PADANG

SUMBAR

Iklan 728x90px

UIN Imam Bonjol Anugerahkan Penghargaan Academic Award Sastra "Pin Emas" ke Irwan Prayitno

          UIN Imam Bonjol Anugerahkan Penghargaan Academic Award Sastra "Pin Emas" ke Irwan Prayitno
Gubernur Irwan Dianugerahi Penghargaan Academic Award Sastra "Pin Emas" Oleh UIN Imam Bonjol.
UIN Imam Bonjol Anugerahkan Penghargaan Academic Award Sastra "Pin Emas" ke Irwan Prayitno
BENTENGSUMBAR.COM - Gubernur Provinsi Sumatera Barat, Irwan Prayitno dianugerahi penghargaan Academic Award Sastra "Pin Emas" oleh Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. 

Penghargaan tersebut diserahkan Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Eka Putra Wirman pada Seminar Internasional Pantun, Syair, Tambo dan Tarombo Dalam Pemajuan Kebudayaan di Aula Kampus UIN, Senin, 28 Oktober 2019.

"Alhamdulillah pada kegiatan ini saya dianugerahkan Academic Award Sastra "Pin Emas" ini. Saya dinilai sebagai sastrawan yang kreatif dan produktif, piawai berpantun spontan mentradisikannya dalam berbagai orasi, pidato, amanat dan sambutan," ujar Gubernur Irwan usai menerima penghargaan. 

Gubernur Irwan mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Ia mengharapkan, penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda. Karena pantun masuk dalam kategori budaya yang dideskripsikan berada dalam situasi hampir punah.

Pasalnya, kata Irwan, generasi milenial saat ini banyak yang tidak akrab dengan pantun. Dikarenakan kalangan sesepuh yang pandai berpantun pun jumlahnya sudah berkurang. Akhirnya pantun yang beredar di masyarakat pun juga semakin berkurang.

"Kita berharap sebagai generasi penerus, bisa membudayaan pantun, syair, tambo dan tarombo dalam kemajuan budaya Minangkabau, jangan sampai kita menjadi asing di rumahnya sendiri, masyarakat Melayu," cakapnya. 

Dikatakan Irwan, sejarah Melayu banyak menceritakan tentang pantun dan juga karya pantun. Ini bisa dilihat dari buku atau tulisan serta peninggalan lama dalam kehidupan adat sehari-hari. Selain itu pantun masih dipakai pada saat acara adat dan sekali-kali di berbagai acara kemasyarakatan.

Namun secara umum, jelasnya, kini pantun tidak banyak dipakai dan tidak banyak karya pantun yang tersebar. Kalaupun ada pantun, biasanya pantun yang berulang, yang sudah sering dibacakan di tengah masyarakat.

“Maka dari itu saya sangat mendukung adanya seminar ini, dan juga tentunya kita berharap agar seminar ini menghasilkan suatu pemikiran-pemikiran, konsep yang bisa diterapkan untuk memperkuat pemajuan budaya Minangkabau,” pungkasnya.

Ia mengatakan, dulu pantun punya peran sosial sebagai alat penyampai pesan sehingga kita mengenal bahwa pantun itu seringkali digunakan dengan cara berbalas-balasan.

"Saat ini pantun masuk dalam usulan sebagai sebuah budaya yang unik, kini Indonesia tengah berjuang mendaftarkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia ke UNESCO," ujarnya.

Kalau nanti sudah ditetapkan oleh UNESCO, maka akan menambah jumlah warisan budaya Indonesia namun menjadi tantangan juga bagi generasi muda semua untuk menjaga dan melestarikan pantun.

"Karena kalau sudah ditetapkan oleh UNESCO, mereka akan melakukan pemantauan empat tahun sekali. Hal itu akan mendorong kita semua menjaga dan melestarikan pantun," tuturnya.

(by)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *