PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Puan Maharani Dukung Pemerataan Akses Kesehatan Mental untuk Masyarakat Indonesia

          Puan Maharani Dukung Pemerataan Akses Kesehatan Mental untuk Masyarakat Indonesia
Puan Maharani Dukung Pemerataan Akses Kesehatan Mental untuk Masyarakat Indonesia.
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mental dalam upayanya mendukung perbaikan akses kesehatan mental menjadi lebih baik lagi. Puan menyampaikan dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Days yang dirayakan setiap 10 Oktober.

“Saat ini akses kesetaraan kesehatan mental di Indonesia bisa bilang masih kurang, bahkan tidak seimbang pemerataannya. Kita bisa merasakan sendiri di kota-kota kecil. Di sana, akses untuk kesehatan fisik saja terbatas, terlebih lagi kesehatan jiwa. Padahal, keduanya sangat penting,” ujar Puan.

Puan memandang bahwa pemerataan akses kesehatan ini juga harus menimbang faktor tempat tinggal mereka untuk menuju ke rumah sakit terdekat. Dari situ saja bisa diukur bahwa tidak semua masyarakat bisa bisa mendapatkan dan merasakan langsung layanan dokter maupun psikolog.

Menurut Puan, kesetaraan akses kesehatan mental ini harus merata dan bisa dimulai pengadaannya pada puskesmas yang menyediakan layanan bantuan psikologi. Masa Pandemi Covid-19 ini menjadi ajang yang tepat untuk meningkatkan kesetaraan akan akses kesehatan mental di Indonesia.

Adanya pandemi COVID-19 bukan hanya berdampak bagi kesehatan fisik, lebih dari itu juga memberikan efek yang luar biasa untuk kesehatan mental banyak orang. Paparan virus COVID-19 yang menyerang masyarakat Tanah Air dari berbagai kalangan usia serta latar belakang mengguncang stabilitas mental masyarakat. Efeknya tentu bisa dirasakan secara langsung oleh pemerintah sekaligus mereka yang tidak terinfeksi.

“Kita saat ini bukan hanya masih berjuang untuk mengendalikan penyebaran virus COVID-19, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri, rasa aman, dan berbagai rasa cemas, takut, serta tekanan mental lainnya yang dirasakan sejak sejak pertama kalinya wabah pandemi dinyatakan pada 2020 lalu,” ujar mantan Menko PMK itu.

Apalagi, lanjut Puan, lonjakan Covid-19 beberapa bulan lalu juga masih menyisakan dampak kesehatan jiwa di kalangan masyarakat. “Untuk masalah kesehatan mental ini, terkadang kita tidak sadar atau menyepelekan, padahal trauma itu ada. Lalu, sama saja dengan kesehatan fisik, ini harus diobati agar tidak meninggalkan trauma mendalam,” kata Puan.

Puan memaparkan studi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ada lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional. Selanjutnya, terdapat lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Mendukung hasil riset tersebut, Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016 lalu juga berhasil memperoleh data bunuh diri. Per tahun, setidaknya terjadi sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang yang melakukan bunuh diri. Lalu sekitar 47,7 persen korban bunuh diri adalah mereka yang ada di tentang usia 10-39 tahun, yang mana merupakan usia anak remaja dan usia produktif.

Politisi PDI Perjuangan itu kemudian mengatakan bahwa data tersebut bukti bahwa pemerataan akses kesehatan mental sepatutnya segera diwujudkan. Jika akses kesehatan mental sudah merata, bukan tidak mungkin masyarakat juga bisa lebih terbantu untuk menangani berbagai keluhan mental, psikis, hingga stres.

“Salah satu harapan pemerataan layanan kesehatan mental adalah jika bisa bisa diakses dan dinikmati secara lebih luas, apalagi hingga ke pelosok Indonesia. Kecanggihan teknologi sepatutnya memberikan kemudahan bagi kita memperluas jaringan akses dan mengadakan pelayanan konsultasi psikologi daring dengan bantuan teknologi,” ucap Puan.

Pemerataan akses kesehatan mental untuk seluruh pelosok negeri ini berkenaan dengan tema global terkait peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2021. Tema itu adalah “Mental Health in an Unequal World: Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua”.

Puan menyampaikan bahwa pengambilan tema tersebut seharusnya juga diikuti dengan kebersamaan pemerintah yang memberikan akses layanan kesehatan mental yang lebih besar dan luas lagi untuk masyarakat. Pasalnya, kesehatan mental yang terjaga berhubungan kuat dengan kesehatan diri dari serangan virus corona.

Puan mengingatkan bahwa ketenangan jiwa mengambil andil besar dalam memperkuat daya imunitas tubuh. Layanan dan pendampingan bagi masyarakat yang merasakan kebutuhan untuk konsultasi terkait kesehatan mental sepatutnya terus dipermudah, khususnya selama dan setelah masa pandemi COVID-19 terjadi.

“Sarana dan prasarana untuk mendukung program kesehatan jiwa yang lebih memadai sangat diperlukan untuk memulai kembali kehidupan pasca-pandemi yang lebih baik agar kekuatan mental masyarakat terus terjaga,” ujar Puan.

Puan tak lupa pula mengingatkan agar masyarakat terus sadar akan kesehatan mental dan responsif jika memang merasa perlu bantuan. “Hindari terus terlarut akan stigma kesehatan mental dan jangan pernah merasa malu untuk meminta bantuan. Kita masih hidupkan terus semangat gotong royong menjaga kesehatan fisik dan jiwa,” ujar Puan.

“Setiap kita berhak atas akses kesehatan yang memadai. Bersama kita saling mendukung untuk dapat selalu menjaga kesehatan dan keselamatan, untuk bangkit lagi dari Pandemi Covid-19 dan menyongsong masa depan yang lebih baik,” ujar Puan.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...