Fahd El Fouz Sebarkan Pesan Kebaikan dengan Tindakan Nyata, Ikuti Jejak Leluhurnya Sunan Maulana Malik Ibrahim

BENTENGSUMBAR.COM - Sunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) adalah wali songo paling senior diantara 9 wali yang dikenal publik hingga saat ini dari generasi ke 7. Setelah ditelusuri ternyata Fahd El Fouz A Rafiq masih keturunan dari Sunan Maulana Malik Ibrahim akan tetapi hal ini tidak pernah diketahui publik.

Leluhur Mantan Ketum PP AMPG ini yaitu Sunan Maulanan Malik Ibrahim (Sunan Gresik) adalah anak dari Syekh Jumadil Kubro yang lahir di Samarkand pada awal abad ke -14. Nama lain dari Sunan Gresik adalah Syekh Maghribi dan Makhdum Ibrahim al samarqandi orang jawa menyebutnya asmoro qondi.

Jadi, Maulana Malik Ibrahim sering disebut wali pertama yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa yang menikahi putri campha dan memiliki dua orang anak laki laki yaitu Sayyid Ali Murtado dan Sunan Ampel.

Sunan Gresik yang merupakan tokoh penyebar nilai nilai kebaikan di tanah jawa juga mengikuti jejak anak dan cucunya serta murid muridnya yaitu Sunan Ampel yang merupakan anak dari sunan Gresik kakek dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. 

Ia merupakan tokoh sentral penyebar islam di Pulau Jawa, yang jejaknya di ikuti oleh anak, cucu serta muridnya. Perlu diketahui Bersama Sunan Gresik adalah Ayah dari Sunan Ampel, sekaligus kakek dari Sunan Bonang dan muridnya yaitu Sunan Drajat. 

Cara menyebarkan pesan kebaikan yang dilakukan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) di ikuti juga Fahd El Fouz dengan memberikan pengobatan gratis bedanya sang Sunan yang merupakan luluhur beliau sebagai seorang tabib sedangkan Mantan Ketum DPP KNPI ini adalah owner (pemilik) Rumah sakit. 

Jadi dapat dipastikan beliau mengikuti jejak leluhurnya soal pengobatan gratis kepada masyarakat khususnya fakir miskin, anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Fahd el Fouz tidak pernah membeda bedakan golongan masyarakat. Baik itu golongan kelas bawah, tengah hingga atas semuanya sama inilah yang membuat Mantan Ketum Gema MKGR ini memiliki pengaruh kuat.

Kisah soal Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal sebagai kakek bantal, karena setiap kali mengajari santrinya selalu meletakkan Al qura’an diatas bantal. 

Nasihat dan ajarannya melegakan semua orang karena berhasil membuat hati dan jiwa menjadi tenang, setenang saat tidur di atas bantal. 

Selain itu, ada pula yang meyakini bahwa Sunan Gresik dijuluki Kakek Bantal karena sosoknya begitu membaur dengan penduduk setempat, hingga boleh dikatakan membumi dengan lingkungan serta masyarakat. Dalam hal ini, bantal diartikan sama dengan bumi.

Fahd el Fouz sedikit memberikan pengetahuannya tentang 9 wali songo, karena saat itu nama sembilan dewa penguasa arah mata angin di Jawa dapat dijumpai pada tertib cosmos yang tertera pada Candi Lorodjonggrang yang meliputi: Kuwera (Utara), Isyana (Timur Laut), Indra (Timur), Agni (Tenggara), Kama (Selatan), Surya (Barat Daya), Baruna (Barat), Bayu (Barat Laut), ditambah satu penjaga titik pusatnya yaitu Syiwa. Kosmologi yang dianut orang Jawa-Hindu pada saat itu dikenal dengan sebutan Nawa Dewata (sembilan dewa), ucapnya di Jakarta pada (22/12).  

Bertolak dari Kosmologi Nama Dewata, dapat diasumsikan bahwa sewaktu dakwah islam dilakukan secara sistematis oleh penyebar islam yang dikenal dengan nama Wali songo, kiranya telah terjadi proses perubahan konsep Nawa Dewata menjadi konsep Wali Songo.

Konsep Kosmologi Nama Dewata alam semesta yang dikuasai dan diatur oleh anasir anasir ilhai, yang disebut dewa dewa panjara arah mata angin, diubah menjadi konsep wali songo yang dimana kedudukan dewa dewa penjaga arah mata angin itu digantikan oleh manusia manusia yang dicintai tuhan, yaitu auliya(bentuk jamak dari kata tunggal wali) yang berjumlah sembilah (Songo).

Maka dari itu konsep Wali Songo dapat dikatakan sebagai suatu proses pengambil alihan konsep Nawa Dewata yang bersifat Hinduistik menjadi konsep Sembilan wali yang bersifat sufistik islam. Berangkat dari penjelasan ini, maka dapat dipahami alasan mengapa corak islam di jawa, khususnya jawa tengah (baca: Islam kejawen) lebih mengedepankan “aspek jawanya ketimbang aspek islamnya”. Dan inilah pula sebabnya mengapa islam dapat diterima dengan cepat oleh kebanyakan masyarakat jawa yang pada saat itu beragama Hindu. 

Dalam kitab Futuhat al Makkiyah karya Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu Araby, derajat kewalian secara umum dapat diraih dan dicapai hanya dengan Sembilan tahap tingkat kewalian. 1. Walin Aqthab (Wali Qutub) yaitu pemimpin dan penguasa para wali di Seluruh Alam Semesta. 2, 2) Wali Aimmah, yaitu pembantu Wali Quthub dan menggantikan kedudukan Wali Aqthab jika telah wafat; 3) Wali Autad, yaitu wali penjaga empat penjuru arah mata angin (utara-selatan-barat-timur); 4) Wali Abdal, yaitu wali penjaga tujuh musim; 5) Wali Nuqaba, yaitu wali penjaga hukum syariat; 6) Wali Nujaba, yaitu wali yang setiap masa berjumlah delapan orang; 7) Wali Hawariyyun, yaitu wali pembela kebenaran agama; 8) Wali Rajabiyyun, yaitu wali yang karomahnya muncul setiap bulan Rajab; dan 9) Wali Khatam, yaitu wali yang menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan wilayah Islam.

Jadi kemunculan Wali Songo yang merupakan representasi konsep Nawa Dewata yang menggatikan tokoh tokoh dewa yang abstrak dan tidak kasat mata menjadi wujud konkret yang kasat mata, berupaya manusia manusia keramat yang memiliki kemampuan adikodrati merupakan kunci utama mudahnya Islam diterima oleh penduduk setempat. Selaras dengan pepatah Sunda “halodo sataun lantis ku hujan sapoe”.

Serukanlah pesan pesan kebaikan dengan himah dan pelajaran yang baik. Makanya hingga detik ini Fahd El Fouz tidak berani untuk menyebutkan (mendeklarasikan) dirinya sebagai keturunan Wali Songo sekaligus dzuriahnya Nabi SAW disebabkan rasa hormat dan takdzimnya terhadap kebesaran para Wali Songo dan Nabi SAW.

“Kebanyakan dari mereka yang memiliki nasab yang tersambung kepada Wali Songo kurang berkenan mengakui apalagi mendeklarasikan diri kepada khalayak umum bahwa dirinya adalah keturunan Wali Songo, apalagi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Hal itu didasari pada rasa tanggung jawab yang begitu besar. Itu semua dilakukannya atas dasar demi menjaga kehormatan para pendahulunya."

Pria yang berprofesi sebagai pengusaha ini mengatakan, Jika kita ingin melihat hasil kaya para Wali Songo, maka lihatlah tulisan-tulisan semisal Babad, Hikayat, Serat, Wawacan, Syair-Syair, Suluk, Pupuh dan sejenisnya yang terdapat di Keraton-Keraton yang ada di Indonesia. 

Peradaban manusia dan Islam sesungguhnya sangat bisa berjalan berdampingan, selama kecerdasan seorang penyampainya mampu menyeimbangkan tanpa harus dibenturkan. Inilah sebenarnya yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamain.

Wali Songo Berdakwah dengan cara cara yang kreatid, Inovatif dan responsive terhadap permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Dalam mengajak kebaikan, bersikaplah keras pada diri sendiri dan lemah lembutlah kepada orang lain dan jangan sebaliknya. 

Wali Songo berdakwah dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan responsif terhadap permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Itulah esensi yang perlu ditiru dan terus dikembangkan untuk kemaslahatan bersama.

"Dalam mengajak kebaikan, bersikap keraslah kepada diri sendiri dan lemah lembutlah kepada orang lain. Jangan sebaliknya," tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar. (ASW)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »