Advertorial

Daerah

Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency

          Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency
Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency
BENTENGSUMBAR.COM - Universitas Paramadina dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Jerman menyelenggarakan acara diskusi panel dengan tajuk Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia post G20 Presidency pada hari Rabu (2/11/2022) bertempat di Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Diskusi panel ini membahas tentang refleksi ekonomi Indonesia di tengah tekanan ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19 serta perang Rusia dan Ukraina yang mengakibatkan krisis pangan dunia. 

Diskusi ini pun menyoroti tantangan ekonomi Indonesia sebagai tuan rumah G20 serta dalam menyongsong pemilu 2024.

Diskusi panel menghadirkan beberapa ekonom di antaranya Prof. Bambang Brojonegoro (Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan/ Kepala BRIN (2019-2021), dan Wijanto Samirin (Staf Khusus Bidang Ekonomi Wakil Presiden RI periode 2014-2019/ Ekonom Senior Universitas Paramadina).

Selain itu, Eddi Danusaputro (CEO PT BNI Modal Ventura) dan Prima Naomi (Dosen Senior Universitas Paramadina).

Bertindak sebagai moderatori Dr. Iin Mayasari (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina).
Diskusi panel dibuka dengan keynote speech oleh Bapak Jusuf Kalla yang dilakukan  secara daring dikarenakan sedang berada di Bali untuk rangkaian acara R20.  

Denis Suarsana sebagai Direktur KAS Indonesia dan Timor Leste serta Rektor Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D membuka acara diskusi panel ini.

Dalam paparanya, Wijayanto Samirin menyoroti tentang semakin seringnya krisis besar dunia. Tiga krisis besar dunia terjadi dalam 25 tahun terakhir, tetapi 3 krisis besar sebelumnya terjadi dalam rentang waktu 225 tahun. 

"Kalau kita melihat krisis sekarang, kita harus melihat bahwa krisis bukanlah sesuatu yang harus kita takutkan tetapi sesuatu yang harus kita hadapi." 

Dalam paparanya, Wijayanto Samirin menyoroti tentang semakin sering terjadinya krisis besar dunia. Tiga krisis besar dunia terjadi dalam 25 tahun terakhir, tetapi 3 krisis besar sebelumnya terjadi dalam rentang waktu 225 tahun. 

"Kalau kita melihat krisis sekarang, kita harus melihat bahwa krisis bukanlah sesuatu yang harus kita takutkan tetapi sesuatu yang harus kita hadapi," ujarnya.

Ia juga mengibaratkan Indonesia adalah kapal tanker raksasa yang dapat menghadapi badai terburuk, akan tetapi butuh waktu yang lama dan upaya besar untuk mengubah arah.

"Indonesia dan dunia tidak bergerak ke arah yang benar. Indonesia perlu mengambil tindakan untuk memenuhi kepentingannya sendiri dan kepentingan dunia, terutama Indonesia adalah presidensi G20, sebuah posisi yang berdampak & memiliki peluang besar," ujarnya.

Acara ini dihadiri masyarakat umum, praktisi UMKM, ekonom, akademisi, mahasiswa, dan wartawan.

Laporan: Arief Tito
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »