PILIHAN REDAKSI

Keberaniannya Melebihi Ibu Tien Suharto, Iriana Jokowi Ibu Negara Pertama yang Berkunjung ke Negara Perang

BENTENGSUMBAR.COM - Pengamat militer dan intelijen Ridlwan Habib menganalisis keikutsertaan Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Joko...

Advertorial

Catatan Nadya Wardana: Nikmatnya Kelezatan Durian Kayutanam

          Catatan Nadya Wardana: Nikmatnya Kelezatan  Durian Kayutanam
Catatan Nadya Wardana: Nikmatnya Kelezatan Durian Kayutanam
DURIAN atau dalam bahasa latin (durio) ini termasuk kedalam suku Malvaceae, anak suku Helicteroidea. Durian merupakan buah-buahan yang berbentuk bulat serta duri yang tajam dan memiliki aroma khas yang enak bila dimakan. 

Tidak hanya memiliki aroma yang khas menggoda bagi penikmat banyak membeli durian tersebut pada musim durian. 

Seperti musim durian yang berada di Kecamatan 2X11 Kayutanam, seperti di nagari Kepala Hilalang, nagari Kayutanam, nagari Anduriang dan nagari Guguak. 

Seperti lambang durian yang berada di samping lambang Kayutanam lebih tepatnya di didepan kantor Camat Kecamatan 2X11 Kayutanam. Itu melambang khas durian Kayutanam.

Durian yang di nagari tersebut memiliki rasa dan aroma durian yang khas. Matang buah durian tersebut juga berbeda-berbeda tiap nagari. Ada durian yang lebih matang terlebih dahulu. 

Seperti durian yang berada di nagari Guguak yang lebih tepatnya di Padang Lapai, durian tersebut lebih matang terlebih dahulu. Lalu merambah ke nagari Anduriang, nagari Kayutanam dan nagari Kapalo Hilalang. 

Di nagari Kayutanam tepatnya di Padang Mantuang, disana durian matang dengan cepat. Pohon durian tersebut tumbuh di pedalaman kampung. 

Durian yang biasanya tumbuh di rimba memiliki rasa aroma yang harum dan nikmat. Biasanya pohon durian tumbuh di rimba mempunyai buah yang lebat.

Buah yang lebat harus dijaga atau (unian) agar tidak makan kera ataupun tupai. Terdapat pondok kecil yang fungsinya untuk berjaga dan meletakkan buah durian. 

Para masyarakat yang berjaga durian semalaman menggumpulkan buah durian lalu membawa dengan keranjang besar. 

Durian itu yang diletakan dibelakang motor dan menjualnya di tepi jalan raya. Durian tersebut mudah dijumpai di pondok durian yang berada di pinggir jalan raya Padang Bukittinggi.

Kebanyakan masyarakat yang memiliki pohon durian tersebut menjual buah durian dengan menaruhnya rapi di pondok durian. 

Ada juga yang menjualnya di emperan dengan meletakannya di atas meja ataupun kursi plastik. Biasanya para pembeli yang ingin membeli durian di emperan jalan raya mungkin harganya lebih murah dari yang menjual di pondok durian. 

Pembeli yang membeli durian tersebut berasal dari luar kota maupun propinsi. Bagi para penikmat durian biasanya membeli pada musim durian. Musim durian terjadi dua kali dalam setahun. 

Apalagi musim durian yang matang setelah lebaran Idul Fitri, itu biasanya para perantau pulang dan menikmati buah durian yang khas dari Kayutanam. Pada saat makan buah durian akan lebih nikmat lagi jika dimakan dengan ketan, lamang dan ketupat pulut. 

Durian pun bermacam-macam nama dan bentuknya. Seperti durian yang berada di Kayutanam yaitu ada durian bola yang memiliki bentuk bulat seperti bola namun ukuran yang kecil dari biasanya tetapi, memiliki rasa manis berwarna kuning dan daging buah yang sedikit tipis. 

Durian gajah, berbentuk sedikit lonjong yang berukuran besar dari durian biasanya, memiliki rasa yang sedikit manis dan daging buah durian dan biji durian juga besar. 

Durian gadih, durian ini berbentuk biasa pada umumnya namun durian tersebut cepat berbuah dari durian pada umumnya. Durian yang memiliki rasa manis, daging buah yang tebal, namun sedikit biji buah yang ada pada duriannya. 

Bagi pecinta dan penikmat durian ini disaat musimnya di Kayutanam akan membeli dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh. 

Namun tidak semua orang suka dengan buah durian tersebut. Sebagian ada yang tidak suka dikarenakan aromanya yang kuat apabila dimakan lalu sambil bersendawa yang membuat orang mencium aromanya akan muntah. 

Namun itu tidak bagi penikmat buah durian. Memakan buah durian boleh saja asalkan jangan kebanyakan karena dapat menyebabkan badan menjadi panas. 

Tidak itu saja memakan sesuatu secara berlebihan itu juga tidak baik. makanlah dengan secukupnya. Bagi orang yang pencinta buah durian lebih baiknya mencicipi durian Kayutanam.

Dengan mencicipi buah durian ini, bagi penikmat durian tau mana rasa yang nikmat dan lezat. Disaat musim durian harganya bisa dibilang murah karena kebanjiran panen buah durian dengan serentak. 

Harganya satu buah durian pun bermacam-macam tergantung dari bentuk dan ukurannya. Harga satu buah durian berkisar harga 20 ribu untuk ukuran kecil dan  50 ribu rupiah untuk ukuran besar. 

Namun jika buah durian tersebut hampir habis mulailah harga naik dari harga biasanya. Itupun tergantung jika buah durian tersebut memiliki rasa aroma yang enak, harganya pun berbeda. 

Ada juga masyarakat yang membeli durian antar nagari tersebut lalu menjualnya di tepi jalan raya. Jika mempunyai pohon durian sendiri, dan menjualnya dipondokan di tepi jalan raya, maka biasanya lebih banyak mendapatkan untung dari pada yang membeli ke kebun durian dan menjualnya ke tepi jalan raya Padang Bukittinggi. 

Penduduk yang biasa menjual duriannya tersebut ke langganan atau disebut toke durian. Durian yang dibeli dari pemilik kebun durian ini di bawa dengan mobil pickup.

Toke durian ini membeli dengan harga pasaran lalu menjualnya ke pondok-pondok durian tersebut. Di pondok durian inilah durian dibersihkan dari dedaunan durian, meletakan durian tersebut di atas meja panjang. 

Jika buah durian ini berukuran bersar, maka buah durian akan digantung menggunakan tali rafia. 

Kalau durian yang digantung itu harganya sedikit berbeda dan ada juga yang menjualnya dengan harga mahal, apabila buah durian memiliki rasa yang super.

Saat ini buah durian di Kayutanam sudah mulai masak atau matang. Tidak semua buahnya matang namun ada juga yang baru berbunga. 

Jika para perantau atau para penikmat buah durian, silahkan coba buah durian kayutanam serta pelengkap makan yang nikmat dengan ketan durian.

*Penulis: Nadya Wardana, Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »