PADANG

SUMBAR

Iklan Bapenda

PSI: Kami Antitesis Gerindra dan PKS

          PSI: Kami Antitesis Gerindra dan PKS
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni dan jajaran pengurus PSI.
PSI: Kami Antitesis Gerindra dan PKS
BENTENGSUMBAR. COM - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengklaim bahwa partainya bertindak dalam garis politik yang berlawanan dengan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang--menurut dia--berpolitik dengan cara menebarkan kebohongan dan politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 

Menurut Antoni, PSI sebagai debutan pemilu dan merupakan partai anak muda tidak memiliki beban masa lalu, tetapi memiliki keotentikan, sehingga bisa menjadi alternatif bagi yang tidak suka dengan politik kebohongan.

"Kepada publik di luar sana yang bosan dengan cara berpolitik Partai Gerindra dan PKS yang selalu mempergunakan isu-isu kebohongan, dan isu-isu agama ternasuk tentu di dalamnya Partai Demokrat dan PAN, PSI akan menjadi partai alternatif," ujar Antoni di kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Senin, 7 Januari 2019.

PSI, kata Antoni, merupakan partai yang mempunyai kekuatan baru di Pemilu 2019. Berbagai cara kreatif sudah ditunjukan PSI untuk menyelamatkan demokrasi dari hoax dan politisasi agama. Salah satunya adalah penyerahan “Kebohongan Award Awal 2019” untuk Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, dan Andi Arief.

"PSI akan menjadi partai alternatif yang akan menjadi kekuatan yang kredibel di DPR nanti, yang akan menghalangi semua move politik yang akan dilakukan oleh baik dari Gerindra dan PKS," tandas dia.

Senada dengan itu, Juru Bicara PSI Dara Adinda Nasution mengatakan apa yang dilakukan partainya sebagai wujud kampanye kreatif. Menurut Dara, "kebohongan award" merupakan cara PSI memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang menggunakan hoax untuk meraih kekuasaan.

"Kebohongan award adalah upaya menyelamatkan demokrasi Indonesia. Marwah demokrasi Indonesia tidak boleh tercemar hanya dengan kebohongan untuk mencapai kekuasaan dan ini upaya kami untuk membela institusi demokrasi yaitu KPU agar tidak (mengalami) demorasilasi oleh politisi berpikiran pendek yang rela menggunakan kebohongan untuk mencapai kekuasaan," jelas dia.

Dara juga menegaskan tidak setuju jika pemberian kebohongan award itu dinilai tindakan berlebihan. PSI berpandangan bahwa kebohongan award adalah bentuk nonviolent resistence yaitu bentuk protes simbolik untuk mengubah kondisi sosial dan politik lewat cara-cara non kekerasan.

Apalagi, kata Dara, ada upaya membalas PSI dengan memberikan penghargaan “Partai Teralay” oleh sejumlah partai politik. Menurut dia, langkah tersebut adalah langkah menjilat ludah sendiri.

“Kalau ada juga yang ingin memberikan award kepada kami sebagai partai teralay dari kubu sebelah, kami sih heran dari awal kami disebut melakukan tindakan alay. Kenapa mereka mau ikut-ikutan jadi alay juga begitu? Jadi kan seperti menjilat ludah sendiri,” kata Dara.

Pada kesempatan yang sama pula, politikus PSI Mohamad Guntur Romli menyoroti langkah hukum yang bakal diambil oleh Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), yang melaporkan PSI ke kepolisian. Menurutnya, laporan ACTA lebih pada bentuk ungkapan “maling teriak maling” karena tanpa alasan yang jelas.

“Laporan itu bagi kami merupakan cerminan maling teriak maling, karena apa yang kami berikan sebagai Kebohongan Award itu adalah berdasarkan fakta. Itu merupakan laporan sampah karena tidak berdasarkan argumentasi dan fakta,” ungkap Guntur.

Guntur juga merespons sikap Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief, yang berencana menggeruduk rumahnya dan menuding Andi Arief mengadopsi cara-cara Tim Mawar, tim tentara yang disebut-sebut menculik para aktivis reformasi.

“Terkait Andi Arief yang katanya mau melaporkan saya, bahkan mau menggeruduk rumah saya, ini menunjukkan bahwa kubu sebelah sudah ingin menggunakan cara-cara premanisme. Andi Arief menggunakan cara-cara Tim Mawar yang pada tahun 1998 menculik para aktivis, termasuk dia sendiri (Andi Arief juga diculik) dan kita tahu bahwa sekarang Andi Arief itu berkoalisi dengan mereka yang masuk dalam jaringan Tim Mawar,” pungkas aktivis NU ini.

(Source: BeritaSatu.com)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *