PILIHAN REDAKSI

KPU Sumbar Lakukan Sosialisasi Persiapan Pemilu 2024, Adiak: Jangan Ragu, KPU Pasti Jujur

BENTENGSUMBAR.COM - Kordinator Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Izwaryani atau kerap d...

Advertorial

Jemaah Tabligh Akbar UAS di Madura Membludak, Husin Shihab Tak Percaya: Itu Santri yang Digerakkan

          Jemaah Tabligh Akbar UAS di Madura Membludak, Husin Shihab Tak Percaya: Itu Santri yang Digerakkan
Jemaah Tabligh Akbar UAS di Madura Membludak, Husin Shihab Tak Percaya: Itu Santri yang Digerakkan
BENTENGSUMBAR.COM - Pegiat media sosial, Husin Shihab tak percaya masyarakat Sumenep ikut menghadiri tabligh akbar yang menghadirkan dai Ustaz Abdul Somad.

Meskipun sudah ditampilkan foto jemaah yang membludak, Husin menuding bahwa jemaah yang hadir tersebut adalah santri pondok pesantren yang sengaja digerakkan untuk hadir, bukan warga Sumenep pada umumnya.

Ia bahkan menyebut, ramainya orang yang datang ke kajian itu tak beda dengan saat seorang kiai setempat menggelar kegiatan

"Gak ada beda sama hajatan nikah anak Kyai di Madura. Itu yg hadir santri pondok tsb yg memang digerakkan untuk hadir bkn dari warga Sumenep. Catat ya, bukan dari masyarakat Sumenep keseluruhan yg toleran. Dan Somad pun GAGAL ceramah di Masjid Jami' Sumenep, memang gak pantas!" tulis Husin Shibab menanggapi postingan suasana pengajian dengan pembicara UAS, dikutip dari akun Twitternya, Minggu (22/5/2022)

Husin masih menyakini bahwa UAS adalah ustaz yang radikal yang ingin menyebarkan paham khilafah demi menguasai NKRI.

"Dia berusaha keras mengkampanyekan paham khilafah yg sesat dan radikal demi kuasai NKRI. Ketika dilarang oleh negara menjelma jadi NU dan mencari legitimasi dari warga Madura dgn tabliq keliling ke ponpes2 di Madura dan didukung oleh eks HTI & FPI," imbuhnya.

Sebelumnya, Husin juga mengunggah selebaran penolakan kehadiran UAS di Sumenep. Hanya saja, aksi penolakan itu tak terbukti.

Bahkan, kantor sekretariat dan nomor yang tercantum dalam selebaran itu diketahui mencatut seseorang yang tak tahu menahu soal aksi penolakan itu.

Kajian ramai

Ustaz Hilmi Firdausi di akun Twitter miliknya menginformasikan bahwa pengajian UAS di Madura dibanjiri jamaah.

Dalam foto tersebut tampak UAS berdakwah di depan lautan manusia.

UAS menghadiri tablig akbar di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Sumenep.

“Foto-foto tablig akbar UAS di Ponpes Al-Amin Sumenep ini menjawab hoaks yang menyebut UAS ditolak masyarakat Madura,” kata Ustaz Hilmi.

“Ayolah, janganlah kebencian membuat kalian bersikap tidak adil. Setiap acara beliau selalu dihadiri lautan manusia, masyarakat begitu mencintai UAS. Segelintir saja yang tidak suka,” sambung pengasuh PP Baitul Qur’an Assa’adah itu.

Sementara itu, pegiat media sosial Eko Widodo juga mengunggah foto jamaah yang memenuhi tabligh akbar UAS di Pondok Pesantren Mauidzul Amin Al-Islamy, Pamekasan, Madura.

"Gagal hasut warga usir UAS.. kata cebong syiah yg hadir di Tabligh Akbar cuma santri, penduduk setempat gak ada yg ikut Nih kunyah pelan-pelan sin, Madura cinta Ulama sekeluarga sampe pitik dibawa buat sambut UAS," tulis Eko di Twitter

Seperti diketahui, selebaran digital yang menginformasikan bakal ada demo menolak kehadiran sang ustaz, viral di media sosial.

Selebaran itu dibagikan akun seperti Eko Kunthadi, Husin Shihab dan akun lainnya.

Massa yang mengatasnamakan Gerakan Santri Madura itu menolak kedatangan UAS di Madura.

"Gerakan Santri Madura menolak dengan tegas UAS yang merupakan ustaz radikal-intoleran di tanah Madura. Santri menolak siapa pun perusuh umat dan NKRI," tulis dalam selebaran itu.

Namun, aksi tersebut pun tak terlaksana tanpa ada keterangan lebih lanjut. UAS, bahkan mengisi tablig akbar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep pada Jumat (20/5) malamnya.

Selain mengisi ceramah di Al-Amien, UAS juga menyampaikan ceramah di Masjid Nur Muhammad, Sumenep, dan sejumlah pesantren lain di Pamekasan, Sampang, serta Bangkalan.

Aktivitas UAS di Madura akan berlanjut hingga Minggu hari ini.

Aksi bela UAS di Jakarta

Sebelumnya, Massa yang menamakan dirinya Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PERISAI) DKI Jakarta dan elemen ummat Islam lainnya menggelar unjuk rasa di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Mereka protes karena merasa ulama mereka Ustadz Abdul Somad (UAS) di perlakukan tidak adil ketika masuk Singapura.

Muhammad Senanatha Koordinator Lapangan (Korlap) PERISAI DKI Jakarta mengatakan, ulama yang sangat dihormati dan disegani oleh umat Islam di Indonesia sedang mendapat perlakuan yang sangat tidak pantas dari negara lain.

UAS adalah ulama ummat Islam yang memiliki jutaaan pengikut pernyataan Duta Besar RI untuk Singapura Suryopratomo membantah jika UAS dideportasi melainkan tidak mendapat izin untuk masuk ke Singapura itu menyakiti kami ummat Islam.

"Perlakuan imigrasi Singapura kepada UAS yang mengaku dimasukan ke dalam ruangan lebarnya satu meter, panjang dua meter, pas liang lahat. Satu jam di ruang kecil. Persis seperti luas kuburan itu perlakuan yang tidak manusiawi untuk ulama yang sangat di hormati di Indonesia," tegas Senanatha dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Menurut Senanatha, dari apa yang dipaparkan UAS tersebut, terlihat bahwa rezim saat ini tidak berpihak pada Islam, khususnya kepada seorang WNI sekaligus ulama yang sangat dihormati.

Tidak hanya di dalam negeri, UAS juga masyhur di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Ini adalah bagian dari sikap Islamophobia karena bersikap diam saja dan lepas tangan terhadap kasus yang menimpa UAS. 

Alih-alih melindungi atau membantu WNI yang sedang mengalami masalah seperti UAS, Dubes RI untuk Singapura malah justru meminta pihak lain (UAS) agar meminta penjelasan langsung ke Kedubes Singapura di Jakarta. Kalau begitu, untuk apa ada perwakilan diplomatik di Singapura.

Selain itu, Senanatha menegaskan, Pemerintah Singapura juga menunjukan perilaku Islamophobia, di mana mereka melarang aktivitas dakwah yang akan dilakukan UAS.

Tidak ada keterangan detil terkait pencekalan UAS

Pemerintah Singapura hanya menyatakan bahwa UAS dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama seperti Singapura.

Misalnya, dalam salah satu ceramahnya UAS menjelaskan bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi syahid.

Singapura dianggap terkesan membutakan diri terhadap program PBB Anti Islamophobia, serta berlaku unfairness, tidak adil, dan diskriminatif terhadap tokoh agama Islam.

"Yang jelas tindakan Pemerintah Singapura ini justru menunjukkan sikap Islamofobia, bukan hanya terhadap UAS tetapi terhadap anggota keluarga dan teman UAS lainnya. Serta dapat merusak hubungan baik antar-etnik Melayu dan Islam di Asia Tenggara," sebut Senanatha.

"Kami kata Senanatha mengecam Singapura karena telah mendeportasi UAS tanpa alasan yang jelas. Singapura harus meminta maaf secara langsung kepada umat Islam Indonesia karena telah mendeportasi UAS beserta rombongan. Apabila dalam tempo 2x24 jam Pemerintah Singapura belum meminta maaf, maka Pemerintah RI harus meninjau ulang hubungan diplomatik RI-Singapura."

"Mendesak Dubes RI, Suryopratomo untuk meminta maaf kepada UAS umat Islam Indonesia karena telah bersikap acuh tak acuh pada kasus tersebut. Kami akan datang lagi ke kedubes singapore dalam jumlah yang jauh lebih besar lagi jika tuntutan kami tidak di penuhi," pungkasnya.

Sumber: Wartakota
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »