Headline

Opini

SOROT

Sports

Lima Sineas Perempuan Ini Berani Angkat Isu Sensitif dalam Karya

          Lima Sineas Perempuan Ini Berani Angkat Isu Sensitif dalam Karya
Lima Sineas Perempuan Ini Berani Angkat Isu Sensitif dalam Karya
BENTENGSUMBAR.COM - Dunia perfilman Indonesia memiliki banyak perempuan berbakat. Baik sebagai aktris, penulis, sutradara, ataupun produser. Walaupun jumlah perempuan yang bekerja di balik layar masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki, tetapi kualitas karya mereka tak kalah bagus dengan laki-laki.

Banyak sineas perempuan yang berhasil mengangkat isu-isu penting melalui film. Misalnya, tentang kesetaraan gender, korupsi, diskriminasi ras, atau disabilitas. Banyak pula film-film karya sineas perempuan Indonesia yang berhasil memenangkan penghargaan atau ditayangkan di festival film internasional.

Beberapa nama sineas perempuan di bawah ini telah membuktikan bahwa kualitas karya mereka patut diperhitungkan di dunia perfilman nasional dan internasional. Siapa sajakah mereka?

Nia Dinata

Nia Dinata merupakan seorang penulis skenario, produser, dan sutradara film. Beberapa karyanya cukup populer di kalangan penikmat film Indonesia. Contohnya, Janji Joni, Berbagi Suami, dan Biola Tak Berdawai. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah Arisan!.

Film tersebut memiliki salah seorang tokoh utama yang gay. Pada saat film tersebut ditayangkan tahun 2003, isu homoseksual di Indonesia masih jarang dan tabu untuk dibicarakan. Namun, Nia berhasil mengangkat isu ini dalam sebuah kemasan cerita yang menarik. 

Alhasil, Arisan! sukses mengantongi lima Piala Citra pada 2004. Salah satu nominasi yang berhasil dimenangkan adalah Film Cerita Bioskop Terbaik. Pemilik nama asli Nia Iskandar Dinata tersebut juga sering mengangkat isu tentang perempuan dan kelompok minoritas, serta poligami dalam karya-karyanya.

Lola Amaria

Lola Amaria mengawali karier di dunia perfilman sebagai aktris. Namun, beberapa tahun belakangan ini ia lebih aktif di balik layar sebagai sutradara. Dalam film-filmya, Lola banyak mengangkat kisah yang jarang ada di film lainnya. 

Film perdananya yang berjudul Betina, misalnya, menceritakan tentang seorang wanita yang memiliki ibu dengan masalah kesehatan mental akibat ditinggal suaminya yang diciduk sebagai aktivis anti-pemerintah. Selain itu, Lola juga pernah menceritakan tentang kehidupan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong melalui film Minggu Pagi di Victoria Park.

Sama seperti Nia Dinata, Lola juga tak segan menyuarakan aspirasi tegasnya mengenai isu-isu sensitif lewat karya. Dirinya aktif membuat film bertemakan korupsi, LGBT, dan disabilitas.

Kamila Andini

Kamila Andini adalah seorang sutradara yang peduli dengan topik perempuan dan anak-anak. Film pendeknya yang berjudul Sendiri Diana Sendiri dan Memoria memiliki narasi tajam tentang kehidupan perempuan.

Sementara itu, dalam film The Mirror Never Lies dan Sekala Niskala Kamila mengangkat perspektif anak-anak.

Kamila pernah membawa pulang beberapa piala penghargaan nasional dan internasional untuk karya-karyanya. Film Sekala Niskala saja berhasil meraih Piala Golden Hanoman dalam Jogja-Netpac Asian Festival Film (JAFF) 2018, Grand Prize di Tokyo FILMeX International Film Festival 2017, serta Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2017. 

Sementara itu, film The Mirror Never Lies dan Laut Bercermin juga pernah memperoleh beberapa penghargaan, antara lain Sutradara Terbaik dalam ajang China International Children Film Festival, Cerita Asli Terbaik FFI 2011, Sutradara Pendatang Baru Terbaik FFI 2011, Film Terpuji Festival Film Bandung 2012, dan Sutradara Terpuji FFB 2012. 

Mouly Surya

Mouly Surya gemar mengangkat isu kehidupan perempuan di tengah lingkungan patriarkis melalui film. Hampir semua filmnya bersandar kuat pada tokoh utama perempuan. Salah satunya adalah filmnya yang berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. 

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan Sumba yang harus mempertahankan keamanan dirinya dari ancaman pembunuhan, pencurian harta, dan kekerasan seksual dari sekelompok laki-laki.

Melalui film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Mouly berhasil menembus pasar film internasional. Film ini didistribusikan ke 18 negara di Amerika, Eropa, dan Asia Tenggara. Mouly juga banyak mengantongi penghargaan nasional dan internasional untuk Marlina. 

Lebih membanggakan lagi, Marlina terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang penghargaan film internasional bergengsi, Piala Oscar pada 2019.

Sammaria Simanjutak

Sammaria Simanjutak dulunya adalah seorang produser. Namun, ketertarikannya pada film membuatnya memberanikan diri untuk beralih profesi menjadi sutradara, penulis naskah, dan produser. Beberapa film buatannya sudah pernah menghiasi layar bioskop Indonesia, seperti cin(T)a, Demi Ucok, dan Guru Guru Gokil.

Melalui film-filmnya, Sammaria banyak mengangkat isu tentang toleransi dan keberagaman.

Contohnya, cin(T)a menceritakan tentang kisah percintaan beda agama. Sebuah topik yang cukup sensitif di kalangan masyarakat Indonesia. Film ini berhasil mengantarkan Sammaria ke penghargaan Piala Citra dan Festival Film Indonesia untuk Skenario Asli Terbaik.  

Lima sineas perempuan Indonesia di atas berhasil membuktikan bahwa kualitas karya mereka tidak main-main. Mereka berhasil mendobrak stereotype bahwa dunia perfilman dikuasai oleh laki-laki. Kisah mereka diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi calon sineas perempuan lainnya. 

Penulis: Anya Putri, Anggota Perempuan Indonesia Satu
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...