PADANG

SUMBAR

Iklan Bapenda

Apakah Jika Prabowo Yang Menang, Terus Undang Anda, Anda Akan Bilang Hina Sampai ke Sana Cak?

          Apakah Jika Prabowo Yang Menang, Terus Undang Anda, Anda Akan Bilang Hina Sampai ke Sana Cak?
Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun.
Apakah Jika Prabowo Yang Menang, Terus Undang Anda, Anda Akan Bilang Hina Sampai ke Sana Cak?
BENTENGSUMBAR. COM - Penggiat Hak Azazi Manusia dan demokrasi, Sudarto melayangkan surat terbuka kepada Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun.

Surat terbuka itu dia tulis di akun jejaring sosial facebook miliknya, Sudarto Toto pada Selasa, 7 Mei 2019 malam. Seperti dilihat BentengSumbar.con, surat terbuka tersebut sudah disukai 361 netizen dengan 68 komentar dan dibagikan sebanyak 38 kali. 

Berikut surat terbuka Sudarto kepada Cak Nun:


Apakah Jika Prabowo Yang Menang, Terus Undang Anda, Anda Akan Bilang Hina Sampai ke Sana Cak?
 Penggiat Hak Azazi Manusia dan demokrasi, Sudarto.

Surat terbuka buat Emha Ainun Najib (Cak Nun)

Kepada,
Emha Ainun Najib
Di
Tempat.

Salam Slilit Sang Kiai

Saya sebenarnya nggak ngefan-ngefan amat dengan anda cak Nun. Dulu waktu 1993 saya masih siswa MAN kelas 3 dan mulai membaca tulisan-tulisan anda cak. Saat masih jadi aktivis anak bawang Nahdlotul Muhammadiyin, saya sudah ketua Umum PD IRM dan disanalah saya mulai kenalan dengan tulisan anda.

Salah satu tulisan yg dimuat pada buku tipis adalah buku berisi debat kroyokan matinya ideologi. Saat itu DR. Arif Budiman dikroyok rame-rame dengan gagasannya soal ideologi sosialisme. Pengeroyok Arif Budiman saat itu Amin Rais, Romo Mangun DR. Kuntowijoyo dan anda cak.

Jujur saat itu saya paling nggak paham dengan penjelasan mbulet anda yg jauh dari kaedah akademik. Amin Rais yg juga bergelar Doktor, masih bisa saya tangkap dimana Amin Rais mengutip tulisan Robert Heilbroner "the contestation between capitalism anda socialism: Capitalism is won and Socialism is lose". Itu pun disanggah oleh Arif Budiman dengan rigit, meski agak sempoyongan dikroyok 4 pakar.

Tapi saya sadar mungkin karena baru MAN kelas 3 jadi sulit memahami tulisan anda. Setelah saya kuliah saya lirik lagi tulisan anda ya masih mbulet, seperti saat anda memberikan pengajian khas anda. Saya mencoba melirik buku karya anda berjudul "Slilit Sang Kiai", tulisan khas anda itu penuh pesan moral tentang kejujuran, sebab sang kiai yg selilitan giginya terpaksa noklek bambu sak petil milik orang lain tanpa izin untuk njugil slilit kiai. Tapi diakherat sang kiai itu harus bertanggungjawab karena noklek bambu sak petil tanpa izin. Di buku itu anda mengajarkan kejujuran kepada saya.

Waktupun berjalan, nama anda disebut ikut membela kasus Lumpur Lapindo. Saat itu saya masih berbaik sangka pada anda, karena anda mengajarkan kejujuran lewat slilit sang kiai.

Saya dapat rejeki untuk bisa sekolah di UGM untuk Pasca Sarjana. Dan satu kali saya dengar ada pengajian cak Nun, saya pengen sekali denger langsung soal pembelaan anda pada Lapindo Brantas. Tapi sayang saya nggak keduman microfone.

Pada pengajian berikutnya di UNY, saya datang lebih awal agar bisa bertanya langsung. Tapi karena anda cepet kemropok kalau ditanya soal uang, saya akhirnya mengajukan pertanyaan terkait kritik anda pada HAM, Pluralisme, cerita panjang soal kearifan lokal dan pengalaman blusukan anda ke komunitas lokal.

Saya saat itu mengenalkan diri, nama saya Sudarto asal Padang, tempat dimana Mbak Novia Kolipaling garwo muda anda memerankan film berjudul "Kasih Tak Sampai" dimana mbak Novia istri anda itu memerankan diri sebagai "Siti Nurbaya" yg pura2 mati makan lamang. Pun Samsul Bahri mati di tangan Datuk Maringgih.

Saya kritisi konsepsi HAM, Pluralisme dan demokrasi. Dan saya cerita, saya seperti anda yang blusukan di kampung Dayak sedikitnya 6 suku Dayak di Kalumantan saya kunjungi, komunitas Marapu di NTT, Nuaulu pulau Seram di Ambon, Ammatoa di Kajang dll, dan saya bilang anda bermasalah dalam memahami demokrasi dan HAM.

Andapun langsung defensif, merespon saya. Tapi ya saya jadi semakin memahami siapa anda. Tapi saya bukan ngambekkan cak, saya terus ikut pengajian anda meski kadang duduk baris paling belakang, kadang tengah, tanpa niat bertanya lagi, saya hanya menikmati guyon2 anda. Karena substansi soal ideologi itu sudah saya pelajari dari dosen dan baca2 buku. Termasuk betapa lemahnya teori demokrasi anda.

Matinya Tiga Pendekar Jombang.

Saya awalnya ta'zim dengan tiga pendekar mabok dari Jombang. Allahu Yarham Cak Nur, Allahu Yarham Gus Dur, dan Panjenengan Cak Nun. Tapi kerendah hatian Cak Nur dan Gus Dur serta keluasan ilmu beliau berdua itu patut dipuji dan perjuangan untuk pluralismenya jelas hingga akhir hayat beliau2.

Secara jasad panjengan masih hidup, tapi kerendahan hati benar2 hilang dari anda dengan membully ketidakmampuan Presiden Jokowi berbahasa Inggris, toh Presiden Soeharto yang anda sowani itu juga nggak pinter bahasa Inggris.

Pun akhirnya buah dari kependekaran ilmu anda juga sungguh asem bahkan pahit, ketika anda merasa tinggi hati dan maaf sombong akan terhina jika anda datang ke istana memenuhi undangan Presiden Jokowi, sementara anda merasa terhormat begitu sowan ke istana atau mingkin cendananya Presiden Soeharto.

Apakah jika kutukan Tuhan pada Prabowo yg menjadi menang presiden anda akan dengan angkuh anda tolak karena merasa hina? Cak Nun Ikhlas dan Sombong itu kadang tipis bedanya, karena sombong ikhlas itu kerja hati.

Mbok yao anda sisa dari 3 pendekar dari Jombang hidup lagi. Kalau karena pilihan politik anda bukan pada Jokowi anda nggak perlu koar, menolak dengan merasa hina. Siapa anda? Bukankah merasa terhormat itu nggak usah dipamerkan dengan teriak merasa terhina jika menolak undangan. Anda sering ingatin kewajiban muslim itu salah satunya memenuhi undangan. Toh kalau harus menolak undangan tidak dengan kalimat jumawa.

Surat terbuka ini diinspirasi dari pertanyaan natizen yg dalam pertemanan FB, WA maupun twiteer saya. Siapa cak Nun itu? Mungkin dari 263 juta warga negara yo nggak ada 1/4nya yang kenal anda, seperti halnya tidak ada sekuku ireng yg kenal saya. Tapi saya mengenal anda dari tulisan-tulisan dan pengajian langsung dan youtubenya.

Hiduplah seperi Cak Nur dan Gus Dur dalam hal rendah hati meski prinsip dan politiknya.

Salam

Sudarto Toto

(by)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *