PADANG

SUMBAR

Nasional

Parlementaria

Ahok Cawapres Paling Kuat Mendampingi Jokowi di Pilpres 2019, Ini Kata Politisi PKS

Presiden Joko Widodo bersama Basuki Tjahja Purnama pada suatu kesempatan.

Ahok Cawapres Paling Kuat Mendampingi Jokowi di Pilpres 2019, Ini Kata Politisi PKS
BENTENGSUMBAR. COM - Basuki Tjahja Purnama alias Ahok diprediksi sebagai calon kuat cawapres yang bakal mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019. Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia, Ahok mendapatkan 16 persen suara responden, paling tinggi di antara nama-nama lain.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut paling diunggulkan menjadi calon wakil presiden bagi Joko Widodo pada Pemilu 2019. Survei tersebut dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 17-24 September 2017. 

Dikutip dari kompas.com, pada survei ini, responden ditanya tentang siapa yang paling pantas mendampingi Jokowi selaku presiden petahana pada Pemilu 2019.

Ada 16 nama calon wakil yang diberikan sebagai opsi. Ahok mendapatkan 16 persen suara responden, paling tinggi di antara nama-nama lain dalam survei itu.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa tingginya elektabilitas Ahok itu tidak lepas dari pengalaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014.

Menurut Burhan, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana kasus penistaan agama.

"Ahok, meskipun masih di penjara, tetap nomor satu," kata Burhanuddin saat merilis hasil survei di kantornya, di Jakarta, Rabu kemaren.

Wakil Ketua Majelis Syuro DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid menanggapi hasil salah satu survei yang memunculkan nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai kandidat terkuat calon wakil presiden Jokowi.

"Ya rasional saja kalau kemarin pendukung Ahok tentu ingin tetap mendukung dia dan tentu tetap ingin memenangkan dia dalam survei apapun.  Sehingga dia akan ada di posisi terbaik menurut yang mencintai Ahok," kata Hidayat di gedung DPR, Jakarta, sebagaimana dilansir viva.co.id, Jumat 13 Oktober 2017.

Ia menambahkan, kalau ukurannya pilgub DKI Jakarta, maka berbeda antara hasil survei dengan real count. Sebab real count hanya 42 persen yang memenangkan Ahok pada Pilkada DKI Jakarta lalu.

"Itu bukan ukuran lembaga survei tapi itu adalah fakta yang sudah terjadi dan besok hari Senin akan diresmikan kebenaran ini melalui pelantikan (Anies Baswedan-Sandiaga Uno) oleh Pak Jokowi yang dulu adalah gubernur untuk Ahok," kata Hidayat.

Menurutnya, kalau ukurannya survei maka sangat tergantung dengan siapa respondennya. Sebab kalau respondennya pendukung Ahok bisa jadi 100 persen memenangkan Ahok. "Kalau ukurannya fakta tentang pilgub maka ada beberapa lembaga survei yang kemarin sangat meleset dan diberi kartu merah oleh peneliti UI," kata Hidayat

Ia melanjutkan real count mencatat ternyata 58 persen warga Jakarta tak memenangkan Ahok. Apalagi dengan posisi Ahok sebagai tahanan. "Terbukti melakukan penistaan agama, saya kira kalau dibuat survei yang lebih fair lagi mungkin kondisinya akan berbeda, jadi publik sudah hafal lah," kata Hidayat

(by)

Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *