HWK Sumbar Tebar Kepedulian di Panti Asuhan Al-Falah, Zusneli Zubir Bawa Bantuan Sembako Sekaligus Edukasi Adat Minangkabau
On Minggu, Oktober 18, 2026
| Dipimpin Ketua HWK Sumbar, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum., kegiatan bertema “Cinta Tanpa Batas, Kasih Tanpa Syarat – HWK Sumbar Peduli Anak Bangsa” ini menghadirkan bantuan kebutuhan pokok sekaligus edukasi tentang warisan adat Minangkabau. (Fotdok: M. Fadli). |
Bukan sekadar menyerahkan sembako, HWK Sumbar juga membawa pesan penting tentang identitas dan masa depan generasi muda. Dalam kunjungan tersebut, rombongan menyerahkan bahan makanan dan sejumlah kebutuhan bagi anak-anak panti. Namun, perhatian tidak berhenti pada bantuan materi. Zusneli turut menyampaikan edukasi mengenai sako dan pusako agar para santriwati mengenal nilai-nilai adat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Zusneli menjelaskan, anjangsana ke lembaga sosial merupakan agenda tahunan HWK Sumbar sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat. Organisasi ini juga rutin membuka Toko Amal setiap bulan Ramadan dan menyalurkan bantuan kepada berbagai lembaga sosial di Sumatera Barat. Konsistensi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga semangat berbagi sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama.
“Hari ini kami datang membawa sembako, bahan makanan, dan beberapa kebutuhan lain untuk anak-anak. Selain itu, kami juga ingin berbagi ilmu tentang sako dan pusako, warisan nenek moyang kita di Minangkabau yang sejalan dengan ajaran agama,” ujar Zusneli di hadapan anak-anak panti dan pengurus yayasan. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dengan pendidikan budaya dan pembentukan karakter.
Sako dan pusako menjadi materi penting karena keduanya menyimpan nilai sejarah, identitas, dan tanggung jawab dalam adat Minangkabau. Sako merujuk pada warisan nonmaterial, seperti gelar pusaka kaum, sedangkan pusako mencakup harta warisan kaum, seperti tanah ulayat, sawah, ladang, dan rumah gadang. Dalam sistem adat Minangkabau, pewarisan pusaka mengikuti garis ibu, dengan perempuan memegang peran penting dalam keberlanjutan garis keturunan dan penjagaan harta pusaka kaum.
Edukasi tersebut juga dikaitkan dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Falsafah ini menegaskan hubungan antara adat Minangkabau dan ajaran Islam, dengan syariat berpedoman pada Al-Qur’an. Melalui pengenalan nilai tersebut, HWK Sumbar berharap anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang adat, tetapi juga memahami pentingnya menjaga nilai agama, menghormati keluarga, dan merawat warisan budaya secara bertanggung jawab.
Perempuan juga memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan adat Minangkabau. Filosofi bundo kanduang, yang dikenal melalui ungkapan limpapeh rumah nan gadang, menggambarkan peran perempuan dalam keluarga dan kehidupan adat. Bagi para santriwati Madrasah Aliyah Al-Falah, pemahaman ini menjadi bekal untuk mengenali identitas budaya mereka sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dalam menatap masa depan.
Setelah penyampaian materi, pengurus HWK menyerahkan bantuan secara simbolis kepada pengelola Yayasan Syirkah Al-Falah. Rombongan kemudian berbincang dengan para santriwati, memberikan nasihat, serta menyemangati mereka agar terus tekun menempuh pendidikan dan berani merancang masa depan. Kehadiran para pengurus diharapkan menghadirkan dukungan moral sekaligus memperkuat hubungan silaturahmi dengan keluarga besar panti asuhan.
Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut dihadiri Ketua HWK Sumbar Zusneli Zubir, Sekretaris HWK Sumbar Dr. (Cand) Rita Novita, M.Hum., serta sejumlah pengurus, termasuk Yeni Zafitri, Marniyeti, S.Pd., Suharti, S.Pd., Yuliswarti, S.Pd., Rina, Basnurida, Yusnidar, Dra. Dian Anggraini, M.Pd., Dra. Witra Dewi, M.Pd., AKBP Nuraida, dan Dra. Zahara Yunus. Melalui kegiatan ini, HWK Sumbar berharap kepedulian sosial terus tumbuh, pendidikan anak-anak semakin kuat, dan warisan budaya Minangkabau tetap dikenal serta dijaga oleh generasi penerus.
Dilaporkan Muhammad Fadhli
Editor: Zamri Yahya, WU