Opini

PARLEMEN

Sports

Opini

Iklan KPU Sumbar
Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur
Jumat, November 27, 2020

On Jumat, November 27, 2020

Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur
DUA menteri Jokowi berasal dari Gerindra. Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), dan Edhy Prabowo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (KP).


Nasib malang! Edhy Prabowo ditangkap KPK di Bandara Soekarno Hatta, setelah lawatannya ke Amerika Serikat, Rabu, 25 November dini hari.


Edhy ditangkap KPK dalam kasus ekspor benur lobster. Novel Baswedan yang memimpin penangkapan tersebut.


Apakah ini Operasi Tangkap Tangan (OTT)? Masih tanda tanya. Disebut OTT kalau sedang, akan, atau baru saja melakukan tindak pidana koruptif.


Mungkinkah Edhy Prabowo cs sedang melakukan tindak pidana korupsi di dalam pesawat atau di bandara? Atau melakukan tindak pidana korupsi di Amerika, tapi karena masuk wilayah yuridiksi negara lain sehingga penangkapannya harus menunggu sampai di Indonesia?


Kalau dugaan terjadinya tindak korupsi tidak di Amerika, bukan pula di dalam pesawat atau bandara, apakah masih bisa disebut OTT?


Kalau tidak memenuhi unsur OTT, kenapa enggak dikirimkan saja surat pemanggilan lebih dahulu? Pemanggilan sebagai saksi. Setelah dikonfirmasi ini dan itu, meyakinkan ada unsur pidananya, baru dinaikkan jadi tersangka.


Kenapa harus langsung ditangkap? Seolah kalau Edhy tidak ditangkap ia akan lari. Dia pejabat tinggi, enggak mungkin lari bro!


Nah soal salah atau benar proses OTT tersebut, nanti akan dibuktikan di sidang praperadilan. Ini pun kalau Edhy mau mengajukan ke praperadilan.


Sudah jatuh ketimpa tangga. Begitu pepatah bilang. Gerindra nyeberang ke istana, lalu para pendukung berbondong-bondong meninggalkannya.


Ditinggalkan atau meninggalkan? Itu bergantung anda di posisi mana? Pendukung Gerindra atau pihak yang kecewa terhadap Prabowo.


Oleh sejumlah "mantan pendukung", Prabowo dianggap berkhianat dan tak tahu berterima kasih. Nyawa, darah, harta, dan keringat yang dikorbankan oleh para pendukung saat Pilpres 2019 seolah enggak dihargainya. Goodbye!


Hubungan Prabowo cq Gerindra putus dengan sejumlah pihak yang tadinya mendukung. Naifnya, sesampainya Gerindra di istana, kader terbaik Gerindra dan anak didik Prabowo ditangkap KPK. Yaitu Edhy Prabowo. Tokoh papan atas yang dikirim Gerindra untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan (KP).


Kualat kepada PKS? Dalam nalar politik, tak ada ruang untuk analisis mistis. Istilah karena hanya ada di dalam diskusi agama. Nasib sial. Mungkin kalimat ini lebih mewakili.


Tertangkapnya Edhy Prabowo tentu punya risiko politik. Pertama, Partai Gerindra jatuh di mata publik. Elektabilitas Gerindra terancam turun. Dan ini juga mungkin bisa berpengaruh terhadap kader-kader Gerindra yang sedang menjadi calon kepala daerah.


"Ah, enggak mau nyoblos calon dari partai korupsi!" Narasi ini bisa dimainkan oleh rival-rivalnya di Pilkada 9 Desember 2020 nanti.


Setiap tokoh partai tertangkap KPK, ada konsekuensi hilangnya sebagian pendukung. Hal ini pernah dialami oleh sejumlah partai, di antaranya Demokrat dan PPP. Ketua umum ditangkap, elektabilitas langsung ngedrop. Khususnya PPP di Pileg 2019 kemarin. Megap-megap!


Kedua, jika Gerindra tidak cepat dan piawai untuk recovery, ini bisa mengancam rencana Prabowo maju di Pilpres 2024.


Santernya isu Prabowo-Puan Maharani yang digadang-gadang maju di Pilpres mendatang bisa berantakan.


Bagi Gerindra sendiri, ini tidak masalah. Karena, majunya Prabowo di Pilpres akan menaikkan suara untuk para calon anggota DPR dan DPRD. Kalah menang, itu nomor 12. Bukan yang utama. Menang syukur, enggak menang masih untung. Bagitu umumnya para kader dan caleg Gerindra berpikir.


Beda dengan PDIP, kalau susah dijual, untuk apa ikut mengusung Prabowo? Adakah ada partai lain yang masih mau mengusung Prabowo? Tanya saja ke PKS.


Lalu, bagaimana hubungan Gerindra dengan istana? Adakah keterlibatan istana dalam penangkapan Edhy Prabowo? Secara hukum, presiden tak boleh intervensi. Faktanya? Sulit anda membuktikannya. Kecuali anda nekat dan siap dipenjara.


Dari aspek politik, muncul banyak spekulasi. Apakah langkah KPK ini semata-mata iklan? Sejak UU KPK No 19 Tahun 2019 disahkan, KPK nyaris kehilangan kepercayaan publik.


Apalagi baru-baru ini, Ketua KPK membuat pernyataan salah dan blunder ketika mengomentari buku berjudul "How Democracies Die". Maka, penangkapan seorang menteri akan menjadi iklan besar-besaran untuk mengembalikan geliat KPK.


Ada juga yang bertanya: apakah penangkapan ini berkaitan dengan rencana reshuffle kabinet? Atau apakah ini bagian dari upaya menjegal Prabowo nyapres? Publik tahu, Prabowo punya banyak pesaing, khususnya di militer.


Atau apakah ini dampak dari persaingan antarpartai? Karena kabar yang juga santer, sebelum Edhy Prabowo ditangkap, ada pengurus partai lain yang lebih dahulu ditangkap. Hanya saja sepi dari berita.


Kalau ini dibuka, partai itu juga akan babak belur. Soal kebenaran kabar ini masih perlu ditelusuri.


Munculnya kecurigaan publik ini wajar, karena publik menganggap bahwa penangkapan pejabat kakap itu biasanya ada unsur politisnya.


Apalagi ini sekelas menteri. Publik sering menyaksikan ada adu kuat pihak-pihak tertentu ketika KPK mau menetapkan seseorang jadi tersangka.


Lihat saja kasus e-KTP, PAW Harun Masiku, kasus Indosat, dll, semuanya sepertinya mandek. Ini seolah mengkonfirmasi adanya unsur politik yang membuat publik curiga dan selalu mengaitkan dengan politik.


Yang pasti, kasus ekspor benur lopster ini membuat Gerindra babak belur. Sebab, kasus ini terjadi saat Prabowo sedang banjir hujatan dari para mantan pendukungnya. Makin berat! 


Ditulis Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.

Pemuda Harus Menjadi Mercusuar Dunia
Kamis, November 26, 2020

On Kamis, November 26, 2020

Pemuda Harus Menjadi Mercusuar Dunia
DI dunia kampus, OKP (Organisasi Kepemudaan) maupun ormas( Organisasi Masyarakat)  yang survive bisa bertahan adalah mereka yang kreatif dan mampu membaca perubahan zaman. 


Pemuda selalu menjadi harapan bangsa untuk masa depan sebuah negerinya, jika hancur pemudanya maka calon kehancuran sebuah negeri telah di depan mata.


Para aktivis kampus baik BEM, SENAT, ORMAWA, Organisasi Eksternal Nasional atau Internasional, OKP maupun ormas harus mampu dan biasa membaca peluang saat pandemi corona saat ini. 


Seluruh dunia terkena dampaknya akibat Covid-19 ini, maka aktivis dituntut kreatif untuk melakukan hal luar biasa dibanding hari sebelumnya. 


Seperti kita ketahui dunia aktivis sangat seru dan mengasikan tapi ingat jangan terlena nanti bisa jadi mahasiswa abadi/ aktivis sampai tua.


Satu hal yang perlu saya perlu tegaskan disini, "Segenting apapun kondisi kalian jangan lakukan tindakan bodoh seperti mencuri, jual video porno, jual narkoba,  kejahatan online dan kriminal lainnya". 


Khususnya para aktivis perantau pasti sangat terasa  ketika jauh dari orang tua. Gunakanlah kreativitas kalian untuk berkarya, berjuang dan terus Fight agar apa yang anda inginkan bisa tercapai. 


Jika kalian hobi menulis mungkin kalian bisa jadi penulis lepas, Bisa bernyanyi kalian  bisa mengisi musik di cafe cafe, pandai berorasi dan puisi bisa di salurkan ditempat kesenian seperti Taman Ismail Marzuki(Jakarta), Bentara Budaya(Kompas), Warmus, dll. 


Jika para mahasiswa ini minus akan modal kalian bisa maksimalkan limbah plastik, botol untuk kalian jadikan kerajinan jika bagus bisa menghasilkan untuk diri kalian sendiri, dan masih banyak lagi kreatifitas yang bisa pemuda maksimalkan. 


Untuk para aktivis kampus/okp/ormas beranilah bermimpi dan Bercita cita setinggi angkasa kalau perlu hingga langit ketujuh, jauhilah teman yang memberikan pengaruh negatif dan tidak bisa membuatmu berkembang. 


Toxic Friendship sangat membuatmu terpukul bahkan bisa  jauh dari apa yang kamu harapkan, tempatkan dirimu dalam lingkungan positif yang selalu mensupport kamu agar semakin terus berkembang dan lebih maju dari sebelumnya. 


Fungsi senior  hanya untuk mengarahkan anda, bukan untuk menjadi pangkuan anda dan jangan selalu mengharapkan proyek/pekerjaan dari para senior karena para senior kamu belum tentu kondisi keuangannya sedang baik. 


"Beranikan  menjadi seorang aktivis yang mandiri, tidak menghalalkan segala cara untuk meraih uang, ikhtiarlah dengan konsep MAN JADDA WA JADA, MAN SABARA WA SAFIRA (Siapa yang berusaha pasti bisa, dan siapa yang sabar pasti beruntung)". 


Maksimalkan potensi kalian, jangan sia siakan waku muda kalian untuk hal yang tidak berguna. 


Aktivis tidak selalu di identikkan dengan mereka yang suka demonstrasi atau mengkritisi pemerintah, Minimal sang Aktivis bisa membawa perubahan minimal di lingkungan sekitarnya. 


Ada sebuah kutipan pernyataan dan pesan Bung Karno yang sangat terkenal “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.


Kutipan ini memang sangat bagus untuk menjadi pelecut semangat kaum muda, akan tetapi kutipan tersebut jangan hanya terpaku pada kata mengguncang saja akan tetapi kita bisa menjadi sang penginspirasi dalam pusaran perubahan roda zaman. 


Pesanku untuk para pemuda, "Lakukan yang terbaik Untukmu, keluargamu, Agamamu, bangsamu dan negerimu. karena dunia menunggu karya -  karyamu".


*Ditulis Oleh: Ahmad Sofyan Wahid, Jurnalis dan Aktivis Kemanusiaan.

Wajah Cerah Ekonomi Syariah Sumbar
Selasa, November 24, 2020

On Selasa, November 24, 2020

Wajah Cerah Ekonomi Syariah Sumbar
LESUNYA ekonomi global saat ini tidak terlepas dari system ekonomi kapitalis yang menguasai pasar saat ini. Data World Bank tahun 2019 mengatakan, inflasi menjadi penyebab utama ekonomi dunia mengalami kemunduran karena dollar diperdagangkan bebas oleh sekelompok elit yang menguasai pasar dunia. Otomatis, semua system perbankan dan transaksi pasar tidak bebas bergerak dalam mengelola sumber pendapatan. Karenanya, berimplikasi pemotongan bunga bank yang terus meningkat sehingga nasabah terpaksa meminjam balik ke bank dengan membayar berkali lipat. 


Inilah system kapitalis yang terus berputar dan mendarah daging yang diterapkan selama ini di Indonesia. Sehingga, pelan-pelan nasabah mulai paham dan sadar bahwa ada satu system yang lebih selamat daripada system yang ada saat ini. system yang menjamin uang seseorang Kembali dengan nominal yang sama sesuai kesepakatan kedua pihak yang didasarkan atas akad yang jelas. Tanpa ada unsur gharar (ketidakjelasan) dan maysir (perjudian) dalam akad antar kedua pihak.


Atau yang lebih dikenal sekarang di Indonesia, Ekonomi Syariah. Pertumbuhan ekonomi Syariah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2019 menunjukkan, persentase pertumbuhan Bank Umum Syariah meningkatkan menjadi 20.37 %. Artinya, ini menunjukkan kebanyakan nasabah ingin beralih bank dari bank konvensional ke bank Syariah.


Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, potensi bank Syariah untuk berkembang amat besar. Namun, persentase pangsa pasar secara umum masih berada dikisaran 6 persen. Jika dibandingkan dengan Malaysia, yang sudah mencapai diatas 30 persen dibandingkan dengan Indonesia yang masih jauh tertinggal.


Terdapat beberapa faktor yang membuat penetrasi perbankan Syariah tidak leluasa bergerak. Salah satunya, tingkat literasi dan inklusi keuangan Syariah dari masyarakat masih rendah. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi bertahap agar masyarakat semakin sadar dan paham manfaat perbankan Syariah terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.


Mengacu data OJK, indeks literasi keuangan Syariah di Indonesia masih 8 persen sedangkan indeks inklusi keuangan Syariah baru 11 persen. Dibandingkan dengan indeks rerata nasional keuangan sudah menginjak angka 30 persen, sedangkan untuk indeks inklusi keuangan nasional mencapai 68 persen.


Berdasarkan fakta diatas, masyarakat, asosiasi perbankan Syariah dan pemerintah mesti mengambil langkah strategis untuk menggenjot pertumbuhan industri perbankan Syariah secara nasional. Secara kelembagaan, pemerintah telah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi. 


Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Achmad K. Permana mengatakan, ini Langkah positif untuk melakukan koordinasi antarpemangku kepentingan keuangan Syariah, termasuk perbankan Syariah agar lebih harmonis dalam menyelaraskan setiap kebijakan yang dibuat. Perlu harmonisasi antar-pemangku kepentingan agar masyarakat dapat melihat, percaya, dan mau beralih menggunakan layanan bank Syariah. 


Sebab, dilihat dari infrastruktur, bank Syariah tidak kalah jumlahnya dengan bank konvensional. Hampir semua transaksi perbankan di bank konvensional sudah bisa dilakuka di bank Syariah. Jadi sebenarnya, tidak ada alasan untuk tidak ‘hijrah’ ke bank Syariah (Republika 22/02/2019).


Sumatera Barat


Proyeksi pertumbuhan ekonomi Syariah di Sumatera Barat diperkirakan akan jauh membaik. Sebab, Sumatera Barat memiliki karakteristik daerah yang cukup unik. Dibandingkan provinsi lain, Sumatera Barat bisa unggul dalam mengelola keuangan Syariah. Karena di Sumatera Barat masih erat memegang prinsip Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah. Bahwa setiap kebijakan pemerintah harus sejalan dengan budaya dan agama yang menjadi karakteristik orang Sumatera Barat.


Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat tahun 2020 tumbuh sebesar 4,9% - 5,3% (yoy). Dengan tekanan inflasi diperkirakan moderat dan tetap terkendali rentang 3,0% + 1% (yoy). Ini menunjukkan stabilitas kondisi keuangan riil masih dalam kondisi wajar dan terkendali. Sehingga peluang untuk pemulihan ekonomi berbasis Syariah menjadi semakin terbuka lebar. Sebab, dengan membaca sifat dan karakteristik orang Sumatera Barat yang kuat memegang nilai-nilai islam, sangat berkemungkinan pertumbuhan ekonomi Syariah berkembang pesat.


Kedepan, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Syariah di Sumatera Barat melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Semoga saja.


*Ditulis Oleh: Muhammad Irsyad Suardi, Penulis di Padang.

Aston Villa, Everton dan Southampton Kuda Hitam Baru di Premier League
Selasa, November 24, 2020

On Selasa, November 24, 2020

Aston Villa, Everton dan Southampton Kuda Hitam Baru di Premier League
KITA hari ini sepakat bahwa Premier league liga paling kompetitif di dunia, dan itu dia akui oleh para pelatih pelatih top dunia seperti Pep Guardiola, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti hingga Jurgen Klopp. 


Hampir tiap musim juara premier league berganti, Musim 2019/2020 Liverpool menjadi yang terhebat di tanah britania raya setelah juara liga champions, premier league, piala dunia antar klub dan super eropa. 


Liga Inggris juga di huni oleh pelatih pelatih top eropa seperti Manuel Pelegrini, Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Jose Mourinho, Jurgen klopp. Bisa dikatakan mereka adalah pelatih pelatih bertangan dingin. 


Pelatih hebat lain yang siap unjuk gigi adalah Ralph Husenhuttle mantan pelatih RB Leipzig hingga pekan ke 8, telah sukses menjadi kuda hitam baru di premier League musim 2020/2021.


Begitu juga dengan Aston Villa dan Everton yang sukses mengalahkan tim tim besar, mereka hanya butuh konsisten untuk selalu meraih kemenangan jika ingin masuk 4 besar premier league. 


Pekan ke 4 liga Inggris Aston Villa sukses membantai Setan Merah dengan skor 7-2, Jack Grealish dan Barkley menjadi bintang lama pada saat itu. Ini adalah sinyal kuat agar tim tim premier league berhati hati kepada the villans juara 1 kali liga champions tersebut. 


Begitu juga dengan everton dengan kedatangan James Rodriguez memberikan effect postif yang luar biasa pada lini tengah everton, Pemain madrid lain yang di isukan akan merapat ke Everton adalan Isco. 


Jika musim lalu Wolves menjadi tim kuda hitam bahkan sukses hingga semi final liga europa sebelum di kalahkan oleh Inter Milan. 


Ketatnya persaingan di premier league harus di ikuti oleh liga  top eropa lain, jika ingin mendapatkan banyak sponsor dan dilihat dunia  liga italia di dominasi oleh juventus, liga Jerman Munchen, liga Spanyol Madrid dan Barcalona dan Liga francis Paris Saint Germain.


*Ditulis Oleh Ahmad Sofyan Wahid, Jurnalis dan Pengamat Sepak Bola.

Arteta Harus Segera Mainkan Mesut Ozil
Minggu, November 15, 2020

On Minggu, November 15, 2020

Arteta Harus Segera Mainkan Mesut Ozil
MIKE Arteta Pelatih Arsenal saat ini menyingkirkan Mesut Ozil dari daftar Skuad Arsenal, Hingga pekan ke 8 Liga Inggris Pemain berkaki kidal tersebut belum dimainkan sekalipun. 


Kekalahan 3-0 dari Aston Villa membuat arsenal semakin tenggelam dalam perburuan titel premier League, entah faktor konflik internal klub atau politik rasis membuat Ozil makin tersingkirkan. 


Mantan pelatih Arsenal Arsene Wenger menyatakan,  Arteta harus segera memasukkan kembali Ozil karena dia adalah pemain kelas dunia yang pernah mencatatkan Asisst terbanyak di premier league dan La liga, ucap wenger. 


Banyak yang mengakui kejeniusan Ozil dari Thiery Henry, Ronaldo CR7 hingga Leonel Messi. Arteta harus berfikir ulang akan tindakannya saat ini, mereka menyia nyiakan bakat terbaik yang dimiliki Mesut Ozil, Tegas Wenger. 


Pemain ini bukan kaleng kaleng, Meski sering di bekap cidera tidak selayaknya tim memperlakukan seperti itu kepada ozil. 


Jika kejeniusan pemain hanya di balut kebencian karena perbedaan pandangan  tinggal tunggu kehancuran tim tersebut, tutur Asw pengamat sepak bola. 


Timnas Jerman dan Arsenal menyingkirkan ozil layaknya Sampah, akan tetapi menurut pandangan saya ini tidak masuk akal. Pesepakbola muslim ini memang memiliki kedekatan dengan Erdogan dengan statement yang terkadang kontroversi diluar sepak bola. 


Sepak bola harus menjadi arena bersih dari hal rasis tersebut,  pemain berusia 31 tahun ini adalah playmaker  sepak bola terbaik di eranya dan itu tidak bisa di pungkiri. 


Saya yakin cepat atau lambat Arteta akan akan terkena tekanan dari para pendukung Arsenal untuk Dipecat, sama seperti Unay Emery yang diganti oleh manajemen The Gunners.


Hingga pekan ke 8 Arsenal telah menelan 4 Kekalahan dan turun ke peringkat 11. jika sampai 4 atau 5 kali menelan kekalahan bukan tidak mungkin tim meriam london tidak akan lolos ke liga champions bahkan europa League musim depan.


*Ditulis Oleh: Ahmad Sofyan Wahid, Jurnalis dan Pengamat Sepak Bola.

Catatan Muhammad Irsyad Suardi: Pendidikan dan Ketimpangan Sosial
Minggu, November 01, 2020

On Minggu, November 01, 2020

Catatan Muhammad Irsyad Suardi: Pendidikan dan Ketimpangan Sosial
PENYEBAB salah satu faktor tidak meratanya pendidikan keseluruh pelosok negeri dikarenakan akses masuk yang belum merata keseluruh pelosok negeri. 


Keadaan ini menjadi sebab utama tidak berjalannya proses pendidikan dengan baik ditiap tempat yang belum mendapat akses pendidikan, sehingga berdampak luas kepada ketimpangan sosial yang mengakibatkan pertumbuhan di wilayah yang mendapat akses pendidikan lebih cepat tumbuh daripada wilayah yang belum menyentuh pendidikan sama sekali. 


Akses pendidikan yang belum memadai memunculkan sejumlah ketimpangan disuatu daerah yang berakibat terhadap lambatnya laju pertumbuhan dari segi sosial,ekonomi dan budaya, dampaknya, tidak berjalannya proses interaksi pendidikan melalui gejala sosial yang bersinggungan langsung dengan proses ekonomi.


Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2015 menyebutkan, ada 4,9 juta anak yang tidak tercakup pendidikan. 


Mereka tercerabut dari dunia pendidikan karena faktor kemiskinan dan ketimpangan sosial, tinggal di daerah yang secara geografis sulit dijangkau dan jauh dari pusat ekonomi. 


Keadaan tersebut mengakibatkan semakin jauhnya jarak ketimpangan disuatu daerah sehingga berdampak kepada kebutuhan lainnya yang semakin mahal dan sulit dijangkau.


Sebagaimana yang telah pada 72 tahun yang lalu didalam Undang-undang Dasar 1945, pasal 31 yang menyebutkan “Bahwa setiap negara berhak mendapat dan mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya."


Ini adalah tanggung jawab pemerintah ataupun Negara dalam kemajuan bangsa ini.


Dalam pasal 31 ini, sudah empat kali terjadi perubahan Undang-undang. Namun, implementasi yang diharapkan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah belum menunjukkan keberpihakannya terhadap pasal diatas sehingga tingkat pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. 


Dari tahun ke tahun tingkat pendidikan di Indonesia tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Indonesia hanya berpredikat sebagai Follower (Pengikut) bukan sebagai Follow (yang diikuti). 


Dalam pasal diatas jelas-jelas menegaskan bahwa Negara dalam hal ini memberikan jaminan kepada seluruh anak bangsa, baik yang tinggal diperkotaan maupun yang tinggal tidak diperkotaan (pinggiran kota), bahwa wajib memberikan akses pendidikan dengan sepenuhnya. 


Bahkan, dalam salah satu ayat dalam pasal ini mengatakan bahwa pemerintah telah mengeluarkan anggaran sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk seluas-luasnya digunakan bagi dunia pendidikan diseluruh wilayah ditanah air indonesia tercinta.


Memang, pemerintah telah menyisihkan seperlima dari APBN, namun entah mengapa potret dunia pendidikan kita masih jauh dari kata layak. 


Lebih memprihatinkan lagi ketika mengetahui ada beberapa sekolah yang hanya beralaskan tanah untuk proses belajar-mengajar, dan mengetahui banyak gedung-gedung sekolah yang tidak layak untuk dijadikan sebagai sebagai tempat belajar. 


Maka tidak heran hingga hari ini masih kita temukan anak sekolah yang mengais rezeki dari hasil mengumpulkan botol plastik dijalanan dikarenakan tidak adanya biaya untuk bersekolah.


Ketimpangan Mulai Menyebar


Temuan survei terbaru dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Infid tahun 2017 menjelaskan bahwa, ketimpangan meningkat 84% dibandingkan tahun 2016 yang hanya 69%, hal ini menandakan angka ketimpangan di Indonesia meningkat perlahan-lahan sehingga kemiskinan kian bertambah yang berdampak pada pengangguran sehingga kemiskinan mulai menyebar dan mendominasi.


Temuan Infid ini berbeda dengan versi pemerintah Indonesia yang menyebut ada “sedikit penurunan” yang dirasakan oleh warga sebagai pintu paling timpang jika dibandingkan sumber ketimpangan lainnya. 


Warga yang berpenghasilan layak merupakan contoh terbanyak dibandingkan tahun sebelumnya, kemudian warga yang berpenghasilan kurang layak terbanyak kedua setelah warga yang berpenghasilan layak.


Gejala ini menunjukkan, adanya ketidakseimbangan antara faktor penyebab dan faktor pendukung antara proses yang terjadi ditengah masyarakat, sehingga pemerintah kewalahan menangani kasus-kasus ketimpangan yang terjadi di Indonesia saat ini. 


Setidaknya, Infid mencatat ada 10 ranah yang disebut sebagai sumber ketimpangan sosial di Indonesia; pertama, dari penghasilan rumah tangga. Kedua, pekerjaan suami/istri. Ketiga, rumah/tempat tinggal. Keempat, kekayaan/harta benda. 


Kelima, kesejahteraan keluarga (anak). keenam, akses pendidikan. Ketujuh, lingkungan tempat tinggal. Kedelapan, keterlibatan dalam berpolitik. Kesembilan, keterlibatan dalam hukum. Dan terakhir jaminan kesehatan.


Dari kesepuluh ranah diatas, semuanya saling berkaitan satu dengan yang lain sehingga bila terjadi pada satu ranah maka kemungkinan besar akan terjadi pula terhadap ranah lainnya yang semakin menyebar luas. 


Maka, oleh sebab itu, pemerintah dalam hal ini harus segera mencari data yang konkrit yang dapat menghitung angka riil dari ketimpangan sosial dan ketimpangan pendidikan melalui data BPS sehingga angka ketimpangan dapat diminimalisir melalui program-program yang telah dirancang oleh pemerintah sedemikian rupa.


*Ditulis Oleh: Muhammad Irsyad Suardi, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas.

Catatan ASW: Memaknai Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Minggu, November 01, 2020

On Minggu, November 01, 2020

NABI dan Rasul penutup para nabi adalah Muhammad SAW, dialah pembawa risalah yang merevolusi segala hal. 

Selain dikenal memiliki akhlak yang baik, dia adalah seorang politisi ulung yang hingga kini belum tergantikan, suri tauladannya terkenal ke seluruh alam semesta. 

Michaeh H. Hart dalam bukunya menempatkan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia dan mampu memberikan pengaruh luar biasa. 

Nabi Muhammad. SAW tercatat lahir pada 12 Robiul Awwal ( Tahun Gajah) atau 20 April 571 di kota Mekkah, Ibunya bernama Aminah dan ayahnya bernama Abdulloh. 

"Beliau selalu menjadi inspirasi baik dari kalangan muslim maupun non muslim, dan tercatat nama Muhammad dan Ahmad paling banyak di gunakan oleh manusia di bumi hingga saat ini". 

Risalahnya menjadi penyempurna agama-agama terdahulu, sosok yang namanya akan hidup hingga dunia ini berakhir. 

Selain pembawa  agama Islam, beliau adalah pedagang dan politisi ulung, dan sekali lagi menjadi inspirasi hingga semua kalangan usia. 

Melalui Maulid Nabi Muhammad SAW, mari kita membiasakan diri untuk  selalu berbuat baik terhadap manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. 

Tirulah segala kebaikan dan akhlak beliau yang membawa kedamaian, cinta kasih, dan penuh pengajaran.  Maknai dan resapi kisah kehidupan beliau. 

Mulianya seorang manusia bukan dari harta dan kedudukan, akan tetapi dari akhlak dan perbuatan kita terhadap sesama. Lakukan yang terbaik karena hidup di dunia hanya satu kali.

*Ditulis Oleh Ahmad Sofyan Wahid, Jurnalis dan Aktivis Kemanusiaan.

Catatan Ahmad Sofyan Wahid: Guncang Dunia atau Berikan Energi dan Pengaruh Positif
Jumat, Oktober 30, 2020

On Jumat, Oktober 30, 2020

JANGAN latah hanya ucapkan pekik sumpah pemuda tanpa kita berkarya untuk negeri.

Tepat 92 tahun yang lalu yaitu 28 Oktober Sumpah Pemuda di gaungkan oleh para founding fathers, dan menjadi tonggak perjalanan pergerakan kemerdekaan Indonesia. 

Tepat 28 Oktober 2020, semua orang mengucapkan selamat hari Sumpah Pemuda, dengan beberapa kalimat yang membangkitkan semangat untuk banyak hal.

Hampir seluruh instansi, organisasi dan individu mengucapkan hal tersebut dan kita diajak untuk meresapi serta memaknai tanggal sakral tersebut  tersebut.

“Sumpah pemuda harus dijadikan pelecut semangat, agar kita terus berkarya dan berinovasi, semakin semangat dalam menatap masa depan yang unggul”.

Presiden 1 RI Soekarno mengatakan berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan 10 pemuda maka akan guncang dunia.

Pidato dengan suara lantang dan pekik membara tersebut konteksnya masih zaman pra dan pasca kemerdekaan, wajar para anak muda dibakar semangatnya oleh sang proklamator ketika itu. 

Dalam sejarahnya, Nusantara adalah Atlantis yang hilang pada zaman dahulu, dan pernah menjadi pusat peradaban dunia sebelum india, mesir dan babilonia. 

Sejarah tersebut harus ditonjolkan agar kita tidak lagi menjadi bangsa minder kepada bangsa bangsa lain  dalam menghadapi kemajuan globalisasi.

Menurut sang Pena, anak muda saat ini jangan hanya terpaku pada kalimat mengguncang dunia saja, akan tetapi harus memberikan energi dan pengaruh postif kepada global dan memberikan Cahaya yang menghangatkan dunia.

Anak muda dituntut untuk berkreativitas banyak hal yang bisa di lakukan untuk berkreasi apalagi saat ini sudah zaman 4.0 revolusi industri, dan anak muda jangan ketinggalan akan hal tersebut.

Saya yakin jika anak muda millenial dan para aktivis dituntut untuk kreatif, maka tidak ada lagi pengangguran muda yang hanya mengandalkan ijazah untuk mencari pekerjaaan.

Sudah saatnya anak muda berkarya nyata untuk bangsa, kritik itu harus akan tetapi  disertai dengan solusi dan bukan karena ketidaksukaan secara pribadi.

Pesan saya terhadap anak muda jadilah pemuda yang kritis disertai kreativitas dalam memanfaatkan peluang dan dalam kondisi dan situasi apapun.  

*Ditulis Oleh Ahmad Sofyan Wahid, Jurnalis dan Aktivis Kemanusiaan.

Catatan Zeng Wei Jian: Stabilitas Politik
Senin, Oktober 26, 2020

On Senin, Oktober 26, 2020

BY USING statistical and econometric approach, stabilitas politik penting bagi economic growth. Lingkungan politik yang stabil adalah prasyarat sustainable development. 

World bank 1996-2019; Indonesia's Political stability index (-2.5 weak; 2.5 strong). Rata-rata -1.05 point. Termasuk lemah. Tahun 2003 titik terendah stabilitas politik (-2.09 point). Tahun 2019 stabilitas politik ada di angka -0.48 point

Democratic system trigger instabilitas politik. Karena, menurut Samuel Huntington, demokrasi "invites political pluralism". 

Paradox-nya, "Democracy can not arise in society that are prone to internal conflict," kata Giovanni Sartori. 

Target oposisi Nietzsche's morality of the slaves adalah menciptakan political instability. Cirinya asal beda dengan pemerintah. 

Cita-citanya ingin sekali menciptakan "Arab Spring" di Indonesian soil. Via social-media, mereka tebar hoax, hatespeech, dan fitnah. 

Giliran dicomot, mereka berdalih "itu kritik". Mereka erase garis pembatas antara kritik vs. caci-maki, fitnah, hoax, cyberbully, dan hujatan. 

Lalu mereka balik nyerang pemerintah persekusi aktivis. Faktanya para perusuh ditangkap karena nyebar hoax & provokasi. Kena pasal ITE. Bukan karena background "aktifis"-nya atau beda pendapat. Pliz dech. Ga usa ngada-ngada. 

Konsekuensi dari multi-party system. "Multi-party democracy experienced large-scale instability in terms of political violence, strikes, rallies & protests," kata Bingham Powell. 

Tugas Pemerintah; maintain order & stabilitas. Tangkap satu per satu perusuh & teroris. Pangkas putik-putik provokator. Rakyat full support. Infiltrate their blood stream. Tanam double agents.

Embrio instabilitas dihadapi dengan mengembalikan dimensi "stateness" dari nation state. Indonesia adalah nation state yaitu bentuk pemerintahan yang menggantikan the old form of polity i.e. polis & empire. Max Weber mengartikan "stateness" itu sebagai "A monopoly of legitimate use of physical force". 

In more critical situation, Pemerintah bisa adopsi "constitutional dictatorship". Konstitusi Amerika punya "dictator clause" yang menyatakan "the President may adjourn [congress] to such Time as he shall think proper". 

President Abraham Lincoln exercised extraordinary powers to preserve the Union. 

"Constitutional dictatorship" adalah a form of government during an emergency. Penguasa ngga bersifat absolute dan authoritasnya tetap dibatasi konstitusi. 

THE END

Catatan Muhammad Irsyad Suardi: Pemilu, Demokrasi dan Pilkada Kita
Kamis, Oktober 15, 2020

On Kamis, Oktober 15, 2020

Catatan Muhammad Irsyad Suardi: Pemilu, Demokrasi dan Pilkada Kita
BUNG Karno dalam pidato 28 Juli 1963 pernah mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Satu nafas ucapan bung karno itu, sampai sekarang masih terbukti dampaknya. Lihat saja setiap pemilu, setiap partai politik sering memandulkan lawan politik dengan isu negatif. Seperti SARA, menghasut, fitnah dan penyeberan hoaks. 


Satu contoh, pemilu 2019, Jokowi-Prabowo bertarung, hampir semua media sosial menyebarkan hoaks, hoaks tentang Jokowi anak PKI, hoaks tentang Prabowo lah, ini-itu. Semua melebar hingga tidak bisa membedakan mana fakta mana hoaks. Ini satu gambaran bagaimana system demokrasi kita belum matang. 


Ambil saja dari satu Negara tetangga, Malaysia. Setiap pemilu Malaysia tidak seheboh Indonesia. Malaysia juga menjadikan media sosial sebagai basis besar dalam strategi memenangkan pemilu. Tapi mereka dewasa, tidak menfitnah, menyebarkan hoaks dan tidak mengumbar hasutan. Kita saksikan bagaimana Anwar Ibrahim dengan lawan politiknya Mahathir Mohammad yang jauh senior.


Mereka tidak menjatuhkan lawan, mereka menggambarkan bagaimana Malaysia dimasa depan. Bagaimana situasi dan kondisi sekarang terhadap solusi dari setiap masalah. Mereka bertarung dengan ide besar, gagasan luas dan wacana kedepan untuk membangun Malaysia. Kita? Setiap pilkada, pemilu, pileg mesti menjatuhkan citra lawan politik dulu.  


Mengumbar aib lawan politik dan membalas dengan jalur hukum atas klaim yang ditebar ke masyarakat. Mungkin itulah maksud Bung Karno dalam pidato diatas, bagaimana sesama warga bangsa, sesama setanah air, sesame hidup didalam satu identitas symbol. Membuat perpecahan sesama manusia Indonesia.


System dan kualitas demokrasi kita perlu dimatangkan, bangsa-bangsa dunia perlu belajar ke Indonesia tentang bagaimana implementasi demokrasi sebenarnya, suatu saat. Dalam laporan BPS 2019, Indeks Demokrasi Indonesia dari 2017-2019 mengalami turun-naik, terdapat tiga aspek kategori: Pertama, aspek kebebasan sipil (civil society) dari 2017-2018 mengalami kenaikan, namun 2019 mengalami penurunan. Kedua, aspek hak-hak politik (political rights)  dari tahun 2017-2019 mengalami kenaikan yang sedikit. Ketiga, aspek lembaga demokrasi (institution of democracy) 2017-2019 mengalami kenaikan yang cukup signifikan.


Dari contoh jabaran tersebut menggambarkan tingkat kematangan system demokrasi di Indonesia. Sebenarnya, ada satu komparatif kasus antara Indonesia dengan Belanda. 


Di Belanda, khususnya universitas-universitas saat pemilihan dekan fakultas maka yang berwenang penuh memilih adalah rektor. Sedangkan di Indonesia jika telah habis masa jabatan dekan maka akan dilakukan pemilihan melalui voting suara. Inilah sebenarnya betapa masyarakat Indonesia sangat demokratis. Hal ini jarang sekali dibelahan dunia manapun. 


Konsep dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat sebenarnya cocok dijadikan slogan demoktrat-nya orang Indonesia dibandingkan Amerika Serikat. Kebebasan menyampaikan pendapat yang dilindungi Undang-undang harus menjadi lokomatif peraturan yang mesti ditaati tanpa mengabaikan koridor Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) sehingga yakin kedepan Indonesia akan menjadi role of model dunia.


Terakhir, soal pilkada, mesti dibangun satu system komplit agar kedepan para calon kepala daerah tidak terjebak budaya korup yang telah menghujam kuat dibumi Indonesia. Caranya? Dengan membangun satu system komplit yang kuat diatas asas UUD 45 dan Pancasila. 


Jangan lagi disibukkan oleh biaya politik yang mahal tapi pemerintah harus meng-anggarkan dana sekian banyak akan calon kepala daerah tidak berpikir bagaimana mengembalikan modal yang telah habis kemaren. 


Sebenarnya penulis dari mahasiswa sudah berpikir bahwa sebaiknya system demokrasi yang ada di Indonesia mesti digeser ke system duo partai. Artinya, system di Indonesia kedepan semestinya hanya membolehkan dua partai saja yang bertarung. Partai yang mewakili suara mayoritas dari berbagai golongan, suku, agama dan kepentingan. Semoga saja ya.


Ditulis Oleh: Muhammad Irsyad Suardi, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas

Youtube dan Perubahan Sosial
Sabtu, Oktober 03, 2020

On Sabtu, Oktober 03, 2020

Youtube dan Perubahan Sosial
HAMPIR semua milenial pasti mengetahui platform Youtube, mungkin yang tidak mengetahui hanya beberapa persen, dan itupun, boleh jadi mereka yang belum merasakan akses internet didaerah mereka tinggal.

Raffi Ahmad, Baim Wong, Atta Halilintar, Sule, Andre Taulany dan sederet artis lainnya yang telah memiliki akun channel. Mereka ini Rising Star dunia per- Youtube-an Indonesia saat ini. mereka popular, digandrungi, jadi rujukan, bahkan sahabat bagi kaum rebahan yang kerjanya hanya menghabis paket internet disudut kamar mereka.

Sederet artis ini telah menjadikan Youtube sebagai pendapatan tambahan karena banyak diantara mereka yang diliburkan karena dampak Covid-19. Pendapatan dari Youtube ini cukup menggiurkan jika dicermati. 

Sebut saja, Raffi Ahmad, lebih-kurang bisa menghasilkan 10 miliar per bulan. Begitu juga dengan Baim Wong, bisa menghasilkan 10-13 miliar per bulan (mengacu Data Social Blade 2020). Bagi mereka, ini merupakan bisnis sekunder yang bisa dilakukan berbarengan dengan aktivitas dan kegiatan sehari-hari.

Kalkulasi keuntungan yang mereka dapatkan, dilihat dari jumlah subscribe, lama nonton (watch time), dan iklan. Semakin banyak dan menarik video yang di upload maka akan semakin menambah jumlah penonton dan iklan yang akan ditayangkan. Sehingga, pendapatan akan semakin berlipat.
Fenomena inilah yang dikalangan milenial menjadi prospek yang menjanjikan.

Disamping kerjanya menyenangkan, hasilnya pun menggiurkan, tanda kutip, jika memenuhi ketentuan. Karena, diantara perilaku milenial, mereka tidak bisa dikekang bekerja dalam ruangan berlama-lama. Mobilitas milenial berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lain. Untuk itu, mereka sangat cocok berprofesi sebagai Youtuber.

Perubahan Sosial 

Sudah mafhum diketahui, dampak perkembangan youtube menjadikan para milenial lebih memilih dan cenderungan ke youtube. Selain bisa eksis, juga bisa cepat popular dikenal orang banyak karena perkembangan dari penonton yang terus bertambah. Sehingga, kalau kita lihat perkembangan youtube hampir kebanyakan dari pengguna platform lain beralih terjun ke youtube disebabkan beberapa keuntungan yang didapatkan lebih dibandingan platform lain. 

Jika dicermati, dari anak umur 6 tahun keatas sampai mereka yang remaja, 17 tahun keatas. Dapat diamati, dari kelompok teman, rata-rata hampir semua pengguna smartphones, mereka menunduk, menonton youtube, bermain game online dan mencari informasi yang bermanfaat (milenial bijak).

Menurut hasil riset pasar Statista 2020, Lembaga platform digital Indonesia, mengatakan, 92 persen pengguna internet menjadikan youtube sebagai tujuan pertama mencari konten video. Topik yang dipilih beragam. Makanan, teknologi, politik, sosial, budaya, internasional, komedi, lifestyle, berita dan banyak pilihan sesuai kebutuhan pengguna.

Dampak Negatif

Lalu, apa dampak buruk dari perkembangan youtube ini bagi sosial sekitar? Pertama, seseorang akan lebih individualis tanpa peduli terhadap lingkungan sosial. Contoh, Ketika seorang youtuber sedang membuat konten, mereka tidak akan peduli terhadap apa yang terjadi disekitarnya, mereka hanya memikirkan konten selesai dengan menarik dan sempurna.

Kedua, hal-hal yang seharusnya bersifat privasi menjadi konsumsi publik. Misal, masalah cekcok dalam rumah tangga, beberapa artis ada yang menjadikan masalah rumah tangga menjadi konsumsi publik yang seharusnya dirahasiakan dari mata publik. Tujuan mereka, agar semakin naik rate dan viral di media sosial. Sehingga, menjadi bahan perbincangan yang menempati puncak tertinggi. Atau istilah lain, trending topic.

Ketiga, sifat bangga memamerkan kebaikan yang telah dilakukan. Dalam islam disebut, riya. Yang seharusnya bersifat personal, namun demi sebuah konten menjadi konsumsi publik. Contoh, seorang youtuber merekam moment ketika bagi bantuan kepada kaum yang membutuhkan. 

Tukang kebersihan (seragam orange). Biasanya, diajak dialog dulu, menanyakan; berapa penghasilan, sudah makan apa belum, bagaimana keluarga dirumah, sekolah dimana anaknya, cukup tidak hasil dari bekerja, dan beberapa pertanyaan terkait yang mengundang simpati penonton.

Tiga persoalan ini, biasanya sering para youtuber menggunakannya sebagai keywords, yang dampaknya lebih mengena kepada para subscribers dan penonton. Maka, perlu kebijakan dan hati Nurani dari para youtuber, untuk lebih menggunakan cara-cara kreatif yang tidak merugikan salah satu pihak, yang menggunakan ide-ide kreatif, yang lebih mengedukasi penonton terhadap suatu konten. 

Banyak contoh, salah satunya, konten podcast Deddy Corbuzier yang memberikan pencerahan terhadap suatu isu, baik politik, sosial, budaya, criminal, korupsi dan sebagainya. Juga, konten Dahlan Iskan dan Sandiaga Uno juga dapat memberi edukasi yang mendidik bagi milenial. Sehingga, nilai-nilai kemanusiaan tidak menjadi dagangan komersil yang hanya mencari keuntungan materi semata.

Ditulis Oleh: Muhammad Irsyad Suardi, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas.

Catatan Zeng Wei Jian: Gerakan Moral Kakistocracy
Selasa, September 29, 2020

On Selasa, September 29, 2020

Foto: Zeng Wei Jian. Gerakan Moral Kakistocracy.

BRANI - braninya mereka nge-klaim "Gerakan Moral" alias "Ger-Mo". Panen cibiran. Shock. Lantas ngelez jadi Gerakan Politik Moral. Esensinya sama. Tetep aja; Narcissistic...!!

Setiap narcissistic terselip sadistic. Professional hazard. Demonizing orang lain. Mereka adalah "Pseudo-Moralist". 

Lord Buddha ngga perna menyatakan dirinya baik. Jesus Christ menyebut diri "Son of man". But the whole world agrees; They are Great personalities

Pengasong istilah "Moral" degrade and undermine sistem moralitas. Mereka produksi iklim moral intolerance dan kick-start a "moral arms race". 

Di article 'The Problem with Moralism', Alfred Archer menyebut terminologi "miscalibration" yaitu The moralist uses their 'almost correct' morality to apply excessive and unwarranted moral criticism to others.

"Miskalibrasi diri" does all the damage. Ngerasa diri bermoral & pemerintah amoral. 

Psychologist Albert Bandura menduga kriminal menjustifikasi aksinya dengan moralitas subjective. Merasa ber-moral adalah mekanisme memutus korelasi antara dirinya dengan immoral behavior yang dilakukan dan konsekuensinya.

Nyantai ngumpulin orang di saat Pandemic Covid-19. Sebodo amat dengan Protokol Kesehatan yang diterapin pemerintah. Semua perilaku bejat ini dijustifikasi sebagai "Gerakan Moral". 

Pseudo Moralis ngga tau diri. Roy Baumeister mengatakan, "The face of evil is no one's face". 

Klaim "Ger-Mo" dan "Politik Moral" dimanipulasi sebagai "pia fraus" atau "holy lie". Bullshiting seputar "Perjuangan" dan "Menyelamatkan Bangsa". Ngga ada yang dilakukan. Kecuali nyebar hoax, ngoceh & fitnah presiden. 

Mereka ngga bersuara saat Surya Gondrong rilis racial-hatespeech. Diem seribu bahasa sewaktu pembangunan gereja ditolak. Tapi nyatakan diri sebagai pluralist.

Ayelet Gneezy menyebut perilaku semacam ini dengan frase "minimal-costless prosocial acts". Ngga ngapa-ngapain tapi ngaku paling moralist & penyelamat bangsa. 

Tipe Gerombolan lebih buruk dari "Kaum Moral Licensing". Mereka bahkan ngga punya lisensi moral. Koruptor sarung tangan kok berani klaim diri sebagai Moralist. Benar-benar sakit jiwa. 

Standard Moral-nya masuk kategori Nietzsche's morality of the slaves

Nietzsche mengatakan perasaan being violated, weak, oppressed, suffering, unfree, insecure and weary merupakan sumber natural moralization para budak. 

Proses "moralisasi" itu menghasilkan common feeling of resentment dan syirik-dengki terhadap pemerintah. 

Revolusi moralitas the slaves ngga lebih dari "A big No to all that does not resemble them". Semua yang di luar grup-nya & ngga serve their interest disebut amoral. 

Seandainya Slave's morality-cum-subterranean revengeful mania dan penyuka paha perempuan ini dibiarkan berkuasa maka mereka akan menciptakan "kakistocracy" yaitu sistem pemerintahan yang dioperasikan by the worst, least qualified, and most unscrupulous citizens. 

American poet James Russell Lowell menyebut " Kakistocracy is for the benefit of knaves at the cost of fools".

Sebuah sistem yang menguntungkan para penipu di atas pengorbanan para pendukungnya yang go-block. 

The End

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah Saja
Kamis, September 24, 2020

On Kamis, September 24, 2020

Sumbar Butuh Pemimpin yang Mampu Memberantas Rentenir, Tak Sekedar Mengimbau dan Berceramah.
HARUS diakui, praktek rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) masih marak di Sumatera Barat sebagai daerah yang Pancasilais dengan falsafah adat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai."

Apatah lagi disaat pandemi corona ini, orang pada kesusahan, kesulitan keuangan, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan resmi susah pula, terpaksa mengambil jalan pintas, meminjam ke rentenir.

Padahal, rentenir memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi. Pinjaman ini tidak diberikan melalui badan resmi, misalnya bank, dan bila tidak dibayar akan dipermalukan atau dipukuli.

Praktek renten ini sangat sulit diberantas. Untuk itu, Sumatera Barat memerlukan pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk memberantas praktek riba yang diharamkan adat dan agama ini.

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah [2] : 275).

" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ' semuanya sama dalam dosa'." (HR Muslim no. 1598).

Pemimpin yang tak hanya pandai berceramah soal bahaya renten atau riba, tetapi pemimpin yang mampu membunuh praktek ribllllla tersebut dengan kekuasaan yang ada di tangannya.

Soal memberi pemahaman bahaya renten atau riba itu, serahkan saja lah kepada ahlinya, yaitu ulama yang paham dengan kitabullah, tak sekedar hafal, tapi tahu makna dan tafsir ayat, karena sedari kecil berkutat dengan itu.

Tugas pemimpin adalah membuat kebijakan atau regulasi, menyelamatkan rakyat dari bahaya renten, tengkulak penghisap darah rakyat, yang memiliki pertahanan yang kuat dari sentuhan hukum.

Rentenir atau tengkulak itu harus dibasmi, kalau memang bertekad mensejahterakan rakyat Sumatera Barat. Jangan malah maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ikut pula didanai rentenir, meminjam uang pula kepada mereka. Parah...!!!

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, anggota PWI Sumatera Barat dan Wakil Ketua SMSI Sumatera Barat.

Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah
Selasa, September 22, 2020

On Selasa, September 22, 2020

Ilustrasi. Jangan Pilih Calon Pemimpin yang Tak Pernah Berbuat untuk Daerah.
PILKADA kerap dijadikan ajang merayu rakyat haabis-habisan agar memperoleh simpati. Timses pun menjual calon yang dia jagokan dengan mengekspolitasi segala kelebihan yang dimilikinya.

Mulai dari kesolehan pribadi sampai kepada kesolehan sosial. Segala macam kebaikan jagoannya dibaca.

Padahal, timses itu sendiri juga bingung dengan apa yang dia sampaikan. Karena dia sendiri baru mengenal calon itu, sudah sok mengenal luar dalam pula. Rugi pula katanya rakyat tak memilih jagoan yang digalehkannya.

Tapi sudah lah. Itu kan timses, memang sudah ditraining menjual calon dengan mengeksploitasi kelebihan dan menutupi segala kekurangan dengan serapi-rapinya.

Tapi sebagai rakyat, kita punya akal dan budi dalam menilai dan menimbang dalam menentukan pilihan. 

"Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah : 284).

Secara logika saja, selama ini calon kepala daerah itu tak pernah berbuat untuk daerah ini. Sudah dicari kian kemari rekam jejaknya, tak terbaca barang setitik pun.

Lantas, Anda akan menggantungkan nasib daerah ini kepadanya? Apakah Anda ingin calon kepala daerah yang mengaku dekat dengan rakyat  menjelang Pilkada doank karena tertarik dengan uang?

Kemana akal budi Anda? Atau sudah Anda simpan di dalam kotak yang dikunci erat susah dikupak? Apa tak takut disindir ayat Tuhan ini?

"Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" (Al A'raf ayat 169).

"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS: Al-A'raf: 176).

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Qs. Al 'araf ayat 179).

Walllahu'alam bishawab.

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
Senin, September 21, 2020

On Senin, September 21, 2020

Sukses Jadi Imam di Keluarga, Layak Dipilih Memimpin Daerah
RAYUAN maut bakal calon kepala daerah mulai dilancarkan kepada masyarakat pemilih. Masing-masing bakal calon kepala daerah bersama tim sukses mereka sudah pula memetakan para pemilih berdasarkan indikator-indikator lembaga survei yang mereka pakai. 

Nah, rakyat sebagai penentu duduk atau taduduknya mereka di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ini, harus pintar-pintar dalam menentukan pilihan, kepada siapa hak suara itu akan dilabuhkan?

Sebab pertanggungjawabannya bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Apatah lagi, suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat adalah wakil Tuhan dalam menentukan pilihan. Rakyat yang membait mereka sebagai pemimpin. Bait yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat." (An Nisa ayat:58).

Banyak indikator yang dapat digunakan dalam menentukan pilihan di Pilkada ini. Salah satunya rekam jejaknya menjadi imam di dalam rumah tangganya. Sebab, kesuksesan jadi imam dalam keluarga, bisa menjadi tolak ukur dalam kemampuannya memimpin daerah. 

Mustahil seseorang yang gagal menjadi imam di ruang lingkup yang kecil seperti keluarga, akan berhasil menjadi imam bagi seluruh masyarakat di suatu daerah. Masa nasib daerah ini mau dipertaruhkan kepada orang yang gagal menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya.

Sebab, ditangan dia sebagai imam nasib keluarganya dipertaruhkan dunia wal akhirat. "Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang tanggungjawabnya." (Hadits shahih, Riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, dari Ibnu Umar).

Tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang akan melindungi nasib anak istrinya, apakah akan dijilat api neraka atau hidup bahagia di dalam surga. "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (At-Tahrim: 6).

Lantas, Anda akan mempertaruhkan nasib Anda dan daerah ini kepada seorang calon pemimpin yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda masih memakai logika sehat dalam menentukan pilihan, memberikan tampuk kekuasaan di daerah ini kepada orang yang gagal menjadi imam bagi anak istrinya? Apakah Anda akan membiarkan rakyat di daerah ini bernasib sama dengan anak istrinya? 

Apatah lagi, seorang calon kepala daerah itu doyan menggantung hak istri. Berbini dengan wanita muda, tapi nasib istri tua tak jelas juntrungannya. Digantung indak batali, nanti rakyat bisa-bisa digantung indak batali pula. Anda mau?

Camkan lah, "Tak ada pemimpin yang sukses sendirian. Keberhasilan sekecil apa pun yang dicapainya pasti berkat bantuan atau dukungan anak istri dan orang-orang di sekelilingnya."

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Anggota PWI Sumbar dan Wakil Ketua SMSI Sumbar.

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *