Headline

Opini

Parlemen

Sports

Ali Bin Abi Thalib di Mata Rasulullah, Umur 10 Tahun Sudah Bikin Kaget

          Ali Bin Abi Thalib di Mata Rasulullah, Umur 10 Tahun Sudah Bikin Kaget
Ali Bin Abi Thalib di Mata Rasulullah, Umur 10 Tahun Sudah Bikin Kaget.

Ali Bin Abi Thalib di Mata Rasulullah, Umur 10 Tahun Sudah Bikin Kaget
BENTENGSUMBAR.COM - Ali Bin Abi Thalib merupakan khalifah pertama kalangan Bani Hasyim dimana ayahnya merupakan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf. Ali bin abi thalib sejak usia 10 tahun di mata Rasulullah sudah bisa membuat kaget, dimana daya nalar umurnya tersebut sudah memperlihatkan gaya berfikir kritis dan cerdas.


Ali yang lahir di dalam ka’bah dengan nama kecil Haidarah tersebut sudah tinggal bersama Rasulullah sejak kecil. Pada usia 10 tahun itulah, dalam riwayat menjadi awal mula Rasulullah SAW menerima wahyu pertamanya.


Meski sudah memiliki kecerdasan dan kekritisan, Ali sejak kecil memiliki gaya hidup yang sederhana dan dikenal rendah hati, ketenangan dan kecerdasannya yang diyakini bersumber dari Al Quran membuatnya sebagai sosok yang istimewa di mata Rasulullah SAW.


Kedekatan Ali dengan keluarga Rasulullah SAW kian erat, ketika ia menikahi Fathimah, anak perempuan Rasulullah yang paling bungsu. Dari segi agama, Ali bin Abi Thalib adalah seorang ahli agama yang faqih di samping ahli sastra yang terkenal, antara lain lewat bukunya “Nahjul Balaghah”.


Nama besar Ali Bin Abi Thalib mulai muncul ketika Utsman bin Affan wafat, dimana terjadi kekosongan kursi kekhalifahan selama tiga hari. Sosok Ali sendiri yang dikenal memiliki kecerdasan, membuat banyak orang mulai dari pemberontak meminta Ali untuk menggantikan posisi Utsman.


Tak terkecuali para sahabat Rasulullah SAW juga memintanya, akhirnya dengan sangat terpaksa Ali menerima jabatan sebagai khalifah keempat. Sayangnya suasana peralihan kekhalifahan penuh dengan kekacauan, para pemberontak yang menyebabkan syahidnya Usman masih bercokol dan membuat onar.


Disampung banyak orang yang menuntut Ali untuk menegakkan hukum bagi pembunuh Utsman. Situasi saat itu membuat Ali sulit untuk memulai penataan pemerintahan baru yang bermasa depan cerah. Usahanya membuat penyegaran dalam pemerintahan dengan memberhentikan seluruh gubernur yang pernah diangkat Utsman, malah memicu konflik dengan Muawiyah.


Kondisi itulah yang kemudian justru memunculkan adanya konflik antara Ali dan beberapa orang sahabat yang dikomandani oleh Aisyah, ummul mukminin.


Puncak konflik ini seperti dilansir dari Republika, menyebabkan meletusnya Perang Jamal (Perang Unta). Dinamakan demikian karena Aisyah mengendarai unta. Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang berada di pihak Aisyah gugur, sedangkan Aisyah tertawan.


Pertentangan politik antara Ali dan Muawiyah mengakibatkan pecahnya Perang Shiffin pada 37 H. Pasukan Ali yang berjumlah sekitar 95.000 orang melawan 85.000 orang pasukan Muawiyah. Ketika peperangan hampir berakhir, pasukan Ali berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Namun sebelum peperangan dimenangkan, muncul Amr bin Ash mengangkat mushaf Al-Qur’an menyatakan damai.


Terpaksa Ali memerintahkan pasukannya untuk menghentikan peperangan, dan terjadilah gencatan senjata. Akibat kebijakan Ali itu, pasukannya pecah menjadi tiga bagian. Kelompok Syiah dengan segala resiko dan pemahaman mereka tetap mendukungnya. Kelompok Murjiah yang menyatakan mengundurkan diri. Dan kelompok Khawarij yang memisahkan diri serta menyatakan tidak senang dengan tindakan Ali.


Kelompok ketiga inilah yang akhirnya memberontak, dan menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap Ali sebagai khalifah, Muawiyah sebagai penguasa Suriah dan Amr bin Ash sebagai penguasa Mesir. Mereka berencana membunuh ketiga pemimpin itu.


Untuk mewujudkan rencana tersebut, mereka menyuruh Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Ali di Kufah; Amr bin Bakar bertugas membunuh Amr bin Ash di Mesir; dan Hujaj bin Abdullah ditugaskan membunuh Muawiyah di Damaskus.


Hujaj tidak berhasil membunuh Muawiyah lantara dijaga ketat oleh pengawal. Sedangkan Amr bin Bakar tanpa sengaja membunuh Kharijah bin Habitat yang dikiranya Amr bin Ash. Saat itu Amr bin Ash sedang sakit sehingga yang menggantikannya sebagai imam shalat adalah Kharijah. Akibat perbuatannya, Kharijah pun dibunuh pula.


Sedangkan Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali yang saat itu tengah menuju masjid. Khalifah Ali wafat pada tanggal 19 Ramadhan 40 H dalam usia 63 tahun. Syahidnya Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin.


Source: Hops.id

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...