Headline

Opini

Padang

Sports

Ekonomi Pancasila: Tantangan dan Relevansi dalam Era Politik Populisme, Disrupsi Digital dan Pembangunan Berkelanjutan

          Ekonomi Pancasila: Tantangan dan Relevansi dalam Era Politik  Populisme, Disrupsi Digital dan Pembangunan Berkelanjutan
Ekonomi Pancasila, Tantangan dan Relevansi dalam Era Politik Populisme, Disrupsi Digital dan Pembangunan Berkelanjutan.

Ekonomi Pancasila: Tantangan dan Relevansi dalam Era Politik  Populisme, Disrupsi Digital dan Pembangunan Berkelanjutan
BENTENGSUMBAR.COM - Ekonomi Pancasila dikembangkan oleh para pendiri bangsa sebagai sistem  ekonomi yang merupakan antitesa dari kolonialisme dan anak kandungnya yaitu  kapitalisme. 


Ekonomi Pancasila diwujudkan melalui demokrasi ekonomi yang bertujuan  mencapai cita-cita proklamasi, memastikan sumber daya ekonomi dapat diakses oleh  rakyat, dan nilai tambah ekonomi terdistribusi sehingga mewujudkan keadilan sosial. 


Saat ini ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang berupa kesenjangan wilayah  dan sosial, korupsi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, tata kelola yang buruk  pada BUMN, berkembangnya ekonomi digital, kerangka kebijakan dan peraturan yang  tumpang tindih, dan kerusakan sumber daya alam. 


Dengan kondisi yang ada maka revitalisasi ekonomi Pancasila perlu dilakukan dalam  tiga aras. Aras pertama adalah konsep. Konsep ekonomi Pancasila seringkali diabaikan  dan dianggap ancaman oleh beberapa pihak. 


Ekonomi Pancasila semakin terpinggir  dalam proses pendidikan dan pengambilan kebijakan. Penggalian kembali dan  pengembangan konsep ekonomi Pancasila dalam konteks sistem ekonomi saat ini  merupakan keharusan. Aras kedua adalah kelembagaan. 


Berbagai peraturan di  berbagai sektor dan antar pusat-daerah masih tumpang tindih dan belum sinergis. Omnibus law yaitu UU Cipta Kerja masih perlu dilihat efektivitasnya. Aras ketiga adalah  kapasitas. 


Kesenjangan kapasitas antar pelaku ekonomi besar-menengah, kecil-mikro,  di Jawa dan luar Jawa, sektor primer-sekunder-tertier, harus segera diakselerasi  sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar namun menjadi pelaku ekonomi yang  berdaya khususnya pada momen bonus demografi.


Revitalisasi ekonomi Pancasila  adalah keniscayaan bagi rakyat Indonesia dan harus menjadi upaya kolektif. 


Pokok-pokok diskusi diatas dibahas dalam webinar Kawal Indonesia, Baskara dan  Perkumpulan Amerta dengan narasumber Bambang Ismawan (Bina Swadaya), DR  Revrisond Baswir (UGM) dan Firdaus Putra (ICCI).  



(Mok)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...