| International Symposium Ekosistem Kota Tua Padang bertema Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan di Convention Hall Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (6/8/2026). (Foto: Diskominfo). |
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi internasional dalam pelestarian kawasan Kota Tua, pengelolaan lingkungan, serta revitalisasi Sungai Batang Arau, dan mendorong pariwisata berkelanjutan di Kota Padang.
Fadly Amran menegaskan pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan utama yang saling berkaitan dan menjadi prioritas Pemerintah Kota (Pemko) Padang dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan.
Ia menyebut bahwa Kota Padang menghasilkan 669 ton sampah setiap hari, dengan 73 persennya diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), 26 persen diolah melalui program 3R, dan 1 persen masih berakhir di lokasi pembuangan terbuka.
"Transformasi pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, bukan hanya peningkatan kualitas TPA. Karena itu, Pemko Padang menggulirkan Padang Rancak Award untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkuat Lembaga Pengelola Sampah (LPS), bank sampah, serta mengembangkan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan waste-to-energy," katanya.
Lebih lanjut, Fadly Amran juga menyoroti kondisi Sungai Batang Arau yang mengalami pencemaran di kawasan hilir akibat limpasan drainase dan sampah dari rumah tangga, pasar, serta kawasan usaha. Menurutnya, revitalisasi sungai harus dibarengi penghentian sampah dari sumber melalui penguatan infrastruktur persampahan, pengelolaan air limbah, serta alih pengetahuan dan teknologi.
"Kami meyakini keberhasilan revitalisasi Sungai Batang Arau akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Kami berterima kasih kepada bapak ibu semua yang hadir dan memberikan dukungan untuk Kota Padang," ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Hildesheim, Mr. Ingo Meyer, menyampaikan hubungan sister city (kota kembar) antara Kota Padang dan Kota Hildesheim telah terjalin sejak 1988 dan terus berkembang melalui berbagai program kerja sama. Ia menilai komitmen kedua kota menjadi modal penting untuk memperkuat kolaborasi di bidang lingkungan dan pembangunan perkotaan.
"Kami berkomitmen mempererat kerja sama melalui langkah-langkah strategis baru. Kami juga menantikan kunjungan balasan delegasi Kota Padang ke Hildesheim pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua kota," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Perwakilan Residen UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, menegaskan dukungan UNDP dalam memperkuat pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di Indonesia melalui kolaborasi dengan 18 kementerian dan lembaga.
"Padang memiliki modal kuat menjadi destinasi wisata yang bersih, tangguh, dan berbasis ekonomi sirkular melalui digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi antarkota. Revitalisasi Sungai Batang Arau juga berpotensi menjadi contoh nature-based solutions yang memperkuat kesehatan ekosistem, mengurangi risiko perubahan iklim, dan menghadirkan ruang publik yang berkualitas," cakapnya.
Dukungan tersebut mencakup penguatan sistem pelacakan sampah plastik dari darat ke laut, pengembangan infrastruktur pengumpulan dan pemulihan sampah, perlindungan sosial bagi pekerja persampahan, serta percepatan ekonomi sirkular untuk mendukung target pengurangan sampah plastik laut sebesar 70 persen. (*)
Editor: Zamri Yahya, SH.i, WU
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »