Headline

Opini

SOROT

Sports

RAGAM

Kibarkan Bendera Putih, Pedagang Es Buah: Mending Mati karena Penyakit daripada Kelaparan
Jumat, Juli 23, 2021

On Jumat, Juli 23, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Sejumlah pembatasan kegiatan ekonomi di masa PPKM Darurat hingga PPKM Level 4 membuat seorang pedagang es buah di Sukabumi mengibarkan bendera putih pertanda menyerah pada keadaan.

Aksi pengibaran bendera putih yang sempat viral ini terjadi di alun-alun Kaum Cicurug, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.

Pedagang es buah tersebut memasang bendera putih di gerobak dagangannya sebagai pesan bahwa ia sudah menyerah dengan kondisi pembatasan ketat PPKM darurat yang diperpanjang hingga 25 Juli 2021 mendatang.

Pedagang es buah yang mengibarkan bendera putih pada Kamis, 22 Juli 2021, itu bernama Endang Jayadi (58 tahun). Ia merupakan warga Kampung Nyalindung RT 01/05 Kelurahan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

“Saya menderita dengan adanya ppkm ini. Saya lelah dan cape, Sakit banget rasanya udah dari sejak jaman psbb malah, saya ngerasa pemerintah tidak adil terhadap rakyat kecil, terus muncul inisiatif bikin bendera putih (pagi tadi) sebagai bentuk menyerah terhadap ppkm ini” ucap Endang kepada Sukabumiupdate.com-jejaring Suara.com di rumahnya.

Alasan lain yang memicu Endang untuk melakukan aksi tersebut adalah penurunan pendapatan yang cukup signifikan.

Walaupun ia tetap bisa berjualan dengan pembatasan harus dibungkus dan jam operasional, pembelinya tidak ada dan ini mewakili nasib pedagang lain di kaum Cicurug.

“Per hari kalo normal bisa Rp 1 Juta, kalo sekarang mau jual 2 atau 3 mangkok aja susahnya minta ampun. Biasa 5 sampai 10 kg buah sehari habis. Sekarang 5 kg baru bisa habis 3 hari, beli buah naga 2 kg baru habis seminggu kadang-kadang nggak habis. Banyak kawan saya sesama pedagang yang gulung tikar," ungkap Endang.

Ia tak ingin menentang pemerintah terlalu keras dan ingin melakukan aksi damai saja dengan mengibarkan bendera putih di depan gerobak dagangan.

Endang berharap pemerintah tahu dampak PPKM bagi para pedagang kecil.

“Jadi saya kalau terlalu menekan dan keras ke pemerintah saya takut, lebih baik mengalah saja, gimana hati nurani pemerintah saja dan semoga mereka amanah, jadi kalo PPKM diperpanjang lagi kita menderita, sekarang daripada mati kelaparan mending mati kena penyakit, mati kelaparan itu hina!, damai mengibarkan bendera putih dan pengen tau reaksi dari pemerintah seperti apa,” tegasnya.

Pedagang Es Buah yang sudah berdagang selama 26 tahun ini menginginkan solusi dari pemerintah.

Ia berharap perekonomian di negeri ini kembali stabil dan bisa berjualan dengan normal seperti sedia kala.

“Semoga Ekonomi segera distabilkan lagi, Covid ini juga cepat usai, dan semuanya berjalan normal kembali, dan bagaimana solusi pemerintah ke rakyat sekarang ini? kita pengen pengertiannya saja,” ungkapnya.

Endang yang mulai berdagang dari pukul 09.00 sampai 18.00 WIB ini mengaku akan terus melanjutkan aksi ‘Bendera Putih’ tersebut dan mungkin akan diperbanyaknya.

“Saya akan Lanjut terus, ya mungkin sampai ppkm berakhir dan ada niat mau saya perbanyak juga bendera putih ini,” pungkasnya.

Source: suara.com

Sedang Antre Oksigen, Pria Ini Menangis Dengar Kabar Ibundanya Sudah Meninggal
Jumat, Juli 23, 2021

On Jumat, Juli 23, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Sejak pagi, Shiri ikut mengantre untuk mengisi oksigen medis di sebuah perusahaan di Jalan Veteran, Kota Pontianak, Kalbar, Kamis, 22 Juli 2021.

Dia ikut antre bersama orang lainnnya untuk mendapatkan oksigen bagi  ibunda yang mengalami sesak nafas di rumah.

Namun menjelang siang sekitar pukul 11.00 WIB, telepon selulernya berdering.

Di ujung telepon seseorang mengabarkan kalau ibundanya meninggal dunia.

Seketika tangis Shiri pecah.

“Sudah terlambat, ibu saya sudah meninggal," kata Shiri yang menangis dan bergegas membawa pulang tabung tanpa berisi oksigen.

Shiri bersama puluhan warga sudah mengantre sejak pagi mengisi tabung oksigen untuk keluarga mereka yang sedang sakit dan membutuhkan oksigen untuk membantu pernafasan.

Shiri mengakui sejak pagi berusaha mencari oksigen untuk sang ibu yang sedang sakit dan mengalami sesak nafas di rumah.

Tak banyak yang mampu ia ucapkan, sesaat sebelum kembali ke rumah melihat jenazah sang bunda.

Shiri mengungkapkan, sang ibu sedang dirawat di rumah karena sulit bernafas dan membutuhkan oksigen.

"Saya dari pagi. Oksigennya telat ini. Ibu saya yang sakit di rumah sesak nafas. Perawatan di rumah, di rumah sakit tidak ada oksigen katanya," tuturnya sembari mengusap air mata.

Setelah itu, Shiri langsung bergegas pergi dari lokasi antrean untuk kembali ke rumah duka. 

Source: tribunnews

Sang Suami Sekarat karena Covid-19, Wanita Ini Justru Berkeras Perjuangkan Spermanya, Alasannya Mengejutkan!
Jumat, Juli 23, 2021

On Jumat, Juli 23, 2021

Sang Suami Sekarat karena Covid-19, Wanita Ini Justru Berkeras Perjuangkan Spermanya, Alasannya Mengejutkan!
BENTENGSUMBAR.COM - Seorang wanita dengan alasan mengejutkan berkeras memperjuangkan sperma sang suami yang tengah sekarat karena terjangkit Covid-19.


Wanita itu secara emosional mengajukan permohonan ke pengadilan tinggi Gujarat, India, pada Senin malam, 20 Juli 2021, memohon untuk mengambil sperma suaminya.


Alasan di baliknya membuat terkejut sekaligus terharu lantaran hal itu rupanya ia lakukan demi meneruskan garis keturunan bersama sang suami yang tengah sekarat akibat terpapar Covid-19.


Dilansir terkini.id dari Sindonews pada Kamis, 22 Juli 2021, wanita itu bersama dengan sang mertua pergi ke pengadilan dengan permohonan darurat.


Ia mengatakan bahwa rumah sakit telah memberi tahu bahwa suaminya yang berusia 29 tahun mungkin tidak bertahan hidup lebih dari sehari.


Oleh karena itu, ia lantas mendesak pengadilan untuk memutuskan agar materi biologis suaminya dijaga sehingga ia tetap bisa menjadi ibu bagi anaknya di kemudian hari dengan menggunakan teknologi reproduksi bantuan.


Orang tua pasien alias sang mertua ternyata juga memberi dukungan penuh terkait keinginan menantunya tersebut.


Setelah mendengar pembelaan, pengadilan tinggi Gujarat pada hari Selasa lalu mengarahkan rumah sakit Vadodara untuk mengawetkan sperma pasien Covid-19 yang sekarat, seperti yang diminta oleh istrinya.


Rumah sakit awalnya menolak permintaannya karena pasien tidak dalam kondisi untuk memberikan persetujuan.


Itu karena pasien tidak sadarkan diri dan menggunakan alat bantu hidup setelah mengalami kegagalan beberapa organ.


Rancangan Undang-Undang (RUU) Teknologi Reproduksi Berbantu yang tertunda menetapkan bahwa sperma pria tidak dapat diperoleh tanpa persetujuannya dan manajemen rumah sakit bersikeras pada aturan tersebut.


Keluarga pasien akhirnya bergegas ke pengadilan melalui advokat Nilay Patel dan meminta petunjuk kepada ahli medis yang bersangkutan untuk mengumpulkan dan menyimpan sperma sesuai dengan saran medis.


Pengacara pun meminta pengadilan untuk segera mendengarkan kasus tersebut dan Hakim Ashutosh Shastri pada akhirnya setuju.


Sebagai informasi, pasien telah dirawat sejak 10 Mei 2021 lalu dan dokter telah menyampaikan kepada keluarga bahwa ia mungkin tidak dapat bertahan hidup bahkan untuk sehari.


Sementara itu, pengadilan mengatakan bahwa jika kasus ini tidak segera ditangani, maka akan menciptakan situasi yang tidak dapat diubah.


Pengadilan, seperti dikutip dari Times of India, memberikan izin untuk mengumpulkan sperma pasien dan memerintahkan rumah sakit untuk mengawetkannya.


Namun, pengadilan tidak memberikan izin untuk melanjutkan inseminasi buatan sampai ada perintah lebih lanjut.


Pengadilan kemungkinan akan mendengarkan kasus itu lagi pada hari Kamis ini, 22 Juli 2021.


Source: terkini.id

Meninggal di Hari ke-10 Usai Divaksin, Suami Ngaku Istrinya Sempat Demam, Sakit Kepala, dan Mual
Kamis, Juli 22, 2021

On Kamis, Juli 22, 2021

Meninggal di Hari ke-10 Usai Divaksin, Suami Ngaku Istrinya Sempat Demam, Sakit Kepala, dan Mual
BENTENGSUMBAR.COM - Seorang warga asal Desa Motoling Dua, Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), dilaporkan meninggal dunia di hari ke-10 usai dirinya divaksin.


Wanita malang itu bernama Juita Lydia Tiwa (30), seorang ibu dua orang anak yang mengembuskan napas terakhir pada hari Minggu, 18 Juli 2021.


Sebelum dinyatakan meninggal dunia, ia disebutkan mengalami demam, sakit kepala, dan mual usai divaksin.


Oleh karena itu, keluarga meyakini bahwa Juita meninggal dunia karena suntikan vaksin Corona yang didapatkannya.


Hal ini merujuk dari kondisi Juita yang katany awalnya sehat, tapi tiba-tiba langsung mengalami sakit setelah mendapatkan suntikan vaksin tersebut.


Michael Sigarlaki, suami Juita, mengaku gejala awal yang didapatkan istrinya usai divaksin adalah demam.


Nah, setelah demam, istri yang dinikahinya selama tujuh tahun itu lantas mengalami sakit kepala dan mual-mual.


“Awalnya seperti anjuran setelah selesai vaksin, kami beri obat, tapi tak kunjung mereda gejalanya,” jelas Michael, dikutip terkini.id dari Kumparan pada Selasa, 20 Juli 2021.


“Setelah empat hari, saya bawa ke Puskesmas Motoling untuk mendapatkan pemeriksaan.”


Menurut Michael, petugas puskesmas kemudian memberikan obat untuk diminum serta meminta agar Juita beristirahat total sembari makan yang banyak untuk memulihkan kondisinya.


Saat dibawa ke puskesmas itu, Michael sempat merasa aneh karena tidak ada tindakan untuk merujuk istrinya ke rumah sakit, padahal waktu itu tensi darah istrinya ada di angka 70 per 40.


Lebih lanjut, menurut Michael, kondisi sang istri tidak berubah setelah mengunjungi puskesmas tersebut.


Kemudian pada Sabtu, 17 Juli 2021, akhirnya Juita kembali dibawa ke puskesmas oleh saudaranya.


Akan tetapi, lagi-lagi dari pihak puskesmas tidak ada tindakan lanjutan dan hanya diberikan vitamin.


“Puncaknya Minggu. Istri saya kembali drop. Saya langsung bawa ke Rumah Sakit Cantia di Desa Tompaso Baru, tapi setelah diobservasi, HB istri saya tinggal 2,4 sehingga langsung dirujuk ke RSUP Prof Kandouw di Manado. Tapi, istri saya meninggal saat dalam perjalanan itu,” curhat Michael sedih.


Ia sendiri mengaku merupakan orang yang sangat mendukung kegiatan vaksinasi Covid-19 yang dilakukan oleh Pemerintah saat ini.


Namun, dirinya tak memungkiri adanya penyesalan karena Pemerintah dan pihak-pihak terkait tidak responsif serta tidak memberikan pemahaman kepada warga terkait dampak yang bisa terjadi usai vaksin, termasuk tempat konsultasi.


“Saya berharap kejadian yang menimpa istri saya itu tidak terjadi di tempat-tempat lain. Harusnya Pemerintah taruh orang atau tenaga yang bisa diajak konsultasi kalau ada gejala seperti yang terjadi pada istri saya,” jelasnya.


“Terus terang, saya bingung mau bertanya di mana atau pergi ke siapa ketika istri saya timbul gejala karena memang tidak ada tenaga yang disiapkan untuk itu. Ini harusnya jadi pembelajaran,” pungkas Michael.


Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Sulawesi Utara, mengaku belum mengetahui kasus warga Minsel yang meninggal dunia usai divaksin.


Merry Pasorong, anggota Satgas, mengatakan jika ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), maka prosedurnya adalah harus ada laporan yang berisi data yang valid dari lapangan.


Lebih lanjut, ka mengatakan bahwa perlu waktu untuk melakukan investigasi jika ada kejadian-kejadian.


Source: terkini.id

Konversi Bank Nagari ke Syariah Disorot, Singgung Kredit Macet Rp 670 Milyar
Kamis, Juli 22, 2021

On Kamis, Juli 22, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Koalisi Masyarakat Peduli- Bank Nagari (KMP- Bank Nagari) mengatakan, pihaknya meminta dibatalkan keputusan RUPS- LB 30 November 2019, karena keputusan  RPUS- LB tersebut cacat hukum.

"Hentikan dan jangan dilanjutkan pembahasan Ranperda perubahan anggaran dasar perusahaan Bank Nagari oleh DPRD Provinsi Sumatera Barat," ujar Marlis koordinator KMP Bank Nagari saat audiensi dengan Komisi III DPRD Sumbar, Rabu, 21 Juli 2021.

Menurut Marlis, jangan lakukan politisasi terhadap Bank Nagari dan diselesaikan dinamika ini dengan tindakan korporasi

"Mengingat kondisi ekonomi saat ini terdampak covid 19 sebaiknya Bank Konvesional dan Unit Usaha Syariah (UUS) dipertahankan dan sama- sama dibesarkan. Kami minta pemprov Sumbar menjadi lokomotif untuk membesarkan Unit Usaha Syariah (UUS)," ujar Marlis

Ditambahkan Marlis, Evaluasi /Benahi kembali BUMD lainnya yang saat ini terjerumus dalam kondisi non provit dan sulit di Sumatera Barat. 

"Kita mendesak untuk ditindaklanjuti aspirasi ini oleh DPRD Provinsi Sumatera Barat melalui Komisi III," ujar Marlis

Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumbar Ali Tanjung mengatakan, pihaknya mendorong kepada Koalisi Masyarakat Peduli Bank Nagari membentuk dukungan berdirinya di Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat. 

"Kita tidak pernah menghambat- hambat konversi menjadi Bank Nagari  Syariah, karena saya curiga kalau ada kelompok yang ngotot menjadi konversi Bank Nagari menjadi Syariah, saya curiga kepada kredit macet, kredit macetnya ada Rp 670 Milyar. OJK mengatakan, kalau apabila dikonversi menjadi Bank Syariah manajemen berhak mengoff," ujar Ali Tanjung

Menurut Ali Tanjung, pihaknya mempertanyakan adanya pihak- pihak memaksakan konversi Bank Nagari menjadi Syariah.

"Janganlah memaksakan kehendak, karena Bank Nagari saat ini baik- baik saja. Ini sudah tidak sehat, Banyak BUMD lain merugi seperti Balairung Hotel selalu merugi, tapi tidak pernah diganti selama bertahun- tahun, karena Provinsi Sumatera Barat sudah jauh tertinggal dengan provinsi lain," ujar Ali.

Ketua Komisi III DPRD Sumbar Afrizal mengatakan, ada 19 Kab/ kota sebagai pemegang saham belum merubah perda penyertaan Modal dari bank konvesional ke Bank syariah dan itu merupakan syarat mutlak bagi pengusul Perda.

"Belum ada persetujuan pemegang kartu Bank Nagari, ini merupakan dari 16 syarat dari OJK terpenuhi Bank Nagari," ujar Afrizal

Menurut Afrizal, kalau tidak terpenuhi syarat OJK, maka jangan harap DPRD Sumbar melalui komisi III membahas Konversi Bank Nagari menjadi syariah.

"Bank Nagari harus tunduk kepada PP 54 tahun 2017 ," ujar Afrizal.

Isa Kurniawan pentolan KMP Bank Nagari mengatakan, pihaknya telah melakukan roadshow kepada seluruh kepala daerah di Sumatera Barat, banyak Kepala daerah sangat kawatir dengan berkurang kepala daerah.

"Dari sisi ekonomi tidak ada satupun indikator yang terbaik jika menjadi Bank Nagari Syariah. Kita melihat adanya agenda- agenda politik, maka terjadi perioderisasi pengurus Bank Nagari sampai 2024, tentu akan terjadi pembajakan Bank Nagari menjelang 2024," ujar Isa Kurniawan me rupakan aktifis pantang mundur ini.

Laporan: Novrianto Ucoxs

Nurnas Ungkap RPJMD Sumbar Copypaste dari RPJMD Kota Padang, LSM MAMAK Ancam Bikin Laporan ke Penegak Hukum
Senin, Juli 19, 2021

On Senin, Juli 19, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - RPJMD Sumbar tak sesuai Permedagri 86/2017 tentang Tata Cara Perencana Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah.

"Copypaste dengan RPJMD Kota Padang. Geli saya menyigi RPJMD Sumbar madani disusun oleh orang hebat yang saya kenal selama ini, Sumbar diaebut delapan dari provinsi angka di RPJMD pun copas RPJMD Kota Padang," ujar Anggota DPRD HM Nurnas yang masuk Pansus RPJMD Sumbar.

RPJMD provinsi itu mempedomani Permendagri, fakta dari dokumen RPJMD itu bab per-bab tidak sinkron.

"Saya minta ke Pansus supaya melakukan tugas pengkajian terhadap RPJMD tidak menjadi editor terhadap naskah ini," ujar HM Nurnas.

RPJMD itu terdiri 9 bab, bab IV topik masalah dan isu, terungkap antar bab sebelumnya berlawanan.

"Pembangunan bagus potret daerah di bab IV, contoh soal bina marga saja sudah tidak singkron lagi, menyebutkan permasalahan soal infrastruktur," ujar HM Nurnas.

Bahkan tim gubernur juga lupa, kemampuan riil keuangn daerah kisarannya Rp 1,2 T. Total penerimaan menjadi APBD Rp 7,9T, di 2026 pas dikuliti Pansus soal ini, jangankan bertambah menjadi turun menjadi Rp.7,8T

"Biasamya jika diminta kaji pasti estimasi APBD ditahun akhir jabatan bertambah," ujar HM Nurnas.

Nurnas mengatakan RPJMD, hampir 419 halaman setelah dibaca halaman per- halaman ternyata isinya copy paste dengan RPJMD Kota Padang.

"Padahal penysunannya saya tahu pasti orang ber-kualifeid semua," ujar HM Nurnas.

Antara Bab 2 dan bab 4 kata HM Nurnas dokumen RPJMD tidak menyambung.

"Bab 2 disebut air maninjau rusak tercemar, ee... pas di bab 4 kok nggak dipermasalahkan, aneh nggak tuh, silahkan copas tapi ubah bahasa-lah, karena jika nyontek habis jika di bawa ke Sumbar maka makna dan implementasinya berbeda," ujar HM Nurnas.

Sekaitan dengan adanya copy paste RPJMD Sumbar dari RPJMD Kota Padang, ketua LSM MAMAK Syarial Aziz, mengatakan ini sebuah penlanggaran, karena dalam membuat dokumen memakai uang negara, maka harus dibuat dengan kerja benar.

"Kalau ini copy paste berarti ada pemborosan dan pembohongan didalamnya, maka merupakan pelanggaran dan bisa menjadi temuan hukum, karena dalam membuat dokumen perencanaan jangan pernah anggap remeh," ulas Sayrial.

Dia juga menambahkan, kalau masih juga seperti ini, maka LSM MAMAK akan melaporkan temuan ini pada Kejaksaan atau pihak hukum lainnya.

Laporan: Novrianto Ucoxs

Pendakwah UAS: Makan Babi Tidak Selamanya Haram, Bisa Saja Halal
Senin, Juli 19, 2021

On Senin, Juli 19, 2021

Pendakwah UAS: Makan Babi Tidak Selamanya Haram, Bisa Saja Halal
BENTENGSUMBAR.COM - Pendakwah kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyebut bahwa makan daging babi bagi umat Islam tidak selamanya haram namun bisa saja halal saat kondisi tertentu.


Hal terkait makan daging babi tidak selamanya haram dan bisa jadi halal tersebut disampaikan UAS saat menghadiri diskusi virtual bersama IDI.


Adapun video momen diskusi Ustaz Somad bersama IDI itu ditayangkan kanal Youtube Ustadz Menjawab, seperti dilihat pada Minggu 18 Juli 2021.


“Babi itu haram, tapi makan babi tidak selamanya haram,” ujar Ustaz Abdul Somad.


Dalam tayangan diskusi itu, UAS awalnya menjelaskan bahwa babi yang dipotong dengan menyebut nama Allah tidak akan membuat dagingnya menjadi halal.


Bahkan, kata UAS, saat dimasak di rumah makan muslim makanan tersebut tetap haram dikonsumsi.


“Babi tidak bisa jadi halal. Babi dipotong atas nama Allah, tetap haram. Babi direndang atau digulai, tetap haram. Babi dimasak rumah makan muslim juga haram,” ungkapnya.


Akan tetapi, menurut Ustaz Somad, ada satu momen kondisi yang membuat makanan dari daging babi menjadi halal dikonsumsi umat Islam.


“Tapi makan babi bisa halal. Nah, gimana ceritanya?,” tutur Abdul Somad.


UAS pun menjelaskan bahwa menyantap daging babi bisa saja halal saat kondisi darurat. Misalnya, terjebak di tengah hutan, tersesat, dan tak menemukan makanan lain selain babi.


“Jadi, ketika masuk di dalam hutan, dan di dalam hutan itu tidak ada makanan, tidak ada pisang, tidak ada umbi-umbian. Sementara (saat itu) pilihannya hanya babi atau mati,” jelasnya.


Oleh karenanya, UAS menekankan makan daging babi tidak selamanya haram namun bisa jadi halal apabila mualim tengah menghadapi kondisi darurat tersebut agar umat Islam tak mati kelaparan.


“Maka saat itu tidak boleh (umat Islam) pilih mati. Jadi, boleh makan babi karena (situasinya) darurat,” ujarnya.


Source: terkini.id

Begini Kondisi Sami'an yang Juga Hirup Napas Pasien COVID-19 di Jombang
Senin, Juli 19, 2021

On Senin, Juli 19, 2021

Begini Kondisi Sami'an yang Juga Hirup Napas Pasien COVID-19 di Jombang
BENTENGSUMBAR.COM - Aksi Masudin (47) dan KH Sami'an menghirup napas pasien COVID-19 viral di medsos. Masudin meninggal karena sakit lambung beberapa hari lalu. 


Bagaimana kondisi Kiai Sami'an? Pemilik nama lengkap Moh Sami'an (45) itu ternyata pengajar di madrasah dan Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. 


Ia menjadi sahabat Masudin sekitar 2,5 tahun terakhir. Bahkan, ia menganggap terapis tunarungu itu sebagai guru spiritualnya.


"Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat walafiat," kata Kiai Sami'an kepada wartawan menjawab isu yang menyebut dirinya meninggal dunia setelah menghirup napas pasien COVID-19, Minggu, 18 Juli 2021.


Ia mengakui, pria berpeci hitam yang bersama Masudin menghirup napas pasien Corona adalah dirinya. Saat itu, ia diajak Masudin membesuk pasien COVID-19 di salah satu rumah sakit swasta di Jombang pada 17 April 2021.


Pasien tersebut berinisial HD (26), warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang. Ternyata saat itu HD positif COVID-19 sehingga diisolasi di rumah sakit tersebut.


HD merupakan menantu Rokim, teman Masudin yang saat itu juga diisolasi di rumah sakit yang sama. HD berhasil sembuh dari COVID-19. Namun, kedua mertuanya meninggal dunia.


"Abah Rokim bilang menantunya juga sakit ada ruangan diisolasi, tapi kami tidak tahu kena COVID atau tidak. Mr Masudin dimintai tolong Abah Rokim untuk membesuk juga kalau bisa masuk ke ruang isolasi," terangnya.


Saat itulah Kiai Sami'an diminta Masudin menghirup napas HD yang positif COVID-19. Seperti dalam video yang viral, aksi nekat serupa dilakukan Masudin. Kiai Sami'an maupun Masudin menghirup napas pasien melalui hidung dan mulut.


"Alhamdulillah setelah video itu saya tidak merasakan apa-apa, tidak sakit sama sekali," ungkapnya.


Kiai Sami'an menegaskan, dirinya tidak berniat sombong maupun mencari sensasi. Ia juga tidak ingin video menghirup napas pasien COVID-19 itu viral. Apalagi sampai dinilai tidak percaya dengan COVID-19.


Meninggalnya Masudin pada Selasa, 13 Juli 2021, mengejutkan Sami'an. Ia mengaku tidak mengetahui persis penyebab meninggalnya terapis tunarungu asal Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Jombang tersebut.


"Saya kenal Mr Masudin 2,5 tahun. Saya tidak tahu beliau sakit apa. Saat beliau meninggal saya langsung ke rumah duka. Kata istrinya sakit lambung. Saya juga kaget," imbuhnya.


Video aksi Masudin dan KH Sami'an menghirup napas pasien COVID-19 sempat di-posting ke akun Instagram milik Masudin, @mr.masudinjombang pada 8 Juni 2021. Video berdurasi 1 menit 5 detik itu dihapus tiga hari kemudian.


Setelah terapis tunarungu itu meninggal pada Selasa (13/7), video tersebut menjadi viral. Karena warganet mengaitkan video itu dengan meninggalnya Masudin. Sehingga terkesan bapak enam anak itu meninggal akibat nekat menghirup napas pasien COVID-19.


Berdasarkan keterangan Pemerintah Desa Banyuarang dan asisten Masudin, terapis tunarungu itu meninggal bukan karena terinfeksi COVID-19. Namun, karena penyakit lambung yang sudah akut. Terlebih lagi, istri dan dua anak Masudin negatif Corona berdasarkan hasil tes swab antigen pada Rabu, 14 Juli 2021.


Sebelum meninggal, Masudin kerap mengobati teman dan keluarganya yang terinfeksi COVID-19, tapi tergolong orang tanpa gejala (OTG). Ia hanya meminta para pasien meminum ramuan tradisional buatannya. Jamu tersebut bukan untuk membunuh virus Corona, tapi diyakini bisa meningkatkan kekebalan tubuh pasien.


Source: detikcom

Polisi Buru Penyebar Video Hoaks Mantan Anggota DPRD Ditusuk Matanya hingga Buta, Pelakunya Diancam 6 Tahun Penjara
Senin, Juli 19, 2021

On Senin, Juli 19, 2021

Polisi Buru Penyebar Video Hoaks Mantan Anggota DPRD Ditusuk Matanya hingga Buta, Pelakunya Diancam 6 Tahun Penjara
BENTENGSUMBAR.COM - Polisi menyelidiki kasus video viral mantan anggota DPRD Tapanuli Tengah, Awaluddin Rao yang menyebutkan dirinya didorong petugas penyekatan PPMK Darurat di Padang, Sumatera Barat, Jumat, 16 Juli 2021. 


Video tersebut diduga menyebarkan berita bohong dan menyesatkan karena Rao tidaklah buta seperti yang dia sebutkan di dalam video tersebut. 


"Kita selidiki kasus penyebaran video yang diduga berisikan berita bohong tersebut. Ini merugikan petugas PPKM yang bekerja. Dengan beredar video itu, seolah-olah petugas melakukan tindakan salah," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumbar, Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, dilansir dari Kompas.com, Minggu, 18 Juli 2021. 


Satake mengatakan penyebar video itu bisa dijerat pasal 28 Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.


Satake menyebutkan kejadian di dalam video yang dibuat sendiri dan disebarkan oleh Rao diduga tidak benar atau bohong. 


"Dalam video itu dia bilang matanya ditusuk pena hingga buta. Padahal pelipisnya yang kena. Itupun kita tidak tahu kejadiannya seperti apa," kata Satake.


Sebelumnya diberitakan, beredar video mantan Wakil Ketua DPRD Tapanuli Tengah, Sumatera Barat, Awaluddin Rao yang wajahnya berlumuran darah di posko penyekatan PPKM Padang, Sumatera Barat. 


Dalam video berdurasi 2 menit 8 detik itu Rao mengaku didorong petugas hingga matanya tertusuk pena. 


"Saya didorong pak, saya megang pena. Akhirnya ketusuk mata saya. Mata saya sudah buta," kata Rao dalam video yang diterima Kompas.com, Sabtu, 17 Juli 2021 malam.


Rao terlihat memakai baju kemeja putih, dan wajahnya berlumuran darah. 


"Ini posko penyekatan di perbatasan Solok. Kebetulan saya baru memutar saja pak melihat truk kita yang terbalik," kata Rao. 


Rao mengaku sudah melapor ke petugas untuk saat melintas dengan tujuan melihat truk miliknya yang terbalik. 


"Saya sudah melapor ke sini pak. Mau balik ke padang. Rumah saya di Padang dan tidak lebih setengah jam," kata Rao.


Video Rao ditusuk matanya di penyekatan PPKM sempat viral, lalu dihapus 


Video tersebut viral di media sosial seperti di grup WhatsApp, Facebook dan lainnya. 


Video tersebut sempat diunggah di akun Facebook Dafit Pelor, namun kemudian sudah dihapus. 


Kapolsek Lubuk Kilangan AKP Lija Nesmon mengakui peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 16 Juli 2021 malam di posko penyekatan PPKM Padang-Solok. 


"Betul saya ikut dalam kegiatan penyekatan itu. Tapi video yang beredar itu tidak benar," kata Lija yang dihubungi Kompas.com, Minggu, 18 Juli 2021. 


Menurut Lija, video itu sudah diedit dan menampilkan seolah-olah Rao ditusuk petugas hingga matanya buta. 


"Yang benar itu pelipisnya yang berdarah, bukan matanya buta. Saya yang bawa dia ke klinik," kata Lija. 


Lija menyebutkan kronologis peristiwa berawal dari Rao dan sopirnya hendak masuk ke Padang dari Solok. 


Saat ditanya petugas dokumen vaksin dan rapid tes antigen, Rao tidak dapat memperlihatkannya. 


Rao mengaku sudah meminta izin ke petugas saat melintas dari Padang ke Solok untuk melihat truknya yang terbalik. 


"Tapi saat kita tanya petugasnya, Rao tidak mampu menunjukkannya. Kemudian kita tanya KTP Padangnya, Rao tidak juga mampu memperlihatkannya. Akhirnya kita suruh putar balik," kata Lija.   


Tak diberi izin melintas, Rao cekcok dengan petugas penyekatan PPKM Padang-Solok 


Akhirnya terjadi cekcok, kemudian menurut Lija, Rao disuruh kembali ke mobilnya lagi. 


"Namun tiba-tiba dia balik dan memperlihatkan luka di wajahnya. Dia bilang matanya buta karena ditusuk pena akibat didorong petugas," kata Lija.


Menurut Lija, pihaknya kembali bertanya siapa petugas yang mendorongnya, Rao pun tidak mampu menunjukkannya. 


"Akhirnya kita bawa ke klinik untuk berobat. Hanya pelipisnya yang berdarah bukan matanya yang tertusuk seperti yang dia katakan dalam video itu," kata Lija. 


Rao sendiri merupakan mantan Wakil Ketua DPRD Tapanuli Tengah, Sumatera Utara dan pernah tersangkut kasus SPJ Fiktif tahun 2018 dengan ditetapkan sebagai tersangka.


Source: Kompas.com

KPID Sumbar Dorong Percepatan  Revisi UU Penyiaran
Kamis, Juli 15, 2021

On Kamis, Juli 15, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Sumatera Barat, Afriendi Sikumbang mengatakan, pihaknya mendorong percepatan  Revisi UU Penyiaran.

"Dengan adanya UU Cipta Kerja, maka semua proses perizinan berada di tangan pemerintah, tidak ada kewenangan KPID lagi," ungkap Afriendi Sikumbang kepada wartawan saat jumpa pers di kantor KPID Sumbar, Kamis, 15 Juli 2021.

Pada kesempatan itu, Afriendi Sikumbang didampongi Komisioner KPID lainnya, yaitu Robert Cenedy (Korbid Pengawasan), Jimmy Syah Putra Ginting (Kelembagaan), Yumi Ariyati (Wakil Ketua), Andres (Korbid PS2P) dan Adrian (Pengawasan).

Dikatakannya, pemerintah harus memperkuat KPI sebagai lembaga pengawasan. Untuk itu, revisi UU Penyiaran harus segera dilakukan.

"Kami, melalui Bidang Kelembagaan telah menyerahkan surat kepada Presiden Jokowi yang dititipkan melalui Kantor Staf Presiden untuk mendorong percepatan  Revisi UU Penyiaran," ungkapnya.
 
Jimmy Syah Putra Ginting dari Bidang Kelembagaan membenarkan pihaknya telah menyerahkan surat tersebut kepada Kantor Staf Presiden.

Bahkan, Jimmy mengungkap, KPID juga melakukan koordinasi dengan Pemprov. Sumbar dan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat dalam kaitan penguatan kelembagaan tersebut.

"Berbagai upaya terus kita lakukan. Disamping kita juga mensosialisasikan Hari Penyiaran Nasional, di beberapa media penyiaran, kerjasama dengan Univ. Taman Siswa, dalam hal pelibatan mahasiswa Univ. Taman Siswa dalam pengawasan penyiaran dan dukungan pemagangan mahasiswa di KPID dan koordinasi dengan Loka POM Dharmasraya, berkaitan dengan pengawasan iklan obat dan makanan di media penyiaran wilayah kerja Loka POM Dharmasraya," urainya.

Berikut isi surat KPID Sumbar kepada Presiden Jokowi:

Kepada Yth.
Bapak Presiden RI
c.q. Kepala Kantor Staf Kepresidenan RI
di
Jakarta

Dengan hormat, sehubungan dengan kunjungan kerja Tim dari Deputi 4 Kantor Staf Kepresidenan, kami menyampaikan bahwa :

1. KPID Sumbar meminta Pemerintah mempercepat pembahasan dan penetapan revisi UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, dengan memperkuat kelembagaan KPI khususnya KPI Daerah sebagai Lembaga pengawas penyelenggaraan penyiaran di daerah. Penguatan kelembagaan penting mengingat akan diberlakukan Digitalisasi penyiaran yang sudah disahkan dalam UU Cipta kerja & PP no 46 th 2021, tugas dan fungsi KPI akan semakin berat dengan Penyiaran digital dimana konten siaran akan semakin variatif serta chanel penyiaran semakin lebih banyak.

2.Siaran digital mengandung semangat demokratisasi penyiaran, karena itu Penyiaran tetap mengedepankan keberagaman isi dan kepemilikan serta akses siaran yang merata.

3. KPI mewakili Publik, sebagai lembaga khusus yg bertugas mengawasi konten siaran, harus memiliki kewenangan khusus memberikan sanksi terhadap pelanggaran siaran yang putusannya bersifat final dan mengikat.

4. Mempertahankan Sistem Stasiun Jaringan (SSJ), agar tetap mengakomodir kepentingan daerah di bidang penyiaran sehingga berbagai potensi lokal dan keberagaman budaya lainnya selalu dapat tempat dalam industri penyiaran.

5. Pengawasan terhadap media baru perlu dipertegas lembaga negara yang berwenang dalam pengawasan kontennya.

6. Fasilitasi kemendagri dalam evaluasi terhadap pergub yang berkaitan dengan mekanisme dan tata cara pencairan hibah  yang bersumber dari APBD Provinsi Tahun Anggaran 2021 perlu dipercepat.

Demikianlah, atas perhatian Bapak kami ucapkan terimakasih.

(by)