| Padang Young Designer Competition (PYDC) merupakan salah satu agenda di kegiatan Padang Fashion Summit (PFS) 2026. (Foto: Diskominfo). |
Tampak juga pada kesempatan itu, Ketua DWP Kota Padang, Nova Raju, Ketua Harian Dekranasda Kota Padang, Ferry Evriyan Rinaldy, seluruh Pengurus Dekranasda Kota Padang, dan sejumlah kepala OPD di lingkup Pemko Padang.
Menurut Ketua Dekranasda Kota Padang, Dian Fadly Amran, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara fashion, budaya dan ekonomi kreatif. PFS tidak saja fashion show, tetapi juga ruang akselerasi dan kolaborasi.
“PFS tempat bertemunya peluang usaha, perajin, dan warisan budaya. Tempat karya lokal menemui pasarnya,” katanya.
Dian Puspita menilai, di balik karya fashion terdapat ekosistem. Ada perajin, desainer, penjahit, model, fotografer, penata rias, maupun pelaku pemasaran. Apabila ekosistem itu tumbuh, kesempatan usaha dan ekonomi masyarakat juga ikut bertumbuh.
“Alhamdulillah di tahun kedua pelakasanaan PFS ini jangkauannya semakin luas, tidak saja ada desainer asal Padang, tetapi juga menghadirkan desainer internasional, seperti dari Malaysia dan Australia,” tukuknya.
Bagi Dian Puspita, PFS merupakan kebanggaan dan harapan. Menjadi salah satu kunci yang mempertemukan karya dan budaya Minangkabau dalam hal yang lebih luas lagi.
“Terpenting, PFS adalah regenerasi. Kita harus menyiapkan regenerasi. DI tahun ini saja tercatat 76 peserta yang mengikuti kegiatan ini,” cakapnya.
PFS bertemakan “Manaruko Rupo, From Minangkabau Heritage to Global Elegance”. Menurut Dian, “Manaruko” merupakan merintis jalan baru. Membawa kekayaan budaya Minangkabau ke masa kini. Lebih modern dan kreatif tetapi masih memiliki akar yang kuat.
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat, Harneli Mahyeldi, mengapresiasi kegiatan PYDC dalam balutan PFS 2026. Menurutnya, Minangkabau memiliki karya seni yang luar biasa. Padang memiliki sulam banang ameh yang sangat dikenal. Begitu halnya karya kerjaninan di daerah lain di Sumatera Barat.
“Sesuatu yang luar biasa ini ketika diolah oleh desainer akan menjadi luar biasa,” akunya.
Diakui Harneli, ketika menghadiri pameran di mana saja, ternyata hasil kerajinan Sumatera Barat sangat diminati oleh masyarakat Indonesia dan internasional.
“Ajang ini menumbuhkan desainer baru yang akan mengolah hasil kerajinan yang lebih berharga, karena kita harus melestarikan dan memperjuangkan kerajinan Minangkabau secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat menyebut, dalam rangka Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357, banyak agenda yang dibuat dalam rangka menjadikan Padang lebih baik ke depan. Baginya, PFS merupakan ajang generasi muda. Ajang bagaimana generasi muda menampilkan potensi luar biasa. (*)
Editor: Zamri Yahya, WU
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »