Advertorial

Daerah

LPSK Ungkap Istri Irjen Ferdy Sambo Minta Bantuan Medis: Kalau Secara Penampakan, Terlihat Adanya Depresi
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC) meminta bantuan medis terkait kondisinya saat ini.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu.

Sebelumnya LPSK melakukan asesmen psikologi di rumah pribadi PC.

Menurut Edwin, berdasarkan laporan sementara tim asesmen psikologis LPSK, kondisi PC masih terguncang dan tampak terlihat dalam kondisi psikis yang tidak stabil.

Edwin juga menjelaskan PC telah mengajukan rehabilitasi medis karena tahap traumanya sudah sangat membutuhkan penangangan psikologis.

"Kalau psikiater kan itu dokter ya karena ada permohonan bantuan rehabilitasi medis yang disampaikan oleh ibu PC, selain rehabilitasi psikologis," ujar Edwin saat ditemui wartawan di Gedung LPSK, Rabu (10/8/2022).

Untuk itu, Edwin menjelaskan PC terlihat membutuhkan bantuan psikiater guna menyembuhkan trauma yang dialaminya.

"Ibu PC tampak terlihat masih terguncang, masih ada situasi psikis yang belum stabil, kadang masih menangis, masih sulit untuk berbicara. Nampaknya Ibu PC membutuhkan layanan psikiater, jadi sudah bukan psikolog lagi," lanjut Edwin kepada wartawan

Edwin menjelaskan tim LPSK yang datang menemui kediaman pribadi PC terdiri dari dua orang yakni psikolog dan psikiater rujukan lembaganya.

Oleh karena itu, ia menegaskan proses assesment hanya melibatkan antara tim psikolog dan psikiater LPSK dengan PC semata.

"Kemarin proses assesment psikologis terhadap Ibu PC mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Ada psikolog dan psikiater jadi ada dua orang. Jadi kami menghadirkan psikiater dan psikolog, jadi prosesnya antara psikiater psikolog dan ibu PC saja," terang Edwin.

Edwin pun menjelaskan kondisi trauma PC belum dapat dipastikan penyebabnya. 

Hal ini dikarenakan lembaganya masih menunggu hasil asesmen yang telah dikerjakan oleh tim psikolog dan psikiater rujukan LPSK.

"Kalau secara penampakan, terlihat adanya depresi. Tapi depresinya kenapa itu buat kami juga masih belum tahu Karena sejauh ini belum ada penjelasan yang terang," kata Edwin.

Sebelumnya, Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik mengatakan pihaknya bakal memeriksa istri mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC), pekan ini.

Sumber: iNews.id

Motif Pembunuhan Brigadir J Oleh Ferdy Sambo, Ini Kata Kamaruddin
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Kuasa hukum keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menuturkan dari sejumlah ancaman yang diterima Brigadir J oleh skuat lama, sebelum Brigadir J meninggal, bisa diprediksi apa motif Ferdy Sambo membunuh Brigadir J.

Ancaman itu diterima Brigadir J, sekira sejak sebulan sebelum Brigadir J dihabisi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

"Dalam ancaman pertama  itu, disebut oleh Squat lama, bahwa Almarhun Brigadir J dianggap menyebabkan Ibu PC (istri Ferdy Sambo) sakit. Tapi nggak tahu sakit apa," kata Kamaruddin kepada Wartakotalive.com, Rabu (10/8/2022).

"Lalu, dalam ancaman kedua disebut, apabila naik ke atas akan dibunuh," kata Kamaruddin.

Ia berharap penyidik bisa mengkonstruksi semua fakta yang disodorkannya sehingga bisa diketahui motif sesungguhnya Irjen Ferdy Sambo membunuh Brigadir J.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkapkan kasus pembunuhan dengan penembakan yang menewaskan Brigadir J diduga bermotif sensitif, karena hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa.

"Soal motif biar nanti dikonstruksi hukumnya, karena itu sensitif mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," kata Mahfud MD dalam konferensi persnya, yang ditayangkan akun YouTube Selasa 9 Agustus 2022.

Oleh sebabnya Mahfud meminta masyarakat tetap menunggu motif sebenarnya melalui keterangan Polri.

Selain itu kata Mahfud, sudah banyak beredar terkait motif kasus ini di tengah masyarakat.

Biar nanti dikonstruksi oleh polisi apa sih motifnya, kan sudah banyak di tengah masyarakat," jelas Mahfud MD dalam konferensi persnya, Selasa 9 Agustus 2022.

Meski begitu Mahfud MD mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo yang telah berhasil mengusut tuntas kasus pembunuhan Brigadir J.

Menurut Mahfud, tinggal beberapa saksi lainnya yang terlibat dalam kasus tersebut harus dibersihkan oleh Kapolri.

"Ini masih ada 28 yang akan diperiksa lagi dengan terlebih dulu diperiksa melalui Irsus," jelasnya.

Selain itu menurutnya, sisa pelaku yang ada secepat-cepatnya harus dibersihkan oleh Polri untuk mengembalikan marwah Polri seperti semula.

"Tinggal membersihkan darah-darahnya yang berceceran masih kotor di seluruh tubuh," katanya.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menetapkan eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.

"Kemarin kita tetapkan 3 tersangka saudara RE, RR dan KM. Kini Timsus juga menetapkan saudara FS sebagai tersangka," kata Listyo.

"Bahwa dalam penyidikan tidak ditemukan fakta peristiwa tembak menembak seperti yang dilaporkan awal," kata Listyo.

Timsus, kata Listyo menemukan fakta bahwa peristiwa yang terjadi adalah penembakan terhadap Brigadir J oleh Bharada E, atas perintah Irjen Ferdy Sambo.

Selanjutnya, kata Listyo, Irjen Ferdy Sambo menskenariokan seolah-olah terjadi tembak menembak di lokasi kejadian yakni rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

Ini berarti sudah ada 4 tersangka dalam kasus ini. Keempatnya dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, junto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP tentang melakukan tindak pidana bersama-sama.

Lalu apakah salah Brigadir J hingga harus dibunuh oleh Irjen Ferdy Sambo, atau apakah motif Irjen Ferdy Sambo menyuruh Bharada E menembak Brigadir J hingga tewas?

Mengenai hal itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan motif pembunuhan masih didalami Timsus dengan melakukan pendalaman dan memeriksa saksi-saksi.

"Tadi sudah saya jelaskan, bahwa terkait dengan motif, saat ini sedang dilakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan juga terhadap Ibu Putri. Karenanya saat ini belum bisa kita simpulkan," kata Listyo.

"Namun yang pasti ini yang menjadi pemicu utama terjadinya peristiwa pembunuhan, kesimpulannya tim saat ini terus bekerja. Ada beberapa yang saat ini sedang diperiksa dan tentunya nanti akan kita informasikan. Namun yang paling penting, peristiwa utamanya adalah penembakan," kata Listyo.

Kasus ini yang tadinya dilaporkan sebagai peristiwa tembak-menembak menjadi peristiwa pembunuhan setelah Bharada E mengubah kesaksiannya dan mengajukan diri sebagai justice collaborator ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Dalam kasus ini, Polri juga memeriksa 25 anggota Polri karena melanggar prosedur penanganan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang kini jumlahnya bertambah menjadi 31 orang.

Empat di antaranya di amankan di tempat khusus di Mako Brimob untuk pemeriksaan intensif.

Salah satunya Irjen Pol Ferdy Sambo, mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri.

Peristiwa tewasnya Brigadir J terjadi pada hari Jumat (8/7/2022) di rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo.

Keluarga mengaku ada kejanggalan di jenazah Brigadir J. Karenanya melalui kuasa hukumnya Kamaruddin Simanjuntak, mereka melaporkan dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

Pengumuman perkembangan kasus ini oleh Kapolri ini dihadiri oleh Wakapolri, Irwasum, Kabareskrim Polri, Kabag Intelkam, Dankor Brimob dan Kadiv Humas Polri.

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan peran masing-masing tersangka adalah Bharada Richard Eliezer telah melakukan penembakan terhadap korban Brigadir J.

Tersangka KM, membantu dan menyaksikan penembakan terhadap korban.

Brigadir Ricky juga turut membantu dan menyaksikan penembakan terhadap korban 

"Irjen FS menyuruh melakukan dan menskenariokan peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak menembak di rumah di Komplek Polri Duren Tiga," kata Agus.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Agus, kepada tersangka penyidik menerapkan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang pembuniuhan junto pasal 55 dan 56 KUHP tentang turut serta melakukan tindak pidana.

"Dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun. Mudah-mudahan ini bisa memberikan jawaban kepada masyarakat atas keseriusan institusi Polri untuk menjaga marwahnya," kata Agus.

Sumber: wartakota

Penasihat Kapolri Mundur usai Terseret Kasus Pembunuhan Brigadir J
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Penasihat Ahli Kapolri Bidang Komunikasi Publik, Fahmi Alamsyah, mengajukan pengunduran diri dari posisinya setelah diberitakan terkait kasus pembunuhan Brigadir J alias Brigadir Yoshua Hutabarat di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

Fahmi mengaku surat pengunduran dirinya dikirim kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada Selasa (9/8) sore.

"Ya saya secara gentle mengundurkan diri. Suratnya sudah disampaikan hari ini ke Kapolri, sore ini," kata Fahmi saat dikonfirmasi, Selasa (9/8).

Fahmi mengaku ia menyadari kasus pembunuhan Brigadir J sangat sensitif dan menyita perhatian publik. 

Fahmi menyayangkan namanya terseret dalam pemberitaan media yang dinilai memposisikan dirinya menyusun skenario rekayasa baku tembak.

Fahmi mengaku para penasihat ahli Kapolri lainnya sempat berdiskusi soal namanya yang terseret kasus ini dan memberikan rekomendasi. 

Fahmi mengaku tak ingin membebani Kapolri dan para penasihat ahli setelah dirinya diisukan terlibat skenario merekayasa kronologi penembakan Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

"Saya di penasihat ahli dirapatkan. Saya mundur karena tak ingin membebani," imbuh Fahmi.

Fahmi menegaskan dirinya tak berada di rumah Ferdy Sambo saat dan pascakejadian penembakan. 

Dia mengaku memang ditelepon Ferdy Sambo untuk dimintai bantuan menyusun draf press release ke media.

"Pertama, saya tidak hadir di TKP saat hari Jumat, 8 Juli 2022 (pembunuhan Brigadir Yosua). Kedua, yang dimintakan bantuan (oleh FS) bukan (menyusun skenario) kronologis, tapi draf rilis media," ucap Fahmi.

Fahmi menceritakan Sambo mengetahui kematian Brigadir J terendus media lokal Jambi pada Minggu (10/7). 

Hari itu, dia pun sudah menyarankan kepada Ferdy Sambo untuk menggelar konferensi sesegera mungkin dan selambat-lambatnya pada Senin (11/7) sore.

"Hari Minggu, tanggal 10 Juli. sekitar jam setengah tiga, FS telepon saya. Kenapa telepon saya? Karena dia mendengar informasi ada media yang sudah bertanya ke Kabid Propam Jambi. Pada saat telepon, saya menyarankan ceritakan apa yang terjadi pada Kapolda Jambi di Duren Tiga supaya tidak menambah kebingungan. Kemudian saya sarankan juga selambat-lambatnya Mabes Polri merilis peristiwa Duren Tiga pukul 16.00 Senin," ungkap Fahmi Alamsyah.

Seperti diketahui, Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir Yoshua. 

Saat ini mantan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim itu ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menetapkan Ferdy Sambo lah yang memerintahkan penembakan terhadap Brigadir Yoshua. Sambo juga dinyatakan merekayasa kronologi seakan terjadi saling tembak dengan Brigadir Yoshua.

Akibat tindakannya ini, Ferdy Sambo terancam hukuman mati. Selain Sambo, sudah ada dua tersangka lainnya terkait penembakan Brigadir J.

Sementara itu, 28 personel Polri lainnya yang melanggar kode etik dalam menangani kasus Brigadir Yoshua ini juga dapat dipidana, menurut Menkopolhukam Mahfud MD.

Sumber: CNN Indonesia 

Dahlan Iskan Ungkap Maksud Ucapan Putri Candrawati ‘Saya Tulus Mencintai Suami Saya’
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membeberkan maksud ucapan Putri Candrawati saat memberikan keterangan singkat kepada media di Mako Brimob, Kelapa Dua Depok, Jawa Barat pada Minggu (7/8).

Kemunculan Putri Candrawati untuk pertama kalinya setelah 29 hari kematian Brigadir Josua Hutabarat di rumahnya, menyita perhatian publik.

Putri Candrawati mengaku mencintai suaminya dengan tulus. Ia juga memaafkan almarhum Brigadir Josua yang diduga melecehkannya.

Dahlan Iskan lantas menganalisa maksud ucapan perempuan yang biasa dipanggil Putri Sambo itu.

Menurut Dahlan, ucapan Putri adalah sisi manusiawi dari masalah yang dialami keluarga Ferdy Sambo.

Sayangnya, sisi manusiawi itu terlambat dimunculkan, sehingga kasus penembakan Brigadir Josua juga terlambat reda.

“Peristiwa ini lambat reda karena terlambatnya dimunculkan sisi manusiawinya,” ucap Dahlan dalam tulisannya berjudul ‘Simpati Ny Sambo‘ yang dikutip Pojoksatu.id dari Disway.id, Selasa (9/8).

“Selingan yang terasa manusiawi itu baru terjadi di hari ke-28 atau 29. Yakni ketika Ny Sambo datang ke Depok. Ke Markas Komando Brimob tempat suaminyi ditahan,” sambung Dahlan.

Menurut Dahlan, Ny Sambo adalah seorang dokter gigi, cantik, awet muda. Ia datang ke Mako Brimob dengan baju kuning dalaman hitam untuk membesuk suaminya Irjen Ferdy Sambo pada hari kedua penahanan.

Tidak diizinkan bertemu. Tapi Ny Sambo sempat memberikan sedikit keterangan kepada media: “Saya mempercayai dan tulus mencintai suami saya.”

Selebihnya Ny Sambo hanya diam. Sedikit menangis. Sangat wanita. Biar pun tinggi posisinya dan banyak hartanya.

“Sisi manusiawi ini tidak mampu meredakan gejolak. Ny Sambo tidak seperti istri Roy Martin dulu –saya lupa namanyi,” kata Dahlan.

“Yang di saat sang suami tertimpa bencana besar narkoba, sang istri mengucapkan kata-kata mengagumkan: “Semua ini jalan Tuhan. Pasti ada maksud baik Tuhan di baliknya,” tambahnya.

Saat itu, sang istri langsung menarik simpati publik. Masyarakat memuji dan menyayangi sang istri. Sikapnya sangat wanita dan berserah diri.

Sampai-sampai sang istri justru dijadikan bintang iklan Sido Muncul. Gila. Berani. Menjadikan istri seorang yang baru tertangkap kasus narkoba sebagai bintang iklan. Ini iklan melawan arus. Tapi harus dicatat dalam sejarah marketing: pernah ada iklan melawan teori seperti itu. Dan sukses.

Memang masih ada kata-kata sang istri yang akan dikenang abadi di iklan itu: “Di saat-saat yang sulit seperti ini saya harus hanya mendengarkan hati nurani saya sendiri”.

Menurut Dahlan, kata-kata itu sangat bagus. Simpatik. Bermakna dalam.

Dijelaskan Dahlan, kemungkinan Putri Candrawati tidak mendengarkan hati nuraninya, sehingga terlambat muncul ke publik.

“Mungkin Ny Sambo kurang mendengarkan hati nuraninyi sendiri. Atau sudah. Kelak, setelah 40 hari, kita akan tahu. Apakah pengaduan Ny Sambo soal pelecehan seksual oleh Brigade J itu muncul dari hati nuraninyi sendiri,” kata imbuh Dahlan.

Mantan Dirut PLN mengatakan ucapan Putri Candrawati sudah bagus. Namun pernyataan itu belum bisa menggerakkan hati publik.

Bahkan, Dahlan Iskan sendiri merasa belum tergerak hatinya saat mendengarkan ucapan istimewa Putri Chandrawati.

“Yang jelas ucapan Ny Sambo bahwa dia mencintai suami yang sedang di jurang kehancuran itu sudah termasuk kata-kata yang istimewa. Bahwa itu belum mampu menggerakkan simpati publik, setidaknya simpati saya,” tandas Dahlan Iskan. 

Sumber: Pojoksatu

Mahfud MD Sebut Bharada E Bisa Bebas dari Hukuman
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Menko Polhukam Mahfud MD menilai, Bharada E bisa saja bebas dari hukuman jika benar-benar hanya mengikuti perintah dari Irjen Ferdy Sambo. 

Namun, otak pelaku pembunuhan terhadap Brigadir J tak bisa lepas dari hukuman.

"Mungkin saja kalau dia (Bharada E) menerima perintah, itu dia bisa saja bebas," katanya saat jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (9/8).

"Tetapi pelaku dan instrukturnya rasanya dalam kasus ini rasanya tidak bisa bebas," sambungnya.

Mahfud meminta agar Polri memfasilitasi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk memberi perlindungan kepada Bharada E. Tujuannya, agar Bharada E selamat dari penganiayaan atau diracun.

Hasil penyelidikan timsus terkait kematian Brigadir J menyatakan bahwa tak ada tembak menembak di rumah Irjen Ferdy Sambo. Penembakan terhadap Brigadir J oleh Bharada E atas perintah Ferdy Sambo.

"Saya juga sampaikan agar Polri memfasilitasi kepada LPSK untuk memberi perlindungan kepada Bharada (E) agar dia selamat dari penganiayaan, dari racun atau dari apapun," kata Mahfud.

Mahfud menyebut, keterangan Bharada E yang terbuka dibutuhkan sampai pengadilan. Maka, pendampingan terhadap Bharada E perlu dilakukan.

"Sehingga pendampingan LPSK itu supaya di atur sedemikian rupa agar nanti Bharada E sampai ke pengadilan dan bisa memberi kesaksian apa adanya," ucap Mahfud.

Sumber: Merdeka.com

Mahfud: Motif Sambo Bunuh Brigadir J Mungkin Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menduga, motif mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdy Sambo menembak Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, relatif sensitif.

"Soal motif kita tunggu hasilnya biar nanti di konstruksi hukumnya, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," ungkap Mahfud, di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (9/8).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menyerahkan sepenuhnya kepada tim khusus Polri untuk mengusut kasus dugaan pembunuhan terhadap Brigadir J.

Mahfud mengapresiasi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah mengungkap secara terang pelaku pembunuhan terhadap Brigadir J.

"Pemerintah mengapresiasi Kepolisian Republik Indonesia, Polri khususnya Kapolri Bapak Listyo Sigit Prabowo yang telah serius mengusut dan membuka kasus ini secara terang," tandas Mahfud.

Polri sendiri belum membuka secara gamblang terkait motif dugaan penembakan terhadap Brigadir J.

Sejauh ini, Polri baru membuka tabir bahwa tidak ada peristiwa tembak menembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang berlokasi di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Yang terjadi, Ferdy Sambo memerintahkan Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E menembak Brigadir J. Ferdy Sambo kemudian menembakkan pistol milik Brigadir J ke dinding agar memberi kesan ada peristiwa tembak menembak.

"Motif masih pendalaman," ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam konferensi pers, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Kendati demikian, Sigit memastikan proses pengusutan akan terus dilakukan. Sehingga akan mengungkap motif maupun hal lainnya secara komprehensif.

"Masih terus dilakukan ini tentunya membutuhkan keterangan ahli, tentunya ini menjadi bagian yang harus dituntaskan," tegas Sigit. 

Sumber: RM.ID

Polri Temukan DNA dan Sidik Jari Putri Candrawathi di TKP Tewasnya Brigadir J
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Penyidik Polri menemukan sidik jari dan DNA Putri Candrawathi di TKP tewasnya Brigadir J.

Hal itu diungkap oleh Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komjen Agus Andrianto dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Agus Andrianto mengatakan, tak hanya DNA dan sidik jari Putri Candrawathi, penyidik juga menemukan empat sidik jari dan DNA empat orang lainnya.

Adapun keempat sidik jari tersebut yaitu milik Irjen Pol Ferdy Sambo, dan beberapa bawahannya.

“Ada Ibu Putri, ada Pak Sambo, ada Kuat, ada Ricky dan Richard serta korban Yosua,” kata Agus dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Agus mengatakan, temuan tersebut merupakan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan di sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan pembunuhan Brigadir J.

Temuan sidik jari dan DNA ini kemudian menjadi pijakan awal bagi Tim Khusus (Timsus) yang dibentuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan penyidikan.

Agus mengaku pihaknya baru melakukan penyelidikan dan penyidikan setelah keluarga Brigadir J melaporkan dugaan pembunuhan berencana ke Mabes Polri pada 18 Juli.

“Karena apa? Karena laporan daripada keluarga korban Yosua ini baru dilaporkan pada Mabes Polri pada 18 Juli,” ujar Agus.

Menurut Agus, setelah menerima laporan tersebut, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan ke Jambi.

Setidaknya, kata Agus, Mabes Polri telah memeriksa 47 saksi yang diduga terkait dengan perkara ini.

Menurut Agus, pengusutan tewasnya Brigadir J terkendala tindakan sejumlah personel Polri yang tidak profesional.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan pihaknya telah menetapkan empat tersangka dalam perkara ini.

Mereka adalah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, sopir istri Sambo Bharada Richard Eliezer, ajudan istri Sambo Brigadir Ricky, dan KM yang saat ini belum diketahui identitasnya.

Eks Kabareskrim: Ferdy Sambo Jenderal Polisi Pertama yang Terancam Hukuman Mati
Rabu, Agustus 10, 2022

On Rabu, Agustus 10, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Mantan Kepala Bareskrim Polri (Kabareskrim) Susno Duadji mengapresiasi Polri menyangkakan pelaku pembunuhan Brigadir J dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Susno membenarkan bahwa ini merupakan kali pertama ancaman tersebut disangkakan kepada perwira tinggi Polri yang terjerat kasus pidana dan diumumkan langsung oleh Kapolri.

"Sampai saat ini seingat saya benar demikian, termasuk diumumkan oleh pejabat paling tinggi di Polri juga baru sekali ini," kata Susno dikutip siaran Kompas TV, Selasa (9/8/2022).

"Pasal yang dituduhkan tadi pasal yang sangat sangat berat," lanjutnya.

Susno berkeyakinan bahwa ke depannya alat bukti yang mendukung pengenaan pasal tersebut akan semakin kuat.

Sejauh ini, dalam konferensi pers Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang digelar pada Selasa malam, polisi belum mengumumkan detail alat bukti dalam penetapan mantan Kadivpropam Polri Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

"Nantinya alat buktinya akan bertambah kuat manakala visum sudah keluar, hasil forensik lain, termasuk digital forensik, dan hasil balistik forensik," kata Susno.

"Dan apalagi kalau nanti Bu Putri (Chandrawathi, istri Sambo) sebagai saksi bisa memberi kesaksian lebih, bisa lebih kuat lagi," ia menambahkan.

Susno beranggapan bahwa munculnya tersangka-tersangka lain di kemudian hari juga masih memungkinkan karena penyidikan masih berjalan.

"Dan yang diproses di kode etik sangat terbuka peluang dia kena pidana, pidana pembunuhan atau menghambat jalannya penyidikan," katanya.

Empat tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, termasuk Irjen Pol Ferdy Sambo dijerat pasal pembunuhan berencana.

Keempatnya dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 jo 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

"Penyidik menerapkan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, 56 KUHP, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau seumur hidup atau penjara selama-lamanya maksimal 20 tahun," ucap Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Agus Andrianto dalam konferensi pers, Selasa, (9/8/2022).

Agus menyebutkan, keempat tersangka yang ditetapkan Bareskrim Polri memiliki peran masing-masing dalam pembunuhan.

Bharada Richard Eliezer atau Bharada E memiliki peran menembak Brigadir J. Sementara itu, Bripka RR dan KM turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J.

Sedangkan Irjen Pol Ferdy Sambo adalah pihak yang memerintah Bharada E untuk menembak Brigadir J.

"Irjen Pol Ferdy Sambo menyuruh dan melakukan dan men-skenario seolah-olah terjadi tembak menembak (antara Bharada E dengan Brigadir J) di rumah dinas," tutur Agus.

Sumber: Kompas.com

Tetapkan Ferdy Sambo Tersangka, Kapolri Dikawal Seluruh Bintang 3, Imbas ‘Mabes dalam Mabes Polri’ ?
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM – Ferdy Sambo tersangka pembunuhan Brigadir Joshua diumumkan langsung Kapolri Jenderal Lisityo Sigit Prabowo pada Selasa (9/8/2022) malam.

Saat mengumumkan Ferdy Sambo tersangka, Listyo terlihat didampingi seluruh jenderal bintang tiga Polri.

Di antaranya Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono, Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto.

Kemudian, Danko Brimob Komjen Pol Anang Revandoko, Kabaintelkam Komjen Pol Ahmad Dofiri, dan Irwasum Komjen Pol Agung Budi.

Sigit mengatakan, bahwa penembakan Brigadir Joshua merupakan perintah dari Ferdy Sambo.

Hal tersebut sesuai dengan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Khusus (Timsus) Mabes Polri.

“Timusus menemukan bahwa peristiwa penembakan terhadap J dilakukan oleh RE atas perintah FS,” beber Listyo.

Sigit juga menegaskan tak ada baku tembak di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

“Tidak ditemukan aksi tembak menembak dalam kasus Brigadir J,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabareskrim Komjen Pol Agus Adrianto mengatakan, Ferdy Sambo terancam hukum mati.

Suami Putri Chandrawinata itu dijerat dengan pasal pembunuhan berencana atau Pasal 340 KUHP.

“Pasal 340 sub, pasal 338, pasal 55 pasal 56 KUHP ancaman maksimal hukuman mati penjara seumur hidup,” ujarnya.

Komjen Agus menyebutkan, dengan ditetapkannya Ferdy Sambo tersangka, maka ada tiga yang ditetapkan sebagai tersangka kematian Brigadir Joshua.

“Jadi total ada tiga tersangka ya, E, RR, FR,” ungkapnya.

Kabareskrim mengatakan, penembakan Brigadir Joshua oleh ajudanya Bharada Eliezer merupakan perintah dari Ferdy Sambo.

“Irjen FS menyuruh, melakukan dan menskenario peristiwa seolah-olah terjadi tembak-menembak di rumah Irjen Pol Ferdy Sambo di kompleks Polri,” tuturnya.

Sebelumnya, Menko Polhukam Mahfud MD menyebut ada geng pelaku dalam pembunuhan Brigadir Joshua dan menyebut istilah ‘Mabes dalam Mabes Polri’.

Dalam unggahan terbarunya di Twitter, Mahfud MD menyebut kasus pembunuhan Brigadir Joshua akan tuntas hari ini, Selasa (9/8/2022).

Mahfud mengaitkan dengan istilah ranjau geng pelaku.

“Begitu juga, dalam kasus pembunuhan Brigadir J ini sejak awal saya yakin bisa diungkap asal kita kawal dari ranjau geng pelaku,” kata Mahfud MD tanpa menjelaskan geng pelaku pembunuh Brigadir Joshua ini.

Sebab locus delicti-nya jelas di sebuah gedung, korban juga jelas, orang-orang yang ada di situ juga jelas.

“Bismillah dan Alhamdulillah tuntas. Ayo, kita kawal pengadilannya,” ajak Mahfud MD.

Sumber: Pojoksatu

Keluarga Brigadir J: Kami Puas Titik Terang Semakin Tampak
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Keluarga menyampaikan kepuasannya terhadap perkembangan kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang semakin menemukan titik terang.

"Ayahanda maupun kami keluarga besar dari Brigadir Yosua merasa puas dari hari ke hari karena ada kebijakan-kebijakan, semakin nampak titik terangnya," kata Bibi Brigadir J, Roslin Simanjuntak kepada CNN Indonesia TV, Selasa (9/8).

Roslin menuturkan pihaknya memberikan apresiasi kepada tim khusus (timsus) dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah mengusut kematian Brigadir J secara kompeten.

Selain itu, apresiasi juga ditujukan kepada Presiden Jokowi yang terhitung sudah empat kali meminta Kapolri untuk mengusut tuntas kematian Brigadir J.

"Kami sangat mengapresiasi kinerja dari Timsus, Kapolri, terus buat Bapak Presiden yang sudah empat kali mengumumkan agar menyelidiki kasus almarhum Brigadir Yosua dengan transparan dan terang benderang," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada Kapolri agar mengusut tuntas kasus pembunuhan Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

"Ya, sejak awal saya sampaikan usut tuntas, jangan ragu-ragu, jangan ada yang ditutup-tutupi," kata Jokowi dalam pernyataannya yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (9/8).

Sejauh ini, kepolisian baru menetapkan dua orang tersangka, yaitu Bharada Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E dan Brigadir Ricky Rizal atau Brigadir RR.

Bharada E telah ditetapkan terlebih dahulu sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP terkait persekongkolan dalam tindak pidana.

Kemudian, pada 7 Agustus, menyusul Brigadir RR ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56 KUHP.

Sebanyak 25 personel sudah diperiksa oleh Polri terkait ketidakprofesionalan dalam menangani kematian Brigadir J. Sebanyak 15 orang personel di antaranya telah dimutasi.

Sumber: CNNIndonesia

Anggota DPR Minta Benny Mamoto Mundur dari Kompolnas
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Anggota Komisi III DPR RI Desmond J Mahesa memberi catatan kritis terhadap kasus kematian Brigadir J. Desmond menyayangkan pernyataan Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen (Purn) Benny Mamoto yang justru tidak ikut berperan memperbaiki citra institusi Polri dalam kasus ini.

"Kompolnas yang diwakili oleh Benny Mamoto, itu sudah tidak layak lagi ia di situ. Saya melihat Benny Mamoto harus malu lah. Kalau menurut saya seorang mantan Jendral punya budaya malu, Benny Mamoto mundurlah dari Kompolnas," kata Desmond kepada wartawan, Selasa (9/8/2022).

Menurut Desmond, Benny Mamoto, sebagai pribadi mantan polisi seharusnya bisa membuat Polri lebih sehat. Tetapi, menurutnya, pernyataan Benny Mamoto sebagai ketua harian Kompolnas di kasus kematian Brigadir J malah membuat citra Polri semakin buruk, karena terkesan ada yang disembunyikan.

"Karena itu, saya mengingatkan Benny Mamoto seharusnya tahu malu dan segera mundur dari Kompolnas," tegas Desmond.

Ia mengungkapkan, Komisi III DPR setelah masa reses nanti akan segera memanggil mitra kerjanya, seperti Kapolri, Komnas HAM, LPSK termasuk Kompolnas. Pemanggilan ini untuk melihat perkembangan kasus ini, bagaimana yang sebenarnya.

"Dan kami tetap mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan timsus atas arahan Kapolri, agar penyelesaian kasus ini lebih transparan dan Polri tetap memiliki martabat di mata masyarakat," jelasnya.

Desmond juga mengingatkan agar LPSK dan Komnas HAM tidak perlu mengikuti cara Kompolnas. Kedua lembaga ini ia ingatkan agar tak ikut berpolitik atau bahkan menutup-nutupi fakta yang sebenarnya. 

Karena itu, ia memastikan Komnas HAM dan LPSK akan menjadi bagian yang akan dipanggil terkait kasus Brigadir J ini.

Desmond menegaskan Komisi III tidak menginginkan ada sekelompok anggota kepolisian atau sebagian oknum perwira polisi yang bisa 'bermain' dalam rekayasa kasus seperti ini. 

Karena itu, ia mengingatkan ada banyak kasus serupa yang juga perlu dilihat lebih dalam, seperti kasus pembunuhan anggota FPI di KM 50 yang faktanya masih mengecewakan.

"Karena itu ke depan harus semakin baik. Kita berharap institusi kepolisian tidak dirugikan oleh oknum-oknum polisi yang hari ini lebih mencintai geng atau kelompok korpsnya daripada mencintai institusinya," tegas Desmond.

Seusai pengakuan terbaru Bharada E terkait tidak adanya tembak menembak di kediaman Irjen Ferdy Sambo, telah menguak adanya skenario rekayasa dalam kasus ini. 

Sayangnya, hal itu luput dari pantauan Kompolnas, di mana Benny Mamoto selaku Ketua Harian Kompolnas pada 13 Juli lalu mengatakan tidak ada kejanggalan di kasus tembak menembak antara Brigadir J dengan Bharada E.

Benny menyebut bahwa kejadian polisi tembak polisi adalah kejadian yang diawali dengan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J.

Benny mengaku telah mendatangi langsung tempat kejadian perkara (TKP) dan menyatakan tidak ada kejanggalan sama sekali dalam kasus tewasnya Brigadir J.

"Saya turun langsung, melihat langsung bukti-bukti yang ada termasuk foto-foto yang ada," kata Benny.

Ferdy Sambo Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana, Terancam Hukuman Mati
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Jakarta - 
Irjen Ferdy Sambo menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto menerapkan pasal pembunuhan berencana terhadap Sambo atas perannya dalam membuat skenario pembunuhan.

"Berdasarkan pemeriksaan terhadap tersangka, menurut peran masing-masing, penyidik menerapkan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto 55, 56 KUHP. Dengan ancaman maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama-lamanya 20 tahun," ujar Komjen Agus dalam konferensi pers, Selasa (9/9/2022).

Adapun Pasal 340 KUHP tertuang dalam BAB XIX tentang Kejahatan terhadap Nyawa atau Pembunuhan Berencana. 

Dikutip dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang dilansir dari situs resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Mahkamah Agung-RI, bunyi Pasal 340 KUHP adalah sebagai berikut.

Isi Pasal 340 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Sementara itu, Pasal 338 KUHP termuat dalam Bab XIX KUHP tentang Kejahatan terhadap Nyawa. 

Dikutip dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang dilansir dari situs resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Mahkamah Agung-RI, isi Pasal 338 KUHP adalah berbunyi sebagai berikut:

Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Sementara itu, Pasal 55 dan 56 KUHP termuat pada Bab V tentang Penyertaan dalam Pidana. Adapun isi Pasal 55 dan 56 KUHP adalah sebagai berikut.

Isi Pasal 55 KUHP Ayat 1:

Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan; mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Isi Pasal 55 KUHP Ayat 2:

Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.

Isi Pasal 56 KUHP:

Dipidana sebagai pembantu kejahatan:
mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan; mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.

Sumber: detikcom

Alasan Kapolri Tetapkan Irjen Ferdy Sambo Tersangka Kasus Brigadir J
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka kasus penembakan Brigadir J.

Penetapan tersangka diumumkan langsung oleh Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Kapolri ditemukan perkembangan baru bahwa tidak ditemukan fakta peristiwa tembak menembak seperti yang dilaporkan. 

"Tim khusus Polri menemukan peristiwa penembakan terhadap saudara J (Brigadir J) hingga meninggal dunia yang dilakukan saudara RE (Bharada E) atas perintah FS (Ferdy Sambo)," tegas Listyo saat konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (9/8).

Kemudian, lanjut Listyo, untuk membuat seolah-olah telah terjadi tembak menembak, FS melakukan penembakan dengan senjata milik Brigadir J ke dinding berkali-kali untuk membuat kesan seolah terjadi tembak menembak.

"Terkait apakah saudara FS menyuruh atau terlibat langsung dalam penembakan, saat ini tim masih melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan pihak-pihak terkait," kata Listyo.

Kemarin, Listyo menegaskan Polri telah menetapkan tiga orang tersangka, yakni Saudara RE, RR dan saudara KM.

Tadi pagi, dilaksanakan gelar perkara dan Timsus Polri telah memutuskan FS sebagai tersangka.

"Timsus telah menetapkan saudara FS sebagai tersangka," tegas Listyo.
Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan dua orang anak buah Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap Brigadir J.

Bharada E dijerat dengan Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP. Selain itu, Brigadir Ricky Rizal dijerat dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara itu, Inspektorat Khusus (Irsus) telah memeriksa 25 personel Polri terkait dugaan ketidakprofesionalan dalam menangani kasus kematian Brigadir J yang terjadi di rumah dinas Sambo. Kini bertambah jadi 31 personel.

Sebanyak 31 personel ini terdiri dari jenderal bintang dua, bintang satu, Kombes, AKBP, Kompol, bintara hingga  tamtama sebanyak lima personel.

Selain itu, Mabes Polri memutuskan menempatkan Irjen Ferdy Sambo ke tempat khusus yakni ke Mako Brimob untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kasus penembakan di rumah dinasnya yang menewaskan Brigadir J
Polri menduga Ferdy Sambo melakukan pelanggaran prosedur dalam kasus tersebut. 

Selain itu, Mabes Polri memutuskan menempatkan Irjen Ferdy Sambo ke tempat khusus yakni ke Mako Brimob untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kasus penembakan di rumah dinasnya yang menewaskan Brigadir J
Polri menduga Ferdy Sambo melakukan pelanggaran prosedur dalam kasus tersebut. 

Sumber: CNNIndonesia

Kapolri Umumkan Ferdy Sambo Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J!
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan penanganan terbaru kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka.

"Timsus menetapkan Saudara FS sebagai tersangka," kata Jenderal Sigit di kantornya, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa (9/8/2022).

Kapolri belum menjelaskan pasal yang disangkakan kepada Ferdy Sambo.

Sebelumnya, Polri telah menetapkan tiga orang tersangka, yakni Bharada Richard Eliezer (E), Brigadir Ricky Rizal, dan K.

Bharada E disangkakan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56.

Sementara itu, Brigadir Ricky disangkakan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan 56, yakni pembunuhan berencana. Belum diketahui lebih lanjut pasal yang disangkakan terhadap K.

Penetapan tersangka dilakukan usai Tim Khusus memeriksa saksi-saksi dan barang bukti seperti alat komunikasi hingga rekaman CCTV.

Sebagai informasi, Brigadir J tewas setelah mengalami tujuh luka tembakan. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (8/7) di rumah dinas Kadiv Propam Polri di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jaksel.

Awal mula kasus mencuat, Brigadir J disebut terlibat baku tembak dengan Bharada Richard Eliezer. 

Saat itu disebutkan baku tembak keduanya diawali Brigadir J yang diduga melecehkan istri eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.

Sebulan kasus berlalu, muncul narasi lain dari informasi awal yang diungkap.

Narasi baru ini muncul dari Polri, Komnas HAM, maupun pihak Bharada E. 

Kini narasi baku tembak tak berlaku lagi setelah Bharada E dijerat pasal pembunuhan.

25 Polisi Diproses Etik

Polri menangani kasus tewasnya Brigadir J lewat dua jalur, yakni proses pidana dan penindakan pelanggaran etik. 

Proses pidana ditangani tim khusus dan penindakan pelanggaran etik ditangani Inspektorat Khusus (Itsus).

Selain itu, ada 25 polisi yang diproses etik oleh Itsus karena diduga melakukan pelanggaran etik dalam kasus tewasnya Brigadir J. 

Sebanyak 15 orang dari mereka telah dimutasi, termasuk Irjen Ferdy Sambo.

Ke-25 polisi ini terdiri atas 3 perwira tinggi (pati) bintang satu, 5 orang pangkat kombes, 3 orang pangkat AKBP, 2 orang pangkat kompol, 7 orang pangkat perwira pertama (pama), serta 5 orang bintara dan tamtama.

Polri juga melakukan uji balistik dalam kasus ini. Polri juga membawa sejumlah orang ke tempat khusus selama pendalaman kasus. 

Salah satunya Irjen Ferdy Sambo, yang dibawa ke Mako Brimob.

Sumber: detikcom

Pasukan Brimob Geledah Rumah Pribadi Ferdy Sambo
Selasa, Agustus 09, 2022

On Selasa, Agustus 09, 2022

BENTENGSUMBAR.COM - Sejumlah pasukan Brimob datang ke rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo, di Jalan Saguling III, Kompleks Pertambangan, Duren Tiga Barat, Pancoran, Jakarta Selatan untuk melakukan penggeledahan, Selasa (9/8).

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, para personel Brimob itu tampak berpakaian lengkap dengan senjata laras panjang. Garis polisi juga turut dipasang di lokasi tersebut.

"Ya penggeledahan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan.

Namun, Dedi belum menjelaskan lebih lanjut ihwal penggeledahan di rumah Ferdy tersebut. 

Termasuk, apakah ada bukti yang dicari di lokasi tersebut terkait dengan kasus penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J.

Dedi hanya menyebut bahwa penggeledahan itu dilakukan oleh tim khusus (timsus).

"Kegiatan penggeledahan oleh timsus, nanti akan disampaikan," ucap Dedi.

Diketahui, kedatangan para personel Brimob itu terjadi jelang penetapan tersangka baru dalam kasus penembakan Brigadir J.

Pengumuman soal tersangka baru ini rencananya akan disampaikan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sejauh ini, polisi telah menetapkan dua anak buah Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap Brigadir J.

Bharada E dijerat dengan Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP. 

Selain itu, Brigadir Ricky Rizal dijerat dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan sudah ada tiga tersangka dalam kasus ini. 

Selain dua yang telah disebutkan, satu tersangka lainnya adalah sopir Putri Candrawathi berinisial K.

Di sisi lain, Inspektorat Khusus (Irsus) juga telah memeriksa 25 personel Polri terkait dugaan ketidakprofesionalan dalam menangani kasus kematian Brigadir J yang terjadi di rumah dinas Sambo.

Dua puluh lima personel ini antara lain tiga jenderal bintang satu, lima Kombes, tiga AKBP, dua Kompol, tujuh perwira pertama, serta bintara dan tamtama sebanyak lima personel.