Headline

Opini

SOROT

Sports

Mengenal Rumiah Kartoredjo, Kapolda Perempuan Pertama Sepanjang Sejarah Polri

          Mengenal Rumiah Kartoredjo, Kapolda Perempuan Pertama Sepanjang Sejarah Polri
Mengenal Rumiah Kartoredjo, Kapolda Perempuan Pertama Sepanjang Sejarah Polri.

Mengenal Rumiah Kartoredjo, Kapolda Perempuan Pertama Sepanjang Sejarah Polri
PADA suatu hari di tahun 1978, Rumiah Kartoredjo muda mendengar ada penerimaan Wajib Militer Sukarela (Wamilsuk) di kampusnya. Saat itu, dia sedang menjadi mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya jurusan Olahraga. Rumiah memutuskan untuk mencoba mendaftar seleksi penerimaan Wamilsuk itu dan ternyata diterima.


Akhirnya, Rumiah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya dan berkarier sebagai guru seperti rencana awal. Ayah Rumiah memang menginginkan dirinya menjadi seorang guru. Setelah meyakinkan sang ayah, Rumiah berhasil mendapat restu. Kakak laki-lakinya yang merupakan seorang prajurit Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut juga sangat mendukung adiknya menjadi anggota militer.


“Mas (kakak) saya akhirnya menyarankan saya daftar jadi polisi saja,” ujar Rumiah, seperti dilansir dari detik.com, beberapa waktu lalu.


Dalam mengejar cita-cita barunya sebagai polisi, wanita kelahiran Tulungagung tersebut memutuskan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Perwira Militer Sukarelawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa) Polri pada 1990.


Setelah lulus dari Selapa Polri, Rumiah meneruskan pendidikan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada 1995. Terakhir, ia menempuh pendidikan di Sekolah Staf Perwira Tinggi (Sespati) Polri pada 2003.


Rumiah membangun kariernya di kepolisian dari nol. Dia pernah menjadi Komandan Peleton Sepa Polisi Wanita (Polwan), Kepala Sekolah Polwan, dan Sekretaris Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Seslemdikpol). Hingga akhirnya nasib karier Rumiah berubah saat dia menerima telepon dari salah satu petinggi Markas Besar Polri pada Januari 2008.


“(Isi telepon tersebut adalah) Selamat ya ditugaskan jadi Kapolda (Kepala Kepolisian Daerah, -red) Banten. Ibu luar biasa. Sudah buka pintu bagi polwan,” ucap Rumiah.


Dirinya yang saat itu sedang menjabat sebagai Ses Lemdikpol pun tak percaya akan apa yang didengarnya. Rumiah mengira petinggi Polri tersebut sedang bercanda atau salah nama. Pasalnya, kata Rumiah, saat itu ada seorang perwira menengah Polri laki-laki yang memiliki nama mirip dengannya.


Namun, ternyata petinggi Polri tersebut tidak bercanda dan tidak melakukan kesalahan. Memang Rumiah yang mendapatkan amanat menjadi Kapolda Banten. Petinggi Polri tersebut menginstruksikan Rumiah untuk datang ke kantor keesokan paginya. Sudah ada petugas piket yang menantinya dengan telegram rahasia.


Saat dirinya ke kantor keesokan paginya, memang benar sudah ada petugas piket yang menantinya. Masih tak percaya, Rumiah pun langsung mengecek apakah namanya benar tertulis di telegram itu.


“Saya lihat nama benar, NRP benar. Kalau dua-duanya sama artinya kabar itu benar. Waktu selesai baca saya sedikit khawatir. Banten daerah baru bagi saya,” kata dia.


Pada 23 Januari 2008, Rumiah resmi dilantik sebagai Komisaris Besar Kapolda Banten oleh Kapolri Jenderal Sutanto. Dia mencatatkan sejarah sebagai polwan pertama yang pernah ditunjuk untuk memegang pimpinan tertinggi polisi di level provinsi. Sebuah catatan bersejarah bagi Korps Polwan.


“Ini tantangan bagi saya untuk bekerja baik. Saya membawa beban nama polwan, jadi harus kasih yang terbaik karena ini pasti menjadi barometer pengangkatan polwan selanjutnya,” ujar Rumiah.


Dengan menyandang pangkat bintang satu di pundaknya, ia fokus memetakan daerah penugasannya. Rumiah juga menyadari bahwa Banten dikenal sebagai daerah ‘seribu kiai sejuta santri’ sehingga ia perlu membangun hubungan baik dengan para kiai dan santri. Hubungan yang terus terjalin baik hingga kini.


Rumiah mengakui tugasnya sebagai Kapolda penuh dengan tantangan. Salah satunya, meredam ketegangan dan kegaduhan yang terjadi menjelang eksekusi terpidana mati kasus bom Bali, Imam Samudra alias Abdul Azis yang merupakan warga Banten. Namun, Rumiah berhasil meredamnya sekaligus menampik segala isu tak sedap yang berkaitan dengan pemakaman Imam Samudra.


“Situasinya lumayan rumit karena beberapa kali eksekusi mengalami penundaan dan keamanan Banten menjadi sorotan. Pengamanan pemakaman itu sungguh membekas bagi saya,” ucapnya.


Rumiah memegang jabatan sebagai Kapolda Banten sampai 2010. Ia termasuk salah satu Kapolda terlama di Banten. Rumiah pernah meraih 5 tanda bintang jasa sepanjang kariernya, yaitu Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Karya Bakti, Dwidya Sistha, Kesetiaan 16 tahun, dan Bintang Bhayangkara Nadya.


Kini, dirinya tengah menjabat sebagai Kepala Koni Banten. Nama Rumiah memang tak bisa terpisahkan dari dunia olahraga. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dirinya pernah menjadi atlet daerah. Lalu, saat kuliah Rumiah menjadi atlet nasional softball dan berlaga di Sea Games. Tak main-main, ia berhasil membawa pulang medali emas.


*Penulis: Distri Anggraini, Anggota Perempuan Indonesia Satu.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...