PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Catatan Ahmad Sofyan Wahid: Realita Negeriku Pasca Reformasi

          Catatan Ahmad Sofyan Wahid: Realita Negeriku Pasca Reformasi
PASCA Reformasi 1998, masalah demi masalah terus datang tanpa henti menghampiri Indonesia, dari terbongkarnya banyak kasus korupsi, disintegrasi, terorisme dan meningkatnya angka kriminal khususnya Cyber crime di Indonesia.

Setiap presiden yang berkuasa memang punya kelebihan dan kekurangan yang tidak bisa kita pungkiri, di era Soekarno yang lebih dikenal dengan bapak proklamasi bersama Hatta berdarah darah membangun negeri ini dari zaman penjajahan sampai negeri ini di akui baik secara de jure maupun de facto  sebagai sebuah negara yaitu Indonesia.

Era Soeharto Indonesia lebih dikenal dengan pembangunannya karena memang saat itu Indonesia fokus membangun, swasembada beras, bahkan kita pernah menjadi negeri pengekspor beras paling banyak keseluruh belahan dunia.

Era Habibi itu masa transisi, disinilah kehebatan Habibi terlihat ketika menguatnya  kembali rupiah ke-angka yang semestinya (kisaran 2500-4000/dolar), era gusdur lebih dikenal dengan era pluralisme dan perdamaiannya, era Megawati dan SBY yang menggawangi  terciptanya lembaga anti rasuah (KPK) yang ada Indonesia. 

Indonesia saat ini di era Presiden Jokowi lebih dikenal bapak infrastruktur yang selalu fokus pada kerja dan kerja. Presiden yang lebih dikenal hidup dengan kesederhanaan nya ini tampil selalu kalem dengan ciri khas orang solo, yang tidak semua orang bisa menirunya. 

Bahkan dalam banyak diskusi publik orang yang takdirnya seperti Joko Widodo ini, bagai 100 juta berbanding 1 orang. Cukup disini pembahasan kelebihan masing masing ke 7 presiden Indonesia, kita fokus dengan permasalahan bangsa  saat ini.

Masalah yang terjadi di Indonesia pasca reformasi saat ini masih berkutat  Kemiskinan, KKN, narkoba, terorisme, disintegrasi, dan  fluktuatif nya angka kriminal di Indonesia.

"Masalah atau konflik terkadang menjadi lumbung uang untuk meraup pundi pundi kekayaan untuk para  oknum tertentu, saya tidak akan bahas masalah itu disini tapi yang pasti itu semua ada unsur materi yang dikejar".

KKN misalnya hanya memperkaya individu tertentu  pada lingkup sekitaran kekuasaan saja, Narkoba melibatkan sipil dan banyak juga pejabat negara yang terlibat dengan bisnis yang sangat menggiurkan ini.

Terorisme yang lebih di identikkan untuk memojokkan dan memporak porandakan Islam juga masih sering terjadi, tapi permasalahan ini tidak sepelik dua masalah diatas, begitu juga kemiskinan yang seolah dipelihara oleh negara untuk jualan politik 5 tahunan.

Banyak daerah  di Indonesia yang ingin memerdekakan diri, ini menjadi tantangan baru yang terus menerus meneror pemerintahan Joko Widodo seperti Papua dan Aceh.

Yang terakhir adalah masalah kriminal, angka kejahatan di Indonesia masih cenderung tinggi akan tetapi tidak seganas seperti di negara negara Amerika Selatan atau Afrika.

Kriminal kasus perampokan, begal motor, pemerkosaan, kejahatan cyber, penipuan, dan berbagai kejahatan lain masih ramai dibahas di berbagai media di tanah air. 

Kelebihan era orde baru bukan kita ingin membahas sebuah romantisme salah satu era.  dibandingkan era era lain dan sesudahnya adalah diantaranya nilai rupiah sangat menguat, bahkan harga beras saat itu sangat murah yaitu  400-800 rupiah per liter. 

Zaman tersebut jarang kita dengar begal motor bahkan rampok, preman di babat habis dengan Operasi Petrus kasus kriminal ditekan habis, kisah penjualan narkoba mungkin ada cuma tidak sehebat saat ini, Disintegrasi atau pemberontakan hampir tidak pernah terdengar hal ini di era orde baru.

Bahkan saat itu para penjahat di era orde baru, panas dingin dan ketakutan karena orang bertato pun bisa jadi sasaran. 

Jika kita ingin memahami apa yang ada di kepala almarhum presiden Soeharto saat itu beliau ingin Indonesia mengejar ketertinggalan dari berbagai sektor, khususnya ekonomi dan sosial. Bahkan gangguan keamanan dari dalam negeri terus di sikat tanpa ampun. 

Bukan itu saja dengan sikap tegasnya masalah internal di dalam negeri bisa cepat teratasi dengan cepat dan tanpa kendala karena Indonesia fokus membangun disemua sektor. 

Yang penulis lihat di era Joko Widodo banyak sekali hambatan untuk membangun sebuah negara lebih maju ke depan apalagi saat ini banyak negara - negara  mengalami stagnasi bahkan penurunan dalam pertumbuhan ekonomi. 

Lantas apa solusinya ? 

Pemerintahan Joko Widodo saat ini  yang pasti, harus membereskan masalah - masalah pelik yang menggerogoti bangsa ini misalnya KKN hampir di seluruh sektor, yang tak kunjung membaik indeks prestasinya. Bahkan adanya penumpulan  di sektor pemberantasan korupsi. 

Menurut sang pena, masalah KPK terletak pada tebang pilihnya pemberantasan korupsi, jika orang tersebut melawan pemerintah yang berkuasa maka KPK  akan jadi alat pukul mematikan untuk melumpuhkan para lawan politiknya. 

Belum lagi masalah internal KPK seolah ada satu kelompok yang mengendalikan KPK, jika ada kelompoknya yang korupsi mungkin akan tutup mata dan jika dari kelompok mereka ada yang tertangkap mungkin ada tekanan dari atas atau sudah offside oknum tersebut sudah keluar dari jalur permainan. 

Jadi solusinya, KPK butuh orang yang bernyali super besar tanpa memikirkan ada atau tidaknya kelompok yang ada di pemerintahan, banyak obrolan obrolan di warung kopi mungkin kalau pejabat tertentu setorannya masih lancar maka amanlah dari serigala (KPK) yang siap menerkam mangsanya. 

Narkoba adalah alat yang paling ampuh untuk menghancurkan generasi muda Indonesia saat ini, seolah menjadi pasar empuk penjualan narkoba, banyak oknum polisi dan TNI yang membeking bisnis ini, sehingga seolah negara kesulitan dalam memberantas persoalan barang haram ini. 

Intinya, negara harus rubah sistem dan bertindak sangat tegas tanpa ampun dalam hal pemberantasan narkoba dan sindikatnya. kebocoran informasi bisa diminimalisir terutama dari pihak dalam. 

Terorisme di Indonesia di diidentikkan dengan para kaum Islamophobia, cara berdakwah di timur tengah berbeda dengan kultur di Indonesia. Sehingga satu kelompok yang berbuat maka seluruhnya akan diklaim menyetujui tindakan tersebut, padahal kan tidak begitu. 

Padahal kelompok kelompok ini hanya ingin di ajak diskusi dan di dengarkan keluh kesahnya, lantas di berikan solusi. 

Persolan disintegrasi  menjadi masalah polemik tersendiri, khususnya masalah kesejahteraan dan kesenjangan sosial  antara Pulau Jawa dengan pulau pulau di luar Jawa. 

Ini menjadi masalah tersendiri, padahal zaman zaman para funding fathers kita ada sebuah janji yang harus ditepati untuk tetap menjaga dan bersatu dalam bingkai NKRI, akan tetapi di generasi anak cucunya ingin memisahkan diri dari Indonesia dengan berbagai cara. 

Solusinya, pemerintah Indonesia harus membahas kembali sejarah menyatunya Indonesia dengan pendekatan humanis dan pluralisme, bagaimana para raja raja di daerah sepakat dalam bingkai NKRI  yang memiliki sejarah penderitaan yang sama dengan kedekatan emosional dan kekeluargaan. 

Persoalan kriminalitas pasca reformasi makin meningkat hal ini menjadi masalah tersendiri untuk negara melindungi warganya khususnya warga sipil  dari individu - individu yang tidak bertanggung jawab.

Solusinya, negara harus buat tim khusus untuk perang melawan premanisme, begal motor, perampokan, kejahatan cyber tanpa ampun. Dahulu di zaman orde baru ada operasi petrus(penembak misterius) yang sukses membuat para penjahat panas dingin dan kocar kacir tunggang langgang. 

Mungkin hal ini bisa diterapkan kembali dengan cara  di modifikasi dan lebih halus cara pelaksanaannya, sehingga tidak terkena pelanggaran HAM berat.

Kesimpulan

Ada asap maka ada api yang jadi, pertanyaan ? dari mana dan siapa sumber api tersebut, disitulah hal yang harus kita cari bersama sama secara fokus dan terperinci Khususnya persoalan persoalan pelik bangsa ini.

Kita harus kompromi dan diskusikan kembali soal permasalahan bangsa Indonesia lewat para pakar yang ahli di bidangnya masing - masing. 

Nilai Ketuhanan yang  Maha Esa yang merupakan sila pertama dari Pancasila  tidak sejalan dengan kondisi bangsa saat ini,  bergesernya nilai spiritual ke arah cintanya para individu yang di bingkai NKRI terhadap materi dan lebih  mengagungkan materialisme membuat masalah tersebut sulit dipecahkan.

Disinilah peran ulama, pendeta serta para pemuka agama bersatu kembali untuk menggembleng umatnya dalam melihat dunia ini, tempat yang fana dan terbatasnya usia manusia di alam penuh cobaan ini. 

Menurut penulis, tidak ada problem yang tidak bisa diselesaikan secara  bersama sama dan berkesinambungan, yang jadi pertanyaan, adakah niat tulus, bersatu, ikhlas serta yakin seluruh para pembesar di republik ini mau menyelesaikan masalah masalah internal yang ada di Indonesia saat ini demi kemajuan bangsa dan kejayaan Indonesia kedepannya.

*Penulis juga Ketua Umum Gerakan Kemanusiaan Indonesia '45 yang fokus di bidang sosial dan kemanusiaan
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...