Headline

Opini

PADANG

Sports

Ketua DPR Puan Maharani: Singkirkan Perbedaan, Bersama Menuju Indonesia Merdeka Corona

          Ketua DPR Puan Maharani: Singkirkan Perbedaan, Bersama Menuju Indonesia Merdeka Corona
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak agar rakyat Indonesia kembali mempererat persatuan dan kesatuan untuk berjuang melawan Covid-19, selayaknya ketika dulu para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan.

“Dulu para penjajah itu adalah musuh bangsa, sekarang Covid menjadi musuh kita bersama. Mari singkirkan perbedaan, lawan pandemi bersama-sama. Kalau kita terus berselisih, niscaya Indonesia akan semakin terpuruk dalam lumpur pandemi,” kata Puan.

Dia mengatakan bahwa bangsa ini sudah cukup banyak terpecah belah terkait penanganan Covid-19 sejak awal pandemi awal tahun 2020 lalu. Menurut dia, saat ini bukan waktu tepat untuk saling menyalahkan apalagi merasa paling benar, juga bukan waktu saling melempar tanggung jawab.

“Semua pihak berhak mengungkapkan pendapat berbeda terkait penanganan Covid-19, tapi ketika keputusan akhir sudah dibulatkan. Setuju atau tidak setuju kita harus jalan dengan kebijakan yang ada dengan sepenuh daya dan upaya,” tutur Puan.

Mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat menerapkan arahan baru dari Presiden Joko Widodo terkait penanganan lonjakan kasus Covid-19.

Senada dengan Presiden, perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR tersebut meminta seluruh pihak bahu membahu dalam penerapan PPKM Mikro yang menjadi keputusan final pemerintah sebagai upaya mengatasi lonjakan kasus Corona.

Menurut Puan, semua pihak terkait perlu memaksimalkan penerapannya di lapangan agar PPKM Mikro dapat berjalan menyeluruh dan sesuai ketetapan. Kebijakan ini bukan berarti masyarakat bisa berkegiatan seperti biasa, melainkan menjalankan peraturan dengan disiplin.

Dia menghimbau agar perusahaan-perusahaan melaksanakan kegiatan kantor sesuai ketentuan, yakni menyesuaikan kondisi zona di wilayahnya, atau di wilayah domisili karyawannya.

“Perkantoran di zona merah patuh untuk menerapkan work from home 75% dan sisanya work from office. Tapi harus periksa dulu karena sebagian karyawan mungkin ada yang komuter, berdomisili di wilayah berbeda,” ujar Alumni FISIP Universitas Indonesia ini.

Menurut dia, perusahaan harus tetap berhati-hati meskipun bisa menerapkan WFO sebanyak 50% ketika bukan berada di zona merah. Mereka pun harus memastikan bahwa semua karyawan yang hadir di kantor tidak tinggal di zona merah.

“WFO juga harus diperhatikan sekali protokol kesehatannya. Pastikan semua karyawan yang bekerja di kantor itu tidak positif Corona. Jangan sampai perusahaan kecolongan,” Puan memaparkan.

Selain itu, perusahaan harus memastikan bahwa karyawan yang mendapat giliran WFH benar-benar berada di rumah dan tidak bepergian ke wilayah lain, apalagi yang berzona merah.

Sementara itu, perdebatan mengenai pembelajaran tatap muka kembali lagi ke soal zona wilayah tempat sekolah tersebut berada. Zona merah, sesuai peraturan PPKM Mikro harus menerapkan pembelajaran secara daring.

“Pasar, toko, dan kegiatan yang berkaitan dengan sektor penting memang boleh beroperasi, tapi harus disiplin ya. Prokes ketat, dan kapasitas kerumunan orang diperhatikan cuma boleh 25%, jam operasional harus sesuai ketentuan, jam 8 malam teng tutup,” kata Puan.

Adapun area publik, termasuk tempat wisata di zona merah tutup sementara sampai dinyatakan aman, sedangkan zona lain boleh tetap buka dengan kapasitas 25% dan penerapan prokes yang ketat.

“Ini juga termasuk kalau ingin melakukan seminar, rapat, kegiatan seni dan sejenisnya harus diperhatikan zona wilayahnya. Kalau memang bisa dilakukan secara online, itu lebih baik,” ujar Politikus PDI Perjuangan ini.

Demi mengatasi lonjakan kasus Covid-19, Puan mengajak masyarakat untuk menerapkan disiplin diri dalam menjalankan peraturan serta protokol kesehatan. Dia juga mengingatkan agar warga selalu up-to-date tentang informasi terkait Covid-19.

Paling penting, menurut dia, masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang sengaja memecah belah rakyat demi kepentingan pribadi. Dia mengingatkan untuk selalu waspada terhadap hoax.

“Kalau mendapat informasi terkait Covid-19, selalu cross check. Jangan sampai termakan hasutan. Kalau zaman penjajahan itu divide et impera atau politik adu domba yang ternyata berhasil memecah bangsa yang waktu itu masih balita. Tapi sekarang berbeda, Indonesia lebih kuat karena telah menaklukkan begitu banyak cobaan luar biasa,” ujar Puan.

Yang terakhir, dia mengajak masyarakat untuk mensukseskan program vaksinasi. Terlebih lagi, BPOM telah mengeluarkan izin penggunaan vaksin untuk anak usia 12 tahun ke atas.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...