Headline

Opini

SOROT

Sports

Opini

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021  – (Bagian ke-2)
Sabtu, Mei 15, 2021

On Sabtu, Mei 15, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi – disingkat Kemendes PDTT saat ini telah mengalami metamorfosa – perubahan sebanyak 3 kali sejak awal keberadaannya.

Fase 1 : Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia baru dibentuk pada Kabinet Gotong Royong dalam masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001).

Fase 2 : Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kementerian ini diganti namanya menjadi Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan kemudian menjadi Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (2004 – 2014).

Fase 3 : Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Kerja, kementerian ini kembali berganti nama menjadi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (2015 – sekarang). Kemendes PDTT ini diatur dalam Perpres No. 12 Tahun 2015, tertanggal 21 Januari 2015. (Sumber: Laman resmi Kemendes PDTT)

Dalam rangka pelaksanaan amanah yang diemban juga dijadikan sebagai pedoman, maka dari itu Kemendes PDTT perlu menerbitkan sebuah buku, berjudul “Desa Mandiri, Desa Membangun” pada bulan Maret 2015. Visi diterbitkannya buku ini adalah pemberdayaan desa untuk menjadi desa yang kuat, mandiri, dan demokratis.

Tentu saja telah terjadi pergeseran paradigma antara Desa Lama menjadi Desa Baru yang tertuang di dalam buku tersebut. Berikut perbedaan Desa Lama dan Baru dilihat dari perspektif UU Desa, antara lain:

Desa Lama memiliki, 1) Payung hukum, UU No. 32/2004 dan PP No. 72/2005, 2) Azas utamanya adalah desentralisasi-residualitas, 3) Kedudukan adalah sebagai organisasi pemerintahan yang berada dalam sistem pemerintahan kabupaten/kota (local state government), 4) Posisi dan peran kabupaten/ kota dimana kabupaten/ kota mempunyai kewenangan yang besar dan luas dalam mengatur dan mengurus desa, 5) Posisi dalam pembangunan sebagai Obyek.

Desa Baru memiliki, 1) Payung hukumnya UU No. 6/2014, 2) Azas utamanya adalah rekognisi-subsidiaritas, 3) Kedudukan adalah sebagai pemerintahan masyarakat, hybrid antara self governing community dan local self government, 4) Posisi dan peran kabupaten/ kota dimana kabupaten/ kota mempunyai kewenangan yang terbatas dan strategis dalam mengatur dan mengurus desa; termasuk mengatur dan mengurus bidang urusan desa yang tidak perlu ditangani langsung oleh pusat, 5) Posisi dalam pembangunan sebagai Subyek.

Apa itu ‘Desa Membangun’?

Desa Membangun memiliki banyak keunggulan karena warga desa menjadi terlibat dalam proses membangun desanya. Paradigma ini memungkinkan warga desa menentukan sendiri prioritas dan visi pembangunannya sendiri karena keputusannya dilakukan dalam Musyawarah Desa.

Meski sama-sama membangun ruas jalan atau infrastruktur misalnya, hasilnya bakal berbeda karena partisipasi warga desa bakal membuat manfaat program menjadi jauh lebih besar. Hal seperti ini merupakan ruh atau semangat yang menjiwai UU No. 6/ 2014.

Apa itu ‘Desa Mandiri’?

Desa Mandiri adalah desa yang ada kerjasama yang baik, tidak tergantung dengan bantuan pemerintah, sistem administrasi baik, pendapatan masyarakat cukup.

Supaya lebih berdaya, masyarakat perlu menghormati aturan, kelestarian SDA – Sumber Daya Alam, memiliki kemampuan keahlian, ketrampilan, sumber pendapatan cukup stabil, semangat kerja yang tinggi, memanfaatkan potensi alam untuk lebih bermanfaat dengan menggunakan TTG - Teknologi Tepat Guna, mampu menyusun dan melaksanakan pembangunan desanya. (Bersambung).

*Ditulis oleh H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman.

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021 (Bagian ke-1)
Jumat, Mei 14, 2021

On Jumat, Mei 14, 2021

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 dan Pasca PP No. 11 Tahun 2021 (Bagian ke-1)
MASIH ingatkah pembaca dengan Program Nawa Cita Presiden Jokowi ketika berkampanye tahun 2014 silam?


Melihat kepada kenyataan perkembangan pembangunan saat ini yang makin marak, khusus di wilayah pedesaan, penulis tertarik untuk membahas di sisi ini tentang poin nomor 3 dari Program Nawa Cita Presiden Jokowi, “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”.


Menurut data BPS (2019), yang dirilis melalui Peraturan BPS No. 3 Tahun 2020, ditetapkan tanggal 15 September 2020, saat ini sudah ada desa/ kelurahan sebanyak 83.820 buah, dimana setiap tahunnya jumlah desa/ kelurahan terus bertambah sejak tahun 2014 yang berjumlah 81.626 buah.


Perbedaan signifikan pembangunan pedesaan sejak tahun 2014 dibanding tahun-tahun sebelumnya adalah sejak diterbitkannya UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa, pada tanggal 15 Januari 2014. Besaran Dana APBN yang dikucurkan dalam bentuk Dana Desa memberi arti positif bagi kehidupan masayarakat di desa bahwa Presiden Jokowi serius dalam membangun desa sebagai sentra ekonomi baru.


Undang-Undang tentang Desa bertujuan hendak mengangkat Desa pada posisi subjek yang terhormat dalam ketatanegaraan Republik Indonesia. Hal lain adalah bahwa pengaturan Desa akan menentukan format Desa yang tepat sesuai dengan konteks keragaman lokal.


Penguatan kemandirian Desa melalui Undang-Undang tentang Desa sebenarnya juga menempatkan Desa sebagai subjek pemerintahan dan pembangunan yang betul-betul berangkat dari bawah (bottom up).


Dilansir oleh antaranews.com (15/01/2021), Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi – Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar yang sering disapa dengan Gus Menteri, menyampaikan pidato Desa Tujuh Tahun UU Desa secara virtual di Jakarta (15/01), “Tata kelola pemerintahan desa, pembangunan desa, pembinaan masyarakat desa dan pemberdayaan masyarakat desa merupakan empat aspek wujud pengakuan negara pada desa.”


Sebagai wilayah terkecil, desa telah membuktikan diri mempu menuliskan sejarah panjang dalam perjalanan bangsa ini, kata Gus Menteri.


Ada 2 hal menarik yang penulis temui di dalam keterkaitan program antara Kemendes PDTT dan Desa, yakni adanya istilah Pendampingan Desa dan Pembinaan Desa.


Pendampingan Desa bukanlah mendampingi pelaksanaan proyek yang masuk ke desa, bukan pula mendampingi dan mengawasai penggunaan Dana Desa, tetapi melakukan pendampingan secara utuh terhadap desa. Pendampingan secara prinsipil berbeda dengan pembinaan.


Dalam Pembinaan Desa, antara pembina dan yang dibina, mempunyai hubungan yang hirarkhis; bahwa pengetahuan dan kebenaran mengalir satu arah dari atas ke bawah. Sebaliknya dalam pendampingan, para pendamping berdiri setara dengan yang didampingi (stand side by side).


Misi besar Pendampingan Desa adalah memberdayakan desa sebagai self governing community yang maju, kuat, mandiri dan demokratis. Kegiatan pendampingan membentang mulai dari pengembangan kapasitas pemerintahan, mengorganisir dan membangun kesadaran kritis warga masyarakat, memperkuat organisasi-organisasi warga, memfasilitasi pembangunan partisipatif, memfasilitasi dan memperkuat musyawarah desa sebagai arena demokrasi dan akuntabilitas lokal, merajut jejaring dan kerjasama desa, hingga mengisi ruang-ruang kosong di antara pemerintah dan masyarakat.


Intinya Pendampingan Desa ini adalah dalam rangka menciptakan suatu frekuensi dan kimiawi yang sama antara pendamping dengan yang didampingi. (Bersambung).


Ditulis oleh:  H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman

Peluang Usaha Minyak Nilam Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Senin, Mei 10, 2021

On Senin, Mei 10, 2021

Peluang Usaha Minyak Nilam Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani
TANAMAN nilam yang bernama latin Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth adalah tanaman perdu wangi yang memiliki daun berwarna hijau tipis dan tidak kaku. Daunnya berbentuk bulat oval dan bulat panjang – menyerupai jantung. Pada permukaan bagian atas daun terdapat bulu-bulu dan kasar, berwarna hijau tua keungun-unguan dan mengeluarkan aroma yang unik bila diremas, berbatang segiempat, mempunyai banyak cabang dan tumbuh sehingga 1 meter tinggi.


Untuk mendapatkan minyak pati (biang) nilam (patchouli oil),  daun tanaman ini dikeringkan terlebih dahulu selama 3-4 hari di atas rak bambu, sehingga mendapatkan berat kering kurang dari setengah berat semula. Adapun daun yang sudah kering lebih banyak menghasilkan minyak atsiri ketimbang daun yang masih basah.


Ada 3 cara untuk mendapatkan minyak nilam, 1. Direbus, 2. Dikukus, dan 3. Penyulingan dengan cara uap.


Minyak nilam ini memiliki sifat sebagai berikut : 1). Sukar menguap dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya, 2). Larut dalam alkohol, 3). Minyak dapat dicampur dengan minyak eteris – minyak terbang lainnya, 4). Minyak nilam punya banyak kegunaan, mulai dari pembunuh serangga, hingga bermanfaat pula sebagai obat-obatan.


Manfaat dan kegunaan minyak nilam yaitu : 1). Sebagai bahan campuran untuk parfum, 2). Sebagai aroma therapy, 3). Anti mikroba, 4). Sebagai anti oksidan, 5). Menyembuhkan dan menghilangkan bekas luka, 6). Mencegah kulit kering, 7). Bahan baku obat, 8). Anti serangga, 9). Merangsang hormon dan 10). Menyembuhkan dan menghambat luka dari sengatan racun ular berbisa.


Masa panen pohon ini terbilang singkat dan pemeliharaannya terbilang cukup mudah. Bahkan, di sebagian daerah Indonesia tumbuh liar sebagai tumbuhan semak. Masih sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa kandungan daun ini sangat bermanfaat untuk berbagai bidang industri dan bernilai ekonomi.


Melansir dari berita Ditjen Perkebunan Kementan RI (4/2020), “Indonesia merupakan negara produsen utama minyak nilam dunia, menguasai berkisar 95% pasar dunia. Saat ini, berkisar 85% ekspor minyak atsiri Indonesia didominasi oleh minyak nilam dengan volume 1.200-1.500 ton/tahun, dan diekspor ke beberapa negara diantaranya Singapura, Amerika Serikat, Spanyol, Perancis, Switzerland, Inggris, dan negara lainnya.” kata Kasdi Subagyono Direktur Jenderal Perkebunan dalam arahannya pada video conference meeting (1/4/2020).


“Prospek ekspor komoditi nilam pada masa yang akan datang masih cukup besar, mengingat tingginya permintaan dunia akan minyak nilam,” katanya. Fungsi minyak nilam adalah sebagai bahan pengikat (fiksator) dalam industri Parfum/Fragrance, kosmetik, farmasi, dan aromaterapi, sampai saat ini belum dapat disubstitusi oleh bahan yang lain.


Beberapa jenis nilam yang banyak dikembangkan di Indonesia diantaranya varietas tapak tuan, varietas sidikalang, varietas lhoksumawe dan varietas Pachoullina 1, dan 2 yang di kembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro).


Jalur pemasaran nilam untuk dalam negeri dapat dilakukan melalui pedagang pengumpul yang akan menyalurkan pada industri penyulingan. Industri penyulingan nantinya akan menyalurkan pada pedagang pengumpul di tingkat desa, kecamatan, atau kabupaten, ke pedagang perantara seperti agen eksportir, atau langsung pada pedagang ekspor yang akan mengekspor minyak nilam.


Agar usaha lebih menguntungkan dan dapat terus berjalan, petani nilam disarankan untuk memiliki alat penyulingan sendiri. Usaha ini dapat dilakukan bersinergi dengan BUMDes/ BUMNag yang ada di desa/ nagari.


Dengan demikian, petani dapat langsung melakukan penjualan secara mandiri kepada pihak eksportir (melalui BUMDes/ BUMNag) atau bahkan melakukan ekspor secara mandiri dengan memanfaatkan platform dagang digital, seperti: IDNStore, PaDi UMKM, TaniHUB, dan lain sebagainya.


Saat ini (2021), harga minyak nilam di Indonesia berada di kisaran Rp600 ribu sampai Rp700 ribuan per kg. Di Aceh Barat Daya misalnya, minyak nilam ditawarkan dengan harga berkisar Rp660 ribuan per kg di tingkat petani dan Rp700 ribuan per kg di tingkat penampung. Tidak jauh berbeda, di Touna, Sulawesi Tengah, minyak nilam dijual dengan harga Rp620 ribuan per kg.


Sahabat petani, apakah ada yang berminat menanam tanaman Nilam ini? 


Ditulis Oleh: H Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman.

Sikap Gotong Royong Menjadi Mahal Ketika Tak Ada Rasa Peduli Antar Sesama Dalam Membangun Desa
Sabtu, Mei 08, 2021

On Sabtu, Mei 08, 2021

HIRUK pikuknya kehidupan Kota Metropolitan Ibukota Jakarta akhirnya membawa saya kembali ke desa. Sebagai orang desa, saya merasakan betapa indahnya hidup ini. Kentalnya rasa persaudaraan, sikap gotong royongnya, dan besarnya rasa kepedulian serta adanya saling menghargai antar sesama warga desa.

Itu dulu!  Pengalaman saya hidup di desa sekitar tahun 70-an sampai tahun 90-an. Pada bulan Maret tahun 1996 saya melangkahkan kaki pergi merantau segera setelah menyelesaikan pendidikan dibangku perkuliahan di Universitas Andalas Padang.

Merantau dan menuntut ilmu di negeri orang merupakan ciri khas orang Minangkabau sejak dahulunya sesuai dengan pepatah adat yang berbunyi, “Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu di rumah paguno balun” (jika di kampung belum bisa berbuat banyak untuk orang banyak, sebaiknya merantau dahulu).

Keindahan hidup di desa yang pernah saya alami dahulu, tidak lagi saya temui di masa sekarang (sejak tahun 2016 - 2021). Banyak hal telah berubah. Yang belum menampakkan perubahan secara signifikan – berarti adalah taraf hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Kemiskinan masih membayangi kehidupan masyarakat di desa.

Melansir data BPS (2018) tentang Indeks Pembangunan Desa (IPD), 5.606 desa mandiri (7,43%), 55.369 desa berkembang (73,40%) dan 14.461 desa tertinggal (19,17%) dari jumlah desa secara keseluruhan di Indonesia sebanyak 75.436 desa. Desa saya, Nagari Guguak Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat termasuk ke dalam kategori ‘Desa Berkembang’.

Indeks Pembangunan Desa (IPD) adalah indeks komposit yang menggambarkan tingkat kemajuan atau perkembangan desa pada suatu waktu (BPS (2018) – IPD, hal.11)

Ada perbedaan secara kasat mata membandingkan antara membaca data BPS tersebut dengan kenyataan di lapangan, sehingga timbul pertanyaan dalam fikiran saya, “Apakah data yang diberikan oleh pemerintahan desa/ nagari kepada pemerintah pusat – Kemendes PDTT sudah sesuai dengan kenyataan di lapangan?” dan atau “Apakah petugas yang diberikan amanah – Pendamping Desa beserta aparat desa/ nagari benar-benar terjun melakukan pendataan ke lapangan?”.

Meninjau langsung ke beberapa desa/ nagari yang ada di Sumatera Barat ditambah dengan bacaan dan referensi yang terkait, dapatlah kiranya penulis mengambil sebuah kesimpulan tentang penyebab kemiskinan adalah sikap gotong royong dan kepedulian masyarakat dalam membangun masih rendah.

Sikap individual tinggi, sehingga kurangnya rasa kebersamaan atau kekompakan dalam mewujudkan kemajuan desa. Selain daripada itu, sikap pemimpin di tingkat desa/ nagari – Wali Nagarinya masih arogan dan tidak merangkul potensi SDM  - Sumber Daya Manusia yang baik.

Melansir data BPS (15/07/2020), pada bulan Maret 2020, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Sumatera Barat mencapai 344,23 ribu orang (6,28 persen), bertambah sebesar 1,14 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2019 yang sebesar 343,09 ribu orang (6,29 persen).

Data di atas memberi cerminan kepada kita bahwa jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat makin bertambah.

Melalui media ini, penulis menghimbau kepada para pemimpin – Wali Nagari serta masyarakat secara keseluruhan, marilah tumbuhkembangkan kembali sikap gotong royong, rasa peduli serta kebersamaan – kekompakan dalam membangun desa/ nagari. Wujud nyata adanya Dana Desa yang dikucurkan oleh Pemerintah Pusat adalah terciptanya kemandirian desa serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat di desa sesuai amanat UU No.6/ 2014 tentang Desa. 

"Penulis H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman.

Perbandingan Puisi Anggun Nan Tongga Karya Darman Munir dan Puisi Ombak Laut Sailan Esha Karya Tegar Putra
Kamis, Mei 06, 2021

On Kamis, Mei 06, 2021

Perbandingan Puisi Anggun Nan Tongga Karya Darman Munir dan Puisi Ombak Laut Sailan Esha Karya Tegar Putra
LIRIK Puisi:

Anggun Nan Tongga 

Masih terngiang saat alm Hamid menyuruh membaca puisi ini,walau waktu itu aku belum begitu paham akan maknanya...kini berselang 23 tahun terlewati dan saat perjalanan hidup ini membawa pada makna anggun nan tongga,serak suara serasa ingin kembali menyuarakan puisi yang terasa agung dan khidmat ini,,salute for darman munir,,,terimakasih utk 50 ribu rupiahnya alm hamid yang sangat sangat berharga di zaman susah itu...


walau tiada pada peta, gunung Ledang itu pun bukan tujuan terakhirnya

tetapi ia memang lelaki yang gagah perkasa,

serta arif terhadap cuaca dan warna


kucabik-cabik daun sejarah,

kulangkahi telapakmu ini,

kuhadang siapa di depan,

dan kusebut: Tuhan!


Anggun nan Tongga pun membangkit batang terendam

sampai di negeri Champa

dan pada akhirnya bersua jua dengan makna


kukumpul dan kusandang seratus tiga puluh mainan untukmu

kuingat lentik jarimu ketika darah menetes di tanganmu

aku belum mati, bersyukurlah

dan kini dadaku penuh oleh makna yang hilang dan kerinduan...


pulang dengan kemenangan, rumah nan gadang tiba-tiba jadi sunyi

ia menampak apa pun tidak

tidak juga mimpi!


adakah siapa yang berkisah

[bahwa] aku sudah menyauk di air yang tenang

menggunting dalam lipatan

menyeka janji terpatri

ataukah mengubah kiblat abadi?


berlari ke gunung rahasia itu

dan ketika terdengar suara perempuan memanggil-manggil namanya:

Angguuuunnnnn.....! Anggun nan Tonggaaaa.......!

dia berlari menembus awan, menuju bulan.


Ombak Laut Sailan


Ombak laut sailan, sibakkan gerbang gelombang

sebab kibaran selempangku akan membuat langit gelap.


Dari pusar arus telah aku tunggangi belasan mambang, telah

aku suruh mereka memanggil segala angin segala dingin, aku

seraya mereka meruntuhkan tebing runcing segala pulau.


Dari gelanggang penyabungan ayam di Sungai Geringging

aku datang buat merompak urat jantung seseorang dari kaum

penggila selawat, kaum penggila nubuat.


“Nan Tongga, aku inginkan seekor nuri pandai bernyanyi

juga sehelai kain cindai berjambul kuning yang tak basah

direndam air, kain yang jika dikembangkan akan selebar

alam, yang jika dilipat seukuran kuku kelingkingku.”


“Tapi Gondoriah, telur burung di sarang manakah yang

telah menyembunyikan cindai seperti itu?”


Ombak laut Sailan, sibakkan pintu gelombang, berilah jalan

bagi para mambang. Maka aku akan tunai sebagai petualang.


Analisis

Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayu cerita ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal. Kaba ini juga dibuatkan puisi nya seperti karya Darman Munir dan ombak laut sailan karya Esha Tegar Putra


Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120 buah benda dan hewan langka dan ajaib.


Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali. Maka tidak heran juga kaba tersebut juga ada puisi yang dibuatkan pertama tentu karya kaba.


Teori yang relevan untuk membandingkan puisi ini yaitu Intertekstual adalah sebuah pendekatan untuk memahami sebuah Teks sebagai sisipan dari teks-teks lain. Intertekstual juga dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa lampau dengan teks masa kini. Suatu teks dipahami tidak berdiri sendiri karena kedua puisi ini berhubungan dengan kaba anggun nan tongga maka diperlukan teori cocok untuk menganalisis puisi dari kedua ini yang berjudul anggun nan tongga karya Darman Munir dan Esha Tegar Putra ini, karena isi dari kedua puisi ini hampir sama tapi puisi pertama yang lahir yaitu puisi Darman Munir ini dan yang kedua tentu  karya Esha Tegar Putra ini.


Hal ini keduanya tentu memiliki hubungan dari teks sebelumnya. Tentu puisi ombak laut sailan secara tidak langsung memiliki referensi terhadap puisi karya daman munir ini. Tentu hal ini menjadi landasan bahwa setiap karya sastra tentu ada teks yang mendahuluinya. 


Puisi sulit mencari maknya tetapi dengan tanda-tanda seperti dalam lirik puisi ombak laut sailan ini tentu menyebut sungai geringging, ombak, laut, penggila selawar dan nubuat tentu merujuk pada cirikhas daerah Pariaman.


Tentu hal ini menjadi landasan tersendiri untuk membandingkan dengan anggun nan tongga karya Munir ini. Puisi anggun nan tongga jelas didalam nya membahas tentang bagaimana dia bersama gandoriah dan sebagai nya tetapi dalam puisi ombak laut sailan ini maka hal ini menjadi sulit dicari maka dengan menyebut anggun nan tingga didalam liriknya dan juga gandoriah maka hal ini jelas puisi ini membahas juga tentang kisah cinta anggun nan tongga dan juga Gandoriah yang tidak boleh menikah oleh agama tersebut. 


Pengarang satu dari pengarang lain menerima gagasan anggun nan tongga dipuisikan, contohnya sudah ada dua buah puisi yang ada dalam kaba ini. Naskah ini Merupakan Adaptasi dari Kaba dan Naskah Drama "Anggun Nan Tongga" .


*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid  Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek

Makna Keberadaan Seorang Sahabat Ketika Dalam Keadaan Rapuh
Kamis, Mei 06, 2021

On Kamis, Mei 06, 2021

Makna Keberadaan Seorang Sahabat Ketika Dalam Keadaan Rapuh
DITULIS Oleh: H. Ali Akbar


“Keep smiling, keep shining

Knowing you can always count on me, for sure

That's what friends are for

For good times and bad times

I'll be on your side forever more

That's what friends are for”


Lirik di atas merupakan penggalan dari sebuah lagu yang berjudul, “That’s What Friends Are For”. Lagu ini pertama kali dibawakan oleh Rod Steward pada tahun 1982, dimana liriknya ditulis oleh Carole Bayer Sager dan Burt Bacharach. Lagu ini justru menjadi terkenal sejak dirilis ulang oleh Dionne Warwick with Elton John, Gladys Knight & Stevie Wonder, pada tahun 1985, dalam rangka penggalangan dana untuk sebuah amal yang dilaksanakan di Amerika dan Inggeris.


Dari lagu di atas dapat penulis ambil makna yang terkandung didalamnya, yakni tentang pertemanan yang baik, teman akan selalu bersama apapun yang terjadi. Jika kita meminta bantuan kepada teman, teman kita akan menolong kita, begitu juga sebaliknya.


Berdasarkan pengalaman hidup penulis sendiri bahwa ketika hidup kita berjaya, terkenal, kaya harta dan banyak fasilitas yang dimiliki, siapa saja akan mendekat bahkan termasuk mereka yang awalnya kita tidak mengenalnya sekalipun.


Namun, ketika kita berada dalam keadaan jatuh bangkrut, terpuruk dan tidak punya apa-apa, maka teman yang banyak mengelilingipun berangsur menghilang. Tinggallah diri sendiri dalam kesunyian. Hilang hiruk-pikuk, hilang keramaian bahkan hilang pula pertemanan.


“Ada gula, ada semut,” demikian pepatah mengingatkan. Ada pepatah lainnya yang berbunyi, “Seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak.”


Kehidupan ini ibarat ‘roda berputar’, ada saat kita berada di atas dan di pertengahan atau bahkan berada di bawah. Semua keadaan itu hakekatnya adalah ‘pembelajaran’. Ya, dibutuhkan sifat sabar, syukur dan ikhlas serta tawadhu’ (rendah hati). Kaya, miskin, hina dan mulia merupakan layaknya pakaian yang kita pakai di badan. Semua orang yang hidup di bumi ini akan mengalaminya.


Walau ketika berada di bawah, kita tidak lantas menghilangkan kebaikan yang pernah dilakukan oleh teman-teman tadi. Tak elok menghilangkan kebaikan orang lain. Untuk hal ini, penulis sangat bersyukur kepada Tuhan dan mengucapkan terima kasih banyak kepada sahabat atau teman, bernama Syafril Rasyid dan Syofiery Sofyan – teman sejak sekolah menengah pertama di Kota Padang.


Banyak hal yang penulis pelajari dan terima dari ucapan dan nasehat yang diberikan, sehingga secara perlahan dan pasti ‘semangat hidup’ penulis kembali bergelora.


Pembaca yang budiman, sebagai penutup tulisan ini ada baiknya penulis berbagi resep tentang ‘Manfaat Persahabatan bagi Kesehatan’ yang dilansir dari ‘klikdokter.com’ (18/11/2020), sebagai berikut:


1. Meningkatkan Kekebalan Tubuh

2. Bikin Panjang Umur

3. Menjaga Pikiran Tetap Tajam

4. Mengurangi Stres

5. Membantu Menurunkan Tekanan Darah

6. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

7. Meningkatkan Kebahagiaan

8. Membantu Menjaga Berat Badan Ideal

9. Meningkatkan Kualitas Hidup Seseorang

10. Meningkatkan Taraf Kesehatan Secara Keseluruhan.  


(*)

Uang Para Investor 212 Mart Diduga Raib, Alifurrahman: Bisa Jadi Digunakan Biayai Rizieq Selama di Arab
Rabu, Mei 05, 2021

On Rabu, Mei 05, 2021

Uang Para Investor 212 Mart Diduga Raib, Alifurrahman: Bisa Jadi Digunakan Biayai Rizieq Selama di Arab
BENTENGSUMBAR.COM - Alifurrahman, host 2045 TV mencurigai bahwa uang para investor 212 Mart yang kini tak jelas keberadannya telah digunakan untuk membiayai Rizieq Shihab selama tinggal di Arab beberapa tahun.


Seperti dilansir dari Kompas TV pada Minggu, 2 Mei 2021, ratusan warga melaporkan dugaan investasi bodong 212 Mart ke Polresta Samarinda, Kalimantan Timur.


Para pelapor mendatangi Mapolresta karena merasa ditipu oleh pengurus Koperasi 212 Samarinda yang mengundang investasi untuk mendirikan pusat perbelanjaan 212 Mart.


Alifurrahman lantas mempertanyakan ke mana uang para investor yang totalnya miliaran itu.


Pernyataannya dapat dilihat dalam  video berjudul ‘Alifurrahman: 212 Mart Penipuan, Uangnya Dipakai Rizieq?’ yang tayang di 2045 TV pada Selasa, 4 Mei 2021.


Alifurrahman awalnya menyinggung soal uang donasi hasil penggalangan dana untuk membeli kapal selam pengganti KRI Nanggala 402 yang ditolak TNI AL.


“Itu kan TNI gak mau gitu, terus uangnya ke mana? Ditilip sendiri pasti. Nah sama kayak ini nih, 212 Mart ini, udah terkumpul uang banyak begitu, ini penyalurannya ke mana?” katanya.


Pimpinan Seword ini lantas mengaitkannya dengan cerita kaburnya Rizieq Shihab ke Arab Saudi dan menetap di sana selama beberapa tahun.


“Sementara di sisi lain, ada cerita Rizieq 3 tahun di Arab Saudi tanpa bekerja bisa hidup mewah, 3 tahun. Itu uangnya dari mana?” kata Alifurrahman.


Pimpinan Seword ini menyebut bahwa mungkin biaya hidup Rizieq itu berasal dari beberapa tokoh seperti Fadli Zon, Prabowo Subianto, hingga Tommy Soeharto.


“Terus kemudian apakah ada kaitannya dengan ini, dengan 212 Mart ini? Karena bisa jadi, uang 212 Mart ini dijadikan logistik untuk membiayai Rizieq selama di Arab Saudi selama tiga tahun itu,” kata Alifurrahman.


“Bisa gitu. Apa yang gak bisa? Wong mereka kan selama ini ketika kita tanya ketika Rizieq masih di Arab gitu, kita tanya gimana ceritanya Rizieq bisa hidup 3 tahun di Arab Saudi sementara dia gak kerja, keluarganya hidup mewah, gimana ceritanya?” sambungnya.


Alifurrahman mengatakan bahwa jawaban yang diberikan pihak Rizieq adalah “Ya kita umat itu sumbangan, ya umat itu punya usaha, punya 212 Mart, dan seterusnya.”


“Itu jawabannya dan sekarang 212 Mart-nya penipuan, uangnya gak jelas ke mana, kemudian barang-barangnya sudah habis hilang, dan itu perlu diinvestigai jauh apakah ada kemungkinan uang itu digunakan untuk bayar Rizieq,” lanjut Alifurrahman.


Adapun dugaan penggelapan atau penipuan investasi 212 Mart telah bermula sejak Oktober 2020, mulai dari gaji karyawan yang belum dibayarkan, hingga operasional 212 Mart ditutup tanpa pengembalian investasi yang dibayarkan.


Pengurus koperasi pun menghilang dan sulit dihubungi. Akhirnya, para investor pun melapor polisi.


Setelah resmi mendapat laporan dari investor 212 Mart, polisi lalu menyelidiki kasus tersebut lebih jauh.


Source: makassar.terkini.id

Podcast Hari Pendidikan Nasional, Presiden Jokowi Berpesan Jadilah Pembelajar Sejati
Selasa, Mei 04, 2021

On Selasa, Mei 04, 2021

Podcast Hari Pendidikan Nasional, Presiden Jokowi Berpesan Jadilah Pembelajar Sejati
Ditulis Oleh: H. Ali Akbar


Bicara mengenai Pendidikan di Indonesia, kita juga harus membicarakan tokohnya, Ki Hajar Dewantara, yang terkenal dengan semboyannya: Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso dan Tut wuri handayani. Artinya, Di depan memberi teladan, Di tengah membangun kemauan, Di belakang memberi dorongan dan pengaruhnya.


Setiap tahun pada tanggal 2 Mei, dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional, mengenang hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, 2 Mei 1889, di Pakualaman, Yogyakarta. Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Sekaligus sebagai pencetus lahirnya sistem pendidikan nasional bagi kaum pribumi dengan nama Taman Siswa, berdiri pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta.


Ki Hajar Dewantara dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI, Ir. Soekarno pada tanggal 28 Nopember 1959. Nama beliau diabadikan menjadi salah satu dari nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Kemudian pada tahun 1998, fotonya diabadikan sebagai uang kertas Rp.20.000,-.


Ada yang istimewa pada perayaan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei tahun 2021, dimana baru pertama kali Presiden RI, Joko Widodo melakukan ‘podcast’ bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI (Kemdikbud-Ristek), Nadiem Anwar Makarim atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Mas Menteri’ melalui channel Youtube Sekretariat Presiden.


Dalam ‘podcast’ tersebut, Presiden Jokowi mengemukakan semangat Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan itu haruslah memerdekakan kehidupan manusia. Kemerdekaanlah menjadi tujuan. Di Indonesia, dengan berbekal pendidikan, semua orang boleh menjadi apa saja, tetapi selalin itu harus juga menghormati kemerdekaan orang lain.”


Kemudian Presiden Jokowi melanjutkan, “Sistem Pendidikan Nasional haruslah memerdekakan manusianya dan membangun jiwa dan raga bangsa.”


Mas Menteri bertanya kepada Presiden Jokowi, “Apa kemajuan pendidikan yang diharapkan?”.


Presiden Jokowi menjawab bahwa, “Yang menjadi harapan adalah pendidikan untuk semua – inklusif, sampai ke pinggiran, ke pelosok tanah air. Pendidikan yang berkualitas dan kompetitif – berjalan bersamaan.”


Dalam dialog tersebut, Mas Menteri menjelaskan kepada Presiden Jokowi beberapa terobosan yang telah dan akan dilaksanakan, seperti: digitalisasi sekolah, ujian nasional menjadi asesmen nasional, survey karakter, program guru penggerak, transformasi keuangan, dana BOS – Bantuan Operasional Sekolah Majemuk, paket laptop untuk sekolah dan perangkat pendukungnya.


“Keseragaman itu belum tentu keadilan,” demikian Mas Menteri berulang kali menyebut kalimat tersebut kepada Presiden Jokowi.


Dalam ‘podcast’ ini keduanya terlihat kompak dan saling mengapresiasi. Hal ini sebagai cerminan betapa pentingnya dalam sebuah kerja team. Mas Menteri terlihat lugas dan berbicara tanpa beban, selaras dengan konsepnya, MERDEKA BELAJAR. Mas Menteri selalu punya solusi atas setiap masalah, dan dia nampak cukup mengenal permasalahn dunia pendidikan dengan baik.


Terakhir, Presiden Jokowi berpesan, “Jangan berhenti belajar, walau sedang Pandemi (Covid-19). Justru gunakan untuk belajar sekarang ini secara mandiri dan menjadi pembelajar sejati. Ilmu dari sekolah atau dari kampus itu bisa menjadi suatu saat itu usang – menjadi jadul. Tapi, kalau selalu belajar sepanjang zaman yang akan terus bisa relevan. Artinya, memang kita harus belajar terus.” 


(*)

Jazakallah Khairan sebagai Ucapan Terima Kasih kepada Orang yang Telah Membantu Kita
Senin, Mei 03, 2021

On Senin, Mei 03, 2021

Jazakallah Khairan sebagai Ucapan Terima Kasih kepada Orang yang Telah Membantu Kita
OLEH: HAJI ALI AKBAR


ADA 3 kata yang seringkali seseorang berat dan enggan untuk mengucapkannya, “Terima Kasih”, “Ma’af” dan “Tolong”. Dalam konteks hubungan sosial, maka kata-kata tersebut termasuk ke dalam pelajaran ‘adab, tata krama atau akhlak.


Pada kesempatan ini penulis hanya membahas terkait dengan kata “Terima Kasih”. Kamus Besar Bahasa Indonesia – KKBI menjelaskan bahwa terima kasih /te·ri·ma ka·sih/ n rasa syukur; berterima kasih /ber·te·ri·ma ka·sih/ v mengucap syukur; melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.


Pembaca tentu pernah mendengar ucapan dari seseorang, “Jazakallah Khairan”, “Jazakillah Khairan” atau “Jazakumullah Khairan”. Pengucapan tersebut berasal dari Bahasa Arab yang digunakan untuk mengutarakan terima kasih kepada seseorang atas bantuan atau pemberian dari orang lain.


Ucapan terima kasih dalam Bahasa Arab untuk laki-laki - tunggal berbeda dengan untuk perempuan – tunggal dan berbeda pula untuk jamak – lebih dari 1 orang. Hal ini didasari bahwa penggunaan kata di dalam Bahasa Arab itu berdasarkan gender.


“Jazakallah Khairan” – ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan’, digunakan kepada laki-laki tunggal. “Jazakillah Khairan” digunakan kepada perempuan tunggal. Sedangkan “Jazakumullah Khairan” digunakan kepada lebih dari 1 orang – jamak.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Barangsiapa diperlakukan baik oleh orang lain kemudian ia berkata kepadanya “Jazakallah Khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya”. (HR. Tirmidzi, Al Albani berkata: “shahih”)


Lantas, apakah ucapan terima kasih dengan memakai Bahasa Arab tersebut kita bisa langsung di-cap ‘ke-Arab-arab-an’? Jawabannya, TIDAK!


Sebab, bagi seorang muslim, ucapan terima kasih dalam Bahasa Arab tersebut ada terselip do’a di dalamnya, jadi bukanlah sekedar ucapan terima kasih ansich atau biasa-biasa saja.


Ustadz Dr. Khalid Basalamah MA, dalam satu ceramahnya pernah menjelaskan tentang penggunaan ucapan Jazakallah/ Jazakillah Khairan Katsiran ini.


"Jazakallah itu artinya 'semoga Allah SWT membalas Anda', saat Anda mengatakan Jazakallah saja, apa yang dibalas Allah untuk Anda? Artinya ada yang kurang."


"Justru kata 'Khairan' itu yang jadi pelengkapnya. Jadi artinya, semoga Allah SWT membalas Anda dengan kebaikan," tambah ustadz Khalid Basalamah.


Lain daripada itu, ada pula yang memberi tambahan di dalam kata, “Jazakallah Khairan” dengan “Katsir”, sehingga menjadi “Jazakallah Khairan Katsir” yang berarti semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak. 


(*)

Bagaimana Dana Desa Bisa Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi serta Sumber Daya Manusia (SDM) di Pedesaan?
Jumat, April 30, 2021

On Jumat, April 30, 2021

Bagaimana Dana Desa Bisa Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi serta Sumber Daya Manusia (SDM) di Pedesaan?
DITULIS OLEH: H. ALI AKBAR


DANA Desa adalah dana yang dialokasikan dalam APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.


Alokasi Dana Desa dihitung menggunakan dua aspek yaitu pemerataan dan keadilan. Aspek pemerataan tercermin dari alokasi dasar dimana setiap desa mendapatkan nilai yang sama. Sedangkan keadilan tercermin dari formula yang ditetapkan berdasarkan beberapa komponen dalam desa tersebut.


Sejak diberlakukannya UU No. 6/ 2014 tentang Desa, dimana Dana Desa disalurkan melalui Dana APBN pada tahun 2015 sampai tahun 2020 (selama 6 tahun), telah mencapai Rp.323 triliun. Selama 6 tahun ini, setiap desa menerima Rp.6 miliar atau setara dengan Rp.1 miliar setiap tahunnya.


Pertanyaannya adalah apakah sampai sekarang Dana Desa sudah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat di pedesaan?  Apakah penggunaan Dana Desa sudah memberikan dampak positif bagi kemajuan pembangunan di pedesaan?  Apakah adanya Dana Desa ini mampu mengangkat atau meningkatkan taraf kehidupan masyarakat menuju sejahtera?  Seberapa besar manfaat Dana Desa untuk meningkatkan kualitas SDM – Sumber Daya Manusia di pedesaan?


Bicara mengenai Dana Desa, ada beberapa hal yang terkait untuk kemajuan – baik pembangunan fisik maupun SDM di pedesaan, seperti: APB Desa, Pendamping Desa dan BUMDes – Badan Usaha Milik Desa.


Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar mengatakan, pembangunan dari dana desa harus dirasakan oleh seluruh warga desa tanpa terkecuali, termasuk bagi pekerja migran yang berada di luar negeri.


Hal tersebut dikatakan pada Webinar Studi Kuantitatif dan Kualitatif tentang Peran dan Kapasitas Desa dalam Perlindungan dan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (28/4).


“Seluruh aspek pembangunan harus dirasakan oleh masyarakat desa tanpa terkecuali, no one left behind (tidak ada yang terlewat). Termasuk pekerja migran,” ujarnya.


Dalam kesempatan yang lain, Mendes PDTT yang akrab disapa Gus Menteri mengatakan, Pendamping Desa miliki peran penting dalam upaya menarik investor masuk ke desa. Untuk itu, ia meminta Pendamping Desa serius dalam melakukan pendataan tentang desa.


"Investor itu kalau mau masuk ke desa ya lewat Kementerian Desa, Pembangunam Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Bicara soal ekonomi makro, mikro, potensi yang bisa dieksplorasi. Ini kuncinya ada di Pendamping (Desa). Makanya saya selalu bicara soal data," ujar Gus Menteri.


Gus Menteri mengatakan, Pendamping Desa tidak hanya bertugas untuk mendampingi proses pembangunan di perdesaan, namun juga mendampingi pembangunan di daerah tertinggal dan kawasan transmigrasi. Untuk itu, ia tengah berupaya agar para Pendamping Desa bisa segera mendapatkan peningkatan kesejahteraan.


Sementara itu, setelah diterbitkannya PP No.11 Tahun 2021 tentang BUMDes, maka BUMDes sudah selayaknya mengalami perubahan paradigma dari sebagai badan usaha menjadi badan hukum, yang memiliki kewenangan kuat untuk menghasilkan Pendapatan Asli Desa.


Bagi Kepala Desa yang jeli dan memiliki pandangan yang jauh memikirkan kemajuan desanya, maka akan cepatlah desa tersebut maju dan berkembang. Namun, bagi Kepala Desa yang hanya sekedar ‘Ga-But’ alias makan Gaji Buta saja, maka desa tersebut tidak dapat diharapkan untuk maju.


Kepada Kepala Desa/ Wali Nagari, tunjukkan kepedulianmu atas amanah yang telah dipikul di pundak untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakatmu!  


*Penulis Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-4: HABIS)
Kamis, April 29, 2021

On Kamis, April 29, 2021

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-4: HABIS)
DITULIS OLEH: HAJI ALI AKBAR


‘Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang’, demikian ungkapan sehari-hari yang tak asing didengar oleh telinga.


Hidup di desa tak seindah yang saya bayangkan. Terkait dengan perilaku dan kebiasaan masyarakat di desa, penyebab utama yang membuat masyarakat di desa tetap miskin dan tidak maju adalah pola fikir – mindset yang terkebelakang. Namun, jika disebut terkebelakang, mereka akan marah dan bahkan mengucilkan kita dalam pergaulan sehari-hari.


Melihat seseorang berhasil dalam usahanya, dia yang sakit jantung. Melihat seseorang terjatuh dan bangkrut atau mengalami musibah, dia punya hati akan mengembang dan senang.


Ungkapan lain yang tak kalah hebatnya, ‘Didahulukan inyo menyipak, dikudiankan inyo mananduak’. Arti lepas dari ungkapan Minang ini adalah ibarat seseorang yang diberi kekuasaan, dia akan menekan dan bahkan menindas orang yang dia pimpin. Jika dia tidak diberi kekuasaan, maka dia akan ‘menungkai’ atau mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang yang memimpin.


Maha Benar Allah dalam firman-Nya bahwa, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan kederajat yang Tinggi”. (Q.S. Al Mujadalah (58): ayat 11).


Makna yang terkandung di dalam kitab suci Al Qur’an tadi hendaknya memberikan dorongan dan kekuatan spiritual kepada setiap insan bahwa tujuan penting dalam menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan. Kebodohan itu identik dengan kemiskinan, sehingga sampai kepada sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa ‘kemiskinan itu dekat kepada kekufuran’.


Angka rata-rata garis kemiskinan pada Maret 2018 adalah Rp401.220 per kapita per bulan. BPS menjelaskan kemiskinan sebagai ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, yang diukur dari pengeluaran. Artinya, orang yang pengeluarannya di bawah angka rata-rata garis kemiskinan termasuk warga miskin.


"Garis kemiskinan Rp401.000 per bulan memang masih terlalu rendah, perlu dievaluasi lagi," kata peneliti di Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira (2018).


Dia menjelaskan bahwa angka ini adalah pengeluaran per orang. Jadi, dalam keluarga yang terdiri atas empat orang misalnya, mereka dianggap miskin jika pengeluarannya kurang dari Rp1,6 juta per bulan.


Begini, cara-cara bertani yang lama itu bukannya tidak baik. Toh, selama ini masyarakat tani yang ada di pedesaan tetap saja hidup. Ya, kehidupan ini tetap dan akan terus berjalan. Namun, evaluasi diri dan perenungan kiranya menjadi hal yang mutlak dilakukan, agar perjalanan hidup yang ditempuh mengarah kepada hidup yang lebih baik, bahagia, makmur dan sejahtera.


Merubah paradigma lama kepada paradigma baru dalam ‘cara bertani’ hendaklah dijadikan sebagai ‘tekad’ dan ‘kemauan’. Peluang dan kesempatan untuk kemajuan itu sudah ada di depan mata, dan janganlah disia-siakan. Jangan pernah lagi menyalahkan keadaan alam dan lingkungan, dimana Tuhan telah menghamparkan alam beserta isinya yang berlimpah.


‘Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?’, demikian Tuhan memberi penekanan kepada umat yang selalu mengeluh dan menyalahkan keadaan alam beserta isinya yang telah dihamparkan untuk peningkatan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat di desa.


Kepada teman-teman petani dimana saja berada, mari kita olah dan manfaatkan potensi alam yang berlimpah ini guna sebesar-besar kemanfaatan dan kesejahteraan kita. Tinggalkan ‘cara bertani konvensional’ menuju kepada ‘cara bertani digital’. Paradigma lama yang membuat masyarakat tani di desa menjadi miskin harus dirubah menuju paradigma baru yang akan memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan petani.


Petani Bangkit!  Petani Go Digital!  - (HABIS). *)


*Penulis Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-3)
Selasa, April 27, 2021

On Selasa, April 27, 2021

DITULIS Oleh: Haji Ali Akbar*

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah, artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah”. (QS. Ali Imran (3): ayat 159).

Perubahan – Change akan dapat terlaksana apabila disertai dengan tekad yang bulat dan bersungguh-sungguh. Demikian pula halnya ketika seorang petani ingin merubah cara bertani dari cara-cara konvensional kepada cara-cara baru yang berlandaskan kepada teknologi digital.

“Man Jadda wa Jada”, demikian sebuah pepatah Arab yang tak lagi asing didengar, terjemahannya bahwa “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat”.

Perubahan menuju terbaik (great) adalah ketika kita merasa baik (good). Ketika dalam keadaan sulit, krisis dan tertekan banyak orang mudah menemukan lompatan perubahan secara cepat dan gesit, namun banyak orang merespon perubahan sangat lambat ketika dirinya merasa dalam keadaan yang baik-baik saja.

Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat tani di pedesaan bisa disebabkan oleh NTUP – Nilai Tukar Usaha Petani yang rendah (standar NTUP = 100), dimana jumlah pendapatan yang diterima oleh petani lebih kecil dibanding jumlah pengeluarannya, Rantai Pasok (Supply Chain) dan Sistem Logistik (Logistic System) yang tidak menguntungkan kepada petani, akibat kesalahan diri sendiri (disrupsi) dan lain sebagainya.

Rhenald Kasali – pendiri Rumah Perubahan, dalam bukunya yang berjudul “Re-Code Your Change DNA: Membebaskan Belenggu-belenggu Untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan (2007)” menerangkan,

“Meskipun secara alami manusia mengalami proses perubahan yang berkelanjutan dan tidak terelakkan (melalui bertambahnya usia), tetapi pada dasarnya tidak seorangpun suka diperintah untuk berubah. Manusia lebih menyukai sesuatu yang sudah terbiasa (sering) mereka lakukan (learning curve effect) – business as usual.”

Dalam era Digital 4.0 ini, himbauan kepada teman-teman petani dimana saja berada, sudah seharusnyalah meninggalkan atau membuang istilah ‘Gap-Tek – Gagap Teknologi’. Memanfaatkan teknologi digital untuk sebuah kemajuan baik usaha tani dan diri sendiri sudah menjadi suatu keharusan atau keniscayaan.

Contoh menarik yang terjadi dalam Kelompok Tani SUKMA JAYA, dimana saya sebagai ketuanya berusaha membuat perubahan melalui pembuatan sebuah WhatsApp Group - WAG, walau pertemuan rutin bulanan tetap kami adakan sebagai pertemuan secara ‘Tatap Muka’.

Maksud dan tujuannya diadakan pertemuan secara maya – tanpa ‘Tatap Muka’ adalah agar terjadi interaksi sosial antar anggota tani secara cepat (on-line) juga dimaksudkan dalam rangka memanfaatkan peran teknologi digital.

Tapi, apa yang terjadi?

Sejak dibuatnya WAG Poktan SUKMA JAYA, bulan September 2020 sampai bulan April 2021 ini (memasuki usia 7 bulan), masih banyak anggota tani yang ‘canggung’, ‘keder’ atau ‘Gap-Tek’ karena belum terbiasa.

Bertukar informasi melalui WAG menjadi lebih cepat dan instan dibanding melakukan pertemuan secara ‘Tatap Muka’. Banyak waktu, tenaga dan nominal uang yang dipangkas dengan adanya peran teknologi digital ini. Ada beberapa platform digital lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti Facebook, Instagram, Telegram dan lain sebagainya.

Kepada teman-teman petani dimana saja berada, mari kita manfaatkan peran teknologi digital guna sebesar-besar manfaat demi kemajuan kegiatan usaha tani maupun pengetahuan cara bertani yang canggih dan menguntungkan.

Petani Bangkit!  Petani Go Digital!  - (Bersambung). *)

*Penulis Tinggal di Padang Pariaman.

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-2)
Senin, April 26, 2021

On Senin, April 26, 2021

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-2)
TIBA-tiba saya teringat akan sebuah ungkapan dari seorang teman, “Berubah itu menyakitkan, mas Bro’!”.


Saya coba lagi untuk memahami makna yang tersirat dan tersurat dari ungkapan teman tersebut. Dan ternyata, memang benar adanya bahwa merubah suatu ‘kebiasaan’ dari yang selama ini dijalani kepada ‘kebiasaan’ yang baru membutuhkan energi besar dan semangat yang kuat agar bisa berada di posisi ‘kebiasaan’ yang baru.


Gempa yang terjadi di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 sejatinya telah merubah segala sesuatunya, walau belum signifikan secara kualitas. Musibah gempa memporak-porandakan gedung, rumah, sawah, ternak dan bahkan banyak nyawa manusia yang hilang. Tak terkecuali di desa saya yang letaknya di pesisir pantai barat pulau Sumatera. Tepatnya bernama Nagari Guguak Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.


Pada bulan Februari 2010, desa kami mendapatkan bantuan ‘Program Pemulihan Ekonomi’ dari LSM Mercy Medan, Dasril S.Pd., sebagai ketuanya (saat ini menjabat Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Pariaman), berupa benih jagung hibrida Pioneer P-21, pupuk serta biaya pengolahan lahan sebesar Rp.500 ribu untuk 1 hektarnya.


Lahan yang dikondisikan seluas 20 hektar. Kala itu saya dipercaya untuk mengalokasikan bantuan tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan. Untuk 1 hektar lahan dibutuhkan benih jagung seberat 15 Kg, dimana 1 kantong benih ukuran beratnya adalah 5 Kg.


Menanam jagung bukanlah kebiasaan di desa kami saat itu. Namun, adanya bantuan benih jagung tersebut ternyata telah merubah paradigma masyarakat kami. Sampai pada tahun ini, April 2021 (sudah 11 tahun), di desa kami telah banyak yang menanam komoditi jagung (ayam). Adanya keuntungan yang didapat membuat masyarakat bersemangat untuk menanam jagung, bahkan sudah banyak lahan tidur yang diolah menjadi lahan menanam jagung.


Sungguhpun demikian, ternyata tetap saja kehidupan petani di desa kami dalam kondisi yang menyedihkan. Kepiawaian pemilik modal memainkan perannya kembali membayang-bayangi tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan. Tak jauh bedanya dengan petani padi. Kemiskinan dan kesulitan hidup masih kental dirasa.


Kembali saya pelajari penyebabnya, dan simpulnya ternyata ada pada Rantai Pasok (Supply Chain) dan Sistem Logistik (Logistics System).


Rantai Pasok dan Sistem Logistik yang ada sampai hari ini dibagi menjadi 3 cluster:


1. Petani → Transporter →Grosir Lokal/ Pedagang Kaki Lima → Konsumen


2. Petani →  Pengumpul →  Pedagang Besar →Pasar Induk →  Konsumen


3. Petani → Pemasok Khusus → Supermarket →  Konsumen


Sedangkan Rantai Pasok dan Sistem Logistik masa depan dibagi menjadi 3 cluster:


1. Petani → Konsumen


2. Petani →  Distributor → Konsumen


3. Petani →  Supermarket →  Konsumen


(Sumber: Tomy Perdana, 22 April 2021, “Sistem Rantai Pasok Pangan Cerdas – Smart Agrifood Supply Chain System”, materi webinar pada Sharing Session Perkumpulan Agripreneur Ganesha, Bandung).


Jadi, sudah tampak secara kasat mata bahwa keadaan Rantai Pasok dan Sistem Logistik yang ada sampai hari ini menjadi ‘biang keladi’ atau penyebab dari kemiskinan yang diderita oleh petani.


Pertanyaannya adalah apakah keadaan seperti ini masih tetap akan dipertahankan? Akankah petani sudah pasrah dalam keadaan tak berdaya dan tetap miskin? Atau adakah keberanian para petani untuk merubah paradigma lama dan beralih kepada paradigma baru? 


Kepada teman-teman petani dimanapun berada, mari kita bergandengan tangan untuk merubah paradigma lama dalam bertani menuju paradigma baru. Tak kalah pentingnya disini adalah peran teknologi digital yang harus kita manfaatkan demi kemajuan usaha dan meningkatnya kesejahteraan petani di masa datang.


Petani Bangkit!  Petani Go Digital!  - (Bersambung). *)


Ditulis oleh:  H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman

Melestarikan Eksistensi Kebudayaan Minangkabau Lewat Modernisasi Penyamapaiannya di Tiktok
Senin, April 26, 2021

On Senin, April 26, 2021

Melestarikan Eksistensi Kebudayaan Minangkabau Lewat Modernisasi Penyamapaiannya di Tiktok
BARU beberapa waktu lalu seorang content creator TikTok mengunggah video tanya jawab singkatnya yang dilakukan dengan anak-anak SD. Rata-rata anak SD tersebut dicoba pengetahuannya mengenai apa singkatan dari SD. Rata-rata jawaban yang disediakan anak-anak tersebut sangatlah polos, ada yang menjawab bahwa SD merupakan kepanjangan dari “Sekolah Dihapus” hingga “Sekolah Duduk”. Entah settingan atau tidak, namun keseluruhan anak kecil yang ditanya tidak bisa menjawab dengan benar apa itu singkatan dari SD.


Konten serupa juga pernah waktu beberapa lalu muncul terkait dengan wawasan kebangsaan dan budaya nasional kepada anak-anak SD. Ketika mereka ditanyai mengenai apa singkatan SBY (-yang jawabannya adalah Susilo Bambang Yudhoyono), apa terusan dari lagu nasional yang dinyanyikan oleh sang penanya yang kemudian mereka diminta untuk meneruskan, singkatan dari PKN, mereka rata-rata tidak menggelengkan kepala dengan raut wajah bingung dan memberikan plesetan tertentu kepada pertanyaan yang ditanyakan. Namun apabila terkait dengan permainan atau game terkini seperti apa singkatan FF (-yang merupakan singkatan dari permaian Free Fire), siapa saja nama tokoh FF, bagaimana cara bermain FF, mereka dengan lancar menjawab pertanyaan tersebut.


Dapat diketahui bahwa saat ini anak-anak yang dijejali dengan teknologi dan modernisasi semakin jauh melupakan jati diri bangsanya. Kebudayaan bangsa Indonesia sendiri terdiri dari kebudayaan daerah, dari daerah-daerah tersebut kemudian terbentuklah suatu sistem kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional dapat tetap ada dan eksis apalagi masih terdapat warga negara yang tidak hanya mengenalnya namun juga melestarikannya melalui praktik budaya terkait.


Praktik kebudayaan yang sering dinilai ribet dan tidak efisien serta kuno membuat peminatnya dari generasi muda dari waktu ke waktu semakin menurun dengan drastis. Generasi muda saat ini sedikit yang menyadari bahwa peran merekalah seharusnya untuk melestarikan budaya dalam bentuk berbagai acara dan aktivitas dalam masyarakat. Generasi muda masih menoleh acuh apabila disuruh untuk mengenali atau mempraktikkan kebudayannya sendiri karena dirasa tidak sesuai dengan kepribadiannya yang menyukai hal-hal modern.


Insitusi pendidikan dapat dikatakan merupakan satu-satunya lembaga yang mampu memberikan cara mengikat bagi generasi muda untuk mengenali budayanya masing-masing melalui mata pelajaran terkait. Dalam pendidikan terdapat pembelajaran kebudayaan yang bisa diamalkan melalui wadah mata pelajaran seni budaya dan melalui ujian praktek kesenian. Namun mata pelajaran yang diterapkan di sekolah untuk menerapkan budaya masih berorientasi pada untuk kegiatan mengejar nilai dan bukan merupakan suatu bentuk tindakan berdasarkan keinginan sendiri dan keikhlasan dari siswa untuk mempelajarinya.


Kebudayaan nasional kita perlu dilestarikan dengan cara-cara baru yang lebih menyesuaikan terhadap perkembangan jaman dan tidak terikat dengna nilai-nilai konservatif agar generasi muda memiliki minat melestarikannya. Budaya nasioal perlu diberi sedikit bumbu terobosan pelestariannya dengan gaya anak muda masa kini yang modern namun tidak merubah nilai dasar kebudayaan yang ada.


TikTok, platform yang sering menghasilkan konten booming saat ini menjadi sorotan dari berbagai masyarakat dan merupakan salah satu saluran distribusi iklan digital agency yang paling diminati karena engagement dan popularitas suatu konten bisa dengan cepat menyebar dari platform ini. TikTok sendiri identik dengan konten penggunanya yang berjoged dengan iringan musik-musik  unik yang disediakan dari bawaan aplikasi TikTok.


Apabila ingin dijadikan sebagai kesempatan, pendidik maupun pegiat seni bisa memanfaatkan platform TikTok untuk memamerkan budaya nasional Indonesia, salah satunya adalah budaya khas Minangkabau yang mungkin banyak orang belum mengenalnya, Kebudayaan Minangkabau selain dari kulinernya yang mendunia, harus disusul dengan kebudayaan dari sisi lainnya juga. Keuntungan dari adanya faktor budaya kuliner yang populer membuat perkenalan budaya Minangkabau lainnya dapat dilakukan dengan lebih mudah.


Dengan memadukan unsur modernisasi yang dipadukan dengan kebudayaan yang bersifat tradisional, perkawinan antara kebudayaan daearh dengan cara modern bisa diperkenalkan dengan epik sesuai dengan nilai modernisasi yang disukai oleh anak muda. Apalagi jangkauan dari TikTok luas sekali dan apabila dipadukan dengan unsur kreativitas dalam perencanaan dan proses pembuatannya maka konten kebudayaan Minangkabau bisa mendapat respon dipahami oleh masyarakat luas dengan besar.


Dapat dikatakan cara tadi adalah salahs atu cara yang sangat relevan dengan jaman yang ada saat ini, selera anak muda, dan pendekatan yang optimis agar kebudayaan daerah yaitu dalam fokus penulisan artikel kali ini yaitu budaya Minangkabau agar lebih dikenal. Apalagi di TikTok apabila ada satu gerakan konten yang mudah diikuti, unik, dan mendapat respon yang bagus maka tak jarang banyak pengguna lainnya yang akan mereplika gerakan tersebut. Daripada mereplika jogedan yang tidak tahu apa juntrungnya dan hanya sebagai asik-asikkan saja, pegiat konten di TikTok bisa mereplika konten berunsur kebudayaan daerah Minangkabau dengan cara yang berbeda.


*Penulis adalah Muhammad Ilham, Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya,Universitas Andalas

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’
Senin, April 26, 2021

On Senin, April 26, 2021

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’
USAI menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universita Andalas Padang, bulan Desember 1995, saya diwisuda serta mendapatkan gelar kesarjanaan pada bulan Maret 1996.


Pada awal bulan April 1996 saya mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan joint venture (PMA) antara Indonesia dan Australia, bergerak di bidang pergudangan (logistik), yang berkantor di Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan. Pekerjaan ini saya peroleh berkat bantuan teman, Wendra dan Irvan. Terima kasih untuk kebaikan kalian sobat, moga Allah swt membalasnya dengan kebaikan berlimpah. Aamiin..


Malang melintang hidup di kota metropolitan, Jakarta, saya teringat akan sebuah ungkapan, “Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam lagi ibukota.” Ya, tidak selamanya hidup itu berjalan mulus bahkan yang namanya susah, senang, hina dan mulia sudah menjadi pakaian hidup kita sebagai seorang insan.


Pada awal bulan Maret 2008, saya akhirnya menguatkan diri untuk hijrah dan pulang ke kampung halaman. Tinggal di desa menjadi harapan baru bagi saya sekaligus berniat mengabdikan diri untuk memajukan kampung halaman.


Awalnya memang tidaklah mudah untuk menyesuaikan diri dalam pekerjaan sebagai petani. Ya, bertani menjadi pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh masyarakat di desa saya. Biasa kerja di kota menggunakan ‘Otak’, di desa mesti menggunakan “Otot’. Perbandingannya tinggal di desa, menggunakan ‘Otak’ cukup 30%, sedangkan selebihnya menggunakan ‘Otot’ sebesar 70%.


Beberapa minggu tinggal di desa, saya membuat Peta Jalan (Road Map) untuk hal apa saja yang harus saya kerjakan di kemudian hari demi kemajuan masyarakat di desa. Maka, pada bulan Nopember 2008, saya bersama beberapa orang tokoh masyarakat membentuk sebuah Kelompok Tani, yang kami beri nama SUKMA JAYA. Saya dipilih secara aklamasi sebagai ketua kelompok, “Nan didahulukan salangkah, ditinggian sarantiang”, demkian pepatah minangnya.


Cara bertani kami disini pada umumnya masih secara konvensional. Artinya, cara-cara bertani yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan nenek-moyang terdahulu. Kehidupan bertani tidak mengalami kemajuan yang berarti. Kemiskinan dan kesulitan hidup tetap menjadi bayang-bayang masyarakat desa. Hasil panen yang dicapai ternyata tidaklah bisa mencukupi untuk biaya hidup keseharian.


Khusus bagi petani padi, dimulai sejak pengolahan lahan, menyiang, pemupukan sampai tahap panen, menggunakan dana dari pihak ketiga (tengkulak/ ijon). Pemilik modal selalu diuntungkan dengan adanya setiap kegiatan bertani. Ketika panenpun para pemilik modal dapat untung, membeli hasil panen dengan harga yang tidak memadai.


Sekarang sudah memasuki bulan April 2021. Saya membaca situasi dan keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Dimana lagi adanya ‘Kemerdekaan’ petani?  Apakah faktor ‘Kemiskinan’ harus selalu melekat kepada pekerjaan ‘Bertani’?  Apakah petani tidak boleh kaya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu lalu lalang di dalam fikiran saya.


Berada dalam era Digital 4.0, sudah seharusnyalah para petani di desa meninggalkan cara-cara bertani konvensional. Petani harus bangkit dan maju. Menjadi petani harus kaya. Kenapa? Karena petani punya ‘daya tawar’ yang kuat, petani punya produk.


Mari kita manfaatkan akses teknologi digital untuk kemajuan petani.


Petani Bangkit!  Petani Go Digital!  - (Bersambung). 


*Ditulis Oleh H. Ali Akbar, Tinggal di Padang Pariaman.