HEADLINE
Lepas Mahasiswa PPL STAI-PIQ, Wawako Maigus Nasir: Jadilah Teladan Karakter di Tengah Masyarakat    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Lepas Mahasiswa PPL STAI-PIQ, Wawako Maigus Nasir: Jadilah Teladan Karakter di Tengah Masyarakat
Sebanyak 98 mahasiswa program studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) resmi dilepas untuk mengabdi di berbagai sekolah di Kota Padang.

BENTENGSUMBAR.COM
– Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir menghadiri acara Pelepasan Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (STAI-PIQ) Sumatera Barat di Aula Kampus, Sawahan, Senin (12/01/2026).

Sebanyak 98 mahasiswa program studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) resmi dilepas untuk mengabdi di berbagai sekolah di Kota Padang.

Dalam arahannya, Wawako Maigus Nasir menekankan bahwa PPL bukan sekadar pemenuhan kurikulum akademik, melainkan momentum bagi mahasiswa untuk mempraktikkan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman dan budaya Minangkabau.

"Mahasiswa harus menjadi cerminan karakter yang baik di sekolah tempat bertugas. Di tengah tantangan global, masyarakat merindukan sosok pendidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi memiliki integritas, keikhlasan, dan semangat pengabdian yang tinggi," ujar Maigus Nasir saat memberikan motivasi kepada para mahasiswa.

Lebih lanjut, Maigus Nasir yang juga memiliki latar belakang sebagai pendidik berharap agar para mahasiswa mampu mengambil peran strategis sebagai agen perubahan. 

"PPL ini adalah wadah dakwah sekaligus pembelajaran nyata. Saya berharap mahasiswa berani bermimpi besar dan bekerja keras untuk berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan masyarakat," tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua STAI-PIQ Sumbar, Dr. Linda Suanti, M.A., menjelaskan bahwa para mahasiswa akan tersebar di berbagai satuan pendidikan di Kota Padang untuk tahun akademik 2025–2026. 

Ia menekankan pentingnya pembentukan karakter mahasiswa selama masa praktik berlangsung.

"Program PPL ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai kompetensi mengajar, tetapi juga membentuk karakter dan keikhlasan dalam berdakwah. Kami ingin melahirkan generasi yang kompeten, berintegritas, dan mampu menjalankan amanah di tengah masyarakat dengan baik," jelas Linda. (Zahra/Taufik)

Taman Rimbo Kaluang dan Aliran Kenangan Jadi Oase Hijau Warga Padang    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Taman Rimbo Kaluang dan Aliran Kenangan Jadi Oase Hijau Warga Padang
Fasilitas publik ini dirancang untuk menjadi area rekreasi yang asri dan sejuk di tengah lingkungan perkotaan.

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) resmi mengoperasikan dua ruang terbuka hijau baru bagi warga kota. Fasilitas publik ini dirancang untuk menjadi area rekreasi yang asri dan sejuk di tengah lingkungan perkotaan.

Dua taman yang mulai beroperasi sejak 1 Januari 2026 tersebut adalah Taman Rimbo Kaluang di Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, serta Taman Aliran Kenangan yang terletak di Jalan Sultan Syahril, Kecamatan Padang Selatan. Pembangunan ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam pembenahan estetika dan kualitas lingkungan di Kota Padang.

Kepala Bidang Pertamanan (P2LH) DLH Kota Padang, Chandra, menjelaskan bahwa kualitas pembangunan taman kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Taman Rimbo Kaluang memiliki luas sebesar 1.645 m². Sementara itu, Taman Aliran Kenangan di wilayah Padang Utara memiliki area yang lebih luas mencapai 2.600 m². Keduanya dirancang untuk memberikan kenyamanan dan oase hijau maksimal bagi setiap pengunjung.

Chandra menekankan terkait pentingnya menjaga kebersihan di area publik agar dapat dinikmati seluruh warga.
"Kalau taman kita sudah terawat dengan bagus, pengunjung akan lebih banyak lagi yang ke taman kita ini, melihat kerapian, keindahan, dan hawa di taman ini oksigennya pun juga enak juga kita nikmati," kata Chandra, Senin (12/1/2026). 

Untuk memastikan kenyamanan tersebut, DLH telah menyiagakan petugas kebersihan yang bekerja secara intensif setiap harinya. Chandra menegaskan bahwa kebersihan adalah prioritas utama sesuai instruksi pimpinan. "Jadi memang kami itu perintah dari pimpinan, harus kita jaga semaksimal mungkin taman ini supaya lebih indah lagi ke depannya," tegasnya.

Pengelolaan kebersihan dilakukan melalui pembagian tiga shift kerja guna menjamin area tetap bersih sepanjang hari. Anggota kebersihan disiagakan sejak pagi hingga malam hari demi menjaga keindahan taman secara berkelanjutan.

Waktu penugasan dimulai dari pukul 06.00 hingga 14.00 WIB untuk shift pertama, disusul shift kedua hingga pukul 19.00 WIB. Kemudian diakhiri oleh shift ketiga yang bertugas hingga pukul 22.00 WIB malam. "Dengan sistem ini, kebersihan di Rimbo Kaluang maupun Alai Parak Kopi diharapkan selalu terkontrol," ujarnya. 

Selain fasilitas fisik, Pemko Padang juga menghadirkan kebijakan parkir gratis di kedua taman tersebut. Chandra menyebut hal ini merupakan arahan langsung dari Wali Kota Padang untuk mempermudah masyarakat yang datang berkunjung tanpa harus memikirkan biaya tambahan.

Kerja sama juga telah dijalin dengan Dinas Perhubungan untuk memastikan ketertiban di area parkir. "Arahan juga dari pimpinan kita Pak Walikota untuk tidak ada pungutan parkir di sini. Kan sudah ada beberapa plang yang dipasang sama kawan-kawan Dishub untuk kalau parkir gratis," jelas Chandra.

Chandra pun mengajak masyarakat untuk memiliki rasa tanggung jawab bersama terhadap fasilitas publik yang baru diresmikan ini. "Dengan ada taman kita seindah atau sebagus ini, kami minta dari DLH untuk kita rawat bersama-sama, maupun nanti dari masyarakat yang pengguna, yang pemakai taman kita ini," tutupnya. (Taufik/Wiki/Viqi/Ivan)

UMC–UEF Vietnam Jalin Kemitraan Strategis Akademik Bertaraf Internasional    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

UMC–UEF Vietnam Jalin Kemitraan Strategis Akademik Bertaraf Internasional
Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Ho Chi Minh City University of Economics and Finance (UEF) Vietnam yang  dirangkai dengan Seminar Internasional The 3rd Cirebon Annual Multidisciplinary International Conference (CAMIC) yang diselenggarakan Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), Senin (13/01).

Penandatanganan kerja sama internasional ini menjadi langkah strategis UMC dalam memperluas jejaring global di bidang pendidikan tinggi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kerja sama tersebut membuka peluang kolaborasi akademik yang luas, meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, riset bersama, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan ilmiah berskala internasional. Kesepakatan ini sekaligus menandai komitmen kedua institusi untuk saling memperkuat kapasitas akademik dan daya saing global di kawasan Asia Tenggara.

Rektor UMC, Arif Nurudin, M.T., menegaskan bahwa penandatanganan MoU ini merupakan bagian dari agenda besar internasionalisasi perguruan tinggi Muhammadiyah.

Menurutnya, UMC berkomitmen untuk tidak hanya berkembang di tingkat nasional, tetapi juga aktif berkontribusi dalam ekosistem pendidikan tinggi internasional.

“MoU ini adalah wujud nyata dari internasionalisasi Muhammadiyah. Kami ingin mahasiswa dan dosen UMC memiliki pengalaman global, sekaligus membawa nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan yang menjadi ciri Muhammadiyah ke dunia internasional,” ujar Arif Nurudin yang didampingi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Sistem Informasi UMC, Dr. Badawi, S.E., M.Si., serta Wakil Rektor III, Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd.

Dari pihak UEF, Vice President UEF, Dr. Nhan Cam Tri, hadir secara daring untuk menyaksikan langsung penandatanganan nota kesepahaman tersebut. Kehadiran pimpinan UEF ini dinilai sebagai simbol kuat komitmen UEF dalam membangun kemitraan strategis lintas negara, khususnya dengan UMC, guna memperluas jejaring akademik dan kolaborasi internasional di kawasan Asia Tenggara.

Dalam sambutannya, Dr. Nhan Cam Tri menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama ini. Ia menilai kemitraan antara UEF dan UMC memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan. Menurutnya, tantangan global di dunia pendidikan tinggi saat ini menuntut institusi untuk bersinergi lintas budaya dan lintas disiplin ilmu.

Ruang lingkup kerja sama UMC dan UEF mencakup pertukaran dosen dan peneliti, pertukaran mahasiswa program sarjana dan pascasarjana, serta penyelenggaraan konferensi internasional, seminar, dan workshop bersama.

Selain itu, kedua perguruan tinggi juga sepakat mengembangkan riset dan publikasi ilmiah bersama, pertukaran informasi perpustakaan dan jurnal akademik, serta pelaksanaan program musim panas, magang, dan kegiatan akademik lainnya. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan dan daya saing lulusan kedua institusi di tingkat global. (*)

Hadiri Rakor R3P, Gubernur Sumbar Sambut Mendagri Tito Karnavian di BIM Padang Pariaman    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Hadiri Rakor R3P, Gubernur Sumbar Sambut Mendagri Tito Karnavian di BIM Padang Pariaman
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah beserta jajaran Forkopimda Sumbar. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah beserta jajaran Forkopimda Sumbar menyambut kedatangan Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Bencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian di VVIP Room Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang Pariaman, Senin (12/1/2026).

Kedatangan Mendagri Tito Karnavian dalam rangkaian menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) di Sumbar, pada Selasa (13/1) besok.

"Selamat datang Pak Mendagri dan Ketua Satgas Bencana Sumatera di Ranah Minang," ucap Gubernur Mahyeldi saat menyambut Mendagri di pintu masuk VVIP BIM.

Dalam Rakor besok, Gubernur Mahyeldi berharap dapat menghasilkan langkah-langkah strategis dan terukur dalam mempercepat rehabilitasi serta rekonstruksi wilayah terdampak bencana.

Sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah.

Penyambutan Mendagri tersebut juga di hadiri Sekretaris Daerah, dan Kepala Biro ADPIM Setda Sumbar.

Termasuk beberapa perwakilan dari OPD Lingkup Pemprov Sumbar. (nov/adpsb)

Pemko Solok Serahkan R3P Kepada Sestama BNPB Pusat    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Pemko Solok Serahkan R3P Kepada Sestama BNPB Pusat
Dokumen Rencana Induk dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Kota Solok di serahkan oleh Wali Kota Solok, Dr.H.Ramadhani Kirana Putra dan Wakil Wali Kota Solok, H.Suryadi Nurdal. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Dokumen Rencana Induk dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Kota Solok di serahkan oleh Wali Kota Solok, Dr.H.Ramadhani Kirana Putra dan Wakil Wali Kota Solok, H.Suryadi Nurdal kepada Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, S.Si., Apt., M.Kes,  di Auditorium Gubernuran Provinsi Sumatera Barat, Kamis (08/01/26).

Kegiatan diawali pagi hari dengan pembukaan Rapat Koordinasi Sinergitas Rencana Induk dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten/Kota.  

Ini merupakan tindak lanjut  arahan Presiden Republik Indonesia perihal Percepatan Penanganan Bencana Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor dan Angin Kencang di Sumatera Barat pada Bulan November 2025.

Wakil Wali Kota Solok menyampaikan presentasi mengenai dokumen R3P yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Solok.

Sementara itu, Wawako mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan seluruh pihak yang telah memberikan bantuan ke Kota Solok.

Wawako juga berpesan normalisasi Batang Gawan agar terus dilanjutkan, sehingga nantinya jika turun curah hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan banjir lagi di daerah Aliran Sungai tersebut.

Selanjutnya, Walikota Solok menandatangani dokumen R3P yang kemudian diserahkan langsung kepada Sestama BNPB Pusat. Penyerahan itu turut didampingi, Sekda Kota Solok, Dr.Desmon, Kepala Bapperida Kota Solok, Refendi, Kepala Disperkim LH Kota Solok, Hanif, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, Ade Kurniati, Kalaksa BPBP, Edrizal, Sekretaris Dinas PUPR Kota Solok, Dahwirman.( BO )

“Abu di Atas Tungku”: Poligami dan Kedudukan Laki-laki dalam Adat Minangkabau.    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

“Abu di Atas Tungku”: Poligami dan Kedudukan Laki-laki dalam Adat Minangkabau.
Di sinilah muncul ungkapan adat yang tajam dan penuh makna: "Laki-laki ibarat abu di atas tungku", mudah tercerai, dan dapat tersapu oleh hembusan kecil sekalipun.

DALAM
tafsiran sebagian masyarakat, poligami kerap dipahami sebagai simbol dominasi laki-laki atas perempuan. Namun di Minangkabau, pemahaman itu justru berbalik arah. Di tengah sistem adat yang bersifat matrilineal, poligami tidak menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa, melainkan sebagai figur yang keberadaannya bergantung pada tatanan rumah tangga yang dipimpin perempuan. 

Di sinilah muncul ungkapan adat yang tajam dan penuh makna: "Laki-laki ibarat abu di atas tungku", mudah tercerai, dan dapat tersapu oleh hembusan kecil sekalipun.

Pandangan ini mendapat penegasan menarik dalam kesaksian Mevrouw Datoe Toemenggoeng, seorang perempuan Minangkabau yang pada awal dekade 1950-an berkeliling Eropa dan berbicara tentang kehidupan sosial perempuan di tanah asalnya.

Dalam laporan surat kabar Het Vrije Volk (3 November 1951), ia menguraikan dengan lugas bagaimana perempuan Minangkabau menjadi "INTI KELUARGA", pemegang harta pusaka, pengelola rumah tangga, sekaligus penentu arah kehidupan sosial—sementara laki-laki, termasuk dalam praktik poligami, justru menempati posisi yang secara adat bersifat sekunder.

Dari titik inilah pembahasan tentang poligami, kedudukan laki-laki, dan kepemimpinan perempuan dalam adat Minangkabau perlu dibaca: bukan dengan kacamata moral Barat atau hukum patriarkal modern, melainkan melalui logika adat yang menempatkan perempuan sebagai poros keberlanjutan kaum dan harta pusaka.

"Memoar Mevrouw Datoe Toemenggoeng tentang Perempuan, Poligami, dan Kuasa Adat di Minangkabau (Het Vrije Volk, 3 November 1951)"

Nyonya Datuk Tumenggung berasal dari Minangkabau, di Pantai Barat Sumatra, dan datang ke Eropa dari wilayah yang jauh tersebut. Sebagai seorang penganut Esperanto, ia menghadiri kongres di München, dan selama berada di Eropa ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan berbagai penjelasan di Italia, Jerman, Prancis, dan juga di Belanda mengenai kehidupan dan peranan perempuan Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, ia memperlihatkan foto-foto dirinya, termasuk foto bersama Sukarno, foto rumahnya, serta foto sepasang pengantin Minangkabau. Ia juga menceritakan bagaimana pada tahun 1928 ia memulai perjuangan melawan perdagangan perempuan.

Minangkabau menempati posisi yang sangat khas dalam masyarakat Indonesia. Sejak lama berlaku adat bahwa perempuan merupakan penopang utama tatanan sosial dan keluarga. Laki-laki, dalam konteks ini, tidak lebih dari unsur pelengkap.

Seorang perempuan tidak menyebut suaminya sebagai “suamiku”, melainkan sebagai “ayah dari anak-anakku”.

Seorang laki-laki dapat menikah dengan empat, lima, bahkan enam perempuan. Dengan demikian, terdapat keadaan poligami yang disadari dan diterima, yang oleh Nyonya Datuk Tumenggung dipandang sebagai suatu keuntungan bagi perempuan dan bagi masyarakat. 

Di Minangkabau, perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan disebutkan sekitar satu banding enam.

Tinggal di Rumah Ibu

Seorang laki-laki yang telah menikah tetap tinggal di rumah ibunya. Ia bekerja, tetapi tidak berlebihan, dan di rumah istrinya ia diperlakukan sebagai tamu yang dihormati, dengan segala hak istimewanya. Perempuanlah yang mengelola rumah tangga, termasuk keuangan keluarga dan harta kaum.

Menurut Nyonya Datuk Tumenggung, pengelolaan tersebut tidak dapat diserahkan kepada laki-laki, karena laki-laki cenderung berjudi dan minum-minuman keras, sesuatu yang diupayakan untuk dicegah oleh perempuan.

Seorang perempuan yang tidak menikah dianggap sebagai aib bagi keluarga. Oleh sebab itu, pada masa lalu, para pendatang asing menemukan Minangkabau sebagai ladang yang mudah bagi praktik perdagangan perempuan.

Pada tahun 1928, perjuangan melawan praktik tersebut dimulai dan berhasil membawa perubahan. Upaya penyuluhan menjadi sangat penting, meskipun pada masa itu sekitar 85 persen penduduk masih buta huruf. Kini direncanakan suatu program untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada sekitar lima juta penduduk dalam waktu sepuluh tahun. 

Masyarakat Minangkabau dipandang sebagai masyarakat yang cerdas, dan Nyonya Datuk Tumenggung sendiri menjadi salah satu buktinya. Ia menguasai bahasa Italia, Prancis, Jerman, Belanda, Melayu, dan Esperanto. Banyak perempuan di Sumatra bahkan telah menjadi kepala desa.

Masyarakat perempuan Minangkabau yang menganut sistem matriarkat, sebagai kebalikan dari patriarkat yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa, menunjukkan nilai khususnya selama masa pendudukan Jepang. Pasukan Jepang harus bertindak dengan hati-hati, karena para perempuan mempersenjatai diri dengan pisau-pisau kecil.

Nyonya Datuk Tumenggung menegaskan bahwa perempuan merupakan inti dari masyarakat Minangkabau. Perempuan memilih pasangannya, menjadi kepala keluarga, dan anak-anak berada dalam garis keturunannya. Untuk mendapatkan pasangan yang diinginkan, perempuan rela berkorban; pada masa lalu berupa kerbau, dan pada masa yang lebih kemudian bahkan berupa sepeda motor.

Pintu yang Tertutup

Pertengkaran kasar hampir tidak pernah terjadi antara suami dan istri. Apabila hubungan perkawinan tidak berjalan baik, laki-laki akan mendapati pintu rumah istrinya tertutup. Setelah mengalami hal itu hingga tiga kali, ia akan memahami bahwa dirinya tidak perlu kembali lagi.

Dalam ungkapan perempuan Minangkabau, laki-laki diibaratkan seperti abu di atas tungku; dengan hembusan angin kecil saja, ia akan tersapu pergi.

Apakah perempuan dalam sistem ini merasa bahagia? 

Menurut Nyonya Datuk Tumenggung, jawabannya adalah ya. 

Perempuan sepenuhnya menyadari tanggung jawabnya terhadap kaum dan garis keturunannya. Ia berdiri kokoh dalam hukum adatnya, dan tidak ada bentuk emansipasi modern yang dapat menawarkan sesuatu yang lebih baik sebagai penggantinya.

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan dan banyak orang asing meninggalkan negeri ini, diharapkan perkembangan dapat berlangsung dengan lebih tenang. Mengenai penyesuaian lebih lanjut terhadap pola kehidupan Barat, Nyonya Datuk Tumenggung, setelah berkeliling Eropa, berpendapat bahwa Eropa memang memiliki kekayaan nilai budaya yang besar, tetapi juga banyak hal yang seharusnya tetap dijauhkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

....................

Epilog

Ungkapan “abu di atas tungku” bukanlah hinaan terhadap laki-laki, melainkan peringatan filosofis tentang batas kuasa. Dalam adat Minangkabau, kekuasaan tidak dilekatkan pada jenis kelamin, melainkan pada tanggung jawab terhadap kaum, rumah gadang, dan tanah pusaka. Perempuan memimpin bukan karena ide emansipasi modern, melainkan karena adat menugaskannya sebagai penjaga kesinambungan hidup.

Karena itu, setiap upaya memahami—apalagi menata ulang—adat Minangkabau dengan ukuran administratif, hukum negara, atau moral luar, berisiko mereduksi makna dasar sistem tersebut. Poligami dalam konteks Minangkabau tidak pernah dimaksudkan sebagai legitimasi dominasi laki-laki; sebaliknya, ia justru menegaskan bahwa laki-laki berada dalam posisi yang selalu dapat “diterbangkan angin” jika gagal menempatkan diri dalam tatanan adat.

Kesaksian Mevrouw Datoe Toemenggoeng pada tahun 1951 menunjukkan bahwa jauh sebelum wacana kesetaraan modern mengemuka, masyarakat Minangkabau telah membangun sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai subjek penuh. Di situlah kekuatan adat itu berada: tenang, tidak perlu berteriak, tetapi kokoh—sementara siapa pun yang mencoba berdiri di atasnya tanpa memahami falsafahnya, akan bernasib seperti abu di atas tungku.

............................

Catatan:

Esperanto adalah bahasa internasional buatan yang diciptakan untuk memudahkan komunikasi antarbangsa tanpa memihak bahasa atau bangsa tertentu.

Penjelasan ringkas dan tepatnya sebagai berikut:

- Pengertian

Esperanto diciptakan pada tahun 1887 oleh Ludwik Lejzer Zamenhof, seorang dokter asal wilayah yang kini termasuk Polandia. Tujuannya adalah menyediakan bahasa netral yang mudah dipelajari dan dapat digunakan oleh siapa pun sebagai bahasa kedua, bukan untuk menggantikan bahasa ibu.

- Ciri utama Esperanto

Tata bahasa sangat sederhana dan konsisten
Hampir tidak ada pengecualian seperti dalam bahasa-bahasa Eropa alami.

- Kosakata internasional
Banyak kata diambil dari bahasa Latin, Jerman, Prancis, dan Inggris, sehingga relatif mudah dikenali oleh penutur Eropa, namun tetap sistematis.

- Ejaan fonetis
Satu huruf mewakili satu bunyi; kata dibaca persis seperti ditulis.

- Netral secara politik dan budaya
Tidak terikat pada negara, agama, atau kekuasaan tertentu.

Fungsi dan penggunaannya

Sejak awal abad ke-20, Esperanto digunakan dalam:
* kongres internasional,
* korespondensi lintas negara,
* gerakan perdamaian dan humanisme,
* serta jaringan intelektual dan aktivis global.

Dalam konteks sejarah, terutama pada paruh pertama abad ke-20, penguasaan Esperanto sering menunjukkan keterlibatan seseorang dalam jaringan internasional progresif, kosmopolitan, dan intelektual.

Relevansi dengan teks yang dibahas

Ketika Mevrouw Datoe Toemenggoeng disebut sebagai Esperantiste, itu berarti ia:
- aktif dalam komunitas internasional Esperanto,
- hadir dalam kongres internasional di München,
- dan memiliki akses langsung ke forum global untuk menyampaikan pandangan tentang peran perempuan Minangkabau kepada dunia.

Dengan demikian, penyebutan Esperanto bukan detail kecil, melainkan penanda penting posisi intelektual dan jaringan internasional tokoh tersebut pada masanya.

*** Siapakah Mevrouw Datoe Toemenggoeng ini ? ***

Mevrouw (Nyonya) Datoe Toemenggoeng yang disebut dalam artikel Belanda 1951 adalah Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Toemenggoeng (1905–1962), seorang tokoh perempuan Minangkabau yang dikenal secara internasional sebagai aktivis perempuan, jurnalis, dan pemimpin gerakan Esperanto di Indonesia. 

Biografi :

- Nama lengkap: Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Toemenggoeng
- Tempat dan tanggal lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 6 April 1905. 
- Kehidupan pribadi: Ia menikah dengan Landjoemin Datoek Toemenggoeng, seorang intelektual dan tokoh pers Minangkabau yang berkecimpung dalam media dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Suaminya tewas dalam kerusuhan di Minangkabau sekitar 1946. 

Peranan dan Identitasnya : 

Rangkayo Chailan Sjamsoe bukan hanya seorang istri pejabat, tetapi merupakan sosok aktivis yang berpengaruh dalam berbagai arena sosial dan budaya:

- Ia dikenal sebagai wartawan, feminis, dan advokat hak perempuan Minangkabau sejak masa kolonial Hindia Belanda. 

- Kepemimpinannya dalam gerakan perempuan juga tercatat dalam organisasi pemberantasan perdagangan perempuan dan perjuangan hak pilih perempuan. 

- Ia memainkan peran penting dalam gerakan Esperanto di Indonesia, termasuk mendirikan Asosiasi Esperanto Indonesia pada 1952 dan memimpin berbagai kursus serta kegiatan internasional. 

Akhir Hayat

Ia wafat pada 23 September 1962 di Jakarta, meninggalkan warisan intelektual dan sosial yang pernah mendapat perhatian di Eropa serta dunia kolonial pada masanya. 

Penulis: Marjafri - Jurnalis, Pendiri dan ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism".

Hadiri Rapat Pedagang, Kadis Koperindag Tekankan Peran Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Hadiri Rapat Pedagang, Kadis Koperindag Tekankan Peran Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto
Rapat bulanan Asosiasi Pedagang Silo Kota Sawahlunto (APESISTO), Senin (12/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sawahlunto, Tatang Sumarna, menekankan pentingnya peran asosiasi pedagang sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan Pasar Kuliner Silo. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri rapat bulanan Asosiasi Pedagang Silo Kota Sawahlunto (APESISTO), Senin (12/1/2026).

Tatang menyampaikan bahwa aktivitas usaha di kawasan Pasar Kuliner Silo yang hingga kini masih dalam proses penataan tidak terlepas dari berbagai kendala di lapangan. Kondisi tersebut menuntut adanya koordinasi yang baik antara pemerintah dan para pelaku usaha agar setiap permasalahan dapat ditangani secara terarah.

Menurutnya, keberadaan asosiasi pedagang menjadi penting sebagai wadah komunikasi resmi yang menjembatani kepentingan pedagang dengan pemerintah daerah. Melalui mekanisme satu pintu, berbagai aspirasi, kritik, dan masukan diharapkan dapat tersampaikan secara terkoordinasi dan efektif.

“Asosiasi menjadi mitra pemerintah dan rujukan dalam berdiskusi mengenai kebutuhan bersama, sekaligus berperan dalam mendorong percepatan pengembangan kawasan ini,” ujar Tatang.

Ia menjelaskan, APESISTO saat ini menaungi sebanyak 106 unit usaha yang beroperasi di kawasan Pasar Kuliner Silo. Selain berfungsi sebagai organisasi perwakilan pedagang, asosiasi juga akan berperan aktif memfasilitasi pengembangan kapasitas usaha, antara lain melalui pelatihan manajemen, penguatan permodalan, peningkatan fasilitas, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di luar program pemerintah daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Tatang juga menyoroti pentingnya kelengkapan data pelaku usaha. Dari 106 pedagang yang tercatat, baru sekitar 80 pedagang yang telah menyerahkan data kepada asosiasi.

“Kami mengimbau pedagang yang belum terdata agar segera berkoordinasi dengan asosiasi. Data ini menjadi dasar dalam penyaluran bantuan maupun pelaksanaan program pemberdayaan bagi pelaku usaha,” katanya.

Pada sesi diskusi, para pedagang kembali menyampaikan keluhan terkait belum terlaksananya penataan kawasan Pasar Kuliner Silo selama kurang lebih lima bulan pasca relokasi seluruh pedagang ke kawasan ini. Penundaan tersebut disebabkan masih menunggu proses perizinan dari perusahaan pertambangan PT Bukit Asam, kuasa pengguna lahan di lokasi itu (IUP).

Seperti diketahui, kondisi kawasan yang belum tertata dengan baik ini berdampak pada aktivitas perdagangan, terutama saat hujan. Genangan air dan kondisi becek di sejumlah titik mengurangi kenyamanan pengunjung dan menyulitkan pedagang, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perputaran ekonomi di kawasan tersebut. (marjafri)