PILIHAN REDAKSI

Pimpin Upacara Hardiknas 2022, Wako Hendri Septa: Mari Laksanakan Pendidikan Dalam Kondisi Apapun

BENTENGSUMBAR.COM - Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2022 tingkat Kota Padang, Pemerintah Kota (Pemko) P...

Advertorial

Dedek Prayudi: Gak Ada Islamophobia, yang Ada Cuma Penolakan terhadap Politisasi Agama

          Dedek Prayudi: Gak Ada Islamophobia, yang Ada Cuma Penolakan terhadap Politisasi Agama
Dedek Prayudi: Gak Ada Islamophobia, yang Ada Cuma Penolakan terhadap Politisasi Agama
BENTENGSUMBAR.COM – Direktur Eksekutif Centre for Youth and Population Research (CYPR), Dedek Prayudi menilai bahwa tidak ada Islamophobia di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Menurut Dedek Prayudi, hal yang selama ini dianggap Islamophobia adalah penolakan terhadap politisasi agama.

Ia pun menilai penolakan terhadap politisasi agama ini justru baik. Sebab, dengan menolak menempatkan agama sebagai komoditas politik, maka kita berarti sedang menjaga kemuliaan agama.

“Gak ada Islamophobia di negara yang hampir 90% penduduknya beragama Islam,” kata Dedek Prayudi melalui akun Twitter pribadinya pada Senin, 2 Mei 2022.

“Yang ada cuma penolakan terhadap politisasi agama. Justru dengan menolak untuk memposisikan agama sebagai komoditas politik, kita sedang menjaga kemuliaan agama,” sambungnya.

Dedek Prayudi mengatakan hal itu sebagai respons terhadap pernyataan Akademisi Cross Culture Institute, Ali Syarief.

Dalam cuitannya, Ali Syarief mempertanyakan mengapa pembenci Islam tumbuh besar di era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Mengapa para Islam Phobia, atau pembenci Islam itu, tumbuh subur bak cendawan, di era Jokowi?” kata Ali Syarief pada Minggu, 1 Mei 2022.

Dalam rangkaian cuitannya, Ali Syarief membahas artikel yang menyinggung soal Profesor Budi Santosa yang dinilai rasis dan islamophobia usai menyindir “mahasiswi menutup kepala ala manusia gurun”.

Pada cuitannya yang lain, Ali Syarief menyarankan agar Presiden Jokowi memberhentikan Profesor Budi Santosa yang merupakan Rektor Institute Teknologi Kalimantan.

“Saran saya, karena Rektor itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, maka pantas bila Jokowi mencopot jabatan rektor Budi Santosa, setelah tulisannya menyebabkan keonaran di masyarakat. Bahkan Moh Mahfud MD pun, turut mengomentarinya. Keilmuan professor-tercermin pada etikanya,” katanya.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »