Headline

Opini

PADANG

Sports

Apa Kata Ahli Kesehatan Soal Aturan Baru PPKM Darurat Boleh Makan di Tempat Selama 20 Menit?

          Apa Kata Ahli Kesehatan Soal Aturan Baru PPKM Darurat Boleh Makan di Tempat Selama 20 Menit?

Apa Kata Ahli Kesehatan Soal Aturan Baru PPKM Darurat Boleh Makan di Tempat Selama 20 Menit?
BENTENGSUMBAR.COM - Pemerintah melakukan pelonggaran aturan PPKM Darurat level 4 dan 3. Warung makan atau warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan, dan sejenisnya boleh melayani makan di tempat dengan syarat maksimal tiga orang dengan durasi 20 menit.


Kebijakan tersebut pun menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan mengeluhkan bahwa waktu 20 menit untuk makan tidaklah cukup. Akan tetapi, pihak pemerintah bersikeras bahwa durasi tersebut sudah cukup untuk waktu makan.


Bahkan, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan sempat mencoba makan di tempat dalam 20 menit. Dia pun mengunjungi dan makan di warung pecel lele untuk mengetahui dengan pasti penerapan kebijakan tersebut.


Hasilnya, Bima mengaku bahwa waktu tersebut cukup untuk makan, tapi rasanya seperti kesiangan sahur dan imsak dengan sisa waktu 20 menit. Dia pun menyadari bahwa praktik dan pengawasan kebijakan ini tidak mudah.


“Tetapi ini untuk mengurangi risiko penularan ketika makan. Banyak yang tetap memilih membawa pulang makanannya. Lebih aman,” kata Bima.


Lalu, seperti apa kebijakan makan 20 menit tersebut jika ditinjau dari segi kesehatan? Apalagi ada persepsi di masyarakat bahwa mengunyah yang sehat dianjurkan dilakukan sebanyak 32 kali.


Mengenai durasi makan yang tepat, ahli kesehatan masyarakat dr. Tan Shot Yen mengatakan bahwa hal ini tidak bisa digeneralisasikan pada setiap orang. Lama waktu untuk makan, lanjut dia, tergantung pada kondisi fisik seseorang serta jenis, kepadatan, dan porsi makanannya.


Sementara itu, dr Tan memaparkan bahwa waktu mengunyah setiap orang pun berbeda-beda, apalagi tekstur makanan juga beragam sehingga tidak bisa dipatok mengunyah harus 32 kali.


Dia mencontohkan perbedaan antara mengunyah pisang dan kacang. Tekstur pisang lebih mudah dikunyah, sedangkan kacang-kacangan atau daging perlu waktu lebih lama sampai bisa ditelan dan masuk ke lambung.


Gagasan perlunya mengunyah makanan sebanyak 32 kali awalnya dicetuskan oleh seorang ahli gizi asal Amerika Serikat bernama Horace Fletcher. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mengunyah seperti itu berkaitan dengan jumlah gigi manusia.


Meski demikian pada praktiknya, ahli gizi Stacey McIntosh dari University of Utah di AS menjelaskan bahwa tidak ada patokan baku berapa kali kunyahan yang ideal ketika makan. Pada prinsipnya, lanjut dia, semakin banyak jumlah kunyahan, semakin sedikit pula beban kerja mekanis usus.


Menurut McIntosh, jumlah kunyahan sebenarnya tidak banyak memengaruhi makronutrien dan zat gizi mikro asupan. Pasalnya, usus mampu menyerap 95% sampai 99% karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral.


Yang terpenting, dia menyarankan untuk mengunyah makanan secukupnya dan dengan cara yang benar. Lebih jauh dia beranggapan bahwa menghitung berapa kali jumlah kunyahan itu merupakan perilaku yang cenderung obsesif.


Cara Makan yang Ideal


Cara makan yang baik bukan berarti perlu menghitung jumlah kunyahan pada tiap suapannya. Menurut dr. Mutiara Alderisa dari Alodokter, cara makan terbaik adalah dengan makan secara pelan-pelan dan mengunyah makanan dengan baik.


Sebaliknya, memakan makanan dengan cepat dan tidak mencerna makanan dengan baik akan berakibat buruk pada kesehatan. Pencernaan bekerja lebih keras sehingga usus kesulitan untuk membersihkan diri serta dapat menghambat penyerapan nutrisi dalam tubuh.


Makanan yang tidak tercerna dan terserap dengan baik juga berpotensi meninggalkan sisa-sisa zat dan racun dalam tubuh. Selain itu, makan dengan terburu-buru bisa membuat orang tersebut makan lebih banyak karena tak kunjung merasa kenyang sehingga meningkatkan kadar kalori juga berat badan.


Sebuah studi menunjukkan bahwa semakin cepat seseorang makan, makin banyak pula makanan yang dikonsumsi. Pasalnya, sistem pencernaan butuh waktu untuk mengantarkan sinyal kenyang ke otak saat mencerna makanan.


Riset menunjukkan bahwa waktu 20 menit merupakan durasi yang dibutuhkan agar tubuh merasa benar-benar kenyang, dihitung dari suapan pertama. Dalam waktu 20 menit ini, tubuh akan mengeluarkan hormon dan enzim yang memberi sinyal kenyang. 


Oleh karena itu, dr. Tan menyarankan jika merasa waktu 20 menit tak cukup untuk makan di tempat, sebaiknya makanan dibungkus dan dimakan di rumah.


Hal sama juga disampaikan oleh ahli gizi Stacey McIntosh. Dia mengatakan, hormon tubuh membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk memberikan kode pada otak bahwa kita sudah kenyang.


“Jika Anda menghabiskan makanan dalam waktu lima menit, otak otomatis masih ingin terus mengunyah karena belum merasa kenyang. Akan tetapi, jika Anda meluangkan waktu 30 menit untuk satu sesi makan, praktis otak memberikan sinyal makanan sudah cukup,” kata McIntosh.


Laporan: Asthina

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...