Headline

Opini

PADANG

Sports

Catatan Reko Suroko: Mendag Lagi Ngigau

          Catatan Reko Suroko: Mendag Lagi Ngigau
Reko Suroko, Wartawan Senior, Tinggal di Laweyan Surakarta, Jawa Tengah.

Catatan Reko Suroko: Mendag Lagi Ngigau
RASA-RASANYA Pak Menteri yang satu ini tak pernah menderita dalam hidupnya. Hidupnya lancar-lancar saja. Tidak pernah antre minyak. Apalagi antre bulgur. Pasti tidak pernah. Tak pernah merasakan derita rakyat, yang makan saja harus oglangan.


Sehari makan, sehari tidak.


Tapi kok tega-teganya Pak Menteri menghina rakyat, rakyat tahu dirinya sudah di posisi rendah. Kok Pak Menteri malah merendahkan mereka. Mereka sakit hati Pak Menteri. Sakitnya tak bakal hilang dengan ditukar bansos atau BLT lho Pak Menteri.


"Kalau saya sih pakai PCR masuknya tadi. Jadi sudah vaksin dua kali, pakai PCR dan atau Antigen. Kan kalau mau leluasa ya dia mesti pakai Antigen, jadi sekarang ini persyaratannya vaksin, dan PCR dan atau Antigen baru bisa masuk mal," ungkap Lutfi kepada wartawan, di Mal Kota Kasablanka, Selasa, 10 Agustus 2021.


"Kalau nggak (mau), ya boleh ke pasar rakyat. Ke pasar rakyat nggak perlu antigen, nggak mesti PCR, nggak mesti vaksin. Silakan masuk aja ke pasar rakyat. Kalau mau pakai AC mesti keluarkan uang untuk Antigen. Jadi vaksinasi, PCR, dan atau Antigen. PCR bisa dua hari, Antigen sehari saja," ungkapnya.


Di atas sengaja saya kutipkan kalimat langsung dari Pak Menteri yang dimuat di detik.com, Selasa (10/8/2021). Agar Anda bisa memiliki persepsi tentang Pak Menteri ini,.


Lagi Ngigau


Mendag Lutfi baru saja memberikan tutorial masuk mall di era PPKM. Sepertinya dia mengigau atau baru bangun tidur, sehingga separo nyawanya masing nyangkut di awang-awang.


Saya gak tahu mau ngomong apa lagi. Begini nih kalau menteri hasil barter politik. Omongannya melampaui kecerdasannya.


Dia bikin standar hidup rakyat jelata sama seperti dirinya. Menurut Pak Lutfi, PCR dan Antigen menjadi syarat masuk mall, selain sudah vaksin tentunya. Bagi Pak Lutfi, semua syarat itu mudah saja untuk orang sekelas dirinya.


Pak Lutfi gak tahu, rakyat jelata itu mau vaksin aja kayak orang ngemis. Dengan songong dia berkata, “Kalau saya sih pakai PCR masuknya tadi”.


Lalu gunanya vaksin untuk apa? Mending uang ratusan triliun itu gak usah dibeliin vaksin dong, kalau memang gak efektif dan bergantung pada PCR. Anda itu ngomong apa kumur-kumur?


Kemudian yang menyakitkan hati, orang tajir ini ngomong lagi, “Kalau gak (mau), ya boleh ke pasar rakyat. Ke pasar rakyat gak perlu antigen, gak mesti PCR, gak perlu vaksin.”


Lah, kalau mall diperketat, sementara pasar rakyat bebas merdeka, pikiran bapak sedang  di mana, Pak? Memangnya kalau orang pasar yang kelas ekonomi lemah itu kena Corona, gak nular juga ke kelas ekonomi yang lain?


Atau Pak Lutfi sengaja membatasi akses masuk mall, agar kelas menengah gak bisa masuk ke sana. Karena tempat itu hanya untuk mereka yang sangat kaya? Mereka yang bisa PCR dua hari sekali seperti anda?


Ini yang namanya idiokrasi. Negara mempelopori kebodohan melalui polah pejabatnya. Negara mempertontonkan ketololan terhadap rakyatnya. Pamer kemewahan bernama vaksin dua kali dan PCR sebelum masuk mall.


Ealah Pak Jokowi, menterimu kelasnya kok ya hanya kayak gini. Gak ada yang lain, Pak?


Pak Jokowi ajari Pak Lutfi untuk santun gaya Pura Mangkunagaran, atau gaya Keraton Surakarta. Seperti yang Pak Jokowi perlihatkan saat jadi Walikota Solo, santun dan ramah dengan rekan-rekan media. Marah tak pernah terlihat marah. 


Penulis: Reko Suroko, Wartawan Senior, Tinggal di Laweyan Surakarta, Jawa Tengah.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...