Advertorial

Daerah

Catatan Lezia Maharani: Obat Yang Berbahan Daun di Minangkabau
Rabu, Juni 08, 2022

On Rabu, Juni 08, 2022

OBAT yang berbahan daun di Minangkabau merupakan pengobatan tradisional yang berkembang dari generasi ke generasi sesuai kepercayaan yang dianut berbagai masyarakat sebelum era kedokteran modern, dan dapat memanfaatkan bahan alam, pengobatan tradisional bisa disebut sebagai pengobatan alternatif, penggunaan obat tradisional jika tidak tepat akan berakibat kan negatif atau berbahaya.

Salah satu pusat tanaman obat didunia yaitu negara Indonesia, Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur diseluruh pelosok negeri. Keragaman obat-obat tradisional di tanah air telah memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. 

Kita hanya berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak sia-sia. Belum semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya, semua itu pasti ada manfaatnya. 

Oleh karena itu, perku dilakukan konservasi sumber daya alam, agar jangan ada jenis tanaman yang punah. Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna, tetapi juga menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global. Ini Minangkabau banyak terdapat macam- macam obat, berikut penjelasannya:

1. Daun Jarak

Daun jarak disebut sebagai daun untuk mengobati obat demam anak, Manfaat daun jarak untuk kesehatan cukup beragam, Daun jarak salah satu tanaman herbal yang sudah sejak lama dipercayai dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan. 

Daun ini dapat mengandung berbagai senyawa aktif seperti alkaloid, Astragalin, fitonutrien, nicotiflorin, kaemlferol, serta quercetin. Daun ini juga dapat mengatasi sakit gigi, mengatasi sembelit, mengatasi perut kembung, mengatasi sariawan, menstabilkan gula darah, mengobati darah, mengobati reumatik, hingga menurunkan panas pada anak.

Mengobati Rematik

Dapat menggunakan air rebusan daun jarak untuk mendapatkan manfaat tersebut, hanya menyiapkan lima sampai delapan lembar daun jarak, tumbuk sampai halus bersama sedikit air hangat dan oleskan pada bagian tubuh yang mengalami rematik setelah itu oleskan pada bagian tubuh yang mengalami rematik dan lakukan sebanyak tiga kali sehari kondisinya mereda.

Menghilangkan Kurap

Manfaat disebabkan oleh adanya kandungan minyak yang memiliki senyawa aktif bernama asam undesilenat, karena kurap merupakan infeksi jamur pada kulit sehingga menimbulkan ruam yang melingkar berwarna merah.

Daun jarak dicuci bersih lalu direndam di dalam minyak kelapa selama beberapa jam. Setelah itu panaskan minyak dan daun tersebut ke dalam panci. Setelah itu oleskan daun jarak tersebut ke bagian permungkaan kulit yang terkena kurap. Tutup lah bagian itu dengan handuk kecil atau kain katun, diamkan semalaman, lakukanlah secara rutin.

Menstabilkan Gula Darah

Bagi penderita diabetes daun jarak diketahui mampu membantu mencegah kadar gula darah naik, untuk menstabilkan gula darah gunakanlah daun ini.

Untuk memperoleh manfaat ini, Anda dapat mengonsumsi air rebusan daun jarak secara rutin.

2. Daun Sirih

Tidak hanya daun jarak saja yang dapat dijadikan obat, daun sirih juga bisa, daun sirih merupakan salah satu tanaman yang segar dan tumbuh di Indonesia, Tumbuhan yang merambat vitamin seperti Vitamin C, tiamin, niasin, ruboflavin, karoten yang merupakan sumber klasium yang bagus, tanning, saponin, eugenol dan beragam jenis minyak esensial, Manfaat dari daun sirih ini untuk meringankan sembelit, mengurangi masalah pernapasan, mengobati batu, serta mengobati mimisan. Tahap yang dilakukan yaitu merebus setelah itu air rebusan daun sirih tersebut dapat dikomsumsi ataupun dipakai untuk mencuci.

3. Daun Selasih

Daun selasih merupakan tanaman yang memiliki banyak khasiat bagi tubuh, daun yang berbau harum ini berkhasiat sebagai obat demam, sakit kepala, nyeri lambung, gangguan pencernaan dan rematik. Daun ini banyak mengandung minyak asiri, seperti ocimene, alpha- pinene, eucalyptole,linalool, geraniol dan eugenol metol eter. Gunakan 15 gram daun seger direbus ketika demam, Diminum dua kali sehari, pagi dan sore.

4. Daun Sambiloto

Daun ini merupakan ramuan tradisional, daun ini dipercaya dapat mengatasi penyakit seperti meringankan gejala pilek dan flu, meningkatkan inefksi dan kesehatan pencernaan serta menghilangkan pilek dan flu. Digunakan dengan cara merebus daun ini dari kering sampai mendidih, dan juga dapat mencampurkan madu supaya tidak terlalu pahit.

5. Daun Pepaya

Daun ini dikomsumsi dan diolah menjadi obat herbal. Adapun manfaatnya yaitu sebagai pengobatan demam berdarah, memperbaiki saluran pencernaan, menambah kelancaran asi, meredakan kram menstruasi  dan mencegah risiko kanker. Digunakan dengan cara buatlah seperti air rebusan obat herbal dengan merebut daun pelaya muda dan asam ke dalam air mendidih selama 10-15 menit. Setelah itu peras dan saring lalu air tersebut dapat diminum secara langsung.

6. Daun Cincau

Daun ini merupakan tanaman merambat yang mengandung tinggi klorofil untuk menetralisir kadar gula pada tubuh. Daun cincau memiliki kandugan antioksidan yang berperan meredakan demam dan membantu radang lambung.

Daun ini dilakukan dengan menumbuk daun cincau sampai lumat, setelah itu tambahkan 4 gelas air matang kemudian peras dan disaring. Diamkan sampai mengental, lalu minum 3 kali.

7. Daun Jinten

Daun ini dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional yang banyak mengandung mintak atsiri yang mengandung karvakol, fenol dan lain-lain. Dengan kandungan yang dimilikinya, daun ini dimanfaatkan sebagai obat penyakit perut kembung, obat sakit kepala, mengobati penyakit ayan, menyuburkan ASI, mengobati rematik, serta mengembalikan kekebalan tubuh.  

8. Daun Beluntas

Tanaman ini sering ditemui diperkarangan rumah, ditepi pagar. Kandungan senyawa aktif berupa kalsium, magnesium hingga natrium pada daun beluntas berfungsi efektif menjaga kesehatan tubuh. Daun ini sangat berperan penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Digunakan dengan cara menyiapkan beberapa helai daun beluntas. Setelah itu, cuci dengan bersih lalu rebut 2 gelas air bersih. Tunggu hingga mendidih sampai tersisa menjadi 1 gelas. Untuk hasil yang lebih baik minumlah secara rutin padi dan sore hari.

*Penulis Lezia Maharani,  mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Angkatan 2020.

Catatan Natasya Harifa: Bergesernya Peranan Surau
Selasa, Juni 07, 2022

On Selasa, Juni 07, 2022

SURAU merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari serta menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Fungsi ini tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman. 

Kedudukan surau di Minangkabau serupa dengan pesantren di Jawa. Namun, setelah kemerdekaan eksistensi surau di Minangkabau berangsur surut karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus tunduk pada aturan pemerintah.

Dalam bentuk bangunannya, surau dibedakan menjadi surau besar dan surau kecil. Meskipun fungsinya hampir sama dengan masjid di Indonesia, surau besar biasanya mempunyai fungsionaris keagamaan lebih lengkap.

Akan tetapi, surau besar pada umumnya tidak dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan Islam. Sebaliknya, surau kecil biasanya juga difungsikan sebagai tempat memberikan pelajaran dasar agama.

Surau adalah lambang kesakralan yang mencerminkan sikap religius, sopan santun serta kepatuhan generasi muda kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Bahkan bisa dikatakatan, perkembangan anak-anak suku Minangkabau ditentukan dari banyaknya porsi waktu yang mereka habiskan sebagai bagian hidupnya sehari-hari di Surau. 

Sebalinya, jika seorang anak lebih banyak berada di Lapau (warung, pen) tanpa pernah mengaji di Surau, maka orang menyebut mereka parewa.

Sebaliknya, jika waktu yang dihabiskan oleh seseorang lebih banyak di Surau, maka orang itu disebut urang siak atau pakiah. Karena itu, dari aspek mental keagamaan, bagi masyarakat tradisional Minang, terutama kaum pria-nya, fungsi Surau jauh lebih penting dalam membentuk karakter mereka di kemudian hari. 

Bagi orang Minang masa lalu, peranan Surau selain untuk memperoleh informasi keagamaan, juga dijadikan ajang bersosialisasi sesama anak nagari. Bahkan sejak berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau telah akrab dengan lingkungan Surau.

Kemudian jika kita lihat struktur bangunan rumah tradisional orang Minangkabau  yang dikenal dengan Rumah Gadang memang tidak menyediakan kamar bagi anak laki-lakinya. 

Bahkan, setelah berumur 6 tahun, anak laki-laki di Minangkabau seperti  terusir dari rumah induk. Dan hanya pada waktu siang hari mereka boleh bertempat di rumah guna membantu keperluan sehari-hari. 

Sedangkan pada waktu malam, mereka harus menginap di Surau. Selain karena tidak disediakan tempat, mereka juga merasa risih untuk berkumpul dengan urang sumando (suami dari kakak/adik perempuan) dan mendapat ejekan dari orang-orang karena masih tidur dengan ibu. Dalam ucapan yang khas, lalok di bawah katiak mande. 

Di Surau mereka bukan hanya sekedar menginap atau tidur. Tapi banyak aktivitas penting yang mereka lakukan di Surau. Seperti belajar silat, adat istiadat, randai, indang menyalin tambo yang dilaksanakan berbarengan dengan aktifitas keagamaan seperti belajar tarekat, mengaji, shalat, salawat, barzanji dan lainnya. Karakter pembentukan Islam tradisional sesungguhnya berangkat dari aktivitas seperti ini.

Secara fakta, bisa dikatakan sangat besar fungsi dan peranan Surau bagi perkembangan generasi muda Minang pada masa lalu. Untuk sungguh sangat sebuah ironi, bila pembelajaran seperti Surau yang sangat strategis ini mengalah pada perubahan.

Masalahnya, Surau mewadahi proses lengkap dari sebuah regenerasi masyarakat Minang, sesuatu yang sulit dicari tandingannya dalam kultur manapun di dunia ini. 

Kemudian adat budaya yang mengacu pada konsepsi alam takambang jadi guru yang melahirkan kebijkasanaan sehingga orang Minangkabau  harus tahu di nan-ampek (kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang), adalah bentuk kearifan yang diperoleh melalui pelatihan terpadu yang mengintegrasikan antara konsepsi ideologis dengan norma-norma budaya dan praktis lewat lembaga semacam Surau. 

SeIama ini surau mempunyai banyak fungsi, surau sekarang hanya tinggal yang bernuansa agama, sementara yang bernuansa sosial sudah berkurang. 

Terjadinya pergeseran fungsi surau dilingkungan masyarakat Minangkabau disebabkan berkurangnya perhatian masyarakat terhadap keberadaan surau sebagai sarana dalam mensosialisasikan nilai-nilai adat Minangkabau. 

Hal ini sebagai salah satu pengaruh dari perubahan sosial antara lain terjadinya proses individualisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, sehingga terjadi perubahan dalam memaknai keberadaan fungsi surau.

Kemudian, adanya penambahan ruang pada bagian dalam surau berupa kamar tidur. Fungsi khusus surau sebagai tempat tinggal anak laki-laki juga telah berubah karena kini menjadi tempat tinggal keluarga petugas (penjaga surau) terdiri atas ayah, ibu dan anak.

Perubahan lainnya, dulu surau memiliki fungsi sebagai tempat mengaji tapi kini berubah menjadi tempat penyimpanan beras.

Padahal secara tradisi dan budaya di Minangkabau, surau merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Muslim. Fungsi surau sama seperti masjid, namun ukuran surau lebih kecil sehingga kapasitasnya tidak terlalu banyak.

Dahulu surau selain tempat melaksanakan ibadah shalat lima waktu, juga biasanya digunakan sebagai tempat pengajian, juga tidak jarang digunakan masyarakat sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah.

Fungsi khusus surat dilihat dari adat Minangkabau, yaitu digunakan sebagai tempat tinggal anak laki-laki, karena yang tinggal di rumah sesuai adat Minang hanyalah anak perempuan.

Kenyataan saat ini, banyak surau yang tidak lagi khusus sebagai tempat tinggal anak laki-laki, tetapi sudah digunakan pula sebagai tempat tinggal perempuan dan satu keluarga.

Perubahan bangunan seperti adanya bangunan lain di sisi tempat ibadah ini, karena faktor ekonomi yang menuntut warga suku pemilik surau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dulunya mata pencaharian mereka bersawah, namun kini jika hanya bercocok tanam warga itu baru mendapatkan hasil panen sekitar empat bulan sekali, yang merupakan waktu cukup lama untuk terus bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan alasan untuk menyekolahkan anak dan belanja harian mereka mengambil inisiatif untuk membuka warung yang dibangun di sisi surau.

Perubahan pada surau lainnya, dapat dilihat pada ruang lepas dalam surau kini telah terjadi perubahan dengan adanya sekat untuk kamar tidur. 

Terkait perubahan fungsi khusus surau sebagai tempat tinggal anak laki-laki, dapat disimpulkan tidak ada lagi kekhususan surau, namun semua itu bukan tanpa alasan, karena tidak ada lagi yang menghuni surau, sehingga ada warga berinisiatif membawa keluarganya tinggal di surau.

*Penulis: Natasya Harifa, Mahasiswa Sastra Minangakabau Universitas Andalas

Keuntungan Jika Beristri Perempuan Minang
Selasa, Juni 07, 2022

On Selasa, Juni 07, 2022

BERUNTUNG sekali jika kamu memiliki istri keturunan Minang pastinya. Tak hanya terkenal akan kesetiaan yang dimiliki, perempuan Minang juga sangat kompeten dalam mengurus rumah tangga. Tak hanya mandiri, mereka sangatlah dapat diandalkan dikondisi apapun, contohnya seperti: 

Mereka sangat pintar memasak

Tak ada yang tak kenal akan kekhasan masakan Padang yang selalu dapat menggugah selera. Dimanapun kalian berada pasti tak akan jauh-jauh ada tempat makan yang menyediakan masakan Padang, hingga diluar negeri pun masakan Padang juga dikenal akan kelezatannya. 

Para perempuan Minang sedari kecilnya sudah didik agar bisa memasak oleh orangtuanya. Jika perempuan Minang tak pandai masak, akan memalukan rasanya. 

Makanya sedari kecil mereka sudah dilatih dari yang kecil, yaitu dengan membantu bantu kegiatan kecil saat ibunya memasak. Tak akan heran jika memiliki istri Minang, akan membuat laki-laki yang memilikinya merasa beruntung karena akan selalu kenyang akan makanan lezat yang dibuatnya.

Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru

Perempuan Minang sangat mampu beradaptasi di lingkungan yang baru. Mereka akan mudah diterima dimanapun mereka berada. Seperti kata pepatah Minang,“Dima Bumi di Pijak, Di situ langik di Junjuang”, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, “Dimana Bumi di Pijak, disana Langit di Junjung”. Maksudnya adalah dimanapun berada, haruslah kita selalu patuh terhadap adat istiadat setempat/dimana kita berada yang berlaku. Pepatah inilah yang dipegang teguh oleh perempuan Minang dilingkungan manapun mereka berada. 

Mereka terkenal cekatan dan terampil

Perempuan Minang di didik agar bisa menjadi pribadi yang cekatan dan terampil dalam segala hal sedari kecil. Makanya ada banyak sekali perempuan Minang yang memiliki keterampilan dan hal apapun. Contohnya saja seperti cekatan dalam mengurus rumah, dan terampil dalam mengasuh anak.

Suaminya akan diperlakukan layaknya seorang Raja

Jika pria beristri keturunan Minang, maka dia akan diperlakukan seperti seorang Raja. Mereka sangat teliti dalam hal apapun, sampai hal terkecil pun yang dibutuhkan suaminya nanti akan selalu terpenuhi. 

Perempuan Minang tak akan pernah lupa menghidangkan makanan, semua kebutuhan suaminya sangat dijamin dapat terpenuhi baik dari ujung kaki sampai kepala pun mereka akan sanggup menyiapkan kebutuhan suaminya itu. 

Mereka senantiasa akan memberikan pelayanan terbaik untuk suami mereka. Karena di Minangkabau, perempuan harus menghormati dan menghargai suaminya sebagai kepala keluarga.

Mereka Mampu mengatur keuangan rumah tangga

Ada banyak orang-orang berpendapat kalau orang Minang atau orang padang itu panceke atau pelit. Sebenarnya itu sangatlah tak betul. Mereka bukanlah orang yang pelit melainkan mereka pintar dan mampu mengatur keuangan. Terkhusus untuk para perempuan nya, mereka sangatlah pandai dalam mengatur keuangannya. 

Makanya kebutuhan mereka selalu dapat terpenuhi karena uang yang ia dapat dari suaminya digunakan sesuai kebutuhan bukan sesuai kemauannya. Mereka selalu di didik untuk pintar mengatur keuangan. Berfoya-foya merupakan kata yang asing bagi mereka. 

Mereka terkenal akan kepribadian Penyayang dan setia

Allah SWT menganugerahi sifat penyayang kepada setiap manusia. Tiap-tiap manusia pasti mempunyai rasa akan kasih sayang. 

Begitu demikian terhadap gadih Minang. Sifat penyayang dan setia kepada pasangan itulah yang mereka miliki. 

Mereka akan selalu mendukung suaminya dalam kondisi apapun itu. Mereka akan bisa merelakan kebagian nya demi mendampingi suaminya. 

Ada begitu banyak pria yang beristri perempuan Minang yang hidupnya jaya dan penuh kesuksesan. Itu semua disertai akan kasih sayang dan kesetiaan yang selalu mereka dapatkan dari istrinya perempuan Minang itu.

Mereka terkenal akan paras yang cantik

Kota Padang terkenal akan wanita suku Minang yang memiliki paras nancantik. Padang juga termasuk daerah penghasil wanita cantik di Indonesia.

Adapun ciri khas dari wanita Padang yaitu cantik rupawan dan jago berdagang, jika saja seorang pria dapat menikahi perempuan Minang maka tak akan rugi nanti nya jika mereka bangun lebih pagi. 

Setiap harinya mereka tak hanya akan disuguhi makanan yang khas lagi lezat, tapi mereka juga akan selalu disuguhi oleh paras istrinya yang cantik rupawan. 

Mereka terkenal akan karakter yang lemah lembut

Tak hanya memiliki karakter yang setia dan pekerja keras wanita Minang juga terkenal akan kelemah lembutan nya. mereka dipandang sebagai individu yang mampu memecahkan masalah dengan kesabaran dan kedewasaan yang dimilikinya. Makanya perempuan Minang dapat dipastikan menjadi gambaran ibu rumah tangga yang baik, dan juga memiliki pola asuh yang baik dan wanita yang bersih.

Makanya tak akan rugi jika beristri perempuan Minang, mereka lah yang nantinya akan membuat tenang hati suaminya, dan menjadi obat pereda amarah sang suami nantinya. 

Mereka mencintai kedisiplinan

Selain berkepribadian lemah lembut, perempuan Minang juga pribadi yg amat disiplin baik dalam bentuk kebersihan ataupun dalam pekerjaan. Mereka nantinya tak akan segan-segan menegur jika seseorang tak dapat disiplin. 

Mereka nantinya akan sangat cocok menjadi figur seorang ibu yang disiplin dalam mendidik anaknya di persoalan hidup. 

Mereka memiliki jiwa pebisnis yang kuat

Perempuan tak hanya pintar memasak tapi mereka juga sangat pintar dalam mengelola bisnis. Mereka tidak akan segan-segan untuk berbisnis, membuka usaha sendiri untuk membantu suami atau sekedar hidup mandiri. Tak heran jika saja ada begitu banyak perempuan Minang yang berdagang. 

Masa-masa sekarang ini, semuanya mahal. Beruntung jika gaji sang suami melimpah, bagaimana kalau sebaliknya, makanya Akan sangat sulit untuk menghidupi keluarga secara finansial hanya dengan gaji bulanan sang suami. Beruntung sekali jika seorang pria beristri yang berasal dari suku Minang. Mereka tidak akan segan-segan terjun ke dunia bisnis untuk membantu masalah keuangan sang suami. Dan hal itu akan sangat membantu meringankan beban suami.

Sedari kecil mereka dibekali ilmu agama

Minangkabau merupakan salah satu suku yang selalu menjunjung tinggi agama dan adat istiadat. Selayaknya pepatah minang yang mengatakan: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabulla”, artinya: “Adat Bersendi Syarak, Syarak bersendikan Al-Quran”. Pepatah ini yang selalu orang Minangkabau junjung tinggi.  Adat terus menjunjung tinggi agama, sedangkan agama berikatan selalu kepada Al-Qur'an.

Dari dulunya hingga sekarang, orang Minang selalu menyampaikan pemahaman itu kepada keluarga dan anak-anaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari agama dan adat istiadat tak dapat dipisahkan.  Adat haruslah searah dengan agama, tak boleh adanya penyimpangan darinya. 

Oleh karena itu, sedari kecil anak-anak di Minangkabau selalu dilatih belajar agama. Tak mengenal itu laki-laki ataupun perempuan. Sedari kecil mereka haruslah belajar agama. Ketika seorang anak berusia 7 tahun, ia harus belajar mengaji di Surau atau Musholla dan juga untuk Menuntut ilmu agama sebagai bekal di akhirat nanti. 

Oleh karena itu, tidak heran jika para wanita Minangkabau mempunyai pemahaman terkait agama dan kemudian mengajarkannya kepada anak-anaknya. Setiap tindakan dan setiap perkataan selalu mencerminkan karakter seseorang. Oleh karena itu pendidikan agama itu sangatlah penting.

*Penulis: Ranika Ralnandes, Mahasiswa Universitas Andalas
Fakultas ilmu budaya sastra daerah Minangkabau.

Luhak Nan Tigo, Batas Wilayah Minangkabau dan Daerah Rantau Menurut Tambo
Rabu, Juni 01, 2022

On Rabu, Juni 01, 2022

DAERAH Minangkabau terdiri atas tiga luhak yang dikenal dengan luhak nan tigo yaitu luhak Tanah Datar (Luhak nan tuo) Luhak agam (luhak nan tangah) dan luhak lima puluh kota (Luhak nan bungsu).

1. Luhak Nan Tigo

Wilayah dari Minangkabau disebut luhak atau luak (dalam bahasa minangkabau), penduduknya berasal dari Pariangan. Nagari Pariangan dipimpin oleh dua orang datuak yang arif dan bijaksana yaitu Datuk Katumanggungan dan datuak parpatiah nan sabatang.

Ketika penduduk semakin banyak timbullah keinginan kedua datuak ini untuk mencari daerah baru, setelah dimusyawarahkan kemudian diputuskan datuak parpatiah nan sabatang mendapat tugas ke arah timur Gunung Merapi dan datuak katumanggungan ke arah barat Gunung Merapi, datuak parpatiah nan sabatang beserta rombongan menuju daerah Timur dan melihat daerah yang berbukit-bukit dan berlembah-lembah artinya tidak banyak tanah yang datar kemudian daerah itu diberi nama “Tanah Datar”. 

Di daerah datuak parpatiah nan sabatang melihat airnya jernih, ikannya jinak dan buminya dingin. Hal ini sesuai dengan 4 titik yang melukiskan keindahan alam dan karakter bangsa Minangkabau yaitu : 

“banamo luhak tanah datar 
Aianyo janiah 
Ikannyo jinak
Buminyo dingin”
Di perjalanannya datuak katumanggungan dan rombongan menemukan sebuah sumur yang dipenuhi mansiang , tumbuhan itu mereka beri nama Agam kemudian disepakati daerah itu diberi nama luhak Agam. Luha artinya sumur (luak). 

Di daerah itu datuak katumanggungan melihat akhirnya keruh sama ikannya liar dan buminya panas, hal ini sesuai dengan petitih :
“banamo luhak agam 
Aia nyo karuah
Ikannyo lia
Buminyo angek”

Kemudian berangkat pula seorang Datuk lagi yang bernama Datuak Sri Maharajo Banego nego bersama rombongannya ke arah utara rombongannya berjumlah 50 orang. 

Di perjalanan anggota rombongannya 50 itu hilang entah ke mana, akhirnya daerah itu diberi nama luhak lima puluh kota artinya kurang dari lima puluh. 

Di daerah itu Datuak Sri Maharajo Banego nego merasakan airnya manis, ikannya banyak kok dan buminya sejuk, sesuai petitih :

“Banamo luhak lomo puluah koto 
Aianyo manih
Ikannyo banyak 
Buminyo sajuak”.

2. Batas Wilayah Minangkabau

-Nan salilik gunuang marapi = luhak nan tigo
- Saedaran gunuang pasaman = daerah sekitar gunung pasaman
-Sajajaran sago jo singgalang = sekeliling gunung sago dan singgalang
-Saputaran talang jo kerinci = seputaran gunung talang dan kerinci
-Dari singkarak nan badangkang = pariangan padang panjang
-Hinggo buayo putiah daguak = indo puro pesisir selatan
-Sampai ka pintu rajo ilia = muko-muko provinsi bengkulu
-Durian di tukuak rajo = daerah barat jambi
-Sapisau-pisau hanyuik = sekitar indra giri hulu
-Sialang balantak basi = sekitar gunung sialang
-Hinggo aia babaliak mudiak = pantai timur pulau sumatera
-Ombak nan badabuih = pantai barat pulau sumatera
-Saaliran batang sikilang = sepanjang aliran batang sakilang
-Hinggo lauik nan sadidiah = samudera indonesia
-Katimua ranah aia bangih = air bagih sebelah timur
--Rao jo mapatunggua Gunuang mahalintang = nagari sekitar rao
-Pasisia banda sapuluah = daerah pesisir pantai barat sumatera bagian tengah
-Hinggo taranak aia hitam = daerah silauik dan sikunang 
-Sampai ka tanjuang simalindu = tanjung simalindu
-Pucuak jambisambilan lurah = sepanjang aliran batang hari.
Dengan menggunakan mata angin maka perbatasan wilayah Minangkabau adalah :
Utara : Rao mapatunggua, gunung mahalintang, dan sikalang aia bangih
Selatan : Muko-muko taratak aia hitam
Barat : Samudra hindia
Timur : Durian ditakuak rajo, Buayo putiah daguak, Sialang balantak basi dan Tanjuang simalindu.

Wilayah Minangkabau menurut tambo terletak di seputaran gunung-gunung yaitu Gunung Merapi, Gunung Pasaman gunung sago, Gunung Singgalang Gunung Talang Gunung Kerinci wilayah Minangkabau lebih luas dari provinsi Sumatera Barat yang sekarang.

3. Daerah Rantau

Karakok madang di hulu
Babuah babungo balun
Karantau bujang dahulu
Dikampuang paguno balun

Anak laki-laki yang mulai dewasa di Minangkabau dianjurkan untuk pergi merantau. Rantau adalah tanah atau Nagari tempat mencari penghidupan sedangkan Merantau maksudnya pergi ke nageri lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Negeri lain yang dimaksud adalah pergi keluar dari luhak nan tigo.

Tiap-tiap luhak mempunyai daerah Rantau tertentu. Penduduk luhak Tanah Datar pergi mencari daerah Rantau ke arah timur tenggara dan Barat. Daerah Timur meliputi daerah sepanjang aliran Batanghari atau yang disebut dengan “rantau batang hari dan pucuk jambi sembilan lurah” dan Rantau sepanjang aliran batang Kuantan atau yang disebut “rantau nan kurang aso duo puluah” Nagari Rantau Kuantan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu ampek koto dihulu, lima koto di mudiak, tigo koto lubuak rao, tigo koto di tangah dan ampek koto di ilia.

Daerah Tenggara adalah Rantau Pasisia panjang, Rantau ini dinamakan “rantau bandar sapuluah” yang sekarang menjadi kabupaten Pesisir Selatan. Daerah Barat disebut ujuang darek kapalo rantau yang merupakan perbatasan antara Luhak Tanah Datar dengan daerah rantaunya Anduriang Kayu Tanam, guguak kapalo ilalang, sicincin dan tobo pakandangan.

Penduduk loha Agam merantau ke arah barat dan Utara mulai dari pantai Tiku sampai ke Pantai Air Bagis, kearah utara sampai di Bonjol, kumpulan, lubuk sikapiang, rao dan daerah lainnya.

Luhak lima puluh kota daerah rantaunya adalah ke arah timur dan Utara daerahnya mencakup kampar kanan dan kampar kiri yang meliputi manggilang, tanjuang balik, pangkalan, koto alam, muaro peti, sialang, rokan gunung bungsu, muaro takuih dan daerah lainnya.

Semua daerah rantau minangkabau dikenal dengan sebutan rantau nan tujuan jurai yang terdiri dari rantau kampar sembilan, rantau kuantan, rantau XII koto , rantau cati nan batigo, rantau tiku pariaman, rantau pariaman, dan rantau nagari.

*Penulis Oleh:  Annisa, Sastra Minangkabau UNAND

Catatan Angely Dlya: Nagari Salingkuang Adat
Rabu, Juni 01, 2022

On Rabu, Juni 01, 2022

PENTING kita ketahui apa itu nagari, nagari adalah suatu kesatuan wilayah yang ada di Minangkabau yang dihuni oleh masyarakat yang terikat oleh adat atau peraturan. Nagari terdiri dari beberapa jorong. Selain itu sebuah nagari juga memiliki syarat syarat tertentu. 

Suatu nagari memiliki seorang pemimpin disebut wali nagari.
Sebuah nagari juga memiliki syarat untuk berdiri,jika semua syarat telah terpenuhi barulah bisa disebut nagari.

Diungkapkan kata pusaka minang

Babalai bamusajik
Basuku banagari
Bakorong bakampuang
Balabuah batapian
Basawah baladang
Bagalanggang pamedanan
Bapandam bapakuburan

Ditiap nagari memiliki peratutan dan undang undang yang berbeda, seperti yang diungkapkan kato pusako minang yaitu :

Nagari bapaga undang undang
Kampuang bapaga jo pusako
Lain padang lain bilalang
Lain lubuak lain ikannyo
Lain nagari lain adatnyo.

Jadi tiap tiap nagari membuat dan memiliki undang undang ketentuang untuk nagari tersebut. Peraturan dan undang undang tersebut dibuat atas kesepakatan musyawarah dan mufakat penghulu, niniak mamak. 

Undang undang yang telah keluar berdasarkan hasil kesepakatan yang telah dibuat dan kemudian diterapkan dalam kehidupan masyarakat nagari itu. 

Jadi setiap nagari diatur oleh peraturan undang undang dan adatnya. Undang undang ini dibuat bertujuan untuk mengatur kehidupan maasyarakatnya.

Setiap tangkah laku, tindakan, perbuatan individu maupun masyarakat diatur oleh adat. Dengan adanya aturan dan adat tersebut akan membuat kehidupan masyarakat tersebut terarah dan berjalan sesuai aturan. Itu lah yang disebut nagari salingkuang adat.

​Suatu nagari terdiri dari suatu kesatuan wilayah, suatu kesatuan masyarakat, dan kesatuan adat. Dalam suatu kampung terdapat beberapa suku. 

Di dalam satu kesatuan wilayah tersebut masyarakatnya perlu diatur, memiliki pedoman yang jelas, baik untuk kehidupan berkelompok maupun kehidupan individu masyarakat tersebut. Adapun syarat syarat suatu wilayah dikatakan sebagai nagari seperti dalam ungkapan minang

​Babalai bamusajik
​Basuku banagari
​Bakorong bakampuang
​Balabuah batapian
​Basawah baladang
​Bagalanggang bapamedanan
​Bapandam bapakuburan

Babalai, maksudnya suatu nagari tersebut harus memiliki balai. Balai adalah sebuah tempat bermusyawarah para niniak mamak, pengulu, dan para pemimpin nagari lainnya. Balai juga terbagi dua macam yaitu :

Pertama, Balai nan balinduang tempatnya yang menerupai rumah gadang memiliki atap dan memiliki lantai.

Kedua, Balai nan bapaneh tempatnya terbuka seperti di lapangan. Balai nan bapaneh ini biasa disebut dengan Medan Nan Bapaneh.

Bamusajik, artinya sebuah nagari juga harus memiliki tempat beribadah serta untuk menerima ilmu ilmu ajaran agama islam. Ditiap nagari minimal harus memiliki satu masjid.

Basuku, artinya memiliki suku. Setiap nagari setidaknya memiliki empat suku, tiap suku dipimpin oleh seorang pengulu.

Banagari, yaitu memiliki wilayah di dalam daerah tertentu. Di tiap tiap wilayah itulah suku itu bermukim.

Bakorong bakampuang, maksudnya memiliki Korong dan perkampungan. Ditiap nagari memiliki batas batas wilayah biasanya berupa pagar, tugu atau lain sebagainya.

Balabuah, maksudnya memiliki jalan karena jalan raya merupakan penghubung antara suatu nagari dengan nagari lainnya.

Batapian, artinya memiliki sumber air atau tempat mandi.

Bagalanggang bapamedanan, artinya memiliki gelanggang dan lapangan tempat anak nagari bermain atau mengadakan suatu acara atau mengadakan keramaian.

Bapandam bapakuburan, suatu nagari juga harus menyediakan lahan khusus untuk pakuburan.

Itulah syarat syarat untuk mendirikan suatu nagari, jika salah satunya tidak ada maka belum bisa disebut sebuah nagari.

​Selanjutnya disetiap nagari juga memiliki organisasi dalam nagari. Untuk mengurus nagari sebagai kesatuan adat, peraturaturan daerah sumatera barat menetapkan Keratapatan Adat Nagari (KAN). 

KAN adalah sebuah Lembaga perwakilan permusyawaratan dan permufakatan di tengah masyarakat nagari di Sumatera Barat. 

Anggota KAN terdiri dari unsur unsur pengulu pucuak adat, datuak datuak tiap tiap suku dalam nagari tersebut, pengulu penghulu penghulu andiko, dan urang nan ampek jinih. 

Keempat unsur unsur tersebut seayun dan selangkah memimpin nagari. Seperti dalam kato pusako

​Barek samo dipikua
​Ringan samo dijinjiang
​Nan elok baimbauan
​Sakik basilau
​Mati bajanguak

Selanjutnya, nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat memounyai fungsi yaitu;

Pertama, membantu pemerintah dalam mengusahakan kelancaran pembangunan di segala bidang. Kedua, mengurus hokum adat dalam nagari.

Ketiga, memberi kedudukan hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut harta kekayaan masyarakat nagari guna kepentingan hubungan keperdataan adat juga dalam hal adanya persengketaan atau perkara perdata adat. 

Keempat, menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat Minangkabau. 

Kelima, menjaga memelihara, dan memanfaatkan kekayaan nagari untuk kesejahteraan masyarakat nagari.
​Untuk menerapkan fungsi nagari itu, urusannya menjadi tanggung jawab KAN. Utuk itu ditetapkan tugas-tugas Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai berikut:

Pertama, Mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan dengan sako dan pusako.

Kedua, Menyelesaikan perkara-perkara perdata adat dan adat istiadat.

Ketiga, Mmengusahakan perdamaian dan memberikan kekuatan hukum terhadap anggota masyarakat yang bersengketa serta memberi kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut sepanjang adat.

Keempat, Mengembangkan kebudayaan masyarakat nagari dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah dalam rangka memperkaya khazanah kebudayaan nasional.

Kelima, Menjaga, memelihara, dan mengurus serta memanfaatkan kekayaan nagari untuk kesejahteraan masyarakat nagari.

Keenam, Membina dan mengkoordinir masyarakat hukum adat mulai dari kaum menurut sepanjang adat yang berlaku pada tiap nagari, berjenjang naik bertangga turun dan berpucuk kepada kerapatan adat nagari serta memupuk rasa kekeluargaan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat nagari dalam rangka meningkatkan kesadaran sosial dan semangat kegotongroyongan.

Dan terakhir, Mewakili nagari dan bertindak atas nama dan untuk nagari atau masyarakat hokum adat nagari dalam segala perbuatan hokum di dalam peradilan untuk kepentingan atau hal hal yang menyangkut dengan hak dan harta kekayaan milik nagari.

Ditulis Oleh: Angely Dlya, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Sastra Daerah Minangkabau

Catatan Gehan Agusta: Minuman Kawa Daun
Rabu, Juni 01, 2022

On Rabu, Juni 01, 2022

KAWA adalah bahasa Minang untuk tanaman kopi, kawa daun berarti kopi daun. Minuman ini akan tambah nikmat bila ditemani dengan gorengan panas disertai duduk di lesehan atau di kursi sambil menikmati keindahan alam yang menjadi lokasi dari warung kawa daun ini.

Minuman ini banyak diminati oleh orang Sumatera Barat, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang singgah di warung  pada sore hari, ditambah lagi dengan harganya yang  terjangkau.
Kawa daun merupakan sebuah kopi yang terbuat dari daun kopi yang di sangrai di perapian. 

Untuk mendapatkan cita rasa yang khas kopi harus menggunakan pohon kopi yang telah berumur lebih dari 50 tahun ke atas. Pohon kopi ini bisa ditemukan di Tabek Patah, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Sejarahnya kopi kawa daun masuk ke Sumatra Barat (Sumbar) sejak zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Van Den Bosch saat menjajah Indonesia. 

Sistem tanam paksa yang ada pada saat itu mengharuskan masyarakat Sumbar untuk menanam kopi. 

Namun, biji kopi hasil dari bertanam kopi tersebut hanya bisa dinikmati oleh pemerintahan Belanda saja. 

Oleh sebab itu, masyarakat mencoba mengolah daun kopi tersebut menjadi olahan minuman.

Untuk proses pengolahan kopi ini, daun kopi dipetik sekitar jam 10.00-12.00 dengan teknik tersendiri. Hal ini bertujuan agar memiliki cita rasa yang nikmat. 

Setelah dipetik, daun tersebut dibersihkan dan ditusuk dengan bambu seperti tusukan sate. Ini dilakukan agar memudahkan daun kopi saat dibolak balikan ketika berada di perapian.

Selanjutnya kopi disangrai atau diasapi dengan tungku api kayu hingga berwarna hitam kecoklatan. 

Proses penyangraian memerlukan waktu sekitar 4-12 jam. Kemudian, daun kopi tadi dicabut dari tusukan bambu dan diletakkan di sebuah wadah. 

Proses selanjutnya adalah kopi tersebut direbus menggunakan air mendidih lalu disaring didalam sayak atau gelas batok kelapa.

Eksistensi Kopi kawa daun sudah mencapai kancah internasional. Bahkan kopi ini sempat mewakilkan Sumbar dalam pameran makanan dan minuman internasional, yaitu Allgemeina Nahrung Und Genussmittel Austellung di Cologne, Jerman pada 7-11 Oktober 2017 lalu. 

Acara tersebut merupakan pameran makanan dan minuman terbesar di Eropa.

Seiring berjalannya waktu, kini kopi kawa daun tidak hanya ditemukan dalam bentuk minuman tradisional yang disajikan dalam batok kelapa saja. 

Namun sudah ada dalam bentuk daun dengan beberapa varian rasa yang sudah dihaluskan menggunakan mesin atau minuman bubuk cepat saji.

Salah satunya kopi kawa daun dari Brand Bonang Bersaudara yang dijual oleh Edward Zulichtiar (43). 

Edward yang kerap disapa Edo mengatakan bahwa ia sudah memulai usaha kopi kawa daun sejak tahun 2015 silam. 

Awalnya ia memasarkan produknya melalui media online dalam bentuk daun yang siap di seduh. 

Namun sejak 2019 lalu Edo berhasil merubahnya menjadi minuman bubuk dengan berbagai varian rasa. 

"Varian yang tersedia yaitu rasaKawa Daun Plus Sugar, Palm Sugar, Milk, Matcha Latte, Chocolate Matcha Latte, dan Chocolate Latte," ungkapnya, Selasa (11/2).

Meski dikemas dengan gaya modern, cita rasa khas dari kawa daun ini tetap terasa. Adapun harganya berkisar dari Rp4.000-Rp12.000 per cup dan tersedia dalam minuman panas maupun dingin.

"Hadirkan manfaat kesehatan dalam kenikmatan minuman tempoe doeloe" begitulah bunyi jargon dari brand yang dikelola oleh Edo ini.

Edo menjelaskan, bahwa kopi kawa daun ini berbeda dari kopi kebanyakan yang berasal dari bijinya. 

"Bila biasanya kopi yang berasal dari biji mengandung kafein. Kopi kawa daun tidak mengandung kafein, dan cendrung lebih jernih dibanding kopi pada umumnya, lebih berbentuk seduhahan teh," jelasnya.

Tidak hanya itu, kawa daun juga mengandung anti oksidan yang tinggi. Karena tidak memgandung kafein, kawa daun ini cocok di konsumsi oleh orang yang menderita penyakit mag dan asam lambung.

Kini, kawa daun bisa ditemukan di berbagai daaerah di Sumatra Barat ini. Bermodalkan smartphone dan google maps, penikmat kopi kawa daun dapat menjumpai kopi ini di warung-warung terdekat.

Cara Pengolahan

Kopi adalah tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia, selain bijinya, daun kopi juga bisa diolah menjadi minuman nikmat  berkhasiat yang terbuat dari daun kopi pilihan, tidak daun yang masih muda atau yang terlalu tua, daun itu lah nanti yang akan menjadi minuman kawa daun. 

Proses pembuatannya pun bervariasi,  ada yang hanya dikeringkan di bawah terik matahari, diasapkan dan ada juga disangrai. 

Setelah cukup kering atau diasapkan dengan ukuran kering yang pas dan tidak gosong, lalu daun disobek kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam panci berisi air untuk direbus beberapa lama hingga mendidih. Kemudian dituang ke dalam wadah unik dengan ditambahkan gula atau pun susu.

Memilik Rasa Yang Khas

Kawa daun memiliki bentuk seperti minuman teh, kalau dari segi rasa memiliki keunikan tersendiri, rasanya hampir mirip teh namun ada sedikit  aroma kopi. 

Terkadang ada sebagian orang yang tak begitu menyukai rasa original, ada juga yang menambahkan susu kental, dua-duanya sama nikmat, tergantung selera masing-masing.

Wadah Minum Yang Enak

Wadah minum yang dipakai memang berbeda dari yang lain, bukan lah gelas ataupun cangkir pada umumnya, namun sebuah tempat unik yang sudah dipercantik terbuat dari batok kelapa, atau dalam bahasa Minang dinamakan tampuruang. 

Berkhasiat Untuk Kesehatan

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa daun kopi memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dari teh hitam dan teh hijau. 

Bahkan kandungan mangiferin di dalamnya bermanfaat sebagai anti-inflamasi sehingga dapat mengurangi risiko diabetes, kolesterol darah, hipertensi dan penyakit lainnya.

Dijual Di Warung Dengan Nuansa Alam Terbuka

Pada umumnya kawa daun ini dijual di sepanjang pinggir jalan raya yang ada di Sumatera Barat yang dilengkapi dengan background pemandangan nan alami. 

Biasanya dijual di warung-warung sederhana namun memikat hati setiap orang untuk datang berkunjung.

Mungkin karena rasa dan nuansa alami yang ditawarkan membuat orang tertarik dan betah berlama-lama di sini untuk sekadar menyeruput kawa daun dan sepiring gorengan bersama keluarga atau sahabat.

*Ditulis Oleh: Gehan Agusta, Jurusan Sastra Daerah Minangkabau

Sopan Santun di Keramaian Ajaran Masyarakat Minang
Jumat, Mei 27, 2022

On Jumat, Mei 27, 2022

SAAT ini hampir setiap rumah ada kursi, permadani, tikar dan alat tempat duduk lainnya, namun perlu diketahui bahwa semua alat itu di Minangkabau sudah lazim dipakai orang. Tetapi pada acara-acara tertentu orang Minang masih sering menggunakan tikar untuk tepat duduk. Misalnya pada acara malewakan Gala, baralek, mufakat kaum, kematian dan lain-lain. Oleh karena itu cara duduk seseorang di Minangkabau memperlihatkan Budi orang itu. 

Duduk di tikar bagi laki-laki di Minangkabau adalah duduk baselo atau bersila, Duduk seperti inilah yang disebut duduk beradap cara duduk bersila ini yaitu kedua kaki dilipat teratur, lutut tidak boleh ditegakkan, punggung tidak boleh membungkuk Karena akan merusak tulang punggung. Jadi waktu duduk baselo kaki dilipat dan punggung lurus sehingga duduk bisa bertahan dalam waktu yang lama, kalau letih kaki dapat ditukarkan jika yang pertama kaki kanan di atas dapat dipindahkan kaki kiri yang di atas dan sebaliknya.

Perempuan di Minangkabau juga mempunyai cara duduk yang disebut dengan duduk basimpuah atau bersimpuh, caranya adalah lipat kaki kanan dan kaki kiri di bagian samping pinggul, kaki kanan disusun sejajar dengan kaki kiri, bisa juga dilakukan sebaliknya. Tutuplah baik-baik bagian anggota tubuh yang mungkin akan menimbulkan rasa malu. Dengan posisi duduk seperti itu perempuan akan tampak sebagai wanita yang mulia dan Agung. Wanita itu juga akan terlihat sopan dan anggun. Supaya lebih sopan kita sebagai orang Minang harus duduk pada tempat yang telah ditentukan, dan kita harus memperhatikan pula yang tidak boleh dilakukan saat duduk yang dalam bahasa minangkabaunya disebut dengan Sumbang duduk.

Sumbang duduk menurut adat Minangkabau:

1. Duduk di tepi jalan tanpa ada yang menemani dan tidak ada keperluan
2. Duduk di mana laki-laki banyak duduk dan bermain-main
3. Duduk di atas pintu atau kepala tangga sedangkan orang banyak hilir mudik di tempat itu
4. Duduk berdekad-dekatan dengan family yang laki-laki seperti adik, kakak, mama, ipar, bisan Atau laki-laki lainnya
5. Duduk menyerupai Duduk laki-laki seperti baselo.
Selain itu cara duduk dan tertib duduk ada pula arti duduk dalam kiasan seperti, duduk Upi artinya duduk yang mendatangkan hasil, duduk seorang basampik-sampai, duduk bersama balapang lapang.

Sopan Santun Waktu Makan

Bila kita makan di rumah atau tempat lain seperti di tempat bertamu atau makan dekat orang banyak harus diperhatikan tata cara makan yang baik. Mulai dari cara mengambil makanannya sampai sikap menghadiri makan semuanya diajarkan dalam Minangkabau. Seperti ungkapan petitih orang minangkabau.

Makan sasuok duo suok 
Cukuik katigo paruiklah kanyang
Usah makan sakulek kanyang
Jan minum saraguak abih
Selah cando dipandang urang
Buruak rupo di liek urang 

Baginda nabi muhammad saw juga mengajarkan “makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”
Bila kita makan bersama orang tua di saat bertamu ke rumah orang lain biarkan terlebih dahulu orang tua mengambil nasi dan lauk pauk, kita menyusul belakangan. Jangan mengambil makanan jauh dari kita bila mengambil nasi Ambillah sedikit-sedikit jangan sampai makanan memenuhi piring karena akan berkesan rakus. 

Saat makan suaplah dengan ujung jari dan kunyahlah dengan mulut tertutup sehingga tidak menimbulkan suara, kunyahlah nasi sampai halus dan terasa manis sehingga tidak menimbulkan suara kunyahlah nasi sampai halus dan terasa manis. Usahakan selesai makan bersamaan jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat bila terlalu cepat akan membuat orang tersinggung dan jika terlalu lama akan membuat orang menunggu. 

Bila selesai makan cucilah tangan secara serentak yang didahului oleh orang yang lebih tua kemudian boleh dilanjutkan dengan memakan makanan ringan setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Makan bersama itu ada dua cara yaitu makan berjamba dan makan barampak.

Makan dengan menggunakan sendok dan garpu mempunyai cara yang lain lagi seperti sendok dipegang oleh tangan kanan dan garpu dipegang oleh tangan kiri, waktu mengambil nasi usahakan sendok tidak berbunyi walaupun sendok bersentuhan dengan piring waktu makan sendok yang kita bawa ke mulut bukan mulut yang mengejar sendok bila selesai letakkanlah garpu dan sendok telungkup di atas piring.

Sopan Santun bertamu

Bila bertamu ke rumah seseorang Carilah waktu yang tepat misalnya bertamu atau berkunjunglah di saat orang ada di rumah, lebih baik memberitahu lebih dahulu kedatangan kita, bertamulah di saat tuan rumah sedang tidak sibuk dan tidak sedang istirahat. Jadi yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai dengan kedatangan kita tuan rumah merasa terganggu.

Di Minangkabau Tamu adalah raja, namun kita sebagai tamu tidak boleh bersikap Seenaknya saja. Kita harus mengikuti tata cara bertamu:
1. Waktu kita tiba di rumah orang yang kita kunjungi ketua pintu sambil mengucapkan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
2. Masuklah ke dalam rumah setelah dipersilahkan masuk oleh tuan rumah
3. Duduklah setelah dipersilahkan duduk oleh tuan rumah
4. Ambillah tempat duduk dengan posisi membelakang ke pintu masuk
5. Sampaikan maksud bertamu setelah suasana mengizinkan.

Bila maksud kita bertemu sudah selesai kita segera pamit pada tuan rumah tidak baik bertemu lama-lama karena akan mengganggu pekerjaan tuan rumah. Waktu akan keluar rumah Ucapkan salam pada tuan rumah sambil bersalaman.

*Penulis: Annisa, Sastra minangkabau, UNAND

Catatan Sri Handayani: Fungsi mamak dan Kemenakan di Minangkabau
Kamis, Mei 26, 2022

On Kamis, Mei 26, 2022

MINANGKABAU sangat kaya dengan tradisi yang sangat indah dan beragam. Selain tradisi juga banyak sapaan atau gelar seseorang dalam kehidupan sehari-hari. 

Nah disini terdapat hal yang menarik perlu dibahas yaitu fungsi mamak dan kemenakan di Minangkabau. Mamak merupakan saudara laki-laki dari ibu.

Dan kemenakan merupakan anak dari saudara baik saudara laki-laki maupun perempuan.

Mamak memiliki peran penting untuk kemenakannya. Seperti pepatah “anak dipangku kamanakan dibimbiang”.

Artinya anak serta kemanakan maka mamak memiliki tanggung jawab. Mamak adalah pemimpin kemenakannya. 

Ajaran adat Minangkabau dan pandangan hidupnya tertuang dalam bentuk pepatah, petitih dan pituah, serta ungkapan lain yang mengambil contoh dari alam, alam semesta dengan segala unsurnya. 

Niniak Mamak sebagai pimpinan informal dalam masyarakat tradisional ditandai dengan tidak diadakan peresmian pengangkatan pemimpin, juga tidak merupakan jabatan yang diwarisi secara turun temurun berdasarkan garis keturunan darah atau hubungan darah. 

Kepemimpinan dilahirkan berdasarkan jabatan fungsional seperti mengurus masalah agama, pemerintahan, serta keamanan atau tugasnya sebagai pengamanan negeri di dalam suatu komunitas yang disebut dengan nagari.

Dilihat dari tugas seorang niniak mamak didalam Nagari, dengan kedudukan ini tetap merupakan pimpinan yang melaksanakan tugas dan wewenang serta tanggung jawab yang diberikan oleh kaum, suku atau nagari kepadanya, sehubungan dengan pandangan warga kaum dan sukunya tetap sebagai pimpinan mereka. 

Peran yang paling utama bagi mamak didalam keluarga ibu ialah sebagai pemimpin dalam keluarga. 

Mamak memiliki posisi atau tugas untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat traumata dalam menjaga kemenakannya dan saudara perempuannya.

Bukan hanya sekedar membimbing anaknya di rumah mamak juga perlu membimbing kemenakannya. 

Yang perlu mamak bimbing kepada kemenakannya yaitu mengenai agama, pendidikan, ekonomi, adat dan pernikahan anak kemenakannya.

Mengenai keagamaan mamak perlu membimbing kemenakan mengenai sholatnya serta ketaatan terhadap agama. 

Sebagai seorang mamak harus bisa mengajarkan kepada kemenakannya apa yang baik dan apa yang tidak baik agar kemenakannya taat melaksanakan syariat agama Islam.

Dewasa ini masalah ekonomi merupakan salah satu aspek dalam kehidupan yang memiliki peranan sangat penting demi kelangsungan hidup kita sehari-hari. 

Sulitnya mencari pekerjaan adalah salah satu persoalan ekonomi yang serius. 

Hal ini mau tidak mau menjadi masalah yang harus dipikirkan dan dipikul mamak dalam komunitas masyarakat Minangkabau, karena bagaimanapun juga salah satu tugas pokok seorang mamak adalah harus ikut serta memperhatikan dan membantu anak kemenakan demi kelanjutan hidupnya sehari-hari di tengah- tengah masyarakat. 

Mamak sebagai seorang laki-laki Minangkabau mau tidak mau mestilah menjalani dua peran. 

Pertama sebagai mamak dalam rumah ibunya dan kedua sebagai urang sumando dalam rumah istrinya.

Perempuan sebagai pemegang harta pusaka dan laki-laki secara langsung adalah pemilik kekuasaan terhadap harta pusaka.

Peranan dan tanggung jawab mamak selama ini ada dalam segala lapangan kehidupan terutama ekonomi. 

Inilah yang menyebabkan adanya wibawa mamak di depan kemenakannya dan yang menyebabkan menggantungkan harapan pada mamaknya. 

Namun, pada saat sekarang ini kemenakan lebih tergantung pada ayahnya dari pada mamaknya. 

Mamak sudah berangsur melepaskan tanggung jawabnya terhadap kehidupan ekonomi kemenakannya.

Peran mamak dalam bidang perekonomian sudah mulai tidak dirasakan lagi. 

Hal ini dikarenakan mamak lebih memprioritaskan anak isteri, disamping itu mamak sudah jarang yang mengelola harta pusaka keluarga yang hasilnya itu dijadikan untuk membiayai kemenakan. 

Karena hasil dari pencarian pribadi mamak adalah untuk membiayai anaknya, sedangkan untuk kemenakannya dibiayai dengan hasil pengelolaan harta pusaka misalnya sawah dan ladang. 

Dengan tidak ikut sertanya mamak mengelola harta pusaka menyebabkan kehidupan perekonomian kemenakan tidak ikut menjadi beban mamak, lain halnya jika mamak mampu dan secara sukarela mau membantu kehidupan perekonomian kemenakan.

Dalam masyarakat minangkabau fungsi dan tugas seorang mamak adalah menjaga saudara-saudaranya yang perempuan, membimbing kemenakan- kemenakannya serta menjaga harta pusaka.

Terhadap anak kemanakan perempuan bimbingan mamak dalam pendidikan juga meliputi persiapan untuk menyambut warisan dan untuk melanjutkan garis keturunan, termasuk cara-cara membina rumah tangga.

Terhadap kemenakan laki- laki, bimbingan itu meliputi didikan untuk memelihara harta pusaka serta mempersiapkan kemenakan laki-laki untuk dapat mewarisi fungsi mamak untuk menjadi pimpinan dalam lingkungannya. 

Dilingkungan adat peranan mamak terhadap kemenakan sangatlah penting. 

Mamak mengajarkan etika-etika sopan santun dalam beradat demi memperkuat hubungan sesama masyarakat supaya tidak terjadi permasalahan masalah moral terhadap sesama. 

Misalnya mamak menjelaskan mengenai kato nan ampek, mandaki, manurun, malereng, mandata. 

Nah kato nan ampek ini sangat berguna dalam etika menyapa orang yang lebih tua (mandaki), kepada anak kecil (manurun), kepada orang yang disegani (malereng) serta kepada teman sebaya atau sama besar (mandata). 

Aturan mamak dalam budaya Minangkabu ada seperti tidak boleh memanjat, tidak boleh merantau dan lain sebagainya. 

Alasan mamak tidak boleh merantau di karenakan dia memiliki tanggung jawab mendidik bukan hanya kepada anaknya namun juga kepada kemenakannya.

Jika mamak melanggar aturan ini dia pergi merantau maka kaum atau sukunya akan di denda 2 emas. 

Jika tidak di bayar maka akan ditinggalkan oleh kampung beradat. Misalnya suatu kaum atau suku yang melanggar dan di denda itu ingin menyelenggarakan tradisi atau adat Minang seperti menyelengggarakan acara perhelatan atau “ baralek” maka orang kampung selain suku itu tidak akan mengikuti/datang acara perhelatan (baralek) itu. 

Nah dapat disimpulkan bahwa mamak harus senantiasa membimbing anak kemenakannya dan tidak melanggar aturan adat. 

Pada zaman sekarang ini peranan mamak sudah mulai diacuhkan kemenakan karena tingkah mamak yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Maka untuk itu perlu mamak bersikap baik dalam kehidupan supaya dihormati anak dan kemenakannya. 

*Penulis: Sri Handayani, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Pakaian Adat Bundo Kanduang di Sumatera Barat
Kamis, Mei 26, 2022

On Kamis, Mei 26, 2022

SUMATERA Barat memiliki budaya yang beragam mulai dari tari, rumah adat, nyanyian daerah, hingga pakaian adat. Para penduduk menggunakan pakaian adat yang banyak ragamnya tersebut menyesuaikan dengan acara yang dihadiri. 

Selain itu, pakaian adat juga untuk menggambarkan karakter dari masyarakat setempat. Di bawah ini merupakan karakter dari masyarakat Sumatera Barat: 

1.    Adat pernikahan yang unik.
2.    Cinta terhadap budaya daerah.
3.    Mahir menggunakan Bahasa Minangkabau.
4.    Loyal terhadap teman karena memiliki rasa persaudaraan yang kuat.
5.    Suka merantau.
6.    Memiliki ketaatan yang tinggi pada agama.

Fungsi pakaian adat utamanya adalah untuk mengenalkan identitas budaya yang sedang ditampilkan. Pakaian adat seringkali menjadi simbol budaya, karakter penduduk daerah, keyakinan penduduk daerah, dan histori.

Berikut dibawah ini penjelasan mengenai pakaian bundo kanduang 
Orang Minang memberikan penghargaan yang tinggi kepada wanita. 

Tingginya rasa hormat tersebut tidak hanya diucapkan dalam bentuk kata, namun juga diaplikasikan dalam bentuk budaya, salah satunya melalui pakaian adat. Pakaian adat untuk wanita juga bisa disebut dengan pakaian adat Bundo Kanduang.

Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan lambang kebesaran wanita. Dalam Bahasa Minang, Limpapeh berarti tiang besar yang digunakan untuk menopang bangunan. 

Sebuah bangunan dapat berdiri kokoh karena ada tiang tengah yang menopang sekaligus menyangga semua kekuatan bangunan tersebut dan menjadi pusat kekuatan tiang-tiang lain. 

Jika tiang tersebut patah/ rusak/ hancur, maka bangunan tersebut akan runtuh karena tidak ada yang menyangga.

Makna dari pakaian ini adalah menggambarkan pentingnya peran wanita dalam kehidupan rumah tangga. Wanita yang dimaksud di sini adalah wanita yang sudah menikah dan berkeluarga.

Pakaian adat ini digunakan oleh wanita Sumatra Barat dan memiliki banyak macam karena banyaknya adat yang terdapat di Sumatra Barat. Semuanya berfungsi untuk menunjukkan kebesaran dan peran penting seorang wanita.

a. Baju Batabue

Baju Batabue memiliki arti baju bertabur. Sesuai dengan artinya, baju ini ditaburi oleh benang emas yang menjadi simbolik kekayaan alam.

Banyaknya taburan emas di sekujur baju mengisyaratkan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki oleh Sumatera Barat.

Memang sumber daya alam di Sumatera Barat sangat melimpah. Mulai dari batu besi, batubara, batu galena, seng, timah hitam, batu kapur (semen), mangan, emas, kakao, kelapa sawit, hasil perikanan, dan gambir.

Baju Batabue memiliki empat macam corak yang familiar, yakni merah, lembayung, hitam, dan biru. Namun demikian, jika Grameds memilih warna gelap, hal ini akan menambah kesan kilauan emas karena paduan warna yang kontras namun elegan dan berkelas. Walaupun, selera setiap orang pasti berbeda-beda.

Bentuk Baju Batabue menyerupai baju kurung yang dilengkapi dengan pernak-pernik agar semakin tampak indah dan mempesona. 

Modelnya berlengan panjang dan terkesan longgar sehingga tidak menampakkan lekuk tubuh wanita.

Pada tepi leher dan lengan terdapat hiasan yang disebut dengan minsie.

Pengertian dari minsie adalah sulaman yang menjadi simbol seorang wanita Minang memiliki kewajiban untuk taat pada batas-batas adat yang telah ditetapkan.

Sekilas baju ini memiliki model yang hampir mirip dengan baju kurung Aceh.

Hal ini tidak mengherankan karena Minang dan Aceh masih satu rumpun, yakni rumpun Melayu. 

Pakaian ini biasa digunakan saat pernikahan dan acara-acara adat lainnya.

b.Lambak atau Sarung

Lambak atau sarung merupakan bawahan dari baju Batabue sehingga menampilkan pemakainya menjunjung tinggi kesopanan, tertib, dan sedap dipandang mata. 

Bawahan ini merupakan kain songket atau berikat yang dihiasi dengan minsie. 

Warna kain yang digunakan untuk lambak ini adalah jenis warna pastel, gelap, atau cerah. 

Lambak memiliki cara yang berbeda-beda dalam memasangkannya karena disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing daerah di Minang. 

Ada yang menampilkan belahan di depan, samping, belakang, bahkan ada juga yang digunakan dengan cara disusun ke belakang.

c. Minsie

Sulaman-sulaman berwarna emas pada tepi-tepi pakaian adat disebut dengan minsie.  

Minsie juga merupakan symbol seorang wanita minang yang memiliki kewajiban untuk taat pada batas-batas adat yang telah ditetapkan.

d. Salempang

Salempang merupakan selendang pelengkap yang diperuntukkan untuk wanita yang telah menikah atau berkeluarga. 

Maksud dari Salempang ini adalah agar wanita Minang yang mengenakannya dapat melanjutkan keturunan berupa anak cucu. 

Tidak cukup sampai di situ, wanita yang mengenakan selempang diharapkan dapat menjadi suri tauladan yang baik untuk anak-cucunya dan selalu bersikap waspada terhadap segala hal, baik untuk saat ini maupun masa depan.

e. Balapak

Bentuk dari Balapak hampir sama dengan salempang. Bedanya, bapalak digunakan oleh wanita yang siap menikah dan siap melanjutkan keturunan. 

Dengan kata lain, pengguna Bapak adalah para wanita yang belum menikah namun siap untuk menikah.

Jaman dulu, penggunaan Balapak diwajibkan kepada wanita Minang yang telah siap untuk berkeluarga.

f. Tingkuluak

Tingkuluak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh wanita Minang. Karena banyak macam acara adat di Sumatera Barat, maka tingkuluak memiliki beberapa jenis berdasarkan kegunaannya. 

Berikut macam-macam tingkuluak dibawah ini :
1.    Tingkuluak tanduak
2.    Tingkuluak balapak
3.    Tingkuluak balanggek
4.    Tingkuluak sapik udang
5.    Tingkuluak talakuang
6.    Tingkuluak koto gadang
g. Dukuh (Kalung)

Dukuh mengisyaratkan bahwa wanita Minang selalu berada dalam lingkaran kebenaran sebagaimana kalung yang melingkari lehernya. 

Tidak hanya itu, dukuh juga memberikan isyarat tentang pendirian yang kok dan sulit untuk goyah jika sudah berada di atas kebenaran.

h. Galang (Gelang)

Galang yang melingkar di pergelangan tangan memberikan isyarat bahwa semua hal ada batasnya. 

Lebih jelasnya, dalam melakukan sesuatu, seseorang harus mengerti batas kemampuanya.

*Ditulis Oleh: Winda Rahma Putri, Mahasiswa, Sastra Minangkabau 
Universitas Andalas

Catatan Pinta Nirwana: Tradisi Bararak di Pasaman
Rabu, Mei 25, 2022

On Rabu, Mei 25, 2022

PERNIKAHAN ialah dimana sebuah laki laki dan perempuan yang telah matang melanjutkan ke jenjang yang lebih serius biasanya usia seseorang untuk menikah kurang lebih 23 tahun ke atas , nah kali ini pernikahan di langsungkan dengan tradisi adat , salah satunya  yaitu adat Minangkabau , diminangkabau yaitu sebuah kebudayaan yang ada  di sumbar biasanya memiliki beberapa adat atau tradisi yang di kaji dalam sebuah pernikahan , salah satunya yaitu tradisi bararak.

Bararak, Bararak adalah suatu tradisi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Tradisi ini dapat ditemui dalam upacara perkawinan, batagak gala (pengangkatan) penghulu, khatam Qur’an dan sunat rasul. Istilah bararak dari KBBI yang saya baca  dimana bararak berasal dari kata "arak" yang mana artinya  berjalan beriringan dimana  sekelompok orang yang sedang berjalan.

Setiap nagari di Minangkabau pada hakikat memiliki tradisi atau aktifitas bararak. Salah-satunya adalah tradisi bararak yang ada di nagari Simpang Tonang. Tradisi bararak dalam upacara perkawinan dinamakan dengan “maantaan langkah”. Maantaan langkah adalah aktifitas pihak keluarga pengantin perempuan (anak daro)
yang didampingi pengantin laki-laki (marapulai) mendatangi rumah mertua (orang tua mempelai laki-laki) untuk pertama kalinya.

Kali ini sebuah tradisi bararak di Kabupaten Pasaman . Pasaman  sebuah kabupaten yang berada di provinsi Sumatera Barat yang mana letaknya berada di perbatasan  antara Sumatera Barat dengan Sumatera Utara ,nah dimana  biasanya  pernikahan  di Pasaman biasanya di adakan dengan tradisi Bararak ,Bararak  bagi masyarakat pasaman sebuah tradisi yang menarik dimana di adakannya bararak semua masyarakat akan memakai pakaian yang bagus dan pernikahan di Pasaman pun biasanya sering juga berarak, biasanya Bararak dilakukan  saat acara pernikahan atau acara turun mandi.

Namun  tradisi bararak yang sering terjadi ini mempunyai ketentuan  juga  biasanya  saat ingin  bararak  itu  harus ada penurunan sapi  dimana   syarat bararak ini masyarakat Kenagarian Simpang Tonang sering menyebutnya dengan " Marobohan jawi " jadi  jika  kita  ingin melangsungkan bararak kita  harus memiliki  modal yang cukup juga untuk membeli jawi ( Sapi ) , dimana jika  tidak  bisa  merobohkan  sapi ( Jawi ) dan mereka  tetap bararak maka  Mamak  atau penghulu yang ada  di daerah ini akan  marah  atau bisa  saja memberikan  sangksi  di keluarkan dari adat atau tidak  di akaui sebagai kemanakan lagi dan juga tidak akan didatangi jika ada yang terjadi Karena mereka  menganggap dengan perobohan jawi maka sebuah rumah tangga akan harmonis, dan jika sebaliknya  jika  tidak ada perobohan jawi maka mereka jika melangsungkan pernikahan di anggap rumah tangganya tidak akan lama.

Nah selain dari perobohan jawi masih ada juga syarat dan ketentuannya salah satunya  adab berjalannya, berjalannya orang yang berarak baik itu anak daro dan marapulai atau acara turun mandi biasanya  langkah atau  adapan pertamanya yaitu hadap mudik  dulu tidak  boleh  kita menghadap hilir  dahulu jadi kita   harus  hal itu merupakan ketentuan ketentuan juga namun  saya juga  kurang mengerti dengan ceritanya. Namun ada ada juga pepatahnya " jikok  pai  mangadok ka mudiak, jikok pulang baputa mangadok ka hilia " dengan artian Pergi menghadap ke mudik jika pulang berputar menghadap ke hilir.

Jika Marapulai dan anak daro berasal dari kampung yang sama atau satu kampung dan melangsungkan pernikahan di hari yang sama maka biasanya  setelah selesai akat marapulai  akan di arak ke rumah anak daro di mana kali ini masyarakat menamainya dengan menjemput anak daro , dan setelah pembincanga adat di rumah anak daro  maka biasanya kedua memplai akan di arak bersamaan ke rumah marapulai  untuk melanjutana simbuan atau manyimbua.

Bararak di Pasaman lebih tepatnya di Kenagarian Simpang tonang biasanya menggunakan gandang dikia  atau lebih tepatnya  Gendang diki, dimana gandang dikia ini mungkin  sudah langka dan jarang di temukan , gandang dikia ini terbuat dari kulit sapi atau kulit kambing juga dan menggunakan pohon nangka sebagai batangnya dan rotan sebagi pengikatnya , Orang yang akan memainkan gandang dikia ini biasanya bisa sepuluh sampai lima belas orang. Saat bararak akan di iringi dengan nyanyia atau orang Simpang Tonang biasanya menyebutnya dengan nyanyian  adat yang mana artinya  ialah sebuah nyanyia yang berbahasakan Arab Melayu. dan jika  marapulai dan anak daro bararak itu biasanya mamaciak atau memegang sapu tangan dengan jalan yang lambat nah dalam perjalanan anak daro biasanya tidak boleh di dahului oleh orang lain biasanya anak daro harus di depankan .

Disamping dari acara bararak jika itu acara pernikahan maka sebelum bararak akan di iringi biasanya dengan dendang dikia atau badikir dimana saat acara pernikahan satu hari sebelum pernikahan dinamakan dengan baetong mamak mamak dimana setelah selesainya mendo’a maka sebagian dari personil akan memainkan gandang dikianya dengan dua orang menarikana tari saputangan , biasanya mamak atau panghulupun akan ikut menyanyikan nyanyinya yang mana nanyi ini biasanya di namakan dengan aliftaza , jadi jika itu acara  bararak pada acara pernikahan berbeda pula dengan acara turun mandi, dimana acara turun mandi biasanya setelah melangsungkana acara bararak maka bayi tersebut akan di nyanyikan dengan parsanji atau bacaan ayat al - quran dimana  pada proses ini biasanya di lakukan pula dengan acara potong rambut , dimana bayi akan di gendong olen ayahnya maka mamak mamak tersebut akan bergiliran memotong rambut dari bayi tersebut. 

Nah ada satu tradisi lagi yang ada di kabupaten Pasaman lebih tepatnya Nagari Simpang Tonang yaitu bararak saat khatam qur’an dimana biasanya tradisi ini tidak dinyanyikan dan juga tidak di iringi dengan gandang dikia , hanya saja bagi anak yang telah khatam mereka akan berjalan beriringan bersama semua orang kampung tersebut dari ujung kampung ke ujung lagi dan menyanyikan shalawat.

Tradisi bararak sebagai salah satu khasanah budaya yang hidup dalam masyarakat Minangkabau pada masa mendatang yang harus tetap di lestarikan agar tetap terjaga dan tidak hilang. Kemudian dari pada itu, fungsi, makna, dan nilai budaya yang terdapat di dalamnya agar tetap di jaga khususnya generasi muda sebagai pelanjut tradisi yang di warisi oleh para pendahulunya. Pada hal dalam aktifitas bararak, terkandung nilai budaya luhur, motifasi yang patut dipelajari dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.

*Pinta Nirwana adalah Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Rendang Belalang Makanan Khas Masyarakat Kecamatan Sumpur Kudus
Rabu, Mei 25, 2022

On Rabu, Mei 25, 2022

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan keragaman budaya dan tersebar luas dari sabang sampai merauke. Indonesia tak hanya di kenal dengan kebudayaannya saja, melainkan juga terkenal dengan berbagai jenis makanan tradisional yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia. Di setiap daerah, hidangan makanan yang ada memiliki rasa dan aroma yang khas tersendiri. Salah satunya makanan tradisional bernama rendang.

Rendang siapa sih yang tak kenal dengan makanan yang satu ini, makanan tradisional masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Pada saat ini rendang sudah bisa dijumpai dimana-mana bahkan sampai ke mancanegara, karena rasanya yang enak sehingga rendang dinobatkan sebagai Hidangan Terlezat Dunia.

Rendang sudah ada sejak dahulu dan dikenal sebagai masakan yang memiliki cita rasa yang khas, dikarenakan dalam pembuatannya menggunakan berbagai macam bumbu dan rempah-rempah serta proses memasaknya yang dilakukan secara tradisional yaitu dengan menggunakan kayu. Adapun ciri khas rendang adalah memiliki aroma dan rasa yang gurih serta merupakan perpaduan rasa asin, agak manis dan pedas. 

Namun, rendang merupakan masakan tradisional masyarakat Minangkabau dengan bahan baku utama daging, santan dan rempah-rempah ini juga memiliki cara masak dan penggunaan rempah-rempah yang berbeda pada masing-masing daerahnya sehingga rendang memiliki aroma dan rasa yang khas di setiap daerah tersebut.

Salah satu yang melatarbelakangi kuliner khas Sumatera Barat ini bisa menyebar hingga ke berbagai tempat adalah karena tradisi merantau yang biasa dilakukan orang Minangkabau yang membawa rendang sebagai bekal karena dapat bertahan hingga satu bulan. Hingga sekarang rendang tak hanya disajikan untuk acara adat saja melainkan menjadi hidangan yang dapat disantap sehari-hari.

Proses Memasak Rendang
Memasak rendang membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam dengan melalui 3 proses tahapan. Tahapan yang pertama adalah gulai, dimana kuah santan masih banyak dan encer. 

Tahapan yang kedua adalah kalio, dengan santan yang mulai mengental dan mulai berminyak. Biasanya kalio terbentuk setelah 4 jam pertama proses pemasakan rendang. Tahap ketiga, untuk membuat kalio menjadi rendang, masak daging dengan api kecil hingga berminyak dan kering.

Proses pemasakan daging melalui beberapa proses terlebih dahulu sebelum pada akhirnya menjadi rendang, yaitu mulai dari gulai, kemudian kalio dan terakhir rendang.

Pembuatan rendang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai warna coklat hingga coklat kehitaman. Dalam kondisi ini rendang bisa bertahan lama di suhu ruangan dikarenakan kandungan air yang ada pada rendang sudah rendah.

Masyarakat Sumatera Barat tidak hanya mengenal rendang yang berasal dari olahan daging sapi saja, namun juga terdapat jenis rendang lainnya seperti rendang ayam,rendang telur. Semua jenis rendang ini memiliki aroma dan cita rasa khas yang dihasilkan dari jenis bahan baku serta rempah-rempah yang digunakan.

Namun berbeda dengan masyarakat Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Mereka malah mengolah belalang menjadi rendang. makanan yang satu ini adalah olahan rendang dengan menggunakan daging belalang. Makanan unik yang satu ini dapat anda jumpai di ranah Minang Nagari Sumpur Kudus, kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Masyarakat setempat biasa menangkap belalang untuk dijual kembali maupun diolah menjadi masakan Rendang Bilalang. Makanan ini menjadi salah satu favorit masyarakat setempat karena halal, harganya yang murah, serta rasanya yang gurih seperti udang .

Selain rendang, daging belalang juga ditambahkan ke berbagai macam masakan seperti gulai dan balado, bahkan rendang belalang telah menjadi makanan khas dan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah Sumpur Kudus. 

Menurut masyarakat Sumpur Kudus, ternyata tidak semua jenis belalang bisa diolah menjadi rendang dan belalang yang bisa dikonsumsi masyarakat di sana adalah belalang sawah.dan ternyata ada beberapa jenis belalang yang tidak layak dikonsumsi salah satunya adalah belalang kunyit karena rasanya pahit dan habitatnya yang kotor dan banyak ditemukan di pinggir jalan.

Pengolahan Rendang Belalang

Sebelum mengolah belalang menjadi rendang, biasanya masyarakat Sumpur Kudus melakukan penangkapan belalang ke sawah setelah musim panen padi dan pada musim bertanam padi menggunakan jaring yang diletakkan di atas benih suapaya belalang yang terbang akan terjerat jaring, kemudian dimasukan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu.

Penangkapan belalang tersebut biasanya juga dilakukan malam hari pukul 23.00 WIB di sawah yang telah selesai panen. Karena pada waktu itulah semua belalang hinggap ke batang padi. 

Proses penangkapan belalang dilakukan beramai-ramai dengan membawa obor yang terbuat dari bambu dan dilubangi untuk memasukkan belalang yang telah ditangkap.

Sebelum direndang, belakang yang sudah ditangkap tersebut disangrai terlebih dahulu hingga baunya berubah menjadi tidak menyengat lagi. Kemudian dibersihkan membuang bagian kaki dan sayap belalang.

Selanjutnya mengolah belalang menjadi rendang. Cara pengolahan rendang belalang hampir sama dengan pengolahan rendang pada umumnya, yakni menyiapkan rempah-rempah rendang yang lengkap berupa, bumbu rendang, bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, kelapa dan beberapa bumbu lainnya. Namun perbedaannya biasanya rendang menggunakan daging, tetapi sekarang diganti dengan belalang.

Selain rendang belalang, di Kecamatan Sumpur Kudus juga terdapat makanan lainnya dari olahan belalang seperti belalang gulai, belalang goreng, dan belalang bakar. Selain itu, ternyata belalang juga memiliki protein yang tinggi.

Sebagai seranggan dengan nilai gizi yang tinggi manfaat makan belalang yaitu:

1. Kaya protein

Belalang mengandung protein tinggi dengan kandungan lemak yang rendah. Karena itu, belalang bisa menjadi sumber protein hewani pengganti daging.

2. Melakukan sifat antibakterial

Belalang mengandung polisakarida yang disebut kitin. Senyawa tersebut memiliki sifat antibakteri.

3. Menjaga kesehatan syaraf

Belalang memiliki kandungan Vitamin B1 dan B12.

4. Sumber energi

Belalang memberikan energi lebih banyak daripada sereal seperti gandum.Memakan belalang sedikit saja sudah mampu memberikanAnda energi untuk beraktivitas sehari-hari.

Penulis: Ayu Fazira, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Catatan Adrian Tuswandi: Munas Gebu Minang dan Pilpres 2024
Sabtu, Mei 21, 2022

On Sabtu, Mei 21, 2022

MUSYAWARAH Nasional (Munas) VII Gebu Minang dua tahun menjelang Pilpres 2024, strategis atau pentingkah, padahal Gebu Minang tegas menggariskan tidak lembaga politik praktis tapi konsen di gerakan ekonomi dan budaya. 

Munas VII Gebu Minang berlangsung di Kota Padang 25-27 Mei 2022 tentu akan mencurahkan ide dan gagasan untuk menjadi program bagi Gebu Minang kedepan. 

Terpenting lagi adalah Pemilihan Ketua Umum DPP Gebu Minang, saat ini dijabat ketua umumnya Osman Sapta. 

Munas akan memunculkan Ketum DPP Gebu Minang, Munas dari tokoh minang berlevel internasipnal, minimal berlevel nasional akan berebut menjadi Ketua Umum Gebu Minang.

Banyak pandangan menyebut menjadi Ketua Umum organisasi besar seperti Gebu Minang yang memiliki 20 kepengurusan wilayah dan 50 kepengurusan cabang adalah sosial capital dalam menatap Pilpres 2024.

Kandidat Capres 2024 yang mencuat di pemberitaan hari ini ada Prabowo, Puan, Ganjar, Anies dan Airlangga atau tokoh bangsa lainnya, geliat komunitas paguyuban etnis ini tentu tak bisa anggap sepele, apalagi dahsyatnya hasil Munas Gebu Minang pada 25-27 Mei 2022. 

Capres pasti berhitung matematika pemilihnya, ketika Ketua Umum organisasi sebesar Gebu Minang berada di garisan pendukung atau tim sukses tentu akan menambah mesiu hadapi pertempuran di Pilpres 14 Februari 2024 nanti. 

Perantau Minang itu tersebar di seluruh bumi bahkan jumlahnya mungkin sama besar dengan etnis minang yang mendiami tanah Sumbar. Potensi suara etnis minang ini tentu menjadi vote capitality siapa pun Capres, karena semua orang tahu oramg minang di mana pun berada pasti menjadi tokoh di komunitasya bahkan di lintas komunitas etnis karena petuah Dima bumi Dipijak di Situ Langik Dijunjuang selalu menjadi pameo si minang merantau. 

Karena DNA perantau dibingkai dengan pameo itu perantau asal minang selalu di terima olrh etnis mana saja dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Rote. 

Jadi Munas VII Gebu Minang tak sekedar memilih ketua umum paguyuban belaka tapi juga menjadi keyword siapa saja Caores yang akan bertarung di Pilpres 2024. 

Pastinya tentu tetap, organisasi Gebu Minamg sulit ditarik ke politik dukung mendukung, tapi individu mulai dari Top elite pusat sampai elite kota dan kabupaten se Indonesia berhak menentukan kemana dijatuhkan dukungan jemaah di Gebu Minang ini.

Selamat ber Munas, kepada pemilik suara di Gebu Minang, siapa saja calon pastilah tokoh hebat dipunyai Gebu Minang kekinian dan kedepan. (***)

Masjid Agung, Salah Satu Destinasi Wisata Religi di Dharmasraya
Selasa, Mei 10, 2022

On Selasa, Mei 10, 2022

DHARMASRAYA adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Pada kawasan ini dahulunya pernah menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan kerajaan Melayu. Ibu kota Kabupaten Dharmasraya adalah Pulau Punjung. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 38 Tahun 2003, dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Sijunjung. Kabupaten Dharmasraya dikenal juga dengan sebutan Ranah Cati Nan Tigo.

Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu dari 3 kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 38 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat di provinsi Sumatra Barat, dan diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004.

Secara topografi, daerah Kabupaten Dharmasraya bervariasi antara berbukit, bergelombang, dan datar dengan variasi ketinggian dari 100 m - 1.500 m di atas permukaan laut. Kabupaten Dharmasraya berkembang sebagai salah satu penghasil kelapa sawit atau buah pasir menurut istilah setempat. Di samping itu, kabupaten ini juga merupakan produsen berbagai jenis tanaman keras lainnya, seperti kulit manis, karet, kelapa, gambir, kopi, cokelat, cengkih, dan pinang. Lahan perkebunan di sana lebih didominasi karet dan sawit. Penghasil kelapa sawit paling banyak di kabupaten ini adalah Kecamatan Sungai Rumbai.

Selain itu terdapat potensi tambang yang hingga detik ini belum tergarap, yakni batu bara, batu kapur, pasir kuarsa, emas, lempung kuarsit, dan sebagainya. Kabupaten ini masih baru dan masih dalam tahap mengembangkan diri dengan membuka peluang investasi seluas-luasnya. Ditunjang dengan posisi strategisnya di Sumatra (dilintasi Jalur Lintas Tengah Sumatra sepanjang 100 km), maka Dharmasraya cepat menjadi kawasan yang maju dan tumbuh sebagai wilayah perdagangan dan jasa.

Tidak hanya dalam segi Ekonomi,Dharmasraya juga memiliki destinasi wisata seperti peninggalam di masa Hindu Budha yang berbaur sejarah serta wisata-wisata alam yang bahkan belum banyak orang tau dan belum ter-ekpost seperti air terjun di sungai rumbai dan pulau punjung.
Berikut beberapa objek wisata di Dharmasraya namun lebih ke sejarah nya seperti Objek Situs/Benda Cagar Budaya

Sunting
Prasasti Padang Roco
Situs Candi Pulau Sawah
Rumah Gadang Siguntur
Rumah Gadang Pulau Punjung
Rumah Gadang Padang Laweh
Rumah Gadang Koto Salak
Kerajaan Batu Kangkung

Namun,sekarang ini Dharmasraya memiliki satu tempat wisata bahkan banyak di kunjungi oleh masyarakat apa lagi kaum milenial yaitu masjid Agung Dharmasraya. Kabupaten Dharmasraya memiliki Masjid Agung,Masjid yang dibangun di atas lahan 67.193 meter itu dirancang untuk menjadi pusat peradaban agama Islam di daerah itu. 

Masjid dengan dua lantai kemudian berdiri di Lintas Sumatera, tepatnya di Nagari Gunung Medan, Kecamatan Sitiung diperkirakan dapat menampung 13 ribu jemaah. 

Masjid Agung memiliki arsitektur yang begitu elok dimana memiliki empat kubah dan empat menara. Jumlah itu melambangkan filosofi adat Minangkabau yaitu 'Tau Jo Nan Ampek'. Tau Jo Nan Ampek itu sendiri adalah, kato mandaki, kato mandata, kato manurun, dan kato malareng. Makna kata itu ialah seseorang harus pandai menjaga sikap kepada yang lebih tua, sebaya, dan yang lebih kecil. Dengan arsitektur seperti itu banyak menarik pengunjung untuk singgah,dengan lahan luas dan taman-taman di depan masjid menjadi tempat peristirahatan orang-orang,masjid ini sangat memberikan kenyaman bagi pengunjung,dengan ala-ala taman yang di beground kan oleh masjid.

Banyak wisatawan sengaja ke sana untuk melihat masjid agung ini,layak nya masjid raya Padang yang sudah mendunia yang sudah menjadi ikon nya Sumatera Barat. Namun tidak kalah dengan masjid agung ini dengan gaya kalau di lihat seperti orang sujud di tambah tempat luas dan di beri tempat duduk untuk pengunjung yang datang. Pasca lebaran saat ini banyak masyarakat mengunjungi masjid ini dengan ala-ala arabian atau habibi seperti trand saat ini,dan tidak hanya pengunjung untuk berwisata namun masyarakat Dharmasraya banyak menggunakan Masjid Agung ini untuk beground foto prewedding nya bahkan setelah akad mereka akan berombongan untuk foto bersama di Masjid Agung ini. 

Dengan lokasi yang cukup strategis di lintas Sumatera menjadikan salah satu objek wisata religi baru di Kabupaten Dharmasraya ini.

Masjid Agung juga menjadi penopang utama seluruh masjid dan surau yang berada di Dharmasraya. Menjadi tempat untuk menyiapkan generasi Dharmasraya yang religi.

Bahkan, untuk mempertahankan nilai  setiap proyek infrastruktur yang sedang dan akan dikerjakan di daerah itu, pemerintah setempat terus memantau perkembangan pembangunannya. Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Jika dilihat dari atas, bangunannya berbentuk orang sujud. Terdapat empat kubah yang menghiasi atap bangunan dan empat menara di sekelilingnya. Jumlah itu melambangkan filosofi adat Minangkabau, yaitu “Tau Jo Nan Ampek“.

Upaya itu dilakukan, selain menarik jemaah dari wilayah setempat, juga dapat menjadi perhatian dan daya tarik bagi umat Muslim dari luar Dharmasraya.

Program yang dibuat nantinya memperhatikan kecenderungan generasi milenial sehingga mereka lebih antusias mengikuti kegiatan keagamaan.

Dibangunnya Masjid Agung Dharmasraya merupakan langkah strategis yang multi efek. Pembangunan kompleks Islamic Center tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Dharmasraya.

Setelah Masjid Agung Dharmasraya rampung, area sekitar masjid akan dilengkapi SPBU, mini market, dan rest area. Hal itu mengingat lokasinya yang berada persis di pinggir jalan Lintas Sumatra.Masjid Agung Dharmasraya.

Ke depan diharapkan asjid agung akan menjadi ikon baru Dharmasraya. Menjadi Islamic Center untuk pemberdayaan umat dan menjadi penopang utama seluruh masjid dan surau di Dharmasraya serta peningkatan perekonomian. Kabupaten Dharmasraya secara terus menerus memberdayakan usaha kecil dan menengah, mempersiapkan pengolahan produk siap saji dalam bentuk kemasan dan akan dijadikan sebagai andalan dalam rangka memanfaatkan peluang ekonomi di seputar Islamic Center. 

*Penulis: Audia Nesty, Mahasiswi Universitas Andalas Fakultas Ilmu Budaya.

Mengenal Menhir Belubus di Nagari Sungai Talang Kabupaten Lima Puluh Kota
Minggu, April 24, 2022

On Minggu, April 24, 2022

KEBUDAYAAM megalitik merupakan istilah untuk menyebutkan kebudayaan yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu besar.

Mega berarti besar dan lithos berarti batu, kebudayaan megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang telah meninggal dan mempunyai pengaruh kuat terhadap kesejahteraan dan kesuburan. 

Objek-objek batu yang berukuran kecil, dan bahan-bahan seperti kayu harus dimasukkan ke dalam klasifikasi megalitik bila benda-benda itu dipergunakan untuk tujuan sakral tertentu, yakni pemujaan kepada arwah nenek moyang (Soejono, 1990: 205).

Berdasarkan pembagian zamannya masa megalitik diperkirakan berada pada kisaran masa neolitik akhir dan berkembang ke masa perundagian, megalitik terbagi dua yaitu, masa megalitik tua yang diperkirakan dari 2500-1500 sebelum masehi bangunan yang identiknya berupa menhir, undak batu serta simbolis monumental pada era neolitik dan megalitik muda (Soejono, 1981).

Persebaran kebudayaan megalitik masuk ke Indonesia dibawa oleh Ras Kaukasia yang datang dari daerah Mediterania melalui Benua Asia bagian selatan (Prasetyo, 2015). Persebaran megalitik memberikan gambaran yang sangat luas dari Sumatera sampai Papua. 

Sumatera menjadi salah satu pulau yang memiliki situs megalitik paling banyak diantara semua pulau, mulai dari Sumatera bagian Utara, Nias, Sumatera bagian Barat, sumatera bagian Tengah, Sumatera bagian Selatan. Semua situs yang tersebar memiliki berbagai bentuk yang memiliki kesamaan dan mempunyai perbedaan sebagai tinggalan arkeologi (Budisantosa, 2012). 

Beberapa dari tinggalan megalitik beberapa ditemukan memiliki motif hias baik dalam posisi tegak maupun dalam posisi rebah. 

Masing-masing posisi megalit memiliki keunikan masing-masing yang dapat ditemukan di berbagai wilayah. Dominik Bonatz dkk mengelompokkan dalam dua tipe, yaitu tipe kerucut dan tipe silinder (Bonatz al, 2006).

Tinggalan arkeologi di dataran Tinggi Sumatera Barat, Khusunya Kabupaten Lima Puluh Kota yang masih terletak dalam gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera.

Kabupaten Lima puluh Kota sangat kaya akan tinggalan budaya masa prasejarah khususnya tinggalan megalit yang berupa menhir atau biasa disebut dengan batu tegak. 

Menhir berasal dari kata Breton yaitu ‘men’ yang berarti batu dan ‘hir’ yang berarti berdiri dan secara keseluruhan berarti batu berdiri (Soejono, 1981c).

Jadi, menhir berarti batu tegak, yaitu sebuah batu panjang yang didirikan tegak, berfungsi sebagai batu peringatan dalam hubungan dengan pemujaan arwah leluhur. 

Dalam pengertian vademekum, menhir adalah batu tegak berlatar tradisi megalitik yang merupakan objek pemujaan. Umumnya ditancapkan dalam posisi tegak, namun demikian ada pula yang terlentang (Junus Satrio Atmojo, 1999: 25).

Situs-situs yang terdapat dari Kabupaten Lima Puluh Kota, contohnya situs menhir di Mahat, situs Menhir Guguak, situs Menhir Sungai Talang, situs Menhir Belubus, situs Menhir Talago, situs Menhir Kubang. 

Menhir dalam budaya megalitik disimpulkan memiliki fungsi utama berkaitan pemujaan arwah leluhur, beberapa diantaranya dengan bentuk yang sudah diolah lebih lanjut berkaitan dengan kegiatan kubur atau penguburan (Sukendar, 2013). 

Dari banyaknya situ-situs menhir di Sumatera Barat tersebut, salah satunya adalah Situs Menhir Belubus yang berada di Nagari Sungai Talang, Kabupaten Lima Puluh Kota. 

Nagari Sungai Talang merupakan satu dari lima nagari yang ada di Kecamatan guguak yang memiliki luas wilayah 13 km² yang merupakan nagari dengan luas wilayah nomor empat terbesar setelah Nagari Guguak VIII Koto, Nagari VII Koto Talago dan Nagari Kubang. Nagari Sungai Talang terdiri dari lima jorong. 

Jorong Belubus merupakan jorong yang paling luas di wilayah Nagari Sungai Talang.

Dari yang kita ketahui bahwa menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditata seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah.

Pada situs ini terdapat kurang lebih 16 menhir yang masih berdiri dengan berbagai bentuk dan ukuran. Menhir daerah ini mempunyai bentuk khas yang menjadi menhir-menhir di Sumatera Barat pada umumnya.

Peninggalan megalitik ini merupakan data historis dan arkeologis untuk mengungkapkan kehidupan nenek moyang karena memiliki corak dan gaya tersendiri, terutama lengkungnya yang berbentuk tanduk kerbau. 

Namun, bukan tidak pernah terjadi pemugaran di situs ini, pemugaran dilakukan oleh proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala Sumatera Barat pada tahun anggaran 1983/1984 dengan kegiatan pembersihan dan penertiban situs, pengokohan menhir, pembuatan jalan setapak serta pertamanan (Suparyanti, 2016).

Menhir atau batu tegak secara umum mempunyai tiga fungsi, yaitu batu tegak yang berfungsi dalam upacara penguburan, batu tega yang berfungsi dalam upacara pemujaan dan batu tegak yang tidak mempunyai fungsi religius (Sukendar, 1983: 100, Bidi Wiyana, 2008: 311). 

Menhir Belubus ini memiliki fungsi yang tidak hanya untuk pemujaan arwah nenek moyang, atau untuk upacara penguburan dan tanda kubur (makam) prasejarah, tetapi juga pada masa sekarang dimanfaatkan sebagai lokasi wisata budaya dan objek penelitian sejarah bagi pelajar, mahasiswa dan Lembaga riset sejarah dan arkeologi.

Menhir Belubus mengarah ke arah Gunung Sago itu dikarenakan ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat. 

Seperti yang telah diketahui nenek moyang dahulu sebelum mengenal agama baik itu islam, hindu, budha menganut yang namanya kepercayaan animisme dan dinamisme. 

Nenek moyang dahulu percaya bahwa arwah mereka setelah meninggal akan berada dan menetap di dalam menhir (Suprayanti, 2016). 

Adanya kecenderungan keletakan menhir di atas bukit merefleksikan adanya penghargaan tertentu dari masyarakat untuk menghormati tempat-tempat yang tinggi, dan arah hadap menhir yang cenderung ke Gunung Sago merefleksikan gunung tersebut merupakan tempat yang dianggap suci.

*Ditulis Oleh: Sintia Hermayulita, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas.