Headline

Opini

PADANG

Sports

Mengulik Perjalanan Terjal Apriyani Rahayu, dari Konawe ke Jakarta lalu ke Tokyo, Jepang

          Mengulik Perjalanan Terjal Apriyani Rahayu, dari Konawe ke Jakarta lalu ke Tokyo, Jepang

Mengulik Perjalanan Terjal Apriyani Rahayu, dari Konawe ke Jakarta lalu ke Tokyo, Jepang
BENTENGSUMBAR.COM - Apriyani Rahayu masih belum bisa percaya. Air mata dan keringat masih terasa basah di wajahnya. Dia baru saja memenangkan juara satu ganda putri bulu tangkis di Olimpiade Tokyo 2020, membawa pulang medali emas dalam debutnya di Olimpiade.


Bersama Greysia Polii, perempuan berusia 23 tahun itu berhasil mengandaskan perlawanan Chen Qingchen/Jia Yifan, di final ganda putri pada Senin, 2 Agustus 2021. Greysia/Apriyani berhasil menang atas Chen Qinchen/Jia Yifan, dalam dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15.


Usai pertandingan, Apriyani berujar bahwa dia belum sepenuhnya percaya dengan pencapaiannya. Perasaannya campur aduk. 


Selama bermain, dia dan Greysia mengaku hanya fokus untuk memenangkan poin demi poin. Tak terlintas dalam benak mereka akan berhasil meraih medali emas.


Hal tersebut tak luput dari perhatian Raja Sapta Oktohari, Presiden National Olympic Committee (NOC) Indonesia. Okto melihat bahwa Greysia/Apriyani bermain tanpa beban sama sekali, selalu tersenyum terlebih dulu, hingga menjuluki mereka the smiling warrior.


Okto melanjutkan bahwa sejak awal permainan pasangan ini sudah terlihat dominan. Menurut dia, kerja sama semua tim yang terlibat telah mengantarkan Greysia/Apriyani ke gerbang kemenangan, meskipun mereka sebenarnya tidak diunggulkan. Okto yakin selalu ada keajaiban di setiap penyelenggaraan Olimpiade.


Sebelumnya, banyak orang ragu Greysia/Apriyani bisa membawa pulang medali emas dalam Olimpiade. Selama perjalanan karier keatletan mereka tak pernah satu kali pun menang ketika melawan peringkat satu dunia. 


Dalam 8 kali pertemuan terakhir dengan ganda putri terbaik asal Jepang, Sayaka Hirota/Yuki Fukushima, mereka selalu kalah.


Namun kali ini, mereka telah membuktikan bahwa kerja keras terbayar tuntas. Dedikasi dan komitmen mereka sebagai pebulu tangkis patut diacungi jempol.


Apriyani pun terlihat begitu terharu ketika berhasil menggenggam medali emas. Perempuan asal Konawe, Sulawesi Selatan itu berkata bahwa kemenangan tersebut dipersembahkan untuk ibu dan kakaknya yang telah tiada.


Dia memang telah ditinggal oleh ibunya pada 2015. Di saat terakhir sang ibu, Apriyani tak sempat menemaninya karena sedang berlaga di Kejuaraan Dunia Junior di Lima, Peru.


Berawal dari Rakit Usang


Sosok ibu bagi Apriyani tak pernah tergantikan. Dari ibunya lah mengalir darah seorang pebulu tangkis. Dulu, ibunya kerap bertanding di kompetisi tingkat provinsi. Apriyani kecil pun selalu ditemani sang ibu setiap bertanding. 


Menurut ayahnya, Amiruddin, putrinya sering bermain bulu tangkis menggunakan raket milik almarhum ibunya. Darah pebulu tangkis memang mengalir deras. Bahkan sang ayah berkata bahwa putrinya lebih dulu bisa bermain bulu tangkis ketimbang berbicara.


Kecintaan Apriyani kepada bulu tangkis sudah muncul sejak usia tiga tahun. Lalu pada usia 7 tahun, dia sudah mengikuti kejuaraan bulu tangkis tingkat kecamatan.


Keterbatasan ekonomi juga tak membatasi mimpi Apriyani. Dia getol berlatih di pekarangan belakang rumahnya, yang disulap oleh sang ayah sebagai arena berlatih.


Anak bungsu dari empat bersaudara itu terus mengasah kemampuan hingga dia disertakan dalam kejuaraan daerah. Ia sudah pernah mengikuti kejuaraan hingga tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari situlah bakat Apriyani mulai tercium.


Pada tahun 2011, Apriyani Rahayu ke Jakarta dan dibawa ke PB Pelita milik Icuk Sugiarto di kawasan Kosambi, Jakarta Barat. Lalu sejak 2014 hingga 2016, Apriyani Rahayu mendapat kesempatan mewakili Indonesia di berbagai ajang Kejuaraan Dunia Junior.


Pada 2017, Apriyani mulai berlatih di Pelatihan Nasional (Pelatnas) Cipayung, Jakarta. Sejak saat itu Apriyani pun bermain di level senior dan diduetkan dengan Greysia Polii. 


Awalnya, Greysia sudah berniat pensiun pada 2017, setelah Olimpiade Rio 2016. Apalagi, pasangannya saat itu, yakni Nitya Krishinda Maheswari, tengah mengalami cedera. 


Namun takdir berkata lain. Greysia akhirnya tak jadi gantung raket usai sang pelatih memintanya menjadi duet Apriyani Rahayu. 


Dia diminta untuk membuat semakin berkembang hingga akhirnya mereka menuai berbagai prestasi. Puncaknya, pasangan ini kini berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.


Sebelum itu, Apriyani pernah mendapatkan medali perunggu pada Kejuaraan Dunia tahun 2015, 2018, 2019, juga Piala Sudirman tahun 2019. Pada laga Asian Games 2018 dia mengantongi medali perunggu untuk ganda putri dan beregu. 


Sedangkan pada SEA Games 2019 dia meraih medali emas untuk ganda putri dan medali perunggu untuk beregu di tahun 2019. Sementara di Kejuaraan Tim Asia 2018 dia meraih perunggu.


Laporan: Mela

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...