PADANG

SUMBAR

Nasional

Parlementaria

Desak Myanmar Hentikan Kekerasan, Presiden Jokowi: Krisis Rohingya Perlu Aksi Nyata, Bukan Hanya Kecaman

Presiden Jokowi mengatakan perlu tindakan nyata untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya itu.

Desak Myanmar Hentikan Kekerasan, Presiden Jokowi: Krisis Rohingya Perlu Aksi Nyata, Bukan Hanya Kecaman
BENTENGSUMBAR.COM - Kekerasan terhadap etnis Rohingya terus terjadi. Kecaman demi kecaman terus dialamatkan kepada pemerintahan Myanmar.

Bahkan, sebagian pihak mendesak untuk mencabut Nobel Perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi. Pasalnya, mereka  mempertanyakan kepantasan Suu Kyi mendapatkan Nobel perdamaian karena perjuangan anti-kekerasan untuk demokrasi dan HAM. Sebab, tak pernah ada sikap yang ditujukkan Suu Kyi untuk mengakhiri di krisis kemanusian Rohingya.

Krisis kemanusiaan di Myanmar seakan terus menjadi-jadi. Dalam sepekan terakhir tercatat ada 400 orang etnis Muslim Rohingya tewas. 

Tak hanya itu, ada sekitar 38 ribu Muslim Rohingnya mengungsi ke Bangladesh. Hal ini mereka lakukan karena takut akan aksi kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.

Meski telah banyak negara mengecam kejadian ini, pemerintah Myanmar seakan tutup telinga. Termasuk Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar sekaligus seorang peraih Nobel Perdamaian.

Pemerintah Indonesia sendiri menyesalkan aksi kekeraan pada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Presiden Jokowi mengatakan perlu tindakan nyata untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya itu.

"Perlu sebuah aksi nyata bukan hanya pernyataan kecaman-kecaman. Dan pemerintah berkomitmen terus untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan juga masyarakat internasional," kata dia dalam pernyatan pers di Istana Negara, Minggu, 3 September 2017 malam.

Presiden menugaskan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak. Di antaranya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Komisi Penasihat Khusus Untuk Rakhine State Kofi Annan.

Minggu, 3 September 2017 sore, Menteri Luar Negeri berangkat ke Myanmar. Kepergian Retno mendesak pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan, serta memberikan akses bantuan kemanusiaan.

"Penanganan kemanusiaan aspek konflik tersebut, pemerintah telah mengirim bantuan makanan dan obat-obatan. Ini di bulan Januari dan Februari sebanyak 10 kontainer," kata Jokowi.

Sebelumnya, pemerintah Indoensia juga telah membangun sekolah di wilayah Rakhine. Sebuah rumah sakit akan mulai dibangun dari Indonesia pada Oktober mendatang di tempat yang sama.

"Indonesia juga telah menampung pengungsi dan memberikan bantuan yang terbaik," pungkas Jokowi.

(Ibnu)

Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *