PADANG

SUMBAR

Nasional

Parlementaria

Bersama Anak Nagari, Wawako Emzalmi Lakukan Tabur Bunga di Makam Djamaloeddin Wak Ketok

Wakil Walikota Padang Ir. H. Emzalmi Zaini, M. Si., melakukan tabur bunga di makam tokoh pejuang Djamaloeddin Wak Ketok, Kamis, 17 Agustus 2017.

Bersama Anak Nagari, Wawako Emzalmi Lakukan Tabur Bunga di Makam Djamaloeddin Wak Ketok
BENTENGSUMBAR.COM - Wakil Walikota Padang Ir. H. Emzalmi Zaini, M. Si., melakukan tabur bunga di makam tokoh pejuang Djamaloeddin Wak Ketok, Kamis, 17 Agustus 2017. Tabur bunga tersebut juga diikuti oleh tokoh masyarakat Kota Padang, Desri Ayunda dan Anak Nagari Pauh si Ampek Baleh.

"Djamaloedin, dan orang lebih mengenal dengan sebutan Wak Ketok berasal dari Kuranji Kota Padang. Ia merupakan seorang tokoh pejuang yang memiliki sepak terjang yang sangat terkenal- bahkan kemudian menjadi legenda-ketika bergabung dalam batalyon Hariamau Kurandji yang dipimpin Mayor Ahmad Husein. Ia seorang yang fanatik beragama Islam dan juga simpatisan Partai Masjumi," jelas Wawako Emzalmi di sela-sela kegiatan tabur bunga tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji, Evi Yandri kepada wartawan mengatakan, ketokohan dari Djamaloedin Wak Ketok sangat menonjol ketika tahun 1950-an, ketika pemerintah pusat sangat gencar-gencarnya untuk memindahkan orang Jawa keluar Pulau Jawa. 

"Dengan dalih pemerataan penduduk lewat proyek transmigrasi, orang Jawa pun dikirim ke Pasaman sebagai transmigran. Sebelum mereka dikirim ke Pasaman, pihak tokoh masyarakat dan pemerintah Pasaman dan Sumatera Barat menginginkan agar pemerintah pusat mengirimkan para transmigran ke Pasaman haruslah orang yang beragama Islam," ungkapnya.

Dalam otobiografi Brigadir Jendral Polisi Kaharoeddin Datuak Rangkayo Basa dijelaskan bahwa kenyataannya di lapangan, sekitar tahun 1954, dikirimlah transmigran dari Jawa Tengah, yang menurut masyarakat dan pihak pemerintah daerah para transmigran tersebut beragama Islam namun ke 300 kepala keluarga yang dikirim tersebut beragama Kristen. Ini suatu bentuk “kecolongan” yang dialami oleh masyarakat Sumatera Barat waktu itu.

Bahkan perkampungan waktu itu akan diresmikan oleh wakil Presiden Mohammad Hatta. Ketika rombongan Bung Hatta dan Gubernur Roeslan Moeljohardjo beserta sejumlah undangan sampai di Pesanggerahan Simpang Empat, tampillah Djamaloedin alias Wak Ketok. Kepada Gubernur Roeslan, Bintara Onder Distrik Meliter (BODM) ini memprotes penempatan 300 kepala keluarga transmigran beragama Kristen tersebut. Dengan lantang ia meminta agar acara peresmian ini dibatalkan.

Cemas akan kegaduhan segera terjadi didepan orang ramai itu, apalagi di depan wakil presiden Bung Hatta yang sangat dihormat rakyat, maka Kaharoeddin yang telah mengenal Wak Ketok sejak tahun 1945, turun tangan meredakan suasana dengan membujuk yang bersangkutan. Akhirnya Gubernur Roeslan berjanji kepada Wak Ketok akan menyelesaikan masalah ini secepatnya setelah peresmian nanti.

Menurut Kaharoeddin, kegusaran Wak Ketok (soal transmigrasi 300 kepala keluarga beragama Kristen) itu sebenarnya dapat dipahami mengingat ia seorang fanatik Islam. Perihal ini tidak bisa dilepaskan bahwa bagi orang Minangkabau seperti Wak Ketok sendiri soal agama adalah soal hidup mati yang telah berjalan berkelindan dengan tata kehidupan, dengan adat dan norma-norma kehidupan lainnya. 

Agama bukan hanya soal pribadi orang-orang, tapi juga soal masyarakat keseluruhannya. Seluruh masyarakat akan goncang jika terdapat salah seorang dari anggotanya yang bertukar agama. Seorang yang berani menukar agamanya berarti dia telah melepaskan diri dari keanggotaan masyarakatnya, dan secara adat dia harus dibuang jauh.

Namun hingga lima bulan kemudian, ternyata tak ada juga penyelesaian seperti yang dijanjikan Roeslan Moeljohardjo tempo hari. Maka Wak Ketok pun memburansang. Ia datang ke kediaman Gubernur di Bukittinggi untuk menagih janji itu. Rupanya, segera saja terjadi hal yang diluar hukum. Wak Ketok menampar Gubernur Roeslan Moeljohardjo, karena merasa mendapatkan jawaban dan penyelesaian yang tak memuaskan sesuai janji Gubernur sebelumnya. 

Begitulah cerita ketokohan dan komitmen teguhnya pendirian dari seorang yang bernama Djamaloedin alias Wak Ketok.

(by/ks)

Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *