PILIHAN REDAKSI

Guntur Romli Sebut Alquran Tidak Melarang Nikah Beda Agama, Ketua KNPI: Tidak Paham Agama, Sepertinya Perlu Dirukiyah

BENTENGSUMBAR.COM - Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama tidak sependapat dengan pernyataan politikus PS...

Advertorial

Saluang Bagurau Yang Dihadiri Mahasiswa Unand di Desa Ngalau, Payakumbuah
Jumat, Juni 24, 2022

On Jumat, Juni 24, 2022

SENI tradisional merupakan salah satu komoditi wisata di daerah yang wajib dilestarikan seperti di Sumatra Barat, Kota Payakumbuh berupaya melestarikan seni tradisional Minangkabau dengan cara yang unik.

Dengan hadirnya kelompok semi tradisional dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengangkat atau menggeliatkan kembali kesenian tradisional kepada masyarakat khususnya generasi muda. 

Di Kota Payakumbuh, selain penampilan seni, banyak kegiatan yang ditampilkan bukan hanya sajian pergelaran seni budaya tradisi dan kreasi, tapi juga penganan tradisi dari nagari-nagari yang ada di kota Payakumbuj ini. Saat jni kesenian Baguraulah yang dipertunjukan saat ini.

Bagurau merupakan salah satu sastra lisan minangkabau yang tersebar luas di hampir wilayah minangkabau salah satunya di kota Payakumbuah. Bagurau dalam bahasa Indonesia yaitu “Bergurau” dalam bahasa minangknya “Badendang” . 

Bagurau berbentuk pendendangan pantun-pantun lepas dengan iringan saluang. Pada bagian pemusik dan pendendangpun menjadi hal penting dalam pertunjukan bagurau. 

Istilah bagurau diambil dari masyarakat yang hobi bercerita dengan melemparkan sindiran dan cemoohan namun dengan dialogis yang akrab sehingga mempererat solidaritas di tengah masyarakat. 

Menurut masyarakat setempat bagurau juga dianggap sebagai dialog yang dilakukan dengan bahasa kiasan, penuh ibarat dan adanya pepatah- petitih. Masyarakat yang seperti itulah menjadikan  tradisi  ini sebagai  refleksi  masyarakat yang penuh keakraban  dengan konsep kekeluargaan yang kuat. 

Sastra lisan ini bertujuan untuk bergurau atau berkelakar dengan tema-tema seperti keluh-kesah, kedudukaan, sindiran, ajakan dan rayuan. Bagurau memiliki irama dan irama itu disebut sebagai lagu. Lagu ini bermacam-macam, sebagian besar bersifat sentimental. Baguruau terdapat dua lagu didalamnya yaitu ratok di daerah Solok, Singgalang di daerah Agam dan sekitarnya. 

Secara umum bagurau dipertunjukan dan dilakukan oleh dua orang atau lebih, satu pemain saluang dan satu atau dua orang pendendang. Di pertunjukan ini, bagurau dilakukan oleh orang-orang sepergaulan yang sedang bekerja bersama-sama. Dendang ini dilakukan secara bergantian karena bukan sebagai pertunjukan, kegiatan bagurau tetapi dapat diiringi saluang dan kadang tidak. 

Saat ini budaya bagurau mulai jarang ditemui di ranah Minangkabau, pada 14 Juni 2022 mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas melakukan kuliah lapangan dan menyaksikan pertunjukan “Saluang Bagurau” yang digelar oleh Group Talang Sarueh Live musik. 

Group Talang Sarueh dari Payakumbuh terdiri dari Mar­ketek Kayu Tanam, Santi, Si’i, dan Anas sebagai peniup sa­luang. Sedangkan tukang ho­yak Malin dari Padang Tarok Agam. 

Tinjauan ini dilakukan sebagai tugas akhir mata kuliah sastra lisan acara tersebut bertempat di Desa Ngalau, Kota Payakumbuh mulai pada Jam 22.00- 04.00. Pertunjukan ini  dihadiri oleh para Ninik Mamak (Penghulu Adat), tokoh masyarakat dan Mahasiswa Universitas Andalas.

Menurut masyarakat setempat bagurau dilakukan oleh empat wanita mengiringi musik yang dikeluarkan dari sepotong bambu (Saluang). Alat musik ini merupakan alat musik tradisional Minangkabau yang terbuat dari bambu tipis atau talang. Memilimki ukuran panjang dan bervariasi serta menyerupai seruling. 

Masyarakat minangkabau percaya bahwa bahan yang paming bagus untuk dibuat saluang berasalah dari talang untuk jemuran kain atau takang yang ditemukan hanyut di sungai. Saluang ini termasuk dari golongan alat musik suling, tetapi lebih sederhana pembuatanya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. 

Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lamang (lemang), salah satu makanan tradisional Minangkabau. Saluang ini dibuat pada bagian atas dan bawahnya terlebih dahulu, untuk menentukan pembuatan lubang, kalau saluang terbuat dari bambu, bagian atas saluang merupakan bagian bawah ruas bambu. 

Pada alat musik ini terdiri dari empat lubang lada alat musik tradisional ini, saluang ini dimulai daei ukuran 2/3 dari panjang bambu, yang diukur dari bagian atas, dan untuk lubang kedua dan seterusnya berjarak setengah lingkaran bambu. 

Dan bagian besar lubang agar mengahasilkan suara yang bagus, haruslah bulat dengan garis tengah 0,5 cm. Sesuai dengan cara pembuatannya yang kreaktif maka terciptalah alunan yang indah dari Saluang tersebut.

Alunan khas saluang inilah yang membuat masyarakat terhibur. 
Suara tiupan saluah itu terdengar mendayu-dayu memecahkan ruangan lapiak di Talang Sarueh Live Musik.

Bagurau bertujuan untuk sosialisasi, menghibur atau bisa untuk mengumpulkan dana bagurau bisa berhari- hari, dan pertunjukan bagarau tidak diperbolehkan setelah tiga hari
Pertunjukan bagurau memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama yang lainnya. 

Seperti penonton dengan penampilan tentu saling memenuhi keduanya. Jika si penonton tidak ada dilapangan, maka pertunjukan bagurau bisa saja tidak terlaksana dengan baik. Penontonpun tanpa dibatasi, diperbolehkan request lagu yang mereka inginkan setelah mengisi blanko pesan lahi dengan melampirkan uang pesanan. 

Menurut  Pemain, pesanan lagu terdiri dari “pe-sanan toll” dengan harga diatas Rp. 50 ribu, tetapi bagi para remaja boleh seikhlasnya. Kemudian lampiran catatan dan uang tersebut diletakkan kedalam sebuah kotak didepan para pemain ini dilakukan sebagai bentuk partisipas terhadap budaya tradisional Minangkabau sekaligus untuk pembubaran panitia yang telah sukses. 

Menurut mahasiswa dari Universitas Andalas, kesenian tradisional ini diadakan secara berkala agar kesenian daerah semakin terjaga kelestariannya. Dan sangat mengapresiasi atas digelarnya saluang bagurau sebagai suatu bentuk atas pelestarian budaya tradisional Minangkabau dan besar harapan para mahasiswa agar budaya ini terus berkembang kedepannya.

Kesenian saluang, randai, salawat dulang merupakan tradisi zaman dahulu. Saat nasib seni tradisi Minangkabau ke depannya adalah seni tradisi Saluang Dendang yang saat ini terancam punah.  

“Untuk itu sebaiknya Saluang Dendang ini tidak tergilas zaman, sebaiknya dilakukan penambahan pelaku seni, seperti ditambahnya pedendang serta peniup saluang,” ujar Lezia Maharani, Mahasiswa Universitas Andalas. 

Ada tiga arena atau lapiak Mega yang berada di jalan lingkar Utara, Pakan Sinayan, Payakumbuh Barat, dan Lapiak Ayu Lestari di plataran perkotoan pasar Payakumbuh. 

*Penulis: Lezia Maharani, Merupakan Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Pernikahan Pulang Ka  Bako di Minangkabau yang Dipandang Buruk oleh sebagian Masyarakatnya
Kamis, Juni 23, 2022

On Kamis, Juni 23, 2022

MANUSIA merupakan makhluk sosial, manusia hidup membutuhkan manusia lainnya. Manusia berkembang di dalam masyarakat yang saling berinteraksi. Untuk melakukan perkawinan dengan adanya dorongan biologis yang terdapat dalam naluri manusia itu sendiri, untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum,  untuk mendapatkan kasih sayang dan mendapatkan keturunan. 

Untuk membentuk suatu keturunan maka di perlukan suatu proses perkawinan antara seprang pria dan seorang wanita. Secara kodrati manusia harus bersatu, saling membantu, bersekutu dan saling berpasangan. 

Manusia dapat membentuk pasangan yang permanen atau tetap yaitu dengan cara hidup bersama selamanya, berpasang-pasangan, ini merupakan wujud suatu hubungan atau ikatan yang resmi yang dinamakan perkawinan.

Undang- Undang Pokok Perkawinan No.. 1 Tahun 1974 Pasal 1 berbunyi : perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. 

Masing-masing pihak telah terkandung maksud untuk hidup bersama secara abadi, dengan memenuhi hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh negara, untuk mencapai keluarga bahagia.

Perkawinan adalah suatu hubungan yang sakral atau suci dan pernikahan memiliki banyak keuntungan dibanding hidup sendiri karena pasangan yang menikah dapat menjalani hidup berasama lebih lama, memiliki banyak aset dalam ekonomi dan memiliki hubungan seksual yang memuaskan.

Perkawinan bersifat permanen antara laki-laki dan perempuan yang diakui sah oleh seluruh masyarakat dan sah menurut agama. Perkawinan yang berlaku pleh ketentuan agama, ketentuan negara dan juga ketentuan adat atau tradisi di daerah setempat.

Seperti adanya perkawinan tergantung budaya atau tradisi daerah setempat bisa berbeda-beda dan tujuan perkawinan atau pernikahan yang berbeda. 

Pernikahan terdapat menjadi dua jenis yaitu pernikahan atas dasar cinta atau pernikahan yang diatur oleh kerabat atau orang tua yang disebut perjodohan. 

Perkawinan pulang kabako juga berawal dari pejodohan, karena pihak keluarga sama-sama tahu dan  sudah mengenal bahkan sudah mereka berpikir kalo anaknya cocok untuk disatukan karena bagaimana semua hal yang dimiliki calon yang akan dijodohkan karena calonnya  merupakan bagian dari keluarganya sendiri. Pihak keluarga akan memberikan yang terbaik buat anaknya. 

Perkawinan dapat dijadikan sebagai suatu kebutuhan yang memiliki sifat naluriah bagi makhluk hidup dan bertujuan untuk menyambung keturunan dan silaturahmi. 

Setiap sistem perkawinan berlaku bermacam-macam aturan yang kemudian menjadi adat istiadat. Salah satunya adat perkawinan di Desa Salido Kec. IV Jurai Kab. Pesisir Selatan. 

Dari sekian banyak adat yang ada di Desa ini masih ada sampai sekarang, salah satunya adalah Perkawinan Pulang Kabako. Perkawinan ini merupakan perkawinan yang dilakukan anatara anak dan kemenakan atau lazim disebut sebagai Pernikahan Pulang ke mamak. Pulang ke mamak (mengawani anak mamak, sedangkan pulang kabako mengawani kemenakan ayah (Navis,1984). 

