Headline

Opini

PADANG

Sports

Mengingat Sepak Terjang Puan Maharani di Ulang Tahun ke-48

          Mengingat Sepak Terjang Puan Maharani di Ulang Tahun ke-48
BENTENGSUMBAR.COM - Puan Maharani dikenal luas sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR Republik Indonesia. Namun jauh sebelum ada di posisinya saat ini, Puan melakukan banyak hal dalam kehidupan dan kariernya. Merayakan hari ulang tahun Ketua DPR ke-48, ada perjalanan panjang yang dia tempuh hingga bisa menjadi seperti saat ini.

Puan adalah seorang perempuan kelahiran di Jakarta, 6 September 1973. Seperti banyak keluarga Bung Karno, Puan menempuh pendidikannya di Perguruan Cikini. Pada 1991, ia menamatkan sekolah dan menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Komunikasi Massa, FISIP Universitas Indonesia.

Selama kuliah, Puan sempat magang sebagai jurnalis di majalah Forum Keadilan. Inilah salah satu sarana bagi Puan untuk mengaplikasikan keilmuannya. Puan ikut terlibat dalam proses interview, penulisan, hingga percetakan majalah.

Berbekal sebagai Puan Sarjana Ilmu Komunikasi, Puan mencoba berbagai pekerjaan sesuai dengan minatnya. Meski darah Bung Karno, Megawati, dan Taufik Kiemas mengalir padanya, Puan tidak serta merta terjun ke dunia politik. Akan tetapi, dia menjadi saksi perjuangan ibu dan ayah yang saat itu terlibat dalam berbagai peristiwa politik serta sedang membentuk PDI Perjuangan. 

Pada 2006, Puan memutuskan masuk ke lapangan politik menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat KNPI. Setahun kemudian, ia baru diangkat Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat.

Keputusan tersebut dia ambil karena melihat PDI Perjuangan karena pesan ayahnya, bahwa anak muda jangan takut untuk masuk pemerintahan. Justru bila ingin melakukan perubahan, bertindak dari dalam pemerintahan adalah jalan terbesar yang paling berpengaruh.

Puan menceritakan pesan dari ayahnya di depan para kader PDI Perjuangan di Manado, Sulawesi Utara. Kata Pak Taufiq, tidak ada teorinya berkiprah di dunia politik, semua itu hanya bisa dirasakan kalau sudah menyatu dengan semua orang yang nanti akan bahu-membahu bersama kamu memenangkan atau kalah dalam satu perjuangan. 

Puan tidak merasakan keistimewaan meski seorang Cucu Proklamator sekaligus anak dari Ketua Umum PDI Perjuangan. Dia tetap harus merangkak dan belajar untuk menjadi seorang politisi yang memahami bidangnya.

Perjuangan Puan kuat karena mengingat satu lagi pesan yang pernah dilontarkan almarhum Taufik. Ayahnya itu menyatakan, anak mudah harus berani berpolitik dan harus masuk ke sistem. Jangan cuma di luar saja. Karena berjuang itu nggak bisa di luar sistem, berjuang itu harus di dalam sistem.

Puan mengikuti Pemilu sebagai calon legislatif pada tahun 2009 dan 2014. Puan sempat mengaku terjun langsung langsung ke daerah-daerah pemilihan. Dia bahkan tidak pulang berminggu-minggu demi mengunjungi satu per satu desa daerah pilihnya dan mendekati masyarakat rakyat yang akan diwakilinya. 

Puan tidak menerima karpet merah. Dia bahkan harus mempersiapkan diri sendiri saat kampanye buat jadi seorang calon legislatif. Apalagi, PDI Perjuangan masih baru, dari tahun 1998.

Perjuangannya itu membuat dia dapat memenangkan Pemilu legislatif dengan suara melebihi Bilangan Pembagi Pemilih dan selalu meningkat. Di 2009, Puan menang 242.505 suara dan lima tahun kemudian pada 2014, ia meraih 369.927 suara.

Keberhasilan Puan membawanya berkarier sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Puan menjabat anggota DPR pada 2009-2012. Dia juga sempat diangkat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI periode 2012-2014. 

Sebagai anggota DPR dan Ketua Fraksi, Puan dengan tangkas dalam setiap tugas- tugasnya. Dia bahkan sering mewakili Indonesia sebagai delegasi pada forum-forum di Indonesia maupun internasional.

Pada 2014, Puan diangkat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada pemerintahan Presiden Jokowi. Jabatannya itu mencatatkan sejarah rekor MURI sebagai Perempuan Pertama yang menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Menteri Koordinator Termuda dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Banyak yang tidak tahu bahwa selama Puan menjabat Menko PMK, dia mengkoordinasikan penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Selama masa jabatannya, Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan yang juga disertai penurunan rasio gini. Indeks Pembangunan Manusia pun tercatat naik. Pada awal jabatan Puan di 2014 IPM berada di angka 68,90 dan masuk dalam kategori tinggi, 71,92 pada 2019. 

Puan juga terlibat dalam Asian Games 2018. Dia membantu Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkoordinir Asian Games 2018 sebagai Wakil Ketua Pengarah Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII dan Ketua Pengarah Panitia Nasional penyelenggaraan Asian Para Games.

Catatan prestasinya sebagai Menko PMK juga menorehkan hasil sebagai menteri koordinator yang mampu membawahi delapan kementerian dan mengkoordinasikan urusan pembangunan manusia dan kebudayaan. Puan membuat berbagai kementerian di bawah arahannya saling berkomunikasi dengan kondusif dan jauh dari kegaduhan.

Kursi Ketua DPR direbut Puan pada 2019 setelah berhasil meraih perolehan suara tertinggi di sepanjang sejarah Pemilu legislatif secara langsung, yaitu sebanyak 404.034 suara. Puan menginisiasikan bahwa DPR RI di bawah manajemennya akan terus berupaya untuk mewujudkan tujuan bernegara melalui perwujudan prinsip-prinsip lembaga perwakilan yang maju, terbuka, dan responsif. Ia berkomitmen membangun sinergi antara lembaga eksekutif dan legislatif untuk membentuk kepercayaan rakyat.

Menginjak umur ke-48 tahun, Puan Maharani terbilang sebagai politisi yang telah menuai banyak prestasi di usia muda. Masih banyak karya bisa dan akan Puan hasilkan ke depannya untuk bangsa Indonesia.
 
Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...