Headline

Opini

PADANG

Sports

Baliho Puan Dianggap Perintah Partai, Ario Bimo Blak-Blakan Bilang Tak Ada Instruksi

          Baliho Puan Dianggap Perintah Partai, Ario Bimo Blak-Blakan Bilang Tak Ada Instruksi
BENTENGSUMBAR.COM - Pemasangan baliho bergambar Ketua DPR Puan Maharani yang marak di berbagai wilayah di Indonesia menuai pro dan kontra. Sebagian pengamat menilai pemasangan baliho merupakan perintah langsung dari petinggi partai untuk meningkatkan popularitas Puan.

Menanggapi hal tersebut, Politikus PDI Perjuangan Ario Bimo mengatakan bahwa tidak ada instruksi partai terkait pemasangan baliho. Dia justru melihat baliho sebagai dinamika politik yang biasa terjadi.

“Saya tahu betul itu (baliho) bukan dari Mbak Puan, bukan juga instruksi partai. Saya cukup dekat dengan Mbak Puan jadi tahu betul itu bukan dari partai sebagai institusi, tidak ada instruksi dari partai, jadi bukan perintah,” kata Ario melalui sambungan telepon.

Menurut dia, kemunculan baliho tersebut sebenarnya harus dicermati sebagai dinamika politik. Airo pun beranggapan bahwa dukungan dari kelompok fraksi anggota dewan dalam bentuk pemasangan baliho sebagai hal yang biasa.

“Ini harus dilihat sebagai dinamika politik, dinamika konstelasi di fraksi-fraksi di DPR. Ini hal biasa. Dalam konteks Puan kemudian muncul baliho sebagai bentuk dukungan itu sah-sah saja dalam kelompok fraksi anggota DPRD,” lanjut pria kelahiran Semarang ini.

Dia menilai baliho tersebut berasal dari  inisiatif kelompok. “Ya dinamika kelompok, inisiatif kelompok, kalau Mbak Puan punya instrumen lain sebagai Ketua DPR. Ini menandakan popularitas cukup tinggi,” Ario melanjutkan.

Selain itu, dia memandang bahwa terjadinya pro dan kontra di dalam dinamika tersebut sebagai sesuatu yang logis. Berawal dari keingintahuan publik terkait baliho yang terpasang, kemudian terjadi diskursus publik yang berujung pada pro dan kontra.

“Ini yang terjadi keingintahuan publik di situ. Sekarang saya lihat ada diskursus publik, ada pro dan kontra, itu biasa, ada keingintahuan kenapa baliho itu ada. Menurut saya logis ada pro dan kontra dalam dinamika,” ujar Ario.

Terlebih lagi, dia melihat konten yang disajikan dalam baliho tersebut inspiratif dengan bunyi “Kepak-Kepak Sayap Kebinekaan”. Puan seakan mengajak masyarakat yang penuh perbedaan ini untuk bergerak dalam kebinekaan.

“Saya juga melihat kontennya inspiratif, seperti mengajak membangun kebersamaan walau dalam perbedaan. Ini sangat mulia. Primordialisme yang muncul tajam terhadap segala bentuk perbedaan di mana masyarakat lebih nyaman dengan ajaran dan kelompok mereka, Puan mengajak mereka selaras dalam gerakan kebersamaan, kebinekaan,” kata Ario.

Proses Pendewasaan Demokrasi

Meski demikian, tetap saja muncul respon-respon miring terkait baliho bergambar Puan. Ario pun menghargai pendapat tersebut, dinamika selalu bergerak di antara akseptasi dan resistensi. Baginya, hal ini justru mendorong proses pendewasaan rakyat dan Puan sendiri.

“Ibarat Karateka, Mbak Puan ini dari sabuk putih, sabuk coklat, biru, sampai sabuk hitam. Ini sekarang baru muncul dinamika itu ya. Akseptasi dan resistensi yang selalu muncul dengan berbagai variabel yang ada,” tutur alumni Universitas Gadjah Mada ini.

Kemudian, lanjut Ario, semua orang mulai berabstraksi. Mereka menyandingkan isu baliho dengan Politikus Partai Golkar Airlangga Hartarto, mengaitkannya dengan sembako, bahkan menyambungkannya dengan Ganjar Pranowo.

“Saya pikir itu satu hal yang saya anggap masih dalam situasi yang terukur karena adrenalin publik muncul dengan adanya sosok Mbak puan yang cukup menggetarkan seluruh Indonesia. Bagaimana baliho itu akan mampu mengingatkan seorang sosok Puan Maharani yang sebenarnya sudah cukup populis dan cukup mendapatkan elektabilitas dalam pemilu yang tiga kali malah,” Ario menjelaskan.

Dia pun mengatakan bahwa Puan sempat terkaget-kaget dengan pemasangan baliho tersebut. “Mbak Puan saya lihat juga terkaget-kaget sedemikian banyak gambar itu, sedemikian luas spektrum pembahasannya, saya kira Mbak Puan akan mencermatinya,” lanjut Ario.

Dia pun berharap dengan terjadinya berbagai dinamika, termasuk terkait baliho, jadi diskursus publik, yang akan menjadikan rakyat semakin cerdas serta terbuka untuk nanti menentukan pilihan yang ada dalam Pilpres.

“Situasi zaman dari pemilu ke pemilu selalu bergeser ke arah partisipasi publik yang menurut saya tidak lagi rakyat dibonekakan, rakyat disuruh-suruh nyoblos enggak bisa lagi,” kata Ario.

Menurut dia, partisipasi publik dalam perpolitikan akan semakin dinamis. Kini, zaman kian bergeser ke arah kesadaran politik dan partisipasi, bukan mobilisasi apalagi transaksi politik.

“Bukan boneka, bukan mobilisasi oleh kelompok tertentu, oleh rezim tertentu,” tegasnya.

Rakyat pun, lanjut Ario, akan terus membangun kesadaran politiknya dan mendapatkan ruang bebas untuk menyatakan setuju maupun tidak setuju. Dia menilai politik dari baliho tersebut menjadi satu kontribusi yang cukup positif dalam dinamika berpolitik serta proses demokrasi di Indonesia, khususnya terkait Pilpres.

Baliho vs Sembako

Sementara itu, ada kalangan yang menyayangkan pemasangan baliho yang dilakukan secara masif tersebut. Menurut mereka, dana untuk baliho lebih baik digunakan untuk membantu rakyat kecil yang terdampak pandemi.

Menanggapi hal tersebut Ario sempat merasa heran. Sejak awal pandemi, PDIP dan segenap kadernya sudah turun ke lapangan untuk memberikan beragam sumbangan, termasuk sembako yang menjadi kebutuhan pokok rakyat.

“Kok enggak ditanya berapa Aryo Bimo menyumbangkan sembako? Kenapa enggak ditanya Mbak Puan (sumbang) sembakonya berapa? Jadi jangan dipikir kok enggak dibelikan sembako. Saya tahu kok, Mbak Puan satu dapil sama saya, berapa puluh ribu itu yang dibagikan,” ujar Ario.

Menurutnya, atas perintah partai, seluruh anggota dewan fraksi PDI-P dari pusat sampai daerah terus memberikan sumbangan dan ikut berpartisipasi dalam penanganan Covid-19.

“Kalau soal jor-joran itu Mbak Puan selalu menekankan untuk turun ke bawah berbagi, tidak hanya sembako, juga obat-obatan dan vitamin. Ini yang terus disampaikan dalam rapat-rapat fraksi,” ucap Ario.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...