Headline

Opini

Parlemen

Sports

Ternyata Masih Banyak Desa yang Bingung Mendirikan BUMDes, Ini Solusinya!

          Ternyata Masih Banyak Desa yang Bingung Mendirikan BUMDes, Ini Solusinya!
Ternyata Masih Banyak Desa yang Bingung Mendirikan BUMDes, Ini Solusinya.

Ternyata Masih Banyak Desa yang Bingung Mendirikan BUMDes, Ini Solusinya!
BENTENGSUMBAR.COM - Mendirikan BUMDes – Badan Usaha Milik Desa, khususnya lagi di masa pandemi Covid-19 ini, memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidaklah heran, masih banyak desa yang bingung dan membutuhkan solusi jitu.


Hal tersebut mengapung ke permukaan dalam sebuah seminar bertemakan “Strategi Pemberdayaan Masyarakat dan Optimalisasi BUMDes di Masa Pandemi”, yang digagas oleh Laboratorium Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Alana Hotel, Sabtu, 8 Mei 2021 petang.


Hadir dalam seminar ini, Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMY - Sakir Ridho Wijaya, founder bumdes.id sebagai nara sumber - Rudy Suryanto, serta 17 buah desa yang mewakili desa yang ada di Yogyakarta.


Rudy Suryanto mengatakan selama ini masyarakat desa merasa khawatir ketika hendak membentuk BUMDes karena pemikiran negatif akan rugi. Pasalnya, secara umum menurut Rudi, desa tak memiliki konsep ke depan terkait roadmap BUMDes yang dibuat.


“Selama ini teman-teman di desa ada kekhawatiran rugi, nah mindset ini harus diubah, bahwa BUMDes bisa maju. BUMDes tidak mengapa rugi, namun prosesnya dijalani,” papar Rudy Suryanto.


“Misalnya bebek jadi potensi desa, masalahnya di mana harus dicari. Misalnya fokus ke branding, jadi cari konsep direkturnya yang berkompetensi dalam hal itu agar rencana bisnisnya sejalan. Buat masterplan bagus, jadi siapapun yang melaksanakan bisa enak,” ungkapnya lebih lanjut.


Rudy Suryanto mengingatkan adanya aturan di PP No. 11 tahun 2021 tentang BUMDes, yang mana saat ini BUMDes berperan sebagai wadah produk dari masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana sentra usaha Manding dan Kasongan yang seluruhnya berusaha di bidang tersendiri bisa bergerak maju bersama.


“Nah, hal ini bisa dicopy di daerah lain. Misalnya desa bebek bacem dan sebagainya. BUMDes mengampu branding, packaging dan membantu pemasaran. Membuat web bagus dan bisa jalan. Sudah ada gapoktan, pokdarwis dan BUMDes tinggal mengecat saja, menyempurnakan agar tidak malah bersaing dengan masyarakat,” tandasnya.


Dalam kesempatan yang lain, Sakir Ridho Wijaya mengatakan pihaknya sejak setahun terakhir konsern melakukan pengabdian masyarakat salah satunya membantu desa. Menurut Sakir Ridho Wijaya, Ilmu Pemerintahan UMY berkomitmen kolaborasi dengan desa untuk membentuk BUMDes yang diharapkan menambah kesejahteraan masyarakat.


“Kami bareng bumdes.id akan memetakan masalah, potensi dan konsep akan dibuat seperti apa. Kita sudah komitmen akan dampingi. Ada 29 dosen akan turun mengampu minimal 1 di tiap kelurahan plus 10 mahasiswa yang membantu. Ini yang akan UMY lakukan ke depan,” ungkapnya.


Sakir Ridho Wijaya mengamini selama ini ada kesulitan di desa dengan cukup banyaknya BUMDes yang mangkrak setelah dibuat. Hal tersebut yang diharapkan tak terjadi dengan adanya pendampingan dari kampus. 


Laporan: H Ali Akbar

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...