ADVERTORIAL

Pengembangan Iklim Berinvestasi: Penyusunan Database Tanah Ulayat yang Berpotensi untuk Penanaman Modal

BENTENGSUMBAR.COM - Sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sumatera Barat Maswar Dedi men...

Opini

PARLEMEN

Sports

Iklan KPU Sumbar
Sentil yang Baru Ganti Logo, Fahri Hamzah Geram Pejabat Publik Dikendalikan Partai Politik: 1 Kata dari Saya, LAWAN!
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah akhir-akhir ini disorot karena kasus dugaan korupsi izin ekspor benih lobster Menteri KKP Edhy Prabowo.

Disadur dari Jurnalgaya, Fahri disorot karena perusahaannya mendapat izin ekspor benih lobster, dan ia mengaku rugi ratusan juta.

Menanggapi hal tersebut, Fahri beberapa hari ini terkesan santai.

Emosinya sedikit berubah ketika Menteri Luhut Binsar Pandjaitan menghentikan ekspor benih lobster.

Menurut Fahri hal tersebut tidak menguntungkan nelayan.

Hari ini, Fahri meluapkan emosinya di akun Twitter. Tidak jelas siapa yang dituju Fahri. Namun mantan Wakil Ketua DPR RI ini menyentil pejabat publik dan partai politik.

"Ada yang ganti logo dan gerilya merubah keputusan incrach supaya tidak bayar hutang. Kasian betul perjuangan ya...ampun deh..kasian kader," ujar Fahri.

Ia kemudian memosting buku dirinya yang berjudul Buku Putih Fahri Hamzah. 

Menurutnya, buku tersebut menjadi bacaan umum untuk menguatkan sikap pejabat publik yang tidak boleh dikendalikan partai politik.

"Untuk diketahui bahwa #BukuPutihFH ini telah menjadi bacaan umum untuk menguatkan sikap bahwa pejabat publik tidak boleh dikendalikan partai politik dari belakang. yurisprudensi ini seharusnya dibela agar korupsi pejabat publik dapat dihindari jika parpol membatasi diri."

Lalu Fahri Hamzah membahas yurispundensi. Bila hal itu dibatalkan, partai politik bisa mengintimidasi pejabat publik dengan leluasa.

"Jika yurisprudensi ini dibatalkan maka partai politik tidak lagi punya halangan untuk mengintimidasi pejabat publik dari belakang dan memaksa mereka melakukan kegiatan korupsi. Seperti yang sering terjadi dalam korupsi anggaran, kuota dan perijinan. Ini serius!" tulis Fahri.

Ia pun menyentil beberapa pihak. Namun tidak jelas siapa yang dituju. Bahkan netizen pun meminta Fahri untuk menjelaskan arti emosinya tersebut.

 "Kalian boleh secara terus menerus menggunakan lobby dan kekuasaan untuk mengukuhkan kuasa dunia. Tapi, kebenaran takkan pernah dilumpuhkan. Ia akan selalu mencari jalannya. Keinginan membangun tradisi partai politik yang baik tidak bisa dikalahkan. Takkan pernah!"

Di bagian akhir, dengan tegas Fahri mengatakan untuk melawan.

"Hanya ada 1 kata dari saya: LAWAN!"

(kmk)

Buya Yahya: Habib Rizieq dan Habib Jindan Itu Diadu Domba, Jangan Kawan Dijadikan Lawan!
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Kontroversi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib M. Rizieq Shihab dengan Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan, dinilai sebagai satu bentuk adu doma oleh pihak-pihak yang tidak mengerti perbedaan cara berdakwah.

Disadur dari RMOL, penilaian itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Yahya Zainul Ma'arif atau kerap disapa Buya Yahya, dalam sebuah ceramahnya yang diposting kanal Youtube Redaksi Islam, Sabtu, 28 November 2020.

Buya Yahya mengatakan, komentar Habib Jindan terhadap ceramah Habib M. Rizieq Shihab, pada acara Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta, 14 November 2020, sengaja dibuat, atau disetting sedemikian rupa agar kelihatn berlawanan.

"Habib Jindan diadu dengan Habib Rizieq. Yang bikin terenyuh adalah yang menyanjung Habib Jindan mencaci Habib Rizieq, yang menyanjung Habib Rizieq mencacai Habib Jindan. Dan sebutan binatang diberikan kepada para ulama. Ini kan problem," ujar Buya Yahya.

Lebih lanjut, buya Yahya mengngatkan kepada umat Islam, baik itu yang menyanjung Habib Rizieq maupun Habib Jindan, untuk mengerti bahwa mereka adalah bersaudara.

Justru, orang-orang yang mengarahkan wacana, memperkeruh suasana dan bukan penerus perjuangan Nabi Muhamad SAW adalah musuh yang harus di lawan.

"Kalau anda berjuang anda harus tau musuh mu. Kalau anda tidak tau bisa memenggal leher kawan mu sendiri. Kan begitu kisah dalam media laga, kalian harus mengenali siapa kawan mu siapa musuhmu," ungkapnya.

"Lah, ini kawan dijadikan lawan. Sampai saya lihat komentar, saya diukut-ikutkan juga. Buya Yahya 'menghabisi' Habib Jindan, Habib Jindan menghabisi Habib Rizieq. Ada apa ini pengadu domba ini? Siapa mereka? Padahal meraka (Habib Jindan dan Habib RIzieq) itu cuma berbeda cara dalam berjuang," demikian Buya Yahya. 

(*)

Saraswati Tak Terima Dikaitkan dengan Kasus Edhy Prabowo
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Wawalkot Tangsel) Rahayu Saraswati merasa ada pihak yang mengaitkan penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo terhadap dirinya. Saraswati menilai hal tersebut dilakukan terkait urusan politis.

"Sejak hasil survei oleh Indikator keluar, di mana Muhamad-Saraswati unggul, saya tahu ada kemungkinan besar kami akan dilanda dengan segala upaya untuk menurunkan kredibilitas dan elektabilitas kami. Tak lama kemudian berita soal Menteri KKP keluar. Saya tahu bahwa kemungkinan besar hal itu akan dipermainkan untuk menyerang saya dalam kontestasi politik. Strategi seperti ini bukanlah hal baru. Dan sayangnya, dugaan saya benar," kata Saraswati dalam keterangannya, Sabtu, 28 November 2020.

Saras mengatakan dirinya sudah membahas persoalan ekspor benur sebelum mendeklarasikan diri maju ke Pilkada Tangsel. Dia mengatakan ada dua episode pembahasan soal bisnis lobster yang diunggah dalam program di kanal YouTube-nya, Let's Talk with Sara (LTWS).

Dia mengatakan dua episode tersebut berisi perbincangannya dengan Efeendi Gazali dan ahli lobster dari Indonesia, Bayu Priyambodo. Sementara satu episode lainnya berisi penjelasan dari sang ayah, Hashim Djojohadikusumo.

Saraswati menolak dikaitkan dengan kasus penangkapan Edhy Prabowo. Dia mengatakan hal tersebut dilakukan untuk menjatuhkan nama baiknya.

Berikut pernyataan Saraswati:

Kasusnya Menteri KKP hanya berhubungan dengan gratifikasi yang dilakukan 1 PT. Tapi ini politik. Nama saya dikait2kan. Tidak peduli caranya, walau hanya penggiringan opini berdasarkan asumsi tanpa bukti, yang penting pokoknya bagaimana supaya menjatuhkan nama baik dari seorang Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Terlalu sering saya melihat senior-senior saya di politik diam saat difitnah dan digempur dengan isu. Mungkin itu cara mereka untuk meredakan situasi karena dianggap "toh nanti masyarakat juga akan lupa sendirinya". Atau dianggap tidak penting untuk berdialog dengan tembok (alias mereka yang tidak peduli kebenaran tapi yang penting tuduhan sudah dilontarkan).

Namun tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi dan fitnah yang dilontarkan sudah merambat kemana-mana, sampai banyak orang yang sangat peduli dengan saya terganggu. Jadi saya mengeluarkan pernyataan ini demi mereka yang menyayangi saya dan telah memasang badan untuk saya.

Pertama, seperti yang kami sampaikan di LTWS, saya masuk ke bidang perikanan ini justru dengan niat untuk mengembangkan bidang Aquaculture. Lobster bukanlah satu-satunya hal yang ingin kami kembangkan. Bahkan cara kami akan mengembangkannya adalah dengan sistem 'ocean forest' yang akan menciptakan 'circular economy' di mana People - Planet - Profit sejajar pentingnya. Rasa nasionalisme saya tersinggung saat mengetahui bahwa Indonesia dengan kekayaan alam dan keberagaman ecosystem yang ada bisa kalah dari Vietnam di bidang pembudidayaan Lobster. Jika anda menonton LTWS, maka anda akan mengetahui juga bahwa:

1. Perijinan ini dibuka untuk 50-100 perusahaan. Kolusi itu masuk akal terjadi jika ada monopoli yang dipertaruhkan. Di bagian mana monopolinya? Terutama jika kami melalui proses pendaftaran sama seperti perusahaan-perusahaan lainnya. Apalagi jika ide untuk memberikan ijin ke sebanyak-banyaknya perusahaan justru datangnya salah satunya dari kami.

2. Fokus kami adalah di pembudidayaan agar Indonesia bisa menjadi superpower di aquaculture terutama di bidang Lobster. Bagian ekspornya hanyalah bagian dari 'sustainable business model' karena tidak akan membuat lobster punah (silahkan simak di LTWS), syarat untuk bisa ekspor jelas (melakukan pembudidayaan dan restocking/pelepasliaran - sehingga jumlah lobster bisa dipertahankan bahkan diperbanyak jika kita berhasil dalam pembudidayaan dan pengembang-biakan seperti yang dilakukan oleh Prof EG dengan rekan-rekannya), dan investasi yang dibutuhkan untuk membesarkan lobster sangatlah besar apalagi dari segi pakannya, sehingga membutuhkan pasokan dana yang kuat dan konsisten selama minimal 2 tahun.

3. Dengan usaha ini pun kita mendukung kehidupan para nelayan yang selama ini dirugikan oleh kebijakan yang menyetop keran pendapatan mereka (bahkan bagi beberapa satu-satunya sumber nafkah).

Kami dituduh terlibat dalam korupsi ekspor benur. Pertanyaan saya sederhana:

a. Kasus yang menimpa Menteri KKP adalah soal suap yang dilakukan 1 PT kepadanya dan beberapa orang secara pribadi. Apa hubungannya dengan perusahaan kami?

b. Kami melalui proses pendaftaran untuk ijin sama seperti 60 perusahaan lain yang mendapatkan ijin. Di mana kolusinya?

c. Tidak ada kepercayaan dan wewenang yang secara spesifik hanya diberikan kepada kami. Di mana nepotismenya?

d. Sejak saya dideklarasikan maju di Tangsel, saya tidak lagi terlibat aktif di perusahaan yang tercantum sebagai penerima ijin ekspor benur. Tetapi saya bisa pastikan sampai saat ini perusahaan tersebut belum melakukan ekspor benur SAMA SEKALI. Justru yang baru kami lakukan beberapa minggu lalu adalah PELEPASLIARAN atau RESTOCKING lobster ke alam. Salahnya di mana?

Bagi orang-orang yang sengaja melakukan penggiringan opini, Tuhan tidak tidur. Anda mau melakukan black campaign dengan pencemaran nama baik dan black campaign, itu pilihan anda sepenuhnya. Tapi apakah perlu sampai melakukan pencatutan nama orang ex-ICW dan nama ICWnya itu sendiri demi kredibilitas berita hoax yang dilontarkan? Anda boleh fitnah saya tapi jangan berpikir kalian bisa membohongi rakyat Tangsel.

Bagi adik-adik saya, kawan-kawan, dan semua senior-senior yang katanya mau demo untuk meminta KPK mengusut tuntas kaitannya ekspor benur dengan saya, silahkan! Ikutilah hati nurani kalian untuk menegakkan keadilan di negara ini. Saya percaya masih ada orang-orang yang mau turun ke lapangan tanpa dibayar oleh orang lain demi sebuah ideologi keadilan. Jika kalian perlu kejelasan, mintalah untuk diusut semua perusahaan yang terkait dengan proses pemberian ijin, termasuk semua birokrat yang terlibat dalam pemberian ijin-ijin tersebut. Namun saya hanya minta 1 hal: bertanggung jawablah. Mohon tertib melakukan demo dengan protokol kesehatan dan jika saya terbukti tidak bersalah, jadilah ksatria dan sampaikanlah hal itu kepada orang lain.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua kawan-kawan dan saudara serta pendukung yang telah memberikan dukungan moril bagi saya. Saya tahu banyak dari kalian pasang badan karena kepercayaan yang telah kalian berikan kepada saya. Saya tidak akan lupakan dan saya hanya bisa mendoakan kiranya Tuhan memberkati kalian berkali lipat.

Percayalah, saya tidak akan pernah lelah memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Saya teringat dengan penguatan bahwa lebih tinggi kita beranjak, lebih kencang pula angin menerpa. Saya kuat justru karena saya difitnah.

Selama kita berdiri berdasarkan kebenaran, melangkahlah dengan keyakinan teguh bahwa perjuangan kita tidak akan sia-sia. Semoga dari semua hal yang terjadi, justru masyarakat Tangerang Selatan dibukakan mata hatinya dan ikut memilih di tgl 9 Desember 2020. Semangat! Semoga Tuhan memberkati perjuangan kita bersama.

Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo
Jumat, 27 November 2020
Pkl 21:45

Sumber: detikcom

Amien Rais Ingatkan MUI Jangan jadi Alat Kekuasaan, Menjual Agama untuk Keduniaan itu Dikutuk Allah!
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Politikus senior Amien Rais mengingatkan, agar organisasi Majelis Ulama Indonesia atau MUI tidak menjadi alat kekuasaan.

Pasalnya, jika para ulama yang bernaung dalam organisasi MUI telah menjadi alat kekuasaan, akibatnya amat sangat berat.

Hal tersebut disampaikan Amien Rais di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu, 28 November 2020. 

Di lokasi tersebut, Amien didapuk menjadi pembicara dalam acara bertajuk "Kuliah Politik Untuk Ummat".

"Yang penting, MUI jangan jadi alat. Begitu ulama jadi alat kekuasaan, wasalamualaikum. Begitu berat akibatnya," ungkap Amien, dilansir
Suara.com.

Eks Ketua MPR tersebut berharap agar MUI tetap memegang teguh kebenaran. Dia mengingatkan, agar para ulama tidak menjual agama untuk sesuatu yang sifatnya duniawi.

"Jadi lewat ini saya harapkan, para ulama yang ada di MUI pegang teguh kebenaran. Jangan sampai sekali-kali menjual agama untuk sesuatu yang keduniaan. Itu dikutuk Allah," papar Amien.

Amien memcontohkan, banyak ulama yang sebelumnya 'lurus', pada akhirnya 'belok' karena kekuasaan. Melalui kesempatan tersebut, Amien mengingatkan agar para ulama di MUI untuk berhati-hati.

"Makanya hati-hati jangan. Karena ini di Alquran banyak sekali contohnya ulama yang di dunia yang jalannya lurus, gara-gara kekuasaan menjadi berubah," kata dia. 

(o)

Fadli Zon Yakin Nasrul Abit-Indra Catri Menang di Pilkada Sumbar
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Fadli Zon, mengunjungi Sumatra Barat (Sumbar) selama dua hari untuk mengampanyekan Nasrul Abit-Indra Catri (NA-IC). 

Dari kampanye itu, ia menilai respons masyarakat terhadap keduanya sangat positif. 

Karena itu ia yakin NA-IC aman menang di Pilkada Sumbar pada 9 Desember mendatang.

“Dukungan masyarakat ini tentu menjadi sinyal positif bagi kita semua bahwa NA-IC diterima oleh masyarakat untuk memimpin daerah ini ke depannya,” ujar Fadli, Sabtu, 28 November 2020.

Menurutnya, NA-IC mampu membangun Sumbar lebih baik karena sepak terjang kedua sosok tersebut sudah jelas. 

Ia menyebut keduanya memiliki pengalaman yang cukup untuk mengabdikan diri untuk Sumbar.

Pengalaman dan kinerja mereka selama ini, katanya, menjadi poin penting untuk membawa perubahan lebih baik ketika menjabat nanti.

“Pak Nasrul Abit birokrat berpengalaman. Tak perlu diragukan lagi. Sementara Pak Indra Catri seorang teknokrat yang sangat dibutuhkan ide dan pengetahuannya membangun Sumbar,” tutur Fadli.

Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat Sumbar untuk datang ke tempat pemungutan suara pada 9 Desember dan mencoblos nomor urut 2. 

“Mari kita dukung NA-IC untuk mewujudkan Sumbar unggul untuk semua,” katanya. 

(*)

Teroris MIT Bantai Keluarga di Sulteng, 2 Orang Dipenggal
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

BENTENGSUMBAR.COM - Kelompok teroris Mujahid Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora diduga telah melakukan pembantaian terhadap sebuah keluarga di Pegunungan Kebun, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 27 November 2020 sekitar pukul 13.00 WITA. Dua orang dinyatakan tewas dalam peristiwa ini.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, peristiwa ini pertama kali dilaporkan oleh Aco, warga Lembontongoa, Kabupaten Sigi.

Aco mendapat informasi tersebut dari Ulin, salah satu anggota keluarga yang dibantai kelompok MIT.

Saat itu Ulin mengatakan bahwa ayahnya, Yase dan suaminya, Pino menjadi korban pembunuhan kelompok MIT. 

Beberapa orang yang diduga kelompok MIT itu mendatangi rumah Ulin di Pegunungan Kebun sekitar pukul 09.00 WITA.

“Beberapa OTK tersebut saat itu menyandera keluarganya dan terlihat telah melakukan pembunuhan terhadap Yase dan Pino,” kata Argo kepada wartawan, Sabtu, 28 November 2020.

Berdasarkan keterangan Ulin, ayah dan suaminya tewas dengan cara dipenggal kepalanya. 

Ibunya masih hidup, walaupun terluka. Ulin kemudian lari menyelamatkan diri ke Desa Lembontongoa dan menyampaikan kejadian tersebut kepada saksi Aco.

“Berdasarkan keterangan Ulin bahwa Yase (ayahnya) dan Pino (suaminya) telah digorok oleh kelompok OTK, sedangkan Nei (ibunya) dalam kondisi terluka,” imbuh Argo.

Selain itu, kelompok MIT juga merusak beberapa bangunan. Seperti membakar rumah ibadah. 

“Salah satu rumah pelayanan atau rumah yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh warga telah dibakar oleh kelompok OTK,” jelas Argo.

Argo menyebut, Pegunungan Kebun merupakan perkampungan warga nasrani yang memiliki 40 KK. Perkampungan ini terbilang cukup terpencil. 

Bahkan tidak ada jaringan seluler di wilayah tersebut. Saat ini pengejaran kepada pelaku pembantaian tengah dilakukan.

Sumber: JawaPos.com

Berusaha Kudeta Erdogan, Ratusan Orang Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

Berusaha Kudeta Erdogan, Ratusan Orang Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup
BENTENGSUMBAR.COM - Upaya untuk mengkudeta kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan yang sah di Turki akhirnya berakhir di persidangan.


Sebuah dokumen persidangan di pengadilan Turki menyebut kalau ada 337 militer yang diganjar hukuman seumur hidup akibat upaya penggulingan terhadap Erdogan empat tahun silam.


Dalam persidangan itu ada 500 orang yang terlibat dalam kasus itu. Dan sebagian besar berasal dari militer angkatan udara.


Diketahui, upaya menggulingkan Erdogan dari kursi kepresidenan telah memakan banyak korban. Setidaknya ada 250 orang dilaporkan tewas dalam tragedi itu.


Dikutip dari PR Indramayu dengan judul "Turki Penjarakan Ratusan Orang Seumur Hidup atas Upaya Kudeta Gulingkan Erdogan yang Gagal pada 2016" menyebut, hampir 500 terdakwa dituduh melakukan upaya untuk menggulingkan pemerintah pada 15 Juli 2016 dari sebuah pangkalan udara dekat ibu kota Ankara.


Lebih dari 250 orang tewas dalam upaya itu ketika tentara nakal menguasai pesawat tempur, helikopter dan tank dalam upaya untuk mengambil kendali atas lembaga-lembaga negara utama.


Persidangan tersebut merupakan profil tertinggi dari lusinan kasus pengadilan yang menargetkan ribuan orang yang dituduh terlibat dalam upaya kudeta, yang dituding oleh Ankara kepada para pendukung pengkhotbah dan pengusaha Muslim yang berbasis di Amerika Serikat, Fethullah Gulen.


Anadolu dan agensi lain mengatakan setidaknya 25 pilot F-16 dijatuhi hukuman seumur hidup - hukuman paling berat di pengadilan Turki - yang berarti tidak ada kemungkinan pembebasan bersyarat.


Mantan komandan angkatan udara Akin Ozturk dan lainnya di pangkalan udara Akinci dekat Ankara dituduh mengarahkan kudeta dan membom gedung-gedung pemerintah, termasuk Parlemen, dan berusaha membunuh Erdogan.


Dilansir Al Jazeera, Kepala militer Turki saat itu dan sekarang menteri pertahanan Hulusi Akar dan komandan lainnya ditahan selama beberapa jam di pangkalan pada malam kudeta.


Empat pemimpin kelompok, yang dijuluki "imam sipil" karena hubungannya dengan jaringan Gulen, dijatuhi 79 hukuman seumur hidup karena tuduhan mencoba membunuh presiden, membunuh, dan berusaha menggulingkan tatanan konstitusional, kata Anadolu.


Sinem Koseoglu dari Al Jazeera, melaporkan dari Istanbul, mengatakan ada 10 warga sipil dalam persidangan ini.


“Mereka hadir di pangkalan udara Akinci tempat F-16 yang menewaskan warga sipil lepas landas. Jaksa penuntut mengatakan warga sipil ini adalah imam sipil gerakan Gulen. Mereka mengklaim menerima perintah dari Gulen dan meneruskan perintah tersebut kepada personel militer,” katanya.


Gulen, 79, yang pernah menjadi sekutu Erdogan dan membantah terlibat dalam kudeta, adalah salah satu dari enam terdakwa yang diadili secara in absentia. 


Sebanyak 475 orang diadili, sementara 365 di antaranya dalam tahanan.


Sumber: Portalbrebes

Ferdinand Hutahaean Senggol Anies Terkait Uang Formula E Rp560 M: Jangan Lu Kaburkan Isu Penting
Sabtu, November 28, 2020

On Sabtu, November 28, 2020

Ferdinand Hutahaean Senggol Anies Terkait Uang Formula E Rp560 M: Jangan Lu Kaburkan Isu Penting
BENTENGSUMBAR.COM - Ferdinand Hutahaean kembali mengkritisi terkait aliran dana uang Formula E Rp.560 miliar kepada Pemprov DKI Jakarta. 


Kali ini, mantan politikus Partai Demokrat tersebut mempertanyakan aliran dana uang Formula E Rp560 miliar dengan serius kepada Anies Baswedan. 


Dalam hal ini, Ferdinand Hutahaean menanggapi foto Anies Baswedan sedang memegang dua piala penghargaan yang diraih oleh Pemprov DKI Jakarta. 


Foto tersebut diunggah oleh akun Twitter @GeiszChalifah pada Jumat, 27 November 2020, foto tersebut menuai tanggapan Ferdinand Hutahaean melalui akun Twitter @FerdinandHaean3 dengan mengatakan bahwa rakyat menuntut kejelasan uang Formula E Rp.560 miliar. 


Sebelumnya, politikus sekaligus pengamat keamanan negara Ferdinand Hutahaean mengatakan kepada Anies Baswedan untuk jangan menyamarkan isu penting dengan isu murahan penghargaan tak prestisius. 


“Hei botak, jangan lu kaburkan isu penting dengan isu murahan penghargaan tak prestisius,” Tulis Ferdinand Hutahean, sebagaimana dikutip mantrasukabumi.com dari akun Twitter @FerdinandHaean3 pada Sabtu, 28 November 2020.


Selanjutnya, Ferdinand Hutahaean menanyakan kejelasan uang Formula E Rp.560 miliar tersebut ditransfer ke mana saja. Tambahnya, Ia menanyakan uang tersebut ditransfer ke rekening mana. 


“Sekarang rakyat menuntut kejelasan UANG FORMULA E Rp.560 M itu ditransfer kemana saja? Kesiapa? Di rekening mana?” cuitnya.


Secara tegas, Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa aliran dana uang Formula E Rp.560 miliar tersebut tidak bisa dijelaskan oleh Anies Baswedan, tapi Anies Baswedan malah membanggakan penghargaan tak berarti.


“Yang ini tak mampu kau jelaskan tapi sok banggain penghargaan tak berarti. Duh tak,” ujarnya.


Perlu diketahui, pada cuitan sebelumnya, Ferdinan Hutahaean juga menanyakan hal yang sama terkait aliran dana uang Formula E Rp.560 miliar tersebut. Dalam hal ini, Ferdinand menanggapai video Anies Baswedan yang diunggah oleh akun Twitter @habib_krba pada Jumat, 27 November 2020.


Ia mengatakan dirinya tak pernah menuduh Anies Baswedan membuat kebijaka yang diskriminatif dan intoleran. Namun dirinya hanya fokus menanyakan kejelasan aliran dana uang Formula E Rp.560 miliar.


“Saya tidak pernah menuduh Anies Baswedan punya kebijakan yang diskriminatif dan intoleran. Fokus saya adalah tentang dana uang Formula E sebesar Rp, 560 M itu dibayarkan ke siapa saja? Di bank mana? Atas nama siapa? Kiranya Anies juga bikin video menjelaskan seperti ini!” cuitan Ferdinand Hutahaean pada Jumat, 27 November 2020.


Sumber: Mantrasukabumi

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *