ADVERTORIAL

Iklan

DPRD Kota Padang Gelar Rapat Paripurna, Wako Hendri Septa Sampaikan RAPBD 2022 Pendapatan Daerah Diperkirakan Rp2,597 Triliun

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang menggar Rapat Paripurna dengan agenda penyampaian. ...

Headline

Opini

PADANG

Sports

Iklan Irwan Basir
JK Sebut Kriminalisasi Ulama Kembali Marak, Refrizal PKS Klaim Sudah Berlangsung 5 Tahun: PKI Waspadalah!
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), yakni JK alias Jusuf Kalla baru-baru ini mengungkapkan keresahannya terkait kriminalisasi ulama.

Nah, menurut mantan Wakil Peesiden Republik Indonesia itu, sekarang kriminalisasi ulama kembali marak.

Adapun pernyataan JK itu ia sampaikan saat mengecam keras aksi pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar.

Sebagai informasi, pembakaran masjid di Makassar itu dilakukan oleh pria berinisial KB (22) pada Sabtu dini hari kemarin, 25 September, 2021 sekitar pukul 01.30 WITA.

Untuk itu, JK alias Jusuf Kalla lantas meminta masyarakat, khususnya warga Makassar, agar tidak terprovokasi.

Nah, menanggapi pernyataan mantan Wakil Presiden RI tersebut, politisi PKS, yakni Refrizal akhirnya buka suara.

Adapun hal itu ia sampaikan melalui media sosial Twitter-nya @refrizalskb pada hari Minggu ini, 26 September 2021.

Dalam cuitannya, ia tampak heran dan bertanya apakah JK baru menyadari kriminalisasi ulama ini, padahal menurutnya sudah berlangsung selama lima tahun.

“Pak JK.. Kriminalisasi Ulama & Habaib telah berlangsung sekitar 5 tahun, untung bapak baru mwnyadarinya?” tulisnya, dikutip terkini.id via Twitter.

Kendati demikian, Refrizal tetap berterima kasih atas perhatian JK dan meminta masyarakat mewaspadai G30S PKI.

“Terima kasih pak Jk. G30S/PKI WASPADALAH..!!!” tandasnya. (makassar.terkini)

Prof Bagir Manan: Kalau Kita Benar-benar Pancasila, Dengan Sendirinya Komunis Itu Mati
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Satu ideologi yang pernah eksis dalam bentuk partai politik, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah sirna alias tidak lagi eksis.

Namun, kewaspadaan terhadap lahirnya bibit paham tersebut masih harus ditumbuhkan masyarakat.

Begitu intisari dari pemaparan mantan Ketua Mahkamah Agung (MA), Prof. Bagir Manan, dalam diskusi virtual Forum Diskusi Guru Besar dan Doctor Insan Cita, bertemakan TNI vs PKI, Minggu malam, 26 September 2021.

Mulanya, dia memaparkan bahwa sejak PKI dibubarkan pada tahun 1966, gerakan komunisme secara politik bisa dibilang tidak lagi mawujud. Sehingga, tidak tepat jika ada anggapan PKI masih bergerak di tanah air.

"Kita mestinya tidak lagi melihat kasus PKI itu dalam arti PKI dalam kekuatan politik, karena paling tidak secara hukum sebagai kekuatan politik PKI tidak ada," ucap Bagir, dilansir dari RMOL.

Tetapi, Bagir sepaat dengan apa yang dijelaskan nara sumber lainnya dalam diskusi ini, yaitu mantan Panglima TNI, Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo. 

Di mana, disampaikan bahwa jika yang dimaksud PKI adalah berwujud paham komunisme atau marxisme, maka sudah barang tenut harus diwaspadai masyarakat.

Karena menurutnya, komunisme adalah sebuah paham yang menunjukkan suatu hal yang tidak wajar, dan tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang umum di tatanan kehidupan manusia atau keluar dari tatanan kehidupan bangsa Indonesia khususnya.

