HEADLINE
Rudy Repenaldi Rilis Resmi Jabat Sekda, Motor Penggerak Birokrasi Kabupaten Solok    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Rudy Repenaldi Rilis Resmi Jabat Sekda, Motor Penggerak Birokrasi Kabupaten Solok
Rudy Repenaldi Rilis, S.STp., M.Si., dilantik langsung oleh Bupati Solok, Jon Firman Pandu, dalam upacara pengambilan sumpah jabatan di Aula Gedung C Sekretariat Daerah Kabupaten Solok, Senin (2/11/2026). (Fotdok: Oktryoni). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Kabupaten Solok resmi memiliki Sekretaris Daerah definitif. Rudy Repenaldi Rilis, S.STp., M.Si., dilantik langsung oleh Bupati Solok, Jon Firman Pandu, dalam upacara pengambilan sumpah jabatan di Aula Gedung C Sekretariat Daerah Kabupaten Solok, Senin (2/11/2026). Pelantikan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi pemerintahan dan mempercepat pelaksanaan program pembangunan daerah.

Jabatan Sekretaris Daerah bukan sekadar posisi administratif tertinggi dalam birokrasi pemerintah kabupaten. Sekda merupakan motor penggerak organisasi pemerintahan yang bertanggung jawab mengoordinasikan perangkat daerah, membantu perumusan kebijakan, sekaligus memastikan seluruh program pemerintah berjalan sesuai sasaran. Karena itu, kehadiran Rudy di posisi strategis tersebut diharapkan mampu membawa kinerja birokrasi Kabupaten Solok semakin efektif dan terarah.

Bupati Solok menegaskan, Sekretaris Daerah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan roda pemerintahan berjalan optimal. Peran tersebut mencakup koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, perumusan kebijakan, hingga pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN). Seluruh fungsi itu harus dijalankan secara terintegrasi agar kebijakan pemerintah tidak berhenti pada tataran perencanaan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ada sejumlah pekerjaan prioritas yang langsung ditekankan kepada Sekda yang baru. Di antaranya memperkuat sinergi antarorganisasi perangkat daerah (OPD), meningkatkan disiplin dan kinerja aparatur, serta memastikan seluruh program pembangunan terlaksana sesuai rencana dan target. Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa tantangan birokrasi bukan hanya menjalankan rutinitas pemerintahan, melainkan menghasilkan kinerja yang terukur dan berdampak nyata.

Penguatan koordinasi antar-OPD menjadi salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan Sekda. Setiap perangkat daerah dituntut bekerja dalam satu arah, menghindari ego sektoral, serta membangun kolaborasi dalam menyelesaikan persoalan pembangunan. Dengan koordinasi yang kuat, berbagai program pemerintah diharapkan dapat berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan tidak terhambat persoalan komunikasi maupun lemahnya sinkronisasi.

Pelantikan Rudy juga diharapkan menjadi awal penguatan tata kelola pemerintahan yang profesional, disiplin, transparan, dan akuntabel. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Dr. Mukhlis, mengingatkan agar amanah jabatan dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan menjunjung tinggi integritas. Ia menegaskan, setiap kebijakan dan program pembangunan harus berpedoman pada ketentuan yang berlaku agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.

Dalam prosesi yang berlangsung khidmat tersebut, turut hadir Wakil Bupati Solok Candra, unsur Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, Sekda kabupaten dan kota se-Sumatera Barat, serta berbagai unsur masyarakat. Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Masheri Yanda Boy atas dedikasi dan pengabdiannya selama menjalankan tugas sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Solok.

Kini, tanggung jawab besar berada di pundak Rudy Repenaldi Rilis. Selain menjaga kesinambungan administrasi pemerintahan, ia dituntut mampu membangun soliditas ASN, memperkuat koordinasi lintas perangkat daerah, dan memastikan setiap kebijakan diterjemahkan menjadi pelayanan publik yang semakin baik. Keberhasilan Sekda akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menggerakkan seluruh mesin birokrasi agar bekerja secara kompak dan berorientasi pada hasil.

Dengan resmi dilantiknya Rudy Repenaldi Rilis sebagai Sekda, masyarakat tentu berharap pemerintahan Kabupaten Solok semakin solid, responsif, dan produktif. Tantangan berikutnya bukan sekadar menjalankan roda birokrasi, tetapi membuktikan bahwa koordinasi yang kuat, aparatur yang disiplin, serta program pembangunan yang tepat sasaran mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Solok. (80) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Yudi Indra Sani Tegaskan Tak Ada Lagi Bus AKDP di Luar Terminal Anak Air    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Yudi Indra Sani Tegaskan Tak Ada Lagi Bus AKDP di Luar Terminal Anak Air
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, Yudi Indra Sani didampingi Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sumatera Barat, Deddy Gusman. (Fotdok: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Kota Padang mulai menertibkan operasional bus Antarkota Dalam Provinsi (AKDP) dengan memindahkan seluruh aktivitas angkutan ke Terminal Tipe A Anak Air. Kebijakan yang mulai diberlakukan Senin (2/11/2026) ini menjadi langkah tegas untuk mengakhiri praktik terminal bayangan yang selama ini mengganggu ketertiban lalu lintas di sejumlah kawasan Kota Padang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, Yudi Indra Sani, menegaskan bahwa seluruh pengusaha bus AKDP telah berkomitmen memindahkan loket operasional ke dalam Terminal Anak Air. Dengan demikian, tidak boleh lagi ada bus AKDP yang menaikkan dan menurunkan penumpang melalui titik-titik di luar terminal resmi.

Menurut Yudi, kebijakan ini bukan sekadar memindahkan lokasi aktivitas bus, melainkan mengoptimalkan fungsi Terminal Anak Air sebagai pusat pelayanan transportasi antarkota. Selama ini, keberadaan terminal bayangan di Simpang Tugu DPRD, kawasan Universitas Negeri Padang (UNP), hingga Simpang Tabing menjadi persoalan yang perlu segera dituntaskan.

"Dengan adanya komitmen dari pengusaha bus AKDP ini, diharapkan terminal dapat berfungsi secara optimal. Tidak ada lagi terminal bayangan yang selama ini terjadi di Simpang DPR, kemudian di sepanjang UNP, dan juga Simpang Tabing," tegas Yudi.

Namun, Yudi menyadari bahwa keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup hanya dengan memindahkan loket dan mengandalkan komitmen pengusaha. Pengawasan di lapangan menjadi kunci agar tidak muncul kembali praktik terminal bayangan maupun aktivitas angkutan ilegal yang memanfaatkan perubahan pola operasional bus AKDP.

"Untuk memastikan kondisi ini tidak dimanfaatkan oleh angkutan sewa liar, maka kita akan melakukan patroli di sepanjang jalur ini," ungkapnya. Dishub Kota Padang bersama instansi terkait akan mengawasi sejumlah titik rawan melalui posko terpadu dan patroli mobile secara berkala.

Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sumatera Barat, Deddy Gusman, memastikan pengawasan dilakukan melalui kolaborasi BPTD, Dishub Kota Padang, dan Dishub Provinsi Sumatera Barat. Jika ditemukan operator yang masih melanggar, kepolisian dari Polda Sumbar dan Satpol PP Kota Padang disiapkan untuk mengambil tindakan tegas.

Deddy menegaskan, patroli tersebut bertujuan memastikan seluruh kendaraan AKDP benar-benar masuk dan beroperasi melalui terminal resmi. Pengusaha bus yang masih membandel tidak akan dibiarkan mengabaikan aturan yang telah diberlakukan bersama pemerintah daerah dan instansi transportasi.

Di sisi lain, Yudi juga mendorong perluasan sosialisasi agar masyarakat, khususnya mahasiswa, terbiasa memanfaatkan Terminal Anak Air. Pemerintah berencana menggandeng Universitas Negeri Padang untuk memperkuat informasi kepada mahasiswa mengenai perubahan lokasi pelayanan bus AKDP. Langkah ini diharapkan membuat masyarakat semakin mudah mengakses angkutan resmi sekaligus mendukung penataan transportasi Kota Padang yang lebih tertib, aman, dan teratur. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Tolong-Menolong dalam Kebaikan, Bukan Melindungi Kezaliman    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Tolong-Menolong dalam Kebaikan, Bukan Melindungi Kezaliman
Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kepedulian, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. (Fotdok: Int). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Tolong-menolong merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang saleh dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kepedulian, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 2: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Ayat tersebut mengandung pesan mendalam bahwa setiap bentuk kerja sama harus memiliki landasan moral dan tujuan yang benar. Tidak semua kebersamaan dapat disebut kebaikan apabila dibangun untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk saling menguatkan dalam kejujuran, keadilan, kepedulian, dan kemaslahatan, bukan saling melindungi dalam kesalahan, kebohongan, kezaliman, maupun permusuhan. Dengan demikian, ukuran persaudaraan bukan sekadar seberapa kuat seseorang membela kelompoknya, melainkan seberapa teguh ia menjaga kebenaran.

Pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.” Hadis ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika saudara mengalami kesulitan, kita dianjurkan membantu. Ketika melihat kezaliman, kita tidak boleh berpura-pura tidak tahu. Membela orang yang tertindas merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.

Rasulullah SAW juga memberikan gambaran indah tentang persaudaraan melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Perumpamaan ini memperlihatkan bahwa penderitaan sesama semestinya menjadi perhatian bersama. Kesulitan yang dialami seseorang bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk menghadirkan empati, solidaritas, dan pertolongan.

Nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib juga mengingatkan manusia tentang pentingnya memperlakukan sesama dengan kemanusiaan. Salah satu ungkapan yang masyhur adalah, “Manusia itu ada dua golongan: saudaramu dalam agama atau saudaramu dalam kemanusiaan.” Pesan ini mengajak kita melampaui sekat perbedaan dalam membangun hubungan sosial. Perbedaan suku, golongan, jabatan, pandangan, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat dan kepedulian. Kemanusiaan harus tetap menjadi jembatan untuk saling membantu dan menjaga martabat sesama.

Para ulama juga menjelaskan bahwa kebajikan dan ketakwaan harus berjalan beriringan. Imam Al-Ghazali dalam pemikirannya tentang penyucian jiwa mengingatkan pentingnya membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, kebencian, dan sifat-sifat yang merusak hubungan antarmanusia. Sebab, seseorang tidak akan mudah menolong dengan tulus apabila hatinya dipenuhi kepentingan pribadi. Amal kebaikan bukan hanya dinilai dari besarnya bantuan, tetapi juga dari keikhlasan, cara memberikan, serta manfaat yang dirasakan oleh orang yang menerima pertolongan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pesan Surah Al-Maidah ayat 2 seharusnya menjadi pedoman dalam setiap hubungan, baik di lingkungan keluarga, organisasi, pemerintahan, dunia usaha, maupun kehidupan berbangsa. Gotong royong, membantu masyarakat yang tertimpa musibah, memperjuangkan keadilan, menjaga amanah, dan mengingatkan sesama ketika melakukan kekeliruan merupakan contoh nyata tolong-menolong dalam kebajikan. Sebaliknya, membenarkan kesalahan karena hubungan pertemanan, menutupi penyimpangan demi kepentingan kelompok, menyebarkan fitnah, serta menjatuhkan orang lain merupakan bentuk kerja sama yang bertentangan dengan nilai ketakwaan.

Karena itu, setiap orang perlu berani membedakan antara solidaritas dan pembenaran terhadap kesalahan. Menolong seseorang bukan berarti selalu membenarkan semua tindakannya. Terkadang, pertolongan terbaik justru berupa nasihat yang jujur, teguran yang santun, dan keberanian mencegahnya melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menolong orang yang berbuat zalim dilakukan dengan cara mencegahnya dari kezaliman. Inilah makna kepedulian yang tidak sekadar mengikuti kehendak seseorang, tetapi mengarahkannya kembali kepada kebenaran.

Pada akhirnya, tolong-menolong dalam kebajikan bukan sekadar ajaran yang indah untuk diucapkan, melainkan prinsip yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an memberikan pedoman, Rasulullah SAW memberikan teladan, Imam Ali mengingatkan tentang persaudaraan dan kemanusiaan, sementara para ulama mengajarkan pentingnya keikhlasan serta kebersihan hati. Sudah semestinya kita membangun kebersamaan yang memperkuat kebaikan, bukan permusuhan; menegakkan keadilan, bukan melindungi kezaliman; serta menghadirkan manfaat, bukan kerugian. Sebab, sebaik-baik manusia bukanlah mereka yang hanya kuat bersama kelompoknya, melainkan mereka yang kehadirannya membawa manfaat dan kebaikan bagi sesama. (*)

Pemko Padang dan TNI Perkuat Sinergi, Kesiapsiagaan Bencana Jadi Prioritas Utama    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Pemko Padang dan TNI Perkuat Sinergi, Kesiapsiagaan Bencana Jadi Prioritas Utama
Wali Kota Padang, Fadly Amran, dengan Komandan Korem (Danrem) 032/Wirabraja, Brigjen TNI Aji Mimbarno, beserta jajaran di Kediaman Resmi Wali Kota Padang, Senin (2/11/2026). (Fotdok: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi di Kota Padang menuntut kesiapan semua pihak. Bukan hanya pemerintah, keterlibatan TNI dan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk memastikan keselamatan warga ketika bencana datang. Karena itu, Pemerintah Kota Padang memperkuat sinergi dengan Korem 032/Wirabraja dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Wali Kota Padang, Fadly Amran, dengan Komandan Korem (Danrem) 032/Wirabraja, Brigjen TNI Aji Mimbarno, beserta jajaran di Kediaman Resmi Wali Kota Padang, Senin (2/11/2026). Pertemuan itu turut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Padang, Tarmizi Ismail, serta Kepala Kesbangpol Kota Padang, Syahendri Barkah.

Dalam pertemuan tersebut, penanganan bencana, penguatan mitigasi, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi perhatian utama. Kondisi geografis Kota Padang yang berada di kawasan pesisir dan berdekatan dengan perbukitan memiliki tantangan tersendiri, terutama menghadapi potensi banjir, bencana hidrometeorologi, serta gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami.

Fadly Amran menegaskan, kesiapsiagaan tidak boleh hanya menjadi wacana ketika bencana terjadi. Masyarakat harus memiliki pengetahuan tentang langkah penyelamatan diri, termasuk memahami jalur dan lokasi evakuasi yang harus dituju dalam situasi darurat. Pengetahuan tersebut perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga tingkat RT.

Menurutnya, kejelasan lokasi evakuasi menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa. Ketika banjir besar atau gempa berpotensi tsunami terjadi, masyarakat tidak boleh kebingungan menentukan arah penyelamatan. Setiap RT diharapkan memahami titik evakuasi sehingga dapat membantu mengarahkan warga menuju tempat yang aman.

Untuk memperkuat kesiapan tersebut, Fadly mendorong pelaksanaan apel bersama antara Pemko Padang dan Korem 032/Wirabraja dengan melibatkan seluruh unsur terkait. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat koordinasi, memeriksa kesiapan personel, sekaligus memastikan sarana dan prasarana pendukung penanganan bencana berada dalam kondisi siap digunakan.

"Kami mengharapkan dukungan Korem 032/Wirabraja dalam memperkuat penanganan dan mitigasi bencana di Kota Padang. Alhamdulillah, sinergi yang terjalin selama ini sudah berjalan baik dan diharapkan semakin ditingkatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat," ujar Fadly Amran. Ia juga mengusulkan agar latihan dan simulasi kebencanaan kembali dilaksanakan dalam waktu dekat dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Brigjen TNI Aji Mimbarno menegaskan kesiapan Korem 032/Wirabraja untuk bersinergi dan mendukung langkah Pemko Padang dalam memperkuat penanganan serta mitigasi bencana. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen TNI dalam membantu meningkatkan kesiapsiagaan dan melindungi keselamatan masyarakat dari berbagai ancaman bencana.

Pertemuan ini menjadi penguatan bahwa kesiapan menghadapi bencana membutuhkan kerja bersama, koordinasi yang solid, dan kesadaran masyarakat. Bagi Kota Padang, membangun kesiapsiagaan sejak dini bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan upaya melindungi kehidupan warga. Sebab, ketika bencana datang tanpa peringatan, pengetahuan, latihan, dan kecepatan bertindak dapat menjadi penentu keselamatan. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Zona Merah Narkoba Harus Berubah! Pemko Padang Perketat Pengawasan Keamanan Pangan    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Zona Merah Narkoba Harus Berubah! Pemko Padang Perketat Pengawasan Keamanan Pangan
Rapat Monthly Meeting bersama seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Senin (2/11/2026). (Fotdok: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Persoalan narkoba dan keamanan pangan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Padang. Dua persoalan sosial yang belakangan terjadi di Kota Bingkuang itu mendapat sorotan langsung Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat memimpin Rapat Monthly Meeting bersama seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Senin (2/11/2026).

Rapat yang berlangsung di Ruang Abu Bakar Jaar, Balai Kota Padang, Aie Pacah, tersebut bukan sekadar agenda evaluasi rutin. Fadly Amran menjadikannya momentum untuk menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika persoalan sudah mencuat. Penanganan harus dilakukan secara serius, terukur, dan berkelanjutan agar masalah serupa tidak terus berulang di tengah masyarakat.

Salah satu perhatian utama Fadly adalah pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Ia menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Republik Indonesia atas langkah tegas melalui razia dan inspeksi mendadak di sejumlah lokasi yang terindikasi menjadi tempat penyalahgunaan narkoba. Namun, menurutnya, penegakan hukum saja belum cukup untuk memastikan kawasan yang telah ditertibkan benar-benar terbebas dari ancaman narkoba.

“Narkoba bukan hanya persoalan penegakan hukum, tetapi juga persoalan lingkungan. Apa yang sudah dilakukan oleh kepolisian jangan dibiarkan begitu saja tanpa pembinaan lanjutan oleh Pemko,” tegas Fadly Amran. Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa pemerintah daerah harus mengambil peran nyata dalam membangun kembali lingkungan sosial yang sehat setelah aparat melakukan penertiban.

Fadly bahkan meminta para camat yang wilayahnya masuk zona merah peredaran narkoba agar bergerak melakukan penghijauan kembali kawasan tersebut. Bukan sekadar mengubah label wilayah, tetapi menghadirkan perubahan nyata melalui program lingkungan yang sehat, aman, dan produktif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kawasan rawan narkoba perlu diubah melalui penataan lingkungan seperti gotong royong, pengadaan lampu penerangan jalan, pembangunan taman bermain serta penguatan aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat. Libatkan para orang tua, niniak mamak, Bundo Kandung, alim ulama,” ujarnya. Pendekatan ini menempatkan keluarga, tokoh adat, dan tokoh agama sebagai bagian penting dalam membentengi generasi muda dari bahaya narkoba.

Selain narkoba, persoalan keracunan makanan juga menjadi perhatian khusus. Fadly meminta OPD terkait memperketat pengawasan terhadap seluruh penyedia jasa katering, kafe, restoran, dan rumah makan. Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk memastikan setiap pelaku usaha memiliki perizinan sesuai ketentuan serta menjalankan standar keamanan pangan dalam kegiatan operasionalnya.

“Sebagai kota yang ingin maju, kita harus memiliki standar yang jelas dalam pengawasan keamanan pangan,” tegasnya. Ia menekankan bahwa setiap pelaku usaha wajib memenuhi persyaratan perizinan sebelum beroperasi. Pemerintah juga akan melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan Standar Operasional Prosedur (SOP) benar-benar diterapkan, bukan sekadar menjadi dokumen pelengkap administrasi.

Fadly pun mengingatkan agar pengawasan tidak berhenti pada imbauan dan rekomendasi. Pelaku usaha yang belum memenuhi ketentuan harus dibina, sedangkan pelanggaran yang tetap dilakukan perlu ditindaklanjuti dengan sanksi tegas sesuai aturan. Melalui Monthly Meeting tersebut, Fadly Amran mengirimkan pesan jelas kepada seluruh OPD: membangun Kota Padang bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga memastikan masyarakat hidup di lingkungan yang aman, bebas dari ancaman narkoba, serta terlindungi dari risiko pangan yang tidak memenuhi standar. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

105 Atlet Drum Band Sumbar Berebut Tiket Kejurnas 2026, Pariaman Jadi Panggung Pembuktian Talenta Muda    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

105 Atlet Drum Band Sumbar Berebut Tiket Kejurnas 2026, Pariaman Jadi Panggung Pembuktian Talenta Muda
Wali Kota Pariaman sekaligus Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PDBI Sumatera Barat, Yota Balad, didampingi Ketua TP PKK Kota Pariaman, Ny. Yosneli Balad, hadir meninjau langsung jalannya seleksi. (Fotdok: Armaidi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Sebanyak 105 atlet drum band dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat berkumpul di GOR Rajo Bujang, Kota Pariaman, Minggu (1/11/2026). Mereka datang membawa semangat, kemampuan, dan harapan yang sama: mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari kontingen Sumatera Barat pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) 2026 di Bandung, Jawa Barat.

Di balik dentuman musik, keserasian gerakan, dan kekompakan barisan, seleksi tersebut bukan sekadar ajang adu keterampilan. Inilah ruang pembuktian bagi generasi muda yang ingin menunjukkan bahwa drum band bukan hanya aktivitas ekstrakurikuler, melainkan perpaduan seni, olahraga, disiplin, kerja sama, dan pembentukan karakter.

Wali Kota Pariaman sekaligus Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PDBI Sumatera Barat, Yota Balad, didampingi Ketua TP PKK Kota Pariaman, Ny. Yosneli Balad, hadir meninjau langsung jalannya seleksi. Kehadiran pimpinan PDBI Sumbar tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap proses pembinaan sekaligus keseriusan mempersiapkan atlet terbaik untuk menghadapi persaingan di tingkat nasional.

Yota Balad menegaskan, seleksi ini bertujuan menjaring talenta-talenta terbaik yang akan membawa nama Sumatera Barat pada Kejurnas PDBI di Bandung, 4–8 Desember 2026. Menurutnya, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan para peserta untuk memperlihatkan kemampuan terbaik sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai calon atlet yang akan tampil di panggung nasional.

Namun, bagi Yota, nilai penting drum band tidak berhenti pada prestasi dan medali. Ia berharap kegiatan ini menjadi wadah positif bagi anak-anak muda untuk mengembangkan minat, memperluas pergaulan, mempererat silaturahmi, serta menjauhkan diri dari berbagai aktivitas yang tidak bermanfaat. Di tengah tantangan era globalisasi, kegiatan olahraga dan seni dinilai memiliki peran penting dalam mengarahkan energi generasi muda ke kegiatan yang produktif.

“Seleksi ini tidak hanya untuk menjadi pemain Kejurnas, tetapi bagaimana ananda bisa mencintai drum band untuk bisa menjadi motivasi serta dapat menjauhi kegiatan yang tidak baik,” ujar Yota Balad. Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari atlet pilihan Sumatera Barat merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga nama baik daerah.

Kepada seluruh peserta, Yota berpesan agar mengikuti seleksi dengan penuh semangat dan menampilkan kemampuan terbaik. Mereka yang berhasil lolos diharapkan mempersiapkan diri secara maksimal menghadapi Kejurnas. Sementara peserta yang belum mendapatkan kesempatan diminta tidak berkecil hati, sebab peluang untuk berkembang dan mengikuti berbagai kompetisi masih terbuka pada tahun-tahun berikutnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Hartati, menjelaskan bahwa seleksi tersebut diikuti perwakilan Pengurus Cabang (Pengcab) PDBI dari tujuh daerah, yakni Kota Pariaman, Kota Padang, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Solok. Sebanyak 105 peserta bersaing menunjukkan kapasitas terbaik mereka untuk mendapatkan tempat dalam tim yang akan mewakili Sumatera Barat.

Pada akhirnya, seleksi di GOR Rajo Bujang bukan hanya tentang siapa yang memperoleh tiket menuju Bandung. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang pembinaan atlet drum band Sumatera Barat: menumbuhkan keberanian, mengasah kedisiplinan, membangun kekompakan, dan menanamkan kecintaan terhadap kegiatan positif. Dari Pariaman, harapan pun tumbuh agar talenta-talenta muda Sumbar mampu tampil percaya diri, berprestasi, dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Delapan Tahun Vakum, MTQ Pariaman Kembali Bergema! Pariaman Tengah Raih Juara Umum I dengan 254 Poin    
Senin, November 02, 2026

On Senin, November 02, 2026

Delapan Tahun Vakum, MTQ Pariaman Kembali Bergema! Pariaman Tengah Raih Juara Umum I dengan 254 Poin
Kebangkitan syiar Al-Qur’an ini menjadi momentum penting bagi Kota Pariaman dalam memperkuat kehidupan religius masyarakat. (Fotdok: Armaidi). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Setelah delapan tahun tidak terlaksana, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Tingkat Kota Pariaman ke-IX Tahun 2026 akhirnya kembali menggema. Kebangkitan syiar Al-Qur’an ini menjadi momentum penting bagi Kota Pariaman dalam memperkuat kehidupan religius masyarakat. Penyelenggaraan yang berlangsung selama tiga hari, 30 Oktober hingga 1 November 2026, resmi ditutup Wali Kota Pariaman, Yota Balad, di halaman Balaikota Pariaman, Minggu malam (1/11/2026).

Kembalinya MTQ tingkat kota setelah delapan tahun vakum bukan sekadar menghadirkan kembali perlombaan keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan generasi Qurani, penguatan nilai-nilai Islam, sekaligus upaya menghidupkan kembali tradisi syiar Al-Qur’an di tengah masyarakat Kota Pariaman.

Pada MTQ ke-IX ini, Kecamatan Pariaman Tengah berhasil mencuri perhatian dengan merebut gelar Juara Umum I setelah mengumpulkan 254 poin. Prestasi tersebut menempatkan Pariaman Tengah di posisi teratas dalam persaingan antarkecamatan, sekaligus menjadi bukti keberhasilan para peserta dan pembinaan kafilah yang telah dilakukan.

Sementara itu, Juara Umum II diraih Kecamatan Pariaman Timur dengan 151 poin. Posisi Juara Umum III ditempati Kecamatan Pariaman Utara dengan 146 poin, disusul Kecamatan Pariaman Selatan di peringkat keempat dengan raihan 145 poin. Hasil ini mencerminkan partisipasi dan semangat seluruh kecamatan dalam menyemarakkan MTQ Kota Pariaman 2026.

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, dewan hakim, kafilah, serta masyarakat yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan MTQ tersebut. Ia menilai keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan kehidupan keagamaan di Kota Pariaman.

Menurut Yota Balad, esensi MTQ tidak boleh berhenti pada perebutan piala, gelar juara, ataupun kebanggaan atas prestasi peserta. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an mampu meresap dalam hati, membentuk karakter, serta diwujudkan melalui perilaku dan kehidupan sehari-hari.

“Selama tiga hari, 30 Oktober sampai 1 November 2026, kita telah menyemarakkan kalam ilahi dari para peserta MTQ di beberapa tempat yang telah ditentukan. Semoga syiar Islam yang telah delapan tahun tidak kita laksanakan ini, pada tiga hari kemarin, dapat kita laksanakan dengan baik dan sukses,” ujar Yota Balad.

Ia menegaskan, pelaksanaan MTQ ke-IX merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Pariaman dalam menyukseskan program unggulan Pariaman RISALAH, yakni Beriman, Saleh, dan Berakhlak. Melalui program tersebut, pembangunan daerah tidak hanya diarahkan pada kemajuan fisik, tetapi juga penguatan keimanan, pembentukan karakter, dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Berakhirnya MTQ Kota Pariaman 2026 diharapkan tidak menjadi akhir dari semarak syiar Al-Qur’an. Sebaliknya, keberhasilan menghidupkan kembali kegiatan setelah delapan tahun vakum harus menjadi titik awal pembinaan yang berkelanjutan, sehingga lahir semakin banyak generasi Qurani yang mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan membawa semangat Pariaman RISALAH dalam kehidupan bermasyarakat. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU