PILIHAN REDAKSI

Ilmuwan Kaget Saat Nabi Muhammad Ungkap Sendi Manusia Berjumlah 360

BENTENGSUMBAR.COM - Pengetahun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengungkap jumlah sendi manusia sebanyak 360...

Advertorial

Pola Asuh Anak Pada Masyarakat Jepang dan Novel Penance

          Pola Asuh Anak Pada Masyarakat Jepang dan Novel Penance
Pola Asuh Anak Pada Masyarakat Jepang dan Novel Penance
MINATO Kanae, seorang penulis novel misteri terkenal, karya-karyanya selalu menarik untuk dibaca. Setelah menerbitkan Confessions sebagai karya debut yang sukses meraih posisi pertama dalam 10 besar novel dalam Weekly Bunshun kategori novel misteri terbaik, Minato Kanae mengeluarkan buku berikutnya yaitu Penance.

Penance sendiri mengambil sudut pandang dari masing-masing tokoh yang menginformasikan bagaimana penderitaan yang dialami Sae, Maki, Akiko dan Yuka setelah terbunuhnya teman mereka, Emily 15 tahun yang lalu. Masing-masing karakter menyimpan cerita tersendiri dan saling terhubung satu sama lain untuk bisa sampai pada kesimpulan akhir cerita.

Menariknya, selain bercerita tentang tragedi pembunuhan, Kanae juga membongkar beberapa sisi negatif pola asuh masyarakat Jepang yang jarang disorot, bagaimana lingkungan rumah bisa mempengaruhi karakter dan persepsi anak. Kanae mempercayai bahwa didikan yang salah akan membawa pengaruh negatif pada anak, terutama anak yang mengalami trauma. Ini terlihat pada keempat tokoh yang menjadi saksi kasus pembunuhan Emily yang pada saat itu masih berada di kelas 4 SD.

Kanae membongkar salah satu pengasuhan di Jepang bahwa anak harus menjaga keharmonisan keluarga meski harus mengesampingkan perasaan bukanlah hal yang baik. Pola asuh ini terjadi di Jepang, bagaimana anak-anak di ajarkan untuk mengendalikan diri dan emosi mereka agar tidak mengganggu ketenangan keluarga.

Tokoh Sae misalnya, tidak berhasil mengatasi rasa traumanya karena tidak ada penanganan yang serius setelah kejadian itu. Sikap diam ibunya yang beranggapan membiarkan Sae sendiri, tidak pernah membahas trauma yang dialaminya,  dan tidak mendapatkan penanganan trauma yang optimal, menimbulkan masalah perkembangan fisik pada diri Sae berupa tubuh yang tidak bertambah tinggi, dan tidak mendapatkan menstruasi sampai menikah. 

Alice Miller, seorang psikolog, psikoanalis, dan filsuf Yahudi berkata: "kita tidak tahu, bagaimana dunia suatu saat nanti jika anak-anak dibesarkan dengan baik, jika orang tua mau memperlakukan anaknya dengan serius dan rasa hormat sebagai manusia". 

Seperti Miller, Kanae percaya bahwa kejadian yang menimpa Sae tidak akan terjadi seandainya ibunya menganggap serius trauma yang dialaminya.

Lain lagi dengan tokoh Maki sebagai anak tertua yang dididik dengan disiplin dan harus mampu mengemban tanggung jawab. Tokoh Maki justru menunjukkan sikap yang berlawanan ketika dihadapkan dengan tragedi.

Bagaimana Maki ketakutan dan berlari pulang saat kejadian, namun dimaki dan dipukul oleh ibunya karena tindakan tersebut dianggap memalukan. Kanae berusaha merubah pola ini dengan menampilkan contoh kasus yang dihadapi tokoh Maki.

Simon Baron-Cohen, seorang psikolog dalam bukunya Zero degrees of empathy: a new theory of human cruelty mengatakan: “orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan mendiskusikan konsekuensi dari tindakan anak mereka menghasilkan anak-anak yang memiliki perkembangan moral yang baik dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dengan metode otoriter dan hukuman”. Ini sesuai dengan misi yang dibawa Kanae di dalam novelnya.

Kanae berhasil menyampaikan dengan baik sisi-sisi pengasuhan yang gelap dalam kehidupan masing-masing tokoh hingga menimbulkan rasa empati kita saat membacanya. Sebagai pembaca kita diajak untuk menilai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan orang tua terhadap anak, khususnya yang mengalami trauma.

Kanae menyorot pola asuh di zaman yang atraktif dan modern ini hendaknya lebih humanis dan dinamis, meninggalkan pola-pola otoriter. 

Orang tua harus menciptakan kondisi rumah yang nyaman bagi anak. Kanae juga menekan pentingnya membangun hubungan emosional dengan anak melalui komunikasi dan keterbukaan,  karena orang tua adalah support system pertama. Seperti yang dikatakan Oscar Wilde “cara terbaik untuk membuat anak baik adalah dengan membuat mereka bahagia”.

Karakter-karakter hebat dimasa depan dibangun dari pondasi yang bagus sedari dini. Jika rantai pola asuh yang buruk tidak diputus dan diperbaiki, maka bisa terulang dan diturunkan ke generasi berikutnya. 

Anak-anak harus dibesarkan dengan didikan yang bagus, berhak diperlakukan dengan hormat dan serius layaknya orang dewasa. Charles Raison pernah berkata: satu generasi dari orang tua yang sangat mencintai akan mengubah otak generasi berikutnya, dan dengan itu, mengubah dunia. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik yang bisa menjadi panutan bagi anak kita.

*Ditulis Oleh: Putri Wulan Dari dan Ferdinal, Magister Ilmu Sastra Universitas Andalas.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...