Sehingga, Bagir memberikan penegasan soal eksistensi PKI yang sebenarnya adalah paham komunis, yang dalam praktik politiknya di banyak negara sudah tidak lagi murni digunakan. 

Tapi justru, pikiran-pikiran manusia yang membuat seolah-olah komunis masih eksis hingga hari ini.

"Kita harus berani bertanya apakah kehidupan komunisme itu di tanah air kita tidak datang dari kita yang anti komunis itu? Yaitu, kita mengklaim diri sebagai anti komunis tapi tingkah lakunya adalah tingkah laku yang memberi nafas kepada komunisme itu sendiri," tuturnya.

Dari situ, mantan Ketua Dewan Pers ini meminta masyarakat untuk tidak begitu khawatir dengan isu komunisme, marxisme atau bahkan PKI. 

Karena pada dasarnya, menurut dia Indonesia sudah memiliki Pancasila yang sudah barang tentu berbeda dengan akar pemikiran ideologi kiri tersebut.

"Kita mempunyai Pancasila, sudah jelas Pancasila itu baik ditinjau dari sisi marxisme maupun komunisme itu tidak ada yang cocok," kata Bagir.

"Meskinya kalau kita ini benar-benar Pancasila tidak ada masalah itu, dengan sendirinya komunisme itu sudah mati sendiri," tandasnya. (*)

Desak Kirim Densus 88 ke Papua, Tofa: Siapa Tahu Sutradara Kekejaman Kaki Tangan Ali Khalora?
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Satu anggota Brimob kembali tewas ditembak KKB. Politikus Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya ikut mencuit kesal dan mempertanyakan mengapa Densus 88 tak diterjunkan.

“Tumbang terus.....hayo Densus 88 segera ke Papua! Siapa tahu sutradara kekejaman ini adalah kaki tangan Ali Khalora?” kata Mustofa Nahrawardaya, Minggu 26 September 2021.

Melansir Netralnews, kontak tembak antara TNI/Polri dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok, Kabupaten Bintan, Papua kembali terjadi, Minggu (26/9) pukul 04.50 WIT. 

Bahkan, satu polisi dipastikan gugur dalam peristiwa itu.

Kontak tembak dilepaskan oleh KKB Ngalum Kupel Pimpinan Lamek Alipki Taplo terhadap personel TNI/Polri yang berada di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Dalam insiden tersebut, satu personel Polri, Bharada Muhammad Kurniadi, gugur sekitar pukul 05.45 WIT, karena tekena tembakan pada bagian sisi ketiak kanan.

"Memang benar ada anggota yang meninggal dalam baku tembak dengan KKB di Kiwirok, namun saya masih menunggu laporan lengkapnya," kata Kepala Polres Pegunungan Bintang, AKBP Cahyo Sukarnito, kepada ANTARA, Minggu pagi. (*)

8 Fakta Tentang Ayu Kartika Dewi, Stafsus Milenial dengan Segudang Prestasi
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Presiden Joko Widodo memiliki 7 orang Staf Khusus dari generasi milenial. Salah satunya adalah Ayu Kartika Dewi. Sebelum menjabat sebagai stafsus, Ayu telah melalui perjalanan panjang dalam kariernya. 

Ayu Kartika Dewi sendiri dikenal sebagai sosok yang selalu mengampanyekan nilai toleransi dan keberagaman. Hal itu pula lah yang turut mengantarkannya menjadi salah satu staf khusus kepresidenan.

Berikut ini 5 fakta tentang Ayu Kartika Dewi yang perlu kamu ketahui:

Memiliki Karier Cemerlang 

Ayu Kartika Dewi merupakan lulusan pascasarjana Duke University Fuqua School of Business, Amerika. Ia bisa bersekolah di sana berkat mendapatkan beasiswa Keller Scholarship dan Fulbright Scholarship. 

Saat usianya 27 tahun, Ayu sudah merasakan karier yang cemerlang. Ia menjabat sebagai Manajer Consumer Knowledge Procter and Gamble (P&G) cabang Singapura.

Tak hanya itu saja, selain pernah menjabat sebagai Consumer Insight Manager di P&G, Ayu juga pernah bekerja di perusahaan McKinsey & Co.

Mengabdi Lewat Indonesia Mengajar

Ayu Kartika Dewi merupakan jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga yang berkomitmen tinggi dalam mengedepankan  nilai toleransi serta dan keberagaman di seluruh penjuru negeri. 

Dalam kiprahnya, ia terjun bersama Indonesia Mengajar ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Pada 2010 silam, ia sempat mengajar di salah satu sekolah yang terletak di Desa Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara. 

Saat berada di desa itu, rupanya daerah tersebut tengah mengalami permasalahan sosial. Akibat ya anak-anak di desa tempat ia tinggal banyak yang mengalami trauma. Hal ini lantaran terjadinya kerusuhan antar kelompok beragama yang terjadi di Ambon pada 1999 silam.

Ketakutan tentu masih membayangi para anak didiknya di desa tersebut. Namun, sebagai pengajar, Ayu tak ingin patah semangat. Hal itu justru menjadikannya lebih kuat untuk menjalankan visi misinya mendidik anak-anak di desa itu. 

Pencetus Program SabangMerauke

Kepeduliannya yang sangat besar terhadap isu toleransi dan keberagaman, akhirnya membuat Ayu Kartika Dewi mencetuskan organisasi SabangMerauke atau Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali, tepatnya pada tahun 2010.

Organisasi yang dipimpinnya itu bertugas  menyelenggarakan program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia. Ayu menginisiasi  organisasi ini setelah merasakan pengalaman menjadi guru SD di salah satu daerah terpencil, di Maluku Utara. Kini Ayu menjabat sebagai mentor pada  Board of Directors SabangMerauke.

Program yang satu ini menjadi salah satu upaya Ayu untuk menanamkan nilai toleransi, keberagaman, dan ilmu pengetahuan antar-pelajar di Indonesia.

Adapun pesertanya sendiri merupakan para  pelajar tingkat SMP. Pelajar-pelajar tersebut nantinya akan ditugaskan untuk menyatu bersama keluarga dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda.

Mendirikan Milenial Islami

Selain mencetuskan program SabangMerauke, Ayu Kartika Dewi juga mendirikan Milenial Islami. Apakah itu? Sebuah komunitas yang memanfaatkan media sosial untuk membahas isu tentang Islam yang moderat.

Para anggotanya terdiri dari anak milenial yang mana turut terjun ke lapangan. Mereka lalu mendatangi berbagai universitas di seluruh penjuru Indonesia. 

Memiliki Kepedulian yang Tinggi akan Pendidikan 

Mencetuskan berbagai program pendidikan untuk anak-anak terpencil, kiranya sudah membuktikan jika Ayu Kartika Dewi sangat peduli akan hal tersebut. Menurutnya, isu sosial memang kerap jadi implikasi terjadinya ketimpangan pendidikan di negeri ini.

Oleh sebab itu, melalui SabangMerauke dan Milenial Islami, ia ingin bisa mencetak generasi yang mampu berpikir kritis dan saling menghargai satu sama lain.

Pernah Menjadi Staf di Unit Kerja Presiden

Sebelum menjadi salah satu Staf Khusus Kepresidenan, Ayu Kartika Dewi pernah lebih dulu menjadi staf di Unit Kerja Presiden (UKP4).

Menjadi Direktur Pelaksana 

Selain berkiprah di beberapa organisasi, Ayu Kartika Dewi juga merupakan Direktur Pelaksana Indika Foundation. Indika Foundation sendiri merupakan yayasan yang berfokus untuk menciptakan dampak dalam pendidikan, perdamaian, dan pembangunan karakter.

Peduli akan Nilai Toleransi 

Peduli dengan pendidikan anak-anak di daerah terpencil, perempuan lulusan pascasarjana Duke University, Amerika Serikat ini diketahui sudah mengirimkan ribuan pelajar ke berbagai daerah, agar mereka bisa merajut nilai keberagaman dan toleransi. (Melati Suksma – Junior Communication Kinanti Comms)

JK Kecam Keras Pembakaran Mimbar Masjid Raya Makassar, Musni Umar: Komunis Sedang Bangkit
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM – Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar turut menyoroti kecaman keras yang disampaikan Jusuf Kalla (JK) atas insiden pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar.

“Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia yang juga Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Muhammad Jusuf Kalla (JK) mengecam keras pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar,” ujarnya melalui kanal YouTube Musni Umar Channel, seperti dikutip Galamedia, Minggu, 26 September 2021.

Walaupun begitu, menurutnya, JK telah mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan kejadian tersebut.

“Dia (JK) meminta masyarakat agar tetap tenang tidak terprovokasi atas kejadian tersebut,” ungkapnya.

Selain insiden pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar, masyarakat Indonesia juga sempat digegerkan dengan insiden penikaman ustadz hingga penistaan agama Islam.

“Selain pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar, banyak ulama dan ustadz yang dicederai yang ditikam pada saat ceramah, bahkan ada yang meninggal,” kata Musni.

“Tidak hanya itu, penistaan juga ramai sekali terjadi. Bahkan, agama Islam berani dinista dan itu yang sedang dialami oleh Muhammad Kece,” sambung dia.

Meskipun Muhammad Kece sudah ditangkap, ia merasa heran dengan sejumlah penista agama yang belum ditangkap hingga saat ini.

“Bahkan, ada juga orang yang menista itu tidak diapa-apakan karena diduga mendukung mereka yang sedang berkuasa ini,” imbuhnya.

Terlepas dari itu semua, Musni Umar menduga kejadian-kejadian itu sebagai tanda-tanda kebangkitan komunis.

“Pentanyaannya kenapa semua ini bisa terjadi? Dugaan pertama, komunis ini sedang bangkit,” ungkap Musni Umar.

“Pengalaman di masa dahulu, ketika komunis bangkit, mereka menciptakan adu domba di masyarakat. Selain itu, komunis juga menciptakan hubungan yang tidak baik antara umat Islam dengan pemerintah,” pungkasnya. (Galamedia)

Ironis! Sandiaga Uno Disebut Pemimpin Digital, Tapi Kok Elektabilitas Digitalnya “Loyo”
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Manuver Sandiaga Uno di media sosial tampaknya mulai membuahkan hasil. Baru-baru ini, Sandi sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) menjadi salah satu Menteri Terpopuler di Media Digital 2021.

Aktivitas digital Sandiaga Uno memang telah dimulai jauh-jauh hari. Dia juga aktif di berbagai platform media sosial. Lewat Sandi Uno TV, dia tampil dengan konten yang banyak mengikuti era saat ini, salah satunya Podcast.

Pembahasannya pun tak melulu soal bisnis, tapi juga kadang mengangkat isu yang belakangan hangat muncul di masyarakat. Namun konten podcast ini belakangan tak lagi muncul sejak Sandiaga menjabat Menteri.

Namun, tak semua unggahannya mendapat respon positif. Ada kalanya, unggahan Menparekraf ini justru menuai kontra, bahkan dianggap pencitraan semata. 

Contoh saja pada Januari 2021 lalu, dia pernah menyebut anggota Komisi X DPR RI mayoritas tidur, sehingga tidak mengikutinya berolahraga dan melihat UMKM di GBK.

Unggahan tersebut pun akhirnya dihapus karena menuai banyak kritik yang salah satunya datang dari pengamat politik Ujang Komaruddin. Ujang bahkan mengatakan agar Sandiaga Uno tidak sibuk melulu dengan media sosialnya.

Dia pun menilai manuver Sandi itu tak lebih dari politik pencitraan. Dalam perspektif kinerja, Ujang menganggap hal itu bisa berbahaya bagi kemitraan Sandi dengan DPR RI. 

Ujang mengatakan, politik pencitraan memang bisa berbahaya dan bisa menyinggung banyak orang. Apalagi ketika sudah dianggap mem-framing negatif pihak lain.

Tak hanya itu, Ujang mengimbau Sandi dan para legislator menghargai kerja masing-masing saja. “Sandi jangan offside dengan kerjanya. Dan DPR juga tak perlu baperan,” kata dia. 

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu menganggap Sandi memang terbiasa aktif di media sosial. Perlu ada pihak yang mengingatkan bahwa Sandi saat ini merupakan pejabat negara, bukan masyarakat sipil biasa. 

Ujang melihat, mungkin kegemaran Sandi show up di media sosial menjadi alasan unggahannya tersebut. Namun, lanjut dia, postingan terkait ajakan olahraga untuk Komisi X itu ‘offside’.

Sepak terjang di medsos

Sosok Sandiaga Uno mulai naik ketika dia maju sebagai kandidat calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, berpasangan dengan Anies Baswedan pada Pilkada 2017. Aktivitas medsosnya pun naik pesat.

Terlebih lagi, sosoknya makin jadi perbincangan hangat setelah tak lama menjabat Wagub DKI, Sandi mundur dari jabatannya dan memilih ikut dalam kontestasi Pilpres 2019.

Kala itu, media sosial penuh dengan lontaran kekecewaan dari warga net, terutama penduduk DKI Jakarta yang merasa “ditinggalkan” akibat ambisinya menjabat di jabatan skala nasional. Dia pun dinilai tak dapat menyelesaikan amanat yang diembannya sebagai wagub terlebih dahulu.

Lalu setelah kalah di Pilpres 2019, Sandi memutuskan memanfaatkan kekosongan jabatan untuk meningkatkan popularitasnya hingga kemudian dia dipilih menjadi Menparekraf oleh Jokowi.

Sandi pun semakin akrab dengan netizen dan para pengikutnya dengan mengunggah beragam aktivitasnya sebagai Menparekraf. Jumlah pengikutnya cukup banyak dan unggul dibanding tokoh-tokoh politik lain yang lebih “senior” seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Puan Maharani, atau Ganjar Pranowo.

Per 26 September 2021, pengikut akun Instagram @sandiuno bahkan sudah mencapai 8 juta, dengan jumlah unggahan mencapai lebih dari 7.000. Angka ini termasuk fantastis ketimbang Anies dengan pengikut berjumlah 5,2 juta dengan 3.582 unggahan.

Lebih jauh lagi jika dibandingkan dengan Puan Maharani yang baru mengunggah 662 kali di akun Instagram @puanmaharaniri, dengan jumlah pengikut 558 ribu. Berbeda dengan tokoh lain, Puan memang tak terlalu aktif bermedsos.

Elektabilitas digital

Fenomena pencitraan tokoh politik di media sosial, menurut Peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Adjie Al Faraby, telah menjadi hal yang wajar. Dia menilai penggunaan medium media sosial dalam pemilihan akan sangat krusial.

Kandidat yang menggunakan medsos dengan baik, lanjut Adjie, memang punya kans untuk diketahui publik secara luas dan punya peluang membuat publik tahu apa yang mereka kerjakan.

Nama Sandiaga sendiri masuk bursa calon presiden di sejumlah hasil sigi lembaga survei. Meski demikian, namanya justru menempati urutan bawah dalam elektabilitas digital.

Elektabilitas digital dari Drone Emprit baru-baru ini menempatkan Sandi di urutan keenam, kalah jauh dengan Puan Maharani di urutan kedua dan AHY di urutan ketiga. 

Penulis: Nirmala, Anggota Perempuan Indonesia Satu.

Sindir Ade Armando, Geisz Chalifah: Dosen Berstatus Tersangka Bermental Pecundang
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial, Geisz Chalifah melontarkan sindiran kepada dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando.

Melansir makassar.terkini.id, Geisz Chalifah mengatakan bahwa Ade Armando adalah dosen yang berstastus tersangka bermental pecundang.

Ia mengatakan itu karena menurutnya, Ade Armando hanya berani menyampaikan narasi secara monolog, bukan dengan dialog atau debat.

“Sesama Pecundang saling memberi dukungan dan tentu saja hanya bermodal monolog, yang dilakukan Ade Armando dosen berstatus tersangka bermental pecundang,” katanya melalui akun Twitter GeiszChalifah pada Sabtu, 25 September 2021.

“Berkali-kali dia juga hanya beraninya monolog. Ngomong sendiri, viralkan sendiri, gila sendiri,” sambung Komisari Ancol itu.

Geisz Chalifah membagikan pernyataannya itu bersama video perdebatannya dengan Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Dalam acara Dua Sisi TV One itu, Geisz dan Jubir PSI sedang memperdebatkan pernyataan Plt Ketua Umum PSI, Giring Ganesha yang menyebut Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebagai pembohong.

Geisz menanyakan apakah Giring tidak diundang ke acara itu sebab ia sendiri diundang untuk berhadapan dengan Plt Ketua PSI tersebut.

Host lalu menjawab bahwa pihaknya telah mengundang Giring Ganesha, namun pihak PSI mengutus Jubir mereka.

Geisz lalu menyinggung bahwa seseorang seharusnya mempertanggungjawabkan apa yang telah ia katakan.

“Jadilah petarung, jangan jadi pecundang,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah video monolog, Giring menyebut Anies pembohong karena berpura-pura peduli kepada rakyat.

Pasalnya, ia menilai bahwa Anies justru menggunakan uang sebesar Rp1 triliun untung kepentingan penyelenggaraan Formula E di tengah pandemi.

Giring lantas juga mengatakan bahwa jangan sampai Indonesia jatuh di tangan pembohong seperti Anies. (*)

JK Sebut Kriminalisasi Ulama Meningkat, Mahfud Beri Koreksi: Yang Ada Ustaz Jadi Korban
Senin, September 27, 2021

On Senin, September 27, 2021

BENTENGSUMBAR.COM - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) menyatakan bahwa kriminalisasi ulama meningkat akhir-akhir ini. 

Ia meminta kepada pengurus masjid untuk meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan kepada pihak yang berwenang apabila meilhat tindakan yang mencurigan. 

Hal tersebut, JK sampaikan menanggapi insiden pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md menyatakan bahwa istilah kriminalisasi ulama yang berkembang di masyarakat salah kaprah. 

Ia lantas menjelaskan arti kriminailsasi ulama yang benar.

"Ada yang mengatakan ini merupakan gejala meningkatnya kriminalisasi terhadap ulama atau ustaz. Istilah kriminalisasi ini salah. Kalau kriminalisasi terhadap ulama atau ustaz, itu berarti ulama atau ustaz tidak melakukan kegiatan apa-apa lalu dituduh melakukan tindak kriminal. Itu namanya kriminalisasi," kata Mahfud, Minggu, 26 September 2021, dilansir dari Jitunews.

Mahfud mengatakan bahwa fenomena yang terjadi beberapa waktu terakhir adalah ulama atau ustaz yang menjadi korban kriminalisasi.

"Yang terjadi belakangan ini justru orang yang disebut ustaz atau tokoh atau tempat ibadah itu menjadi korban dari sebuah kegiatan kriminal yang nyata," ujarnya.

Lebih lanjut, Mahfud meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan kriminalisasi terhadap ulama. Ia meminta masyarakat menyikapi hal tersebut dengan kepada dingin.

"Oleh sebab itu kita semua harus hati-hati, aparat hati-hati, masyarakat hati-hati jangan terprovokasi. Kita ini harus menjadi keutuhan dan kedamaian di negara ini," ucapnya. (*)