PILIHAN REDAKSI

Ilmuwan Kaget Saat Nabi Muhammad Ungkap Sendi Manusia Berjumlah 360

BENTENGSUMBAR.COM - Pengetahun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengungkap jumlah sendi manusia sebanyak 360...

Advertorial

MUI Terpapar paham Radikalisme, Puan Maharani Tekankan Pentingnya Semangat Kebhinekaan

          MUI Terpapar paham Radikalisme, Puan Maharani Tekankan Pentingnya Semangat Kebhinekaan
MUI Terpapar paham Radikalisme, Puan Maharani Tekankan Pentingnya Semangat Kebhinekaan
BENTENGSUMBAR.COM - Lagi-lagi, paham radikalisme berhasil menyusup ke organisasi-organisasi vital di Tanah Air. Baru saja Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris di tubuh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Densus 88 berhasil meringkus Ahmad Zain An-Najah, anggota Komisi Fatwa MUI di wilayah Bekasi, Jawa Barat pada Selasa, 16 November 2021. 

Polisi menyebut Zain merupakan anggota Dewan Syuro dalam jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI) dan juga Ketua Dewan Syariah Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA).

“Yang bersangkutan keterlibatannya adalah sebagai Dewan Syuro Jamaah Islamiyah. Kemudian selain itu, yang bersangkutan ketua Dewan Syariah Lembaga Amal Zakat BM ABA," Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan.

Selama ini, Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf menyebarkan ratusan kotak amal di Lampung dalam rangka menggalang dana untuk kegiatan terorisme. Selain itu, penggalangan dana juga dilakukan lewat perkebunan kurma.

Penyusup paham radikalisme

Paham radikalisme memang telah menyusup ke dalam berbagai lapisan masyarakat, hingga lembaga dan pemerintahan. Sepertinya tak ada tempat yang tak tersentuh oleh para penyebar paham radikalisme yang bentuknya bisa beragam ini.

Menurut Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan, dirinya sebenarnya telah jauh hari memperingatkan adanya oknum dalam tubuh MUI yang terindikasi terlibat jaringan radikalisme dan terorisme. Dia menilai kemungkinan saat itu oknum ini belum ditindak karena belum memenuhi unsur tindak pidana terorisme.

“Sering kita lihat statement oknum MUI overlaps kan?” pungkas Ken.

Dia menyebut selama ini laporannya selalu dibantah. MUI dianggap streril dari paham radikal, lebih-lebih terorisme. “Sebab di MUI katanya perwakilan para ulama dan orang orang sholeh,” lanjut Ken.

Padahal, dia mengatakan MUI bukanlah perkumpulan Ulama, akan tetapi perkumpulan perwakilan ormas Islam. Ormas ini, lanjut dia, termasuk ada juga yang berpaham radikal. 

“Uniknya anggota MUI yang lain tidak bisa berbuat banyak. Ini lemahnya hukum kita, kalau belum melakukan tindakan yang mengarah pada terorisme maka mereka belum bisa ditindak dengan pasal terorisme,” kata Ken.

Dia pun berharap pemerintah segera membuat regulasi yang melarang semua paham yang bertentangan dengan Pancasila. Menurutnya, hal ini akan menjadi duri dalam daging.

“Kalau pemerintah tidak tegas, maka akan semakin merajalela, karena mereka sudah menyusup ke semua kalangan, termasuk ASN dan TNI Polri,” ujar Ken.

Tanggung jawab bersama

Menurut Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi, semua kegiatan radikalisme yang kemudian mengarah ke ekstrimisme lalu berbentuk terorisme selalu diawali sikap intoleransi. Lebih lanjut dia menyebut, intoleransi dan radikalisme saling menopang.

"Intoleransi itu lah yang membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstrimisme, kalau ekstrimisme yang terbentuk kemudian berbentuk terorisme pada tataran terakhir nantinya, ini yang harus kita pahami dulu," ucap Islah Bahrawi.

Oleh karena itu, menanamkan sikap toleransi sangat penting demi mencegah masyarakat Indonesia terpapar paham radikalisme. Pasalnya, Nusantara terdiri atas beragam suku, agama, dan budaya. Sikap toleransi pun kian penting sebagai pemersatu bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani. Dia menekankan pentingnya peran keluarga dalam memastikan anak-anak tumbuh dengan mengamalkan sikap toleransi dan menjunjung tinggi kebhinekaan.

Puan juga menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya musuh pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Radikalisme tidak benar-benar bisa ditangkal dan dihilangkan dari benak masyarakat jika masyarakat sendiri tidak ikut serta melawan. Semua ini, lanjutnya, dimulai dari keluarga.

"Enggak bisa hanya oleh pemerintah tapi sama-sama seluruh elemen bangsa ini, karena ya Bhinneka Tunggal Ika yang harus kita jaga. Ini keberagaman," kata Puan.

"Ini tanggung jawab kita semua, enggak mungkin cuma pemerintah, enggak mungkin cuma pemda tapi ya swasta, media, semuanya ini harus ikut bangun jiwa kebhinnekaan dan keberagaman ini sama-sama," lanjutnya.

Tak hanya itu, Puan juga menekankan kepada setiap elemen masyarakat, untuk senantiasa tidak lengah dan terus melawan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia ini.

"Semua pihak agar meningkatkan kewaspadaan dan keamanan, khususnya di objek-objek vital dan tempat publik, dan jangan lengah untuk bersama-sama melawan aksi terorisme seperti ini," ujar eks Menko PMK ini.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...