Headline

Opini

PADANG

Sports

Dikemanakan Vaksin Yang Kedaluwarsa?

          Dikemanakan Vaksin Yang Kedaluwarsa?
BENTENGSUMBAR.COM - Kesenjangan vaksin Covid-19 di negara berpenghasilan tinggi dan rendah terlihat semakin jelas. Negara-negara miskin kebingungan mencari pasokan vaksin Covid-19. Sementara beberapa negara kaya, memiliki banyak simpanan vaksin, yang sayangnya akan segera kedaluwarsa.

Dilansir dari The Washington Post, ada setidaknya 90 atau lebih kotak berisi vaksin AstraZeneca di Universitas Leiden, Belanda akan segera kedaluwarsa. Pada kotak vaksin bernilai ribuan dolar ini, tertera angka kedaluwarsa 08.2021.

Bagi Dennis Mook-Kanamori, seorang dokter di Pusat Medis Universitas Leiden yang memberikan vaksin di sana, mengatakan ini adalah hal yang tragis. Apalagi, pemerintah Belanda telah diatur untuk membiarkan dosis kedaluwarsa daripada mengirimkannya ke luar negeri.

Dan, tampaknya, apa yang tercermin dalam ruang penyimpanan Universitas Leiden ini bukan satu-satunya. Vaksin yang dikembangkan dalam kecepatan luar biasa ini pelan-pelan menuju kedaluwarsa. Apalagi permintaan vaksin juga melambat di sejumlah negara kaya seperti Belanda.

Mook-Kanamori dan rekannya pada bulan lalu bahkan terpaksa membuang 600 dosis. Pada akhir Agustus, jumlahnya diperkirakan naik 8.000 lagi. Kecuali ada perubahan, pada Oktober akan ada 10 ribu atau lebih dosis di lemari es Leiden akan dibuang. Dokter memperkirakan mungkin ada sekitar 200 ribu dosis AstraZeneca di Belanda yang akan menghadapi nasib serupa.

Sebagian besar dunia saat ini belum mendapatkan dosis yang cukup untuk memvaksinasi, bahkan bagi kelompok paling rentan. Di Afrika, bulan lalu baru 2,2 persen orang yang setidaknya mendapat satu dosis, sementara di Belanda lebih dari separuh populasinya sudah divaksinasi.

Pemerintah Belanda, yang memiliki dosis, mengatakan bahwa karena alasan hukum dan logistik, vaksin tidak dapat diekspor. Bahkan meski mendapat kritik dari dokter Belanda.

Program vaksinasi sendiri selalu memiliki beberapa pemborosan.

Bahkan tingkat standar berarti jumlah dosis yang tidak terpakai pada skala vaksinasi virus corona global membingungkan. Tetapi tidak jelas berapa banyak dosis yang sudah kedaluwarsa, atau akan segera berakhir.

"Tidak ada orang yang melacak dosis kedaluwarsa secara sistematis," ujar Prashant Yadav, ahli rantai pasokan layanan kesehatan di Center for Global Development, sebuah think thank.

Sebaliknya, informasi telah mengalir keluar dalam laporan berita dan pernyataan resmi yang sedikit dipublikasikan. Seperti dilansir laman Main Main.id

Di Israel, 80 ribu dosis Pfizer-BioNTech direncanakan akan dibuang pada akhir Juli. Sebanyak 73 ribu dosis dari berbagai produsen telah dibuang di Polandia. Dan ada 160 ribu dosis Sputnik V yang mendekati kedaluwarsa dikembalikan dari Slovakia ke Rusia, tetapi status akhirnya tidak diketahui.

Di Amerika Serikat, Carolina Utara saja diperkirakan memiliki 800 ribu dosis yang akan segera kedaluwarsa.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 469.868 dosis dari berbagai produsen telah kedaluwarsa di Afrika pada 9 Agustus.

“Sebagian besar vaksin yang tiba memiliki tanggal kedaluwarsa yang sangat singkat,” ujar Richard Mihigo, koorginator pengembangan imunisasi dan vaksin untuk WHO Afrika.

Kurangnya data global menutupi kerugian biaya. Di Amerika Serikat saja, perkiraan total dosis kedaluwarsa atau hampir kedaluwarsa mencapai jutaan. Beberapa vaksin seharga USD 20 per suntikan. Itu berarti total biayanya mencapai puluhan juta dolar, atau bahkan lebih.

Tanggal kedaluwaesa ditetapkan oleh pabrikan dan disetujui oleh otoritas regulator setempat. Banyak vaksin virus corona diberi otorisasi penggunaan darurat awal ketika hanya tersedia data enam bulan, sehingga tanggal kedaluwarsa sangat pendek.

Dalam pernyataan kepada Washington Post, WHO mengatakan, jika pemborosan vial yang belum dibuka akibat kedaluwarsa lebih sulit untuk dihindari. Menurut WHO, rekomendasi pemborosan vaksin harus di bawah 1 persen.

Tetapi sejauh ini, data yang dikumpulkan oleh aliansi vaksin global Gavi, pada vaksin non-cronavirus, menunjukkan jika pemborosan seringkali dapat mencapai 10 persen atau terkadang jauh lebih tinggi.

Laporan: Reko Suroko
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...