Perkawinan yang dilakukan oleh anak laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya (anak paman atau anak mamak) atau anak laki-laki melakukan perkawinan dengan anak saudara perempuan bapaknya, maka itulah yang disebut dengan “Perkawinan Pulang Ka Bako” Perkawinan ini lebih dikenal dengan istilah Bako Baku. 

Di minangkabau adat tidak memberi ketentuan khusus masalah pulang kabako ini, apabila mereka mempunyai hubungan Bako dan Baki, anak laki-laki sanggup untuk memberi nafkah, baik nafkah lahir maupun nafkah batin dan telah sesuai dengan ketentuan hukum perkawinan yang berlaku, maka seorang kemenakan laki-laki dengan berbagai alasan dan pertimbangan diminta oleh pamannya untuk dinikahi dengan anak perempuannya. 

Sebagian masyarakat minang beranggapan bahwa perkawinan Pulang Ka Bako ini merupakan perkawinan yang berimbas terhadap hubungan sosial kekerabatan yang terbangun sebelum terjadinya perkawinan Pulang Ka Bako, terlalu mengetahui aib-aib kedua belah pihak keluarga dan orang yang pulang Ka Bako tidak bertambah karib kerabatnya hanya berputar dalam lingkungan keluarga saja,  padahal tidak perkawinan pulang ka bako tidaklah seperti itu, perkawinan pulang ka bako juga memiliki dampat positifnya seperti untuk menjaga harta pusaka agar tidak jatuh ke orang lain, saudara ayah termasuk keluarga yang banyak harta warisan, jadi keluarga kedua belah pihak mengawinkan dengan anak mamak maka harta warisan akan tetap berputar di daerah atau kawasan keluarga terdekat saja dan bertambah dekat hubungan persaudaraan sekarang bertambah menjadi besanan.

Perkawinan yang dilarang ialah perkawinan yang terlarag menurut hukum perkawinan yang telah umum seperti
- Mengawani ibu
- Ayah
- Anak 
- Seibu dan sebapak  
- Mamak 
- Adik dan kakak
- Mertua dan menantu
- Anak tiri atau bapak tiri
- Saudara kandung istri atau suami
- Anak saudara laki-laki ayah. 

Saat ini bentuk perkawinan di Minangkabau telah mengalami perubahan. Masyarakat minangkabau, perkawinan berlaku secara eksogami ditinjau dari segi lingkungan suku dan endogami ditinjau dari lingkungan nagari eksogami suka berarti bahwa seseorang tidak boleh mengambil jodoh dari kelompok sesukunya.

Karena sesuku itu bersaudara, hal ini dapat menarik garik hubungan kekerabatannya secara matrilineal dan menurut asalnya mereka sama-sama serumah gadang.

Menurut Niniak Mamak M.Syarif bahwa pengaruh perkawinan pulang ka bako terhadap keutuhan keluarga tidak ada hubungannya dengan faktor genetika (keturunan) karena perkawinan ini syah dimata agam dan syah dimata adat, jadi tidak ada hubungan pertalian darah yang dapat mengikat keduanya.  Maka tidak ada larangan atau hukum  pernikahan pulang kabako. 

*Penulis: Lezia Maharani, Mahasiswi Sastra Daerah  Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Sumatera Barat Menjuluki Ketan Durian Sebagai “King's Of Fruits”
Minggu, Juni 19, 2022

On Minggu, Juni 19, 2022

MEMANG terdengar sedikit aneh jika buah durian disandingkan dengan ketan. Namun ternyata olahan khas Sumatera Barat yang satu ini dijamin memiliki kualitas rasa yang tiada duanya. Bahkan banyak yang ketagihan setelah mencoba mencicipinya.

Membicarakan mengenai kuliner khas dari Sumatera Barat ini memang tidak pernah ada habisnya. Maklum saja, makanan atau olahan khas dari provinsi yang beribukota di Padang ini memang sangat banyak macamnya.

Mulai dari olahan manis, asam, asin, pedas, bahkan hingga super pedas juga ada. Bahkan pada tahun 2011 yang lalu, salah satu kantor berita ternama dunia yaitu CNN menobatkan Rendang yang merupakan salah satu makanan khas Sumatera Barat ini sebagai panganan nomor wahid di seluruh dunia.

Dan selain rendang, ternyata ada banyak olahan khas dari Sumatera Barat yang memiliki cita rasa unggulan. Salah satu diantaranya adalah ketan durian. 

Apa itu Ketan Durian? 

Yang membedakannya adalah jika rendang merupakan menu makanan wajib saat berkunjung ke Sumatera Barat sementara ketan durian ini bisa dikatakan sebagai makanan penutupnya. Sangat cocok menjadi pendamping belajar bahasa Inggris dasar.

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di bagian barat Indonesia yang langsung dilalui oleh garis Katulistiwa. Makanya tidak mengherankan jika banyak sekali tumbuhan khas tropis yang tumbuh dengan subur di sana.

Wilayah Sumatera Barat memang patut dianggap sebagai surganya bagi pencinta kuliner. Selain banyak makanan khas yang legendaris, juga ada santapan sejuta umat yang bisa diburu di Ranah Minang. Katan durian salah satunya.

Jika diartikan, katan durian adalah ketan durian. Ketan menjadi teman yang sangat pas dimakan bersama durian. Perpaduan kelegitan keduanya memberikan sensasi yang nikmat.

Para penggemar durian wajib mencicipi kuliner ini. Paduan aroma khas durian disandingkan dengan ketan yang legit berbalut aroma wewangian santan membuat Anda ketagihan.

Bagi masyarakat lokal Ranah Minang, menyantap durian tak lengkap jika tidak dipadu dengan ketan. Keduanya seperti tak terpisahkan ketika musim buah berduri tajam ini tiba.

Untuk katan biasanya dijual sekitar Rp5 ribu per bungkus. Katan dibungkus menggunakan daun pisang. Katan yang dijual dibaluri dengan kepala parut.

Biasanya kuliner ini menjadi buruan masyarakat lokal ketika musim durian tiba. Hampir di seluruh daerah Sumbar masih banyak masyarakat yang memiliki pohon durian di lahannya.

Jika Anda datang dari luar kota tidak saat musim durian, jangan khawatir. Di Kota Padang, untuk menyantap hidangan ini Anda bisa berburu katan durian di kawasan Ganting.

Namun, bagi masyarakat lokal, lebih nikmat berburu durian ketika musimnya tiba. Sebab, rasanya lebih nikmat karena ditunggu jatuh ketika durian sudah matang di pohon.

Salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di daerah Sumatera Barat adalah durian. Buah yang mendapatkan julukan King’s of Fruits ini memang sangat mudah ditemukan di sana.

Bahkan pada saat musim durian tiba, Bisa dengan sangat mudah ditemukan pedagang durian di sepanjang jalan yang ada di Sumatera Barat.

Namun jika Anda tidak sabar untuk menunggu datangnya musim panen durian, cukup mampir saja ke daerah Ganting, Kota Padang. Gantiang ini adalah pasar terbesar yang ada di Sumatera Barat.

“Ado katon ado lo durian tu baru sero”. Seperti itulah orang-orang Minang menyebut kuliner yang satu ini. Yang memiliki arti “ada ketan ada juga durian ini baru nikmat”. Memang, umumnya masyarakat Sumbar belum lengkap rasanya jika menikmati durian tanpa adanya ketan.

Dari kebiasaan masyarakat Sumatera Barat itulah kemudian makanan ini sampai saat ini tetap populer dan bahkan menjadi salah satu kuliner khas dari daerah Sumatera Barat. Memang yang belum pernah merasakannya terlihat sedikit aneh. Sebab ketan dicampur dengan durian.

Namun bagi yang sudah merasakannya, dijami akan ketagihan. Gurihnya ketan dimakan bersamaan dengan legitnya buah durian yang manis dan juga lembut pastinya akan memberikan cita rasa dan sensasi tersendiri.

Cara Penyajian Dari Ketan Durian

Bagi Anda pecinta buah durian, variasi dari olahan durian yang satu ini sangat pantas untuk segera Anda coba. Namanya adalah ketan durian. Dan di beberapa daerah dikenal juga dengan nama kinca durian.

Bagi yang berdomisili di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat, tentunya sudah sangat tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini. Sebab biasanya ketan durian ini sering sekali disajikan pada moment hari raya Idul Fitri.

Bahkan di beberapa daerah seperti Padang dan juga Palembang, ketan durian ini menjadi makanan wajib yang harus ada disamping ketupat opor dan juga ayam. Maka dari itu wajar saja jika ketan durian ini sangat populer di sana.

Supaya bisa menghasilkan ketan durian yang memiliki rasa kelas satu, umumnya durian yang sering digunakan untuk membuat ketan durian ini berasal dari Kepulauan Mentawai.

Hal ini dikarenakan durian yang berasal dari Kepualauan Mentawai ini dari segi rasa dan aromanya lebih unggul jika dibandingkan dari tempat lain.

Sementara itu, buah durian yang berasal dari daerah Sumatera pesisir selatan seringnya dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk membuat es durian. 

Hal ini disebabkan rasa duriannya sedikit getir sehingga pas jika dikombinasikan dengan es krim yang secara rasa memang sudah manis.

Sedangkan untuk cara membuat ketan durian ini sebenarnya cukup mudah untuk dilakukan. Langkah pertamanya adalah dengan menanak beras ketan dengan santan sampai pulen.

Kemudian untuk membuat saus duriannya, Anda tinggal memilih daging durian yang sudah matang lalu pisahkan dengan bijinya. Kemudian masak dengan menggunakan santan kental dan tambahkan gula pasir.

Selain memiliki rasa yang legit, sebenarnya ketan durian ini sangat bagus untuk kesehatan. Ketan yang kaya akan kandungan gizi dan nutrisi dikolaborasikan dengan buah durian yang juga kaya akan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh tentunya akan memberikan kolaborasi yang sangat maksimal.

Untuk itulah, sebenarnya dengan memakan ketan durian ini bukan hanya kelezatan yang bisa Anda dapatkan. Namun di sisi lain Anda juga bisa mendapatkan khasiat dari memakan buah dirian dan juga ketan sekaligus.

*Ditulis Oleh: Nurfazira Okta Putri
Jurusan Sastra Daerah Minangkabau

Jenis Jenis Minuman Tradisional Minangkabau
Sabtu, Juni 18, 2022

On Sabtu, Juni 18, 2022

MINUMAM tradisional khas Padang (Minangkabau) provinsi Sumatera Barat ini memiliki banyak manfaat menjadi bagian dari kekayaan kuliner nusantara.

Selain itu, minuman ini terbuat dari berbagai bahan alami (herbal) yang diperoleh dari lingkungan alam dan tidak pernah habis. 

Jika habis, maka ini menjadi peluang bagi petani Padang untuk menjalankannya dari waktu ke waktu.

Tidak hanya rasanya, tetapi juga manfaat lain seperti kemampuan mengusir angin, menambah energi, serta menghilangkan pegal linu. 

Meski tidak sepopuler masakan khas Minangkabau yang bisa ditemui hampir di setiap sudut kota, kita harus mengenali minuman khas dari Padang, Sumatera Barat ini.

Berikut nama-nama minumannya: 

1. Dadia atau dadih 

Minuman dadiah merupakan salah satu minuman khas minan yang terbuat dari susu kerbau yang difermentasi. 

Sekilas minuman ini mirip dengan minuman yogurt dan juga terbuat dari bahan baku susu fermentasi.

Perbedaannya terletak pada proses pembuatannya karena Dadia dibuat dengan proses alami dari stik bambu.

Minuman ini enak dinikmati di pagi hari sebelum sarapan dan cocok dipadukan dengan menu lontong yang enak. 

2. Aia Aka 

Minuman Aia Aka ini merupakan minuman khas dari daerah Minan dan terbuat dari daun saga. 

Cara membuat minuman ini sesederhana meremas daun alang-alang, lalu menyaring airnya dan diamkan beberapa saat hingga membeku seperti agar-agar. 

Minuman ini mudah ditemukan dan dijual oleh banyak pedagang kaki lima.

Selain cincau peri, minuman ini biasanya dicampur dengan bahan lain seperti air asam jawa, santan, gula merah dan air kacang. 

Rasa minuman ini sangat menyegarkan, apalagi di bawah terik matahari. 

Selain enak, minuman ini juga dipercaya memiliki khasiat meredakan sakit maag dan bagus untuk pencernaan. 

3. Jus Pinang Mudo

Minuman ini sungguh unik karena terbuat dari bahan yang tidak biasa.

Jika jus biasanya dibuat dengan buah yang lebih besar dan lebih manis, maka sangat berbeda dengan jus ini. 

Seperti namanya, jus ini terbuat dari bahan dasar buah pinang, sama seperti jus yang biasa kita buat. 

Untuk meningkatkan cita rasa minuman, sering dicampur dengan bahan lain seperti madu, jahe dan kuning telur. 

Jus Pinang Mudo ini memang lebih sering dinikmati kaum Adam karena khasiatnya yang dipercaya dapat meningkatkan stamina.

4. Teh Talua

Jika rendang dikenal sebagai makanan daerah Minang, maka teh talua dikenal sebagai minuman daerah Minangkabau. 

Minuman ini sudah lama dikenal penduduk setempat dan mudah ditemukan dari warung makan pinggir jalan hingga kafe dan restoran. 

Seperti namanya, minuman ini terbuat dari dua bahan yaitu teh dan telur. 

Telur yang digunakan untuk membuat minuman ini adalah telur asli yang khasiatnya sudah terkenal. 

Minuman ini biasanya menjadi minuman favorit masyarakat Minang.

5. Kawa Daun

Setiap daerah pasti memiliki makanan atau minuman khas yang menjadi tujuan para wisatawan. 

Salah satu daerah dengan minuman khas terbaik adalah Sumatera. 

Ada beragam minuman khas Sumatera yang menjadi favorit banyak orang, salah satunya adalah aia kawa.

Minuman ini mudah ditemukan di Sumatera Barat.

Minuman ini biasanya terdapat di daerah Sumatera Barat yang lebih dingin sebagai minuman yang memberikan rasa hangat pada tubuh peminumnya. 

Yang membuatnya unik adalah terbuat dari tanaman kopi yaitu daun kopi.

Minuman ini dibuat dengan cara menyeduh daun kopi, seperti biasanya kita membuat teh. 

Minuman ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, dan kopi yang diproduksi oleh Belanda membuat orang Minan sulit untuk menikmatinya, menurut laporan. 

Saat itu, orang Minang tidak memiliki ide untuk menggunakan daun kopi sebagai minuman, dan ternyata rasanya sesuai dengan yang mereka harapkan. 

Keunikan lain dari minuman ini adalah terbuat dari batok kelapa.

Aia kawa (bahasa Minangkabau: air daun kopi) atau leaf coffee atau kawa daun adalah minuman yang terbuat dari daun kopi, diseduh seperti teh dari Sumatera Barat dan Clinch. 

Daun kopi lokal pilihan awalnya dikeringkan dengan cara disangrai selama 12 jam. 

Untuk meminumnya, daun yang dijemur tersebut dicampur dengan air dingin kemudian diseduh dengan air mendidih.

Di daerah Kerinci, minuman ini disebut air kawo. 

6. Es Cendol

Minuman ini merupakan minuman yang sangat melegenda bagi masyarakat Minan yang dikenal sudah ada sejak tahun 1950-an. 

Terbuat dari tepung beras, perasan daun pandan, gula aren dan santan.

Orang-orang sangat menyukai minuman manis yang sangat menyegarkan ini. 

Uniknya, minuman ini sangat terkenal di beberapa daerah nusantara, hanya saja dengan nama yang berbeda di setiap daerahnya.

7. Es Tebak

Setiap daerah di Sumatera memiliki beragam minuman khas. 

Salah satu minuman khas Sumatera yang mudah ditemukan di Sumatera Barat adalah Es Tebak. 

Karena keunikan namanya, minuman yang satu ini berhasil membuat hampir semua orang penasaran. 

Tak heran jika banyak wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat berbondong-bondong mencoba Es Tebak adalah salah satu minuman favorit banyak orang Minang saat cuaca panas. 

Minuman ini konon menyegarkan di cuaca panas. 

Minuman ini sedikit mirip dengan minuman Aia Aka yang terbuat dari jelly seledri, namun isi minuman ini membuatnya sangat berbeda.

Dikatakan Es Tebak  karena minuman ini terbuat dari bahan tebakan yang hampir mirip dengan cincau peri, namun dengan tekstur yang lebih keras.

Minuman semacam ini mudah dibeli, biasanya tersedia di pinggir jalan atau di pedagang kaki lima yang menjual minuman, mudah ditemukan.

*Ditulis Oleh: Oktavia Rizki Fadila, Mahasiswi, Sastra Minangkabau 
Universitas Andalas.

Catatan Nadya Wardana: Nikmatnya Kelezatan  Durian Kayutanam
Jumat, Juni 10, 2022

On Jumat, Juni 10, 2022

DURIAN atau dalam bahasa latin (durio) ini termasuk kedalam suku Malvaceae, anak suku Helicteroidea. Durian merupakan buah-buahan yang berbentuk bulat serta duri yang tajam dan memiliki aroma khas yang enak bila dimakan. 

Tidak hanya memiliki aroma yang khas menggoda bagi penikmat banyak membeli durian tersebut pada musim durian. 

Seperti musim durian yang berada di Kecamatan 2X11 Kayutanam, seperti di nagari Kepala Hilalang, nagari Kayutanam, nagari Anduriang dan nagari Guguak. 

Seperti lambang durian yang berada di samping lambang Kayutanam lebih tepatnya di didepan kantor Camat Kecamatan 2X11 Kayutanam. Itu melambang khas durian Kayutanam.

Durian yang di nagari tersebut memiliki rasa dan aroma durian yang khas. Matang buah durian tersebut juga berbeda-berbeda tiap nagari. Ada durian yang lebih matang terlebih dahulu. 

Seperti durian yang berada di nagari Guguak yang lebih tepatnya di Padang Lapai, durian tersebut lebih matang terlebih dahulu. Lalu merambah ke nagari Anduriang, nagari Kayutanam dan nagari Kapalo Hilalang. 

Di nagari Kayutanam tepatnya di Padang Mantuang, disana durian matang dengan cepat. Pohon durian tersebut tumbuh di pedalaman kampung. 

Durian yang biasanya tumbuh di rimba memiliki rasa aroma yang harum dan nikmat. Biasanya pohon durian tumbuh di rimba mempunyai buah yang lebat.

Buah yang lebat harus dijaga atau (unian) agar tidak makan kera ataupun tupai. Terdapat pondok kecil yang fungsinya untuk berjaga dan meletakkan buah durian. 

Para masyarakat yang berjaga durian semalaman menggumpulkan buah durian lalu membawa dengan keranjang besar. 

Durian itu yang diletakan dibelakang motor dan menjualnya di tepi jalan raya. Durian tersebut mudah dijumpai di pondok durian yang berada di pinggir jalan raya Padang Bukittinggi.

Kebanyakan masyarakat yang memiliki pohon durian tersebut menjual buah durian dengan menaruhnya rapi di pondok durian. 

Ada juga yang menjualnya di emperan dengan meletakannya di atas meja ataupun kursi plastik. Biasanya para pembeli yang ingin membeli durian di emperan jalan raya mungkin harganya lebih murah dari yang menjual di pondok durian. 

Pembeli yang membeli durian tersebut berasal dari luar kota maupun propinsi. Bagi para penikmat durian biasanya membeli pada musim durian. Musim durian terjadi dua kali dalam setahun. 

Apalagi musim durian yang matang setelah lebaran Idul Fitri, itu biasanya para perantau pulang dan menikmati buah durian yang khas dari Kayutanam. Pada saat makan buah durian akan lebih nikmat lagi jika dimakan dengan ketan, lamang dan ketupat pulut. 

Durian pun bermacam-macam nama dan bentuknya. Seperti durian yang berada di Kayutanam yaitu ada durian bola yang memiliki bentuk bulat seperti bola namun ukuran yang kecil dari biasanya tetapi, memiliki rasa manis berwarna kuning dan daging buah yang sedikit tipis. 

Durian gajah, berbentuk sedikit lonjong yang berukuran besar dari durian biasanya, memiliki rasa yang sedikit manis dan daging buah durian dan biji durian juga besar. 

Durian gadih, durian ini berbentuk biasa pada umumnya namun durian tersebut cepat berbuah dari durian pada umumnya. Durian yang memiliki rasa manis, daging buah yang tebal, namun sedikit biji buah yang ada pada duriannya. 

Bagi pecinta dan penikmat durian ini disaat musimnya di Kayutanam akan membeli dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh. 

Namun tidak semua orang suka dengan buah durian tersebut. Sebagian ada yang tidak suka dikarenakan aromanya yang kuat apabila dimakan lalu sambil bersendawa yang membuat orang mencium aromanya akan muntah. 

Namun itu tidak bagi penikmat buah durian. Memakan buah durian boleh saja asalkan jangan kebanyakan karena dapat menyebabkan badan menjadi panas. 

Tidak itu saja memakan sesuatu secara berlebihan itu juga tidak baik. makanlah dengan secukupnya. Bagi orang yang pencinta buah durian lebih baiknya mencicipi durian Kayutanam.

Dengan mencicipi buah durian ini, bagi penikmat durian tau mana rasa yang nikmat dan lezat. Disaat musim durian harganya bisa dibilang murah karena kebanjiran panen buah durian dengan serentak. 

Harganya satu buah durian pun bermacam-macam tergantung dari bentuk dan ukurannya. Harga satu buah durian berkisar harga 20 ribu untuk ukuran kecil dan  50 ribu rupiah untuk ukuran besar. 

Namun jika buah durian tersebut hampir habis mulailah harga naik dari harga biasanya. Itupun tergantung jika buah durian tersebut memiliki rasa aroma yang enak, harganya pun berbeda. 

Ada juga masyarakat yang membeli durian antar nagari tersebut lalu menjualnya di tepi jalan raya. Jika mempunyai pohon durian sendiri, dan menjualnya dipondokan di tepi jalan raya, maka biasanya lebih banyak mendapatkan untung dari pada yang membeli ke kebun durian dan menjualnya ke tepi jalan raya Padang Bukittinggi. 

Penduduk yang biasa menjual duriannya tersebut ke langganan atau disebut toke durian. Durian yang dibeli dari pemilik kebun durian ini di bawa dengan mobil pickup.

Toke durian ini membeli dengan harga pasaran lalu menjualnya ke pondok-pondok durian tersebut. Di pondok durian inilah durian dibersihkan dari dedaunan durian, meletakan durian tersebut di atas meja panjang. 

Jika buah durian ini berukuran bersar, maka buah durian akan digantung menggunakan tali rafia. 

Kalau durian yang digantung itu harganya sedikit berbeda dan ada juga yang menjualnya dengan harga mahal, apabila buah durian memiliki rasa yang super.

Saat ini buah durian di Kayutanam sudah mulai masak atau matang. Tidak semua buahnya matang namun ada juga yang baru berbunga. 

Jika para perantau atau para penikmat buah durian, silahkan coba buah durian kayutanam serta pelengkap makan yang nikmat dengan ketan durian.

*Penulis: Nadya Wardana, Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Catatan Muthia Azizah Malsi: Surau dan Remaja
Jumat, Juni 10, 2022

On Jumat, Juni 10, 2022

SURAU, atau dalam Bahasa Indonesianya sama dengan musala/masjid tidak hanya digunakan sebagai rumah ibadah dalam sistem adat Minangkabau. Surau memiliki banyak fungsi sosial yang mengikat keseharian, khususnya remaja pria di Minangkabau. Surau juga berfungsi sebagai tempat belajar ilmu beladiri (di halaman depannya) bagi para remaja. Sehingga, Surau adalah tempat lahirnya generasi muda yang siap menghadapi dewasa.

Lazimnya, Surau adalah bangunan lambang kesakralan yang mencerminkan religius, sopan, santun, serta ibadah. Surau menjadi penentu perkembangan anak-anak Minangkabau menghabiskan harinya. 
Sebaliknya, jika seorang anak lebih banyak berada di lapau/warung tanpa pernah mengaji di Surau, maka orang menyebut mereka parewa. Sebaliknya, jika waktu yang dihabiskan oleh seseorang lebih banyak di Surau, maka orang itu disebut urang siak atau pakiah. Karena itu, dari aspek mental keagamaan, bagi masyarakat tradisional Minang, terutama kaum pria-nya, fungsi Surau jauh lebih penting dalam membentuk karakter mereka di kemudian hari. 

Bagi orang Minang masa lalu, peranan Surau selain untuk memperoleh informasi keagamaan, juga dijadikan ajang bersosialisasi sesama anak nagari. Bahkan sejak berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau telah akrab dengan lingkungan Surau. 
Jika kita cermati konstruksi rumah adat Minangkabau yang dikenal dengan Rumah Gadang, kita dapat melihat bahwa tidak ada kamar untuk anak laki-laki mereka. Anak laki-laki di Minangkabau secara efektif dikeluarkan dari rumah induk setelah usia enam tahun. Mereka hanya bisa tinggal di rumah sepanjang hari untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, mereka harus bermalam di Surau. Selain tidak punya tempat tinggal, mereka juga tidak nyaman bergaul dengan urang sumando (kakak perempuan/suaminya) dan dikritik oleh orang lain karena masih tidur dengan ibu mereka. Lalok di bawah katiak mande, dalam pidato biasa.

Di Surau mereka tidak hanya tinggal atau tidur. Tapi mereka melakukan banyak kegiatan penting di Surau. Seperti belajar silat, adat istiadat, randai, indang manyalin tambo yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan keagamaan seperti belajar tarekat, mengaji, sholat, salawat, barzanji dan lain-lain. Karakter pembentukan Islam tradisional sebenarnya berangkat dari kegiatan seperti ini.

Bahkan dapat dikatakan bahwa fungsi dan peran Surau sangat besar bagi perkembangan generasi muda Minang di masa lalu. Sungguh sebuah ironi, jika sistem pembelajaran seperti Surau yang sangat strategis ini mengalah pada perubahan. Soalnya, Surau mewujudkan proses lengkap regenerasi masyarakat Minang, sesuatu yang sulit ditandingi dalam budaya mana pun di dunia.

Fungsi dan signifikansi Surau di masa lalu bahkan boleh dibilang sangat penting bagi perkembangan generasi muda Minang. Sungguh ironis bahwa sistem pembelajaran sepenting Surau digerus oleh perubahan zaman. Surau mencakup seluruh proses pendewasaan orang Minang, yang sulit untuk ditiru di budaya lain.

Kemudian adat budaya yang mengacu pada konsepsi alam takambang jadi guru yang melahirkan kebijkasanaan sehingga orang Minangabau  harus tahu di nan-ampek (kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang), adalah bentuk kearifan yang diperoleh melalui pelatihan terpadu yang mengintegrasikan antara konsepsi ideologis dengan norma-norma budaya dan praktis lewat lembaga semacam Surau.

Surau menjadi aset yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan dan menjelaskan ide-ide inti Islam seiring perkembangan Islam. Pendirian Surau di kawasan Ulakan Pariaman oleh Syekh Burhanuddin pada akhir abad ke-17 menjadi titik awal pembangunan karakter tradisional Islam di hampir semua wilayah sebaran dan pengaruhnya. Ini berkat kemampuan Burhanuddin mengadaptasi adat setempat melalui Tarekat Syattariyah.

Karena Islam sebanding dengan ajaran Hindu/Budha yang telah dianut sebelumnya, fitur tasawuf dari doktrin ini, serta pengalaman awal Islamisasi di Nusantara, membuatnya lebih mudah untuk menerima Islam.

Pada kenyataannya, keterikatan emosional masyarakat Minangkabau dengan Surau merupakan komponen vital dalam pelestarian pemahaman tradisional di ranah Minang, serta hasil percakapan antara dua budaya. Sikap kelompok modernis terhadap Surau tradisional sebenarnya melepaskan keterkaitan budaya yang telah berlangsung lama ini, sehingga memunculkan bentuk-bentuk Islam tradisional yang mapan di wilayah Minangkabau.

Kini tampaknya saatnya bagi para pengambil keputusan dan peraturan daerah untuk turun ke meja lagi dan mempertimbangkan bagaimana mengembalikan budaya atau kebiasaan masyarakat Minangkabau dalam rangka mempersiapkan generasi mereka untuk sistem Surau.

Pemerintah diharapkan kembali menguatkan adat-adat Minangkabau dalam kebijakannya, seperti mengembalikan kembali fungsi surau kepada asalnya.

*Penulis: Muthia Azizah Malsi, Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Mengenal Kaba Minangkabau
Kamis, Juni 09, 2022

On Kamis, Juni 09, 2022

MINANGKABAU sebagai daerah yang kaya dengan nilai-nilai budaya menjadi salah satu daerah yang sering dimanfaatkan sebagai latar penciptaan karya sastra. 

Karya sastra Minangkabau cukup banyak jumlahnya, khususnya kaba, pantun, dan pepatah-petitih. Karya sastra Minangkabau tersebar secara lisan dan tertulis.  

Sastra Minangkabau merupakan sastra yang hidup dan dipelihara dalam masyarakat Minangkabau, baik lisan maupun tulisan. Adapun sastra lisan yang masih hidup dalam masyarakat Minangkabau adalah jenis kaba dan dendang. 

Sastra Minangkabau banyak mengandung ungkapan yang plastis dan penuh dengan kiasan, sindiran, perumpamaan atau ibarat, pepatah, petitih, mamangan, dan sebagainya.

Kaba Minangkabau merupakan cerita prosa yang berirama, berbentuk narasi (kisahan) dan tergolong cerita panjang. Kaba ini sama dengan hikayat dalam sastra indonesia lama. 

Kaba tergolong sastra lisan (oral literature), suatu karya sastra yang disampaikan secara lisan dengan didendangkan atau dilagukan. 

Kaba berfungsi sebagai hiburan perlipur lara dan sebagai nasihat, pendidikan moral yang mengisahkan peristiwa yang menyedihkan, pengembaraan, dan penderitaan, kemudian berakhir dengan kebahagiaan, dan juga berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi mengenai asal usul bahkan kritik sosial, tanpa mengurangi kekuatan yang terletak pada kalimat yang penuh perumpamaan, pribahasa dan kiasan yang plastis.

Secara etimologi kata kaba berasal dari bahasa Arab, yaitu khabar yang berarti ‘pesan’, ‘kabar’, atau ‘berita’. Dalam bahasa Minangkabau, kata khabar berubah menjadi ‘kaba’ (Udin, 1987: 8).

Menurut Abdullah, kaba dalam sastra tradisional Minangkabau biasa disebut curito, yang artinya ‘cerita’ (dalam Udin, 1987: 8). 

Kaba adalah salah satu sastra lisan Minangkabau yang diwariskan secara lisan, dengan bahasa minang sebagai medianya. 

Sebagai sastra lisan, tentu kaba tidak mengenal siapa pengarangnya. Yang dikenal hanya tukang cerita (tukang kaba). 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kaba adalah milik masyarakat komunal dan bukan milik pengarang sebagai individual, sebagaimana terdapat dalam pantun pembuka pada kaba sebagai berikut ini: 

“… kaba urang kami kabakan, duto urang kami tak sato” (kabar dari orang kami kabarkan, dusta orang kami tidak ikut serta). 

Pencerita hanya menyampaikan cerita orang lain. Jika dalam cerita tersebut terdapat sesuatu yang tidak benar, pencerita tidak bertanggung jawab dengan ketidakbenaran itu (Mulyadi, dkk, 2008: 38-39).

Kaba adalah sebuah bentuk karya sastra yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Minangkabau melalui sistem oral. 

Kaba awalnya berupa bentuk tuturan atau bahasa lisan. Pernyataan ini diperkuat oleh Rahmat (2012:1) bahwa kata kaba sama dengan “kabar”, sehingga boleh juga berarti “berita”, tapi sebagai istilah ia menunjuk suatu jenis sastra tradisional lisan Minangkabau.

Kaba berbentuk prosa lirik. Bentuk ini tetap dipertahankan saat diterbitkan dalam bentuk buku, tetapi sebagai istilah ia merujuk pada suatu jenis sastra tradisional lisan Minangkabau.

Hal ini dikarenakan pada saat awal berkembangnya kesusastraan, masyarakat Minangkabau tidak mengenal bahasa tulis. 

Setelah masyarakat Minangkabau mengenal tulisan, maka dituangkanlah kaba tersebut dalam bentuk buku agar salah satu bentuk tradisi ini tidak hilang begitu saja ditelan zaman. 

Oleh sebab itu kaba bertahan dengan dua bentuk yakni dengan bahasa lisan dan tulisan (Wahyudi Rahmat, 2016: 238).

Meskipun kaba telah dituliskan dalam bentuk buku atau naskah, ciri kelisanannya masih jelas terlihat karena ia selalu dituliskan dalam bentuk prosa lirik. 

Kalaupun dituliskan dalam bentuk paragraf, pemenggalan dengan tanda koma berfungsi sebagai jeda pemenggalan pengucapan, bukan pemenggalan berdasarkan frasa.

Sejalan dengan pendapat Bahar (dalam Junus, 1984: 17), tanda (,) bukanlah berarti koma (,) yang dipakai dalam bacaan yang sebenarnya, tetapi sebagai pengganti garis pembatas (---).

Demikian juga, Junus berpendapat (1984: 17) bahwa kesatuan kaba bukan terletak pada kalimat dan bukan pula pada baris, tetapi pada pengucapan dengan panjang tertentu yang terdiri dari atas dua bagian yang berimbang. Keduanya dibatasi oleh caesura (pemenggalan puisi) (Mulyadi, dkk, 2008: 40).

Penulisan kaba dalam bentuk naskah itu biasanya bertuliskan arab melayu sedangkan dalam bentuk buku seperti tulisan latin saat ini. 

Dalam kebutuhan sebuah pertujukan, carito-carito kaba ini banyak diadaptasi menjadi sebuah bentuk seni yang diolah dan dimodifikasi agar kaba-kaba tersebut menjadi sebuah bentuk seni pertunjukan. 

Seni pertujukan tersebut dapat berupa adaptasi kaba ke randai atau teater, kaba ke lukisan, kaba ke tari baik itu tradisi maupun modren, kaba ke musik intrument tradisional dan lain sebagainya seperti yang ada di Jurusan Sastra Daerah Universitas Andalas.

Sehingga secara tidak langsung juga bahasa amai atau bahasa ibu yang ada dalam kaba Minangkabau dapat terus dipertahankan sebagai sebuah inovasi akan menjadikannya sebuah bahasa yang lebih mulia (Wahyudi Rahmat, 2016: 240).

Kaba dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu kaba klasik dan kaba tak klasik. Kaba klasik merupakan kaba yang diangkat dari cerita rakyat, oleh seorang tukang kaba, yang berisikan tentang cerita pelipur lara dan kadang bersifat senda gurau dalam lingkungan masyarakat. 

Sedangkan kaba tak klasik merupakan kaba yang berisi nasehat dan tauladan yang baik atau masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Pernyataan ini diperkuat oleh Umar Junus (1984: 19), kaba klasik ceritanya mengenai perebutan kekuasaan antara dua kelompok atau antara satu keluarga dan keluarga lain, tentang anak raja dengan kekuatan supranatural, dan dianggap berlaku pada masa lampau yang jauh.

Kaba tak klasik mempunyai ciri, yaitu 1) mengisahkan seorang anak muda yang pada mulanya miskin, tetapi karena usahanya dalam perdagangan ia berubah menjadi orang kaya. 

Ia dapat menyumbangkan kekayaannya bagi kepentingan keluarga matrilinealnya; 2) ceritanya dianggap berlaku pada masa lampau yang dekat dengan masa sekarang, kira-kira akhir abad ke-19 atau permulaan abad ke-20. Ia bercerita tentang manusia biasa tanpa kekuatan supranatural. Kaba tak klasik ini juga yang mengistilahkannya dengan kaba baru (Mulyadi, dkk, 2008: 42-43).

*Penulis: Sintia Hermayulita, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Tren Musim Pernikahan Setelah Lebaran di Minangkabau
Kamis, Juni 09, 2022

On Kamis, Juni 09, 2022

MENIKAH dalam agama islam dianjurkan bagi mereka pasangan yang sudah matang untuk kejenjang serius dalam membina rumah tangga. Dikarenakan menikah tersebut merupakan ibadah. 

Hal itu membuat sebagian ada yang menikah di umur muda agar terhindar dari dosa. Itu membuat banyaknya pasangan yang menikah apalagi saat setelah lebaran. 

Seperti pernikahan yang ada di Sumatera Barat. Musim nikah setelah lebaran tersebut banyak terjadi dikarenakan, pertama banyaknya perantau yang pulang kampung yang menyebabkan ramai untuk datang ke pernikahan. 

Tidak hanya itu saja momen berkumpulnya dengan sanak keluarga membuat terjalin kembali tali persaudaraan setelah tidak lama berjumpa. 

Contohnya saja pernikahan yang ada di Kayutanam, yang lebih tepatnya pernikahan saudara atau disebut (dunsanak) yang mengelar acara pernikahannya dirumah. 

Berbagai macam adat istiadat yang ada acara pernikahan tersebut yaitu pertama marasek, adalah tahap pertama pada rangkaian pernikahan dalam adat Minangkabau. 

Pihak keluarga wanita mengunjungi pihak laki-laki seperti membawa buah tangan yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menyampaikan maksud tujuan dalam pernikahan.

Kedua yaitu Meminang dan Batimbang Tando, Maminang yaitu pihak laki-laki mendatangi untuk meminang wanita. Sedangkan Batimbang Tando atau Batuka Tando yaitu seperti janji untuk melangsungkan pernikahan, dan  penetapan tanggal pernikahan. 

Ketiga yaitu Mamintak izin dan maanta Siriah, calon mempelai pria membawa daun nipah atau tembakau, sekarang diganti dengan rokok. Bagi calon mempelai wanita membawa sirih.

Keempat, Malam Bainai yaitu prosesi diletakannya tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon anak daro. Tradisi yang merupakan ungkapan kasih sayang dan doa restu dari keluarga wanita. 

Selanjutnya Akad Nikah dan Penyambutan di Rumah Anak Daro Akad nikah biasanya diadakan di mesjid namun jika akad nikah digelar di rumah anak daro maka prosesi penyambutan akan digelar. 

Sepanjang jalan rumah di hiasi marawa, disiapkan pemain musik tradional seperti talempong dan gandang. Basandiang bila kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami-isteri setelah akad nikah, maka bersandinglah mereka di pelaminan. Bersanding dilakukan dirumah anak daro maupun di rumah marapulai.

Terakhir adalah pasca pernikahan yaitu banyak tradisi setelah pernikahan diantaranya manjalang dimana pihak anak daro akan beramai-ramai ke rumah keluarga marapulai.

Mamulangkan tando atau mengembalikan tanda cincin pada prosesi batimbang tando. Malewakan gala marapulai adalah prosesi di mana pihak keluarga laki-laki mengumumkan gala atau panggilan adat terhadap marapulai di rumah isterinya. Adat Minangkabau melarang keluarga isteri untuk memanggil nama pada sumando. 

Balantuang kaniang khusus prosesi yang satu ini rasanya cukup memalukan tapi toh sudah halal. Kedua mempelai akan malantuangan kaniang atau mengadu kening di atas pelaminan. 

Mangaruak nasi kuniang adalah prosesi dimana kedua mempelai dihadapkan dengan timbunan nasi kuning yang di dalamnya berisi singgang ayam. 

Kedua mempelai akan diminta mencari dan berebut ayam itu dan bamain coki, semacam permainan catur yang akan dimainkan kedua mempelai. 

Tradisi pascapernikahan upaya untuk memicu kemesraan dan kedekatan marapulai dengan anak daro, agar mereka tidak canggung dalam memulai rumah tangganya. Tidak hanya itu saja ada juga hal yang tidak dilupakan yaitu dokumentasi atau foto dan video.

Dalam pernikahan atau baralek ini tidak lengkap jika tidak mengabdikan momen dalam bentuk foto. Apalagi foto dari kedua pasangan ini harus dan tidak lupa juga foto bersama keluarga dan juga sanak saudaranya. 

Foto tersebut bisa disimpan, dipajang dan dipamerkan juga nanti kepada anak cucunya. pernikahan dalam adat Minangkabau adalah sesuatu yang sakral, dan juga berkesan. 

Seperti ayat al-qur’an tentang pernikahan dan berpasangan yang artinya: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah SWT adalah pengawas atas kamu,” (QS An-Nisa: 1).

Dan ada juga ayat al-qur’an tentang pernikahan dan kewajiban menikah yang artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui,” (QS An-Nur: 32). 

Diatas sudah  dijelas mengenai pernikahan yang ada pada al-qur’an. Nikah, musim kawin ataupun dalam bahasa Minang baralek ini dengan tradisi dari tiap tiap daerah. Sepertinya saja pakaian atau tata carnya.

Contohnya saja pernikahan yang ada di Kabupaten Padang Pariaman yang lebih tepatnya di Pariaman. 

Di Pariaman memiliki tradisi tersendiri dimana kaum pria atau marapulai tersebut di beli oleh kaum perempuan, jika perempuan tersebut berada di luar Kabupaten Padang Pariaman. 

Maksud dari membeli ini adalah biasanya berbentuk uang yang mana uang tersebut diberikan ke mamak si pria. Dalam mengenai harga ini tergantung pada pekerjaan pria, jika pekerjaannya seorang polisi atau tentara maka harganya pun semakin mahal yang akan diberikan ke pihak mamak pria. 

Apabila pihak perempuan dari Pariaman, maka ia juga harus membeli pria jika dari luar Kabupaten Padang Pariaman. Itulah merupakan timbal balik dari aturan adat dari Pariaman.

Tidak hanya untuk Pariaman, di Kabupaten Padang Pariaman ada juga yang seperti itu dan ada juga tidak memakai cara tersebut. Tetapi hal itu tidak membuat pasangan yang berbeda daerah melakukan hal itu.

*Penulis: Nadya Wardana, Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Catatan Lezia Maharani: Obat Yang Berbahan Daun di Minangkabau
Rabu, Juni 08, 2022

On Rabu, Juni 08, 2022

OBAT yang berbahan daun di Minangkabau merupakan pengobatan tradisional yang berkembang dari generasi ke generasi sesuai kepercayaan yang dianut berbagai masyarakat sebelum era kedokteran modern, dan dapat memanfaatkan bahan alam, pengobatan tradisional bisa disebut sebagai pengobatan alternatif, penggunaan obat tradisional jika tidak tepat akan berakibat kan negatif atau berbahaya.

Salah satu pusat tanaman obat didunia yaitu negara Indonesia, Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur diseluruh pelosok negeri. Keragaman obat-obat tradisional di tanah air telah memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. 

Kita hanya berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak sia-sia. Belum semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya, semua itu pasti ada manfaatnya. 

Oleh karena itu, perku dilakukan konservasi sumber daya alam, agar jangan ada jenis tanaman yang punah. Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna, tetapi juga menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global. Ini Minangkabau banyak terdapat macam- macam obat, berikut penjelasannya:

1. Daun Jarak

Daun jarak disebut sebagai daun untuk mengobati obat demam anak, Manfaat daun jarak untuk kesehatan cukup beragam, Daun jarak salah satu tanaman herbal yang sudah sejak lama dipercayai dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan. 

Daun ini dapat mengandung berbagai senyawa aktif seperti alkaloid, Astragalin, fitonutrien, nicotiflorin, kaemlferol, serta quercetin. Daun ini juga dapat mengatasi sakit gigi, mengatasi sembelit, mengatasi perut kembung, mengatasi sariawan, menstabilkan gula darah, mengobati darah, mengobati reumatik, hingga menurunkan panas pada anak.

Mengobati Rematik

Dapat menggunakan air rebusan daun jarak untuk mendapatkan manfaat tersebut, hanya menyiapkan lima sampai delapan lembar daun jarak, tumbuk sampai halus bersama sedikit air hangat dan oleskan pada bagian tubuh yang mengalami rematik setelah itu oleskan pada bagian tubuh yang mengalami rematik dan lakukan sebanyak tiga kali sehari kondisinya mereda.

Menghilangkan Kurap

Manfaat disebabkan oleh adanya kandungan minyak yang memiliki senyawa aktif bernama asam undesilenat, karena kurap merupakan infeksi jamur pada kulit sehingga menimbulkan ruam yang melingkar berwarna merah.

Daun jarak dicuci bersih lalu direndam di dalam minyak kelapa selama beberapa jam. Setelah itu panaskan minyak dan daun tersebut ke dalam panci. Setelah itu oleskan daun jarak tersebut ke bagian permungkaan kulit yang terkena kurap. Tutup lah bagian itu dengan handuk kecil atau kain katun, diamkan semalaman, lakukanlah secara rutin.

Menstabilkan Gula Darah

Bagi penderita diabetes daun jarak diketahui mampu membantu mencegah kadar gula darah naik, untuk menstabilkan gula darah gunakanlah daun ini.

Untuk memperoleh manfaat ini, Anda dapat mengonsumsi air rebusan daun jarak secara rutin.

2. Daun Sirih

Tidak hanya daun jarak saja yang dapat dijadikan obat, daun sirih juga bisa, daun sirih merupakan salah satu tanaman yang segar dan tumbuh di Indonesia, Tumbuhan yang merambat vitamin seperti Vitamin C, tiamin, niasin, ruboflavin, karoten yang merupakan sumber klasium yang bagus, tanning, saponin, eugenol dan beragam jenis minyak esensial, Manfaat dari daun sirih ini untuk meringankan sembelit, mengurangi masalah pernapasan, mengobati batu, serta mengobati mimisan. Tahap yang dilakukan yaitu merebus setelah itu air rebusan daun sirih tersebut dapat dikomsumsi ataupun dipakai untuk mencuci.

3. Daun Selasih

Daun selasih merupakan tanaman yang memiliki banyak khasiat bagi tubuh, daun yang berbau harum ini berkhasiat sebagai obat demam, sakit kepala, nyeri lambung, gangguan pencernaan dan rematik. Daun ini banyak mengandung minyak asiri, seperti ocimene, alpha- pinene, eucalyptole,linalool, geraniol dan eugenol metol eter. Gunakan 15 gram daun seger direbus ketika demam, Diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

4. Daun Sambiloto

Daun ini merupakan ramuan tradisional, daun ini dipercaya dapat mengatasi penyakit seperti meringankan gejala pilek dan flu, meningkatkan inefksi dan kesehatan pencernaan serta menghilangkan pilek dan flu. Digunakan dengan cara merebus daun ini dari kering sampai mendidih, dan juga dapat mencampurkan madu supaya tidak terlalu pahit.

5. Daun Pepaya

Daun ini dikomsumsi dan diolah menjadi obat herbal. Adapun manfaatnya yaitu sebagai pengobatan demam berdarah, memperbaiki saluran pencernaan, menambah kelancaran asi, meredakan kram menstruasi  dan mencegah risiko kanker. Digunakan dengan cara buatlah seperti air rebusan obat herbal dengan merebut daun pelaya muda dan asam ke dalam air mendidih selama 10-15 menit. Setelah itu peras dan saring lalu air tersebut dapat diminum secara langsung.

6. Daun Cincau

Daun ini merupakan tanaman merambat yang mengandung tinggi klorofil untuk menetralisir kadar gula pada tubuh. Daun cincau memiliki kandugan antioksidan yang berperan meredakan demam dan membantu radang lambung.

Daun ini dilakukan dengan menumbuk daun cincau sampai lumat, setelah itu tambahkan 4 gelas air matang kemudian peras dan disaring. Diamkan sampai mengental, lalu minum 3 kali.

7. Daun Jinten

Daun ini dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional yang banyak mengandung mintak atsiri yang mengandung karvakol, fenol dan lain-lain. Dengan kandungan yang dimilikinya, daun ini dimanfaatkan sebagai obat penyakit perut kembung, obat sakit kepala, mengobati penyakit ayan, menyuburkan ASI, mengobati rematik, serta mengembalikan kekebalan tubuh.  

8. Daun Beluntas

Tanaman ini sering ditemui diperkarangan rumah, ditepi pagar. Kandungan senyawa aktif berupa kalsium, magnesium hingga natrium pada daun beluntas berfungsi efektif menjaga kesehatan tubuh. Daun ini sangat berperan penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Digunakan dengan cara menyiapkan beberapa helai daun beluntas. Setelah itu, cuci dengan bersih lalu rebut 2 gelas air bersih. Tunggu hingga mendidih sampai tersisa menjadi 1 gelas. Untuk hasil yang lebih baik minumlah secara rutin padi dan sore hari.

*Penulis Lezia Maharani,  mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Angkatan 2020.

Catatan Natasya Harifa: Bergesernya Peranan Surau
Selasa, Juni 07, 2022

On Selasa, Juni 07, 2022

SURAU merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari serta menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Fungsi ini tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman. 

Kedudukan surau di Minangkabau serupa dengan pesantren di Jawa. Namun, setelah kemerdekaan eksistensi surau di Minangkabau berangsur surut karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus tunduk pada aturan pemerintah.

Dalam bentuk bangunannya, surau dibedakan menjadi surau besar dan surau kecil. Meskipun fungsinya hampir sama dengan masjid di Indonesia, surau besar biasanya mempunyai fungsionaris keagamaan lebih lengkap.

Akan tetapi, surau besar pada umumnya tidak dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan Islam. Sebaliknya, surau kecil biasanya juga difungsikan sebagai tempat memberikan pelajaran dasar agama.

Surau adalah lambang kesakralan yang mencerminkan sikap religius, sopan santun serta kepatuhan generasi muda kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Bahkan bisa dikatakatan, perkembangan anak-anak suku Minangkabau ditentukan dari banyaknya porsi waktu yang mereka habiskan sebagai bagian hidupnya sehari-hari di Surau. 

Sebalinya, jika seorang anak lebih banyak berada di Lapau (warung, pen) tanpa pernah mengaji di Surau, maka orang menyebut mereka parewa.

Sebaliknya, jika waktu yang dihabiskan oleh seseorang lebih banyak di Surau, maka orang itu disebut urang siak atau pakiah. Karena itu, dari aspek mental keagamaan, bagi masyarakat tradisional Minang, terutama kaum pria-nya, fungsi Surau jauh lebih penting dalam membentuk karakter mereka di kemudian hari. 

Bagi orang Minang masa lalu, peranan Surau selain untuk memperoleh informasi keagamaan, juga dijadikan ajang bersosialisasi sesama anak nagari. Bahkan sejak berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau telah akrab dengan lingkungan Surau.

Kemudian jika kita lihat struktur bangunan rumah tradisional orang Minangkabau  yang dikenal dengan Rumah Gadang memang tidak menyediakan kamar bagi anak laki-lakinya. 

Bahkan, setelah berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau seperti  terusir dari rumah induk. Dan hanya pada waktu siang hari mereka boleh bertempat di rumah guna membantu keperluan sehari-hari. 

Sedangkan pada waktu malam, mereka harus menginap di Surau. Selain karena tidak disediakan tempat, mereka juga merasa risih untuk berkumpul dengan urang sumando (suami dari kakak/adik perempuan) dan mendapat ejekan dari orang-orang karena masih tidur dengan ibu. Dalam ucapan yang khas, lalok di bawah katiak mande. 

Di Surau mereka bukan hanya sekedar menginap atau tidur. Tapi banyak aktivitas penting yang mereka lakukan di Surau. Seperti belajar silat, adat istiadat, randai, indang menyalin tambo yang dilaksanakan berbarengan dengan aktifitas keagamaan seperti belajar tarekat, mengaji, shalat, salawat, barzanji dan lainnya. Karakter pembentukan Islam tradisional sesungguhnya berangkat dari aktivitas seperti ini.

Secara fakta, bisa dikatakan sangat besar fungsi dan peranan Surau bagi perkembangan generasi muda Minang pada masa lalu. Untuk sungguh sangat sebuah ironi, bila pembelajaran seperti Surau yang sangat strategis ini mengalah pada perubahan.

Masalahnya, Surau mewadahi proses lengkap dari sebuah regenerasi masyarakat Minang, sesuatu yang sulit dicari tandingannya dalam kultur manapun di dunia ini. 

Kemudian adat budaya yang mengacu pada konsepsi alam takambang jadi guru yang melahirkan kebijkasanaan sehingga orang Minangkabau  harus tahu di nan-ampek (kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang), adalah bentuk kearifan yang diperoleh melalui pelatihan terpadu yang mengintegrasikan antara konsepsi ideologis dengan norma-norma budaya dan praktis lewat lembaga semacam Surau. 

SeIama ini surau mempunyai banyak fungsi, surau sekarang hanya tinggal yang bernuansa agama, sementara yang bernuansa sosial sudah berkurang. 

Terjadinya pergeseran fungsi surau dilingkungan masyarakat Minangkabau disebabkan berkurangnya perhatian masyarakat terhadap keberadaan surau sebagai sarana dalam mensosialisasikan nilai-nilai adat Minangkabau. 

Hal ini sebagai salah satu pengaruh dari perubahan sosial antara lain terjadinya proses individualisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, sehingga terjadi perubahan dalam memaknai keberadaan fungsi surau.

Kemudian, adanya penambahan ruang pada bagian dalam surau berupa kamar tidur. Fungsi khusus surau sebagai tempat tinggal anak laki-laki juga telah berubah karena kini menjadi tempat tinggal keluarga petugas (penjaga surau) terdiri atas ayah, ibu dan anak.

Perubahan lainnya, dulu surau memiliki fungsi sebagai tempat mengaji tapi kini berubah menjadi tempat penyimpanan beras.

Padahal secara tradisi dan budaya di Minangkabau, surau merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Muslim. Fungsi surau sama seperti masjid, namun ukuran surau lebih kecil sehingga kapasitasnya tidak terlalu banyak.

Dahulu surau selain tempat melaksanakan ibadah shalat lima waktu, juga biasanya digunakan sebagai tempat pengajian, juga tidak jarang digunakan masyarakat sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah.

Fungsi khusus surat dilihat dari adat Minangkabau, yaitu digunakan sebagai tempat tinggal anak laki-laki, karena yang tinggal di rumah sesuai adat Minang hanyalah anak perempuan.

Kenyataan saat ini, banyak surau yang tidak lagi khusus sebagai tempat tinggal anak laki-laki, tetapi sudah digunakan pula sebagai tempat tinggal perempuan dan satu keluarga.

Perubahan bangunan seperti adanya bangunan lain di sisi tempat ibadah ini, karena faktor ekonomi yang menuntut warga suku pemilik surau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dulunya mata pencaharian mereka bersawah, namun kini jika hanya bercocok tanam warga itu baru mendapatkan hasil panen sekitar empat bulan sekali, yang merupakan waktu cukup lama untuk terus bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan alasan untuk menyekolahkan anak dan belanja harian mereka mengambil inisiatif untuk membuka warung yang dibangun di sisi surau.

Perubahan pada surau lainnya, dapat dilihat pada ruang lepas dalam surau kini telah terjadi perubahan dengan adanya sekat untuk kamar tidur. 

Terkait perubahan fungsi khusus surau sebagai tempat tinggal anak laki-laki, dapat disimpulkan tidak ada lagi kekhususan surau, namun semua itu bukan tanpa alasan, karena tidak ada lagi yang menghuni surau, sehingga ada warga berinisiatif membawa keluarganya tinggal di surau.

*Penulis: Natasya Harifa, Mahasiswa Sastra Minangakabau Universitas Andalas

Keuntungan Jika Beristri Perempuan Minang
Selasa, Juni 07, 2022

On Selasa, Juni 07, 2022

BERUNTUNG sekali jika kamu memiliki istri keturunan Minang pastinya. Tak hanya terkenal akan kesetiaan yang dimiliki, perempuan Minang juga sangat kompeten dalam mengurus rumah tangga. Tak hanya mandiri, mereka sangatlah dapat diandalkan dikondisi apapun, contohnya seperti: 

Mereka sangat pintar memasak

Tak ada yang tak kenal akan kekhasan masakan Padang yang selalu dapat menggugah selera. Dimanapun kalian berada pasti tak akan jauh-jauh ada tempat makan yang menyediakan masakan Padang, hingga diluar negeri pun masakan Padang juga dikenal akan kelezatannya. 

Para perempuan Minang sedari kecilnya sudah didik agar bisa memasak oleh orangtuanya. Jika perempuan Minang tak pandai masak, akan memalukan rasanya. 

Makanya sedari kecil mereka sudah dilatih dari yang kecil, yaitu dengan membantu bantu kegiatan kecil saat ibunya memasak. Tak akan heran jika memiliki istri Minang, akan membuat laki-laki yang memilikinya merasa beruntung karena akan selalu kenyang akan makanan lezat yang dibuatnya.

Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru

Perempuan Minang sangat mampu beradaptasi di lingkungan yang baru. Mereka akan mudah diterima dimanapun mereka berada. Seperti kata pepatah Minang,“Dima Bumi di Pijak, Di situ langik di Junjuang”, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, “Dimana Bumi di Pijak, disana Langit di Junjung”. Maksudnya adalah dimanapun berada, haruslah kita selalu patuh terhadap adat istiadat setempat/dimana kita berada yang berlaku. Pepatah inilah yang dipegang teguh oleh perempuan Minang dilingkungan manapun mereka berada. 

Mereka terkenal cekatan dan terampil

Perempuan Minang di didik agar bisa menjadi pribadi yang cekatan dan terampil dalam segala hal sedari kecil. Makanya ada banyak sekali perempuan Minang yang memiliki keterampilan dan hal apapun. Contohnya saja seperti cekatan dalam mengurus rumah, dan terampil dalam mengasuh anak.

Suaminya akan diperlakukan layaknya seorang Raja

Jika pria beristri keturunan Minang, maka dia akan diperlakukan seperti seorang Raja. Mereka sangat teliti dalam hal apapun, sampai hal terkecil pun yang dibutuhkan suaminya nanti akan selalu terpenuhi. 

Perempuan Minang tak akan pernah lupa menghidangkan makanan, semua kebutuhan suaminya sangat dijamin dapat terpenuhi baik dari ujung kaki sampai kepala pun mereka akan sanggup menyiapkan kebutuhan suaminya itu. 

Mereka senantiasa akan memberikan pelayanan terbaik untuk suami mereka. Karena di Minangkabau, perempuan harus menghormati dan menghargai suaminya sebagai kepala keluarga.

Mereka Mampu mengatur keuangan rumah tangga

Ada banyak orang-orang berpendapat kalau orang Minang atau orang padang itu panceke atau pelit. Sebenarnya itu sangatlah tak betul. Mereka bukanlah orang yang pelit melainkan mereka pintar dan mampu mengatur keuangan. Terkhusus untuk para perempuan nya, mereka sangatlah pandai dalam mengatur keuangannya. 

Makanya kebutuhan mereka selalu dapat terpenuhi karena uang yang ia dapat dari suaminya digunakan sesuai kebutuhan bukan sesuai kemauannya. Mereka selalu di didik untuk pintar mengatur keuangan. Berfoya-foya merupakan kata yang asing bagi mereka. 

Mereka terkenal akan kepribadian Penyayang dan setia

Allah SWT menganugerahi sifat penyayang kepada setiap manusia. Tiap-tiap manusia pasti mempunyai rasa akan kasih sayang. 

Begitu demikian terhadap gadih Minang. Sifat penyayang dan setia kepada pasangan itulah yang mereka miliki. 

Mereka akan selalu mendukung suaminya dalam kondisi apapun itu. Mereka akan bisa merelakan kebagian nya demi mendampingi suaminya. 

Ada begitu banyak pria yang beristri perempuan Minang yang hidupnya jaya dan penuh kesuksesan. Itu semua disertai akan kasih sayang dan kesetiaan yang selalu mereka dapatkan dari istrinya perempuan Minang itu.

Mereka terkenal akan paras yang cantik

Kota Padang terkenal akan wanita suku Minang yang memiliki paras nancantik. Padang juga termasuk daerah penghasil wanita cantik di Indonesia.

Adapun ciri khas dari wanita Padang yaitu cantik rupawan dan jago berdagang, jika saja seorang pria dapat menikahi perempuan Minang maka tak akan rugi nanti nya jika mereka bangun lebih pagi. 

Setiap harinya mereka tak hanya akan disuguhi makanan yang khas lagi lezat, tapi mereka juga akan selalu disuguhi oleh paras istrinya yang cantik rupawan. 

Mereka terkenal akan karakter yang lemah lembut

Tak hanya memiliki karakter yang setia dan pekerja keras wanita Minang juga terkenal akan kelemah lembutan nya. mereka dipandang sebagai individu yang mampu memecahkan masalah dengan kesabaran dan kedewasaan yang dimilikinya. Makanya perempuan Minang dapat dipastikan menjadi gambaran ibu rumah tangga yang baik, dan juga memiliki pola asuh yang baik dan wanita yang bersih.

Makanya tak akan rugi jika beristri perempuan Minang, mereka lah yang nantinya akan membuat tenang hati suaminya, dan menjadi obat pereda amarah sang suami nantinya. 

Mereka mencintai kedisiplinan

Selain berkepribadian lemah lembut, perempuan Minang juga pribadi yg amat disiplin baik dalam bentuk kebersihan ataupun dalam pekerjaan. Mereka nantinya tak akan segan-segan menegur jika seseorang tak dapat disiplin. 

Mereka nantinya akan sangat cocok menjadi figur seorang ibu yang disiplin dalam mendidik anaknya di persoalan hidup. 

Mereka memiliki jiwa pebisnis yang kuat

Perempuan tak hanya pintar memasak tapi mereka juga sangat pintar dalam mengelola bisnis. Mereka tidak akan segan-segan untuk berbisnis, membuka usaha sendiri untuk membantu suami atau sekedar hidup mandiri. Tak heran jika saja ada begitu banyak perempuan Minang yang berdagang. 

Masa-masa sekarang ini, semuanya mahal. Beruntung jika gaji sang suami melimpah, bagaimana kalau sebaliknya, makanya Akan sangat sulit untuk menghidupi keluarga secara finansial hanya dengan gaji bulanan sang suami. Beruntung sekali jika seorang pria beristri yang berasal dari suku Minang. Mereka tidak akan segan-segan terjun ke dunia bisnis untuk membantu masalah keuangan sang suami. Dan hal itu akan sangat membantu meringankan beban suami.

Sedari kecil mereka dibekali ilmu agama

Minangkabau merupakan salah satu suku yang selalu menjunjung tinggi agama dan adat istiadat. Selayaknya pepatah minang yang mengatakan: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabulla”, artinya: “Adat Bersendi Syarak, Syarak bersendikan Al-Quran”. Pepatah ini yang selalu orang Minangkabau junjung tinggi.  Adat terus menjunjung tinggi agama, sedangkan agama berikatan selalu kepada Al-Qur'an.

Dari dulunya hingga sekarang, orang Minang selalu menyampaikan pemahaman itu kepada keluarga dan anak-anaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari agama dan adat istiadat tak dapat dipisahkan.  Adat haruslah searah dengan agama, tak boleh adanya penyimpangan darinya. 

Oleh karena itu, sedari kecil anak-anak di Minangkabau selalu dilatih belajar agama. Tak mengenal itu laki-laki ataupun perempuan. Sedari kecil mereka haruslah belajar agama. Ketika seorang anak berusia 7 tahun, ia harus belajar mengaji di Surau atau Musholla dan juga untuk Menuntut ilmu agama sebagai bekal di akhirat nanti. 

Oleh karena itu, tidak heran jika para wanita Minangkabau mempunyai pemahaman terkait agama dan kemudian mengajarkannya kepada anak-anaknya. Setiap tindakan dan setiap perkataan selalu mencerminkan karakter seseorang. Oleh karena itu pendidikan agama itu sangatlah penting.

*Penulis: Ranika Ralnandes, Mahasiswa Universitas Andalas
Fakultas ilmu budaya sastra daerah Minangkabau.

Luhak Nan Tigo, Batas Wilayah Minangkabau dan Daerah Rantau Menurut Tambo
Rabu, Juni 01, 2022

On Rabu, Juni 01, 2022

DAERAH Minangkabau terdiri atas tiga luhak yang dikenal dengan luhak nan tigo yaitu luhak Tanah Datar (Luhak nan tuo) Luhak agam (luhak nan tangah) dan luhak lima puluh kota (Luhak nan bungsu).

1. Luhak Nan Tigo

Wilayah dari Minangkabau disebut luhak atau luak (dalam bahasa minangkabau), penduduknya berasal dari Pariangan. Nagari Pariangan dipimpin oleh dua orang datuak yang arif dan bijaksana yaitu Datuk Katumanggungan dan datuak parpatiah nan sabatang.

Ketika penduduk semakin banyak timbullah keinginan kedua datuak ini untuk mencari daerah baru, setelah dimusyawarahkan kemudian diputuskan datuak parpatiah nan sabatang mendapat tugas ke arah timur Gunung Merapi dan datuak katumanggungan ke arah barat Gunung Merapi, datuak parpatiah nan sabatang beserta rombongan menuju daerah Timur dan melihat daerah yang berbukit-bukit dan berlembah-lembah artinya tidak banyak tanah yang datar kemudian daerah itu diberi nama “Tanah Datar”. 

Di daerah datuak parpatiah nan sabatang melihat airnya jernih, ikannya jinak dan buminya dingin. Hal ini sesuai dengan 4 titik yang melukiskan keindahan alam dan karakter bangsa Minangkabau yaitu : 

“banamo luhak tanah datar 
Aianyo janiah 
Ikannyo jinak
Buminyo dingin”
Di perjalanannya datuak katumanggungan dan rombongan menemukan sebuah sumur yang dipenuhi mansiang , tumbuhan itu mereka beri nama Agam kemudian disepakati daerah itu diberi nama luhak Agam. Luha artinya sumur (luak). 

Di daerah itu datuak katumanggungan melihat akhirnya keruh sama ikannya liar dan buminya panas, hal ini sesuai dengan petitih :
“banamo luhak agam 
Aia nyo karuah
Ikannyo lia
Buminyo angek”

Kemudian berangkat pula seorang Datuk lagi yang bernama Datuak Sri Maharajo Banego nego bersama rombongannya ke arah utara rombongannya berjumlah 50 orang. 

Di perjalanan anggota rombongannya 50 itu hilang entah ke mana, akhirnya daerah itu diberi nama luhak lima puluh kota artinya kurang dari lima puluh. 

Di daerah itu Datuak Sri Maharajo Banego nego merasakan airnya manis, ikannya banyak kok dan buminya sejuk, sesuai petitih :

“Banamo luhak lomo puluah koto 
Aianyo manih
Ikannyo banyak 
Buminyo sajuak”.

2. Batas Wilayah Minangkabau

-Nan salilik gunuang marapi = luhak nan tigo
- Saedaran gunuang pasaman = daerah sekitar gunung pasaman
-Sajajaran sago jo singgalang = sekeliling gunung sago dan singgalang
-Saputaran talang jo kerinci = seputaran gunung talang dan kerinci
-Dari singkarak nan badangkang = pariangan padang panjang
-Hinggo buayo putiah daguak = indo puro pesisir selatan
-Sampai ka pintu rajo ilia = muko-muko provinsi bengkulu
-Durian di tukuak rajo = daerah barat jambi
-Sapisau-pisau hanyuik = sekitar indra giri hulu
-Sialang balantak basi = sekitar gunung sialang
-Hinggo aia babaliak mudiak = pantai timur pulau sumatera
-Ombak nan badabuih = pantai barat pulau sumatera
-Saaliran batang sikilang = sepanjang aliran batang sakilang
-Hinggo lauik nan sadidiah = samudera indonesia
-Katimua ranah aia bangih = air bagih sebelah timur
--Rao jo mapatunggua Gunuang mahalintang = nagari sekitar rao
-Pasisia banda sapuluah = daerah pesisir pantai barat sumatera bagian tengah
-Hinggo taranak aia hitam = daerah silauik dan sikunang 
-Sampai ka tanjuang simalindu = tanjung simalindu
-Pucuak jambisambilan lurah = sepanjang aliran batang hari.
Dengan menggunakan mata angin maka perbatasan wilayah Minangkabau adalah :
Utara : Rao mapatunggua, gunung mahalintang, dan sikalang aia bangih
Selatan : Muko-muko taratak aia hitam
Barat : Samudra hindia
Timur : Durian ditakuak rajo, Buayo putiah daguak, Sialang balantak basi dan Tanjuang simalindu.

Wilayah Minangkabau menurut tambo terletak di seputaran gunung-gunung yaitu Gunung Merapi, Gunung Pasaman gunung sago, Gunung Singgalang Gunung Talang Gunung Kerinci wilayah Minangkabau lebih luas dari provinsi Sumatera Barat yang sekarang.

3. Daerah Rantau

Karakok madang di hulu
Babuah babungo balun
Karantau bujang dahulu
Dikampuang paguno balun

Anak laki-laki yang mulai dewasa di Minangkabau dianjurkan untuk pergi merantau. Rantau adalah tanah atau Nagari tempat mencari penghidupan sedangkan Merantau maksudnya pergi ke nageri lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Negeri lain yang dimaksud adalah pergi keluar dari luhak nan tigo.

Tiap-tiap luhak mempunyai daerah Rantau tertentu. Penduduk luhak Tanah Datar pergi mencari daerah Rantau ke arah timur tenggara dan Barat. Daerah Timur meliputi daerah sepanjang aliran Batanghari atau yang disebut dengan “rantau batang hari dan pucuk jambi sembilan lurah” dan Rantau sepanjang aliran batang Kuantan atau yang disebut “rantau nan kurang aso duo puluah” Nagari Rantau Kuantan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu ampek koto dihulu, lima koto di mudiak, tigo koto lubuak rao, tigo koto di tangah dan ampek koto di ilia.

Daerah Tenggara adalah Rantau Pasisia panjang, Rantau ini dinamakan “rantau bandar sapuluah” yang sekarang menjadi kabupaten Pesisir Selatan. Daerah Barat disebut ujuang darek kapalo rantau yang merupakan perbatasan antara Luhak Tanah Datar dengan daerah rantaunya Anduriang Kayu Tanam, guguak kapalo ilalang, sicincin dan tobo pakandangan.

Penduduk loha Agam merantau ke arah barat dan Utara mulai dari pantai Tiku sampai ke Pantai Air Bagis, kearah utara sampai di Bonjol, kumpulan, lubuk sikapiang, rao dan daerah lainnya.

Luhak lima puluh kota daerah rantaunya adalah ke arah timur dan Utara daerahnya mencakup kampar kanan dan kampar kiri yang meliputi manggilang, tanjuang balik, pangkalan, koto alam, muaro peti, sialang, rokan gunung bungsu, muaro takuih dan daerah lainnya.

Semua daerah rantau minangkabau dikenal dengan sebutan rantau nan tujuan jurai yang terdiri dari rantau kampar sembilan, rantau kuantan, rantau XII koto , rantau cati nan batigo, rantau tiku pariaman, rantau pariaman, dan rantau nagari.

*Penulis Oleh:  Annisa, Sastra Minangkabau UNAND

Catatan Angely Dlya: Nagari Salingkuang Adat
Rabu, Juni 01, 2022

On Rabu, Juni 01, 2022

PENTING kita ketahui apa itu nagari, nagari adalah suatu kesatuan wilayah yang ada di Minangkabau yang dihuni oleh masyarakat yang terikat oleh adat atau peraturan. Nagari terdiri dari beberapa jorong. Selain itu sebuah nagari juga memiliki syarat syarat tertentu. 

Suatu nagari memiliki seorang pemimpin disebut wali nagari.
Sebuah nagari juga memiliki syarat untuk berdiri,jika semua syarat telah terpenuhi barulah bisa disebut nagari.

Diungkapkan kata pusaka minang

Babalai bamusajik
Basuku banagari
Bakorong bakampuang
Balabuah batapian
Basawah baladang
Bagalanggang pamedanan
Bapandam bapakuburan

Ditiap nagari memiliki peratutan dan undang undang yang berbeda, seperti yang diungkapkan kato pusako minang yaitu :

Nagari bapaga undang undang
Kampuang bapaga jo pusako
Lain padang lain bilalang
Lain lubuak lain ikannyo
Lain nagari lain adatnyo.

Jadi tiap tiap nagari membuat dan memiliki undang undang ketentuang untuk nagari tersebut. Peraturan dan undang undang tersebut dibuat atas kesepakatan musyawarah dan mufakat penghulu, niniak mamak. 

Undang undang yang telah keluar berdasarkan hasil kesepakatan yang telah dibuat dan kemudian diterapkan dalam kehidupan masyarakat nagari itu. 

Jadi setiap nagari diatur oleh peraturan undang undang dan adatnya. Undang undang ini dibuat bertujuan untuk mengatur kehidupan maasyarakatnya.

Setiap tangkah laku, tindakan, perbuatan individu maupun masyarakat diatur oleh adat. Dengan adanya aturan dan adat tersebut akan membuat kehidupan masyarakat tersebut terarah dan berjalan sesuai aturan. Itu lah yang disebut nagari salingkuang adat.

​Suatu nagari terdiri dari suatu kesatuan wilayah, suatu kesatuan masyarakat, dan kesatuan adat. Dalam suatu kampung terdapat beberapa suku. 

Di dalam satu kesatuan wilayah tersebut masyarakatnya perlu diatur, memiliki pedoman yang jelas, baik untuk kehidupan berkelompok maupun kehidupan individu masyarakat tersebut. Adapun syarat syarat suatu wilayah dikatakan sebagai nagari seperti dalam ungkapan minang

​Babalai bamusajik
​Basuku banagari
​Bakorong bakampuang
​Balabuah batapian
​Basawah baladang
​Bagalanggang bapamedanan
​Bapandam bapakuburan

Babalai, maksudnya suatu nagari tersebut harus memiliki balai. Balai adalah sebuah tempat bermusyawarah para niniak mamak, pengulu, dan para pemimpin nagari lainnya. Balai juga terbagi dua macam yaitu :

Pertama, Balai nan balinduang tempatnya yang menerupai rumah gadang memiliki atap dan memiliki lantai.

Kedua, Balai nan bapaneh tempatnya terbuka seperti di lapangan. Balai nan bapaneh ini biasa disebut dengan Medan Nan Bapaneh.

Bamusajik, artinya sebuah nagari juga harus memiliki tempat beribadah serta untuk menerima ilmu ilmu ajaran agama islam. Ditiap nagari minimal harus memiliki satu masjid.

Basuku, artinya memiliki suku. Setiap nagari setidaknya memiliki empat suku, tiap suku dipimpin oleh seorang pengulu.

Banagari, yaitu memiliki wilayah di dalam daerah tertentu. Di tiap tiap wilayah itulah suku itu bermukim.

Bakorong bakampuang, maksudnya memiliki Korong dan perkampungan. Ditiap nagari memiliki batas batas wilayah biasanya berupa pagar, tugu atau lain sebagainya.

Balabuah, maksudnya memiliki jalan karena jalan raya merupakan penghubung antara suatu nagari dengan nagari lainnya.

Batapian, artinya memiliki sumber air atau tempat mandi.

Bagalanggang bapamedanan, artinya memiliki gelanggang dan lapangan tempat anak nagari bermain atau mengadakan suatu acara atau mengadakan keramaian.

Bapandam bapakuburan, suatu nagari juga harus menyediakan lahan khusus untuk pakuburan.

Itulah syarat syarat untuk mendirikan suatu nagari, jika salah satunya tidak ada maka belum bisa disebut sebuah nagari.

​Selanjutnya disetiap nagari juga memiliki organisasi dalam nagari. Untuk mengurus nagari sebagai kesatuan adat, peraturaturan daerah sumatera barat menetapkan Keratapatan Adat Nagari (KAN). 

KAN adalah sebuah Lembaga perwakilan permusyawaratan dan permufakatan di tengah masyarakat nagari di Sumatera Barat. 

Anggota KAN terdiri dari unsur unsur pengulu pucuak adat, datuak datuak tiap tiap suku dalam nagari tersebut, pengulu penghulu penghulu andiko, dan urang nan ampek jinih. 

Keempat unsur unsur tersebut seayun dan selangkah memimpin nagari. Seperti dalam kato pusako

​Barek samo dipikua
​Ringan samo dijinjiang
​Nan elok baimbauan
​Sakik basilau
​Mati bajanguak

Selanjutnya, nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat memounyai fungsi yaitu;

Pertama, membantu pemerintah dalam mengusahakan kelancaran pembangunan di segala bidang. Kedua, mengurus hokum adat dalam nagari.

Ketiga, memberi kedudukan hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut harta kekayaan masyarakat nagari guna kepentingan hubungan keperdataan adat juga dalam hal adanya persengketaan atau perkara perdata adat. 

Keempat, menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat Minangkabau. 

Kelima, menjaga memelihara, dan memanfaatkan kekayaan nagari untuk kesejahteraan masyarakat nagari.
​Untuk menerapkan fungsi nagari itu, urusannya menjadi tanggung jawab KAN. Utuk itu ditetapkan tugas-tugas Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai berikut:

Pertama, Mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan dengan sako dan pusako.

Kedua, Menyelesaikan perkara-perkara perdata adat dan adat istiadat.

Ketiga, Mmengusahakan perdamaian dan memberikan kekuatan hukum terhadap anggota masyarakat yang bersengketa serta memberi kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut sepanjang adat.

Keempat, Mengembangkan kebudayaan masyarakat nagari dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah dalam rangka memperkaya khazanah kebudayaan nasional.

Kelima, Menjaga, memelihara, dan mengurus serta memanfaatkan kekayaan nagari untuk kesejahteraan masyarakat nagari.

Keenam, Membina dan mengkoordinir masyarakat hukum adat mulai dari kaum menurut sepanjang adat yang berlaku pada tiap nagari, berjenjang naik bertangga turun dan berpucuk kepada kerapatan adat nagari serta memupuk rasa kekeluargaan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat nagari dalam rangka meningkatkan kesadaran sosial dan semangat kegotongroyongan.

Dan terakhir, Mewakili nagari dan bertindak atas nama dan untuk nagari atau masyarakat hokum adat nagari dalam segala perbuatan hokum di dalam peradilan untuk kepentingan atau hal hal yang menyangkut dengan hak dan harta kekayaan milik nagari.

Ditulis Oleh: Angely Dlya, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Sastra Daerah Minangkabau