Headline

Opini

PADANG

Sports

Coret Diskriminasi, Bangun Kesadaran Hak Perempuan Muslim Mengenakan Jilbab di Dunia

          Coret Diskriminasi, Bangun Kesadaran Hak Perempuan Muslim Mengenakan Jilbab di Dunia

Coret Diskriminasi, Bangun Kesadaran Hak Perempuan Muslim Mengenakan Jilbab di Dunia
BAGI perempuan yang hidup di Indonesia, mengenakan hijab mungkin perkara biasa. Kini perempuan berjilbab telah masuk ke ruang-ruang profesional, bekerja di perusahaan, menjadi pengusaha, dan dapat beraktivitas di ruang publik tanpa stigma negatif.


Sayangnya, hal tersebut masih langka terjadi di negara-negara Eropa, Amerika, dan beberapa wilayah lain di mana Islam menjadi minoritas. Masyarakat masih memandang aneh ketika perempuan berhijab lewat di depannya. Mereka didiskriminasikan, bahkan oleh pemerintahan di tempat tinggal mereka sendiri.


Beberapa diskriminasi ini seperti kebijakan pemerintah Prancis yang melarang penggunaan hijab di institusi-institusi pendidikan dan institusi publik.


Selain itu, di London, Inggris, pemerintah juga melarang para mahasiswanya untuk memakai simbol-simbol keagamaan. Sedangkan perempuan muslim memiliki kewajiban untuk memakai hijab.


Islamofobia


Paling parah, muncul Islamofobia di beberapa negara yang berujung pada kekerasan, bahkan kematian. Kasus baru-baru ini mungkin bisa menjadi bukti nyata.


Pada 6 Juni 2021, empat anggota keluarga muslim London, Ontario, Kanada, tewas dalam serangan bermotivasi kebencian dan ditargetkan. Pelaku yang bernama Nathaniel Veltman (20), dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke keluarga yang sedang jalan kaki itu. Kejaksaan Kanada pun mendakwa pelaku dengan pasal terorisme.


Tragedi tersebut menggerakkan nurani sekelompok warga di negara itu. Puluhan perempuan muslim dan nonmuslim di Kanada menggelar aksi damai di Victoria Park. 


Mereka semua mengenakan hijab dengan tujuan untuk memerangi Islamofobia. Sekitar 80 warga London, Ontario, Kanada hadir di acara tersebut untuk mendidik publik tentang jilbab dan perlunya memerangi Islamofobia.


Salah satu anggota Muslim Association of Canada, Reem Sultan, mengungkapkan kini banyak perempuan takut keluar menggunakan jilbab karena mereka merasa menjadi minoritas yang terlihat. Aksi ini, lanjut dia, ialah untuk mendorong mereka melanjutkan pilihan mengenakan jilbab, yang telah mereka ambil.


Tak hanya itu, perwakilan peserta nonmuslim, Barbara Legate, juga mengungkapkan bahwa penting untuk menunjukkan solidaritas dengan muslimah dan masyarakat lainnya di Kanada. Apalagi, perempuan kerap menjadi target kekerasan.


Dia pun mengatakan bahwa acara tersebut terinspirasi dari kegiatan serupa yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, setelah serangan teror di sebuah masjid pada 2019. Ia menuturkan tidak ingin akibat teror itu sikap muslim Kanada terhadap jilbab berubah menjadi sekadar kostum. 


Legate memahami bahwa jilbab sangat penting bagi perempuan yang memilih untuk memakainya. Dia pun ingin tampilan yang layak dihadirkan bersama mereka.


Hal tersebut diamini oleh muslimah London, Safiya Shaikha. Dia mengatakan bahwa setiap orang selayaknya memiliki hak untuk memakai apa yang mereka inginkan. 


Baginya, jilbab bukan sekadar penutup kepala, melainkan Islam-nya, bukan sebatas agama atau apa yang diyakini secara spiritual, melainkan cara hidup.


Membangun solidaritas


Membangun pemahaman yang benar tentang hak perempuan muslim mengenakan jilbab dalam aktivitas sehari-hari penting untuk disadari oleh masyarakat internasional.


Didorong oleh semangat tersebut, setiap tanggal 4 September kemudian diperingati sebagai Hari Solidaritas Hijab Internasional. 


Pada tanggal sama tahun 2004 lalu, para muslim melakukan konferensi yang dibuka oleh Wali Kota London, Ken Livingstone. 


Dalam kegiatan yang dihadiri oleh 300 delegasi yang mewakili 102 organisasi Inggris dan Internasional tersebut, tokoh cendekiawan Islam ikut hadir, yaitu Sheikh Yusuf Al-Qaradawi dan Profesor Tariq Ramadan.


Berdasarkan hasil konferensi tersebut, terbentuklah Assembly for the Protection of Hijab atau Majelis untuk Perlindungan Jilbab dan menetapkan 4 September sebagai International Hijab Solidarity Day (Hari Solidaritas Hijab Internasional).


Dengan terbentuknya hari peringatan ini, warga muslim di Eropa merancang berbagai rencana aksi untuk membela hak muslimah untuk menggunakan hijabnya. Sedangkan di Indonesia, peringatan ini digunakan sebagai aksi damai sebagai bentuk rasa solidaritas kepada wanita muslimah lainnya.


Aksi-aksi serupa juga cukup mendorong perhatian internasional. Beberapa negara kini mulai terbuka untuk memperbolehkan perempuan mengenakan hijab. 


Pada Agustus 2021, misalnya, pemerintah Singapura mengumumkan akan memperbolehkan perawat muslimah untuk mengenakan hijab di sektor kesehatan publik Singapura.


Bagi perawat atau suster yang beragama Muslim di Singapura, mulai November 2021 nanti akan diizinkan mengenakan jilbab dengan seragam mereka jika mereka mau. Hal ini diungkapkan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.


Kebijakan tersebut tentu menjadi angin segar, bahwa upaya mengedukasi masyarakat dunia telah mulai membuahkan hasil. Harapannya, para muslimah di dunia bisa tampil percaya diri, tanpa rasa takut mengenakan hijab di ruang publik. 


Penulis: Musaropah, Anggota Perempuan Indonesia Satu

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...