Headline

Opini

PADANG

Sports

Public Figure Perempuan Lebih Rentan Diserang Komentar Negatif, Di Mana Akar Masalahnya?

          Public Figure Perempuan Lebih Rentan Diserang Komentar Negatif, Di Mana Akar Masalahnya?

Public Figure Perempuan Lebih Rentan Diserang Komentar Negatif, Di Mana Akar Masalahnya?
BENTENGSUMBAR.COM - Kini sudah lebih banyak perempuan memiliki karier cemerlang di berbagai bidang. Namun kenyataannya, para perempuan sukses ini masih harus menghadapi gempuran komentar negatif yang sangat stereotip.


Lihat saja penyanyi dan penulis lagu kenamaan Taylor Swift. Prestasinya tak tanggung-tanggung, sudah 10 Grammy Awards dikantonginya. Majalah Forbes bahkan menempatkan dia sebagai musisi dengan penghasilan tertinggi di dunia.


Tapi toh dia tetap harus merasakan pahitnya komentar seksis dari orang banyak, termasuk mereka yang bergelut di dunia sama. Dalam sebuah wawancara, Taylor mengaku industri musik kerap meragukan kemampuannya karena dia seorang perempuan.


Taylor juga sering dilabeli komen-komen seksis. Dia mengaku, orang masih saja mempertanyakan apakah dia benar-benar menulis lagunya sendiri, ‘apa kamu menulis lagu tentang kehidupan personal, membicarakan tentang kehidupan asmara?’, kata Taylor.


Tak hanya itu. Dia mengatakan bahwa di industri musik, ada kosa kata berbeda yang disematkan untuk perempuan dan laki-laki. Ketika lelaki melakukan gebrakan, orang menyebutnya ‘percaya diri dan berani’, sedangkan jika perempuan melakukan hal sama, dia disebut ‘sombong’.


Kenyataannya, kisah Taylor Swift hanya satu dari sekian banyak ketimpangan gender yang terjadi di dunia musik. Stacy L. Smith, Profesor Madya dari University of Southern California pernah menyebutkan bahwa dia melihat perempuan dihambat kariernya dalam industri musik.


Hasil penelitian Smith menunjukkan bahwa dari 600 lagu yang ada di Billboard top 100 Chart sepanjang 2012-2017, hanya 22,4% yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan. Jumlah produser musik perempuan bahkan lebih rendah lagi, yakni hanya 2%.


Sementara itu, dari 2.767 penulis lagu yang disebut dalam daftar tersebut, hanya 12,3% yang berjenis kelamin perempuan. Dalam studinya pun hanya ada tiga perempuan yang tercatat sebagai penulis lagu terpopuler, yakni Nicki Minaj, Rihanna, dan Swift.


Menilai dari penampilan


Yang menyedihkan, public figure perempuan kerap mendapatkan komentar negatif tentang tubuhnya. Mereka lebih sering dikomentari mengenai penampilan ketimbang prestasi.


Artis Marshanda, misalnya. Hingga saat ini dia mengaku masih berusaha untuk mengurangi perasaan insecure atau tidak nyaman yang ada dalam dirinya akibat komentar negatif soal bentuk tubuhnya.


Pasalnya, dia kerap dikomentari soal penampilan di media sosial. ‘Terlalu gendut’ atau memiliki tubuh yang tak sesuai ‘ekspektasi’ kecantikan netizen, semua komentar yang dilontarkan berkaitan dengan penampilan Marshanda.


Bahkan, penyanyi Raisa juga sering mengalami ‘pem-bully-an’ dari netizen. Pemberitaan di media juga kerap menggunakan kata ‘gendut’ atau ‘chubby’, seakan-akan hal ini mengurangi keindahan suara dan talenta musik Raisa.


Tak berhenti di situ, artis, penyanyi, sekaligus penulis lagu Maudy Ayunda mengalami hal serupa. Ketika dia memutuskan kuliah S2 di Universitas Stanford, ada saja orang yang mencibir.


Mereka berkomentar mengenai perempuan yang bersekolah tinggi, tapi ujungnya hanya di rumah. Maudy mengaku pemikiran semacam ini masih tertanam dalam benak masyarakat.


Namun, komentar negatif tersebut tak membuat langkah Maudy terhenti. Dia menegaskan bahwa dirinya selalu menolak kala mendengar cibiran komentar tak mengenakkan tersebut.


Komentar negatif terhadap tokoh perempuan juga terjadi di perpolitikan. Negara se-demokrasi Amerika Serikat pun tak luput dari ketimpangan gender yang mengakibatkan perempuan harus menerima banyak komentar seksis.


Hillary Clinton, misalnya, secara rutin harus menerima kritik gara-gara memakai celana panjang. Pada 2011, Hillary pernah dikomentari bahwa dia terlihat bingung dengan identitas seksualnya karena menggunakan celana.


Kisah semacam itu sudah terjadi sejak Hattie Caraway terpilih sebagai anggota senat perempuan pertama pada 1932. Dalam sebuah wawancara, dia mengatakan bahwa publik lebih terobsesi dengan pakaian yang dia kenakan.


Mengubah pola pikir


Komentar berbau seksis tersebut lahir dari stigma-stigma yang masih mengakar kuat di masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Pemikiran ini pun kerap dipercaya oleh para perempuan sendiri. 


Ini lah yang membuat perempuan justru ‘menyerang’ perempuan lain yang menurut mereka tidak sesuai dengan tatanan sosial patriarki. Tanpa sadar, perempuan sendiri juga memposisikan diri mereka lebih rendah dan tak memiliki hak untuk berkarya.


Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga, pemikiran turun temurun bahwa perempuan lebih rendah posisinya dibandingkan laki-laki adalah akar masalah ketimpangan gender.


Bintang menekankan bahwa yang harus dilakukan bukan hanya memberikan ruang bagi perempuan untuk memaksimalkan potensinya. Dia berujar bahwa pemikiran masyarakat yang masih menghambat perempuan juga harus dikikis secara perlahan.


Laporan: Mela

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...