Advertorial

Daerah

Indonesia Wajib Kejar Ketertinggalan, Ketum Bapera Singgung Narasi Kebencian yang Menghancurkan Persatuan

          Indonesia Wajib Kejar Ketertinggalan, Ketum Bapera Singgung Narasi Kebencian yang Menghancurkan Persatuan
Indonesia Wajib Kejar Ketertinggalan, Ketum Bapera Singgung Narasi Kebencian yang Menghancurkan Persatuan
BENTENGSUMBAR.COM – Menurut Ketua Umum DPP Bapera Fahd El Fouz A Rafiq, tidak ada yang dapat merubah nasib suatu kaum, bangsa dan sebuah negeri  jika bukan bangsa itu yang merubahnya. 

Indonesia menjadi sebuah negara merdeka pada tahun 17 Agustus 1945 dengan perencanaan matang dan perjuangan yang panjang dengan banyak anak bangsa yang tumpah darahatas dasar common sorrow (menderita Bersama), dan hari ini Indonesia sudah merdeka akan tetapi jebakan-jebakan yang mengekang bangsa ini tidak ada habisnya.

”Jangan sampai para pemuda saat ini membenci sesuatu dibungkus dengan kritik. Kritik itu harus disertai solusi. Mengkritik membabi buta dengan menggunakan narasi kebencian akan menghancurkan persatuan secara perlahan. So. Mari kita sibukkan diri dengan karya inovatif yang berujung pada kemajuan bangsa disertai dengan kekuatan Intuisi dan lompatan imajinasi," ucap Fahd El Fouz di Jakarta, Jumat, (25/11).

Ia mengatakan, membangun sebuah negara tidaklah mudah, pada masa awal kemerdekaan Indonesia masih terus diganggu Belanda (Netherland)  dan pemberontakan dari dalam negeri. 

"Hari ini Indonesia langkahnya dibatasi oleh negara negara yang punya kepentingan akan kekayaan alam Indonesia," tegas mantan Ketum DPP KNPI ini.

Ia mengingatkan, bahwa lamanya Indonesia merdeka karena banyaknya pengkhianat bangsa yang kongkalikong dengan pihak penjajah bahkan sesama anak bangsa yang beda haluan harus saling sikat pada zaman itu.

Fahd meyakini, pada hakikatnya Setiap negara di dunia ini pasti menginginkan berdikari (berdiri diatas kaki sendiri). 

"Akan tetapi ucapan itu tidak semudah perjuangan yang dilakukan. India, Tiongkok dan  banyak negara lain yang ingin merdeka dalam arti sesungguhnya," ujarnya. 

Menurutnya, di era modern ini pasti banyak hambatan dan sering direcokin negara lain. Apalagi negara berkembang yang permasalahanya tidak jauh masih soal urusan perut (ekonomi) sehingga mudah dipatahkan semangat juangnya.

"Kemerdekaan Nasional yang direngkuh tahun 1945 itu bukan pencapaian akhir, tapi jika rakyat bebas berkarya adalah puncaknya. Jika karya karya Nusantara dan buah anak bangsa tidak di jaga resikonya akan di klaim oleh negara lain," katanya. 

Mantan Ketum PP AMPG ini terus memberikan semangat dengan mengutip quotes dari Jenderal Besar Soedirman.

“Percaya dan yakinlah bahwa kemerdekaan satu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapa pun juga.”

"Narasi narasi positif  telah saya paparkan ke publik ini adalah sebuah dorongan kepada semua generasi bangsa agar terus berupaya untuk mengangkat dan mengharumkan kembali Indonesia agar kembali disegani dan maju seperti Nusantara dulu," ucapnya. 

"Jangan pernah berhenti untuk berusaha dan saya sangat meyakini itu bahwa ujung usaha adalah takdir," lanjutnya. 

Dikatakannya, semua orang Indonesia hari ini bisa berdiri di atas situasinya dan mendapatkan kesuksesan bila mereka mendedikasikan dan bersemangat dengan apa yang mereka kerjakan.

Fahd El Fouz mengapresiasi apa yang telah Presiden Joko Widodo dan Airlangga Hartarto selaku Menteri Perkonomian RI tempuh saat ini adalah untuk menjadikan Indonesia lebih baik kedepannya. 

Dikatakannya, saat ini kondisi ekonomi global sedang tidak baik baik saja akan tetapi Indonesia tetap tegar dan terus berinovasi agar NKRI dapat meminimalisir ancaman Resesi Global. 

"Memang benar apa yang dikatakan Margaret Thatcher Kemerdekaan tak akan berfungsi sebelum adanya kekuatan ekonomi. Tapi kalimat dari Thatcher itu sedang di tempuh Indonesia saat ini," katanya.

Di lain sisi, pengusaha muda ini menambahkan,  sebuah negeri yang ingin maju individunya harus diarahkan untuk memiliki kekuatan Intuisi dan imajinasi dengan dorongan seperti mencintai kegiatan yang hari ini kita lakukan. 

"Kita harus punya tekad untuk meninggalkan jejak sejarah di Alam semesta, kita harus memeras otak kita karena manusia biasa hanya menggunakan 5-6 persen kapasitas otaknya, kita harus maksimalkan kapasitas otak, naiklah 20-60 persen," cakapnya.

"Disisi lain kita juga harus berani berfikir berbeda khususnya soal karya dalam bidang teknologi dan Pendidikan. Dan yang pasti kita harus menggunakan Bahasa yang mudah dipahami banyak orang," ungkapnya.

"Sekali lagi saya mengutip dari lirik lagu Indonesia raya “bangunlah Jiwanya, bangunlah bangsanya”  Saya jabarkan sekali lagi Kemerdekaan suatu negara dapat di jamin teguh berdiri apabila berpangkal pada kemerdekaan jiwa. Jadi, jiwa jiwa muda harus dibangun untuk dimasukkan ke dalam pikiran bawah sadarnya “Indonesia wajib menjadi negara maju dan mengejar ketertinggalan dari bangsa bangsa lain”.

"Kita yakin dan percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang mampu memaksimalkan kekuatan akal pikirnya. Sekali lagi saya kembali menengok sejarah yaitu Operation Paper Clips. Ada sebuah negara yang merampok para Individu individu berkualitas dari jerman yaitu bangsa Amerika. Mereka mengumpulkan dan merekrut ilmuwan dan insinyur Jerman yang berjumlah sekitar 1.600 orang yang terjadi antara tahun 1945 dan 1959 oleh Amerika Serikat," cerita Mantan Ketum Gema MKGR ini.

Apa yang terjadi kemudian? bangsa Amerika menjadi bangsa yang maju dibidang teknologi dan wajar akhirnya negeri Paman Sam ini mendominasi penghargaan Nobel saat ini dan negeri  Paman Sam ini  menerima atas hak kekayaan intelektual terbesar di dunia.

Data dari Bank Dunia tahun 2016 menunjukkan bahwa Amerika Serikat mencatat penerimaan dari hak atas kekayaan intelektual senilai US$ 126,2 miliar mengalahkan Belanda yang berada di posisi kedua dengan nilai US$ 42,8 miliar serta Jepang ditempat ketiga dengan nilai US$ 36,6 miliar. Singapura satunya satunya wakil dari Asia Tenggara.

"Yang jadi pertanyaan ? Apakah kita perlu memodifikasi operasi Paper Clips yang dilakukan Amerika. Untuk memberikan kewarganegaraan Indonesia kepada ilmuwan ilmuwan dunia yang tersisih dari kompetisi Nobel tersebut? Karena sepengetahuan saya banyak ilmuwan yang disingkirkan karena mungkin ilmu mereka terlalu canggih. Kita Indonesia bisa menampungnya, Bagaimana dengan ide ini," tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar.

Penulis: ASW
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »