| Sandiaga Salahuddin Uno saat menjadi orator ilmiah dalam Wisuda ke-45 Universitas Paramadina, Sabtu (7/11/2026). (Fotdok: Arief Tito). |
Pesan tersebut disampaikan Sandiaga saat menjadi orator ilmiah dalam Wisuda ke-45 Universitas Paramadina, Sabtu (7/11/2026). Ia mengajak para lulusan memandang dunia kerja secara realistis sekaligus mempersiapkan diri dengan integritas, inovasi, kemampuan beradaptasi, dan semangat kewirausahaan.
Mengawali orasinya, Sandiaga melontarkan pertanyaan yang menggambarkan kondisi ketenagakerjaan saat ini. "Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?" katanya. Ia menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari pengangguran, risiko jebakan pendapatan kelas menengah, pengangguran anak muda, hingga kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia usaha.
Sandiaga juga mengangkat fenomena missing potential, yakni potensi generasi muda yang belum terserap secara produktif. Ia menyebut hampir 20 persen anak muda berada dalam kategori NEET, yaitu tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui peningkatan keterampilan dan penciptaan kesempatan kerja.
Di hadapan para wisudawan, ia mengingatkan bahwa gelar akademik bukanlah tujuan akhir. "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat," ujarnya. Ia berharap para alumni tidak hanya mengejar jabatan, penghasilan, atau keberhasilan pribadi, tetapi juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah pentingnya integritas dalam membangun karier dan kepemimpinan. "Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki," tegasnya. Melalui pesan Character Over Competence, Sandiaga mengingatkan bahwa kemampuan dan kecerdasan perlu disertai kejujuran, tanggung jawab, serta konsistensi dalam memegang prinsip.
Tak kalah penting, Sandiaga mendorong lulusan memiliki entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan. Menurutnya, kewirausahaan bukan semata-mata profesi bagi orang yang mendirikan perusahaan, melainkan pola pikir yang dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan. "Entrepreneurship is not a profession, tapi entrepreneurship is a mindset," ungkapnya. Dengan pola pikir tersebut, lulusan diharapkan mampu membaca peluang, menghadirkan solusi, dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan.
Menutup orasinya, Sandiaga menitipkan semangat 4AS, yakni kerja keras yang terus dilakukan, serta nilai 3SI berupa inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ketiganya dinilai menjadi bekal penting menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis. Ia mengajak para lulusan tidak mudah menyerah, terus belajar, dan menjadikan tantangan sebagai kesempatan untuk menghasilkan terobosan.
Melalui Wisuda ke-45, Universitas Paramadina menegaskan komitmennya melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki bekal akademik dan profesional, tetapi juga integritas, kepedulian sosial, serta jiwa kepemimpinan. Pesan Sandiaga menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang sarjana bukan hanya diukur dari pekerjaan atau posisi yang diraih, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan manfaat dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. (*)
Laporan: Arief Tito
Editor: Zamri Yahya, WU
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »