PILIHAN REDAKSI

Viral! Ditilang Di Bali, Ratu Kecantikan Estonia Sebut Polisi Habiskan Uang Turis

BENTENGSUMBAR.COM - Bule di Bali kembali bikin ulah. Kali ini Miss Global Estonia 2022 Valeria Vasilieva menyebut polisi mengha...

Advertorial

Catatan Adrian Tuswandi: Pansel KI Pusat Langgar Azas Kepastian Hukum dan Azas Keterbukaan?
Senin, Desember 13, 2021

On Senin, Desember 13, 2021

APA kabar Seleksi Calon Komisioner Komisi Informasi (KI) Pusat? kabarnya 21 nama udah di Menesekneg menanti keputusan Presiden RI untuk diteruskan ke DPR RI cq Komisi I DPR RI. 

Tapin ada ganjil dan ganjalan yang harus dirapikan dulu supaya memenuh  rasa keadilan dan runut dengan jadwal serta ketentuan ynag berlaku. 

Penulis peserta seleksi yang gagal di assemen tes perlu menggugah banyak pihak agar Bapak Presiden RI tidak masuk ke liberium kesalahan prosedur. 
Penulis juga anggota Komisi Informasi Sumatera Barat yang bekerja menjalankan UU 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan informasi publik dan menjunjung Peraturan Komisi Informasi (PerkiK tentang Seleksi Komisioner Komisi Informasi, jelas tak sudi ketika Perki dikesampingkan atau dikebiri oleh siapa saja.

Penulis berani menulis mengungkap kejanggalan seleksi komisi informasi hanya untuk menjaga marwah dari Perkinyang berlaku dan ada di lembaran negara ini, ini pandangan penulis.

Panitia Seleksi (Pansel) dibentuk oleh negara dan untuk menjalankan tugas yang diberikan negara melalui Kepututusan Menkominfo sehingga dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama negara. 

Pansel yang mengemban atribusi dari negara harus bekerja sesuai dengan ptinsip-prinsip hukum. Pansel harus menjunjung tinggi setidaknya tiga prinsip hukum , yaitu 
1.) Azas Kepastian Hukum; 
2.) Azas Keadilan Hukum;
3.) Azas Keterbukaan Informasi.

Pengumuman Pansel NOMOR: 13/PANSEL.KIP/11/2021 TENTANG
HASIL ASSESSMENT TEST DAN JADWAL SELEKSI WAWANCARA CALON ANGGOTA KOMISI INFORMASI PUSAT PERIODE 2021-2025 telah menciderai ketiga prinsip hukum di atas yang seharusnya dijunjung tinggi dan dipedomani Pansel. 

Hal ini tentu saja sangat memberikan dampak negatif kepada Presiden karena pada akbirnya Presidenlah sebagai pengguna utama hasil kerja Pansel. Presidenlah yang akan mengirimkan 21 nama Calon Anggota KI Pusat kepada DPR RI untuk dilakulan fit and proper test. 

Dan kinerja Pansel secara langsung juga berdampak langsung kepada Komnis I DPR katena Komisi I yang akan melakulan fit and proper test dan memilih 7 Anggota  Komisi Informasi Pusat berikutnya. 

Pelanggaran Azas Kepastian Hukum

Salah satu wujud untuk menjamin terlaksananya Seleksi KI Pusat sesuai Azas Kepastian Hukum adalah Pansel mentetapkan Tahapan Seleksi. 

Pada tahapan seleksi ditentukan bagaimana tahapan sebuah seleksi akan dijalankan dari awal sampai akhir, termasuk pada tahapan mana pengumuman yang bersifat menggugurkan peserta seleksi akan diputuskan dan diumumkan. 

Pada tahapan seleksi juga ditetapkan jadwal seleksi pada tanggal berapa sebuah tahapan akan dilaksanakan.

Inilah pelanggaran paling fatal yang dilakukan Pansel KI Pusat dengan mengeluatkan pengumuman yang bersifat menggugurkan pada pengumuman keputusan Pansel KI Pusat di atas. 

Hal ini dikarenakan tidak pernah ada tahapan pengumuman yang bersifat menggugurkan dalam Tahapan Seleksi yang diumumkan Pansel sebelumnya sebagimana pengumuman nomor tersebut.

Kalaupun ada peluang perbaikan, maka peluang itu hanya pada jadwal, bukan pada tahapan. 

Dan kalaupun Pansel merubah Tahapan Seleksi, tidak ada pengumuman sebelumnya bahwa ada perubahan Tahapan Seleksi. 

Sehingga dengan demikian dan oleh karena itu patut disimpulkam bahwa Seleksi KI Pusat telah mreanggar azas paling prinsip dari hukum yaitu Azad Kepastian Hukum. 

Azas Keadilan Hukum 

Salah satu perwudan Azas Keadilan Hukum dalam seleksi adalah memberikan hak peserta seleksi sesuai dengan haknya yang sebelumnya sudah ditetapkan hukum dan telah ditetapkan lebih operasional oleh Pansel. 

Hak peserta KI Pusat berdasar penetapan Tahapan Seleksi oleh Pansel adalah bahwa seluruh peserta yang lulus Tahap Penulisan Makalah adalah mengikuti Asassmen test dan Wawancara. 

Pengumuman Pansel NOMOR: 13/PANSEL.KIP/11/2021 TENTANG HASIL ASSESSMENT TEST DAN JADWAL SELEKSI WAWANCARA CALON 
ANGGOTA KOMISI INFORMASI PUSAT PERIODE 2021-2025.

Berdasarkan hasil Assessment Test Calon Anggota Komisi Informasi Pusat  ini telah menghilangkan hak setidaknya 27 Calon Anggota KI Pusat dari 63 peserta  yang lulus tahapan Penulisan Makalah, dan hanya mengikutkan 36 peserta ke tahap wawancara.

Perlakuan ini jelas-jelas melanggar Azas Keadilan Hukum yang dilakukan Pansel KI Pusat. 

Prinsip Keterbukaan Informasi

Namanya saja Pansel Komisi Informasi Pusat, yaitu lembaga yang mengawal UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, maka sudah seharusnya Pansel mengedepankan prinsip,prinsip keterbukaan informasi dalam setiap tahapan seleksi. 

Kedua penjelasan diatas, pelanggaran Azad Kepastian Hukum dan pelanggaran Azas Keadilan Hukum, sudah cukup membuktikan bahwa Pansel KI Pusat tidak bekerja sesuai prinsip-prinsp Keterbukaan Informasi Publik. 

Bagaimana Keterbukaan Informasi akan dibangun lebih masif kedepan oleh KI Pusat peruode berikutnya jika  ketertutupan meligkupi proses seleksi.

Adalah elok joka salah di ujung jalan balik ke pangkal jalan, dan Presiden dan Komisi I DPR harus mengevaluasi kinerja Pansel KI Pusat.

Penulis tidak ingin berpolemik dan tidak ingin gaduh dari proses seleksi KI Pusat ini, bagi penulis sebuah aturan Perki tentang Seleksi Komisi Informasi adalah keputusan yang berkekuatan hukum ynag mesti dipatuhi oleh siapa saja di negeri ini. 

Jangan dijadikan Perki hanya kertas terbang yang tak mesti dipedomani, karena pebuatan Perki sendiri sudah mengikuti mekanisme pembuatan peraturan per-UU-an yang berlaku di republik tercinta ini. 

*Adrian Tuswandi, Calon Gagal di Asesesmen Tes

Catatan Sismono La Ode: Anies, Anak Guru yang Mengubah Guru
Sabtu, November 27, 2021

On Sabtu, November 27, 2021

LIMA tahun silam, sepucuk surat menggemparkan sejagat raya guru di penjuru negeri. Pesan yang ia tulis jelas bahwa sepanjang bertugas di Kemdikbud dan berkeliling ke penjuru Indonesia, ia selalu menemukan Mutiara berkilau di sudut-sudut tersulit Republik. Dinding kelas bisa reyot, tapi semangat guru, siswa dan orangtua tegak kokoh.

Sepucuk surat itu ditulis seorang diri di atas meja kerjanya, tepat setelah dicukupkan tugasnya sebagai Mendikbud. Lalu Lalang orang di ruang itu, tidak membuyarkan fokusnya mengirim pesan bagi guru-guru, pahlawan penuh jasa. Tak ada raut penyesalan, tekadnya hanya satu dan ditulis diakhir surat itu, berupa ajakan kepada seluruh insan pendidikan untuk meneruskan ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

Banyak yang mengira bahwa hari itu adalah akhir segala bagi Anies Baswedan. Namun tidak untuk kami yang paham sosok yang dilahirkan dari pasangan guru ini.

Memang tidak semua orang tahu, kalau pria kelahiran Kuningan, 7 Mei 1969 adalah anak dari pasangan guru. Ayahnya bernama Awad Rasyid Baswedan, yang semasa hidupnya mengajar di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dan Ibunya adalah Aliyah Al Ganis mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kampus pencetak guru, hingga akhirnya menjadi profesor/guru besar.

Sebelum memilih menjadi guru, Rasyid pernah ditawari menjadi pegawai bulog dengan gaji yang lebih tinggi, namun rejeki itu justru dia berikan pada sobatnya. Rasyid memilih mengajar di UII. Aliyah sendiri sejak awal memang sudah mantap memilih profesi pendidik. Sebelum mengajar di UNY, ia lebih dulu mengajar di IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia, UPI). Panggilan hati menjadi pendidik sudah begitu kuat dalam diri mereka. Mereka yakin profesi guru adalah jalan mereka untuk mengabdikan diri pada bangsa.

Tak heran, selepas mengajar baik Rasyid ataupun Aliyah, tetap membuka pintu rumahnya bagi murid-muridnya. Dari rumah yang sederhana itulah murid-muridnya justru menemukan hakikat guru dalam diri kedua orangtua Anies. Kebijaksanaan, kesabaran, keramahan, kelembutan, kedisiplinan, kenyamanan, motivasi, dan keteladanan dalam diri mereka telah menginspirasi dan menggerakan murid-muridnya untuk bangkit dan menjadi orang berguna bagi agama, diri sendiri, keluarga, orang lain, bangsa dan negeri. Catatan-catatan inspirasi dari murid-murid kedua orangtua Anies dirangkum dalam Buku “Anak Guru: Potret Anies Baswedan Memetik Pelajaran Hidup dari Kedua Orangtuanya yang Pendidik” (2021).

Anies Baswedan memiliki tiga saudara kandung. Mereka adalah Ridwan Baswedan (alm), Eva Haiva Baswedan (almh), dan Abdillah Baswedan. Mereka tumbuh dan besar di Yogyakarta, di sebuah rumah sederhana gang Grompol, Sleman. Pada 11 Mei 1996, Anies Baswedan menikah dengan Fery Farhati Ganis. Kini pasangan ini dikarunia empat buah hati, diantaranya Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim.

Sejak kecil Anies dan saudara-saudaranya sudah terbiasa dengan dunia guru. Mereka tidak sekadar akrab dengan aktivitas mengajar orang tuanya, namun mereka menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai digugu lan ditiru diterapkan kedua orangtuanya pada murid-muridnya, orang-orang dekatnya, dan anak-anaknya. Anies dan saudaranya pun telah terbiasa membaur dengan murid-murid orang tuanya. 

Tidak ada jarak bagi mereka.
Keluarga Rasyid Baswedan memiliki kebiasaan mendidik anak-anaknya di meja makan. Jika waktu makan tiba, berkumpullah mereka. Di awali doa lalu mengunyah makan sambil berkisah. Pak Rasyid tidak lupa mengisahkan kisah-kisah menarik ataupun pengalaman pada anak-anaknya. Pun Ibu Aliyah. Jika anak-anaknya bertanya, pastilah dijawab dengan baik, tertata, dan inspiratif. Sesekali anak-anaknya diminta bercerita. Apa saja. 

Pak Rasyid dan Ibu Aliyah berusaha menjadi pendengar yang baik. Keluarga Rasyid benar-benar menjadikan makan bersama sebagai ruang keluarga yang penuh kasih sayang dan demokratis.

Bahkan keluarga Rasyid juga membebaskan anak-anaknya untuk bermain sebagaimana anak kecil lainnya. Mulai bermain kelereng, bermain boi, hingga bermain air di selokan mataram utara fakultas kehutanan UGM. 

Keduanya hanya berpesan hati-hati, silakan bermain, jangan pilih-pilih teman, dan ingat waktu ibadah. Jika azan telah memanggil tidak ada alasan untuk tidak mensegerakan shalat.

Meskipun mereka adalah Pendidik, mereka tidak terlalu mewajibkan anak-anak memiliki nilai yang bagus, tapi anak-anak dengan kesadaran sendiri didorong untuk belajar dan Alhamdulillah, mereka terbukti memiliki nilai yang baik di sekolah.

Adalah Anies Rasyid Baswedan. Ia meniti jalan dan karirnya seperti kedua orang tua dan kakeknya A.R. Baswedan. Ia mencapai momen penting saat berusia 38 tahun, dengan ditetapkan menjadi Rektor Universitas Paramadina pada 15 Mei 2007. Ia membuat terobosan penting di sana. Mata kuliah Anti Korupsi menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa.

Anies Baswedan juga menggagas Gerakan Indonesia Mengajar. Dari buku Jejak Para Pemimpin (2014) yang disusun Hanta Yuda AR dan tim, dituliskan bahwa Anies Baswedan telah menggoreskan catatan penting dalam menumbuhkan semangat kesukarelawanan, utamanya di ranah pendidikan nasional. Indonesia Mengajar tak berambisi hadir sebagai solusi yang menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia.

Namun begitu, Indonesia Mengajar meyakini bahwa kehadiran putra-putri terbaik Indonesia sebagai guru akan ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

Sejak tahun 2011, Anies Baswedan juga menginisiasi program Indonesia Menyala, gerakan buku dan perpustakaan yang menjadi bagian dari program Indonesia Mengajar.

“Anak-anak desa yang menyala akal dan budinya karena membaca buku yang baik bersama para Pengajar Muda, bagaikan ribuan dan jutaan lampu yang menyalakan Indonesia,” kata Anies Baswedan.

Kelas Inspirasi yang diluncurkan pada 2013 menjadi gebrakan Anies Baswedan. Ide awalnya adalah melibatkan para profesional atau pekerja dalam aktivitas mengajar di sekolah dasar untuk memberikan inspirasi kepada para peserta didik.

“Di kelas itu Anda akan menyaksikan mata berbinar, senyum lebar, dan wajah ceria anak-anak itu. Mereka adalah wajah masa depan bangsa ini. Di ruang kelas itu Anda mulai mencicipi suasana Indonesia di masa depan. Potret masa depan Indonesia ada di ruang-ruang kelas,” papar Anies Baswedan.

Sumbangsih dan terobosan yang digerakkan Anies Baswedan melalui serangkaian gerakan yang mencerahkan membuat ia dipercaya untuk mengemban amanah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI sejak 27 Oktober 2014.

Selama berkiprah sebagai Mendikbud, Anies Baswedan membangkitkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara untuk membuat sekolah menjadi tempat yang menyenangkan, menginisiasi gerakan memuliakan guru, mendorong minat baca, serta meningkatkan ikatan emosional antara orang tua, siswa, juga sekolah, merancang platform informasi potret Pendidikan daerah melalui Neraca Pendidikan Daerah (NPD), Belajar Bersama Maestro (BBM), dan masih banyak lagi terobosan yang dijalankan demi mendorong pendidikan nasional menjadi lebih baik.

Soal kebijakan terkait guru, Anies Baswedan juga melakukan terobosan penting yang membuka peta jalan kompetensi dan kesejahteraan guru, mulai dari Ujian Kompetensi Guru (UKG), program Guru Pembelajar, program Guru Garis Depan (GGD), hingga program Guru Keahlian Ganda. Terobosan ini mampu menghadirkan solusi penting atas masalah-masalah guru yang belum tuntas saat itu.

Kini Anies Baswedan diamanahkan menjadi gubernur DKI Jakarta. Gagasan mengubah guru tetap ia lakukan. Gubernur Ibukota ini mencetuskan konsep sekolah kolaborasi, sebagai bagian dari citra Jakarta Kota Kolaborasi. Sekolah Kolaborasi merupakan wadah bagi harmonisasi sekolah negeri dan swasta dalam mewujudkan pendidikan tuntas dan berkualitas, sekaligus mengecilkan jarak antara kualitas sekolah negeri dan swasta, termasuk halnya jarak kualitas guru-gurunya melalui kolaborasi dengan beberapa unsur yang disebut kolaborator.

Bagi Anies Baswedan, guru adalah ujung tombak dalam pembangunan pendidikan. Guru memiliki segala daya untuk mengatur dan mendesain model pembelajaran, namun guru tidak bisa jalan sendiri. Para Guru membutuhkan para kolaborator yang terkadang memiliki gagasan dan inovasi lebih. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru di Jakarta menjadi suatu keharusan melalui kolaborasi dengan beberapa pihak.

Para kolaborator diajak bersama-sama menelorkan ide terkait desain sistem pengembangan profesionalise guru melalui cakupan program, mekanisme pelatihan, dan penyedia pelatihan. Sementara para guru di Jakarta, juga diberi kebebasan untuk memiliki program dan pelatihan mana yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Para Kolaborator telah siap mendampingi mereka melalui UPT P2KPTK2 (Pusat Pengembangan Kompetensi Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Kejuruan) yang tersebar di lima wilayah di DKI Jakarta.

Soal kesejahteraan guru di Jakarta, jangan ditanya, setiap bulannya Guru PNS memperoleh TKD (Tunjangan Kinerja Daerah) berdasarkan golongan berkisar antara 6-9 Juta. Sementara itu guru-guru-guru dibawah kementerian Agama memperoleh Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP) bagi Guru dan Tenaga Pendidikan PNS sebesar Rp. 1 juta setiap bulan; Honorarium Bagi GTK Non PNS pada Madrasah Negeri sebesar Rp. 3.900.000 setiap bulan; Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP) Bagi Guru Non PNS pada Madrasah Swasta sebesar Rp. 550.000 setiap bulan; dan Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP) Bagi Tenaga Kependidikan Non PNS pada Madrasah Swasta sebesar Rp. 550.000.

Sementara itu, guru-guru yang bernaung di Himpaudi memperoleh bantuan dana pendidik dan tenaga kependidikan sebesar Rp. 500.000. Begitu pula guru-guru swasta memperoleh bantuan Rp. 500.000 setiap bulannya dan disalurkan melalui organisasi PGRI DKI Jakarta.

Bagi Anies, pemberian tunjangan kesejahteraan guru swasta ataupun guru di kementerian agama didasarkan bahwa mereka adalah guru-guru yang mendidik generasi Jakarta. Oleh karenanya pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk mensejahterahkan mereka sesuai dengan kemampuan.

Memang mengubah guru bukanlah jalan singkat, butuh proses dan kemauan besar. Terlebih Indonesia sebagai ladang tumbuh semainya guru-guru hebat dan inspiratif, memiliki kedekatan sejarah dengan guru. 

Para pendiri bangsa, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Jenderal Soedirman, Ki Hadjar Dewantara, Roehana Koedoes, Maria Walanda Maramis, adalah guru juga. Mereka tidak sekadar menjadi guru yang mendidik rakyat Indonesia, namun juga guru yang mengajar di kelas-kelas.

Anies menyadari bahwa tokoh-tokoh pendiri bangsa yang ia kagumi adalah guru. Ia sendiri tumbuh dari pasangan yang memilih jalan guru. Dan para guru telah mengukir sejarah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka sudah sepantasnya sosok guru dimuliakan dan diteladani. Itulah mengapa saat dipinjamkan amanah untuk memimpin (termasuk menjadi Gubernur DKI Jakarta), tidak ada alasan untuk tidak memuliakan guru. 

Bagi Anies Baswedan: guru adalah pewaris nilai yang sudah menghibahkan dirinya untuk bangsa Indonesia. Selamat Hari Guru 2021. Guru Berdaulat, Bermartabat, dan Sejahtera! Tabik!

*Sismono La Ode, M.A., adalah Penulis Buku Anak Guru: Potret Anies Baswedan Memetik Pelajaran Hidup dari Kedua Orangtuanya yang Pendidik”.

Sejarah Revolusi Indonesia dalam Novel Neraka di Timur Jawa
Kamis, November 25, 2021

On Kamis, November 25, 2021

NOVEL Neraka di Timur Jawa karya Dwi Arif Nugroho dan Gelar Awal Nugroho menceritakan pertempuran selama beberapa hari di kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran yang diceritakan dalam novel ini dimulai pada tanggal 10 hingga 20 November 1945 antara pemuda dan pejuang Indonesia melawan tentara Sekutu di bawah kepemimpinan Inggris. Pertempuran ini mencapai puncaknya pada tanggal 10 November, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan. 

Dwi Arif Nugroho dan Gelar Awal Nugroho terinspirasi dari peristiwa sejarah Indonesia setelah beberapa bulan proklamasi kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka dari Jepang, tentara Belanda ingin mencoba kembali menguasai Indonesia setelah Jepang kalah dalam perang dunia. Kedatangan tentara  Belanda  tersebut bergabung dengan pasukan tentara Inggris yang ingin  melucuti semua senjata peninggalan Jepang yang masih ada di Indonesia.

Bagaikan sebuah drama yang menegangkan dan penuh aksi heroik, novel ini menyajikan peristiwa pertumpahan darah antara pemuda Indonesia dan gabungan bala tentara Inggris dan Belanda di satu kota yang bernama Surabaya, yang merupakan kota di bagian timur pulau Jawa. Novel ini juga menceritakan tentang perbedaan pendapat antara tokoh tua dengan beberapa tokoh pemuda.
Tokoh pemuda itu adalah Abimanyu, Idris, dan Tigor. Sedangkan tokoh tuanya adalah Pak Harjo. Pak Harjo merupakan ayah kandung dari Abimanyu. Perbedaan pendapat antara Pak Harjo dan anaknya Abimanyu adalah masalah ketidaksetujuannya atas kembalinya Belanda ke Indonesia.

Pak Harjo sangat setuju jika Belanda kembali menguasai dan memerintah Indonesia dengan alasan pada zaman Belanda gaji atau pendapatannya lebih besar. Pada saat itu, Pak Harjo bekerja di kantor administrasi yang diberi fasilitas dan gaji yang layak oleh Belanda, sehingga ia bisa menyekolahkan anaknya, sedangkan di saat Indonesia telah merdeka, gajinya sangat jauh menurun meskipun ia tetap bekerja di kantor administrasi.

Tentu saja Abimanyu sangat keberatan dengan pendapat ayahnya tersebut. Ia sangat tidak ingin Belanda kembali menguasai Indonesia.Abimanyu dan dua orang temannya Idrus dan Tigor sangat setuju dengan pendapatnya, bahwa Indonesia harus bebas dari penjajahan bangsa dan negara manapun di muka bumi ini. Dengan gerakan militan dan revolusioner mereka bersama pemuda-pemuda Surabaya lainnya akan menentang kedatangan Belanda untuk kedua kalinya di Republik Indonesia ini.

Pada saat mereka bertiga dan para pemuda Surabaya lainnya berkumpul dan bergerak menuju hotel Yamato. Kedatangan mereka ke hotel tersebut dihadang oleh para tentara Belanda dan Inggris. Mereka dan pemuda yang merupakan bagian dari rakyat Indonesia mencoba masuk dan naik ke atas hotel Yamato dengan menggunakan tangga. Mereka naik ke atas hotel tersebut bukan tanpa alasan, karena mereka melihat bendera milik Belanda berkibar di atas hotel itu.

Setelah berhasil naik, mereka merobek warna biru pada bendera Belanda, sehingga hanya menyisakan warna merah dan putihnya saja. 
Insiden ini merupakan bentuk perlawanan mereka dan para pemuda Surabaya yang tidak lain adalah rakyat Indonesia terhadap penjajah. Hal ini sejalan dengan pemikiran Jenderal A.H. Nasution dalam buku Pokok-pokok Gerilya disebutkan bahwa sesungguhnya rakyatlah yang perang, bukan cuma angkatan bersenjata. Rakyatlah yang memaklumkan perang dan menentukan damai, dan yang melahirkan angkatan bersenjatanya. Angkatan bersenjata adalah ujung tombak dari rakyat itu, yang diarahkan oleh rakyat itu pula(Cribb, 2001).

Respon terhadap perobekan bendera Belanda ini memang benar-benar tumbuh dari hati rakyat tanpa ada campur tangan dari organisasi resmi ataupun pemerintah Surabaya saat itu. Kekuatan yang timbul dari batin dan hati masayarakat inilah yang menjadi cikal bakal kekuatan besar arek-arek suroboyo melawan kekuatan militer Sekutu di hari-hari kemudian.

Sebagaimana pendapat yang disampaikan oleh clausewitz dalam buku Small Wars and People’s Wars(2020) menyatakan konsep kekuatan sipil atau tentara rakyat. Kekuatan sipil adalah kekuatan sukarela luar biasa yang terdiri dari seluruh masyarakat, dengan semua kekuatan fisik dan batin mereka, aset dan niat baik mereka.

Oleh sebab itu, novel ini bukanlah fiksi sejarah semata. Akan tetapi, novel ini terinspirasi oleh peristiwa sejarah bangsa Indonesia sendiri. Di sisi lain, para pembaca melihat bagaimana sikap pengarang terhadap peristiwa sejarah yang ditulis ulang dalam bentuk karya sastra yang berbentuk novel, yaitu dengan menampilkan dua golongan yaitu tokoh tua dan tokoh muda atau para pemuda terhadap menyikapi kedatangan Belanda untuk kedua kalinya ke Indonesia. Para pemuda dalam  novel ini sangat menentang dan tidak setuju dengan kedatangan Belanda, sedangkan tokoh tua tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Pengarang novel ini memperlihatkan bagaimana perjuangan para pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diraih dengan susah payah, dengan mengorbankan jiwa dan raga demi bangsa dan negara yang berdaulat. Menurut Roeslan Abdulgani, peristiwa itu sebagai malapetaka yang memenggal arah sejarah Surabaya dan rute kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus selalu siap menghadapi tantangan dan ancaman dari dalam maupun luar. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara Indonesia yang telah diraih.
 
*Ditulis Oleh: Bovi Andriza dan Ferdinal, Magister Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Perubahan Sistem Pemerintahan Jepang Pada Era Restorasi Meiji dalam Novel Hanauzumi
Selasa, November 23, 2021

On Selasa, November 23, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Junichi Watanabe adalah seorang penulis Jepang terkenal yang karya karyanya selalu menarik untuk dibaca. Dengan novelnya, Jun’ichi Watanabe berusaha menggoyang kelanggengan wacana tradisi yang sudah mengakar kuat pada pola pikir masyarakat Jepang sebagai imbas dari penerapan sakoku atau Politik Isolasi dalam kurun waktu melebihi tiga ratus lima puluh tahun oleh masa kekuasaan Tokugawa.

Cahyasari, seorang psikolog mengatakan, adanya peralihan kekuasaan menuju era Kekaisaran Meiji dan dihentikannya Politik Isolasi menandakan Jepang dibuka untuk dunia dan arus modernisasi sebagai pengaruh dari Barat mulai masuk ke Jepang. Satu usaha yang dilakukan dengan menghadirkan wacana modern yang membawa pola pikir maju dalam novel Hanauzumi.

Novel Hanauzumi adalah salah satu bentuk genre karya sastra berupa novel yang menceritakan tentang perjuangan dan perlawanan Ginko Ogino sebagai tokoh utama perempuan dalam upayanya memenuhi hak haknya selama era Restorasi Meiji. Selain itu realitas politik juga dialami oleh tokoh Ginko.

Ogundokun Sikiru seorang penulis dan peneliti Afrika mengatakan; bahwa sastra adalah panggung penting untuk perjuangan sosiopolitik, budaya, dan ekonomi. Suatu bentuk kreativitas yang meningkatkan transfer budaya dan pengetahuan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sastra melukiskan kehidupan dengan tujuan untuk berbagi pengalaman, perasaan, imajinasi, pengamatan, temuan, prediksi dan saran kepada manusia untuk realitas sosial yang ada. Masyarakat berarti sebuah asosiasi orang yang terdiri dari orang-orang yang memiliki aturan perilaku seperti kepercayaan, kebiasaan, tradisi, konvensi, nilai-nilai sosial dan norma masyarakat ini terletak pada sastra.

Zaman Meiji seperti Ginko Ogino dalam novel ini untuk berpendidikan tinggi dan berprofesi sebagai dokter wanita merupakan hal yang hampir mustahil. Sebenarnya, Ryousaikenbo merupakan awal dari pandangan wanita Jepang modern. Hal ini disebabkan karena sebelum zaman meiji, para wanita hanya berperan sebagai orang melahirkan anak saja serta tidak diperbolehkan mengurus anaknya sendiri. Tetapi sejak konsep Ryousaikenbo mulai diterapkan pada zaman meiji, wanita pun harus turut berperan aktif dalam mendidik anak.

Sharon, seorang psikolog mengatakan Ryosai Kenbo merupakan suatu paham yang dikeluarkan pemerintah Meiji yang bertujuan untuk membentuk wanita menjadi seorang istri yang baik dan ibu yang bijaksana yang mampu memberikan konstribusi pada negara dengan kerja kerasnya dalam mengatur rumah tangga secara efisien, menjaga orang lanjut usia dan anggota keluarga yang sakit, serta mendidik anak-anak dengan bijaksana.

Bahkan, pada saat itu pekerjaan bagi wanita Jepang sangat dibatasi serta pendidikan bagi wanita hanya dapat sampai SMU. Sehingga dapat dikatakan bahwa, konsep Ryousaikenbo sebagai awal dari dimulainya ketidakadilan atau diskriminasi gender bagi wanita Jepang. Dimana seorang wanita yang telah menikah dan memiliki anak harus secara penuh mengurus rumah tangga dan merawat anak serta patuh terhadap segala keputusan suami.

Atas dasar konsep Ryousaikenbo ini wanita Jepang harus dapat berperan sebagai istri yang baik dan mengatur keadaan rumah dan melayani kebutuhan keluarga terutama suami dan dapat juga bereran sebagai ibu yang bijaksana dalam menyerahkan diri sepenuhnya untuk mendidik anak.

Tidak peduli bagaimanapun terdidiknya perempuan kelas menengah tapi mereka tidak ada peluang di dalam masyarakat untuk menggunakan pendidikan mereka dalam berbagai cara yang efektif. 

Seperti halnya, Ginko yang hidup di zaman Meiji yakni zaman dimana perempuan susah untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Hal tersebut karena ada paham dalam masyarakat yakni paham yang menganggap bahwa wanita harus tinggal di rumah dan tugas wanita yaitu urusan rumah tangga dan merawat anak dan suami. Sehingga Ginko harus berjuang untuk bisa kuliah dan menjadi dokter wanita pertama.

Bruce Alix seorang peneliti dalam bukunya Feminism And Nasionalist Rhetorich In Meiji Japan mengatakan, Citra kebaikan istri dan ibu yang bijaksana akan memberikan citra perempuan ideal dalam dekade berikutnya. Dalam suasana berkehidupan yang seperti inilah, Ginko berkiprah.

*Ditulis Oleh: Rio Mardi dan Ferdinal, Prodi Ilmu Sastra Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Unand

Pola Asuh Anak Pada Masyarakat Jepang dan Novel Penance
Senin, November 22, 2021

On Senin, November 22, 2021

MINATO Kanae, seorang penulis novel misteri terkenal, karya-karyanya selalu menarik untuk dibaca. Setelah menerbitkan Confessions sebagai karya debut yang sukses meraih posisi pertama dalam 10 besar novel dalam Weekly Bunshun kategori novel misteri terbaik, Minato Kanae mengeluarkan buku berikutnya yaitu Penance.

Penance sendiri mengambil sudut pandang dari masing-masing tokoh yang menginformasikan bagaimana penderitaan yang dialami Sae, Maki, Akiko dan Yuka setelah terbunuhnya teman mereka, Emily 15 tahun yang lalu. Masing-masing karakter menyimpan cerita tersendiri dan saling terhubung satu sama lain untuk bisa sampai pada kesimpulan akhir cerita.

Menariknya, selain bercerita tentang tragedi pembunuhan, Kanae juga membongkar beberapa sisi negatif pola asuh masyarakat Jepang yang jarang disorot, bagaimana lingkungan rumah bisa mempengaruhi karakter dan persepsi anak. Kanae mempercayai bahwa didikan yang salah akan membawa pengaruh negatif pada anak, terutama anak yang mengalami trauma. Ini terlihat pada keempat tokoh yang menjadi saksi kasus pembunuhan Emily yang pada saat itu masih berada di kelas 4 SD.

Kanae membongkar salah satu pengasuhan di Jepang bahwa anak harus menjaga keharmonisan keluarga meski harus mengesampingkan perasaan bukanlah hal yang baik. Pola asuh ini terjadi di Jepang, bagaimana anak-anak di ajarkan untuk mengendalikan diri dan emosi mereka agar tidak mengganggu ketenangan keluarga.

Tokoh Sae misalnya, tidak berhasil mengatasi rasa traumanya karena tidak ada penanganan yang serius setelah kejadian itu. Sikap diam ibunya yang beranggapan membiarkan Sae sendiri, tidak pernah membahas trauma yang dialaminya,  dan tidak mendapatkan penanganan trauma yang optimal, menimbulkan masalah perkembangan fisik pada diri Sae berupa tubuh yang tidak bertambah tinggi, dan tidak mendapatkan menstruasi sampai menikah. 

Alice Miller, seorang psikolog, psikoanalis, dan filsuf Yahudi berkata: "kita tidak tahu, bagaimana dunia suatu saat nanti jika anak-anak dibesarkan dengan baik, jika orang tua mau memperlakukan anaknya dengan serius dan rasa hormat sebagai manusia". 

Seperti Miller, Kanae percaya bahwa kejadian yang menimpa Sae tidak akan terjadi seandainya ibunya menganggap serius trauma yang dialaminya.

Lain lagi dengan tokoh Maki sebagai anak tertua yang dididik dengan disiplin dan harus mampu mengemban tanggung jawab. Tokoh Maki justru menunjukkan sikap yang berlawanan ketika dihadapkan dengan tragedi.

Bagaimana Maki ketakutan dan berlari pulang saat kejadian, namun dimaki dan dipukul oleh ibunya karena tindakan tersebut dianggap memalukan. Kanae berusaha merubah pola ini dengan menampilkan contoh kasus yang dihadapi tokoh Maki.

Simon Baron-Cohen, seorang psikolog dalam bukunya Zero degrees of empathy: a new theory of human cruelty mengatakan: “orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan mendiskusikan konsekuensi dari tindakan anak mereka menghasilkan anak-anak yang memiliki perkembangan moral yang baik dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dengan metode otoriter dan hukuman”. Ini sesuai dengan misi yang dibawa Kanae di dalam novelnya.

Kanae berhasil menyampaikan dengan baik sisi-sisi pengasuhan yang gelap dalam kehidupan masing-masing tokoh hingga menimbulkan rasa empati kita saat membacanya. Sebagai pembaca kita diajak untuk menilai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan orang tua terhadap anak, khususnya yang mengalami trauma.

Kanae menyorot pola asuh di zaman yang atraktif dan modern ini hendaknya lebih humanis dan dinamis, meninggalkan pola-pola otoriter. 

Orang tua harus menciptakan kondisi rumah yang nyaman bagi anak. Kanae juga menekan pentingnya membangun hubungan emosional dengan anak melalui komunikasi dan keterbukaan,  karena orang tua adalah support system pertama. Seperti yang dikatakan Oscar Wilde “cara terbaik untuk membuat anak baik adalah dengan membuat mereka bahagia”.

Karakter-karakter hebat dimasa depan dibangun dari pondasi yang bagus sedari dini. Jika rantai pola asuh yang buruk tidak diputus dan diperbaiki, maka bisa terulang dan diturunkan ke generasi berikutnya. 

Anak-anak harus dibesarkan dengan didikan yang bagus, berhak diperlakukan dengan hormat dan serius layaknya orang dewasa. Charles Raison pernah berkata: satu generasi dari orang tua yang sangat mencintai akan mengubah otak generasi berikutnya, dan dengan itu, mengubah dunia. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik yang bisa menjadi panutan bagi anak kita.

*Ditulis Oleh: Putri Wulan Dari dan Ferdinal, Magister Ilmu Sastra Universitas Andalas.

Hubungan Karya Sastra Dengan Budaya Dalam Cerpen Pakiah Dari Pariangan  Karya Gus Tf Sakai
Senin, November 15, 2021

On Senin, November 15, 2021

CERPEN ini pakiah dari Pariangan terdapat banyak fakta sosial didalamnya sehingga hal ini menyebabkan pakiah ini tentu berkaitan dengan pengarang yang notabene membuat cerpen tentang kebudayaan.

Gusarnya pengarang tentang pergeseran nilai budaya yaitu ttg awalnya pakiah itu ada, hilang dan ada lagi tetapi ditukar dengan pengemis.

Didalam cerpen dikatakan bahwa pengarang tidak menjelekkan pakiah, bisa dikatakan pengarang menyebut pkiah sbg pahlawan tetapi pengarang gusar dengan adanya pengemis itu yang menjelma jadi pakiah. 

Pengemis di koordinir oleh dinas sosial dan pakiah tidak. pergesran nilai budaya dalam pelaksanaan tradisi mamakiah ini membuat seseorang ini(pakiah) ini menjadi fenomena sosial.

Pakiah merupakan sebutan bagi anak muda yang belajar mengaji ilmu agama khususnya kitab kuniang (seperti yanh tertuang dalam cerpen karya Gus Tf diatas) di surau atau di pesantren kuno.

Pakiah sekarang lebih dikenal dengan sebutan santri karena memang program dipakai oleh kementerian agama untuk murid yang belajar di pesantren dipanggil dengan sebutan santri, meskipun Santri dan pakiah itu memiliki sejarah tersebut. 

Belum ditemukan siapa yang mempopulerkan sebutan anak muda yang belajar agama itu dengan sebutan pakiah. 

Tetapi banyak penulis menyebutkan atau manyandarkan sebutan pakiah itu dengan faqih dalam bahasan arab yang berarti orang yang paham agama. 

Tapi bisa diyakini bahwa sebutan pakiah itu ada kaitannya dengan sebutan faqih dalam bahasa arab tersebut.

Menariknya pakiah oleh anak muda sekaran muda yang belajar mengaji agama atau kitab kuniang di surau atau pesantren tradisional yang banyak berada di wilayah  Minangkabau khusunya Kabupatwn adang Pariaman dan sekitarnya selalu diidentikan dengan aktifitas mamakiah. 

Di Padang Pariaman banyak sekali pesantren kuno yang sekarang masih berdiri tegak.  Meskipun tidak semua pakiah itu melakukan aktifitas mamakiah. 

Sepanjang hasil bacaan dan pendengaran penulis belum didapatkan data siapa yang memulai praktek mamakiah itu dan siapa Pakiah pertama yang mamakiah. 

Tetapi sudah “ma wajadna alaihi akhana”. Dia bukan tradisi yang diwariskan, tetapi itu sudah ada saja sebelumnya.

Jadi Gus Tf saksi sebagai seorang yang hidup di tengah tengah masyarakat pada saat itu yang notabene hidup berdampingan dengan para pakiah yang sekarang masih eksis di Minangkababau karena menurutnya budaya masyarakat padaa saat itu sudah mulai luntur dab tradisi mamamakiah sudah mulai dilupakan oleh masyarakat dalam cerpennya di daerah pariangan. 

Menariknya Tradisi mamakiah masih eksis di padang pariaman biasanya setiap hari kamis dan jumat biasanya selalu ada pakiah yang meminta sedekah menurut Gusti Tf saksi dalam cerpen diatas tradisi ini tidak hanya meminta saja melainkan menguji mental dari seorang santri atau pakiah tersebut sebelum turun sebagai ustad ke masyarakat. 

Gus tf khawatir akan hilanngya budaya serta sejarah pakiah ini makanya mendorong dia membuat sebuah cerpen yang juga cukup fenomenal karena dia merupakan pengarang yang hidup dalam sosial masyarakat serta sejarah tentang pakiah itu sendiri. 

Gus tf takut budaya tersebut kedepannya tidak diketahui oleh anak cucu nya seperti ketika nek minah menceritakan tradisi ini atau tentang pakiah kepada cucunya, anggap saja kita nek Minah sebagai Gus tf kita sebagai cucunya yang tidak mengetahui sama sekali tentang tradisi pakiah ini. 

Dalam ceritanya agar menarik dibuatlah tentang kesakitan Pakiah itu sendiri supaya orang mempercainya dan mau mengasih pakiah. 

Begitu tidak tahunya kebanyakan masyarakat tentang pakiah itu sendiri. Gus tf dalam cerpennya diatas mengatakan bahwa  budaya mamakiah ini bukanlah pengemis melainkan uji mental. 

Menurut penulis gus Tf layak diapresiasi dan karya nya ini sesuai dengan perkembangan zaman dan juga kritik terhadap masyarakat yang tidak tahu dan mengatakan pakai itu adalah pengemis.

Tradisi mamakiah adalah tradisi yang dijalankan oleh santri pondok pesantren yang ada di Minangkabau terkhusus bagi wilayah Padang Pariaman. 

Tradisi ini yaitu menjalankan sebuah buntie (seperti karung) yang mana buntie ini digunakan pada hari kamis dan jumat untuk meminta sedekah ke rumah-rumah warga, misalnya di kampung alai, kampung tangah dan lain-lain.

Tradisi ini terkhusus ada di wilayah Padang Pariaman, di wilayah inilah banyak surau-surau yang dijadikan bahan pengajaran bagi anak muda yang ingin belajar ilmu agama. 

Anak muda ini tidak hanya berasal dari Padang Pariaman saja melainkan berasal dari berbagai daerah yang ada di Minangkabau bahkan dari Riau juga ada yang ingin belajar ilmu agama di pondok pesantren yang ada di Padang Pariaman. 

Anak muda tersebut pergi jauh-jauh merantau agar nanti setelah tamat mengaji diberi gelar Tuangku di kampung agar berguna bagi masyarakat. 

Banyak pondok pesantren kuno yang ada di Padang Pariaman melaksanakan tradisi ini bagi para santri. Pondok pesantren ini biasanya memiliki murid sekitar 100-200 orang setiap pondok pesantren.

*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid  Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman  Sumatera Barat Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek

Keadaan Seni Pertunjukan Saluang Dendang Pauh Pada Zaman Sekarang
Sabtu, November 13, 2021

On Sabtu, November 13, 2021

KALAU berbicara tentang minangkabau budaya adat dan logat yang kental membuat dimana pun orang minangkabau berada pasti akan kelihatan jelas bahwa dia itu orang minangkabau. Dan uniknya mereka ada dibanyak kota diindonesia. Saluang merupakan alat musik tradisional Minangkabau sejenis suling yang terbuat dari bambu atau talang.

Pertunjukan saluang sering ditampilkan pada acar pesta pernikahan tagak gala dan juga beberapa upacara adat di Minangkabau, saluang pauh merupakan alat musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di kecematan pauh kota padang instrumen ini memiliki enam buah lubang nada dan merupakan alat musik tiup hal ini tentunya sangat berbeda dengan beberapa salung yang ada di Minangkabau. 

Apabila dilihat secara sekilas maka alat musik ini menyerupai bansi yaitu alat musik Minangkabau yang mempunyai tujuh lubang nada akan tetapi memiliki ukuran yang lebih besar. Dalam sebuah pertunjukan saluang pauh hanya terdiri dari dua pemain yaitu seorang pemain saluang dan seorang pendendang, penyajian pertunjukan saluang pauh berisi tentang cerita atau kaba. 

Kaba yang dilantunkan oleh pendendang pada beberapa bagian dendang akan menimbulkan respon dari penonton, berupa kuaian yaitu sorakan sepontan dari penonton apabila ada suatu hal dalam dendang yang dianggap ganjil atau lucu.

Sehingga interaksi tersebut akan timbul komunikasi antara penonton dan penampil dalam pertunjukan saluang pauh, interaksi-interaksi yang terjadi dalam pertunjukan saluang pauh semakin malam akan semakin meriah sehingga akan tercipta suatu bentuk yang mencerminkan sikap kerja sama sosial di masyrakat. 

Secara keseluruhan irama dendang didalam pertunjukan saluang pauh bersifat sedih atau maratok, pakaian yang digunakan seorang pendendang dan penyaluang adalah pakaian biasa, tukang dendang dan tukang saluang duduk diatas sebuah kasur yang di letakan di panggung bagian depan area pertunjukan. 

Panggung ini merupakan tempat pengantin laki-laki dan perempuan akan bersanding, mereka menghadap kearah penonton tukang pendendang dan tukang saluang duduk berjejeran satu buah bantal besar diletakan diatas kasur sebagai tempat meletakan pengeras suara. 

Kalayak atau penonton pertunjukan dendang pauh kebanyakan laki-laki dari segi umur ada yang berusia muda, dewasa, dan tua. Penonton dewasa dan tua lebih terlibat dengan pertunjukan. Saluang pauah ini dimainkan dari jam sepuluh malah sampai subuh.

Sejarahnya terbentuk dendang dan saluang pauh ini dahulunya nenek moyang dahulunya menanam padi di lereng bukit, bersama dengan istrinya. Setelah padi masak lalu dipanen dan batangnya diambil setelah itu dijadikan pupuik batang padi, setelah itu ditingkatkan juga lalu dibuat bansi.

Lama kelamaan ditingkatkan lagi dengan menggunakan talang atau bambu, diambil talang dibuat saluang dengan membuat enam lubang lalu ditiup, tercengang lah perempuan yang mendengarnya lalu diiringi oleh perempuan itu dendang. Dendang pauh ini dimainkan oleh seseorang dalam keadaan gelisah dipondok akibat miskin, diiringilah dendang oleh perempuan dan laki-laki main saluang.

Karena bagus bunyinya dibawa lah kekampung, setiba dikampung masyrakat disana suka dengan bunyi saluang dan dendang yang dimainkan. Dikembangkan lah setelah itu dibuat adok seperti rabana dinamakan lah itu dendang adok, berbunyi saluang dipukul adok. 

Setelah itu lama kelamaan dipisahkan adok ini dengan saluang dan dibuat menjadi dua yaitu orang yang memainkan saluang dan orang berdendang, adok tinggal baru dijalankan cerita. Dendang yang dimainkan seperti dendang bonjo lubuk sikapiang, silayiang padang panjang, pariaman banduang, tanjuang karang.

Perkembangan zaman pada  saat ini memberikan efek memprihatinkan terhadap kebudayaan Minangkabau semakin lama eksistensi Minangkabau semakin memudar, sangat banyak dari generasi muda yang mulai melupakan budaya mereka sendiri. 

Generasi muda kian tak acuh terhadap kebudayaan Minangkabau seperti kesenian yang ada didalamnya, kebanyakan generasi muda lebih memilih kebudayaan luar untuk dicontoh. Sekarang sudah jarang sekali orang memainkan pupuik dan saluang di pesta pernikahan, kalau pun ada itu adalah orang yang adatnya masih kental. media penyampaian kesenian tersebut sudah terbatas dan banyak orang-orang menampilkan kesenian tersebut di tempat-tempat seperti pertamina, lampu merah dan tempat lainnya.

*Ditulis Oleh: Putri Rahayu Rahman, Mahasiswi Sastra Minangkabau Universitas Andalas.

Catatan Ardimal: Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Seni Pertunjukan Dikabupaten Solok
Rabu, November 10, 2021

On Rabu, November 10, 2021

DI Minangkabau Seni Pertunjukan tentu bukan hal yang asing lagi bagi Masyarakat terutama di Kabupaten Solok. Seni Pertunjukan di Kabupaten Solok cukup beragam, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta seni.

Seni Pertunjukan dikemas semenarik mungkin serta dikreasikan dengan Seni Pertunjukan Modern sehingga setiap pertunjukannya menjadi nilai Estetik bagi penikmatnya. 

Tidak hanya itu Seni Pertunjukan juga dijadikan sebagai Ikon utama dalam sebuah acara atau Tradisi, Seperti: Acara Perhelatan, Acara-acara Adat, hari-hari besar dan lainnya. 

Oleh sebab itu, Seni Pertunjukan ini hampir dilaksanakan setiap tahunnya. 
Masyarakat kabupaten Solok yang masih kental dengan kebudayaan serta tradisinya, menjadikan Seni Pertunjukan sebagai ajang hiburan yang berkembang pesat dan terjaga kelestariannya sampai saat ini. 

Hampir seluruh daerah di Kabupaten Solok memiliki Seni Pertunjukan yang berbeda-beda, namun ada juga yang sama. 

Meskipun bentuk pertunjukannya sama namun memiliki Artikulasi yang berbeda sehingga mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri disetiap daerahnya. 

Namun, pada akhir tahun 2019 Sampai sekarang terjadi pandemi di seluruh belahan dunia termasuk indonesia yang bersumber dari wuhan, China yang bernama COVID-19. 

Pandemi ini sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan masyarakat diindonesia, sehingga memiliki dampak negatif yang cukup besar yang membuat lumpuh berbagai bidang dalam kehidupan masyarakat salah satunya adalah Seni pertunjukan.

Pada masa jauh sebelum pandemi COVID-19 datang ke indonesia. Masyarakat masih menjunjung tinggi nilai kebudayaan dan tradisinya serta menjaga dan melestarikan seni pertunjukan di setiap daerah yang ada di indonesia, salah satunya kabupaten Solok. 

Kabupaten Solok yang menganut sistem kebudayaan minangkabau memiliki berbagai jenis seni pertujukan dengan ciri khas tersendiri sehingga tidak heran mengapa daerah ini menjadi salah satu objek wisata bagi orang asing. 

Pada awal masuknya pandemi ke sumatera barat, seluruh bentuk dari berbagai seni pertunjukan yang ada mulai di berhentikan sementara sampai waktu yang tidak ditentukan sehingga perkembangan seni pertunjukan di Sumatera Barat termasuk di Kabupaten Solok terhambat karena berbagai kebijakan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19. 

Dampak dari pandemi ini sangat signifikan terhadap tatanan kehidupan masyarakat yang membuat segala aktivitas kebudayaan dan tradisi tidak dapat dilakukan. 

Penerapan berbagai kebijakan seperti; Lockdown, PSBB, Dan lain sebagainya. Membuat segala bentuk yang berpotensi berkerumun atau berkumpulnya orang-orang dihentikan sementara, seiring dengan meningkatnya angka psitif COVID-19 dan juga di perketatnya aktivitas masyarakat semakin membuat seni pertunjukan yang ada di Kabupaten Solok semakin tidak dapat dilakukan sehingga seni pertunjukan di beberapa daerah kabupaten solok lumpuh total akibat dampak dari COVID-19.

Berbagai upaya dalam pemulihan keadaan telah dilakukan oleh pemerintah maupun berbagai kalangan masyarakat untuk pengendalian penyebaran COVID-19. 

Namun tetap saja pandemi sampai sekarang masih belum juga hilang secara total, yang artinya penerapan kembali seni pertunjukan belum juga dapat dilakukan di beberapa daerah yang dikira masih rawan terhadap penyebaran COVID-19, oleh sebab itu seni pertunjukan pada saat ini hanya ditampilkan melalui media massa(online), Dengan demikian penerapan dari seni pertunjukan seperti ini tidak sekondusif seperti biasanya.

Oleh: Ardimal, Mahasiswa Universitas Andalas

Fungsi Seni Pertunjukan Indang di Pariaman
Senin, November 08, 2021

On Senin, November 08, 2021

KESENIAN indang di Pariaman terus mengalami perkembangan. Untuk itu bahasa yang ada dalam indang juga harus meningkat, terutama menyikapi zaman hari ini. Bahasa indang adalah bahasa sastra, terutama sastra Minangkabau. Maka pembinaan pengembangan bahasa terhadap kelompok indang, terutama tukang dikie dan tukang karang perlu diadakan. Tujuan dari artikel ini adalah mengetahui fungsi indah sesuai juga dengan fungsi seni pertunjukan dalam masyarakat.

Sebagai kesenian tradisional yang menghargai alam sebagai gurunya, indang selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada alam lingkungannya tersebut. Mereka berusaha menempatkan diri dalam alam yang mengalami perubahan. Masyarakat tradisional melihat alam sebagai suatu tatanan yang selaras dan telah diatur oleh suatu kekuatan di luar kekuatan manusia dan mereka berada dalam tatanan keseimbangan itu. Fungsi utamanya Upacara adat dan upacara keagamaan seperti upacara tabuik dan upacara peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yang diadakan setiap tanggal 10 Muharram.

Ada beberapa fungsi pertunjukan indang diantaranya:

Fungsi hiburan

Fung dari  Indang sendiri yaitu sebagai media penghibur bagi masyarakat. Hal ini berkaitan juga dengan fungsi seni pertunjukan itu sendiri. Dengan melaksanakan indang biasanya orang tua (sesepuh) akan melihat indang itu sendiri.

Fungsi ekonomi 

Di Pariaman indang  biasanya juga terdiri atas ekonomi juga karena dengan sekali penampilan Indang akan dikenakan biaya untuk menjemput indang itu tersendiri. Biaya ini ditanggung oleh kampung-kampung. Dijemput grup indang agar mau tampil di kampung kita untuk mengisi acara yang ada misalnya alek nagari.

Fungsi Estetik

Tari Indang memiliki keindahan tersendiri melalui gerakan, hal ini juga melihat ke estetikan fungsi dari indang itu sendiri

Gerakan indang yang serasi membuat pertunjukan ini juga sangat menarik untuk dilihat oleh semua masyarakat

Fungsi Pendidikan

Sanggar indang itu adalah wadah untuk mendidik generasi muda agar melestarikan kesenian tradisi yang ada di Minangkabau

Pesan yang disampaikan didalam indang juga merupakan sebuah pembelajaran yang penting misalnya pantun yang ada dalam indang itu sendiri memiliki makna tersendiri yang diaplikasikan ke dalam kehidupan.

Sarana pendidikan untuk memberikan edukasi pada pelajar mengenai nilai-nilai dan ajaran Islam.

Fungsi Sosial

Sosial di sini dapat dikatakan bahwa dengan adanya indang dibersamai dengan Alek nagari membuat sosial kemasyarakatan dalam alek nagari itu sendiri. Dengan adanya indang membuat masyarakat berbodondong untuk melihat seni tradisi ini. Kalau kita hubungan tentu ada interaksi antara sesama masyarakat ketika pertunjukan ditampilkan. Bersilaturahmi antara sesama penonton, pemain dan lain-lain agar mempererat tali silaturahmi. Terjalin hubungan sosial antara penonton dengan penonton dan pemain dengan pemain.

Fungsi Religius

Sebagai media dakwah, tari indang mengundang beberapa elemen pendukung yang bernafaskan budaya agama Islam. Seni tari ini kerap disuguhkan atau dipertunjukkan bersama iringan sholawat Nabi atau syair yang mengajarkan nilai keIslaman.

Indang Memiliki kata-kata yang mengandung unsur agam didalamnya. Misalnya tukang dikie indang mengatakan "dengan Bismilah tulah indang nak kami mulai iyolai"  hal ini menunjukan bahwa  didalam seni pertunjukan tentu tidak lepas dari ajaran agama. hal ini berfungsi agar setiap memulai sesuatu itu dengan Bismillah. Itu pesan religius dapat disampaikan melalui Indang Tersebut.

Fungsi Pariwisata

Sarana hiburan dan pertunjukan untuk menyambut tamu kehormatan, baik tamu dari dalam negeri maupun mancanegara. Untuk pariwisata agar daerah kita dilirik oleh orang luar agar tahu bagaimana daerah kita itu sendiri.

Begitulah Fungsi Tari Indang Di Pariaman. Memang tari indang  Di Pariaman hingga saat ini masih menjadi sebuah seni pertunjukan di Pariaman yang memiliki fungsi sesuai juga dengan seni pertunjukan yang ada pada umumnya. Fungsi indang ini masih berlaku didalam masyarakat hingga sekarang, hal ini membuat indang tentu masih tereksis hingga sekarang tetapi pandemi Covid-19 memiliki kata lain. Covid-19 menjadi faktor yang paling utama tarian indang ini seakan tidak ada berbarengan dengan  melemahnya seni pertunjukan yang ada di Pariaman khususnya. Tempat penampilan ini juga berpengaruh terhadap kelangsungan tari Indang ini sendiri. Karena tidak adanya Alek Nagari membuat indang ini kurang eksis di tengah masyarakat hingga saat ini. Covid menjadi faktor penyebab indang kurang begitu eksis di tengah masyarakat.

*Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid , Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas  Patamuan Tandikek.

Air Terjun Bayang Sani sebagai Tujuan Wisata Alam Bersama Keluarga
Senin, November 08, 2021

On Senin, November 08, 2021

INDONESIA merupakan negara kepulauan yang besar dan luas di Asia Tenggara. Negara yang memiliki iklim tropis ini memiliki banyak lautan, pantai, hutan, gunung, dan sawah.

Indonesia sebagai negara yang memiliki keberagaman menjadikan potensi alam sebagai sektor pariwisata. Salah satu provinsi di Indonesia dengan sektor pariwisata alam yang sangat baik yaitu provinsi Sumatera Barat. 

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia. Dikelilingi oleh Bukit Barisan dan lautan, provinsi ini menjadi salah satu daerah potensi naiknya sektor pariwisata.

Sumatera Barat membuktikan keindahan alamnya dengan menjadikan salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Barat sebagai kabupaten yang dikenal dengan “Negeri Sejuta Pesona” yaitu Kabupaten Pesisir Selatan. 

Kabupaten Pesisir Selatan merupakan kabupaten yang dibentangi oleh lautan dan Bukit Barisan. Sebagai perbukitan yang membentang mengelilingi Pulau Sumatera, Bukit Barisan menyimpan banyak kekayaan alam. Kekayaan alam yang tersimpan di dalam Bukit Barisan salah satunya yaitu Air Terjun Bayang Sani.

Bayang Sani merupakan nama dari air terjun dan kolam pemandian yang terletak di Nagari Koto Baru, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. 

Jika wisatawan dari Kota Padang maka membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke lokasi wisata Air Terjun Bayang Sani. Lokasi Air Terjun ini sudah dapat dilihat melalui Google Maps. 

Air Terjun Bayang Sani merupakan salah satu ikon pariwisata keindahan alam dari Kabupaten Pesisir Selatan. Air Terjun Bayang Sani menyimpan berbagai keindahan alam dan hal-hal menarik di dalamnya. 

Salah satu fakta menarik yang diketahui banyak orang yaitu, Bayang Sani merupakan air terjun yang memiliki tujuh tingkatan di atasnya.

Tujuh tingkat ini berarti ada enam tingkat lagi yang berada di atas Air Terjun dan kolam dasar. Kolam dasar dan air terjun tingkat pertama berada tepat setelah pintu masuk dan tempat membayar karcis. 

Keindahan alam Air terjun Bayang Sani bahkan terlihat sebelum pengunjung memasuki objek kawasan wisata Bayang Sani, pengunjung  akan dimanjakan dengan tampaknya air terjun yang berada pada tingkat tiga dengan air bersih yang mengalir deras dari kejauhan. Air bersih dari air terjun ini menjadi salah satu sumber mata air yang mengaliri Kecamatan Bayang.

Keindahan alam yang disuguhkan air terjun ini dapat dilihat dari bebatuan yang seperti terukir, terdapat sebuah gua yang seakan secara alami menjadi latar belakang air terjun Bayang Sani. Air terjun secara deras menuruni bebatuan yang terukir secara alami.

Keindahan alam dari Air Terjun Bayang Sani terlihat dengan keadaan alam dari wisata ini yang sangat terjaga.

Hutan-hutan hijau mengelilingi pemandangan dari Air Terjun Bayang Sani. Meski merupakan air terjun tujuh tingkat, tidak semua tingkatan dibuka untuk wisatawan dikarenakan medan mendaki yang cukup berbahaya.

Biasanya wisatawan hanya berada tingkat pertama atau tingkat dasar sebagai tempat menikmati alam dan pemandian. Daya tarik yang mulai tersebar secara online juga menyebutkan bahwa Air Terjun Bayang Sani dahulunya merupakan kolam pemandian bagi Noni-noni Belanda.

Cerita-cerita tersebut menjadi cerita dan sejarah lisan yang merambat ke internet.

Air Terjun Bayang Sani sebagai objek wisata alam yang terkenal di Kabupaten Pesisir Selatan tidak memerlukan biaya yang besar untuk mengunjungi air terjun ini. 

Untuk memasuki kawasan wisata Bayang Sani, pengunjung hanya dikenakan biaya sekitar Rp. 5000,- (Lima Ribu Rupiah) per orang dan pengunjung dapat merasakan keindahan alam dan pemandian air terjun ini sepuasnya. 

Sebagai objek pariwisata, Air Terjun Bayang Sani memiliki berbagai fasilitas yang mendukung wisatawan untuk menikmati keindahan alam dari air terjun ini. 

Fasilitas yang dimiliki oleh objek wisata ini yaitu toilet dan lahan parkir. Fasilitas toilet yang memadai sangat diperlukan guna wisatawan yang akan mengganti baju setelah berenang di kolam Air Terjun Bayang Sani. 

Lahan Parkir yang luas tidak hanya dapat digunakan oleh kendaraan roda dua, namun lokasi wisata Air Terjun Bayang Sani juga memadai untuk mobil dan bus. Pengunjung tidak perlu lagi khawatir apabila menjadikan Bayang Sani sebagai tempat berwisata untuk keluarga dan kerabat.

Ditulis Oleh: Rani Aulia, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Catatan M Akbar: Wisata Unggulan Pesisir Selatan Sumatera Barat
Sabtu, November 06, 2021

On Sabtu, November 06, 2021

Catatan M Akbar: Wisata Unggulan Pesisir Selatan Sumatera Barat
PESISIR Selatan memiliki panorama alam yang cukup cantik dan mempesona. Kawasan Mandeh misalnya, sekarang kawasaan wisata ini oleh pemerintah pusat masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS) mewakili kawasan barat Indonesia. Kawasan wisata potensial lainnya adalah Jembatan Akar, Water Pall Bayang Sani, Cerocok Beach Painan, Bukit Langkisau, Nyiur Melambai serta sejumlah objek wisata sejarah, seperti Pulau Cingkuak (Cengco), Peninggalan Kerajaan Inderapura dan Rumah Gadang Mandeh Rubiah Lunang. Bila semua potensi pariwisata Pesisir Selatan tersebut dapat di kelola secara profesional tentu akan jadi sumber PAD andalan daerah pada masa mendatang. 


Negeri Sejuta Pesona yang menjadi julukan bagi Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Di karena kan pesisir selatan ini memiliki destinasi wisata dan panorama yang cantik, sebab itulah di juluki Negeri Sejuta Pesona.


Di sini kita tidak akan membahas wisata mandeh, tidak akan membahas wisata carocok beach painan dan wisata-wisata lainya, tetapi kali ini kita akan membahas tentang wisata Jembatan Akar Bayang, gimana sih sejarahnya kok bisa akar jadi jembatan, gimana sih proses pembuatannya, dan siapa sih orang yang mendirikan jembatan ini, yuk mari kita simak penjelasan di bawah ini.


Jembatan Akar Bayang. Ternyata Sumatera Barat atau pesisir selatan lebih tepatnya di Bayang juga memiliki jembatan akar seperti di Baduy, Banten, dan seperti jembatan akar manca Negara lainnya. Jembatan akar ini bernama Jembatan Akar Bayang. 


Jembatan Akar Bayang ini terletak di Kampung Pulut-Pulut, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara. Ditempuh dari Painan, objek wisata yang unik ini berjarak sekitar 24 kilometer. Jika ditempuh dari Kota Padang, wisatawan dapat menemukan jembatan akar ini setelah menempuh perjalanan sekitar 65 kilometer. 


Jembatan akar ini terbentuk dari akar-akar pohon beringin yang saling melilit sehingga membentuk jembatan.  Jembatan Akar Bayang merupakan jembatan penghubung antara Kampung Puluik-Puluik dan Kampung Lubuk Silau. Di bawah jembatan akar, mengalir deras Sungai Bayang. Jalinan akar-akar pohon beringin yang membentuk jembatan ini dipercaya sudah ada sejak tahun 1916.  


Tapi, jembatan itu bersejarah. Terutama bagi penduduk kampung di Bayang Utara. Jembatan Akar – penduduk setempat menyebutnya Titian Aka – memiliki tempat tersendiri di hati warga. Kabar dari mulut ke mulut, jembatan itu dibangun oleh seorang ulama, Pakih Sokan.


Ia merasa iba melihat murid-muridnya di seberang sungai kesulitan mengaji, karena terhadang aliran Sungai Batang Bayang. Sungai itu kian bahaya ketika musim hujan, arusnya deras dan meluap-luap. 


Pada tahun 1890, Pakih Sokan berinisiatif membentangkan dua bilah bambu pada dua sisi Sungai Batang Bayang. Ia lalu mengikat bambu itu dengan akar dua pohon beringin yang tumbuh di dua sisi sungai.


Lambat laun, akar dari dua pohon beringin itu bertemu. Lalu berkelindan membentuk jembatan. Sejak dibuat pada 1890, jembatan itu baru bisa digunakan dengan aman pada 1916. Butuh waktu 26 tahun hingga jembatan itu kuat dititi oleh warga.


Kini, jembatan ini memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,5 meter, dengan ketinggian dari permukaan sungai sekitar 10 meter. Saat ini, kondisinya semakin lama semakin kuat karena semakin besarnya akar pohon beringin yang membentuknya. Sayangnya, Pakih Sokan tak sempat menikmati jembatan itu. 


Kini jembatan itu benar-benar kokoh. Ditopang oleh papan dan kabel baja, membuat warga dengan mudah melewatinya. Ribuan pejalan kaki melintasinya. Bahkan, jembatan ini menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pesisir Selatan.


Kehadiran Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik mampu merubah daerah tersebut menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata di Kabupaten Pesisir Selatan. Hal ini dilatarbelakangi oleh konstruksi Jembatan Akar yang unik dan menarik, dan terletak di kawasan yang memiliki pemandangan alam yang indah. 


Di samping itu, secara tradisional Jembatan Akar tetap digunakan sebagai alat tempuh untuk menyeberangi sungai Batang Bayang. Di samping itu, tingginya populasi pengunjung juga mempunyai banyak manfaat, baik sebagai alat penghubung antara dua tempat, atau juga sebagai tempat untuk rekreasi. 


Jembatan Akar selalu dikunjungi tiap hari oleh masyarakat sekitar Kenagarian Puluik-puluik, ataupun dari luar Kabupaten Pesisir Selatan, termasuk turis mancanegara.


Untuk memasuki obyek wisata Jembatan Akar Bayang ini, wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp 5.000 per orangan. Wisatawan bisa mandi-mandi serta terjun dari atas jembatan ke sungai dan tidak jarang wisatawan yang kesana tidak mengambil foto, pasti wisatawan selalu mengambil foto.


Penulis: M. AKBAR, mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Melihat Sejauh Mana Keterlibatan Kekuatan Politik dalam Pembuatan Kebijakan Publik
Senin, November 01, 2021

On Senin, November 01, 2021

KEKUATAN Politik dan Sistem Politik ibaratkan dua sisi yang berbeda dalam satu mata uang logam, mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua hal ini saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain. 

Hubungan kekuatan politik dengan sistem politik dijembatani oleh suatu produk pemerintahan yang bernama kebijakan publik, kebijakan publik inilah yang juga merupakan hasil dari eksistensi kekuatan politik tersebut.

Kebijakan publik itu sendiri adalah aturan yang bersifat mengikat dan wajib ditaati bagi setiap masyarakat. Dye mengatakan bahwa kebijakan publik adalah “ whatever governments to do or not to do”. 

Mengenai kebijakan publik ini tentu banyak berbagai pendapat dan pandangan mengenai kebijakan publik ini. Jadi kebijakan publik yang dilaksanakan adalah sebagai tujuan dari sistem politik dan juga merealisasikan tujuan subsistem yaitu kekuatan politik.

Lalu bagaimana kebijakan publik itu dibuat? Siapa siapa yang terlibat? Untuk apa kebijakan itu dibuat?

Bagaimana efek yang akan ditimbulkan jika kebijakan tersebut diterapkan? Pada tulisan ini penulis akan mencoba melihat dan menganalisis bagaimana pengaruh kekuatan politik terhadap proses pembuatan kebijakan publik.

Dalam memahami komsep pada tulisan ini, penulis akan menggunakan buku karya Prof. Asrinaldi yang berjudul “Kekuatan-kekuatan Politik di Indonesia” yang terbit pada tahun 2014

How it's Going?

Kehadiran kekuatan politik pada dasarnya adalah sebagai check and balances dari sebuah kebijakan publik pada sistem politik. 

Sebelum sampai pada pembuatan kebijakan, ada sebuah proses yang perlu dilihat oleh pembuat kebijakan yaitu Analisis kebijakan. 

Analisis kebijakan menurut William N. Dunn yaitu sebuah aktivitas menciptakan pengetahuan yang relevan dari kebijakan dengan tujuan untuk dapat meningkatkan dan memperbaiki suatu kebijakan.

Dalam bukunya, William Dunn menjelaskan mengenai analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah yang terdiri dari lima tipe informasi yang relevan kebijakan yang ditransformasikan dari satu ke lainnya dengan menggunakan lima prosedur analisis kebijakan. 

Untuk memahami kebijakan publik tentu kita harus memahami apa substansi dari kebijakan kemudian bagaimana proses munculnya kebijakan yang artinya adalah pemilihan isu yang tepat. 

Pada pemilihan isu inilah seringkali terjadi kesalahan bagi pembuat kebijakan yang kurang hati-hati dalam memetakan isu sehingga kepentingan dan keinginan masyarakat terpinggirkan. 

Disamping itu pada pemilihan isu ini juga seringkali menjadi peluang bagi kekuatan politik untuk menyelipkan berbagai kepentingannya sehingga kepentingan mereka bisa direalisasikan melalui kebijakan publik. 

Jadi sejauh mana pengaruh dan keterlibatan masing masing kekuatan politik dalam pembuatan kebijakan publik ini?

Kekuatan politik adalah hal yang sangat penting dalam sebuah negara demokrasi. Kekuatan politik ini merupakan subsistem dari sistem politik itu sendiri yang dimana kekuatan politik tersebut terdiri dari mahasiswa, intelektual, LSM. 

Pengusaha, Ormas, partai politik dan lain sebagainya. Yang terbaru dari kekuatan politik ini adalah para buzzer yang pada akhirnya bisa disebut sebagai salah satu kekuatan politik di praktek sistem politik Indonesia.

Semenjak runtuhnya orde baru peran kekuatan politik dalam pembuatan kebijakan semakin kuat, hal ini diterapkan dalam beberapa peraturan undang-undang demi menerapkan konsep negara demokrasi. 

Dengan adanya hal tersebut menjadikan semua lapisan masyarakat bisa ikut dalam proses pembuatan berbagai kebijakan yang akan diterapkan oleh pemerintah.

Kembali lagi kepada fokus bahasan kita yaitu bagaimana keterlibatan kekuatan politik dalam proses pembuatan kebijakan publik. 

Meskipun setiap kekuatan politik memberikan pengaruh dalam setiap perumusan kebijakan namun pada kenyataanya semua hal yang dirumuskan oleh kekuatan politik bersama para pembuat kebijakan tidak selalu bisa terealisasikan. 

Lantas mengapa hal ini bisa terjadi? 

Perlu kita ketahui bahwa demokrasi negara kita adalah dengan sistem perwakilan dimana sebagian besar kekuasaan diserahkan kepada pemerintah (DPR) dan sisanya ada ditangan rakyat. 

Hal inilah yang membuat peran kekuatan politik dalam proses pembuatan kebijakan publik hanya sampai pada tahap perumusan kebijakan tidak untuk menetapkan kebijakan tersebut. 

Mahasiswa. LSM, Ormas, dan lainnya memiliki ruang yang terbatas dalam hal ini, karena selebihnya akan terjadi di parlemen dan anggota DPR dan pemerintah lah yang akan memfinalkan segala macam keputusan yang ada.

Hal yang tidak kalah penting dari sebuah proses kebijakan publik adalah partai politik. Partai politik sebagai suatu kelompok terorganisasi yang anggota-anggotanya memiliki orientasi politik. 

Orientasi yang dimaksud adalah untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan politik. Partai politik juga merupakan sebuah kekuatan politik dalam negara demokrasi. 

Akan tetapi penulis melihat bahwa peran kekuatan politik dalam proses pembuatan kebijakan tampaknya lebih luas dan lebih dominan walaupun kenyataannya tidak tampak akan tetapi hal tersebut memang terjadi? Jadi mengapa peran partai politik bisa lebih luas dibandingkan dengan kekuatan politik lainnya?

UU cipta kerja merupakan salah satu kebijakan yang telah disetujui oleh pemerintah, partai politik disini memiliki peran yang sangat dominan dimana ada 7 fraksi partai politik yang menyetujui UU ini. 

Dilansir dari detik .com dikatakah bahwa “Adapun dua fraksi, Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera belum menerima hasil kerja panja dan menolak RUU Cipta Kerja dilanjutkan dalam tingkat kedua dalam paripurna kali ini," kata Supratman Andi.

Sebenarnya masih banyak kasus lain mengenai bagaimana keterlibatan partai politik terhadap pembuatan kebijakan publik akan tetapi penulis tidak membahas keseluruhan. 

Dari kasus ini kita bisa melihat bagaimana luas dan jauhnya keterlibatan partai politik dalam pembuatan kebijakan publik. 

Hal ini dikarenakan bahwa anggota legislatif atau DPR merupakan anggota dari partai-partai politik yang ada.

Mereka adalah agent ataupun soldier yang tentunya bekerja dan mengabdi untuk partai politik mereka bernaung.

Jadi mau tidak mau mereka akan bekerja dan melakukan apapun untuk partai nya. 

Berdasarkan penjelasan sebelumnya Indonesia adalah penganut sistem demokrasi perwakilan. Demokrasi perwakilan tentunya kita menyerahkan kekuasaan kita kepada para wakil rakyat di parlemen sana. 

Perlu kita ketahui bahwa para wakil rakyat atau DPR itu adalah anggota dari partai politik itu sendiri. Dengan demikian maka partai politik memiliki ruang yang sangat tak terbatas dalam pembuatan kebijakan publik ini. 

Pada dasarnya partai politik juga memiliki kepentingan mereka tersendiri hal ini tentu ada hubungannya dengan segala macam tindakan kader mereka yang sedang menjabat di parlemen.

Partai politik akan senantiasa melakukan penekanan terhadap kader mereka di parlemen dengan membuat kebijakan dan regulasi yang akan memberikan efek positif dan menguntungkan partainya.

Keterlibatan partai politik dalam pengesahan berbagai macam kebijakan tidak dapat dielakkan lagi. Partai politik sendiri sejatinya adalah kendaraan bagi segelintir orang untuk berkuasa dengan demikian tentunya partai politik ingin juga eksis dalam segala tindakan yang diambil pemerintah diluar DPR. 

Akibat dari penyelipan kepentingan partai politik yang dilakukan oleh DPR ini adalah tidak tepatnya implementasi dari sebuah kebijakan yang dibuat, kebijakan yang lahir adalah kebijakan pesanan elite dan bukan kebijakan yang akan mensejahterakan kehidupan masyarakat.

What is the Conclusion? Partai politik adalah owner ataupun tuan dari Public Policy atau kebijakan publik itu sendiri. Itulah konsekuensi kita sebagai penganut negara demokrasi perwakilan yang diperburuk oleh banyaknya partai politik pada saat ini. 

Semakin banyak partai politik maka akan semakin banyak pula kepentingan yang akan diselipkan di setiap kebijakan tak peduli apakah kebijakan itu akan menenggelamkan masyarakat.

Bisa dikatakan bahwa pada Indonesia dewasa ini, selain berfungsi sebagai agregasi dan artikulasi aspirasi rakyat, serta kendaraan bagi mereka yang menginginkan kekuasaan, partai politik juga bisa diartikan sebagai seekor Lintah sistem Politik. 

Partai politik berperan penuh dari proses awal sampai akhir dari sebuah kebijakan publik meskipun hal ini terlihat kentara tapi hal ini memang terjadi. Sedangkan kekuatan politik lainnya seperti mahasiswa, LSM, Ormas dan lain sebagainya hanya sampai pada tahap perumusan kebijakan saja. 

Meskipun demikian, tentu kita mengharapkan kedepannya partai politik bisa lebih berfungsi sebagaimana mestinya dan bukan hanya eksis dalam menggunakan suara rakyat dalam membantu  mereka meraih kekuasaan dalam merealisasikan kepentingan mereka.

Kemudian kedepannya pemerintah juga diharapkan bisa memberikan ruang lebih pada kekuatan politik lainnya dalam proses pembuatan kebijakan publik meskipun kita sejatinya menerapkan demokrasi perwakilan dalam sistem politik Indonesia.

Penulis: Anzal Qodri

Jenis-jenis Silat yang Masih Bertahan di Pesisir Selatan
Senin, November 01, 2021

On Senin, November 01, 2021

DI Pesisir Selatan (Pessel) masih bertahan sejumlah jenis silat. Jenis silat yang masih diwarisi oleh generasi sekarang pada umumnya terbagi menjadi dua. Sebagian mewarisi silek harimau dan sebagian lagi adalah silek luncua.

Silek harimau banyak berkembang di kawasan Balai Selasa, Linggo Sari Baganti, Lengayang, Batang Kapas IV Jurai, Bayang dan Sutera. Sementara silek luncua bertahan di Lengayang, Surantiah, Batang Kapas dan sebagian Balai Selasa. Sementara di kawasan Tarusan jenis silek yang berkembang adalah silek Lintau dan Silek Kumango.

Namun, pada umumnya perguruan silek di pesisir selatan tidak terpublikasi dengan baik. Di Pesisir Selatan tradisi menurunkan ilmu silek ini biasanya dari mamak ke kemenakan atau setidaknya silek diperoleh dari keluarga terdekat.

Hanya satu dua murid silek yang sengaja datang dari luar untuk belajar, atau Cuma orang-orang yang ingin belajar silek saja dan beliau mencari guru siapa yang bisa mengajari.

Silek Buah Tarok - salah satu aliran silat di Minangkabau yang berasal dari Bayang, Pesisir Selatan. Salah satu peguruannya ada di Aur Duri Padang dengan nama peguruan Salimbado-Buah Tarok, dibawah asuhan Emral Djamal Silek Datuak Rajo Mudo.

"Terkait dengan silek lama atau silek harimau, salah satu penyebab mengapa masih bertahan disebabkan gerakan gerakan silek itu mudah dipelajari, kemudian gerakannya indah dan menarik perhataian," sehingga mudah untuk di ingat dan di implementasikan dalam kehidupan.

Silek luncua juga menjadi pakaian anak nagari. Silat jenis ini berbeda dengan silat harimau. Perbedaannya terletak pada jurus dan gerakannya. Silat harimau memiliki langkah gerakan memencak dan memerlukan ruangan atau lokasi luas untuk memainkannya.

Guru menetapkan jadwal latihan silat dan pada umumnya malam hari. Murid boleh mengajukan waktu sepanjang guru tidak keberatan. Pada umumnya jadwal latihan malam hari setelah salat isya. Mempunyai sasaran silek yang membolehkan latihan sebelum jam 12 malam. Semakin  malam dari itu dilarang oleh gurunya sebab sang guru meyakini, semakin malam dari jam 12 malam merupakan waktunya inyiak balang (harimau), sehingga tidak boleh untuk bersilat lagi. Tapi ada juga silat yang malah sebaliknya, bersilat itu dimulai dari lewat jam 12 malam hingga jam 4 pagi. Pada umumnya dipertontonkan dua atau tiga kali seminggu.

Pada tingkat lanjutan untuk mengambil gerakan silek harimau (silat harimau), malah sang guru yang pada umumnya suka latihan lewat jam 12 malam ini menanti muridnya untuk berupaya dapat siang hari. Gerakan dari silat harimau ini tidak sebanyak gerakan silat yang biasa guru ajarkan.

Mempunyai sasaran silek yang semakin "privat". Guru tidak suka punya murid banyak-banyak, paling-paling muridnya cuma 4 orang saja atau sepasang. Murid tunggal juga diterima, dan ini langsung bersilat dengan gurunya. Khusus untuk murid tunggal, guru wajib memiliki stamina yang adun, sebab wajib ikut main dengan murid dari awal hingga akhir.

Para murid pada umumnya membawa makanan untuk dimakan bersama, juga rokok, kopi atau teh dan gula saat hari latihan. Serta ada juga yang menyertakan dengan uang. Nilainya tidak ditetapkan, murid sendirilah yang menentukan berapa nilainya.

Jurus dan gerakan silek luncua sangat simpel dan praktis. Kunci silat luncua adalah kunci mati dengan memainkan sendi dan engsel, artinya lawan tidak diberi kesempatan bergerak. Ia bisa dipergunakan dalam situasi sesulit apapun apalagi terdesak. Disitu mungkin salah satu kelebihannya sehingga bisa bertahan sampai saat ini dan digemari generasi kegenerasi.

Jurus pertama yang dipelajari murid silat jenis ini adalah gelek. Gelek adalah suatu gerakan mengelak dari pukulan lawan. Posisi tubuh lurus, kemudian saat tinju hampir tiba, pesilat memutar 80 derajad badan. Gelek disilat luncua tidak menggunakan telapak tangan, akan tetapi tinju lawan dielakkan dengan dada dengan memutar badan seperti tadi.

Setelah gelek mahir, jurus selanjutnya adalah tangkap kiri dan kanan. Tangan lawan yang sedang memegang pisau ditangkap sedemikian rupa, sembari mengangkat kaki kanan dengan posisi punggung kaki berada di pelipatan lawa atau belakang dengkul.

Setelah menguasai tangkap kiri dan kanan, maka selanjutnya sang pandekar sudah bisa memainkan patah kanan dan kiri, karena tangkapannya sama, hanya saja setelah tangan lawan ditangkap dan punggung kaki berada di belakang lutut maka tubuh lawan didorong dengan kekuatan kaki diiringi dengan jepitan kaki satunya lagi dan posisi siku akhirnya berada dirusuk atau dibawah ketiak lawan.

Jurus patah kiri dan patah kanan dilanjutkan dengan jurus ampok, alang babega, kabalai, sambuik ali, sambui sumbayang, sawuak, sandang. Terakhir pesilat akan dilatih menggunakan sambuik lima. "Inilah pemutusan kaji.

Sambuik limo memerlukan ketelitian, kesigapan dan kegesitan, sebab dalam berlatih, biasanya pemain sudah diberikan pisau, parang atau benda tajam lainnya. Ia merupakan puncak dari pelatihan silek. Biasanya, dari dua puluh orang yang belajar silat hanya satu atau dua yang bisa sampai ke sambuik limo.

Maka sifat guru silek yang mana ketika dia mempunyai sepuluh jurus, maka dia tidak akan memberikan kesepuluh jurusnya kepada si murid, karena nanti mana tau bertemu dengan murid yang sombong dan angkuh yang ingin mengalahkan gurunya. Jadi kenapa guru silek tidak memberikan semua jurusnya, karena untuk mengantisipasi agar nantinya ketika murid melawan maka dia sudah ada penangkisnya.

Penulis: M. AKBAR, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas. 

LPTQ Sumbar Berpijaklah pada Profesionalitas
Jumat, Oktober 29, 2021

On Jumat, Oktober 29, 2021

SELEKSI Tilawatil Quran dan Hadits Nasional (STQHN) di Sofifi, Propinsi Maluku Utara baru saja selesai dlaksanakan. Hasilnya adalah DKI berada di peringkat satu, Jatim di peringkat dua dan Sumut di peringkat tiga. Sedangkan Sumbar harus puas di peringkat sepuluh. 

Posisi sepuluh besar ini masih lumyanlah dibanding propinsi lain yang berada di peringkat sebelas dan seterusnya. Tapi merupakan pukulan bagi pengurus LPTQ Sumbar sekarang, karena di ajang yang sama tahun tahun sebelumnya, Sumbar selalu berada di peringkat lima besar.

Pukulan itu lebih telak lagi jika dibandingkan dengan prestasi Sumbar tahun lalu yang menjadi juara umum pada MTQN tahun 2020 di Padang.  Padahal beban kita cukup berat kala itu, karena kita adalah tuan rumah. Selain harus menyukseskan acara, kita juga harus bekerja keras menyiapkan kafilah yang kualifaid. 

Secara teknis, penyiapan kafilah ini menjadi tanggung jawab LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Propinsi, sedangkan secara administratif, tanggung jawab itu ada pada Pemda cq Biro Kesra. 

Perlu dicatat, prestasi Sumbar menjadi juara umum pada MTQ Nasional ke.39 di Padang masih dalam "kakok" kepengurusan LPTQ yang lama. Sedangkan kegagalan Sumbar di ajang STQHN 2021 ada dalam "kakok" kepengurusan LPTQ yang baru.

Mengapa Sumbar gagal pada STQHN?

Sebetulnya banyak faktor yang menjadi penyebabnya,  tapi   salah satunya adalah "salah kakoknya" LPTQ sedari awal. Mulai dari penyeleksian dan penetapan peserta sampai pada pelaksanaan pelatihan, yang konon sangat amburadul. 

Penetapan pelatih misalnya, tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Pelatih kemarin itu sepertinya kurang memperhatikan profesionalitas. Ada pelatih yang belum punya pengalaman sama sekali, tapi karena dia adalah "orangnya" pengurus LPTQ, langsung diangkat jadi pelatih. Sementara orang yang selama ini berperan penting dalam penyiapan kafilah, berpengalaman dan profesional justru disingkirkan. 

Mengurus organisasi sekelas LPTQ ini  sejatinya dilakukan secara profesional. Tidak bisa dengan perhitungan dia "orang kita" atau tidak. Apalagi dalam penetapan pelatih, harus dilakukan secara  profesional dan proporsional. Harus memperhatikan pengalaman, keilmuan dan prestasi. Tidak bisa karena dia "bukan orang kita" lalu disingkirkan. 

Melihat arah angin sekarang, banyak pihak memprediksi penetapan Dewan Hakim MTQ Nasional Tingkat Propinsi Sumatera Barat ke 39 Tahun 2021 yang akan berlangsung di Kota Padang Panjang tgl 12 - 19 Nopember mendatang akan terjadi seperti pada penetapan pelatih kafilah STQHN lalu. Indikasnya sudah mulai terlihat, di mana banyak nama calon Dewan Hakim yang belum memenuhi persyaratan yang ditetapkan LPTQ justru akan bertugas. Mereka sudah diberi aba aba dengan perintah mengukur baju Dewan Hakim secara japrian melalui pesan WA. 

Persyaratan Dewan Hakim seperti tertuang dalam surat LPTQ Sumbar kepada LPTQ Kab/Kota Nomor  24/LPTQ-SB/IX/2021 tgl 6 September 2021 tentang pengiriman nama Calon Dewan Hakim MTQN XXXIX Tingkat Prop.Sumbar 2021 antara lain (1) harus sudah berpengalaman menjadi Dewan Hakim di Kab/Kota minimal 3 kali atau telah pernah menjadi Dewan Hakim pada MTQ Tingkat Propinsi Sumatera Barat. (2) pernah mengikuti pelatihan perhakiman tingkat propinsi yang dibuktikan dengan sertifikat. 

Nyatanya, dari beberapa orang yang sudah menerima pesan japri, banyak yang belum memenuhi persyaratan tersebut. Diantara mereka bahkan ada yang akan jadi Dewan Hakim karena faktor hubungan kekeluargaan dan hubungan simpati kepartaian. Ada pula calon Dewan Hakim yang bertanya tentang item item penilaian dan bagaimana cara menilanya. Aneh kan, dan bayangkan sajalah hasil penilaiannya nanti.  

Sesungguhnya ini langkah berbahaya dan akan berdampak buruk terhadap penetapan pemenang dalam cabang/golongan yang akan dilombakan. 

Oleh sebab itu, mumpung waktu untuk pelaksanaan MTQ masih ada beberapa hari lagi, hendaknya LPTQ melakukan kaji ulang dan evaluasi terhadap calon Dewan Hakim MTQ Nasional Tingkat Propinsi Sumatera Barat. Hindarilah kepentingan keluarga/klan dan kepartaian, berpijaklah pada aturan dan pertimbangan profesioanlitas. Hakim MTQ itu bukan jabatan untuk dibagi bagi, melainkan amanah dengan dasar keahlian dan profesioanlisme.  Apatah lagi yang akan dilombakan adalah Alquran, kitab suci, janganlah mencari cari keruh. LPTQ jangan menyusupkan kepentingan politik kepartaian dalam menetapkan Dewan Hakim. Salam.

Penulis: Wardas Tanjung, wartawan senior, juara 1 MTQ Antar Wartawan se Asia Tenggara, kini Ketua Harian LPTQ Kota Padang

Miris, Zaman Serba Digital Tapi Masih Banyak Orang Belum Bisa Menikmati Listrik
Rabu, Oktober 27, 2021

On Rabu, Oktober 27, 2021

SETIAP tanggal 27 Oktober, kita merayakan Hari Listrik Nasional. Hari ini menjadi momentum kebangkitan sektor energi di Indonesia. Ironisnya, di zaman serba digital ini ternyata masih banyak masyarakat di wilayah pelosok Tanah Air yang belum bisa menikmati listrik.

Sebenarnya seiring berjalannya waktu, kapasitas pembangkit listrik di Indonesia juga terus bertambah. Menurut data Kementerian ESDM, per Juni 2020 saja kapasitas pembangkit di Indonesia mencapai sebesar 70.964 megawatt (MW).

Dari total tersebut, lebih dari setengahnya atau 63% berada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Wilayah-wilayah ini memiliki kapasitas listrik yang mencapai 44,8 gigawatt (GW). Sedangkan daerah Sumatra menyusul dengan pembangkit listrik berkapasitas 14,7 GW.

Desa tanpa listrik

Di sisi lain, Kementerian ESDM juga melaporkan hingga 2018 bahwa masih ada sekitar 1,7% wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik. Pada 2019, rasio elektrifikasi memang telah mencapai 98,8%, namun sisa 1,2% dari rasio elektrifikasi masih sulit diatasi.

Kementerian ESDM memaparkan sejumlah tantangan untuk merampungkan sisa dari 1,2% dari rasio elektrifikasi tersebut, yaitu layanan akses listrik berada di daerah yang sulit terjangkau dan minim infrastruktur. Apalagi, kemampuan masyarakat untuk membayar biaya sambung listrik masih rendah.

Lebih jauh, mereka juga pernah melakukan survei ketersediaan listrik di Provinsi Kalimantan Utara. Setidaknya masyarakat di 306 desa di sana belum menikmati aliran listrik.

Rasio elektrifikasi provinsi itu pun baru mencapai 68,94%. Kabupaten Nunukan merupakan daerah dengan rasio desa terlistriki paling rendah dengan angka 25,83% dan rasio elektrifikasi 58,34%.

Sementara itu, potensi energi mikrohidro di Indonesia bagian utara ini juga belum diinventarisasi dengan baik. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil verifikasi dan survey titik potensi energi mikrohidro Tim Pengembangan dan Verifikasi Peta Potensi Energi Mikrohidro dengan Metode Curah Hujan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi di Kalimantan Utara.

Lima peneliti PPPTKEBTKE bersama Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Utara melakukan pengukuran menggunakan alat ukur water current meter di sungai Permandian Km16 di Tanjung Selor dan titik potensi mikrohidro di sekitar Tanjung Selor pada penghujung April 2017.

Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Utara sendiri baru melakukan pendataan potesi mikrohidro di Desa Long Lebusan (12 kW), Desa Data Baru (10 kW), Desa Long Sulit (6 kW), Desa Long Kebinu (7 kW), dan Desa Kalam Buku (belum selesai).

Akibatnya, tujuh kabupaten/kota tersebut masih sering mengalami pemadaman listrik, dan beberapa wilayah masih terisolir dari jangkauan listrik. Penyebabnya adalah pasokan bahan baku pembangkit yang kurang.

Selain itu, beberapa mesin pembangkit rusak serta jaringan distribusi tidak mampu menjangkau daerah pedalaman. Alhasil, kebutuhan listrik di beberapa wilayah belum terpenuhi, baik dari PLN maupun program bantuan pemerintah daerah.

Sejarah Hari Listrik Nasional

Hari Listrik Nasional (HLN) pertama kali ditetapkan pada 1954. Peringatan ini mengambil momentum nasionalisasi perusahaan-perusahaan di bidang listrik dan gas yang terjadi pada 1945. 

Pada akhir abad XIX, perusahaan Belanda memiliki pabrik gula dan juga pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Sedangkan listrik untuk konsumsi baru tersedia setelah sebuah perusahaan swasta milik Belanda bernama N V Nign yang memperluas sektor bisnisnya dari gas ke penyedia listrik umum.

Kemudian pada 1927, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan listrik negara bernama s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB). Perusahaan ini ditempatkan di PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara, dan PLTU di Jakarta.

Seperti diketahui, masa penjajahan Belanda di Indonesia berakhir ketika mereka menyerah kepada Jepang di masa Perang Dunia II. Perusahaan listrik dan seluruh pekerjanya pun diambil alih oleh Jepang.

Baru kemudian ketika Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, para pemuda dan juga buruh listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan yang sebelumnya dikuasai oleh Jepang.

Setelah berhasil, mereka menghadap pimpinan KNI Pusat pada September 1945 untuk melaporkan hasil perjuangannya. 

Selanjutnya, mereka bersama-sama menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas kepada pemerintah Republik Indonesia. 

Presiden pun mengeluarkan Penetapan Pemerintah No. 1 Tahun 1945 tertanggal 27 Oktober 1945 yang berisi pembentukan Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga. (Rizka Septiana – Dosen LSPR Jakarta)