau Maninjau sebesar 99,5 km² dan juga ada danau yang ada di pulau Sumatera yang menjadi hulu utama dari provinsi ini ya ini Seperti Sungai Siak Indragiri Kampar maupun sungai dari Batanghari yang mana muara dari semua sungai itu ada di Riau dan juga Jambi. 


Sumatera Barat memiliki banyak kekayaan alam dan kekayaan budaya yang membentang dari Utara Selatan Barat dan Timur. Dari sungai sungai tersebut juga ada Muara pendek Seperti Sungai Batang Anai Tarusan dan juga Arrau. 


Tidak hanya Sungai namun Sumatera Barat juga kaya akan gunung yang terdapat 29 gunung di mana 7 di antaranya ada di Kabupaten dan juga kota Contohnya seperti gunung yang tertinggi di dunia adalah gunung Merapi yang ada di kabupaten Agam yang memiliki ketinggian lebih dari 2,5 meter serta juga ada Gunung Talang dengan ketinggian 2,5 m yang mana masing-masing gunung tersebut merupakan gunung berapi. 


Selanjutnya membahas mengenai keanekaragaman budaya yang ada pada Sumatera Barat di mana faktor alam merupakan penunjang dari kebudayaan. Provinsi Sumatera Barat telah banyak yang memiliki keanekaragaman baik padat maupun budaya secara tradisional maupun secara modern yang akulturasi dari budaya tradisional.


Kekayaan dari Sumatera Barat ini harus memang terus dilestarikan sebagai bentuk pengembangan wilayah di wilayah Sumatera Barat guna untuk menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk senantiasa memelihara ragam budaya dan alam yang ada di Sumatera Barat kita memang mampu untuk dikenakan di internasional maka harus dikenalkan sebagai bentuk kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. 


Itu hal itu bisa menjadikan Sumatera Barat menjadi tempat destinasi wisata dengan kekayaan alam dan juga budaya yang ada yang disatupadukan sehingga bisa menambah devisa dari wilayah dan memberikan efek bagi perekonomian negara. 


Selain itu Indonesia juga bisa mempromosikan wilayah provinsi Sumatera Barat sebagai bentuk apresiasi terhadap pemerintahan daerah Sumatera Barat untuk menyelenggarakan suatu proses dari bagian kenegaraan.


Ada macam sekali keindahan yang ditemukan di Sumatera Barat dan juga kebudayaan yang ada yakni seperti :


1.Rumah Adat


Rumah adat yang ada di Sumatera Barat itu adalah berupa Rumah Gadang yang didasari dari suku Minangkabau dengan memiliki sebuah tanduk pada rumahnya terbagi atas muka depan dan muka belakang. Di mana rumah ini dibuat dari bahan kayu yang hampir sama dengan rumah panggung namun memiliki kekhasan bahwa pemain yg tidak dipakai paku besi hanya dari pasak dari kayu saja sehingga menampilkan kesan alami dari rumah ini.


2.Seni Tari


Adapun seni tari yang dikenalkan di wilayah Sumatera Barat adalah seni tari etnis Mentawai dan Minangkabau yang dipengaruhi oleh ajaran Islam seperti misalnya tari piring payung maupun tari Indang.


3.Bahasa 


Adapun bahasa yang digunakan yakni berupa bahasa Indonesia ataupun bahasa yang berkembang di Sumatera Barat dengan dialek yang berbeda-beda misalnya ada di Bukittinggi Pesisir Selatan maupun dari Payakumbuh yang dialek memiliki masing-masing keutamaan


4.Agama Mayoritas


Adapun agama mayoritas yang menduduki di Sumatera Barat adalah Islam dengan persentase 98% dan sisanya adalah 5 agama lain yang ada di Indonesia sehingga dibangunlah masjid yang paling besar di Sumatera Barat ada di kota Padang sedangkan adanya masjid tertua yaitu Masjid tua yang ada di Solok.


Adapun ciri khas dari budaya masjid ini adalah arsitektur yang khas dari masjid yang mendominasi bentuk masjid tersebut dengan memiliki bentuk lonjong dengan ukiran Minang hingga memiliki 3 sampai 5 lapis dari Makin kecil dan cekung seperti Tuo kayu.


5.Penduduk


Sumatera barat banyak dihuni oleh masyarakat suku Minangkabau yang mana ada pada suku Batak dan juga my darling yang juga ikut menghuni pada bagian Selatan dan ada beberapa kota di Sumatera Barat yang menjadi transmigrasi dari Pulau Jawa Lalu ada keturunan imigran dan yang kembali ke Sumatera Barat sejak tahun 1950. 


Dimana saat itu Presiden Soekarno sebagai presiden pertama memutuskan bahwa adanya tempat di sekitar Situ guna untuk daerah transmigrasi dan hal ini tidak lepas dari politik pemerintah yang mana sejak PRRI provinsi Sumatera Barat baru saja dibentuk sebagai TGA. 


Oleh sebab itu sangat diperlukan adanya kerjasama masyarakat Sumatera Barat dan juga pemerintah untuk lebih mengembangkan kebudayaan dan destinasi yang ada di Sumatera Barat guna untuk pemeliharaan yang lebih lanjut dan baik lagi sehingga bisa digunakan untuk menopang pembangunan ekonomi Indonesia. 


Selain itu dengan menjaga hal tersebut maka bisa melestarikan warisan yang ada di Indonesia berupa kebudayaan dan adat istiadat yang berkembang apalagi di Sumatera Barat sangat kental dengan adat dan istiadat di sekitar sehingga bisa dikatakan bahwa di daerah Sumatera Barat ini bisa menjadi daerah destinasi wisata asing untuk mengenalkan budaya Indonesia di Kancah internasional. 


Sebab itu untuk mendukung proses hal tersebut sangat diperlukan kerjasama masyarakat dalam memelihara wilayah dan lingkungan sekitar serta kebudayaan yang ada di mana adanya dorongan dan bantuan dari pemerintah berupa material maupun support agar bisa memberikan dorongan masyarakat Sumatera Barat tersebut.


*Penulis  adalah Muhammad Ilham, Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya , Universitas Andalas.

Fakta!  Malas Membaca Menjadi Jalan Pintas Menuju Kebodohan (Bagian ke-2: HABIS)
Selasa, Juni 01, 2021

On Selasa, Juni 01, 2021

Fakta!  Malas Membaca Menjadi Jalan Pintas Menuju Kebodohan (Bagian ke-2: HABIS)
IQRA’. Bacalah! Adalah kata pertama dalam surah pertama – Al-‘Alaq yang ada di dalam kitab suci umat Islam – Al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad SAW., ketika beliau uzlah – mengasingkan diri di gua Hira’ pada 17 Ramadhan saat usia Rasulullah 40 tahun (sekitar 610-611 M).


Apa sebenarnya makna yang terkandung di dalam kata Iqra’ tersebut?


Tidak ada perintah yang spesifik dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril tentang apa saja yang harus ‘dibaca’ oleh Rasulullah ketika itu. Namun demikian, melalui Kehendak-Nya ada 3 macam ayat-ayat Allah yang mesti dicermati oleh manusia, antara lain: 1) Ayat Qur’aniyah (Qauliyah): yaitu, tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di dalam Qur’an (dan Hadits Sahih), 2) Ayat Kauniyah: yaitu, tanda-tanda kebesaran atau ayat-ayat Allah yang ada di jagad raya (kosmos),  dan 3) Ayat Insaniyah: yaitu, tanda-tanda kebesaran atau ayat-ayat Allah yang mengatur kehidupan manusia (kosmis).


Ketiga macam tanda-tanda kebesaran atau ayat-ayat Allah tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya.


Membaca adalah suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam sesuatu yang tersurat, melihat pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis.

Tidak semua yang tampak terlihat nyata oleh pandangan mata dzahir bisa diartikan secara mutlak. Dibutuhkan seni ‘olah fikir’ untuk bisa mencapai di kedalaman arti dan makna yang tampak tersebut.

Jika selama ini dirasa harga buku lah yang menjadi salah satu faktor minat baca rendah di Indonesia, hal itu sangatlah tidak wajar jika dibandingkan dengan pengeluaran masif yang dirogoh kantong lebih dalam oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.


Atau jika kita melihat jumlah pengguna gadget alias handphone di Indonesia yang masuk jajaran lima besar tertinggi di seluruh dunia. Harga buku daring atau buku elektronik sangat amat terjangkau bahkan ada ribuan buku yang dapat diunduh secara gratis di handphone kita.


Namun, sayangnya hal tersebut bukanlah hal yang menggugah ‘minat baca’ masyarakat Indonesia kebanyakan. Mereka lebih suka membaca hal yang berkaitan dengan ‘kontroversi’. Bahkan lebih parahnya lagi lebih suka membaca ‘judul’ lalu kemudian bereaksi daripada membaca isi beritanya.


Malas Membaca Adalah Sebuah Kebodohan


Dilansir dari Laman gln.kemdikbud.go.id, sejak  tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.


Literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu: -- komputer atau kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup (lihat: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi)

Penguasaan enam literasi dasar yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat.


Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Pintu masuk untuk mengembangkan budaya literasi bangsa adalah melalui penyediaan bahan bacaan dan peningkatan minat baca anak.


Dengan kemampuan membaca ini pula literasi dasar berikutnya (numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan) dapat ditumbuhkembangkan.


Masih ‘malas membaca’?  


*Penulis: H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman.

Fakta!  Malas Membaca Menjadi Jalan Pintas Menuju Kebodohan (Bagian ke-1)
Kamis, Mei 27, 2021

On Kamis, Mei 27, 2021

SEJAK duduk di bangku sekolah dasar, peribahasa ini acapkali disuarakan oleh guru, yakni “Rajin pangkal pandai, Malas pangkal bodoh”. Pengertian pribahasa Rajin pangkal pandai adalah orang rajin belajar akan menjadi pandai. Sedangkan Malas pangkal bodoh adalah orang yang malas belajar atau membaca akan menjadi bodoh.

Kenyataan inilah yang sedang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan kehidupan Era Digital 4.0 – serba digital.

Seorang tokoh Yahudi menyebut, "Kami tidak akan takut kepada umat Islam, karena mereka bukan umat yang membaca."

Dr. Raghib As Sirjani dan Amir Al-Madari dalam bukunya yang berjudul “Spiritual Reading : Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca”, terbitan Aqwam 2007, meyakini betul kemunduran umat Islam, adalah karena hilangnya tradisi membaca yang sebelumnya menjadi budaya dan watak umat ini.

Dilansir dari Laman Kominfo.go.id (10/10/2017), menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Indonesia menduduki peringkat ke-2 dari bawah soal minat baca, akan tetapi menduduki peringkat ke- 5 dalam hal pengguna media sosial tercerewet di dunia.

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Apa sih artinya data-data yang ditampilkan tersebut di atas?

Boleh dibilang sampai saat tulisan ini diturunkan, kiranya tiada rumah tangga di Indonesia yang tiada memiliki gadget atau gawai alias handphone, baik handphone ‘kring-kring’ maupun yang memakai layar sentuh.

Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa sudah memakai gadget apalagi sejak terjadinya Pandemi Covid-19 pada awal tahun 2020 lalu, baik peserta anak didik dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi maupun para pendidik/ pengajar diwajibkan melalukan proses belajar-mengajar melalui daring – dalam jejaring atau secara virtual menggunakan fasilitas internet.

Namun, apakah kenyataan ini sudah setara dengan pertumbuhan ‘minat baca’-nya? Apakah serta-merta secara otomatis ilmu pengetahun masyarakat Indonesia bertambah? Atau apakah dengan banyaknya jumlah pemakai gadget mampu mengangkat kualitas SDM-nya dan menjadikannya pandai?
Marilah kita lihat dari data yang dilansir oleh wearesocial.com (24/01/2017), bahwa pengguna gadget di Indonesia bisa ‘manteng’ menggunakan gadget/ laptop selama 9 jam per-hari.

Masyarakat Indonesia pengguna gadget terlama berada pada urutan ke-4 setelah Filiphina, Brazil dan Thailand serta Malaysia pada urutan ke-5.

Minat Baca Kurang, tapi Cerewet di Medsos!

Bahkan julukan ‘Cerewet’ di Medsospun diraih oleh masyarakat pengguna gadget di Indonesia. Sungguh menjadi prestasi yang tidak enak didengar. Jangan pula lantas kita bangga dengan predikat tersebut.

Pembaca yang budiman, bukannya penulis berniat menggurui siapapun bahwa dalam hal ‘minat baca’ yang kuranglah menjadi sebab masyarakat Indonesia menjadi ladang konsumsi bagi para penyebar berita bohong alias HOAX, penyebar fitnah dan bahkan banyak berita yang berasal dari medos maupun media mainstream yang mengarah kepada hasutan dan adu domba bangsa ini. Waspadalah!.  -(Bersambung)

Ditulis oleh:  H. Ali Akbar, tinggal di Padang Pariaman.

Teruslah ke Surga, Bang In
Kamis, Mei 20, 2021

On Kamis, Mei 20, 2021

Di muka pintu masih bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak mengerti
—mengapa ia tinggal diam waktu berpisah.
Bahkan tak ada kesan kesedihan
pada muka dan mata itu, yang terus memandang,
seakan mau bilang dengan bangga:
—Matiku muda— Ada baiknya mati muda
dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktu
....…

Pada akhirnya, saya harus membaca kembali sajak "Dan Kematian Makin Akrab" yang ditulis Soebagyo Sastrowardoyo ini. Ada yang mati muda senja tadi. Seorang kakak dan teman yang saya kenal baik. Nova Indra, namanya. Ia menjabat Ketua Divisi Perencanaan, Program dan Data KPU Sumbar.

Bang In, begitu saya memanggilnya, meninggal dunia di RS Yarsi Payakumbuh akibat serangan jantung, magrib tadi. Saya tidak percaya, ia yang muda, energik dan mudah senyum itu begitu cepat berpulang. Namun, kehendak Tuhan, siapa yang tahu. 

Ia menjadi Komisioner KPU Kabupaten Solok dua periode, dilanjutkan komisioner KPU Sumbar dua periode pula. Hanya saja, jelang periode kedua berakhir, ia harus pamit selama-lamanya.

Dalam penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan serentak atau pilkada, Bang In sosok yang sangat fokus pada data, sesuai tugas divisinya.

"Saya sangat tergelitik dengan evaluasi KPU kabupaten/kota terkait data pelanggaran yang disampaikan Bawaslu. Mestinya, KPU kabupaten/kota juga punya data sendiri sesuai fakta sebagai pembanding untuk mematahkan data Bawaslu tersebut. Kecenderungannya KPU kabupaten/kota tidak ada perlawanan terhadap data yang disampaikan oleh Bawaslu tersebut karena tidak punya data," ungkapnya, dalam pertemuan di Bukittinggi jelang Ramadan lalu.

Sebenarnya, lanjutnya, data pelanggaran itu sudah ada sejak tahapan dimulai. 

"Proses pelanggarannya kita tahu karena ada datanya. Fungsi pengawasan internal sudah berfungsi atau belum. Data terkait pengawasan secara internal ada atau tidak. Sehingga ada nilai baik atau buruk yang mesti kita petik," paparnya. Setidaknya ini menjadi pesan terakhir.

Buah dari kerja kerasnya bersama tim hingga kabupaten/kota, KPU Sumbar memperoleh peringkat kedua terkait pengelolaan data pemilih dan pemilihan serentak 2020. Penghargaan itu diberikan oleh KPU RI.

Di luar kerjanya sebagai penyelenggara pemilu, banyak ide dan gagasan yang kami rencanakan. Hanya saja, belum sempat dieksekusi, hingga ia pergi. Seperti dinukil dalam "Dan Kematian Makin Akrab" ini.

.....

Aku masih terikat kepada dunia karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam perpisahan,
semua pulih, juga angan-angan dan selera keisengan

—Di ujung musim dinding batas
bertumbangan dan kematian makin akrab.

Sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih
karena layang-layangnya robek atau hilang

—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit—

Saya membayangkan Bang In seperti bocah kecil yang riang dan gembira di hadapan ibunya. Teruslah terbang ke surga, Bang In....

Ditulis Oleh: Gusriyono

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021 (Bagian ke-5)
Rabu, Mei 19, 2021

On Rabu, Mei 19, 2021

Makna Kehadiran UU No. 11 Tahun 2020 dan PP No. 11 Tahun 2021

Pada empat bagian tulisan sebelumnya, penulis menceritakan tentang dasar hukum dan sejarah perjalanan keberadaan Desa serta BUMDes. Pada bagian ke-5 ini penulis mengulas secara sederhana tentang keberadaan dan kemanfaatan hadirnya UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta PP No. 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa.

Dalam UU Cipta Kerja Pasal 117 menjelaskan bahwa “Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUM Desa, adalah Badan Hukum yang didirikan oleh desa dan/atau bersama desa-desa guna mengelola usaha, memanfaatkan aset, mengembangkan investasi dan produktivitas, menyediakan jasa pelayanan, dan/atau menyediakan jenis usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.”

Sebagai turunan UU Cipta Kerja adalah PP No. 11 Tahun 2021 tentang BUMdesa. Adapun amanah yang terdapat di dalam UU Cipta Kerja antara lain:

Pertama, Pasal 117 UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, tertanggal 2 November 2020 ‘mencabut’ Pasal 87 UU No. 6 Tahun 2014, dan kedua, PP No. 11 Tahun 2021 tentang BUMDesa, tertanggal 2 Februari 2021 ‘mencabut’ Pasal 132 – 142 PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, tertanggal 30 Mei 2014.

Mengapa Harus BUMDes?

Dalam sebuah acara Agenda Bareng Gus Menteri bertemakan ‘Halal bi Halal virtual Gus Menteri Bersama Ketua BUMdes/ BUMDesma’ seluruh Indonesia (17/05/2021) di Jakarta, Gus Menteri mengutarakan bahwa,

“BUMdes adalah Badan Hukum, dimana dalam posisi badan hukum ini BUMDes memiliki kekuatan hukum legal standing yang bagus untuk melakukan berbagai usaha termasuk melakukan perjanjian, kerjasama, kemitraan, perjanjian dengan berbagai pihak termasuk akses dana perbankan.”

Selanjutnya Gus Menteri – sapaan akrab Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar menjelaskan mengenai kesetaraan dalam usaha antara yang dilaksanakan oleh Kementerian BUMN pada level pemerintah pusat, BUMD pada level pemerintah daerah dan BUMDes pada level desa.

“Prinsip bagi BUMDes adalah mensejahterakan warga masyarakat desa. BUMDes harus melakukan berbagai unit usaha, melaksanakan berbagai usaha yang tidak sedang dan sudah dilaksanakan oleh warga masyarakat desa. Dengan kata lain, BUMDes tidak boleh melakukan usaha yang sudah dan sedang dilakukan oleh warga masyarakat di desa”, tandas Gus Menteri.

Lebih sederhananya Gus Menteri menekankan bahwa BUMdes harus memfasilitasi, memberikan kemudahan, memberikan ruang yang cukup bagi usaha-usaha mikro kecil yang dilakukan masyarakat di desanya. BUMDes tidak boleh menjadi pesaing, apalagi mematikan usaha-usaha yang sudah dan sedang dilakukan warga masyarakat di desanya.

Jadi, makin jelas sudah peranan BUMDes di dalam sebuah pemerintahan desa, dimana ketika BUMDes dapat dikelola dengan baik dan benar, maka BUMDes tersebut akan mendatangkan keuntungan/ kemanfaatan dalam meningkatkan PADes – Pendapatan Asli Desa yang selanjutnya akan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa yang bersangkutan. (Bersambung).

*Ditulis Oleh:  H. Ali Akbar. Penulis Tinggal di Padang Pariaman.

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021  (Bagian ke 4)
Senin, Mei 17, 2021

On Senin, Mei 17, 2021

BICARA mengenai UU Desa takkan lengkap rasanya kalau tidak bicarakan mengenai Badan Usaha Milik Desa - BUMDes. BUMDes merupakan lembaga usaha yang bergerak dalam bidang pengelolaan aset-aset dan sumber daya ekonomi desa dalam kerangka pemberdayaan masyarakat desa.

Pengaturan BUMDes pertama kali diatur di dalam pasal 213 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004, bahwa “Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa.”

Selain itu juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, yang di dalamnya mengatur tentang BUMDes, yaitu pada Pasal 78–81, Bagian Kelima tentang Badan Usaha Milik Desa, tertanggal 30 Desember 2005, serta terdapat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa, tertanggal 25 Juni 2010.

Permasalahan dalam Mendirikan BUMDes

Dalam prakteknya, ternyata pendirian BUMDes pada masa ini (2004-2020) terjadi beberapa permasalahan yang dihadapi:

Pertama, belum ada dasar hukum yang memayungi tentang keberadaan BUMDes di desa. Walaupun sebenarnya secara tersirat semangat untuk melembagakan BUMDes telah diamanatkan dan dipayungi dengan terbitnya UU Nomor 8 Tahun 2005 tentang Perubahan atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, sebagaimana diamanatkan dalam Bab VII bagian Kelima yang menyatakan “Pemerintah Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa.”

Kedua, legalitas bentuk badan hukum yang tepat ternyata menjadi masalah yang lebih besar bagi pendirian BUMDes. Meskipun dibeberapa daerah Kabupaten/Kota telah memiliki Perda yang mengatur tentang Tata Cara Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes, tetapi sering kali di beberapa Perda tersebut terjadi ketidaktepatan dalam memilih konstruksi badan hukum yang tepat bagi BUMDes. 

Bahkan kasus yang sering terjadi, BUMDes tidak menggunakan bentuk badan hukum, melainkan “hanya” berbentuk badan usaha yang tidak berbadan hukum.

Di lain pihak terdapat BUMDes yang didefinisikan Pasal 1 angka 6 UU No. 6/2014 tentang Desa, sebagai  “Badan Usaha Milik Desa, selanjutya disebut BUM Desa, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.”

Penyebab Kegagalan Pendirian BUMDes

Sejak awal dibentuk BUMDes (2004-2020) di seluruh Indonesia sudah mencapai jumlah 51.134 buah, dimana 92,5% BUMDes belum berjalan dengan baik. Dana Desa yang dialokasikan untuk modal BUMDes (2015-2020) berjumlah Rp.4,2 triliun dengan kontribusi yang diberikan untuk PADes – Pendapatan Asli Desa berjumlah Rp.1,1 triliun.

Dari penilaian penulis berdasarkan bacaan, literatur, seminar yang dilakukan secara virtual - webinar serta wawancara langsung kepada pengelola BUMDes/ BUMNag yang ada di Sumatera Barat khususnya, maka dapatlah ditarik penyebab gagalnya pengelolaan BUMDes/ BUMNag, antara lain:

Anggapan bahwa BUMDes/ BUMNag ini adalah proyek, belum kompak antar pengurus, belum paham peran dan fungsi BUMDes, tidak punya rencana usaha, salah pilih usaha, belum mampu menghasilkan penjualan, risiko mangkrak tinggi,

Langkah-langkah Mendirikan BUMDes/ BUMNag

Pertama, sosialisasi tentang BUMDes. Inisiatif sosialisasi kepada masyarakat desa dapat dilakukan oleh Pemerintah Desa - PemDes, BPD, KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa).

Kedua, pelaksanaan Musyawarah Desa - MusDes. MusDes atau yang disebut dengan nama lain adalah musyawarah antara BPD/ Bamus, PemDes, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh BPD/ Bamus untuk menyepakati hal yang bersifat strategis. Secara praktikal, MusDes diselenggarakan oleh BPD yang difasilitasi oleh PemDes.

Ketiga, penetapan Perdes/ Perna tentang Pendirian BUMDes/ BUMNag (Lampiran: AD/ART sebagai bagian tak-terpisahkan dari Perdes/ Perna). Susunan nama pengurus yang telah dipilih dalam MusDes, dijadikan dasar oleh Kepala Desa dalam penyusunan surat keputusan Kepala Desa tentang Susunan Kepengurusan BUMDes. – (Bersambung).

Dibuat oleh:  H. Ali Akbar

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021  – (Bagian ke-3)
Minggu, Mei 16, 2021

On Minggu, Mei 16, 2021

SEBAGAI ujung tombak pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, desa diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahtaraan masyarakat.

Untuk mewujudkan amanat UU Desa, maka pemerintah pusat melalui dana APBN menyalurkan sejumlah sumber dana ke desa bernama ‘Dana Desa’.

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Tujuan Dana Desa antara lain: 1) Meningkatkan pelayanan publik di desa, 2) Mengentaskan kemiskinan, 3) Memajukan perekonomian desa, 4) Mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa, dan 5) Memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan .

Namun, fokus pemerintah pusat dalam menyalurkan Dana Desa sejak tahun 2020  adalah antara lain untuk ketahanan pangan, digitalisasi desa, dan pengembangan perekonomian desa melalui program padat karya tunai.

Oleh karena itu, dalam kerangka pengembangan wilayah, maka pembangunan desa, perlu ditingkatkan dengan: pemberdayaan ekonomi lokal, penciptaan akses transportasi lokal ke wilayah pertumbuhan dan percepatan pemenuhan infrastruktur dasar.

Adapun tujuan pembangunan kawasan pedesaan, yakni mewujudkan kemandirian masyarakat dan menciptakan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi, serta penguatan keterkaitan kegiatan ekonomi kota-desa.

Selain itu, desa juga punya kesempatan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat, melalui pelatihan dan pemasaran kerajinan masyarakat, pengembangan usaha peternakan dan perikanan, dan pengembangan kawasan wisata melalui BUMDes (badan usaha milik desa).

Kunci sukses untuk mensejahterakan masyarakat dalam membangun desa adalah kuatnya sentuhan inisiasi, inovasi, kreasi dan kerjasama antara aparat desa dengan masyarakat dalam mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama. Pembangunan desa tidak mungkin bisa dilakukan aparat desa sendiri, tapi butuh dukungan, prakarsa, dan peran aktif dari masyarakat.

Rilis dari Laman Kemenkeu.go.id (06/02/2019),  Dana Desa yang telah disalurkan oleh pemerintah pusat ke desa di seluruh Indonesia, Rp.20,67 triliun (2015), Rp.46,98 triliun (2016), Rp.60 triliun (2017), Rp.60 triliun (2018) dan Rp.70 triliun (2019).

Dalam menilai keberhasilan atau kemajuan sebuah desa, ada beberapa indeks yang dipakai: IPD – Indeks Pembangunan Desa dan IDM – Indeks Desa Membangun.

Apa perbedaan IPD dengan IDM?

Untuk IPD : 1) Organisasi penerbit: BPS, 2) Sumber data: Data Potensi Desa yang merupakan survey BPS tiap empat tahun sekali, 3) Frekwensi penerbitan data: Empat tahun sekali sesuai siklus Podes, 4) Dimensi pengukuran:  5 dimensi - pelayanan dasar, kondisi infrastruktur, aksesibilitas/ transportasi, pelayanan umum, dan penyelenggaraan pemerintahan, 5) Klasifikasi desa: 3 kelompok - mandiri, berkembang dan tertinggal.

Sedangkan untuk IDM: 1) Organisasi penerbit: Kemendes PDTT, 2) Sumber data: Pengumpulan data tiap desa yang dibantu oleh pendamping desa, 3) Frekwensi penerbitan data: Tiap tahun, 4) Dimensi pengukuran: 3 dimensi - sosial, ekonomi, dan budaya, 5) Klasifikasi desa: 5 kelompok - mandiri, maju, berkembang, tertinggal dan sangat tertinggal.

Sekarang timbul pertanyaan, “Apakah Dana Desa telah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat desa?”, “Seberapa efektif dan efisien Dana Desa yang diserap oleh desa untuk mensejahterakan masyarakat desa?” atau “Mampukah Dana Desa meningkatkan kemajuan di bidang SDM – Sumber Daya Manusia-nya?”.  - (Bersambung).

*Ditulis Oleh:  H. Ali Akbar, di Padang Pariaman.